Masa lalu yang gelap,

Tinggalkanlah

Buka lembaran baru dalam hidupmu

Dan beri warna yang selalu kau inginkan selama ini.

Tra Amore, la Lussuria e Odio

(Antara Cinta, Nafsu, dan Kebencian)

Chapter 6: Look to the Rainbow

Rate: Saya putuskan fic ini T-M. huehehe *nggakgitu*

Disclaimer: Sampe jaman professor botak juga KHR tetep punya Amano Akira.

Warning: SUPEROOC!18, AU, TYPO, gope dapet 3, de el el de k aka

DLDR

Masih ngotot? Oke, jangan salahin saya kalau mata kalian berkunang-kunang.

~~oo00oo~~

Dino mulai membuka matanya. Ia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan iris hazelnya dengan cahaya yang mulai menyelip diantara kain gorden yang menutup jendela. Ia terduduk di tepi ranjangnya. Pemandangan yang pertama ia lihat adalah Fon dan Hibari sedang tertidur dengan Fon yang memeluk Hibari dan Hibari yang menggulung manja di pelukan Fon. Melihat itu, Dino tersenyum-senyum. Ia sudah tau kalau Fon ramah pada siapa saja. Tapi baru kali ini ia melihat Fon memeluk anaknya sendiri.

"Nggh…"

Dino ganti melihat Hibari. Matanya yang tajam mulai membuka perlahan. Ia lepaskan pelukan Fon padanya dan berjalan menuju ke kamar mandi.

Baru Dino bangkit dari tempatnya duduk, sudah ia dengar suara Hibari yang muntah-muntah. Dino menghela napas. Yaah…karena mau bagaimanapun ia tak bisa apa-apa selain menyemangatinya. Dan disini ia mulai merasa perkataan Verde waktu itu benar. 'Kau tidak berguna! Pergi sana!' begitu katanya.

Sekitar 15 menit kemudian, Hibari keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat. Pemuda mungil itu duduk ditempat Dino duduk tadi. Sementara Dino menghampirinya dan mengelus untaian hitam arang Hibari.

"Kyouya, kau baik-baik saja kan?" tanya Dino masih mengelus rambut Hibari.

"Hum… tidak apa-apa. Ini sudah biasa." Kata Hibari tenang. Namun matanya tak menatap mata Dino langsung.

"Baguslah. Kau mau makan apa? Akan kubuatkan." Kata Dino sambil tersenyum.

"Aku tidak lapar."

"Tapi Kyouya harus makaan~~" Dino mulai membujuk Hibari.

"Hmph. Tidak."

"Ne, Kyouyaaa~~"

"Berisik, haneuma."

"H-Haneuma…" Dino sudah tak bisa membalas. Akhirnya, ia berhenti membujuk namun mengeluarkan gloomy aura. Melihat itu, Hibari jadi agak tidak tega.

"Baik, baik. Aku akan makan." Ujar Hibari mengalah. Telinga imajiner langsung muncul di kepala pirang Dino. "Waai! Ayo makan, Kyouya~~"

Fon—yang sudah bangun tanpa disadari—hanya tertawa kecil melihat tingkah kedua 'anak'nya itu.

~~oo00oo~~

Setelah Fon pamit keluar, Dino mulai beres-beres dan menyiapkan sarapan untuknya dan Hibari. Sedangkan Hibari hanya duduk dan memperhatikan Dino yang masih asyik memasak.

Ia perhatikan lagi sekeliling. Tempat ini memang kecil, tapi entah kenapa Hibari seperti merasakan sesuatu ditempat ini. Yang tak akan pernah ia dapat dimanapun. Sekalipun itu tempat yang mau menampungnya pertama kali dahulu.

Kehangatan.

Hibari samar-samar mengingatnya. Perlahan-lahan dia makin merindukan perasaan seperti itu dalam dirinya. Entah kapan terakhir kali ia merasakan itu.

"Kyouya, hei. Kenapa melamun?"

Hibari tersadar dari lamunannya. Langsung ia menoleh kearah Dino yang sedang menaruh piring berisi makanan didepannya.

"Makanlah, Kyouya." Ujar Dino. Hibari mengangguk dan mulai makan dengan pelan.

"Eem… hei, Dino." Suara Hibari mulai membuka percakapan.

"Hm? Ada apa, Kyouya?" tanya Dino masih dengan senyuman cerah khas-nya menimbulkan rona merah di wajah putih Hibari.

"Kau tau… Tsunayoshi?"

"Tsunayoshi…? Ah, maksudmu Tsuna? Ya aku tau dia. Karena aku yang menanganinya. Dia anak yang sangat manis, kau tau? Meski dia tergolong anak yatim, dia tetap ceria. Atau mungkin dia tidak paham keadaannya? Ahaha. Setiap hari dia selalu mengoceh ingin cepat keluar dari rumah sakit dan bermain dengan teman-temannya di laut yang selalu mereka lihat di lukisan. Tapi, teman-teman Tsuna semuanya memiliki penyakit yang tak bisa disembuhkan dan satu persatu mereka pergi meninggalkannya. Aku yakin dia kesepian. Ngomong-ngomong kau tau dia darimana?"

Hibari terdiam menanggapi ocehan Dino yang ia katakan dalam satu tarikan napas. Karena pertama, ia hanya bertanya apa dia kenal Tsuna, dan kedua, ada sedikit perasaan simpatik pada bocah berambut cokelat itu. Sedikit banyak ia paham perasaannya. Ditinggal pergi begitu saja. Tapi perasaan Hibari jauh lebih rumit.

"Lain kali… boleh aku menemaninya? Seharian."

Dino berhenti menyantap sarapannya. Ia tatap Hibari dengan tatapan agak heran sekaligus terkaget-kaget.

"Kau mau Kyouya? Benar-benar mau?" tanya Dino dengan tatapan antusias. Hibari mengangguk.

"Kyaa~~ Kau baiik sekali Kyouya~~" kata Dino riang sambil memeluk Hibari.

"Hmph. Lebih baik kau cepat pergi sana." Usir Hibari.

"Jahatnyaa… ini kan rumahku… yasudah, aku pergi dulu ya Kyouya. Hati-hati. Jangan mengerjakan hal berat." Pesan Dino. Hibari hanya mengangguk mengerti.

Setelah Dino pergi, Hibari duduk dan memperhatikan sekeliling. Taka da yang spesial. Kamar Dino rapih. Tak ada yang berantakan.

Perhatiannya tertuju ke sudut lain ruangan. Ada kardus-kardus bekas berisi kertas yang penuh coretan-coretan tidak jelas dan berserakan disekelilingnya. Hati Hibari tergerak untuk membereskannya. Akhirnya ia bangkit dari tempatnya duduk dan berjalan menuju tumpukan kertas dan kardus itu. Ia baca satu per satu. Semua kertas mengatas namakan Dino dan dibawahnya ada tulisan 'Jurusan Kedokteran'. Ini mungkin kertas yang dulu ia gunakan saat masih universitas. Banyak tulisan-tulisan yang tidak bisa ia baca. Ia tumpuk kertas-kertas itu agar lebih rapi dan ditaruh didalam kardus. Kemudian, ia ambil salah satu kertas yang ada disisi kardus lainnya. Iseng, ia baca isi kertas itu.

04 Februari 19xx

Lagi-lagi aku dimarahi padre karena nilaiku jelek. Yaah… mau apalagi sih. Waktuku tersita banyak karena mereka juga yang menyuruhku mempelajari ilmu kedokteran sedalam-dalamnya. Nyatanya mereka tak pernah memperhatikanku sejak aku kecil.

Kadang aku lelah harus hidup seperti ini. Aku tau, aku punya orang tua yang lengkap, hidup berkecukupan, dan masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi aku merasa tak butuh semua itu.

Aku punya ibu, tapi tak bisa kurasakan hangat pelukannya. Aku punya ayah, tapi tak bisa kudengar nasihat dan perkataan bahwa ia bangga padaku seperti yang orang tua temanku lakukan.

Aku tau, aku bukan anak kecil lagi. Tepat hari ini umurku 14 tahun. Tapi apa aku salah jika aku menginginkan itu? Aku hanya ingin itu, aku tak ingin yang lain.

Semoga saat aku dewasa nanti, aku bisa merasakan kasih sayang orang tuaku.

Dino C.

Hibari diam. Jemari lentiknya meremas kedua sisi kertas yang baru saja ia baca. Padahal Dino selalu terlihat ceria dan optimis. Tak disangka Dino menyimpan beban seperti itu.

Ia punya orang tua tapi orang tuanya tak pernah memperhatikannya.

Ia baca lagi kertas yang ditumpuk dibawahnya. Hibari menatap lekat-lekat setiap huruf yang ditulis Dino dengan rapi.

04 Februari 19xx

Tahun ini, orang tuaku tak ingat lagi ulang tahunku.

Padahal saat kecil setiap ulang tahunku datang aku pasti akan sangat senang. Dulunya aku berpikir orang tuaku setidaknya akan mengucapkan ucapan selamat ulang tahun padaku. Namun sapaan pun tak pernah kudapat. Jangankan di hari ulang tahunku. Di hari biasa saja rasanya seperti aku tidak tinggal dengan orang tua sendiri. Pada akhirnya setelah itu aku terus berpikir 'Aah… ulang tahun lainnya.' Dan akhirnya aku akan menghitung kira-kira sudah berapa umurku.

Jujur, aku kesepian. Baiklah kalau orang tuaku tak peduli, tapi aku butuh satu orang saja yang mau peduli padaku. Kepedulian yang sebenarnya. Tak hanya sekadar rasa kasihan atau hal-hal lainnya. Aku ingin perasaan yang tulus sampai padaku. Entah lewat siapa.

Dino C.

Hibari kembali membaca-baca semua robekan kertas itu. Semua bertanggal sama. 4 Februari. Setiap tahunnya. Kemudian, ia temukan lagi yang paling baru. Yaitu tahun ini. Sekitar 4 bulan lalu, sebelum mereka bertemu.

4 Februari 20xx

Sekarang aku sudah jadi dokter. Dan aku hidup terpisah dari orang tuaku.

Disini aku bertemu Fon. Dia orang yang sangat baik. Dia selalu bercerita seandainya anak laki-lakinya masih hidup, mungkin ia akan lebih kecil sekitar 6 tahun dibawahku. Entahlah. Atau mungkin lebih? Kasihan juga, anaknya sudah pergi meninggalkannya. Padahal Fon orang yang sangat baik. Aku harap anaknya mendapatkan tempat yang terbaik.

Dino C.

Hibari terdiam. Ia tertunduk dan memeluk lututnya lalu menangis sepuasnya. Mulai sekarang, ia berjanji akan menjadi yang terbaik. Bagi Fon, ibunya. Juga bagi Dino.

Suara ketukan pintu menyadarkan Hibari. Ia cepat-cepat hapus air matanya dan membuka pintu kamar. Ia lihat Fon sedang membawa buket bunga mawar merah.

"Ada apa? Ini untuk siapa?" tanya Hibari.

"Entahlah Kyouya-kun. Tadi aku melihat kotak surat Dino-kun dan melihat ini. Tapi tulisannya ini ditujukan untukmu." Kata Fon dan memberikan buket bunga itu pada Hibari. Hibari menerimanya setelah berterimakasih. Fon pun kembali ke bawah dan Hibari membawa masuk buket bunga itu. Ia lihat-lihat buket bunga itu, siapa tau ada identitas pengirimnya. Namun yang ia temukan adalah satu tangkai mawar hitam diantara puluhan mawar merah itu. Tangan Hibari bergetar mengambil setangkai mawar hitam itu dan sepucuk surat yang ditancapkan di salah satu durinya. Ia baca secarik surat itu.

Permainan baru dimulai, Kyouya~~

~~TSUZUKU~~

Holaho minna-san~~ ekhem. Maaf apdetnya ngaret banget. Saya baru ada feels ngetik sekarang :'v

…serius. Demi apapun APA YANG SUDAH SAYA BUAT INI?! *benturin pala ke tembok*

Pertamanya mau coba pake bahasa biasa. Begitu kesini-sini mulai pake majas lah, perumpamaan lah, rima lah. Aduuh… efek tugas puisi bahasa Indonesia itu memang wow sekali. Sasuga Bahasa Indonesia…

Oke, makasih yang udah review. Ini dia balasannya. Maaf Cuma bisa lewat sini.

Nabila Chan BTL

Oho… iya nih. Apdet lagi… Ini udah dilanjutin loh~~

Etto… Fon disini tetep cowok, karena menurut ide saya, rencananya mau bikin Hibari bisa hamil itu keturunan Fon. Huehehe.

tasya27

Benar sekali~~ ini berarti sifat ganas Hibari nurun dari Reborn *dibuang*

Ini udah apdet~~ sekarang yang terungkap masa lalu Dino. Lalalalala~~ *plok*

Kisasa Kaguya

Bahagia banget lo Reborn mati (padahal setelah fic ini apdet waktu itu dia langsung bikin potong tumpeng)

Ehm. Alurnya udah lambat belom?

Rhiani

Hoho. Iya dung. Saya lagi suka RF soalnya.

Ini udah update lagi. Semoga kau suka (dan masih menunggu cerita nista ini)

Dee Kyou

Lu ketuker bedon. Whuahaha. :v

Nih udah apdet. Dan jangan ngancem gue pake lagu Nina Bobo!

CyntaSilluevaSamudra

Sebelum itu, gue mau protes. KENAPA KYOUYA REVENGE DIAPUUUS!

Ekhem. konflik Dino kumasukin disini ye. ._.)/

…. Kok kayaknya udah kubalesin ya. Yaah. Maklum. Gampang lupa.

Nah, bagi yang masih setia nungguin nih fic, saya minta review dari kalian yaaw~~ *tebar kissu* *dibuang*