Dosen Park
Wiell Present
Disclaimer :
Cerita ini milik saya, jika ada kesamaan bukan suatu kesengajaan. Nama-nama yang ada dalam fanfic ini milik mereka sendiri.
.
Warning!
Typo bertebaran. BL. Bahasa campuran.
If you Don't Like Don't Read . Please! RnR!.
Happy Reading^^
.
Baekhyun menggeram mendapati belnya yang terus berbunyi.
Ini masih terlalu pagi dan entah siapa tamu yang berada didepan sana telah mengganggu tidur nyenyaknya. Bahkan saat matahari masih terlihat enggan untuk keluar.
"Tunggu sebentar."
Baekhyun berteriak. Ia mengucek matanya pelan, menguap lebar untuk entah yang ke berapa sejak terusik bel sialan itu. Tak peduli bagaimana tampilannya, Baekhyua berjalan keluar terburu. Sumpah serapah telah berada diujung lidahnya namun kembali tertelan mendapati seseorang yang tak ia kira berada dibalik pintu apartementnya.
"Sekarang apa lagi Chanyeol?" Baekhyun tak perlu berbasa basi lagi atau bahkan menggunakan sopan santunnya untuk orang didepannya ini. Ia hanya kembali menguap seraya mengucek matanya yang tersisa kantuk.
"Aku hanya mengantarkan sarapan untukmu. Kau tahu aku telah berdiri selama 15 menit dengan panci panas."
Baekhyun memutar bola matanya malas. "Aku tidak menyuruhmu untuk memasakkanku. Jadi bukan salahku."
"Baekhyun minggirlah. Ini sangat panas." Baekhyun berdecak melihat dosen muda itu melangkah masuk tanpa permisi dan telah menaruh sepanci sup ayam dimejanya. Lalu disusul dengan lelaki itu yang duduk dengan nyaman disofa putih miliknya.
"Cuci mukamu dulu. Lalu kita sarapan. Cepatlah aku lapar." Perintah bukan pernyataan.
"Siapa yang menyuruhmu untuk masuk? Aku tidak pernah – hei."
"Cepat-cepat." lelaki itu berdiri, mendorong Baekhyun masuk kedalam kamar mandi dan menutup pintunya. "Aku menunggumu!"
-0o0-
Ketika Baekhyun keluar dari kamar mandi, dimeja makannya telah tersusun rapi beberapa varian makanan. Sedang sang pelaku tengah duduk nyaman bersandar disofanya dengan sebuah serial kartun, tak menyadari atau memang berpura-pura tak menyadari eksistensinya.
"Chanyeol."
Lelaki jangkung itu menoleh, senyumnya merekah. Lalu beranjak menghampirinya dan duduk didepannya. Cukup santai dengan sebuah kaos abu-abu dan training hitam.
"Mari makan, aku sudah memasak sejak pagi buta." Chanyeol menyendok nasi, tak peduli dengan Baekhyun yang masih diam dengan segala tingkahnya.
"Apa yang sedang kau lakukan Chanyeol?"
"Makan –"
"Berhentilah." Gumaman lirih terlontar dari Baekhyun. ia menatap lurus Chanyeol yang terdiam, piringnya telah terisi dengan lauk yang belum dimakannya.
Chanyeol mengangkat kepalanya, "Apa maksudmu berhenti? Aku bahkan belum memulai apapun Baekhyun. Bagaimana aku bisa berhenti." Decihan berlalu dari bibirnya.
Saat orang lain masih sibuk dengan selimutnya, dipagi buta mereka bertengkar untuk hal yang telah jelas tak benar. Bukan Baekhyun yang memulainya tapi Chanyeol dengan segala tingkah laku yang tahu batasannya bahkan ketika ia telah memiliki Sehun dihatinya. Seharusnya dosen muda itu tahu bagaimana Baekhyun berusaha dengan keras agar seniornya itu melirik kearahnya.
"Keluarlah Chanyeol. kau tahu dengan pasti jawaban apa yang akan aku berikan."
Hingga dentingan garpu beradu dengan sendok beradu dengan piring terdengar. Kilatan kemarahan itu jelas baekhyun lihat.
"Aku tidak akan menyerah begitu saja Baekhyun. tidak dengan si sialan Oh Sehun itu." jawab Chanyeol datar.
"Kau –"
Ucapan Baekhyun terpotong ketika belnya berbunyi beberapa kali, disusul dering ponselnya yang menandakan sebuah pesan masuk.
'Aku didepan sayang, buka pintunya.'
Apa yang lebih membuat Baekhyun panik kecuali kehadiran Sehun ketika dihadapannya telah ada Chanyeol?
-0o0-
Mekanika bahan menjadi sebuah ketakutan tersendiri bagi Luhan. Untuk menghadiri kuliahnya bahkan harus dengan paksaan Baekhyun dan juga Kyungsoo. Jika bagi Kyungsoo pelajaran menghitung tentang struktur yang dibutuhkan untuk membangun suatu bangunan adalah yang mudah maka bagi luhan itu adalah sebuah musibah. Terang saja, soal mekanika bahan hanya berisi perhitungan dengan suatu rumus sederhana namun dengan jawaban yang nyaris 3 lembar berisi penuh dengan angka. Apakah Luhan pernah mengatakan jika ia merasa mual melihatnya?
"Kau harus ikut kelas ini Lu, atau kau tidak akan dapat nilai untuk ujian." Ucap Baekhyun menyeret si kurus itu memasuki kelas yang akan dimulai 10 menit lagi.
"Kau harus ikut, atau kau mau aku mengikatmu dikursi itu?" Kyungsoo menimpali dengan sedikit ancaman.
"Baiklah, aku ikut." Jawaban Luhan melegakan.
ia berjalan dengan malas kekursi kosong dibangku tengah. Tentu saja jika didepan atau dibelakang akan mendapat sorotan jadi di tengah adalah pilihan paling bagus. Kyungsoo berada disebelah kanannya dan Baekhyun dikiri.
"Materinya apa yang akan kita bahas kini." Gumaman Kyungsoo terdengar. Ia sibuk membolak balik buku nya mencari bahan pembelajaran kali ini. Membenarkan letak kacamatanya yang agak melorot. Hal itu tentu saja membuat rotasi bola mata luhan untuk kesekian kalinya pagi ini.
"Kau terlalu berlebihan." Lirih Luhan.
"Hm?"
"Aku pikir –"
"Perhatian –" ucapan siketua kelas memotong ucapan Luhan.
" –dosen Kim tidak bisa mengajar hari ini. ia terkena flu dan kabar bahagia... kita tidak punya tugas untuk dikumpulkan. Minggu depan. Aku akan membagikan filenya pada kalian di grup."
Apalagi yang lebih menyenangkan?
Baekhyun tersenyum senang, hari ini sebenarnya ia tidak sedang berada dalam mood yang bagus untuk mengikuti perkuliahan hanya karena paksaan dimungil Kyungsoo lah ia datang.
"Astaga sebenarnya apa kebaikanku dikehidupanku yang sebelumnya? Aku mendapat banyak kebaikan hari ini." keluhan Luhan masih juga terdengar. Anak itu berseru paling girang. Lain halnya dengan Kyungsoo yang tengah cemberut.
"Jadi?"
Dua orang itu telah berada dihadapan Baekhyun. menatap penasaran dengan kisah apa yang akan dibawakan temannya itu.
"Kalian tahu, seharusnya aku mengatakannya sejak jauh hari. Tapi tidak ada waktu yang pas." Baekhyun memulai.
"Aku telah berkencan dengan Sehun sunbae." Lirihan diakhir kata didengar membuat Kyungsoo maupun Luhan melotot tak percaya. Bagaimana mungkin mereka telah berkencan tanpa sepengetahuan keduanya. Teman paling posesif dalam sejarah. Terlalu berlebihan.
"A-apa? Bagaimana mungkin?"
"Kau berhutang banyak pada kami."
Baekhyun mengangguk, ia menggigit kukunya. Menimang apakah akan menceritakan atau tidak. Akhirnya ia membuang napas pasrah, ia butuh solusi saat ini."Mungkin ini juga akan mengejutkan kalian tapi dosen Park... kemarin menyatakan perasaannya padaku."
"Kau benar-benar gila."
"Mungkin kau menjadi aktor nomor satu."
"Orang paling pembohong didunia."
"Bagaimana mungkin kau tak mengatakan apapun?"
"Memang apa yang bisa kukatakan? Kita selalu sibuk dan tak ada waktu untuk berbincang." Baekhyun menghela lelah.
Kembali mengingat beberapa waktu lalu saat ia benar disibukkan dengan tugas besar yang menjelang deadline dan ia diharuskan untuk menyelesaikannya. Beruntung Baekhyun memiliki Sehun yang mau membantunya. Hingga kemarin moodnya memburuk karena kedatangan dosennya di pagi buta.
"Aku menyuruh dosen Park sembunyi. Kalian tahu dengan sedikit paksaan yang menjengkelkan."
"Apa?"
"Meminta aku memasakkan sesuatu untuknya selama seminggu penuh. Dia benar-benar gila."
Rasanya sungguh menyebalkan dan ia hanya merasa beruntung karena Sehun tak memergokinya. Mungkin jika terjadi, pertengkaran karena cemburu tak akan terelakan.
TBC
A/n :
Haloo..
Sebelumnya aku minta maaf karena aku kembali sibuk sama matkul aku dan tugas yang tiap hari tambah aja. Sangat berterima kasih untuk kalian yang masih baca sampai sini.
Love dehh buat kalian..
Thank's.
