Chapter 6 – turnamen bola dan reuni?
Beberapa hari kemudian,
Terjadi kehebohan luar biasa di akademi Kuoh. Karena, hari ini adalah "turnamen bola". Matthew berhasil datang ke akademi tanpa harus mengundang Amaterasu. Karena, ia bisa diincar satu Jepang kalau ia membawa Amaterasu ke sekolah.
Matthew biasa kabur dari perlombaan sehingga, dia tidak ikut lomba apapun pada hari ini. Walau dia dari Klub Ilmu Gaib, dia dan ketiga perempuannya tidak mengikuti ini. Para perempuan kecewa karena tidak bisa melihat aksi Matthew. Sementara para pria menangis karena tidak bisa melihat aksi Aori, Marcelia, dan Raynare. Beberapa dari mereka saling peluk dan menangis. Beberapanya lagi menangis di kelas. Dasr siswa.
Kehebohan ini teradi karena pertandingan tenis antara Rias dengan Sona. "Buchou, kau pasti bisa!" kata Issei yang mendukung Rias sambil berdiri di paling depan. "RIAS BUCHOU, RIAS BUCHOU!" kata Issei, Matsuda, dan Motohama sambil menepok dua balon tepuk. "Dasar.." gumam Matthew dengan malunya.
"Ayo Buchou, Ayo Fuku-Buchou!" kata mereka bertiga. "KALIAN APAKAN DUO ONEE-SAMA!" kata para siswa. "MEREKA KAN SATU KLUB DENGAN DUO ONEE-SAMA, KERUBUT MEREKA!" kata seorang perempuan dengan kacamata. "SIALAN KAU, KIRYUU!" kata mereka bertiga yang dikerubut para siswa.
"Ria-tan ku yang pastinya menang!" kata seorang pria dengan rambut merah memanjang dan memakai baju biasa. "Enak saja, So-tan ku yang pasti menang!" kata seorang perempuan yang berambut hitam. "Ria-tan yang menang!" kata pria itu. "So-tan yang menang!" kata perempuan itu lagi.
"Sirzechs-sama, Serafall-sama, jangan membuat keributan disini." Kata perempuan yang berambut putih dan dikepang sambil menjewer mereka. "Auw! Grayfia/Grayfia-san, sakit!" kata mereka berdua yang kesakitkan karena dijewer. "Wah, wah siapa yang disini?" tanya Matthew yang sedang berjalan.
"Halo," kata Sirzechs. "Siapa dia?" tanya Matthew. "Dia satu dari Yondai Maou dan kakak dari Sona, Serafall Leviathan." Kata Sirzechs. "Kalian pasti ribut masalah siapa yang menang atau memfoto adik kalian. Dasar sis-con!" kata Matthew.
Pertarungan sengit antara Rias dengan Sona membuat kehebohan. Bola beraura terus berpantul warnanya bermacam-macam, ada merah, biru, ungu, kuning, bahkan mereka berjumlah lebih dari 1, bagi yang matanya kurang tajam. Sirzechs dan Serafall sedang memfoto adik-adik mereka. Matthew hanya menikmatinya sambil makan jagung berondong.
"Mereka sis-con ya?" tanya Matthew sambil memakan jagung berondongnya. "Aku tidak tahu," kata Grayfia. Beberapa menit kemudian, pertarungan berhenti dengan catatan seri. Rias dan Sona menjadi juara satunya. Karena, raket mereka hancur dn skornya 40-40 tanpa game. Sirzechs dan Grayfia dijewer oleh Grayfia dan dibawa pulang ke alam bawah tanah setelah pertarungan selesai.
Setelah festival bola selesai, hujan turun sangat deras
Rias baru menampar seseorang. Itu bukan Issei, namun Kiba. "Bagaimana? Apa kamu sudah bangun?" kata Rias yang nampak marah. Untuk Turnamen Bola, Klub Penelitian Ilmu Gaib, menjadi juara 1. Issei, Asia, dan Koneko kembali dan memperoleh tempat pertama sebagai tim, namun ada satu orang yang tak bekerjasam yaitu, Kiba. Dia memang sudah ikut serta namun dia tak melakukan apa apa sepanjang waktu.
Rias marah padanya berkali kali sepanjang pertandingan namun ia sepertinya tak peduli. Issei pasti yang kesal kalau Rias tak marah padanya. Bahkan usai pipinya ditampar, Kiba masih tak berekspresi ataupun berbicara. Dia adalah Pria tampan yang selalu memiliki wajah menyegarkan. Kemudian ia tiba tiba memasang senyum yang biasanya.
"Apa sudah selesai? Turnamen Bolanya juga sudah selesai. Kita tak akan berlatih lagi jadi bisakah aku beristirahat sampai malam tiba? Aku sedikit lelah jadi aku ingin absen dari kegiatan Klub yang biasanya. Maaf untuk sikapku sepanjang hari ini. Sepertinya aku tak merasa baik baik saja hari ini." Kata Kiba. "Kiba, sikapmu akhir akhir ini aneh?" tanya Matthew.
"Itu bukan urusanmu." Kata Kiba. "APA KAU BILANG!" kata Marcelia. "SEENAKNYA SAJA KAU BERBICARA DENGANNYA!" kata Aori. "MANA KIBA YANG DULU?" tanya Raynare dengan marah. "Sudah, sudah. Nanti kuelus kepala kalian kalau kalian diam sampai pulang." Kata Matthew. "Baik," kata mereka yang marahnya reda.
Issei segera melanjutkan kata-kata Matthew, "Bahkan aku merasa cemas padamu." Kata Issei. "Cemas? Kenapa harus dicemaskan? Kupikir normal bagi Iblis untuk hidup sesuai kehendak mereka. Memang, aku yang salah karena tidak mendengar ucapan Majikanku kali ini" kata Kiba.
"Cukup menyusahkan dalam situasi ini saat kita mencoba membentuk kelompok yang baik. Itulah yang kita rasakan setelah mengalami hal pahit di pertandingan sebelumnya,ingat? Bukankah kita harus saling menutupi kelemahan kita saat ini? Kita adalah teman." Kata Issei. "Teman?" kata Kiba yang kemudian memasang wajah murung. "Ya,teman." Kata Issei.
"Kamu selalu bersemangat Ise-kun, akhir akhir ini aku mulai mengingat hal hal dasar." Balas Kiba. "Dasar?" kata Issei. "Ya, benar sekali. Alasan kenapa aku bertarung." Kata Kiba. "Bukankah demi Buchou?" tanya Issei. "Bukan. Aku hidup demi membalaskan dendamku. Pedang Suci Excalibur. Menghancurkan itu adalah alasan kenapa aku terus hidup." Kata Kiba yang memasang wajah berisi keyakinan kuat. Lalu, ia pergi sendiri.
Beberapa saat kemudian,
Kiba tengah berjalan tanpa membawa payung ketika hujan turun sangat deras. Dia pikir hujan ini sangat bagus untuk mendinginkan kepalanya. 'Aku baru saja bertengkar dengan Buchou.' Batinnya. Dia memberontak untuk pertama kalinya pada Majikan yang pernah menyelamatkan nyawanya.
'Aku gagal sebagai "Kiba Yuuto". Namun aku tak pernah sekalipun melupakan dendamku pada Pedang Suci Excalibur. Aku belum lama terbiasa dengan kehidupan sekolah. Aku sudah mendapat teman, mendapat hidup layak, dan mendapat nama. Aku juga menerima tujuan hidup dari Majikanku, Rias Gremory. Meminta kebahagiaan lebih adalah hal buruk. Aku memang buruk. Aku tak bisa terus hidup demi "Teman teman"ku sampai aku mencapai tujuanku.' Batinnya.
Dia mendengar suara air yang berbeda dari suara hujan. Terdapat Pendeta di hadapannya. Terdapat salib menggantung di dada mereka dan memberikan hukuman langit atas nama Tuhan yang begitu ia benci. Dia adalah salah satu hal yang ia benci.
'Aku tak keberatan membunuhnya kalau dia adalah Exorcist.' Itulah yang dipikirkannya. Ada darah mengucur dari perutnya dan dia batuk batuk darah, dia kemudian jatuh. 'Apa dia dibunuh oleh seseorang? Siapa? Seorang musuh?' batin Kiba.
Kiba dalam sekejap menciptakan Pedang Iblis setelah merasa ada keganjilan. 'Itu adalah hawa membunuh!' batin Kiba. Terdapat kilatan logam dibawah hujan yang nampak bersinar. Saat Kiba menggerakkan tubuhnya ke tempat hawa membunuh itu berasal, terdapat seseorang dengan Pedang panjang menyerangnya. Pria ini memiliki busana sama dengan Pendeta yang tewas barusan. Jadi dia juga Pendeta. Tapi yang satu ini memiliki hawa membunuh yang berbeda. "Yahoooo. Lama tak jumpa." Kata orang itu.
'Aku kenal pria Pendeta yang membuat senyum aneh. Pendeta sinting dengan rambut putih, Freed Zelzan. Dia adalah orang yang kami lawan dalam insiden yang melibatkan Malaikat Jatuh sebelumnya. Dia menunjukkan senyum menjijikkan yang sama yang membuatku kesal seperti biasanya.' Batin Kiba
"Sepertinya kau masih di kota ini. Apa urusanmu hari ini? Maaf, tapi aku sedang tidak berselera hari ini." Kiba mengatakannya dengan nada kemarahan namun dia malah tertawa. "Waktu yang bagus sekali. Luar biasa! Saat ini aku justru merasa bahagia sampai ingin berlinang air mata karena bisa bertemu kembali denganmu!" katanya dengan nada congkak.
'Cara bicaranya masih congkak. Dia benar benar membuatku marah. Aku membencinya karena dia adalah Pendeta. Saat aku mencoba membuat Pedang Iblis di tanganku, Pedang panjang yang ia bawa mulai memancarkan aura suci! Cahaya itu! Aura itu! Kemilau itu! Tak mungkin kulupakan!' batin Kiba.
"Aku bosan berburu Pendeta jadi sekarang waktu yang bagus. Bagus sekali. Mari pastikan siapa yang lebih kuat diantara Excalibur punyaku dan Pedang Iblismu, oke? Hyahahaha! Aku akan membalas budimu dengan membunuhmu!" kata Freed.
Di kamar Issei,
"Ya. Yuuto adalah korban selamat dari proyek itu." Kata Rias. "Proyek itu diadakan beberapa tahun lalu didalam Gereja Kristen yang ditujukan pada mereka yang mampu menggunakan Pedang Suci Excalibur." Kata Rias sambil menceritakannya.
"Tch, kenapa tempat sesuci itu bisa mengadakan proyek aneh membunuh orang?" kata Matthew. "Tidak bisa ditebak kenapa alasannya." Kata Rias. "Aori, kayaknya kita tidak segila mereka." Kata Raynare. "Memang, tapi kau merusak hati Matthew dan Issei." Kata Aori. "Ini pertama kalinya aku mendengar hal itu." Kata Asia yang tak mengetahui proyek itu. Proyek rahasia semacam itu pasti takkan mencapai telinga gadis yang dipuja sebagai "Holy Maiden".
"Pedang Suci adalah senjata terkuat dalam melawan Iblis. Kalau kita, Iblis, tersentuh oleh Pedang Suci maka tubuh kita akan terbakar. Kalau kita tertebas, maka tubuh kita akan lenyap tanpa jejak. Bisa dikatakan senjata terkuat bagi mereka yang percaya pada Tuhan dan memandang Iblis sebagai musuh." Kata Rias.
'Pedang Suci, hal itu sering sekali muncul di TV dan Video Game, kan? Aku juga Iblis jadi senjata itu pasti akan sangat berbahaya bagiku.' Batin Issei.
'Asal muasal Pedang Iblis datang dari berbagai tempat. Tapi kupikir yang paling terkenal adalah Excalibur. Bahkan di Jepang, muncul dalam banyak buku. Ia adalah senjata suci yang diciptakan dengan teknik sihir dan Alkimia bagi mereka yang mencapai wilayah Tuhan. Namun Pedang Suci memilih pengguna mereka sendiri. Kudengar hanya satu orang tiap seratus tahun yang terpilih.' Batin Issei
"Kiba adalah pemilik Sacred Gear yang bisa menciptakan Pedang Iblis kan? Jadi apakah ada Sacred Gear yang bisa menciptakan Pedang Suci juga?" tanya Issei. "Bukannya tidak ada. Tapi kalau kamu bandingkan dengan Pedang Suci yang sudah ada, hal itu banyak kelemahannya. Tentu saja aku tak mengatakannya lemah. Diantara mereka adalah Sacred Gear yang tergolong dalam "Longinus", seperti "Boosted Gear" milikmu." Kata Rias.
"Namun, pada zaman ini tak ada Pedang Suci yang sebanding dengan Excalibur, Durandal, atau Ama no Murakumo no Tsurugi karena Pedang Pedang Suci ini terlalu tangguh. Sama halnya dengan Pedang Iblis." Kata Rias. "Sepertinya aku punya salah satu dari tiga pedang itu." Kata Matthew. "Sword summon, Kusanagi." Kata Matthew. Lalu, katana berwarna hitam legat muncul dan Matthew memgang pedang itu. "Ini diberikan oleh Susanō-sensei." Kata Matthew.
"Yuuto menerima perlakuan khusus untuk bisa beradaptasi dengan Pedang Suci, khususnya Excalibur." Kata Rias. "Jadi Kiba mampu menggunakan Pedang Suci?" tanya Issei. "Tidak," kata Rias. "Yuuto tak mampu beradaptasi dengan Pedang Suci. Bukan hanya Yuuto, namun nampaknya semua yang menerima perlakuan sama dengan Yuuto tak bisa juga." Kata Rias.
'Bahkan Kiba yang ahli menggunakan pedang dan bisa mengendalikan semua Pedang Iblis itu tak mampu menggunakan Pedang Suci.' Batin Matthew. "Tidak mungkin." Gumam Matthew. "Orang orang Gereja memutuskan memandang orang orang yang tak bisa beradaptasi pada Pedang Suci sebagai 'Produk gagal' dan menyingkirkan mereka." Kata Rias.
"Hampir semua peserta eksperimen dibunuh termasuk Yuuto. Hanya karena mereka tak bisa beradaptasi dengan Pedang Suci." Kata Rias. "Tak mungkin. Itu tindakan terlarang bagi mereka yang percaya pada Tuhan." Kata Asia. Sepertinya hal ini menjadi shock hebat bagi Asia. Matanya menjadi berair. Normal untuk menangis ketika sesuatu yang ia percayai mengkhianatinya. "Mereka, orang orang Gereja, menyebut kita Iblis sebagai eksistensi jahat, namun kupikir niat buruk manusia adalah kejahatan terbesar di dunia ini." Kata Rias
'Buchou mengatakannya dengan tatapan sedih. Buchou adalah Iblis. Namun ia sangat baik hati. Buchou pernah berkata kalau dia memiliki perasaan sama dengan manusia karena sudah lama tinggal di dunia manusia namun aku percaya bukan itu masalahnya. Kupikir sejak awal Buchou adalah wanita yang baik hati. Kalau tidak kamu takkan bisa menjelaskan senyum ramahnya. Ada juga orang orang baik diantara Iblis! Dan itulah kehormatanku sebagai Iblis!' batin Issei.
"Saat aku mereinkarnasi Yuuto sebagai Iblis, pria itu bersumpah untuk membalaskan dendamnya bahkan meski situasinya sedang parah. Karena bakatnya dalam menggunakan Pedang Suci semenjak lahir, aku ingin ia memakai bakat itu sebagai Iblis. Bakat berpedang Yuuto akan sia sia kalau hanya ditujukan untuk Pedang Suci." Kata Rias.
Rias ingin menolong Kiba dengan mengubahnya menjadi Iblis karena ia menjalani hidup menderita karena Pedang Suci. Rias ingin menyuruhnya untuk tak hanya berfokus pada Pedang Suci dan memakai kekuatannya sebagai Iblis. "Pria itu masih belum bisa melupakannya. Pedang Suci. Juga mereka yang terlibat dengan Pedang Suci. Dan orang orang Gereja." Kata Rias.
"Yang jelas aku akan terus mengawasinya sekarang. Saat ini kepalanya penuh perasaan yang ia miliki terhadap Pedang Suci. Kuharap dia kembali ke sedia kala." Kata Rias. "Ah, soal itu, kupikir foto ini yang sudah membuatnya bertingkah seperti itu." Kata Issei. Dia menyerahkan foto itu pada Rias. Kiba bilang kalau pedang dalam foto ini adalah Pedang Suci. Kupikir pasti ada hubungannya.
Matanya berubah tak lama setelah menatap foto."Ise. Apa kenalanmu ada yang berhubungan dengan Gereja?" tanya Rias. "Tidak. Tak ada satupun dalam keluargaku." Kata Issei. "Kecuali saat aku masih kecil, ada anak yang beragama Kristen pernah menjadi tetanggaku." Kata Issei. "Jadi begitu, ada Pedang Suci di dekatmu. Tidak, memang ada Pedang Suci sekitar 10 tahun lalu. Sungguh menakutkan." Kata Rias
"Berarti pedang ini memang Pedang Suci?" tanya Issei. "Ya, salah satu dari Pedang Suci. Memang tak sekuat Pedang Suci yang kusebutkan tadi, namun ini sungguhan. Itu artinya pria ini adalah pengguna Pedang Suci. sekarang aku paham. Aku dengar pendahuluku yang mengurus area ini sebelumnya lenyap, tapi akan masuk akal kalau ini alasannya. Tapi kalau kuingat ingat," kata Issei.
"Sepertinya aku pernah bertemu dengan anak itu." Kata Matthew yang mengambil foto itu. "Namanya Irina Shidou kan?" tanya Matthew. "Ketika aku sedang berjalan-jalan di Inggris ada orang yang memberiku Excalibur Neo. Lalu, anak ini muncul." Kata Matthew. "Hanya saja, dia sudah berusia 17 tahun ketika aku menemuinya." Kata Matthew.
"Dia memiliki Excalibur Mimic, pedang besar itu. Sementara, aku memiliki Neo, Blessing dan Dream." Kata Matthew. "Untuk Blessing sendiri, aku diberi oleh pemilik aslinya karena markas mereka diserang Kokabiel ketika aku sedang berjalan di Eropa Timur." Kata Matthew. "Wow, apa saja yangkau punya selain Excalibur, Tombak Naga, dan Kusanagi, Matthew?" tanya Rias.
"Magic Blade, Dragon Spike, dan keris Nyi Roro Kidul." Kata Matthew. "Bahkan pistol sihir aku juga punya. Karena aku mencuri dari salah satu penyihir." Kata Matthew yang membuka sword void untuk menaruh Kusanagi dan mengambil pistol yang ada di pinggangnya. "Kau memiliki banyak senjata." Kata Issei. "Begitulah," kata Matthew.
Issei menarik nafas panjang setelah meminum segelas air di dapur. Setelah itu Issei menenangkan situasi dengan memilih "Tidur dengan keduanya". Tentu saja meminta Rias mengenakan gaun malamnya hanya untuk hari ini. Kalau sudah begini, bisa bisa Asia akan menirunya. Nampaknya Asia akan menjadi erotis juga karena pengaruh Buchou. Issei memang akan merasa senang namun juga bingung.
'Aku harus melindungi Asia. Gadis yang ingin kamu lindungi menjadi erotis akan jadi hal yang tidak baik! Tapi itu juga hal yang baik Nghhhh.' Itu hal yang otak kerdil milik Issei tak bisa tangani. Di ranjang, Rias dan Asia tengah tertidur dimana Issei tidur diantara mereka.
'Itu situasi yang selalu kuimpikan! Ini sangat menakjubkan! Aku tidur sambil dikelilingi dua gadis, tahu!? Itulah situasi terhebat bagi laki laki! Dan kalau aku berpikir berbuat apa apa pada Buchou yang tidur di sisi kiriku, sepertinya Asia akan marah padaku. Kalau aku berbuat apa apa pada Asia yang tidur di sisi kananku, maka kebaikan hatiku akan mati matian mencegahnya.' Batin Issei. 'Matthew lebih banyak, kalau tidak tiga bisa empat.' Batinnya lagi
'Ini membunuhku! Sial! Mereka tepat di depanku tapi aku tak bisa berbuat apa apa pada mereka! Aku memegang kepalaku dengan kedua tanganku sambil menangis penuh penyesalan. Tentu saja aku tak bisa tidur karena kelewat kegirangan lantaran ada dua Bishojo tidur di sampingku! Aku menahan hasratku untuk meremas payudara dan paha, dan turun ke lantai bawah saat ada kesempatan.
Aku yakin mereka berdua masih tertidur dengan damai. Sial! Aku ingin berhubungan seks dengan mereka! Bukankah ini waktunya aku menjadi populer dengan wanita!? Bukankah aku harus manfaatkan kesempatan ini untuk mencicipi banyak hal!? Mungkin melakukan hal erotis dengan kita bertiga!?
Dalam Harem main bertiga itu normal! Kudengar itu adalah hal dasar! Itu artinya aku tidak cocok memiliki Harem!? Kalau aku memiliki bakat membuat Harem, maka sekarang aku akan membuat Buchou dan Asia merasakan kenikmatan dan menggenggam mereka bersama! Dasar sial! Aku menyadari realita menyakitkan ini!
Aku bahkan tak bisa berbuat apa apa saat tidur dengan dua gadis! Maksudku, sepertinya aku bisa menyerang Buchou tapi aku tak bisa! Dan aku tak tega menodai Asia! Apa karena aku tak berpengalaman yang membuatku berpikir seperti itu!? Apa karena aku masih perjaka!? Absurd! Dalam simulasi yang kuputar dalam kepalaku, jadinya seperti ini.' Batin Issei
visualisasi
"Fufufu, jadi gadis mana yang harus kulayani hari ini?" tanya Issei
"Ise-sama! Tolong pilih aku! Kumohon!" kata Rias
"Apa yang kamu bicarakan!? Aku adalah wanita jalang yang tak bisa hidup tanpa majikanku! Jadi mohon pilih aku!" lanjutkan
"Jangan halangi aku, Onii-sama! Aku tak tahan lagi! Tolong datanglah padaku!" kata Asia
"Hahaha! Hei hei beri aku waktu. Aku hanya punya satu tubuh, tahu? Jadi bergiliran saja! Kita lakukan bergantian. Hahaha, kalian sungguh anak anak kucing yang menyusahkan." Kata Issei
Visualisasi berakhir
Dalam kepala Issei sungguh sempurna, namun kenyataan itu kejam, air mata jatuh di pipinya. Bagaimanapun juga itu semua itu hanya halusinasi yang dia buat dalam kepalanya. 'Aaaaah, kapan aku mendapat pengalaman pertamaku?' batinnya
[Hei Partner, maaf mengganggumu] kata Ddraig
'Aku tak pernah menduga kalau kau akan mengajakku berbicara. Makhluk yang bersemayam di lengan kiriku, Sacred Gear "Boosted Gear", Welsh Dragon Ddraig. Dia mendadak berbicara padaku segera setelah Rating Game melawan keluarga Phenex.
Dan dia meminjamkanku kekuatan, Balance Breaker, yang merupakan kekuatan tertinggi Sacred Gear. Berkat itulah aku mengalahkan Raiser Phenex dan berhasil menggagalkan pertunangan Buchou. Namun waktu itu lengan kiriku berubah menjadi seperti Naga, yakni harga menggunakan kekuatan ini.
Sekarang lenganku kembali normal karena bantuan Buchou dan Akeno-san namun kalau aku tak menerima perawatan untuk melemahkan kekuatan Nagaku maka lenganku akan kembali menjadi lengan Naga.' Batin Issei. Ddraig tak muncul lagi sejak saat itu dan bahkan tak membalas ucapan Issei saat dia mengajak Ddraig bicara.
[Jangan bicara begitu. Kali ini aku takkan kabur lagi. Mari mengobrol sedikit.] kata Ddraig
"Hmph. Datang entah dari mana." Kata Issei
[Hei, jangan bilang begitu.] kata Ddraig
[Nampaknya kepalamu penuh oleh hal hal itu seperti biasanya.] Ddraig mengatakannya sambil mendesah.
"Diam! Aku sudah di usia ini! Dan apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Issei
[Aku tak keberatan mengobrol soal lawan jenis.] kata Ddraig
"Jadi kau mendengarkan?" tanya Issei dengan penasaran.
[Soalnya aku selalu bersamamu, jadi suka atau tidak suka aku tetap bisa mendengarnya] Ddraig menjawab dengan nada kesal.
[Gremory dan budak mereka adalah makhluk dengan rasa perhatian besar diantara kaum Iblis. Majikan dan teman temanmu juga sama. Khususnya rasa cinta yang Rias Gremory miliki padamu sangat dalam. Nampaknya dia memiliki perasaan khusus padamu] kata Ddraig.
"Ya, aku tak begitu paham kenapa dia sangat menyayangiku." Issei menjawabnya sambil tersipu. Itu benar, Rias sangat perhatian padanya. Issei pikir rasa sayangnya pada Issei semakin besar setelah dia mengalahkan Raiser. Bahkan di depan anggota Klub, di depan budak Iblis lain, dia memeluk Issei, terkadang dia bahkan mengecup pipinya. Issei senang namun juga malu sampai tak tahu mesti berbuat apa.
[Kukuku. Kau mungkin di usia yang layak mengalami hal hal semacam itu. Kau harus mengalami hal semacam itu sesegera mungkin. Kau takkan tahu kapan si "Orang putih" akan muncul di hadapanmu.] kata Ddraig
"Hei. Aku ingin menanyakannya sebelumnya tapi apa itu "Orang Putih" yang selalu kau bicarakan?" kata Issei
[Naga Putih. Sang Vanishing Dragon.] kata Ddraig
'Vanishing Dragon? Apa dia berhubungan dengan Ddraig, sang Welsh Dragon? Kalau kuingat ingat Ddraig dijuluki Se-Ki-Ryu-Tei. Berarti si Naga Putih adalah...Ddraig berbicara padaku selagi aku masih memikirkannya.' Batin Issei.
[Kau tahu kalau ada tiga golongan terdiri atas Tuhan dan Malaikat, Malaikat Jatuh, dan Iblis terlibat perang di zaman dahulu kan?] tanya Ddraig.
"Iya." Kata Issei
[Pada waktu itu golongan yang lain memberikan dukungan mereka pada pihak tertentu. Peri, Roh, Monster Eropa, Youkai Asia, dan Manusia. Namun Naga adalah satu satunya makhluk yang tak berpihak dengan satupun dari mereka.] kata Ddraig
"Kenapa begitu?" tanya Issei.
[Hmmm entahlah. Aku tak tahu alasan pastinya. Namun Naga adalah makhluk yang tercipta dari kumpulan energi dan mereka semua bersikap bebas dan seenaknya. Ada juga Naga yang berubah menjadi Iblis atau mereka yang berpihak pada Tuhan. Namun kebanyakan dari mereka sama sekali tak peduli dan hidup dengan bebas.] lanjutnya
[Namun sepanjang Perang Besar diantara tiga golongan, terdapat dua Naga bodoh yang mulai bertarung. Dan mereka berdua adalah kelas Naga tertinggi yang memiliki kekuatan sebanding dengan Tuhan dan Maou. Mereka mulai saling bertarung sambil menjatuhkan pasukan dari tiga golongan. Bagi ketiga golongan, tak ada yang lebih merepotkan selain kedua Naga ini. Ketiga Golongan berperang demi mengambil alih kendali dunia ini, dan kedua Naga mengganggu medan peperangan tanpa peduli sama sekali.] kata Ddraig
"Kenapa mereka berdua harus saling bertarung?" tanya Issei
[Entahlah. Sesuatu yang begitu saja mereka lakukan. Kedua Naga mungkin tak ingat alasan kenapa mereka mulai bertarung. Dan untuk pertamakalinya, para pemimpin dari tiga golongan bersatu padu. "Kita harus singkirkan kedua Naga itu, atau bukan masalah peperangan lagi!" semacam itulah.] kata Ddraig.
[Kedua Naga yang pertarungannya diganggu menjadi marah. [Jangan halangi pertarungan kami!] [Tuhan dan Maou tak berhak ikut campur dalam pertarungan antar Naga!]. Mereka memberi jawaban bodoh. Mereka justru nekat menyerbu Tuhan, Maou, dan pemimpin Malaikat Jatuh. Memang, kurasa merekalah yang salah.] kata Ddraig
[Kemudian kedua Naga dipotong kecil kecil dan Roh mereka disegel kedalam tubuh manusia sebagai Sacred Gear. Kedua Naga yang disegel dalam manusia menggunakan mereka sebagai perantara dan saling bertemu tak terhitung jumlahnya dan bertarung tak terhitung banyaknya. Setiap waktu salah satu dari mereka menang dan satunya mati.] kata Ddraig
[ Kadang salah satu dari mereka sudah mati sebelum yang lain datang dan mereka tak bertarung. Namun kebanyakan waktu mereka bertarung. Kalau perantaranya, manusia, mati maka Naga berhenti berfungsi untuk beberapa waktu. Jadi Roh mereka tetap ada di dunia ini, manusia dengan kekuatan Naga terlahir. Hal itu telah terulang tak terhitung jumlahnya selama waktu yang panjang.] lanjut Ddraig.
"Dan kedua Naga itu adalah kau dan Vanishing Dragon kan?" tanya Issei.
[Tepat sekali. Kali ini kau yang menjadi perantaraku. Dan yang membuatmu menjadi Iblis. Selama waktu yang panjang aku seperti ini, ini hal pertama bagiku. Karena itulah aku cukup penasaran. Apa yang akan terjadi kali ini?] kata Ddraig.
"Dengar Ddraig! Aku ingin dipromosikan sebagai Iblis kelas tinggi dan menjadi Raja Harem! Impianku adalah membentuk pasukan Bishojo dengan membuat banyak cewek cantik menjadi budak Iblis pribadiku!" kata Issei
[Hahaha! Ini juga pertamakalinya aku punya pemilik sepertimu. Kebanyakan pemilikku di masa lalu entah bangga atau takut pada kekuatan kami, dan keduanya sering mengalami hidup penuh kesusahan.] kata Ddraig.
"Hah? Apa aku abnormal? Apa aku aneh?" tanya Issei.
[Kau aneh tapi tidak abnormal. Yang manapun kau adalah Pemilik Naga. Di zaman dan negara manapun, Naga menyimbolkan kekuatan. Kau tahu kalau ada banyak lukisan dan patung Naga meski bentuknya berbeda beda kan? Sepanjang masa manusia mengagumi Naga, menghormati Naga, dan takut pada Naga.] kara Ddraig.
[Naga menarik hati orang orang disekitarnya tanpa mereka sadari. Atau mereka dengan kekuatan besar berkumpul di sekitar Naga. Kalau banyak orang datang mengagumimu atau menantangmu bertarung, mungkin itu disebabkan oleh kekuatan Naga.] lanjutnya.
"Kedengarannya kekuatan yang menyusahkan. Jadi aku akan diincar oleh banyak orang?" tanya Issei.
[Untuk menghadapi lawan kuat yang tertarik pada kekuatan. Itulah jalan bagi mereka yang memiliki Kaisar-Naga.] balas Ddraig
Skipped
Asia dan Issei tengah berjalan pulang ke rumah sepulang sekolah dan menyelesaikan kegiatan klub. Biasanya, Rias ikut bersama mereka tapi hari ini tidak. Sepertinya insiden dengan Akeno-san adalah penyebabnya. "Buchou tidak ikut pulang ke rumah?" tanya Issei.
"Aku akan menyusul kalian nanti. Pulanglah tanpa aku." Jawab Rias. Issei menanyainya di ruang klub, tapi bukan hanya dia tak melihat matanya. Dia bahkan tak menghadap wajahnya. Ada duri dalam ucapannya. 'Hiks, apa Buchou membenciku sekarang? Aku sedih, jadi anjing yang dimarahi oleh majikan mereka merasakan hal ini juga? Terasa begitu kesepian dan sedih.' Batinnya.
"Tenanglah, kawanku. Jangan begitu." Kata Matthew. Aori, Marcelia, dan Raynare masih membicarakan siapa yang tidur diatas Matthew. "Bukankah Buchou-san ikut pulang bersama kita?" tanya Asia. "Hm? Iya, sepertinya aku sudah membuat Buchou marah." Kata Issei. "Apa terjadi sesuatu?" tanya Asia. "Pasti masalah harem." Kata Raynare.
"Sudahlah, kau sudah banyak meninggalkan luka pada Issei." Kata Matthew. "Maaf," kata Raynare. "Tidak, itu salahku. Aku akan minta maaf nanti. Asia, kamu tak perlu mencemaskannya." Kata Issei. "Aku paham. Tapi mungkin aku juga salah. Akhir akhir ini aku sering berbicara balik pada Buchou-san" kata Asia. "Tak apa apa. Kupikir dia tak marah padamu, Asia. Akulah yang salah." Kata Issei.
'Aneh. Belakangan ini Buchou aneh. Apa karena dia punya keinginan memiliki budak untuknya sendiri? Apakah sama dengan orang yang kesal kalau piaraannya dijinakkan oleh orang lain? Biarpun aku sangat disayangi oleh Buchou, aku hanyalah budak baginya.' batin Issei sambil mengalirkan air matanya.
'Hiks kalau aku kerepotan hanya karena satu wanita seperti ini, maka mimpiku menjadi Raja Harem masih sangat jauh! Sial! Inikah alasan aku tak bisa populer dengan wanita!? Perasaan wanita begitu rumit! Aku terus memikirkan itu sampai akhirnya tiba di rumahku. Saat aku mencoba membuka pintu, aku merasakan firasat buruk.' Batin Issei yang air matanya mengenai rambut Asia walau sedikit. "Ise-san ada apa?
'Apa ini? Rasanya ada sinyal dalam tubuhku yang memperingatkan datangnya bahaya. Aku merasakan perasaan yang sama sebelumnya. Kalau kuingat ingat, sama seperti saat aku pertama kali bertemu Asia dan membawanya ke Gereja. Saat aku melihat Gereja, tubuhku gemetaran.' Batin Issei.
Matthew sudah mempersiapkan pedangnya. Raynare dan Aori sudah mempersiapkan tombak bersinarnya. Marcelia mungkin diam saja. 'Asia menggenggam tanganku dengan tangannya yang bergetar. Sepertinya Asia juga merasa tidak nyaman. Berarti ini perasaan yang hanya bisa dideteksi oleh Iblis. Ada seseorang dalam rumahku. Bukan, tak mungkin Ibu!' batin Issei yang langsung masuk ke kamarnya dalam keadaan panik.
'Naluriku merasakan seseorang yang familiar disini. Tetapi, kenapa dia di rumah ini?' batin Matthew. Naluri mereka mengatakan, Ibu Hyoudou tidak ada di dapur. Namun mereka mendengar suara tawa dari ruang tamu. Issei menuju ke sana secepatnya dan melihat dua gadis asing dan Ibu Hyoudou tengah tertawa.
"Dan ini adalah gambar Ise saat masih di SD. Lihat. Ini foto waktu celananya sobek di kolam renang. Dia sangat merepotkan. Dia tetap pergi ke kolam renang biarpun celananya sobek." Kata Ibu Hyoudou. "Ibu?" kata Issei dengan kaget
Ibu melihatku ketika dia sadar aku berada di sini. "Oh Ise. Sudah pulang ternyata. Apa yang terjadi? Wajahmu nampak pucat." Tanya Ibu Hyoudou. "Hauuuu. Syukurlah." Kata Issei. Asia duduk di lantai seolah merasa lega. Setelah mendapati kalau Ibu Hyoudou masih aman Issei menghela nafas kelegaan dan menenangkan diri.
Namun, Issei tak bisa menyingkirkan perasaan tak nyaman ini. Tentu saja, karena ada dua wanita asing. Mereka berdua orang luar negeri dengan Salib menggantung di dada mereka. Mereka berdua nampak seumuran mereka. Seorang memiliki rambut oranye dan yang lain berambut biru dengan jumbai hijau dan mata menyeramkan.
"Halo, Hyodou Issei-kun. Hah, Matthew-kun juga ada disini?!" Kata salah satu dari mereka.
