Disclaimer: PS Company, Under Records
Fandom [s]: the GazettE
Pairing [s]: AoixOC, and maybe some 'BL'
Warning: OOC (of course), typo [s], a little bit Boys Love. If you don't want that, please click 'back' button 'cause I don't want hear/see any FLAMES~ n_nv
Enjoy!
SMA Peace Smile, X-1
Uruha tampak berbicara dengan beberapa siswi di sana. Beberapa saat kemudian ia menganggup mengerti dan meninggalkan kelas itu.
"Bagaimana?" tanya Nao.
"Kai-kun absen dari kemarin. Begitu juga dengan Sakura-chan." Jawab Uruha.
"Jadi karena itu aku tidak melihat mereka dua hari ini…" ucap Kai.
"Apa Aoi juga belum masuk?" kali ini Reita yang bertanya.
"Belum. Tapi kudengar dari Meev-sensei ia izin keluar negri." Jawab Saga.
"UAPAA?"
"Yah, bagaimana pun Aoi itu anak konglomerat. Ayahnya direktur model agency di New York." Balas Saga.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Shou.
"Ayahku partner Ayah Aoi." Jawab Saga enteng.
"Mana 'pon dan Tora?" tanya Nao khawatir.
"Mereka kerumah Sakura."
-Sakura's Apato-
.
.
Tampak Hiroto dan Tora menyusuri lorong lantai dua sambil membawa secari kertas. Mereka bertanya kepada Miku yang kebetulan lewat.
"Etto, anda mengenal anak ini?" tanya Hiroto.
"AH! Sakura-chan ya? Kalian siapanya?"
"Kami dari OSIS. Sakura adalah anggota OSIS yang juga adik kelas kami. Jadi kami ingin memberitahu beberapa hal yang ia tinggalkan di OSIS ketika ia tidak masuk kemarin." Jawab Tora lancar.
"Ah… Maaf, tapi Sakura sudah pergi tadi siang. Ia buru-buru ke airport bersama dengan teman sekelasnya." Ucap Miku mengingat-inga.
"EH?"
"K, ke airport?"
"Teman? Sekelas?" tanya Hiroto dan Tora beruntun.
"Ya. Laki-laki! Tinggi, manis, kulitnya putih, dan ia memiliki lesung pipit." Jawab Miku. Hiroto dan Tora saling pandang.
"KAI!"
==x==
Tempat ini sangat ramai. Terutama pada saat liburan. Banyak orang berlalu-lalang. Ada yang orang lokal, maupun turis. Tempat ini seperti terminal pesawat. Yup, tempat ini adalah airport. Sakura dan Kai tengah duduk di sebuah café yang terlihat cukup mewah.
"…..." Sakura masih terdiam sambil memainkan hot-latte yang ia pesan.
"Sakura..… Sumimasen…..." ucap Kai lirih. Ekspersi Sakura masih datar. Ia menatap Kai dengan pandangan 'kenapa?'
"Sakura...… Aku janji akan menjelaskannya nanti setelah kita sampai di sana…" kata Kai.
"Aku butuh penjelasannya sekarang Kai...… Aku tidak tahu apapun..…. Aku seperti orang bodoh!" seru Sakura sedih. Kai meraih kedua pipi Sakura. Ia menempelkan dahinya ke dahi Sakura.
"Maafkan aku Sakura….. Aku akan memberitahu segalanya nanti di Italia. Tapi untuk sekarang aku tidak bisa memberikannya detail-nya…..." Balas Kai penuh penyesalan. Sakura mengangguk pelan.
"Janji?" tanya Sakura akhirnya. Ia mengangkat kelingkingnya. Kai tersenyum menampakan lesung pipitnya membuat pemuda itu tampak sangat manis.
"Ayo Sakura!" Ajak Kai sambil melihat jam tangannya. Sakura hanya mengangguk dan menenteng tas ransel-nya.
.
.
.
Aoi's POV
.
Aku duduk sendirian, menunggu jam berangkatku. Aku tidak membawa banyak barang. Hanya tas kecil yang tidak perlu masuk bagasi. BOSAN! Sungguh yang namanya menunggu itu membosankan! Andaikan Sakura di sini…
Sakura..…
Apa yang bisa kulakukan untuknya?... Aoi….. Kau begitu bodohhhh!
Aku terus memikirkan Sakura hingga mataku tertumbuk pada dua sosok yang terlihat err, mesra? Kuperhatikan kedua pasangan yang duduk di café mewah itu. mirip dengan dua orang yang kukenal. Aneh. Aku tertarik untuk melihat keduanya. Si perempuan terlihat murung..… Ia... Mengingatkanku pada bocah itu.
"Ayo Sakura!" seru si pemuda.
Tunggu dulu, dia bilang SAKURA? Anak yang dari tadi kuperhatikan, anak yang tadi terlihat MESRA dengan pemuda di sebelahnya? Tunggu dulu. Aku kenal pemuda itu.
"Kai?" panggilku pada kedua orang itu. keduanya menoleh dan terlihat terkejut.
"A, Aoi-senpai?" tanya Kai tidak percaya. Sedangkan gadis di sebelahnya hanya tertunduk dan bersembunyi di balik badan Kai.
"Sedang apa kalian di sini?" tanyaku ketus. Aku sendiri tidak tahu kenapa nadaku jadi begini. Cemburukah aku?
"Bagaimana ya menjelaskannya..…" jawab Kai sambil menggaruk kepalanya.
"Ayahku masih hidup dan sekarang masih di Italia. Beliau ingin aku ke sana hari ini juga. Jadi siang ini tepat pukul dua kami akan meninggalkan Jepang selama dua hari." Urai Sakura lengkap.
Aku terbelalak. Apa? Ayah bocah ini masih hidup? Bukankah dia bilang dia sudah tidak punya siapapun lagi?
"Oh, begitukah?..."
"Ya..… Dan senpai jangan salah paham..… Kai adalah..… Kakak tiriku."
"APA?" tanyaku tak percaya.
"Ceritanya panjang senpai. Lagipula Sakura sendiri belum kuberitahu soal ini. Detailnya..." balas Kai.
Oh great, entah apa yang aku rasakan.. Kenapa aku jadi semakin kesal sih?... Apa yang dikatakan Jui-san waktu itu ada benarnya ya?...
"Senpai sendiri mau kemana?" tanya Kai ramah.
"Aku akan pulang ke New York selama dua hari." Jawabku seadanya.
Tiba-tiba kami mendengar panggilan untuk calon penumpang pesawat menuju Italia. Mereka berdua pamit dan pergi. Tapi entah aku melihatnya atau aku salah lihat, mata Sakura seolah sedih dan tidak ingin berpisah...
End of Aoi's POV
.
.
.
Few Hours Later...
.
.
-New York, Aoi's parents apartment-
Seorang wanita paruh baya membawakan secangkir cokelat yang ditaruh di atas nampan tradisional Jepang. Rambutnya digerai halus se punggung. Matanya penuh akan kelembutan. Ia menghampiri Aoi yang masih termenung di kamarnya.
"Yuu-chan?" panggil sang Ibu. Aoi tersentak dan menatap Ibunya dengan pandangan teduh.
"Halo Kaa-san." Balas Aoi sambil tersenyum hangat. Shiroyama Sayaka mendekat ke putra sulungnya dan menaruh nampan di meja dekat kasur. Sayaka langsung memeluk Aoi penuh sayang.
"Okaeri." Ucap wanita paruh baya itu. Aoi terdiam.
"Tadaima." Balas Aoi.
"Yuu-kun, Kaa-san minta maaf. Kaa-san tidak bisa menentang permintaan Ayahmu."
"Daijobu. Aku akan bicara sendiri pada Ayah." Ucap Aoi sambil berdiri.
"Y, Yuu? Kau mau kemana?" tanya Ibunya khawatir.
"Ada orang yang kucintai di luar sana, dan aku ingin mempertahankannya. Meski aku tidak tahu apakah ia memiliki perasaan yang sama denganku, aku ingin mencoba menjadikannya milikku! Aku akan bicara pada Ayah sekarang. Aku tidak punya banyak waktu." Tutur Aoi tegas.
Sang Ibu hanya dapat membiarkan putranya itu pergi keluar kamar menuju kamar Ayahnya.
.
.
.
-Venice, Italy. Kai's home-
.
.
.
"benvenuti a casa mia figlia!(1)" seru sang Ayah, Timotheo Adeleine. Timotheo memeluk erat putrinya yang telah terpisah darinya selama lebih dari 7 tahun.
"Sono a casa papà(2)." Balas Sakura rendah.
"Bahasa Italia-mu masih bagus dear." Komentar Ayahnya.
"Ya."
"Papa, bisa kita ke intinya?" tanya Kai.
Ketiga orang itu terdiam. Timotheo menyuruh dua orang maid untuk meletakkan barang mereka ke kamar yang tersedia. Sementara Timotheo, Sakura, dan Kai berjalan menuju ruang keluarga. Ketiganya terdiam sampai Sakura membuka pembicaraan.
"Jadi? Bisa jelaskan apa yang terjadi?" tanya Sakura menuntut penjelasan.
"Papa-"
"Biar aku saja yang bercerita!" potong Kai. Sakura mengangguk tanda setuju.
"Tujuh tahun yang lalu, tepat kenakaran itu terjadi, Ayah dan Ibumu selamat dalam kecelakaan itu. Tetapi waktu itu keduanya koma. Dan karena jasad mereka tidak ditemukan beberapa orang mengatakan mereka hilang, dan beberapa orang lagi berkata mereka sudah menjadi abu tak bersisa.
Ibumu kritis dan mengalami koma, begitu juga dengan Papa. Tapi Papa sadar enam bulan sejak kejadian itu dan Ibumu telah meninggal beberapa minggu sebelum Papa sadar. Papa tidak tahu harus kemana mencarimu. Akhirnya dari mulut seorang dokter bedah, Papa baru tahu Lily sudah meninggal dan Bibi Bellamy mengirimmu ke panti asuhan kenalannya di Jepang. Papa ingin memperbaiki hidup. Akhirnya Papa bertemu dengan Ibuku yang kebetulan sedang bekerja di Venice. Aku setuju kalau mereka menikah karena Ibuku juga sangat kesepian sejak ditinggal Ayah kandungku bercerai." Tutur Kai.
Sakura terdiam dan meremas ujung kausnya. Semua informasi ini sangat susah untuk dicerna olehnya.
"Maafkan papa Sakura.. Papa sudah berusaha mencarimu tapi tidak pernah menemukanmu..." ucap Timotheo.
"Kau butuh waktu?" tawar Kai.
"Iya. Aku ingin memikirkan semua ini sendirian. Aku juga lelah. Aku ingin beristirahat." Balas Sakura lemah. Kai berdiri dan menuntun Sakura menuju kamar barunya.
==x==
"Kai?" panggil Sakura.
"Ya Sakura-chan?" balas Kai sambil membukakan pintu kamar Sakura.
"Kenapa kau pergi ke Jepang dan menemuiku? Bahkan berusaha untuk sekelas denganku." Tanya Sakura. Kai tersenyum lembut dan merangkul adiknya.
"Karena Ayah yang menyuruhku untuk mencarimu. Dan... Aku sendiri ingin tahu seperti apa wajah putri dari orang yang pernah dicintai Ayah." Jawab Kai tulus. Sakura tersenyum hangat.
"Father complex." Komentar Sakura bercanda.
"A, Aku bukan father complex!" seru Kai tidak terima.
"Ahahaha! Maaf-maaf! Habis menyenangkan untuk menggodamu!" balas Sakura ceria. Kai tersenyum dan mengacak rambut Sakura.
"Syukurlah kau bisa kembali tertawa." Ucap Kai.
"Nee, Kai-niichan. Dimana Ibumu? Aku penasaran." Tanya Sakura.
"Maksudmu Ibu KITA?"
"Iya. Ibu KITA."
"Beliau sudah tidur Sakura. Ibuku tubuhnya lemah sejak terkena leukimia." Ucap Kai dengan pandangan sedih.
"A, ah... Maaf..."
"Tidak apa-apa! Kau bisa menemuinya besok!"
"Okay. Buona Notte(3) Kai."
"Buona Notte Sakura."
-Back to Aoi-
Aoi sudah berdiri di depan pintu ebonyyang membatasi dirinya dan Ayahnya. Aoi mengetuk pintu 3 kali dan mendapati suara berat khas milik Ayahnya mengizinkannya masuk.
"Tou-san." Panggilnya.
"Aoi. Perkenalkan.."
"EH?" tanya Aoi tidak percaya.
Ayahnya keluar dari beranda menuju satu set kursi tamu yang berada di ruangan itu. Seorang perempuan berumur 15 tahun duduk manis di salah satu kursinya. Wajahnya cantik tetapi licik. Seperti itulah asumsi Aoi.
"Kallen. Dia adalah orang yang akan bertunangan denganmu besok." Jelas pria itu.
Suara Aoi tercekat. Ia hanya menatap tidak percaya kepada Ayah dan wanita muda itu.
"J, jangan bercanda." Ucap Aoi pelan...
==TBC==
(1)Welcome home, my daughter!
(2)I'm home papa
(3)Good Night
