Previous Chapter :
"Naru, dia juga anakku."
DEG!
Tubuhku membeku seketika di tempat.
"Biarkan aku ikut bertanggung jawab..."
Dadaku terasa bergemuruh, apalagi merasakan tangan Gaara semakin erat memelukku.
Tidak ada yang bisa dilakukan selain terdiam saat Gaara memutar tubuhku, membuat pandangan kami saling berhadapan. Dan yang lebih mengagetkan, ia sudah menyematkan cincin di jari manisku.
"A-Apa...?" Aku seakan mencari jawaban dari mata Gaara yang sedang menatapku dengan serius, tanpa keraguan apapun dan memang sangat yakin atas keputusannya.
"Menikahlah denganku."
.
.
Normal POV
"Uzumaki Naru, bersediakah kau menerima Sabaku Gaara sebagai pendamping hidupmu—dalam suka dan duka, sakit maupun sehat, miskin dan kaya, hingga kematian memisahkan kalian...?"
Naru menelan ludah sebelum akhirnya lirihan itu keluar dari bibirnya. "Aku... bersedia."
Karena ia sudah tau... ini adalah pilihan yang salah.
"Sekarang kalian boleh mencium pasangan kalian masing-masing."
Setelah kalimat itu terdengar oleh semua tamu pesta penikahan mereka, pria di sampingnya bergerak mendekat. Naru pun berputar 90 derajat ke samping, membuat posisi mereka saling berhadapan. Tapi tatapannya masih tidak sudi menatap iris hijau di depan. Ia hanya memandang benda di jari manisnya yang merupakan kembaran dari cincin yang saat ini digunakan Gaara.
Dilihatnya terus cincin tersebut sampai bibir tipisnya tersentuh oleh kepunyaan Gaara. Mau tidak mau ia menatap suaminya. Naru sempat terdiam sebentar, tapi lama kelamaan ia memejamkan mata—merasakan sebuah kehangatan jika pria itu menekan dan mengecupnya secara hati-hati.
Ciuman terlembut yang pertama kali didapatkannya dari Gaara.
Dan mungkin terakhir.
.
.
.
MISTAKES
Sanpacchi's Fanfiction 2011
Naruto is Masashi Kishimoto's | GaaFemNaru | Fanfiction-net
Genre : Angst, Drama, Tragedy, Romance. | Warning : AU, OOC, Typos, Gender Bender, Mature Themes, etc. | Jika ada kesamaan ide harap dimaklumi.
[Di sini Gaara ngga punya lingkar mata dan Naru kulitnya jadi putih—bukan tan]
- Naru (16 th) Gaara (21 th)-
MATURE CONTENT—YOU HAVE BEEN WARNED!
.
.
Mistakes no VI. Gugurkan
.
.
Naru's POV
Ini sudah pukul sepuluh malam dan acara pernikahanku dengan Gaara sudah selesai dari beberapa jam yang lalu. Kini, di sinilah aku berada.
Disertai latar suara tetesan shower yang dipakai Gaara di kamar mandi, aku sibuk sendiri merogohkan telapak tanganku ke satu per satu laci di samping ranjang kamar. Mataku fokus dan degup jantungku berdetak cepat—karena aku sedang terpacu oleh waktu, yaitu menemukan kunci untuk membuka pintu kamar ini sebelum Gaara selesai di kamar mandi. Harus.
Bermenit-menit sudah kubuang percuma hanya untuk mencari sebuah kunci yang tidak pasti berada di laci, sampai akhirnya aku menyerah. Kulempar semua anak laci itu ke lantai seperti sedang mengamuk—menambah beberapa benda yang sudah tergeletak di sana.
Aku meremas rambutku, frustasi. Seharusnya tadi aku tidak mengikutinya ke dalam kamar terkutuk ini kalau tau Gaara akan mengunci pintu dari dalam. Sambil menghela nafas agar dapat menenangkan diri, kuelap butiran keringat yang menempel di dahi dan leherku.
Aku hanya bisa berdiri terdiam di samping ranjang. Setelah mataku memberhentikan gerakan rusuh mencari kunci, secara mendadak pandanganku terpaku di sebuah cincin pernikahan yang masih kupakai. Aku dan Gaara.
Ya, setelah berpikir keras selama dua bulan, aku memang memutuskan untuk menerima lamarannya—tentu saja kulakukan ini untuk memberikan seorang ayah kepada calon anakku.
Tapi jangan pernah berpikir kalau aku tidak menyesali pernikahan ini...
Seandainya sifat Gaara tidak berubah—tetap dengan sifat yang pertama kali ia tunjukkan padaku; baik dan dewasa—mungkin aku tidak akan sesedih ini. Tapi kukatakan 'seandainya' karena inilah kehidupan nyata yang kudapat.
Menikah dengan orang asing yang memerkosaku.
Dan jika Gaara keluar dari kegiatan bersih-bersihnya, mungkin seperti apa yang dipikirkan orang-orang, kami akan melakukan malam pertama. Namun kenyataannya ini bukan malam pertama, tentu saja karena sebelumnya kami sudah pernah 'melakukan' hal itu. Tapi aku tidak mau kejadian kemarin terulang untuk yang keduakalinya—setidaknya tunggulah sampai traumaku hilang.
Ya, aku trauma—malah sangat trauma. Tapi untuk saat ini aku lebih takut... keguguran.
Mendengar suara tetesan air shower yang berhenti, aku semakin menunduk dan mengeratkan cengkramanku di gaun tidur yang kupakai.
Aku cemas... rasanya ada sesuatu hal yang membuat perasaanku tidak enak.
Apa jangan-jangan perasaan ini karena Gaara?
Lalu saat Gaara keluar dari kamar mandi, kuberanikan diri untuk melihatnya. Ia hanya menggunakan celana panjang berwarna hitam dan sebuah handuk kecil—yang masih dipakai untuk mengeringkan rambut merahnya.
Tapi ketika ia mulai berjalan ke arahku, cepat-cepat kudempetkan tubuhku ke tembok dan kualihkan pandangan menjadi ke lantai—seakan dia adalah virus yang tidak boleh dilihat maupun didekati. Setelah jarak kami hanya tersisa tiga meteran, ia berhenti melangkah. Wajahnya menghadapku, namun aku yakin ia sedang mencermati keadaan kamarnya yang sudah setengah berantakan.
"Mencari ini?"
Dengan ragu aku mengadahkan wajah lalu terbelalak melihat benda yang dari tadi kucari ternyata ada di genggamannya.
Itu kunci kamar!
Aku langsung berlari ke arahnya agar bisa mengambil kunci itu, tapi ia malah mengangkat tangannya saat jemariku sudah hampir mengenai permukaan kunci—membuat wajah dan tanganku bertabrakkan dengan dada polosnya yang masih lembab. Aku meringis sambil kembali membuat jarak, tentu saja agar dia tidak bisa macam-macam.
"Kalau kau mau mendapatkan kunci ini, syaratnya mudah saja..." Jelasnya pelan dan menaruh kunci itu ke dalam saku celana. Lalu ia berjalan sebentar ke lemari pakaian untuk menaruh handuk dan mengambil sesuatu yang tampak asing di mataku.
Kulihat dengan hati-hati Gaara yang kembali mendekat. "Minum obat ini."
Aku menggeser pandangan ke tangannya yang sudah menyodorkan sesuatu. Tapi saat kulihat nama dan fungsi utama sebuah tempat obat yang ditawarkannya, mataku sontak membulat.
"A-Apa?"
"Ya, gugurkan kandunganmu."
Lagi-lagi firasatku benar.
"APA KAU GILA?" Kubuang seluruh ketakutan yang sempat terselip di hatiku—aku sudah terlanjur terkejut atas apa yang baru saja kudengar. "Kalau kau menyuruhku untuk menggugurkannya, buat apa kau menikahiku!?"
Gaara menajamkan pandangannya, menantang mataku yang menatapnya penuh kebencian. "Menikahimu memang bukan ideku." Pengakuannya membuat nafasku tercekat. "Aku hanya bermimpi tentang seseorang yang kusukai, dan aku disuruh untuk olehnya untuk menolongmu dengan pernikahan ini."
Aku menggeleng tidak terima—terus berusaha agar tidak menjatuhkan setitik pun air mata. "Lalu apa maksud kalian 'menolongku' sama dengan membunuh janin ini!? Kalian berdua sama-sama binatang!?"
PLAK!
Sesudah suara itu, kubuka mataku secara perlahan, dan tanpa kuminta bertetes-tetes air mata sudah mengalir di pipiku. Rasa perih mulai menjalar ke kulitku yang memerah—mengingat seberapa kuat tamparan Gaara sampai aku terlempar ke kasur yang kebetulan tepat di samping aku berdiri.
"Jaga bicaramu, dasar jalang!" Ia menjambak rambut pirang panjangku, memaksaku menatap matanya yang memancarkan amarah. "Dia sudah baik menyuruhku untuk menikahimu!"
Beberapa isakan lolos dari bibirku, menemani pandanganku yang mulai memburam. Akhirnya aku sadar di mana letak kesalahanku dan juga hasil dari firasat buruk yang terus kujumpai setiap kali aku percaya dengannya.
"Gugurkan!"
Kulawan tarikan menyakitkannya dengan kedua tanganku. "Ukh, ti-tidak!"
"Sepertinya kau memaksaku untuk melakukan kekerasan, ya?"
"Aku tidak mau—!" Kalimat itu terputus bersamaan dengan punggungku yang kali ini menyentuh kasur—mengikuti arah tarikan Gaara di rambutku. Aku sempat menjerit kesakitan ketika Gaara menduduki perutku dengan kasar.
Kubuka mataku dan melihat Gaara yang tengah membuka tempat pil—yang di awal ia menyuruhku untuk meminumnya. Aku ingin mendorongnya agar ia tidak lagi di atasku, tapi masalahnya Gaara sudah menyodokkan puluhan butir pil obat—yang dapat mengugurkan kandungan—ke dalam mulutku sehingga aku tidak bisa berkutik.
Ia langsung membekap mulutku, mencegah agar aku tidak muntah dan dapat menelannya. Mataku semakin mengeluarkan air mata merasakan pil yang berjumlah banyak itu berkali-kali ditekan Gaara sehingga menyentuh kerongkonganku.
"Telan!" Bentakan itu menyertai tamparannya di wajahku. Untungnya, karena tamparan Gaara aku juga dapat memuntahkan semua butiran pil berukuran besar dari mulut—bersama air liur yang juga sempat tertampung. Sekilas aku sempat melihat mata mengerikannya—seakan menunggu sesuatu agar ia dapat melanjutkan hal-hal buruk padaku.
Aku takut...
Tanpa aba-aba, kutarik paksa tubuhku agar dapat turun dari ranjang—berniat menjauhinya. Namun sebelum aku melebarkan jarak, ia sudah keburu mencengkram tanganku lalu menariknya dengan tenaga penuh—sehingga mudah baginya untuk membantingku ke lantai.
Sambil menahan rintihan, aku masih mencoba membenarkan posisi menjadi terduduk. Tapi saat aku mengadahkan wajah, Gaara sudah berdiri tegak di sampingku, dan ia memberikan sebuah seringaian yang dapat meremangkan bulu roma.
DUKH!
Wajahku langsung mengeras merasakan betapa sakitnya tendangan Gaara yang menghantam pinggangku—apalagi tendangan itu membuatku terseret sebanyak tiga langkah darinya. Rasa sesak dan perih yang tercampur terus membuatku tergeletak lemah di lantai sambil memegangi perut.
Aku kembali menangis.
Aku salah menerima Gaara...
Dan juga aku salah tersentuh dengan kalimatnya yang semula ingin bertanggungjawab.
Semuanya hanyalah sebuah kebohongan.
.
.
: mistakes | sanpacchi :
.
.
Normal POV
Disertai lirihan yang memenuhi ruangan itu, Naru berusaha bangun agar bisa merangkak menjauhinya. Yang penting ia harus menjauh dari Gaara jika ia tidak ingin janin yang dikandungnya meninggal. Padahal itulah alasan satu-satunya kenapa ia mau menerima lamaran dari Gaara.
"Sepertinya kau sangat membutuhkan ini ya?"
Trek.
Terdengar suara besi yang menjatuhi lantai kamar. Dengan susah payah Naru membuka matanya. Sesudah melihat benda yang ternyata adalah kunci kamar, Naru terkesiap. Tanpa peduli apapun lagi, ia langsung tertatih menuju kunci yang letak jatuhnya tepat di samping kaki Gaara.
Saat kunci sudah berada di genggamannya, Naru terbelalak—ia dapat merasakan secara jelas kaki Gaara yang tiba-tiba menginjak punggungnya dengan kekuatan besar.
DUKH!
"Aanngghh!"
Naru kembali menjerit ketika ia merasakan punggungnya diinjak oleh Gaara sehingga perutnya langsung menabrak lantai. Dengan rasa sakit yang terasa, ia langsung memiringkan tubuh agar bahunya lah yang menahan beban.
Naru menangis kesakitan sambil memegangi perutnya yang tidak kosong, sedangkan Gaara hanya tertawa—entahlah dia tak sadar atau memang sengaja menginjak anak dan juga istrinya.
"Seharusnya kau menuruti permintaanku." Lirihnya sembari menatap Naru dengan pandangan datarnya, lalu ia tersenyum palsu. "Aku kasihan melihatmu menangis kesakitan seperti ini..."
Berlawanan dengan kalimatnya, Gaara malah menarik rambut pirang Naru, memaksanya—yang sudah dipenuhi oleh keringat dingin—agar berdiri. Lalu didorongnya punggung Naru ke sudut ruangan sehingga ia bisa mendempetnya.
Mata Gaara menjelajahi wajah cantik Naru yang sedang menangis tersedu-sedu, tubuh mungil itu gemetar menahan rasa takut dan sakit—tentu saja karena perutnya. Seakan terhipnotis, Gaara semakin mendekat sampai ia menyentuhkan hidungnya ke pipi Naru untuk mengecupnya perlahan.
Tangan kirinya menangkup wajah Naru dan mengelus sisi pipi yang lain dengan ibu jarinya. "Kau cantik bila menangis seperti ini..." Kalimat itu terucap sewaktu permukaan bibirnya menyentuh bibir Naru yang masih mengeluarkan isakan kecil. Tapi sebelum Gaara berhasil melumat bibir merah muda itu, kedua tangan Naru mendorong dadanya—malah nyaris seperti seperti memukul.
Tidak mau melewatkan kesempatan, Naru langsung berlari menjauhi Gaara dan ingin meraih pintu—karena ia sudah mendapatkan kunci pintu yang dibutuhkan. Tapi rambut terurai Naru yang panjang membuat Gaara semakin mudah menangkapnya. Dengan sekali sentakan tepat di helaian rambut itu, Gaara dapat membuat Naru kembali hadir di dekapannya.
Kali ini dempetannya semakin terasa kasar. Seakan kebutuhan primer, Gaara membenturkan bibirnya ke bibir Naru dan terus menciumnya dengan liar—tidak tau kalau tindakan itu membuat bibir bawah Naru berdarah karenanya. Naru juga tidak mau pasrah, ia terus berusaha menjauh dari Gaara, tapi suaminya itu sudah memberikan tenaga lebih sehingga dapat megatasi dengan mudah.
"Uummn, ahh..." Sewaktu Naru menunduk untuk menghirup nafas, Gaara juga terus mengikuti gerakannya. Bahkan Gaara sampai mendorong lidahnya—untuk memperdalam ciuman—dengan menghimpit kepala Naru ke tembok.
Naru memejamkan mata saat rasa sesak kembali menghampirinya—ciuman itu benar-benar menyiksanya dengan begitu perlahan. Sampai akhirnya ia merasakan ada telapak tangan besar Gaara memasuki gaun tidurnya. Rasa geli mulai terasa saat tangan itu menelusuri paha, bokong, dan pinggulnya. Setibanya di perut Naru yang belum terlalu besar, rabaannya berhenti. Gaara mengelusnya perlahan—membuat Naru yang masih menangis menjadi merinding. Gerakan lembut itu bergerak, tapi mendadak Gaara menekannya begitu keras.
"UMMFFH!"
Dorongan yang diterimanya sontak mengundang jeritan Naru—walaupun berhasil diredamkan Gaara di dalam ciuman mereka. Gaara terus menekan seperti berniat akan mengeluarkan isinya langsung melalui cara itu. Tangannya terus berkerja, cuek dengan air mata Naru yang mengalir juga sudah membasahi wajahnya.
Tanpa disadari Naru, tangan Gaara yang sempat menganggur malah sudah berhasil meraih resleting gaun tidurnya—dan Naru baru sadar setelah ia merasakan punggung polosnya saling bergesekkan dengan tembok. Tidak ingin gaunnya berhasil dilepaskan Gaara, Naru yang sudah mengumpulkan keberanian kembali mendorongnya, kali ini membuat punggung pria berambut merah itu sampai terpisah sekitar satu meteran darinya.
Sekali lagi Naru mencoba berlari, tapi lagi-lagi Gaara sudah menahan kain gaunnya sehingga pakaiannya merosot—memperlihatkan dada berserta perut ratanya yang polos—walaupun belum sepenuhnya terlepas.
Melihat hal itu mata Gaara seakan berkilat, apalagi ditambah sebuah seringaian liar yang terpajang di wajahnya. Dengan berlari ditabraknya Naru dari belakang sehingga mereka berdua terjatuh dengan posisi yang sekali lagi menjadikan perut Naru sebagai alasnya.
"AAAHH! Sakiiit!" Tangisan berserta jeritan lagi-lagi terlepas. Naru ingin memutar tubuhnya, tidak ingin anaknya tersiksa dengan posisi seperti ini, tapi yang ia dapatkan malah beban tubuh Gaara dan sebuah jilatan rakus di tengkuk dan punggungnya.
Setelah puas mengecap, Gaara mengangkat dirinya sendiri—seakan memberikan kesempatan agar Naru bisa berbalik. Dan tanpa pikir panjang, Naru segera berbalik untuk menyelamatkan anaknya—dan secara tidak langsung memberikan kesempatan kepada Gaara untuk menahan kedua tangannya di atas kepala, lalu menyerang secara beringas kedua benda lembut di dada Naru.
"Unghh... hhahh...! Annhh!" Dengan nafas tersengal-sengal Naru memejamkan matanya yang basah. Ia terus saja mendengar suara detak jantungnya yang menggema karena terus diberikan sensasi panas oleh permainan Gaara.
Keringat sudah membasahi permukaan wajah berserta kulitnya yang selalu bergerak untuk melepaskan diri. Kedua tangannya yang ditahan Gaara terkepal erat saat ia melantunkan desahan sekaligus rintihan ketika tubuhnya menegang.
Takut, sakit, pasrah dan menyesal.
Ia hanya ingin melindungi calon anaknya.
Hanya itu.
Sekilas ia merasakan Gaara yang sedang melucuti seluruh pakaiannya sampai tak tersisa satu helai benang pun di tubuhnya. Lalu tiba-tiba saja Naru merasa seperti melayang, setelah ia berusaha mengintip dari balik bulu matanya, ternyata ia sedang berada digendongan Gaara. Dengan santainya ia melemparkan Naru yang sudah tak bertenaga di permukaan sofa, membuat kepala Naru terasa berkunang-kunang.
Gaara tersenyum melihat wajah Naru yang memerah dan tampak lemas—padahal ia bahkan belum membuka celananya. Sampai rintih ketakutan kembali terdengar sewaktu Gaara mengangkangkan kedua lututnya, terlihatlah dengan jelas cairan alami yang sudah membasahi kewanitaan dan juga sekujur pahanya.
Saat Gaara menyentuhkan lidahnya untuk merasakan cairan itu, Naru tersentak. Dengan sisa tenaga ia berusaha mengenyahkan tangan dan lidah Gaara yang terus menjelajahi kewanitaannya tanpa izin. Tapi Gaara tidak memperdulikan perlawanannya, tenaga Naru yang sekarang sangat jauh dari kata kuat. Apalagi dengan jilatan panjang dari Gaara yang bergerak sampai ke perutnya—membuat gerakan Naru kaku seketika karena menahan leguhannya.
Merasakan perut Naru yang tampak seperti menahan nafas saat terlewati oleh lidah lunaknya, Gaara kembali menjilatnya secara pelan sampai sebuah desahan terdengar dari bibir Naru. Ia terus-terusan menahan nafas, perutnya terasa geli dan menikmati—tentu saja tidak berkompromi dengan dirinya yang benar-benar tersiksa.
Sensasi itu berhenti, bersamaan dengan tawa yang keluar dari Gaara yang kini tengah memperhatikan wajah Naru. Lalu ia mencium sekilas bibir yang adalah asal muasal suara itu. "Kau indah, Naru..."
Kalimat itu langsung disusul Gaara dengan memutarkan badan Naru—sehingga perut dan wajahnya kembali menjadi tumpuan di sofa. Melihat Naru yang sedikit demi sedikit ingin membenarkan posisinya, Gaara langsung menarik bokong Naru untuk menunggingkannya. Melihat pemandangan indah di hadapannya, Gaara mengecupnya pelan lalu meremasnya.
"Ahhh!" suara itu terdengar saat merasakan sebuah lidah Gaara menjilati lubang duburnya yang terbuka lebar. Tubuhnya merinding jika ia menahan desahan, bahkan ia sampai memaksa sikunya yang bergetar menjadi tumpuan beban tubuhnya agar ia dapat sedikit bangkit dari posisi ini.
Tapi Gaara malah mendorongnya, membuat wajah Naru kembali menghantam bantal sofa. Sampai akhirnya ia sendiri merasakan jemari Gaara menusuk kewanitaannya sampai bertetes-tetes cairan keluar dengan cepat. "Mmhh... ahh, ungh!"
Naru semakin khawatir saat bibir Gaara kembali terasa di pinggulnya, menelusurinya dengan kecupan basah dan kembali lagi ke bokong kecupan yang terakhir hanya sekali, karena sisanya telah diberikan ke bagian yang lain.
Walaupun Naru sudah tau, dia tetap membeku merasakan sesuatu yang tumpul dan tegak menyentuh belahan bokongnya. Ia terkesiap—tidak terpikir di benaknya kalau Gaara akan memasuki daerah itu. Naru meremas bantal sofa yang ada di bawahnya—tidak ingin kembali merasakan kesakitkan untuk yang kedua kalinya.
Namun Gaara malah mengatasinya dengan menyeringai, dipegangnya kedua pinggul Naru agar tetap diam. Pinggul Naru memang diam karena dipaksanya, tapi wajah Naru yang menoleh ke belakang langsung pucat pasi—melihat Gaara yang akan berbuat sesuatu padanya. Naru semakin membenamkan wajahnya saat ia merasakan Gaara sudah memasukan sedikit dari bendanya ke lubang itu.
"Periih! Ga-Gaara! Jangan!"
Gaara semakin memajukan tubuhnya, kali ini sempat membuat Naru secara otomatis berteriak—sekaligus tanpa sadar menggoyangkan pinggulnya dengan gerakan memutar agar dapat terlepas—tapi itulah yang membuat Gaara semakin bergairah.
"Jangan... ahh, ahhn—AAHHHHHH!" Melalui sekali gerakan, Garaa langsung memasukinya dengan telak, membuat Naru berhenti bergerak. "SAKIIIIIIIIT!" Teriakan Naru pecah berserta cucuran air matanya yang sudah menetesi sofa.
Naru ingin mendorong Gaara sehingga ia dapat terlepas dari kesakitan ini. Tapi sayangnya sakit yang terasa terlanjur menyetrum tulang punggung—terus melumpuhkan semua perlawanannya.
Sedangkan Gaara masih tenang di posisinya, walaupun sudah jelas wajahnya ia juga tengah menahan sesuatu. Setelah sedikit nyaman ia memulai hentakan pertama, semakin membenamkan kepunyaannya sampai benar-benar telak memasuki Naru. Gaara meringis, saking sempitnya dubur Naru ia sampai merasakan sakit—memang benar apa kata orang, lubang kedua para wanita yang ini memang membuat sensasi yang berbeda. Ya, tapi selama pengalamannya hal itu khusus buat Naru seorang.
Gaara memejamkan mata, lalu menghembuskannya perlahan. Ia kembali menyentakan kepunyaannya, membuat sengatan listrik dirasakan Naru, terus bersamaan dengan sentakan lainnya yang menyusul.
"Ahhnn... Gaaraa! Uungghh ahnn...! Uhh mmggh—nghh..."
Naru menangis merasakan sakit yang lebih parah dibandingkan yang sebelumnya. Bahkan saking sakitnya, ia sampai bergetar saat mengerang. Ia merintih, bokongnya terasa panas karena gesekan itu.
"Hhh... kasihani aku—UAAAHH!"
Tanpa aba-aba Gaara kembali mempercepat gerakannya, kali ini ia menggunakan tempo yang sama sewaktu pertama kali menyetubuhi Naru—cepat dan bertenaga. Apalagi dengan jemari tangan kirinya yang sudah kembali bergerak di dalam lorong kewanitaannya, jeritan Naru semakin menjadi. "AAHHH AHHH UHH—AAHH AANHH!"
"Ya, teruslah menjerit, sayang..." Gaara tertawa sambil memukul bokong Naru—yang sudah mengeras karena otot-ototnya sedang menekan kejantanan Gaara yang ada di dalam. Tentu saja karena hentakan menyakitkan yang dibuatnya, mau tidak mau Naru jadi ikut dibagian menggerakan tubuhnya juga.
"Buat aku bangga menjadi suamimu!" Bentaknya sembari mencakar permukaan kulit Naru yang bisa diraihnya.
Tubuhnya lemas, rasa sakit kini merajai seluruh engsel tubuhnya, bahkan ia tidak bisa merasakan kalau ia sudah tidak menungging lagi. Kali ini ia tengkurap, tapi ia tetap tidak bisa membedakan rasa sakit yang ditanggung perut atau tempat dimana Gaara menggerakannya tanpa henti.
Tubuhnya mati rasa, bahkan ia sampai tidak dapat mengontrol respon gerakan dan suara yang dikeluarkan sewaktu Gaara terus mengajak bermain. Ia ingin tertidur, tapi rasa sakit ini terlalu menyiksanya.
Sensasi hebat hanya bisa dirasakan oleh Gaara, membuatnya terus menghembuskan nafas memburu—tanda ia sangat menikmati permainan ini. Tapi karena merasa hampir sampai ke puncak, ia meniban Naru—masih dengan gerakan bertubi-tubinya—lalu mengigit pundaknya. Dan salah satu tangannya ikut bernain di dada Naru yang tertiban tubuh mungil itu sendiri.
Gaara menggigitnya—setara dengan sensasi yang ia rasakan—sampai tidak sadar kalau sudah ada cairan asin yang keluar dari bekas gigitan kerasnya. Tapi dengan cepat pula gerakan itu diselesaikannya bersamaan dengan cairan semennya yang ia keluarkan di lubang belakang Naru.
Gerakan Gaara terhenti. Disertai hembusan nafas yang masih terdengar, ia mengeluarkan bendanya yang bisa dikatakan sudah lumayan puas dari lubang milik Naru—sehingga ia juga dapat melihat cairannya mengalir turun dari sana. Lalu Gaara berjalan menjauh untuk mengambil celana panjangnya yang terkapar di lantai, membiarkan Naru tetap di posisi seperti itu.
.
.
: mistakes | sanpacchi :
.
.
Naru's POV
Aku hanya bisa terdiam dengan nafas lelahku yang terdengar di udara. Tubuh terkulai lemas dan otot di daerah kewanitaan berserta bokongku masih terus berdenyut menyakitkan. Tapi aku masih sangat bersyukur kali ini Gaara lebih cepat memberhentikan kegiatannya. Dari ekor mata kulihat punggung penuh keringat milik Gaara yang membelakangiku, tapi di saat yang sama aku tersadar akan pintu keluar yang kuncinya sempat kuambil.
Dengan perlahan kucoba untuk membuka tangan kiriku yang dari tadi terkepal erat. Setelah terbuka terlihatlah kunci kamar ini yang ada di tanganku yang berdarah—karena saking eratnya mengepalkan tangan ketika Gaara menyetubuhiku.
"Uh..." Sambil menahan nafas kubangkitkan tubuhku agar dapat duduk, tapi sialnya rasa sakit ini membuat tubuhku kaku. Dan jika semakin memaksa agar bisa melawan kesakitan yang kutanggung, denyut menyakitkan mulai semakin terasa di tempat yang terjelajahi habis-habisan oleh Gaara.
"Ck, seharusnya aku tidak perlu membuang banyak tenaga untuk mengurusi pernikahan kalau tau malamnya akan seperti ini..." Gumaman Gaara terdengar bersama suara resleting celananya yang tertutup. Lalu ia sempatkan diri untuk menoleh kepadaku untuk membagi senyumnya. "Tapi mudah saja, kita tinggal melanjutkannya besok. Iya kan, Naru...?"
Mataku membulat, cepat-cepat aku membuang muka ke arah lain. Aku ingin menangis tapi bola mataku sudah terlalu perih untuk mengeluarkan air mata. Aku sudah tidak peduli lagi dengan apa yang kurasakan, kujatuhkan tubuhku ke lantai. Lalu kugerakkan kedua tanganku—yang setidaknya masih dapat bergerak walaupun sudah bergetar lemas—untuk menyeret tubuhku ke arah pintu.
Di awal Gaara hanya diam melihatku, sehingga membuatku senang jika benar kalau ia akan membebaskanku seperti kemarin—bedanya aku tidak akan pernah mau mempercayainya lagi. Tapi akhirnya harapanku pupus ketika Gaara berjalan mendekat. Setiap langkahnya mengingatkanku seperti sosok dewa kematian yang sedang mendekati targetnya.
Saat ia sudah tepat di sebelahku, gerakanku terhenti. Aku sempat ketakutan kalau kakinya akan menendangku lagi untuk kesekian kalinya, tapi nyatanya ia hanya membalikkan tubuhku agar kembali terlentang.
Aku berusaha membuka kelopak mata untuk melihat Gaara yang menatapku dari posisi berdirinya. Hanya seringaian di bibirnyalah yang mewakili wajah tanpa ekspresinya.
"Tidak ada yang mau kau ucapkan sebagai salam perpisahan untuk anak kita?"
Jangan-jangan kalimat itu...
Tanpa kusadari tenagaku untuk menangis seperti kembali, membuatku terisak. Tapi tanganku sudah tidak bisa bergerak. Aku benar-benar harus pasrah. Tenagaku sudah habis terkuras untuk Gaara.
Kulihat Gaara yang mengarahkan telapak kakinya ke permukaan perutku. Lalu ia menekuk lutut untuk menaikan kaki—mempersiapkan tenaga untuk menginjak perutku yang sudah persis di bawahnya.
Sedangkan aku hanya bisa memejamkan mata...
Berdoa agar Kami-sama mengurangi rasa sakit yang akan kuterima...
Dan juga memaafkan aku karena tidak bisa menjaga titipan-Nya.
DUKH!
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Sansan's Note:
Oke, aku tau ini ngga hot. Kalo ada yang berharap lemonnya lebih hot, aku mohon maklum aja deh karena ini udah batas kemampuanku :P
Dan aku mau minta maaf karena kayaknya aku ngga bisa masuki BDSM di sini. Abis selain aku ngga ngerti dan ngga tau nama alatnya, aku juga ngga bisa deskripsiin. Yah, mau bagaimana lagi?
Satu lagi, semoga para aku dan para readers yang baca ini dosanya dikurangin... kan HARI INIudah masuk bulan puasa. Yaudah, untuk mengurangi dosa, ayo kita nonton ustad maulana! =))
.
.
Super Thanks to :
Kyu's neli-chan, ocha, Twingwing RuRaKe, Widy Kakitaka, Icha22madhen, Vii no Kitsune, choco momo, Superol, uchihyuu nagisa, hanyareview, J0e, No name, Moe miaw, CCloverRuki, Ai Zero Ryuu, Uchiha Uzumaki Hatake Hotaru, taro, No n4m3, Haru3173, Yue Heartphilia, Cassie Disandi, BDSM, Yanz Namiyukimi-chan, No name, x, baka nesia chan, chy karin, Tamichi Uchiha, ruu.
.
.
Frequently Asked Questions :
Naru mau gugurin kandungannya? Gaara yang mau gugurin. Kalo GaaNaru nikah lemonnya buat di macem-macem tempat ya! Kalo macem-macem tempat sih aku ngga jamin, tapi kalo posisi yaokelah. Yang disukain Gaara tuh siapa sih? Sakura, Hinata, Ino atau Naru? Hmm siapa ya...Buat Gaara kesiksa dong. Kesiksanya pake apa? Yang mau bunuh janinnya Naru tuh siapa? Gaara. Naru keguguran? Nanti bakal hamil lagi, kan? Haha, apaya...Ada orang ketiga yang ngebuat Gaara cemburu dong. Kayaknya ngga ada... abis aku mau buat cerita yang beda sih ;P Gaara duluan jatuh cinta aja. Liat sifat Gaara aja.Bakal ada Neji, ngga? Wah, ngga adaa :(Tiap chap ada lime/lemonnya ya? Iyoo.Tolong buat Narunya lebih kesiksa, jangan cuma di-rape tapi dipukul juga. Hei, chap ini hasil request-an mu loh :) Pengen liat Gaara ngerape Naru pas hamil besar. Cooming soon aja deh.Hamil kok digituin sih, apa ngga keguguran? Harusnya, makanya tuh Naru nyampe... ya, begitulah. Aku ngga bisa sign up, katanya passwordnya kurang panjang.Kalo tentang password, mungkin kamu buatnya terlalu pendek atau ngga kamu lupa masukin salah satu angka. Maaf kalo ngga jelas hehe. Selamat menunaikan ibadah puasa! IYAA... ternyata setahun itu cepet banget, yaa. Yang penting... SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA :)
.
.
Next Chapter :
"Tenanglah, kau tidak akan bisa keluar dari rumahku."
"Kalau kau ingin mengakhiri hidupmu... kau pun akan mati di tanganku."
"Tapi kau itu perempuan yang istimewa, karena itu dapat dipastikan kalau aku tidak akan cepat bosan bersamamu."
"Apa kau rindu sentuhanku?"
.
.
I'll be pleased if you enter your comment
Mind to Review?
.
.
SANSANKYU
