"kumohon chagi, jangan paksa aku untuk menjalani operasi itu. aku sudah tidak sanggup untuk hidup saat buah hatiku sendiri menolak keberadaanku,"yeoja paruh baya itu akhirnya menangis sejadi-jadinya di pelukan namja paruh baya itu.
DEG...
Seketika itu kakiku terasa sangat lemas mendengar penuturan yeoja paruh baya tersebut. Hatiku seolah disayat-sayat oleh ribuan belati yang tajam. Tak pernah sekalipun aku memikirkan perasaan mereka sama sekali.
"Tuhan apa yang harus aku lakukan?"tanya Kibum gundah. Aku memegangi dadaku yang begitu teramat sakit. Tanpa sadar bulir air mataku kini mengelir begitu derasnya saat kembali kulihat yeoja paruh baya itu tergelatak di atas ranjang kamar inapnya tak berdaya.
Author pov*
Kibum berjalan dengan langkah gontai memasuki rumah mewahnya. Ia segera menghapus air matanya yang sedari tadi tak bisa berhenti setelah datang ke rumah sakit tersebut. Hatinya sungguh sakit. Ia merasa menjadi anak yang sangat durhaka terhadap orang tua kandungnya meskipun tidak dipungkiri dia sangat membenci kenyataan bahwa ia bukanlah putri dari keluarga Choi yang sangat ia cintai.
Setelah memastikan kalau air matanya sudah tidak ada di pipi chubbinya. Ia segera mengembangkan senyum palsunya saat melihat eomma yang sangat disayanginya tersebut kini tengah duduk di ruang santai bersama appa dan segera berlari memeluk eommanya erat seolah-olah hari ini adalah hari terakhirnya ia bisa bermanja-manja padanya membuat tiga orang yang ada disana mengernyit heran.
"Aigoo anak eomma kemana saja eoh baru pulang?"tanya eomma sambil mengelus punggung Kibum penuh sayang.
"Eomma aku sangat menyayangimu,"ucap Kibum lirih namun cukup terdengar di telinga Leeteuk.
"Hemmm arasseo,"ucap Leeteuk sambil menjepit hidung bangir Kibum gemas.
"Bummie cepat mandi sana, kau bau tau!"ejek Siwon pada Kibum yang langsung mendapat cubitan sayang dari adik tercintanya tersebut.
"Aisshh arasseo oppaku tersayang,"ucap Kibum segera naik ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Kibum menghempaskan tubuhnya di ranjangnya setelah ia selesai membersihkan dirinya dengan air hangat. Matanya terpejam erat membayangkan apa yang ia lihat di rumah sakit tadi. Tak dipungkiri hatinya juga sakit saat melihat yeoja yang mengaku eommanya tersebut lemah tak berdaya apa lagi yang menyebabkannya menjadi seperti itu adalah dirinya sendiri. Tanpa sadar bulir keristal itu kembali mengalir menganak sungai di pipi chubbinya. Kibum menyesali takdirnya yang harus seperti ini.
Ceklekk...
Kibum segera menghapus air matanya kala melihat oppanya masuk ke dalam kamarnya dan duduk di sebelahnya.
Author pov end*
Siwon pov*
Aku sedikit khawatir saat Kibum tak juga turun dari kamarnya untuk makan malam. Aku segera menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Aku sempat terkejut saat melihat Kibum sedang berbaring di ranjangnya hanya dengan memakai handuk putih pendek yang membalut tubuhnya hingga menampakkan kulit putihnya yang mulus. Tak dipungkiri hal tersebut membuatku sedikit gugup juga padahal sewaktu kita kecil aku sering sekali mandi dengannya tapi kenapa suatu perasaan aneh itu muncul kembali saat melihat Kibum kecilku yang sudah semakin dewasa dan tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan murah hati.
Aku menghampirinya dan duduk disebelahnya. Matanya terpejam erat. Dia kelihatan sangat lelah. Apa dia masih kepikiran dengan masalah yang kemarin? Hahhh pasti dia masih sangat sedih dan kecewa dengan semua kenyataan yang ada. Tanpa sadar aku mengelus wajahnya yang tampak lugu dan polos. Aisshh kenapa dia begitu bersinar dimataku.
"Apa aku secantik itu oppa sampai kau memandangiku tanpa berkedip seperti itu eoh?"Kibum membuka matanya dan tersenyum menggoda.
"Aishh kau mengelabuiku eoh? Kukira kau sedang tertidur. Cepatlah turun untuk makan dan cepat ganti baju, aku tidak mau kau nanti terkena flu. Untung hanya aku yang bisa melihatmu seperti ini. Kalau namja lain yang melihatmu yang hanya memakai handuk mini itu, aku yakin mereka akan memakanmu bulat-bulat,"nasehatku padanya yang hanya memberikan senyum kecilnya mendengar ceramahku barusan.
Tanpa kuduga ia bangkit dan memelukku erat.
"Oppa apa aku tetap bisa bersama kalian? Aku tidak sanggup berpisah dengan kalian,"ucap Kibum semakin memperarat pelukannya padaku.
"Aishh tentu saja Bummie. Kau adalah dongsaeng oppa. Dan kami sangat menyayangimu,"ucapku apa adanya. Aku mengelus rambutnya lembut yang masih memelukku.
"Tapi, aku benar-benar sangat takut oppa sekarang,"ucapnya lagi. Aku segera menangkup wajahnya dan menatapnya dalam.
"Sejak kapan dongsaeng oppa yang terkenal manja dan pemberani ini menjadi penakut begini eoh?"ucapku berusaha membuatnya terhibur.
"Sejak kenyataan yang tidak bisa kuterima itu muncul oppa,"jawabya sambil menundukkan kepalanya dalam.
"Suadahlah. Oppa tidak akan pernah membiarkanmu kemana-mana. Kau akan tetap nenjadi bagian dari keluarga Choi dan tak ada yang bisa mengubahnya Bummie. Cepatlah berganti pakaian. Eomma dan appa sudah menunggu kita di meja makan,"ucapku menyuruhnya segera mengganti bajunya. Walaupun aku adalah orang yang sangat dekat dengannya, tidak dipungkiri aku juga sangat tergoda dengan tubuh indahnya yang begitu terekspos bebas tersebut karena bagaimanapun juga aku adalah seorang namja.
Kulihat ia melangkah gontai ingin menuju kamar mandi. Aku sangat benci melihatnya sedih seperti ini. Rasanya aku benar-benar telah gagal menjaganya.
"Bummie,"panggilku dan tanpa sengaja menarik handuknya hingga jatuh merosot ke bawah menampakkan tubuh indah Kibum yang polos tak terbalut apa-apa.
1 detik
2 detik
3 detik
4 detik
5 detik
aku masih terpaku melihat pemandangan indah yang ada di hadapanku. Aku dan Kibum sama-sama terdiam hingga akhirnya Kibum tersadar dan berteriak cukup kencang.
"Huwaaaaaaaa..."teriakan Kibum begitu membahana di seantero rumah dan membuatku seketika itu juga sadar dan segera menutup mataku dengan telapak tanganku. Tapi, entah kenapa aku malah sedikit memberikan celah pada tanganku agar aku tetap bisa melihat tubuh polosnya yang benar-benar indah itu. Tak pernah kulihat makhluk seindah ini di film-film yadong yang kulihat sebelumnya. Ahhhrggg apa yag kau pikirkan Choi Siwon. Babo.
Kibum segera melilitkan handuknya kembali pada tubuhnya dan berlari menuju kamar mandi tepat ketika eomma dan appa membuka pintu Kibum kasar, sepertinya mereka khawatir saat Kibum berteriak tadi.
"Wonnie kenapa Bummie tadi berteriak? Apa terjadi sesuatu?"tanya appa khawatir.
"Aniyo appa, tadi hanya ada kecoak saja dan membuat dia menjerit seperti itu. Oppa tau kan kalau Bummie sangat takut dengan kecoak,"bohongku pada appa yang begitu saja percaya padaku.
"Ahhh begitu rupanya. Yasudah cepatlah suruh Bummie untuk turun. Kita makan malam bersama,"suruh appa padaku dan hanya kutanggapi dengan anggukan pasti.
Setelah beberapa saat Kibum sudah berganti pakaian memakai rok pendek selutut dan atasan yang senada. Aku sedikit canggung juga akibat kejadian beberapa saat yang lalu itu.
"Ya! Oppa apa kau melihat semuanya eoh? "tanya Kibum kesal padaku.
"Aihhh aku tidak melihat apa-apa Bummie, lagian apa yang bisa aku lihat darimu. Sudahlah aku tidak melihat apa-apa tadi,"bohongku padanya dan berjalan cepat keluar dari kamar Kibum sebelum ia bertambah murka padaku.
.
.
.
Suasana di meja makan kini terlihat sangat canggung bagiku dan Kibum. Dan dapat kulihat Kibum kini tak henti-hentinya menatap mataku tajam hingga membuatku salah tingkah dibuatnya.
"Aigoo kalian berdua kenapa eoh? Kalian bertengkar ya? Tidak biasanya kalian diam begini,"tanya eomma heran pada kami berdua.
"Molla. Tanyakan pada oppa saja eomma," Kibum berjalan melewatiku sambil menjambak rambutku cukup keras.
"Ya! Bummie aku ini oppamu. Aishh dasar tidak sopan,"aku mengelus kepalaku yang serasa berdenyut sakit akibat ulah Kibum barusan. Aku segera pamit untuk pergi ke kamarku pada eomma dan appa. Tapi saat melihat pintu kamar Kibum yang terbuka aku segera masuk ke dalam kamarnya. Kibum ternyata sedang berada di balkon kamarnya. Pasti dia melihat bintang. Aku sudah sangat hafal hobbinya melihat bintang di malam hari. Hal itu bisa membuatnya merasa tenang dan damai.
"Mianhae atas kejadian tadi Bummie. Oppa tidak sengaja,"ucapku merajuk padanya, namun ia sama sekali tak menghiraukanku membuatku sedikit kesal juga dibuatnya.
"Ya! Dengarkan oppamu ini Bummie,"aku paling benci tidak dihiraukan seperti ini dan aku tau Kibum juga mengetahui hal itu. Aku rasa ia sengaja membuatku marah.
"Ya! Aku tidak melihat apa-apa. Apa yang bisa dilihat darimu. Payudara kecil dan pantat juga tidak beri-"
"Huweeeee..."ucapanku langsung terpotong saat Kibum mulai menangis keras membuatku kalang kabut untuk menenangkannya.
"Ya, Bummie jangan menangis. Shuttt... Please Bummie. Aku tidak mau dihukum eomma dan appa karena membuatmu menangis,"aku berusaha kembali menenangkannya.
"Huweeee... Oppa bararti sudah melihat semuanya. Huweee..."tangis Kibum semakin menjadi karena ia tahu bahwa aku benar-benar melihat tubuh polosnya tadi.
"Shuutt jangan menangis Bummie. Pleaseee... Ya, bukannya kita sering mandi bersama saat kecil. Jadi kau tidak perlu malu pada oppa ne,"aku segera memeluknya mencoba kembali menenangkannya.
Brakkk...
"Wonnie apa yang kau lakukan pada dongsaengmu!"teriak appaku marah dan berjalan menghampiri kami berdua diikuti oleh eomma dibelakangnya.
Aku segera memberikan tatapan memohon pada Kibum agar dia mau membantuku. Tapi yang kulihat justru seringaian mengerikan darinya.
"Eomma, appa. Oppa menjahati Bummie. Huweeee..."adunya seketika itu aku langsung pucat pasih. Sudah dipastikan malam ini akan menjadi malam yang panjang karena hukuman dari appa sudah menanti di depan mataku.
"CHOI SIWON! CEPAT LARI KELILING RUMAH INI SEBANYAK 20 KALI SEKARANG!"mati kau Choi Siwon. Aishh appa kenapa kau begitu tega dengan anak tampanmu ini. Hahhh... Bagaimana aku bisa mengelilingi rumah ini yang begitu luas.
Aku segera menolehkan wajahku pada Kibum yang kini tengah tertawa senang. Aishhh dia mengerjaiku rupanya.
"TUNGGU APA LAGI CHOI SIWON! LAKUKAN SEKARANG!"perintah ayah mutlak dan mau tidak mau aku harus melakukan hukuman tersebut.
.
.
.
"Hosh... Hossshhh...Hossshhh..." deru nafasku masih memburu. Nafasku benar-benar tersengal. Aishh kenapa appa begitu kejam padaku. Aku sudah lari 20 kali dan ditambah aku tidak boleh tidur di dalam. Aishhh appa benar-benar menyebalkan!
Aku membaringkan tubuhku di sofa ruang tamu dengan diam-diam. Aku tidak mau appa tau kalau aku tidur di dalam rumah yang tidak sesuai dengan perintahnya. Kupejamkan mataku berusaha menetralisir rasa lelahku. Tak lama aku mendengar derap langkah kaki menghampiriku dengan pelan. Kurasakan sebuah tangan mungil dan lembut menyeka keringat di wajahku. Ahhh betapa hangatnya tangan ini. Tangan yang akan selalu aku ingat. Tangan dongsaengku Choi Kibum.
"Mianhae oppa, aku tidak bermaksud membuat oppa seperti ini. Tapi kau tadi begitu menyebalkan makanya aku sengaja memberikan sedikit pelajaran padamu oppa,"jelas Kibum panjang lebar. Aku hanya bisa tersenyum dalam hati mendengar penjelasannya tadi. Tak kusangka dia sangat perhatian padaku seperti ini.
Cupp...
Sebuah kecupan hangat di daratkan bibir Kibum pada pipi kananku.
"Jaljayo oppa,"kurasakan hangat ditubuhku saat Kibum ternyata tengah menyelimutiku dan membawakanku bantal. Ahh dia tahu sekali kalau aku tidak bisa tidur dalam keadaan dingin. Tanpa terasa rasa lelah yang tadi menghinggapi tubuhku kini malah terasa hilang.
Saat kudengar derap langkah kakinya semakin menjauhi aku. Aku segera membuka mataku dan dapat kulihat di sampingku sudah ada cokelat hangat dan roti disana. Hahhh kau memang yang paling mengerti aku Kibum. Entah bagaimana kalau aku hidup tanpamu disisiku. Pasti aku tidak sanggup untuk hidup.
Siwon pov end*
Author pov*
"Oppa bangunlah, oppa..."Kibum menggerakkan-gerakkan tubuh Siwon dengan kedua tangannya. Namun, Siwon tak kunjung bangun juga.
"Oppa palli, nanti kita bisa terlambat ke sekolah. Oppa..."Kibum tampak sudah mulai kesal karena Siwon malah semakin nyaman dengan tidurnya.
"Oppa..." Kibum mencubit pinggang oppanya cukup keras.
"Arasseo. Lima menit lagi ne,"tawarnya pada Kibum membuat Kibum semakin kesal dibuatnya. Namun tak berapa lama seringaian terlukis di wajah cantiknya.
"Baiklah terserah oppa kalau tidak mau bangun. Aku akan meminta Donghae oppa untuk menjemputku saja,"Kibum segera berlenggang pergi menjauhi Siwon yang masih berusaha mencerna kata-kata Kibum. Tak berapa lama terdengar teriakan yang menggema di seantero rumah.
"Mwooooo..."teriak Siwon keras saat ia telah sadar sepenuhnya.
"Ya! Aishh awas saja kalau Donghae berani menginjakkan kakinya lagi di rumah ini. Akan kucincang dia,"Siwon melangkah mendekati Kibum yang telah mengganggu mimpi indahnya tadi.
"Wae oppa? Bukankah kau masih ingin tidur? Tidurlah, aku akan berangkat bersama Donghae oppa,"Kibum menyeringai senang bisa mengerjai oppanya tersebut.
"Ya! Aishhh tunggu aku 10 menit. Aku akan bersiap-siap,"Siwon langsung berjalan menuju kamarnya tapi ucapan Kibum langsung menghentikan langkahnya lagi.
"Aku tunggu lima menit lagi. Kalau oppa tidak selesai. Aku akan berangkat bersama Donghae oppa,"ucap Kibum mutlak hingga membuat Siwon kesal dibuatnya.
"Ya! Aishh awas kau ya,"Siwon segera lari terbirit menuju ke kamarnya dan hanya mencuci mukanya dan sikat gigi. Ia segera turun kembali ke bawah dan mendengar tertawaan dari eomma dan dongsaengnya tersebut.
"Ya! Bummie dan eomma mengerjaiku ya, Aishhh,"Siwon memajukan bibirnya beberapa centi hingga membuatnya semakin terlihat lucu di mata Kibum dan Leeteuk.
"Aigoo ternyata oppa bisa juga secepat kilat. Pasti oppa tidak mandi huuuuu,"ejek Kibum pada Siwon yang hanya diberikan death glare gratis oleh Siwon.
"Aishh awas kau Bummie!"Siwon segera berlari menyusul Kibum yang sudah keluar duluan.
.
.
.
Setelah pelajaran usai. Kibum segera berlari menuju gerbang sekolahnya. Ia berencana untuk mengunjungi ahjumma yang mengaku sebagai ibu kandungnya di rumah sakit. Ia terpaksa harus pergi kesana secara diam-diam. Ia tidak mau Siwon mengetahuinya karena ia yakin Oppanya itu pasti akan marah padanya kalau ia tahu Kibum pergi menemui ahjumma tersebut.
Kibum berdiri di pinggir jalan untuk menyetop sebuah taksi. Namun sebuah tepukan ringan yang di daratkan di pundaknya oleh seseorang membuatnya sangat terkejut.
"Bummie kenapa kau berdiri disini eoh? Oppa dari tadi mencarimu di kelas. Ayo kita pulang,"Siwon menarik tangan Kibum lembut untuk mengikutinya. Tapi Kibum segera menghentikan langkah kakinya membuat Siwon heran dibuatnya.
"Ahhh oppa aku lupa memberitahumu kalau aku harus kerja kelompok dengan Sungmin. Oppa pulang saja duluan ne,"bohong Kibum pada Siwon dan langsung bergegas menaiki taksi yang sudah berhenti di hadapannya.
"Aneh sekali, kenapa akhir-akhir ini ia sering kerja kelompok,"Siwon merasa sikap Kibum akhir-akhir ini terasa aneh. Tapi, Siwon berusaha menepis perasaanya tersebut dan berjalan ke parkiran untuk mengambil motornya.
Author pov end*
Kibum pov*
Disinilah aku sekarang. Di sebuah bangunan putih yang tinggi. Ya, aku sekarang sedang berada di rumah sakit Seoul. Aku melangkah pasti memasuki rumah sakit tersebut. Aku harus bisa menghadapi masalah ini dan aku tidak boleh lagi lari dari masalah ini. Ya, Choi Kibum adalah yeoja yang kuat. Fighting.
Kini aku sudah berdiri di depan pintu putih bertuliskan nomor 203. Aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu tersebut dan masuk ke dalam saat sebuah suara telah menginstrupsiku untuk masuk. Dapat kulihat raut terkejut dari sepasang mata yeoja dan namja paruh baya tersebut saat menyadari kehadiranku. Aku segera memberikan salam pada mereka dan membungkukkan badanku.
"Annyeonghaseyo,"sapaku ramah pada mereka berdua. Dapat kulihat kini yeoja paruh baya yang terlihat rapuh itu menitikkan air matanya dan tersenyum ke arahku.
"Anakku... Hiksss ... Anakku,"ucap yeoja itu terisak lalu berjalan ke arahku. Saat sudah sampai di hadapanku. Ia mengelus wajahku lembut. Tuhan kenapa sentuhan ini begitu hangat dan menenangkan. Apakah benar mereka adalah orang tua kandungku?
Ia segera memelukku cukup erat dan menangis tersedu. Tanpa sadar aku membalas pelukannya dan ikut menitikkan air mata. Entah apa yang membuatku menangis. Tapi hatiku merasa sangat terharu dan nyaman di dekapannya.
"Anakku... Hiksss... Kau anakku,"kembali dia berucap. Aku begitu sakit melihatnya seperti ini. Tubuhnya sangat kurus dan tak terawat. Tuhan aku benar-benar kejam karena telah membuatnya menjadi seperti ini.
"N-ne E-eomma,"ucapku terbata. Entah apa yang membuatku berani mengucapkan kata itu. Yang jelas ada perasaan senang saat aku memanggilnya seperti itu.
Dapat kulihat namja paruh baya yang sedang duduk di tepi ranjang ruang inap itu tersenyum manis padaku. Aku hanya bisa membalasnya dengan lengkungan senyum tipis di wajahku. Aku masih ingat saat dia memohon dihadapanku untuk menemui yeoja paruh baya ini walaupun hanya sekali. Dan aku menepatinya sekarang.
"E-eomma? Kau memanggilku e-eomma?"tanyanya tak percaya. Aku menganggukan kepalaku antusias.
"Ne memang benar aku eommamu,"ucapnya lagi sambil memelukku erat.
"Tolong panggil aku eomma sekali lagi,"pintanya padaku.
"E-eomma, eomma, eomma," panggilku sambil mengelus punggung yeoja paruh baya ini.
"Baiklah kau harus makan bubur ini Chagi, kau sudah tidak makan selama dua hari ini. Kau nanti akan semakin drop kalau terus-terusan begini,"ucap namja paruh baya itu mendekatiku dan yeoja paruh baya ini. Namja paruh baya itu menatapku dengan pandangan memohon agar aku bisa membujuknya untuk makan.
"Eomma kenapa kau tidak makan dua hari eoh? Apa eomma tidak menyayangiku,"aku berusaha membujuknya untuk makan.
"Aniyo, eomma sangat menyayangimu melebihi nyawa eomma sendiri,"ucapnya sambil menatap wajahku sendu.
DEG...
sebegitu sayangnya kah dia padaku. Tuhan aku harus bagaimana sekarang.
"Kalau eomma tidak mau makan, aku tidak mau bertemu dengan eomma lagi,"ancamku padanya yang kini menunjukkan raut kekhawatiran di wajah cantiknya.
"Aniyo, jangan lakukan itu pada eomma, eomma tidak sanggup harus hidup tanpamu chagi,"ucapnya sambil memelukku semakin erat hingga membuatku sedikit sesak juga dibuatnya.
"Maka dari itu eomma harus makan ne,"ucapku sambil berusaha mengembangkan senyumku lebar.
"Tapi kau harus menyuapi eomma ne,"pintanya sambil memberikan tatapan memohonnya padaku. Aku segera menganggukkan kepalaku setuju dan menuntunnya kembali ke ranjangnya.
.
.
.
Setelah melihat eomma tertidur aku segera melangkahkan kakiku keluar dari ruang rawat inapnya. Saat membuka pintu dapat kulihat namja paruh baya itu berdiri di depan rawat pintu eomma. Ia tersenyum lembut padaku.
"Eomma sudah tertidur, sebaiknya anda beristirahat,"ucapku padanya. Ia benar-benar kelihatan sangat lelah.
"Gomawo,"ucapnya padaku.
"Aniyo, kau tidak perlu berterima kasih padaku,"jawabku sungkan.
"Apakah bisa kau memanggilku a-appa,"tanyanya sambil menatap mataku dalam. Aku sempat terkejut juga atas permintaanya barusan yang terkesan mendadak. Namun saat kulihatvwajah lelahnya. Hatiku bemar-benar tak tega untuk menyakitinya lebih dalam lagi. Akupun berusaha melakukan apa yang ia pinta walaupun itu sangat sulit untukku.
"A-appa,"aku mencobanya walaupun sangat sulit ku ucapkan tapi bukankah ini realita yang sesungguhnya bahwa namja yang ada dihadapanku sekarang adalah appa kandungku?
Ia segera memelukku erat meluapkan rasa rindunya mungkin. Aku hanya bisa membalas pelukannya dalam diam. Tanpa sadar terlintas wajah eomma dan appa choi juga Siwon oppa. Aku langsung melepaskan pelukan namja paruh baya itu dan pamit untuk pulang.
Tuhan apa benar tindakan yang telah kulakukan ini. Aku benar-benar bingung. Di satu sisi aku sangat menyayangi keluarga Choi yang telah membesarkanku, tapi aku juga tidak bisa melihat eomma dan appa kandungku menderita karena aku.
Kibum pov end*
Author pov*
Kibum berjalan gontai memasuki rumah keluarga Choi. Ia segera berjalan menapaki anak tangga menuju kamarnya. Saat ia membuka pintu kamarnya ia begitu terkejut saat mendapati oppanya sudah duduk di atas ranjangnya dengan tatapan tajam.
"O-oppa kau mengagetkanku saja, sedang apa oppa di kamarku ?"tanya Kibum berusaha mengurangi rasa gugupnya.
"Kau dari mana saja eoh?"tanyanya masih memandang Kibum tajam.
"Aihhh bukannya aku sudah mengatakan pada oppa kalau aku ada kerja kelompok bersama Sungmin,"jelas Kibum bohong.
"Pembohong,"ucap Siwon ketus. Kibum seketika itu mematung mendengar ucapan oppanya. Memang benar Kibum sejak kecil tak pernah berbohong pada Siwon hal sekecil apapun selalu ia ceritakan pada Siwon.
"Aku tadi bertemu dengan Sungmin dan dia bilang tidak ada tugas kelompok,"jelas Siwon membuang mukanya pada Kibum berusaha menahan amarahnya pada dongsaengnya tersebut.
"Oppa aku bisa jelaskan semuanya,"ucap Kibum sambil berjalan mendekati Siwon.
"Jangan panggil aku oppa. Aku tidak punya dongsaeng yang suka berbohong. Dongsaengku selalu jujur pada oppanya,"ucap Siwon sambil berlalu dari hadapan Kibum yang kini telah menjatuhkan buliran kristal saat mendengar pernyataan Siwon yang begitu menyakitkan tadi.
"Oppa... Opaa..."panggil Kibum pada Siwon yang sudah keluar dari kamarnya meninggalkan Kibum yang kini tengah menangis tersedu-sedu di sudut kamarnya.
.
.
.
To be continued …..
Annyeong my readers ^^
Hehe akuh kembali dengan FF ini. adakah yang menunggu? Kalo masi ada yang berminat harap reviewnya ne ^^
The big thanks to:
Meyy-chaan : choi Haemin : Ny. Cho : cassanova indah : 8687 : vriskaindriany1 : iruma-chan : choikyuhae : haely : zakurafreeze : evilmagnaemin : LyELF: shofy nurlatief : Nina317elf : kang hyun yoo : shim yeonhae : aryelf : blue minra: dwiihae : cho97 : indahpus96 : anin arlunerz : Brigitta bukan brigittew : QQ suju okey : bum407 : feykwangie : KibumNyawon : snowysmiles : R407 : sjflywin : : Noona'sexomember : daun kering ; risaawaw : .id : hera3424 ; piyo ; ChoithyaraELF ; Kim Min Ah ; geelovekorea ; key tsukiyomi : Bummie Kim : bumhanyuk : and some guest (tolong sebutin nama kalian ne)
.
.
Jeongmal gomawo readers
.
.
Review again please ^^
