"Kenapa kau bisa berkata begitu?" Taehyung mengerutkan keningnya, menatap Soonyoung dengan heran. "Bukankah kau tidak dekat dengannya?"

Lawan bicaranya sama sekali tidak melepaskan pandangan dari bukunya, namun indera pendengarannya mendengar dengan jelas ucapannya. "Bukankah akan lebih mudah bagiku untuk mengamati jika aku tidak dekat dengannya?"

Taehyung mengerutkan keningnya. "Dan mengapa kau memberitahukan hasil pengamatanmu tentang Jeonghan kepadaku?"

Kali ini, Soonyoung mengalihkan pandangan dari bukunya dan menatap Taehyung. "Karena aku juga mengamatimu, dan aku tahu kau orang yang baik. Dan semua orang baik tidak layak memiliki parasit seperti Jeonghan dalam hidupnya."

.

.

Sang Matahari

Chapter 5

Author: wonhaevanevane

Main casts: Taehyung x Jeongguk

Genre: Drama, Hurt/Comfort

Rate: T

Note: Cerita ini muncul merupakan sebagian curahan hati, sebagian kisah nyata, sebagian pandangan, sebagian impian, dan sebagian imajinasi, yang muncul akibat percakapan saya dengan salah satu teman saya. Ingat, sebagian imajinasi. Jadi cerita ini tidak 100% terjadi.

.

.

Taehyung menghela nafas. Hari ini mereka mendapat tugas lagi dari klub sastra yang dikerjakan berdua-dua. Kabar buruknya adalah pasangan untuk tugas ini dipilihkan. Tidak begitu buruk sebenarnya bagi Taehyung, karena ia bersama Jihoon, mahasiswa jurusan seni yang berada satu tingkat di bawahnya. Permasalahan terbesarnya adalah karena Jeongguk bersama Jeonghan.

Taehyung tahu Jeongguk sangat tidak nyaman berdekatan dengan Jeonghan. Namun, ketika Taehyung hampir meminta kepada guru mereka untuk menukar pasangan mereka, Jeongguk menahannya sambil terkekeh.

"Astaga, hyung, aku bisa dikira anak manja hanya karena ini. Mungkin aku hanya perlu beradaptasi," Jeongguk berusaha menenangkan, dan tentu saja itu tidak membantu. Taehyung tahu Jeonghan akan melakukan segala cara untuk mewujudkan keinginannya, dan mengingat kesinisan Jeonghan pada hubungan Jeongguk dan Taehyung membuat Taehyung yakin Jeonghan akan membuat Jeongguk tidak akan merasa nyaman.

"Berhenti berpikir yang macam-macam, hyung. Kau mengerutkan dahimu terlalu dalam," gumaman Jeongguk membuyarkan lamunan Taehyung dan pemuda itu menghela nafas. "Kau benar-benar perlu menyelesaikan ini dengannya, hyung. Temui dia, dan bicarakan ini dengan baik-baik."

.

.

"Apa ada buku yang kau rekomendasikan, hyung?" tanya Jihoon, membuat Taehyung berpikir sejenak. Saat ini mereka berdua sedang berada di perpustakaan untuk mengerjakan tugas analisis mereka. Mereka memiliki waktu satu bulan sampai tugas itu dikumpul, dan kebetulan di hari Jumat mereka memiliki waktu kosong di saat yang bersamaan untuk mengerjakannya.

"Bagaimana kalau Oliver Twist? Atau kau lebih suka Ivanhoe?" tanya Taehyung, menunjukkan sampul belakang kedua buku di tangannya yang berisi sinopsis.

"Oliver Twist terlihat lebih mudah," gumam Jihoon sambil meraih buku di tangan kiri Taehyung lalu mulai membaca bagian pertamanya.

"Ngomong-ngomong, kelihatannya mendadak Jeonghan menjauh darimu, ya?" tanya Jihoon tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya, membuat Taehyung menatapnya penasaran.

"Kupikir kau tidak akan peduli dengan hal-hal semacam itu?" bukannya Taehyung kejam, tapi Jihoon memang selalu menyendiri dan tidak pernah terlihat peduli dengan keadaan di sekitarnya.

"Ada saatnya aku pernah peduli," balas Jihoon. "Jadi, apa aku benar?"

"Seperti yang bisa kau lihat sendiri," Taehyung mengangkat bahu. "Kenapa mendadak kau ingin tahu?"

"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengklarifikasi," Jihoon tersenyum tipis. "Aku yakin kau ingin bicara dengannya dan menyelesaikan masalah kalian. Tapi kalau aku boleh menyarankan, jangan sampai ketika kau berbaikan dengan Jeonghan, kau malah meninggalkan Jeongguk."

"Kenapa kau memberitahu ini kepadaku?"

"Akan kuberitahu kau satu rahasia yang tidak mungkin kau dengar dari mulut orang lain selain aku," Jihoon menatap Taehyung serius, membuat Taehyung merasa bahwa apapun yang akan dikatakannya adalah sesuatu yang mengejutkan.

"Soonyoung adalah sahabat terbaikku sebelum Jeonghan datang dan membuatku memilihnya.," Jihoon tersenyum miris. "Dan kau lihat aku sekarang. Cukup aku yang menyesal sedalam ini, jangan sampai kau juga. Jeonghan adalah burung liar yang selalu terbang bebas. Ia tidak akan pernah menetap di sangkar mana pun untuk waktu yang lama."

.

.

Ucapan Jihoon terngiang-ngiang di benak Taehyung sampai saat ini. Jam pulang sudah lewat sedari tadi, namun Taehyung masih duduk tenang di perpustakaan, membiarkan pikirannya berkelana.

Soonyoung dan Jihoon? Sulit dipercaya. Namun semuanya menjadi masuk akal mengingat Soonyoung memperingatinya tentang Jeonghan.

"Hey," Taehyung menoleh begitu merasakan tepukan di pundaknya. Benar-benar panjang umur. Baru saja ia memikirkan Jeonghan, orang itu sudah muncul di hadapannya. "Akhirnya aku bisa bicara berdua saja denganmu. Sulit, ya, menemukanmu saat kau tidak sedang bersama Jeongguk."

Apakah Jeonghan memang sedang menguji kesabarannya? Bahkan orang bodoh pun bisa menyadari nada sindiran yang diselipkannya.

"Sejujurnya aku bingung denganmu," Taehyung menghela nafas. "Kau bertingkah seolah-olah Jeongguk adalah antagonisnya di sini. Padahal kita semua tahu kau akhir-akhir ini selalu bersama Seungcheol. Atau Jisoo? Yah, kedua orang itu intinya."

Jeonghan menatap Taehyung lalu tersenyum tipis. "Bukankah Jeon Jeongguk memang begitu beruntung?"

Taehyung mengerutkan kening, namun tidak memberikan komentar apapun.

"Dia tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menemukanmu yang tulus padanya, sementara aku butuh bertahun-tahun untuk menemukanmu yang bisa melengkapi semua kekuranganku. Dan pada akhirnya kau juga lebih memilih dia," Jeonghan mengangkat bahu.

Taehyung menyipitkan matanya. Hell, jangan dikira dia akan tersentuh. Dia tahu Jeonghan sedang menyindir dirinya.

"Berhenti menyalahkan semua orang seolah kau adalah korban, Jeonghan-ah," ujar Taehyung. "Kau yang meninggalkan teman-temanmu—Seungcheol, Jihoon, dan mungkin masih ada yang lain yang tidak kuketahui. Kau juga yang mendadak menjauhiku. Bukankah kau perlu bercermin terlebih dahulu sebelum kau menyalahkan orang lain?"

Jeonghan terhenyak. Sejujurnya dia tidak menyangka akan menerima balasan seperti ini dari Taehyung. Dia pikir Taehyung akan bersikap lunak.

"Sekarang kulihat kau sedang dekat dengan Jisoo. Jangan perlakukan dia sebagaimana kau memperlakukan teman-temanmu sebelumnya."

Dengan kalimat itu, Taehyung keluar dari perpustakaan.

.

.

"Kau sudah berbaikan dengan Jeonghan-hyung?" bisik Jeongguk. Saat ini para anggota klub sastra sedang menunggu giliran untuk mempresentasikan tugas analisis mereka dan Jeongguk terperangah ketika melihat Taehyung melafalkan 'good luck' tanpa suara ke Jeonghan yang sedang bersiap untuk presentasi. Dan Jeongguk lebih terkejut lagi ketika pemuda berambut panjang itu membalasnya dengan ucapan terima kasih tanpa suara.

Taehyung menoleh dan terlihat berpikir sejenak. "Yah, begitulah. Tidak bisa dibilang berbaikan juga sebenarnya, tapi anggap saja seperti itu."

Dan Jeongguk tersenyum lega setelahnya.

.

.

Taehyung dan Soonyoung masih tertawa bahkan setelah pertemuan klub berakhir. Saat sedang mempresentasikan hasil analisis mereka tadi, ada salah satu anggota klub yang secara tidak sengaja menyatakan perasaannya kepada seseorang yang disukainya di kelas itu. Kelihatannya ia begitu mendalami presentasinya sampai-sampai ia tidak sadar bahwa ia sudah mengungkapkan perasaannya—yang pada akhirnya ditolak. Sayangnya Song-seonsaengnim tidak terlihat senang dengan drama mendadak itu dan ia memberi anak itu hukuman untuk memandangi foto orang yang disukainya itu sampai bel pulang berbunyi.

"Astaga, aku jadi tidak enak padanya karena tidak bisa berhenti tertawa, tapi itu benar-benar lucu," Soonyoung masih terbahak sampai matanya menyipit, tidak menyadari bahwa ada seseorang yang menghampiri dirinya dan Taehyung.

"Ah, hyung, terima kasih banyak atas kerjasamanya selama persiapan," begitu Soonyoung sadar yang menghampiri mereka adalah Jihoon, wajahnya langsung kembali datar dan tatapannya menjadi sinis.

"Aku juga berterima kasih karena kau benar-benar kooperatif, padahal kita hampir tidak pernah bicara sebelum ini," Taehyung tersenyum. "Omong-omong, sepertinya kau punya hal yang harus dibicarakan dengan Soonyoung, benar? Kalau begitu, aku pergi dulu," Taehyung melambaikan tangannya, namun tangan Soonyoung mencengkram lengannya.

"Apa-apaan—"

"Selesaikan sekarang, oke?" Taehyung berbisik, memotong ucapan Soonyoung, lalu melepas cengkraman Soonyoung dan keluar dari kelas.

Setidaknya ia tahu, masalah Soonyoung dan Jihoon pasti akan terselesaikan setelah ini.

.

.

Taehyung menyandarkan tubuhnya ke tembok lalu memejamkan mata, memutar kembali ingatannya tentang segala hal yang terjadi akhir-akhir ini.

"Hyung," tepukan lembut di pundaknya membuatnya membuka mata dan menoleh. Si pelaku, Jeongguk, tersenyum tanpa rasa bersalah karena sudah mengganggu ketenangan hyung-nya, lalu ikut duduk di sebelah Taehyung.

"Kau sudah tidak apa-apa setelah semua itu?"

Pertanyaan Jeongguk membuat Taehyung terdiam dan berpikir. Hidup Taehyung kembali berjalan seperti semula—kuliah, klub sastra, hang out dengan teman-teman. Seokjin, Yoongi, dan Jimin juga terkadang masih mencibir jika Taehyung sedang bersama Jeongguk, meskipun sekarang tujuan mereka hanya merupakan candaan. Lagipula hidupnya tidak akan tiba-tiba berubah menjadi sempurna begitu saja, bukan?

Tapi kini setidaknya dia punya seseorang yang benar-benar bisa dipercayainya.

Taehyung menatap Jeongguk sambil tersenyum dan mengangguk. Hari-hari itu sudah mengajarkan Taehyung banyak hal, dan ia tidak pernah sedikitpun menyesali kejadian itu. Masih banyak hal yang tidak terungkap, dan Taehyung akan tetap membiarkannya menjadi rahasia. Beberapa hal memang lebih baik disimpan sampai waktu sendiri yang menguaknya.

Taehyung menghela nafas lalu tersenyum. Masalah tentu akan datang silih berganti, namun untuk saat ini, setidaknya ia bisa merasakan hidupnya benar-benar baik-baik saja.

.

fine

a/n:

YAK MAAF KARENA AKU LENYAP SETELAH SEKIAN LAMA

Aku benar-benar sibuk, bahkan ini aku selesaikan di tengah UAS._.

Terima kasih banyak yang sudah membaca, me-review, mem-favorite, dan mem-follow cerita ini

Aku sayang kalian!

Setelah ini ada semacam "epilog" (pendek banget btw, jangan terlalu banyak berharap) dari sudut pandangnya Jungkook, semacam flashback ke waktu mereka diem-dieman itu.

Oke, satu lagi, boleh minta pendapat dan saran di kolom review? *wink ala Park Jihoon*

-hyerin