Disclaimer : Hiro Fujiwara©

Kaichou wa Maid Sama FanFiction

Warning : OOC, sad ending, AR, AT

ENJOY!

CHAPTER 6

[FLASHBACK]

USUI terus mengejar mobil hitam yang ditumpangi oleh Igarashi Tora, Maki Kanade, dan Misaki. Ia telah mendengar semuanya dari Hinata melalui wireless. Setelah rombongan Sakura berhasil mencegat mobil silver (mobil kedua) penculik, Usui pun dengan leluasa mengejar Tora. Ia pun berhasil mendekati mobil tersebut. Di kursi belakang, terdapat Misaki dan di kursi depan, ada Tora serta Maki, sang supir.

Menurut rencana seharusnya Usui menembak ban mobil tersebut dan membuat mobil terperosok atau menabrak rumah-rumah kosong di pinggir jalan. Namun Usui tak ingin membuat Misaki terluka, maka cowok itupun menaikan kecepatan motornya dan mendahului Tora. Sekitar 500 meter didepan mobil, Usui segera berhenti dan mengarahkan senapannya kedepan. Melalui bidikan di senapan, Usui dapat melihat Maki yang menyetir di depan. Jarinya sudah siap menekan pelatuk.

Tora yang melihat Usui dikejauhan, segera berseru ke Maki. "Maki! Tambah kecepatan, dan tabrak orang sok jagoan itu!"

"Anda serius?" tanya Maki ragu.

"Apa kau ingin kepalamu ditembak olehnya?" ujar Tora. "Tabrak saja!"

"Baiklah" sahut Maki seraya menginjak pedal gas mobil itu. Seketika mobil pun melaju dengan kencang. Spidometer menunjukan angka 120 km/jam.

Usui yang tak menyangka mobil hitam itu semakin cepat, segera melancarkan tembakan kearah Maki. Laki-laki itupun tewas dengan kepala berlubang. Mobil pun kehilangan kendali. Naas, saat Usui ingin menyingkir, mobil itu pun menabraknya dengan keras. Kepalanya terbentur kaca depan mobil, hingga kaca tersebut retak dan berbekas darah.

Mobil baru berhenti saat menabrak teras sebuah rumah kosong. Usui hanya bisa terkapar di tengah jalan yang panas. Dahi, mulut, hidung, dan telinganya mengeluarkan darah, bahkan tangannya pun penuh goresan. Pandangannya perlahan-lahan kabur. Di kejauhan, ia bisa mendengar seseorang memanggil-manggil namanya.

"Takumi!" seru Hinata. Di belakangnya ada Sakura serta rombongan pekerja.

"Usui!" seru Sakura ketika ia berlutut disamping Usui. "Kenapa bisa begini?"

"Nona….mana..dia?" ucap Usui terbata-bata.

"Hei! Kalian!" seru Kanou tiba-tiba. Semua orang langsung menengok kearah samping dan menemukan Tora sedang berusaha kabur dengan membawa Misaki.

DOR!

Sebuah peluru yang berasal dari senapan Hinata, sukses menembus kepala Tora, membuat laki-laki itu jatuh ke tanah. Misaki segera melepaskan diri, dibantu oleh Sakura yang langsung berlari kesana. Misaki yang sudah bebas, langsung berlari kearah Usui.

"Usui! Kau tidak apa-apa?!" ucap Misaki panik. "Kita ke rumah sekarang!"

"Ayuzawa…sudahlah….tidak..usah.." ujar Usui lirih.

"Usui! Jangan main-main!" seru Misaki marah. Air matanya mendesak keluar. "Kau ingin mati disini?!"

"Maaf…Ayuzawa…." ucap Usui. Ia memegang tangan Misaki membuat gadis itu kembali berlutut. Tanpa bisa dicegah, air matanya pun mengalir keluar dengan deras.

Sakura pun juga ikut menangis dipelukan Hinata. Cowok itu mendekap Sakura dengan erat. Sedangkan para pekerja lain hanya bisa tertunduk sedih tanpa bisa melakukan apapun

"Ayuzawa…aku..bersyukur kita..dapat..mengenal satu..sama lain..tadinya..aku tak..pernah berharap..akan..seperti..ini jadinya.." ujar Usui sambil tersenyum dengan suara serak. Pandangannya semakin kabur. "Ojou-sama…daisuki….aku..menyukaimu..Ayu..zawa…"

Tangan Usui yang menggenggam tangan Misaki langsung terkulai. Mata cowok itupun sudah tertutup. Usui..meninggal…

"Tidak! Usui!"

[FLASHBACK END]

Semuanya kembali seperti sedia kala sejak kejadian itu. Para maid dan pekerja tambang kembali melakukan pekerjaan mereka masing-masing. Hanya satu orang yang tidak, yaitu Misaki. Tidak seperti biasanya, sekarang Misaki menutup dan mengunci jendela balkon kamarnya. Ketika Sakura bertanya padanya, Misaki hanya menjawab kalau ia ingin melupakan semua pertemuannya dengan Usui.

"Agak sepi ya" ucap Hinata suatu sore ketika ia selesai bertugas. Seperti biasa, ia dan Sakura pulang bersama. "Sekarang kita tak bisa melihat wajah nona lagi"

"Yah..biarkan nona menenangkan diri dulu. Nanti dia juga kembali seperti sedia kala" jawab Sakura.

"Omong-omong kudengar kemarin saat Tuan Sakuya dan Nyonya Minako pulang, terjadi keributan ya?" tanya Hinata.

"Iya, kemarin Shizuko kelepasan bicara soal insiden itu. Tuan dan nyonya marah besar dan nyaris memecat kami semua. Beruntung, nona Misaki dapat meredakan amarah kedua orangtuanya itu, jadi kami tidak jadi dipecat" jelas Sakura.

"Haah..baguslah kalau begitu" ucap Hinata seraya menghela napas panjang. "Lalu katanya besok itu pemakaman Takumi?"

"Yap. Tuan yang mendengar Usui jadi penyelamat anaknya, segera memesan peti mati dari tukang kayu di ujung distrik. Ia bilang, seorang pahlawan tentu harus dikuburkan dengan terhormat"

"Fuh..aku akan rindu orang itu" ujar Hinata sambil menatap langit sore. "Meskipun menyebalkan, ia adalah orang yang baik"

"Aku juga…"

Pemakaman Usui diselimuti mendung dan hujan, padahal sejak perang, wilayah itu nyaris tak pernah dilewati hujan. Banyak yang bilang, langit pun ikut bersedih atas kematian laki-laki itu.

"Eh..nona tidak datang ya?" tanya Hinata disela bunyi hujan.

"Iya, katanya ia tidak mau datang" jawab Sakura. "Mungkin ia masih berduka. Biarkan saja dulu"

Setelah upacara selesai, satu persatu orang mulai pergi, namun tiba-tiba Sakuya berkata "Pekerja dan maid!" membuat semua orang menoleh. "Terima kasih atas kerja keras kalian selama ini, 2 hari lagi, saya dan keluarga saya akan pindah ke Inggris untuk memulai hidup baru. Semua maid diharapkan ikut dengan kami, sedangkan pekerja, mohon maaf, karena saya terpaksa memberhentikan kalian semua, dan menutup tambang ini. Sekian."

Tambang terlihat sepi di pagi ini. Semua pekerja tambang memutuskan untuk meninggalkan Distrik Seika dan pergi ke distrik baru yang dibangun pemerintah belakangan ini, kecuali Hinata.

"Hinata, kenapa kamu tidak ikut pekerja yang lain?" tanya Sakura suatu hari. Gadis itu memutuskan untuk tidak ikut ke Inggris, karena ia tidak suka dikekang untuk menjadi maid lagi. Malahan sekarang ia bekerja di café Satsuki. Meskipun distrik telah ditinggalkan, nyatanya banyak orang dari distrik baru yang mengunjungi café itu.

"Kata pemerintah, beberapa hari kedepan, distrik ini juga akan dibangun ulang kan? Lagipula, café tempatmu bekerja, juga lumayan ramai kan" jawab HInata.

"Iya. Aku berharap nona baik-baik saja disana" ujar Sakura murung. Ya, ketika hari kepergian keluarga Ayuzawa, entah kenapa sifat Misaki berubah drastis, yang tadinya lembut, sekarang kasar. Bahkan tatapannya pun menajam dari biasanya, sehingga mengeluarkan aura menakutkan. Menurut ibunya, gadis itu masih depresi. Namun sepertinya keadaan tak pernah membaik.

Kabar terakhir yang Sakura dengar, sekitar 2 bulan yang lalu, Misaki dijebloskan ke rumah sakit jiwa, karena ia kerap kali ingin bunuh diri. Malahan ia juga sering mengigau kalau ia melihat Usui. Ayah dan ibunya sudah mengupayakan yang terbaik, namun gadis itu tak kunjung sembuh. Akhirnya, tepat sebulan kematian Usui, Misaki juga menghembuskan nafas terakhirnya di kamar RSJ, karena kerusakan otak, akibat sering membenturkan kepalanya, jika teringat Usui..

Mendengar kabar itu, Sakura hanya bisa menangis tanpa bisa berbuat apapun. Namun sekarang, ia justru tinggal di rumah besar bekas milik keluarga Ayuzawa. Seumur hidupnya, ia takkan pernah melupakan tragedy yang menimpa temannya serta sang nona yang sekarang sudah bebas dari sangkar yang mengurungnya..selamanya…

THE END

Last Words~~~~~~

Huff akhirnya fanfiction ini selesai juga dengan 6 chapter ^o^ gomen kalo ada salah kata dan endingnya juga gak menarik. soalnya saya gak terlalu jago bikin sad ending -_-a Arigatou gozaimasu, buat yang udah review dan baca ff ini~ saya akan berusaha lebih baik lagi buat bikin fanfiction yang lain. Sekali lagi terima kasih, dan see you next time (^o^)/

-athenathnia-