All characters' name of Naruto belong to Masashi Kishimoto
"PEMAKAN HATI YANG MEMAR"
By Kohan44
PERINGATAN
"Mengandung OOC, AU, dan Pair sesuka author. No BL."
5 Petal
"Jujur?"
Gerimis menerjang bumi. Belahan demi belahan diserbu cepat, mengusir kaki-kaki manusia, dan memaksa mereka memburu perteduhan. Naruto si pendengar ramalan cuaca yang baik telah membuka payung dari sejak pertama dia meninggalkan rumah, sebelum hujan menghantam bumi. Saat gerimis menyerang, dia satu-satunya yang tak mengubah irama langkah kaki. Ah, ada satu orang lagi. Seseorang yang tak membuat Naruto kaget kenapa anak itu berlagak santai di bawah hujan.
Naruto memperlebar langkahnya, langkah kaki yang tiba-tiba terasa ringan. Lebar langkahnya mengimbangi kaki anak itu. "Kau pasti belum cuci muka," katanya menyapa sambil berbagi payung.
Sakura terus berjalan tak merasa terganggu. Kepalanya menunduk dalam sehingga rambut lepeknya jatuh ke depan menutupi setengah muka.
"Kau diculik alien seminggu ini?"
Sakura mengangkat sebelah tangannya, menjawab sapaan selamat pagi dari beberapa gadis yang berlari-lari kecil melewati mereka. Itu sapaan yang dimaksudkan untuk Naruto. Sakura tahu itu.
"Hey…"
"Berisik." Kata Sakura akhirnya.
"Oh, maaf. Aku cerewet ya?" Naruto tersenyum lebar menampakkan deretan gigi sambil masih berusaha mengimbangi langkah Sakura yang tak berirama sehingga bahu mereka saling beradu.
"Bukan kau, tapi mereka."
Naruto melirik sekelilingnya, kemudian tersadar ada sosok-sosok tak asing di depan gerbang sekolah, dua meter di samping mereka, yang sedang berdiri menenteng payung, yang sedang terpeleset di trotoar, dan beberapa anak yang berlari bergerombolan tanpa payung berebut jalan menuju gerbang. Ah, Naruto menghela nafas. Mereka berseru, "selamat pagi!" kepada Naruto meskipun itu nampak merepotkan untuk dilakukan dalam keadaan seperti ini.
Naruto menggoyang-goyangkan telapak tangannya, tersenyum kepada orang terakhir yang memberinya sapaan.
"Sakura, selamat pagi!" kata Naruto. "Ayo, angkat kepalamu!"
Tidak ada jawaban.
"SAKURA HIDUNG PESEK, SELAMAT PAGI!"
Sakura terperanjat melompat kecil menutup kedua telinganya, menatap Naruto seolah-olah berkata, "kau masih waras kan?" sementara Naruto, yang Sakura pikir bakal menunjukan raut tanpa dosa, malah melongo, mata Naruto terbelalak memperjelas warna iris coklat.
"Pagi." Sakura menjawab lemah saat merasa tatapan Naruto tak berubah dan menetap terlalu lama pada Sakura. Kepalanya menunduk cepat sampai rambut menutup mukanya lagi.
"Sakura, pipimu-"
Naruto terkesiap mendapat penolakan Sakura. Gadis itu berbalik membelakanginya.
"Kemarin aku mimpi buruk. Jatuh dari ranjang." Kata Sakura. Lalu hening. Suara gerimis jatuh di atas payung menjadi melodi pengisi keheningan mereka.
"Oh," Naruto terkekeh kecil, bahunya bergetar kemudian dia tertawa lepas sampai beberapa murid di dekat mereka menatap curiga. Dia merangkul Sakura, membawanya berjalan cepat. "Kau pasti buru-buru kesiangan sampai melukai diri ya?"
Setiba di loker sepatu, mereka berpisah karena letak loker yang berbeda. Naruto melepas jasnya, memperhatikan sebelah jasnya basah kuyup dan merembes cepat ke bagian lain. Dia berbalik, menemukan Sakura yang berjalan duluan ke kelas dengan kedua bahu setengah kering dan rambut yang seperti rumput laut, jika saja sebelum bertemu Naruto dia tidak nekat hujan-hujanan, pasti jasnya kering.
Naruto membuat langkah pendek-pendek, berlama-lama di lokernya dengan kening mengkerut mengira-ngira apakah jawaban Sakura, jatuh dari ranjang, adalah kejujuran. Alasan macam itu terdengar terlalu tidak masuk akal untuk memar berdarah dan bengkak di pipi. Apa mungkin anak itu sekarang berani berkelahi?
