Aku mengunyah perlahan setiap suap nasi kare yang masuk ke dalam mulutku. Meresapi setiap rasa yang mengalir di dalam mulutku karena baru pertama kali aku rasakan nasi kare seenak ini. Makanan yang di bawakan Esme ke dalam kotak-kotak melanin bening masing-masing berisi makanan khas Jepang yang begitu kurindukan. Esme, Carlisle, Rosalie dan Emmett membuatnya begitu banyak karena tidak tahu makanan apa yang paling aku senangi. Mulai dari nasi kare, tempura, sushi dan hebatnya lagi takoyaki. Aku bahkan tidak punya kemampuan membuat takoyaki. Dan sup miso yang aku rindukan pun berhasil mereka buat.
Air mata menetes lagi. Kenapa aku begitu mudah menangis hari ini? Sekarang aku merindukan rumah karena makanan yang di buatkan Esme yang terlihat seperti Kaa-san.
Sekarang ada tangan dingin yang menghapus jejak air mataku. Edward tiba-tiba saja telah berada di depanku dengan tangan terulur menghapus air mataku dan tersenyum lembut.
"Kau menangis lagi. Apa kau merindukan rumah?" tanya Edward lembut.
Aku mengangguk, "T-terkadang ada saat a-aku mengingat rumah. A-aku begitu mudah menangis p-padahal baru 1 bulan aku jauh dari Jepang."
Edward tersenyum menenangkan, "Setiap orang pasti akan merindukan rumahnya dimana pun kita berada."
Sekali lagi Edward selalu mampu menenangkan perasaanku.
.
.
Disclaimer:
Naruto by Masashi Kisimoto and Twilight saga by Stephanie Meyer
Moonlight created by Tsubasa XasllitaDioz
Warning: AU,OOC-maybe- and etc.
Pair: Edward Cullen and Hinata Hyuuga, slight Jacob-Bella
.
.
Summary: Apa yang terjadi kalau seandainya Bella lebih memilih Jacob saat 'New Moon'? Sanggupkah Edward bertahan dalam keterpurukannya? Dan disaat keterpurukan Edward datang murid pindahan dari Jepang yang aromanya lebih menarik Edward dari pada saat dia bersama Bella. Bagaimanakah kisah cinta terlarang ini terulang lagi? Apakah akan berakhir sama?
.
.
Chapter 6: Share.
.
.
.
Rintik gerimis mulai turun saat bibir Edward bergerak perlahan diatas bibirku. Aku tidak dapat mendekripsikan apa yang aku rasakan saat bibir Edward menyentuhku untuk pertama kalinya. Rasa dingin dari hujan serta air danau yang menyentuh tubuhku, bersama dengan sejejak rasa hangat dari air mataku yang tidak ingin berhenti mengalir dan bibir sejuk Edward yang mulai perlahan menginvasi sudut bibirku dengan begitu lembut berkesan terlalu berhati-hati malah. Dapat kulihat matanya yang terpejam memiliki bulu mata yang sewarna tembaga begitu panjang. Saat kupejamkan mataku, seluruh sentuhan Edward dapat kurasakan. Satu tangannya berada di pinggangku untuk menahan berat tubuhku yang mungkin saja akan jatuh karena lemas. Sedangkan satu tangannya lainnya merangkup pipiku lembut.
Selang beberapa saat kemudian Edward melepaskan ciuman kami. Jarak kami begitu dekat, aku bahkan dapat mencium wangi mint dari helaan napasnya. Sebuah kecupan singkat aku terima diatas bibirku.
"Would I be yours?" tanya Edward lembut.
"I-I'm yours," jawabku pelan.
Edward tersenyum kemudian menarikku kedalam pelukannya dengan begitu lembut dan berhati-hati, "Thank you Hinata."
"A-anytime."
Aku menikmati moment-moment seperti ini. Dimana kami berdiam diri menghabiskan waktu bersama. Tetapi untuk kali ini aku berada di dalam pelukan Edward. Aku menempelkan pipi kananku diatas kemeja yang dia kenakan. Tidak ada bunyi detak jantung hanya suara jantungku saja yang terdengar mengusai keheningan ini.
"Sepertinya kita harus segera kembali. Hujan turun semakin deras," kata Edward pelan.
Aku tersenyum kemudian mengangguk ketika itu pula Edward mengangkatku kedalam pelukannya.
Dia tersenyum, "Cara tradisional selalu yang paling cepat."
Aku tertawa, "Setahuku cara tradisional adalah berjalan kaki."
"Kalau begitu sebut saja ini cara tradisional alternatif." Senyum darinya lalu yang selanjutnya kulihat hanya kelebatan hutan yang dilalui. Ketika aku membuka mata kemudian, kami telah berada di kamar Edward sebelumnya. Dengan perlahan dia menurunkanku dari pelukannya. Sebenarnya sebersit rasa tidak rela melintas ketika wangi tubuh Edward menjauh.
"Hinata sepertinya aku harus menceritakan sesuatu kepadamu," kata Edward pelan. Sekilat rasa khawatir dan cemas melintas di mata keemasannya.
"A-apa itu Edward?" tanyaku.
Dia membawaku ke sebuah kamar yang dipenuhi buku dan beberapa buah lukisan. Satu lukisan yang paling besar dan mencolok berada di tengah ruangan dengan bingkai dari kayu hitam yang mengkilat. Disana tergambar tiga orang pria bagaikan dewa berdiri diatas balkon sambil memandang sombong orang-orang di bawahnya. Seolah mereka raja. Tetapi aku baru menyadari dari dekat mata mereka berwarna merah. Semerah darah. Apakah mungkin mereka juga vampire seperti keluarga Uchiha.
"Mereka keluarga Volturi. Kelompok vampire yang menguasai Rumania. Dulunya Carlisle sempat tinggal bersama mereka sebagai satu kesatuan kelompok. Tetapi Carlisle tidak mau tinggal berlama-lama karena kebiasaan mereka sangat berbeda dengan Carlisle. Kau tentu tahu apa yang mereka makan." Edward menunjuk salah satu sudut lukisan dimana tergambar wajah Carlisle disana.
"Mereka sangat berkuasa dan kuat. Bisa dikatakan merekalah penguasa vampire yang mengatur sebagai hukum apabila terjadi penyimpangan kaum vampire yang membahayakan keberadaan vampire. Juga sebagai penyeimbang ras vampire. Keluarga Volturi bisa dikatakan pisau bermata dua, mereka melindungi tetapi juga menghancurkan."
"Lalu siapa saja mereka?"
"Mereka Aro, Caius, dan Marcus. Pemimpin mereka tertinggi adalah Aro yang selalu memutuskan segala sesuatu. Dia berbakat sama sepertiku yaitu dapat membaca pikiran tetapi hanya untuk orang yang disentuhnya saja. Tahun kemarin aku datang kepada keluarga Volturi hingga menyeret Bella datang kesana. Aro mengetahui bakat yang dimiliki oleh Bella dan sangat antusias menunggu perubahan Bella menjadi seorang vampire."
Edward mengelus pipiku, "Ketika kau datang dengan cara yang sama dengan Bella dan membuatku jatuh cinta padamu aku takut keluarga Volturi akan datang dan dapat membahayakan hidupmu. Karena nyatanya kau memiliki kekuatan yang lebih unik dan menarik daripada Bella. Belum lagi latar belakang keluargamu yang sangat kompleks dengan keluarga Uchiha. Aku takut terjadi sesuatu padamu karenaku."
Aku menyentuhkan keningku pada Edward, "A-aku akan baik-baik saja. Jangan pernah berpikir seperti itu Edward. Yakinlah."
Edward menggeleng frustasi, "Aku tidak bisa tenang Hinata. Sedangkan Alice saja tidak mampu meramalkan masa depanmu."
"M-masa depanku akan aku yang menentukan karena masa depanku terbentang luas tanpa ada yang tahu. Jangan pernah menyesali apapun yang nanti terjadi di masa depan karena saat ini aku masih disini. T-tidak cukupkah?"
Edward menarikku ke dalam pelukannya, "Cukup. Sudah lebih dari cukup Hinata."
Aku tersenyum lalu memeluk punggung kekar Edward. Mengelusnya perlahan sedangkan dia menenggelamkan bibirnya di lekuk leherku. Untuk beberapa saat aku menikmati moment ini. Ketika masa depan yang akan datang nanti akan datang menghantui dalam bayang. Aku harus berjalan dalam pilihan yang aku buat bukan ditentukan. Tapi kupastikan setiap jalan yang kupilih akan membawaku kepada Edward.
Matahari mulai terbenam saat aku melihatnya seorang diri di balkon rumah Edward. Disini pemandangan matahari terbenam sangat indah di balik rimbunan pepohonan tinggi. Celah-celah cahaya matahari berwarna jingga membuat hutan berubah warna untuk sesaat hingga kegelapan benar-benar datang menggantikan terang.
"Pemandangan yang sangat indah kan?" tanya Rosalie yang tiba-tiba telah ada di sebelahku dengan tangannya bersandar diatas pagar besi balkon.
"Y-ya. Benar sekali."
Dia tertawa. Terdengar sinis.
"Kalau kau melihatnya sesekali mungkin terlihat sangat indah tetapi ketika tidak terhitung lagi berapa matahari terbenam yang pernah kau lihat semua hanya akan terlihat biasa saja. Itulah kehidupan sebagai vampire yang harus dibayarkan. Tidak semua terlihat indah dan mudah."
"K-kenapa Rose?"
Rosalie menatapku, "Aku hanya berharap kalau kau tidak menyianyiakan hidupmu sebagai manusia. Tidak seperti Bella yang dulu selalu ingin berubah menjadi salah satu anggota keluarga kami dulu." Dia menghela napasnya lelah. "Aku tidak pernah membencimu atau Bella. Tepatnya aku iri pada kalian."
"K-kenapa?" napasku tercekat. Apa yang membuat Rose merasa iri padaku yang seperti ini.
Mata terang Rose menatapku, "Kau memiliki pilihan Hinata sedangkan aku tidak. aku tidak ingin kau membuat pilihan yang salah nantinya. Aku rela menukarkan apapun yang kumiliki hanya untuk bisa sepertimu. Memiliki pilihan untuk menjadi manusia."
"B-bagaimana dengan Emmet? Aku tahu dari Edward kalau kau tidak ada mungkin Emmet a-akan menjadi s-santapan b-beruang."
Rosalie tertawa. Kali ini lebih terdengar tulus.
"Mungkin dialah salah satu alasan aku masih dapat tetap disini, semua jauh lebih baik sejak kedatangannya. Tetapi tetap saja keinginanku menjadi seperti manusia tidak pernah pudar. Impianku sangat simple Hinata, aku hanya ingin menjadi wanita biasa yang nantinya akan menua dengan keriput di wajahku. Duduk di depan rumah sederhana dengan taman kecil, ditemani dengan Emmet dengan rabut abu-abu duduk di sampingku dan dikelilingi anak dan cucuku. Lalu mati dengan bahagia." Mata Rose menatap sedih hutan gelap di depannya. "Tapi aku akan tetap seperti ini. Membeku dan tidak pernah maju kedepan."
Aku menatapnya ragu, "K-kalau boleh tahu bagaimana kau berubah menjadi vampire Rose?"
Dia menatapku lama lalu mulai bercerita, "Dulu hidupku sempurna, aku memiliki Royce Hills pria yang paling diinginkan setiap wanita di waktu itu. Hanya saja aku tidak benar-benar melihat siapa dirinya. Karena aku dulu masih muda dan terlalu naif. Sampai suatu malam ketika aku pulang mengunjungi temanku, aku bertemu Royce bersama teman-teman brengseknya yang mabuk. Dia menciumku dengan kasar di depan teman-temannya seolah aku baru pameran. Aku menolaknya tapi dia memaksaku dan selanjutnya aku tahu yang kuinginkan hanyalah kematian menjemputku. Mereka tinggalkan aku begitu saja lalu membuang tubuhku yang dia kira telah tidak bernyawa di selokan kotor. Kebetulan Carlisle datang melewati tempat tersebut dan mencoba menyelamatkanku tapi terlalu banyak darah yang telah terbuang. Akhirnya dia tidak memiliki pilihan lain.
"Dia menawarkanku hidup kedua dengan bayaran hidupku tidak akan sama lagi. Tanpa pikir panjang aku langsung menyetujuinya. Perasaan dendam dibuang dan disia-siakan hanya itu yang berputar-putar di kepalaku. Ketika aku telah menjadi vampire yang sempurna Carlisle pun tidak mampu menghalangiku membalaskan dendamku kepada pria itu. Satu persatu aku membunuh pria-pria brengsek itu terlebih dahulu hingga membuat Royce sadar kalau dialah yang terakhir."
Rosalie menarik napas panjang, "Dia ketakutan meringkuk diatas kasur menunggu malaikat pencabut nyawanya datang. Dengan memakai gaun pernikahanku aku datang dan menghabisi nyawanya ditanganku. Lalu ketika semua itu selesai kukira kepuasan yang akan datang tetapi malah rasa hampa. Ketika kau masih dalam bentuk sama bertahun-tahun kemudian tanpa adanya yang berubah dalam hidupmu kau akan mengerti."
Setelah menyelesaikan ceritanya Rosalie berlalu begitu saja. Aku menatap punggungnya yang berjalan memasuki rumah. Walau terlihat tegar tetapi ada beban berat yang ditanggungnya.
Aku sangat menyadari hubunganku dengan Edward saat ini tidak akan berlangsung lama, selama yang bisa kuperkirakan. Aku nanti tentunya akan menua lalu mati sedangkan Edward akan tetap sama selamanya. Muda, tampan dan kuat. Tetapi yang kupikirkan apakah setelah nanti aku mati Edward mampu menemukan orang lain yang dapat menemaninya menggantikan aku? Aku tidak ingin nantinya dia akan kembali kecewa karena kematianku. Bahkan dalam kematianku nanti aku tidak bisa tenang kalau Edward tidak bahagia. Karena kalau dia tidak bahagia bagaimana aku bisa tenang di dalam peti matiku.
.
.
.
Alice, Jasper, Emmet dan Carlisle tengah duduk di ruang tengah keluarga dalam sebuah lingkaran. Perhatian mereka tertuju pada Edward yang tampak berpkir keras dengan kedua tangan disatukan di dagunya.
"Aku tidak tahu pastinya karena sampai sekarang dia belum juga memutuskan tapi kemungkinan besar di awal musim dingin ini dia ingin datang memeriksa keberadaanmu dan Bella." Alice bergerak cemas. "Sebaiknya kau membawa Hinata menjauh dari Forks untuk beberapa saat Ed. Aku juga akan memberitahu Jacob untuk membawa Bella ke Phoenix selama libur musim dingin ini."
"Lalu bagaimana dengan kedatangan Victoria? Yang dia inginkan adalah aku."
Carlisle menggeleng, "Yang dia inginkan adalah orang yang kau cintai Edward. Kalau kau tetap disini dan Victoria mengetahui hubunganmu dan Bella telah berakhir maka sasarannya akan berubah menjadi Hinata. Namun tetap dia tidak akan melepaskan Bella begitu saja karena dialah penyebab James dimusnahkan."
"Kau bisa mempercayakan pemburuan Victoria kepada kami Edward," kata Emmet.
"Yang terpenting kau harus memprioritaskan keselamatan Hinata agar tidak tersentuh oleh Victoria. Jauhkan dia sejauh mungkin dari jangkauan Victoria." Jasper menambahi.
"Ya, mereka benar," kata Alice.
Edward menggeleng frustasi, "Kapan tepatnya Hinata harus menjauh dari Forks?"
Mata Alice terlihat kosong sesaat, "Sekitar tanggal 23 Desember. Dimulai dari tanggal itu kota Tokyo tidak akan muncul matahari terang selama beberapa hari untuk seminggu kedepan."
"Tokyo?"
Alice mengangguk, "Tentu saja Tokyo. Apa kalian kira Pork Angeles dan Alaska cukup jauh? Dan lagi hometown Hinata adalah Tokyo, tentunya dia ingin merayakan natal bersama keluarganya disana."
Edward mengangguk, "Kau benar. Dia pasti merindukan keluarganya."
.
.
.
"Apa rencanamu untuk libur musim dingin ini Hinata?" tanya Edward ketika aku telah selesai mencuci piring.
Aku berjalan mendekatinya lalu duduk di salah satu sofa sebelum Edward menarikku mendekat padanya, "A-aku belum terpikir apa yang akan kulakukan untuk libur musim dingin nanti."
"Tidakkah kau merindukan keluargamu?"
Aku menunduk, "Y-ya aku memang merindukan keluargaku. T-tapi.. kalau boleh jujur...
"Ya?"
Sungguh aku terlalu malu untuk mengatakan hal ini.
"Katakan apa yang ingin kau katakan Hinata." Edward menarikku kedalam rangkulannya.
Aku memainkan jari-jari telunjukku gugup, "A-aku.. a-aku hanya i-ingin menghabiskan lebih banyak waktu d-denganmu."
Dari sudut mataku dapat kulihat Edward tersenyum lembut, "Bagaimana kalau kita ke Tokyo menemui keluargamu?"
Mataku menatapnya, "A-apa kau yakin?"
Dia tertawa, "Seharusnya aku yang bertanya apakah kau yakin kalau aku datang bersamamu?"
Aku menggeleng, "A-aku tidak masalah kalau kau datang bersamaku tapi bagaimana kalau ada matahari di Tokyo?"
"Kau mengkhawatirkan kalau matahari akan datang di Tokyo dibandingkan khawatir kalau bisa saja keluargamu tidak menerimaku Hinata?" tanya Edward dengan nada sedikit frustasi.
"A-aku yakin keluargaku tidak akan mempermasalahkan hal itu Edward. Walau aku mempunyai older brother yang protektif tetapi aku yakin Neji-nii busa menerimamu."
Edward menatapku, "Lalu bagaimana dengan orang tuamu? Bagaimana pun aku ini adalah seorang vampire Hinata."
"Tou-san memang seorang yang dingin tetapi aku yakin dia memahami keinginan anaknya. D-dan keinginanku adalah bersamamu. S-selama dia yakin kalau kau bisa menjaga dengan baik anaknya."
Edward menarikku bersandar di dadanya, "Percayalah aku akan menjagamu dengan taruhan hidupku Hinata. Seluruh hidupku."
"Y-ya, t-terima kasih Edward."
Dapat kurasakan dia mengecup puncak kepalaku, "You're welcome."
Suasana hening di temani oleh bunyi gemuruh gerimis yang biasa terdengar menemani keheningan kami. Aku yang bersandar di dada Edward dapat mencium wangi tubuhnya yang sangat memabukan. Lengan dinginnya terasa merangkul pundakku dengan lembut. Sedangkan tangan lainnya menautkan tangannya dengan tanganku. Meniti setiap jemari-jemariku satu persatu seakan itu hal yang sangat menarik perhatiannya.
"Hinata bagaimana denga keluarga Uchiha? Apakah mereka tinggal bersama keluargamu?"
"T-tidak, keluarga Uchiha memiliki kastil sendiri. Walau tempatnya tidak terlalu jauh karena beberapa anggota terkadang sering datang berkunjung ke tempat kami. A-ada apa?"
"Tidak apa-apa. Hanya saja vampire mempunyai cara sendiri membatasi wilayah kekuasaan mereka. Sebelum aku datang kesana bersamamu paling tidak aku harus meminta izin atas kedatanganku."
"A-apa vampire perlu meminta izin seperti itu?"
"Ya., tentu saja. Karena keluarga kami maupun kelompok vampire yang lain juga seperti itu. Menunjukan sikap tanda menghormati pada wilayah kekuasaan yang dimiliki vampire lain."
Aku mengangguk, "Y-ya sepertinya akan lebih baik begitu."
"Siapa saja anggota keluarga Uchiha kalau boleh tahu?"
"Ada Fugaku-sama sebagai pemimpin lalu Mikoto-sama. Bisa dikatakan mereka seperti Carlisle dan Esme di keluarga Uchiha. Lalu ada Itachi-sama, Konan-sama, Sai-san, Kurenai-san, dan Nagato-san."
"Apa mereka memiliki suatu kemampuan?"
Aku menggeleng, "A-aku tidak terlalu tahu akan hal itu. Maka dari itu aku sedikit terkejut kalau vampire memiliki kemampuan demikian."
"Aku mengerti. Kalau begitu bagaimana kalau kita berangkat ke Tokyo tanggal 23 Desember."
"K-kenapa harus 23 Desember Edward?"
"Karena dari tanggal itu matahari tidak akan terlihat di langit Tokyo."
"B-benarkah? Apa yang membuatmu begitu yakin?"
Edward tertawa, "Tentu saja aku yakin. Alice tidak akan pernah salah dalam meramalkan cuaca Hinata."
"Ahh.. aku mengerti."
"Kalau begitu tanggal 23? Kau tentunya ingin merayakan natal bersama keluargamu?"
Aku tersenyum, "Keluargaku tidak terlalu suka merayakan natal Edward. Karena pada tanggal itu generasi pertama keluarga Hyuuga dilahirkan."
"Begitu? Lalu apa yang kau lakukan pada hari natal?"
Aku berpikir sesaat, "T-tidak banyak. Paling hanya di kamar membaca buku atau menonton televisi sendiri."
"Bagaimana dengan keluargamu yang lain?"
"Di Jepang, natal identik dengan perayaan sepasang kekasih jadi Neji-nii dan Hanabi memiliki kencan masing-masing di malam natal. Sedangkan Tou-san terkadang harus datang ke perayaan natal rekan bisnisnya. S-sebenarnya aku juga sering diajak olehnya tetapi aku tidak terlalu suka tempat yang ramai."
Edward kembali tersenyum miring, "Baiklah kalau begitu. Karena sekarang kau telah memiliki kekasih maka kita akan merayakan natal bersama. Bagaimana?"
Aku tersipu, "T-tentu saja a-aku mau."
"Good. Kau tidak akan sendirian lagi di malam natal Hinata."
Aku mengangguk antusias dan Edward tertawa.
.
.
.
"Hinata apa kau ada acara malam ini?" tanya Bella ketika bell tanda pulang berdering.
Aku menggeleng, "A-aku tidak ada acara apa-apa malam ini Bells. Ada apa?"
Bella tersenyum, "Kalau kau mau aku ingin mengajakmu tepatnya Jacob ingin mengajakmu ke malam api unggun kelompok Quillete Hinata. Apalagi besok libur musim dingin akan dimulai."
"T-tentu saja aku bersedia. Apa yang akan kau lakukan musim dingin ini Bells?"
Kami berjalan keluar kelas dan menyusuri koridor sekolah, "Aku akan ke Phoenix bersama Jacob. Menemui ibuku, dia merindukanku dan aku pun begitu."
"Bersama Jacob?"
Wajahnya tampak memerah, "Y-ya. Dia menawarkan diri untuk menemaniku liburan ke Phoenix karena tahu aku akan tetap di Forks kalau dia disini."
"D-dia sangat mengerti dirimu Bella."
"Kau benar."
Saat sampai di ujung koridor menuju ke parkiran aku melihat Edward telah berdiri disana dengan senyum miringnya kepadaku. Aku memang sangat menyukainya tersenyum, apalagi saat tersenyum miring seperti itu. Membuatnya terlihat mempesona.
"Sepertinya Edward telah menunggumu." Bella tersenyum. "Kalau begitu aku pergi dulu Hinata. Aku dan Jacob akan menjemputmu nanti malam."
Dapat kurasakan wajahku memerah, "Y-ya, aku akan menunggumu Bells."
Setelah Bella menghilang kedalam mobilnya aku berjalan menuju Edward yang masih mengendong sebelah tasnya sambil bersandar di Volvo miliknya.
"Bagaimana harimu?" tanyanya ketika aku telah sampai di depannya.
"Good. Bagaimana denganmu?" aku tersenyum padanya.
Edward membalasnya, "More good because of you. Kalau boleh tahu apa yang direncanakan Bella nanti malam untukmu?"
"Dia mengajakku ke malam api unggun kelompok Quillete. B-bolehkan?"
Edward mengelus pelan puncak kepalaku, "Kau tidak perlu meminta izin padaku untuk hal itu Hinata. Kau telah menjadi bagian dari kelompok Quillete, tentunya aku tidak akan menghalangimu."
"Terima kasih Edward."
Edward tersenyum lalu membukakan pintu mobil untukku. Kemudian kami melaju menuju rumahku dengan kecepatan pelan, menurut Edward. Menghabiskan sebagian waktu kami dengan membantuku mengerjakan tugas. Kemudian karena matahari terhalang dengan awan-awan gelap, aku memutuskan untuk mulai mengolah tanah luas di sekitar rumahku menjadi kebun sederhana. Edward sungguh sangat membantu dalam pekerjaan ini. Tenagaku yang sangat tidak ada apa-apanya dibandingkan dengannya terlihat sangat tidak berguna. Dia mampu mengangkat berkarung-karung tanah hanya dengan satu tangan sedangkan tangan yang lain membawa keranjang berat peralatan berkebun.
Walau diiringi dengan saling melemparkan tanah satu sama lain. Pekerjaan ini cepat selesai sebelum rembang senja-twilight- datang menghampiri. Tubuh kotor penuh tanah dan wajah kami yang berwarna coklat di beberapa bagian membuat kami menertawakan diri satu sama lain. Kemudian ketika malam mulai datang, Edward pamit kembali ke rumahnya dengan meninggalkan sebuah kecupan di bibirku yang hampir membuatku tidak mampu berdiri.
.
.
.
Malam ini langit sangat cerah. Bintang-bintang dilangit bertaburan sambil berkelap-kelip dengan indah. Sekarang sedang masa bulan baru-New Moon- jadi bulan tidak terlihat untuk menambahi keindahan malam ini. Sungguh sangat jarang langit di Forks tidak tertutup oleh awan tebal. Bella dan Jacob menjemputku tidak lama setelah Edward menelponku lewat telepon rumah. Mereka menjemputku menggunakan truk kesayangan milik Jacob yang berwarna hitam, sangat antik.
Aku hanya bisa melihat sekelebatan bayang-bayang gelap saat aku memandang keluar jendela. Sesekali Bella dan Jacob mengajakku mengobrol dan kujawab dengan antusias yang sama dengan mereka. Tentunya aku tidak ingin dianggap sebagai tamu yang tidak menyenangkan. Lagipula ini pertama kalinya bagiku mengikuti acara api unggun seperti ini. Dulu sewaktu di Tokyo aku tidak diperbolehkan keluar pada jam malam seperti ini. Karena sikap protektif Neji-nii dan Tous-san membuatku terlindung dari pergaulan yang menurutnya tidak baik. Tetapi sebagai efek dominonya, aku terkadang dianggap kurang pergaulan dan sombong. Aku menerimanya karena walaupun menyangkal itu tidak akan merubah banyak. Asalkan ada teman-teman yang memang mau berteman dengaku secara tulus itu cukup bagiku.
"Hinata, mari kuperkenalkan pada ayahku," kata Jacob ketika kami telah sampai ditempat malam api unggun.
Aku tersenyum dan mengikuti langkahnya bersama dengan Bella. Dilapangan luas ini dibuat sebuah api unggun yang besar dikelilingi dengan batang-batang kayu yang telah dihaluskan sebagai tempat duduknya. Sebagai besar wajahnya telah kutemui sebelumnya. Hanya beberapa orang tua yang bisa kusimpulkan adalah ayah atau ibu dari teman-teman yang kutemui di rumah kayu sebelumnya.
Aku melihat seorang pria berbadan tegap walaupun dia duduk diatas kursi roda. Rambut hitam panjangnya diuraikan begitu saja dengan topi koboi diatas kepalanya. Dari garis wajahnya yang sangat mirip dengan Jacob mungkin dialah ayah Jacob.
"Dad, ini Hinata Hyuuga yang dulu pernah kuceritakan padamu," kata Jacob kepada pria berkursi roda di depannya dengan senyum cemerlang di bibirnya.
Pria tersebut memutar kursi rodanya kearahku. Sambil tersenyum dia mengulurkan tangannya padaku dengan segera aku menyambutnya.
"Perkenalkan aku Billy Black. Ayah dari anak bodoh yang kau kenal ini," katanya dengan senyum yang langsung mengundang tawa dari Bella.
"S-senang bertemu denganmu. Aku Hyuuga Hinata."
"Ya aku tahu namamu dari Jacob. Serta penemuan mereka yang sangat mengejutkan tentang persahabatanmu dengan shape-shifter di Jepang dan fakta kalau kau kekasih seorang vampire."
Aku hanya bisa mengangguk dengan wajah memerah saat Billy menyebutkan kata kalimat terakhirnya.
"Bisakah kau menceritakan lebih tentang persahabatanmu dengan keluarga shape-shifter di Jepang Hinata? Kalau kau tidak keberatan."
"Tentu saja tidak sir."
"Panggil saja aku Billy. Kau terlalu formal padaku." Billy tertawa. "Kalau begitu kau bisa duduk disebelahku sementara waktu sebelum acara api unggun sebenarnya dimulai."
Aku mengangguk lalu duduk diatas balok kayu di dekat Billy.
"Aku mempunyai beberapa teman sejak kecil di Tokyo Billy. A-awalnya aku tidak mengetahui bahwa salah satu temanku adalah seorang shape-shifter. Namanya Kiba Inuzuka, dalam kata Inu dari Inuzuka yang berarti anjing. Dia dan keluarganya dapat berubah menjadi anjing disaat yang dia inginkan karena tidak seperti beberapa werewolf yang menurut Sam terkadang sering memiliki emosi yang meledak-ledak. Keluarga Inuzuka telah mengatur dengan baik emosi yang bisa menjadi pemicu hal yang tidak diinginkan."
"Sangat menarik. Lalu darimana kau mengetahui kalau temanmu, Kiba bisa berubah menjadi anjing?"
"Aku kebetulan melihatnya berubah secara tidak sengaja saat berkunjung ke rumahnya. Tiba-tiba saja aku melihatnya berubah menjadi anjing besar berwarna putih lalu aku pingsan."
Billy tertawa, "Tapi kudengar kau tidak pingsan saat bertemu dengan Sam."
"Y-ya, mungkin karena aku telah terbiasa melihat Kiba dan Hana-nee berubah menjadi anjing besar."
"Apa wanita di keluarga itu juga bisa berubah?"
"Ya. Hana-nee, Kiba older sister bisa berubah menjadi anjing juga."
Aku lihat seorang pria mirip Sam yang lebih beumur datang mendekati kami lalu membisikan sesuatu pada Billy.
"Ceritamu sangat menarik Hinata, aku ingin mendengar lebih banyak lagi nanti. Dan sepertinya seluruh keluarga telah berkumpul."
Aku mengangguk kemudian berdiri, "B-baiklah Billy kalau begitu lebih baik aku pindah ke tempat lain."
Billy menggeleng, "Tidak apa-apa kau tetap duduk disini Hinata."
"T-terima kasih atas tawarannya." aku memandang sekelilingku dimana para orang yang lebih tua duduk mengelilingin Billy. "S-sorry kalau aku tidak sopan hanya saja akan lebih nyaman kalau aku t-tidak menganggu disini Billy."
Billy kembali tertawa, "Aku mengerti Hinata. Jacob pun dulu tidak ingin duduk di sebelahku kalau malam api unggun datang."
Aku membalasnya dengan sebuah senyum lalu berjalan menuju bagian lain api unggun yang lebih di penuhi kelompok muda. Disana aku melihat Jacob, Bella dan lainnya. Seth yang pertama kali melihatku melambaikan tangannya sambil menepuk-nepuk balok kayu yang kosong disebelahku. Dengan senang hari aku memilih duduk disebelahnnya dibandingkan bersama di balok kayu yang sama dengan Jacob, Bella, Sam, dan Emily.
"Senang mengetahui vampire sweetheart bersedia datang ke acara werewolf," kata Seth dengan nada bercanda.
"S-sebenarnya suatu kehormatan aku bisa diundang ke acara ini Seth."
Seth tertawa, "Terkadang kau terlalu kaku Hinata. Anggap saja kami adalah salah satu keluargamu."
"Terima kasih Seth."
Diterangi kobaran api unggun dapat kulihat sekilas rona merah di wajah, "Ah seandainya kau mempunyai kembaran atau saudara perempuan yang mempunyai mata sepertimu. Aku mungkin akan menyukainya sepertimu."
Sekarang berganti wajahku yang memerah mendengarnya, "S-sebenarnya aku memang mempunyai saudara perempuan Seth. Dia 3 tahun lebih muda dariku."
"Benarkah?"
"Y-ya, namanya Hanabi. Akan kukenalkan padamu kalau dia datang kemari."
Seth tersenyum senang mendengar perkataanku. Lalu kami mulai berdiam diri karena acara api unggun akan segera dimulai. Dimulai dengan upacara penyambutan atau mungkin peresmian beberapa anggota keluarga yang baru berubah menjadi werewolf seutuhnya. Jacob dan Seth salah satu di dalamnya. Kemudian dilanjutkan dengan Billy menceritakan sebuah cerita dari suku Quillete terdahulu.
Dimulai dari kisah dahulu kala dimana suku Quillete tinggal secara nomaden dari suatu daerah ke satu daerah Quillete diberkahi anugerah dapat berubah menjadi serigala sebagai bentuk perlindung untuk suku keluarganya. Sampai akhirnya mereka bertemu dengan makhluk yang seperti manusia tetapi sedingin es dan berkulit seperti baja. Vampire. Makhluk tersebut memakan anggota keluarga suku Quillete. Mereka berubah menjadi werewolf dan berhasil merobek kulit vampire tapi hanya api lah yang benar-benar bisa memnghancurkan vampire. Mereka menyadari kalau vampire tersebut tidak seorang diri akan ada orang lain yang akan datang menghancurkan keluarga mereka.
Mereka tinggal di tempat yang tersembunyi, dekat dengan sungai, dan cocok sebagai daerah berkebun. Disini suku Quillete memilih untuk menetap dan membuat pemukiman untuk membuat keluarga dan membesarkan anak mereka. Semua anggota keluarga hidup dengan bahagia disana, para wanita membuat kerajinan tangan bersama sambil mengurus anak-anaknya. Sedangkan para pria mengolah lahan hingga dapat ditanami dengan tumbuhan-tumbuhan.
Sayangnya kebahagian tersebut tidak berlangsung lama seperti yang mereka perkirakan vampire lain datang untuk membalas dendam. Dia datang ke perkampungan mereka. Menghancurkan setiap tenda-tenda yang dibangun. Tetapi tidak hanya itu para vampire juga membunuh anggota keluarga yang mereka dapatkan. Semuanya berlari menyelamatkan diri dan keluarga yang bisa mereka temukan. Hanya satu kepala suku mereka yang dengan berani tetap melawan vampire tersebut. Sang istri yang melihat suaminya tetap berada di perkampungan kembali tetap bertahan di desa tersebut walaupun sang suami menyuruhnya untuk melarikan diri. Kepala suku berjuang sekuat tenaga melawan vampire yang ada dihadapannya. Hingga akhirnya keadaanya terdesak.
Sang istri yang menyaksikan suami yang dicintainya terdesak beruraian air mata. Mata menjelajah kesemua arah untuk menemukan sesuatu yang dapat menyelamatkan suaminya dari cengkraman vampire. Sang istri tidak memiliki kekuatan magis kecuali keberanian. Dia menyadari ada sebuah pisau di dekatnya, dengan segera dia mengambil pisau tersebut dan menusukkan pisau tersebut di tubuhnya. Merah pekat darah darinya merembes keluar hingga menetes diatas tanah. Dan vampire tidak bisa menghindar dari instingnya ketika mencium bau darah yang menyebar. Seketika itu pula perhatian vampire teralih kepada bau darah tersebut. Cukup waktu bagi Taha Aki mengambil kesempatan menyerang kembali vampire tersebut dan membunuhnya dalam sekali gigitan.
"Dia menyelamatkan suku." Billy menyudahi ceritanya.
Tanpa kusadari ternyata dari tadi aku menahan napasku. Aku menatap Bella yang tertunduk di samping Jacob. Sejejak raut penyesalan terlihat di wajahnya. Apakah Bella masih mencintai Edward sehingga dia menunjukan wajah penyesalan seperti itu?
"Walau aku tidak terlalu mengenal Edward seperti Bella tapi kau tahu Hinata bahwa kau sangat beruntung memiliki Edward," kata Seth pelan.
Perhatianku teralih pada Seth, "A-apa maksudmu Seth?"
Seth menunjuk Bella melalui ekor matanya, "Saat Edward masih bersama Bella, dia pergi menyelamatkan Bella seorang diri dari seorang vampire pemburu yang ingin memakan Bella walau dia tahu mungkin dia akan terbunuh dengan pergi seorang diri. Lalu setelah itu, saat Edward mendengar Bella meninggal karena tenggelam-walau itu salah paham- Edward sampai datang ke keluarga vampirenya agar dia dibunuh. Karena menurutnya eksistensinya tidak lagi berarti kalau tidak ada Bella didunia."
Napasku tercekat saat mendengar cerita Seth.
"Kemudian aku benar-benar salut pada Edward saat dia dengan rela melepaskan Bella untuk bersama Jacob. Menunjukan seberapa besar ketulusan dan pengorbanan yang bisa Edward lakukan untuk perempuan yang dicintainya. Jujur saja untuk ukuran seorang vampire Edward sangat manusia, bahkan ketulusannya mampu mengalahkan ukuran seorang manusia."
Aku menghela napas panjang, "Y-ya kau benar sekali Seth akan hal itu. A-aku yang terlalu beruntung bisa b-berada d-disampingnya."
Seth tertawa, "Menurutku malah Edward yang beruntung dapat berada disampingmu."
"A-apa maksudmu Seth?" tanyaku dengan nada heran.
"Kalau tidak ada kau disampingnya Edward tidak akan pernah selamat dari lubang hitam yang dia ciptakan seorang diri. Dia melepaskan Bella tanpa tahu kalau dia sendiri meninggalkan lubang hitam dia hatinya. Tetap berakting kalau aku baik-baik saja di depan semua orang padahal dia terluka begitu dalam." Seth menatapku dengan mata coklatnya. "Terlepas dari semua kesempurnaan yang Edward miliki, kau memiliki sesuatu yang membuat Edward lebih manusiawi. Jadi menurutku Edward lah yang beruntung mendapatkanmu."
"Kurasa untuk yang satu ini aku setuju dengan anak bodoh ini," kata Leah yang tiba-tiba berdiri dibelakang kami.
"Aku tidak bodoh Leah. Nilai sekolahku lebih bagus darimu yang selalu bolos," kata Seth protes.
"I don't care," kata Leah tidak peduli. "Kau mungkin tidak tahu tapi dulu perseteruan antara suku Quillete dan keluarga Cullen sangatlah memanas. Ditambah lagi saat itu Jacob dan Edward saling jatuh cinta pada Bella. Karena kedatanganmu, perang dingin yang telah terjadi selama beratus-ratus tahun mulai memudar. Kau menjadi penghubung benang peghubung yang sangat halus tetapi kuat."
Aku menatap Leah dan Seth bergantian. Lagi-lagi aku harus menatap pandangan itu, pandangan orang-orang seolah aku melakukan hal yang luar biasa. Padahal pada faktanya aku tidak pernah melakukan sesuatu yang berarti, baik itu untuk suku Quillete ataupun untuk keluarga Cullen. Karena pada dulu pun keberadaanku sangat tidak terlihat selama aku sekolah di Jepang. Peranku disana hanya sebagai tokoh pembantu dan tidak penah disorot menjadi seorang tokoh utama yang diperlukan untuk berbagai pihak. Sakura lah yang selalu jadi sorotan utama, dialah tokoh utama wanita. Yang disukai oleh siapa pun, terkenal, cantik, dan pintar. Sedangkan aku akan menjadi sahabat tokoh utama yang selalu menjadi bayangannya. Atau mungkin Bella, dia memiliki kecantikan yang eksotis, pintar dalam sekolah, dan dicintai semua orang. Tetapi Bella memang tokoh utama.
Sekarang saat aku pindah ke Forks, aku pun tidak tahu apakah aku pantas mendapatkan semua pandangan terima kasih dan pujian dari yang lain. Karena kalau boleh jujur, aku tidak bisa menyatakannya sebagai pekerjaanku karena aku tidak pernah melakukan apapun untuk yang lain. Aku merasa aku tidak pantas menerima itu semua.
.
.
.
Aku memasukan beberapa lagi bajuku kedalam koper ungu yang akan kubawa untuk pulang ke Jepang. Sekarang telah tanggal 23 Desember dan telah lewat beberapa hari dari malam api unggun. I have done make up my mind. Terlepas dari aku tokoh utama atau tidak yang terpenting adalah aku bisa bersama Edward dan melewatkan hari yang lebih banyak dengannya.
"Apa semua sudah beres Hinata?" tanya Edward yang tiba-tiba ada disampingku.
Aku langsung terlonjak kaget dan memegang dadaku yang berdetak keras, "K-kau membuatku kaget."
Edward tersenyum, "Sorry, aku tidak bermaksud mengagetkanmu. Aku sudah memanggilmu sebelumnya, mungkin kau tidak dengar."
"Y-ya mungkin saja aku tidak dengar."
"Jadi semua sudah dibawa?"
Aku mengangguk.
"Tidak ada lagi yang ketinggalan?"
Aku kembali mengangguk.
"Kau yakin?"
"Y-ya Edward. Semua sudah aku bawa."
"Kalau begitu mari kita berangkat," kata Edward yang langsung membawa koper besarku dengan satu tangannya.
Edward membuka pintu belakang mobil volvonya untuk memasukan koperku. Kukira dia tidak akan membawa mobilnya karena siapa yang akan membawanya kembali ke Forks setelah kami pergi ke Pork Angeles. Tapi sepertinya pertanyaanku harus ditunda beberapa saat terlebih dahulu karena Edward telah membukakan pintu mobilnya dengan senyum cemerlang di wajahnya.
Perjalanan menuju Pork Angeles kali ini terasa lebih pelan daripada perjalanan kami menuju rumah keluarga Cullen sebelumnya.
"K-kukira kau tidak akan membawa mobilmu Edward. S-siapa yang nanti akan membawanya kembali ke Forks?" tanyaku membuka percakapan.
Edward tertawa, "Kau tenang saja. Ketika kita telah berangkat dengan pesawat Alice dan Jasper akan membawa pulang mobilku ke Forks."
"Apakah tidak merepotkan mereka?"
Edward menatapku tidak percaya, "Tentu saja tidak Hinata. Malah mereka yang menawarkannya karena niat awalku membawamu ke Pork Angeles dengan cara tradisional alternatif."
Aku menggeleng cepat, "K-kurasa aku lebih memilih cara modern saat ini."
Edward tertawa mendengarnya.
"A-ah ya sesampai di Pork Angeles aku ingin mengenalkanmu pada Yamato-jiisan dan keluarganya. K-kalau kau berkenan."
Edward menatapku lama saat ini aku cemas bagaimana kalau tiba-tiba ada mobil lain saat dia menatapku seperti ini, "Kau tidak perlu merasa tidak enak lagi padaku Hinata. Tentunya aku merasa sangat senang sekali kalau kau ingin mengenalkanku pada orang-orang yang kau sayangi. Itu menunjukan kalau kau bisa menerima keberadaanku dan orang-orang tersebut dapat mengenalku."
Aku mengangguk, "M-maaf. Terima kasih Edward."
Edward tersenyum, "Apa Yamato itu keluargamu?"
"B-bukan. Dia salah satu orang kepercayaan Tou-san dan tinggal di Pork Angeles untuk menjalankan perusahan kecil milik keluarga Uchiha dan Hyuuga. Dialah yang mengantarkanku ke Forks dari Pork Angeles."
"Kau cukup dekat dengannya? Bagaimana dengan keluargamu di Jepang?"
"Cukup dekat karena aku sempat menginap di rumahnya selama beberapa hari sebelum kesini." Aku menatap Edward yang kosentrasi menatap ke depan. "Aku juga telah menghubungi keluargaku kalau aku akan datang membawa seorang tamu menginap dirumah."
Kali ini Edward menatapku dengan pandangan tidak percaya, "Lalu apa yang mereka katakan?" tanyanya hati-hati.
"Mereka setuju tentang hal itu."
"Apa kau tidak bilang kalau tamumu seorang pria?"
"Tentu saja aku bilang. Hanabi yang pertama kali menanyakan apakah a-aku membawa k-ke-kee.."
"Kekasihku," tambah Edward.
Aku menangguk dengan wajah merah, "Aku akan membawanya bersamaku ke Tokyo. Dan Tou-san dan Neji-nii menyetujuinya walau Neji-nii sempat tidak setuju."
"Padahal aku berniat untuk menginap di salah satu hotel didekat rumahmu saja. Aku tidak ingin masa liburanmu dengan keluargamu akan terganggu."
"K-kalau kau menginap di tempat lain u-untuk apa kau datang bersamaku ke Tokyo?" kataku pelan.
Edward tersenyum, "Selama aku bisa melihatmu itu sudah lebih dari cukup."
Wajahku kembali merona merah mendengar ucapan Edward. Setelah melewati perjalanan selama kurang lebih satu setengah jam menuju Pork Angeles, akhirnya kami tiba juga Pork Angeles airport. Aku berjalan menuju lobby utama bersama Edward yang berjalan disamping dengan membawa tas koperku yang berukuran lebih besar dan aku membawa tas koper sederhananya berwarna coklat. Tas miliknya benar-benar ringan, seperti Edward tidak membawa apapun di dalam tasnya.
Setiap kami melangkah semua mata tertuju pada kami, tepatnya tertuju pada Edward terutama para gadis-gadis disana yang menatapnya dengan penuh kagum. Aku menggengam erat tali tas kecil berwarna ungu yang kubawa. Perasaan rendah diri lagi-lagi melandaku saat membandingkan dengan gadis-gadis lain yang tadi memandang Edward. Edward yang sepertinya menatapku yang gelisah menarik tanganku dan menggengamnya dengan tangannya yang bebas. Saat aku memandangnya, dia tersenyum padaku dengan deretan gigi putihnya yang mempesona.
Didepan lobby keberangkatan aku melihat Yamato-jiisan dan keluarganya telah tiba disana. Gadis kecil berambut pirang lurus dengan mata hitam melambaikan tangannya kearahku. Dapat kukenali itu adalah Clara, anak pertama Yamato-jiisan. Dan perempuan cantik disebelahnya yang tengah hamil sekitar 5 bulan adalah Claire, istri Yamato-jiisan yang sangat pandai memasak Cinnamon Roll kesukaanku.
Claire datang memelukku, "How are you?"
Aku tersenyum, "I am fine. What about you?"
"Me too. Apa kau tau bagaimana hebohnya Clara saat mengetahui kalau kau akan datang ke Pork Angeles?"
Aku tertawa lalu menunduk melihat Claire yang tersenyum lebar memperlihatkan gigi depannya yang tanggal sambil memeluk boneka beruang yang dulu kuberikan padanya. Aku mengelus puncak kepalanya.
"Apa kabarmu Claire? Apa kau merindukanku?"
Claire mengangguk dengan semangat, "Ya Hinata. Aku selalu menunggu kapan kau akan datang kemari."
"Maafkan aku. Aku mendapatkan banyak tugas sekolah selama di Forks. Nanti kalau ada waktu aku akan lebih sering berkunjung kesini."
"Aku akan senang kalau lebih sering berkunjung kesini." Mata besar Claire menatap sesuatu di belakangku. "Hinata apa kau menemukan seorang pangeran di Forks?"
Aku menatapnya bingung baru kemudian aku menyadari kalau aku belum mengenalkan Edward pada yang lain.
"A-ah ya aku sampai lupa. Perkenalkan dia Edward Cullen."
Edward maju menjabat tangan Yamato-jiisan dan Claire sambil memperkenalkan dirinya. Saat kemudian Clara telah maju memeluk Edward dan tertawa senang saat Edward memujinya.
"Sepertinya baru kemarin aku membawamu ke Forks dan sekarang kau telah memperkenalkan kekasihmu pada kami Hinata," kata Yamato-jiisan dengan nada canda.
Aku melihat Edward tertawa mendengarnya sedangkan wajahku memerah. Kami mengobrol beberapa saat sampai akhirnya pengeras suara mengumumkan agar kami segera check in dan bersiap-siap untuk lepas landas. Aku dan Edward berpamitan dengan rengekan tidak ikhlas dari Clara. Setelah berjanji akan datang mengunjunginya setelah kami tiba kembali dari Jepang, Clara menjadi lebih tenang dan menagih olee-olehnya nanti.
Setelah check in dan segala keperluan untu keberangkatan kami duduk berdampingan di ruang tunggu dengan tangan Edward dinginnya yang menggenggam erat tanganku. Wangi tubuhnya dapat kurasakan begitu dekat.
"Mari kita berangkat," kata Edward pelan ketika pengeras suara mengumumkan panggilan untuk lepas landas.
Aku tersenyum dan mengangguk. Saat masuk pesawat tangan Edward masih setia menggegam tanganku. Seakan tidak menyadari kalau ada pramugari berambut pirang selalu mengerlingkan matanya pada Edward setiap 2 menit sekali.
"Ada apa Hinata?" tanyanya saat aku bergantian menatapnya dan pramugari tadi.
"T-tidak apa-apa. Hanya saja aku baru menyadari kalau k-kau sangat bersinar."
Edward menatapku bingung, "Maksudmu?"
"Y-ya, dimana pun kau melangkah setiap orang pasti akan memperhatikanmu. Contohnya s-saja pramugari berambut pirang itu." Aku menunjuk kearah pramugari yang tengah tersenyum manis saat Edward menatapnya. "Dia selalu menatapmu setiap dua menit sekali."
Edward tertawa lalu tangannya yang semula hanya menggengam tanganku berganti menjadi merangkul pundakku dan menarikku mendekat. Dia mengecup puncak kepalaku pelan.
"Lalu kenapa Hinata? Aku memiliki kekasih di sisiku yang jauh lebih cantik dari wanita manapun."
Kalau sudah seperti ini aku hanya bisa tersenyum kecil dengan rona merah di wajahku. Selama penerbangan menuju Tokyo, tangan dingin Edward selalu merangkulku. Membuatku merasa aman dan terlindungi.
.
.
.
To Be Continue..
.
.
.
A/N: Akhirnya Moonlight chap 6 selesai dibuat. Moodku lagi bagus saat mengetik fic ini. Setelah aku mengetahui kabar kalau Kristen Stewart selingkuh dengan sutradara Snow White dan putus dengan Robert Pattison, aku sempat bergembira. Tapi harus menelan kenyataan pahit lagi kalau ternyata Robert masih mau aja balikan sama Kristen. Haa... sungguh disayangkan. Ckckck..
Terima kasih yang masih setia menunggu update fic ini, serta bagi semua yang telah mereview dan membaca fic ini. Harm hugs for you..
Mind to review again?
