Halooooooooooooooooo!
Yume balik lagi dengan penuh semangat jiwa muda(?) karena baru saja selesai mid-test di kampus. Walaupun sebenarnya yang selalu bikin Yume pusing bukan masalah mid *Yume gak pusing sama mid, karena emang Yume gak bisa belajar, padahal Yume bukan orang pintar juga. Yang pasti nilai pengantar akuntansi Yume udah dipastikan ERROR/bangga?/*
#geplaked#
Tapi yang bikin Yume pusing adalah para senior di kampus Yume yang super gila hormat, dan sok senior. Pokoknya nyebellin banget deh! Super nyebellin!
Saking nyebellinnya, Yume sempat bertengkar satu lawan satu ma senior ceweknya, and dicegat ma lebih dari 5 senior cowok. Untungnya senior cowoknya gak bermaksud nyakitin Yume, tapi Cuma bermaksud maksa Yume ikut bina akrab illegal yang mau mereka adain sambil ngancam pake sertifikat ospek!
Hadoh, kalau mau diandaikan, waktu itu Yume udah ada di pinggir jurang sakit takutnya, sebenarnya bukan takut, Cuma agak gentar *readers:sama aja!* tapi Alhamdulillah, dengan sedikit keberanian Yume berhasil melawan mereka.
Dan you know what?
BINA AKRAB MEREKA KAGAK JADI! WKWKWKWKWKWK
TEMEN-TEMEN YUME GAK ADA YANG PERGI!
Tapi sampai sekarang mereka masih ngedeketin Yume juga. Gak tau kenapa, padahal temen-temen yang lain gak dideketin. Untung Yume dekat ma senior yang mereka takutin. Hahahahahahahahahaha
Oke, cukup sekian curhatnya…
This is it….
Naruto by Masashi Kishimoto
A Mysterious Blondie by YumeYume-chan
Chapter 5
His Past
"Jangan. Berpura-pura. Di. Hadapanku," desis Sasuke marah.
"Eh?"
Sasuke mencengkram kerah baju Naruto, "Siapa yang membuatmu jadi begini?"
"Bukan siapa-siapa," kata Naruto dengan nada dingin. Ia tidak lagi berpura-pura ceria di depan Sasuke. Toh, dia sudah ketahuan.
Sasuke mencengkram baju Naruto semakin intens, "jadi aniki yang melakukannya? Dia mengancammu dengan apa? Gadis Yamanaka itu?"
"Lepaskan aku. Sudah aku bilang tidak ada yang mengancamku," desis Naruto tajam.
Buak!
Sasuke meninju Naruto tepat di perutnya hingga Naruto tersungkur jatuh. "Brengsek kau Uchiha!" seru Naruto, ia langsung bangun dan segera menerjang Sasuke balas meninju wajahnya.
"Apa kau lupa kau juga seorang Uchiha? Baka dobe!" kata Sasuke dengan seringai setan di bibirnya.
Naruto menatap Sasuke tidak suka, "cih, aku benci mengakuinya. Kalau begitu kalimatku aku ganti, teme brengsek!"
Sasuke segera maju dan melayangkan tinju ke arah ulu hati Naruto namun Naruto segera menghindar dengan menekuk lututnya dan badannya ia jatuhkan ke belakang, sehingga dia meluncur mulus di atas lantai. Namun saat ia bangun kembali, Sasuke sudah siap menyarangkan satu pukulan ditengkuknya membuatnya langsung terjatuh pusing. Sasuke memukulnya di bagian otak kecil yang menyebabkan kesadaran dan keseimbangannya berkurang, namun tidak sampai membuatnya pingsan.
"Seperti tadi," kata Sasuke sambil menarik kerah Naruto agar mata Naruto bertemu pandang dengannya. "Apa kau tidak mengerti juga? Yang kuinginkan darimu adalah kau melihatku seperti tadi! Menganggapku ada meski dengan kebencian, menatapku langsung meski penuh amarah! Aku ingin kau melihatku, dobe! Apa kau tidak mengerti? Lihat aku dan akui keberadaanku!"
"…."
"Tak apa meski kau melihatku dengan kebencian, asal aku tahu kau menganggapku ada itu sudah cukup. Tidak seperti kemarin, aku bahkan tidak bisa melihat diriku sendiri di matamu. Apa kau tidak mengerti juga?" kata Sasuke dengan suara pelan dan datar. Sedangkan Naruto hanya diam, menolak untuk melihat Sasuke, namun sulit karena Sasuke terus menatapnya.
Sasuke menatap Naruto yang terus membisu dengan sirat mata terluka, "di New York, perceraian hanya bisa dilakukan setelah menikah minimal selama setahun. Delapan bulan lagi kita akan kembali ke sana, dan kau akan segera menyandang nama Uzumaki lagi." Setelah mengatakan hal itu, Sasuke langsung meninggalkan Naruto.
Pagi harinya…
"Otouto, ada apa dengan wajahmu?" tanya Itachi saat Sasuke menginjakkan kaki di ruang kerjanya.
Sasuke hanya diam sampai ia duduk di hadapan Itachi, "semalam aku terlibat adu pukul di pub."
"Aku rasa sebaiknya kau segera ke dokter, otouto. Lagi pula kenapa kau sering sekali ke klub malam, bukankah Naruto menunggumu di rumah?" tanya Itachi.
"Aku akan melepaskannya," kata Sasuke singkat.
Itachi mengernyit mendengar ucapan Sasuke, "apa yang dia lakukan?"
"Aku hanya bosan padanya," jawab Sasuke.
Itachi tersenyum mendengar jawaban Sasuke, "jangan beralasan otouto. Aku mengenalmu, kalau hanya untuk kau jadikan mainan sesaat, kau tidak mungkin sampai merepotkan diri untuk menikahinya. Apa yang terjadi?"
"Apa yang aniki katakan pada Naruto, itulah penyebabnya."
"Maksudmu dia mengatakan sesuatu padamu?" tanya Itachi.
Sasuke menatap Itachi tajam, "aku mengenalmu sama seperti kau mengenalku aniki. Dia tidak perlu bicara untuk membuatku mengerti apa yang terjadi saat aku tidak berada di sini."
"Sasuke,-"
"Aku mencintainya aniki, dan aku ingin dia mencintaiku. Yang aku inginkan adalah dia, bukan tubuhnya," kata Sasuke.
"Aku melakukannya untukmu Sasuke," kata Itachi.
"Dia melakukannya aniki. Dia tersenyum padaku, dia bahagia melihatku, tapi itu semua palsu! Senyumnya, wajah bahagianya, semuanya palsu! Aku ingin dia melihatku, aniki! Bukan bersikap seperti robot yang hanya bisa mematuhi perintah tuannya. Aku ingin dia melihatku dan mengakuiku sebagai Sasuke!"
"Otouto,"
"Cukup aniki, semuanya sudah selesai. Aku sudah kalah sejak awal," kata Sasuke dengan senyum miris di bibirnya.
"Aku mengerti, otouto. Aku tidak akan melakukan apapun."
Di sekolah…
"NARRUTO…..! GUAWAT!" teriak Chouji dengan mulut penuh. Tangannya terus menunjuk ke arah gerbang sekolah.
Naruto mengerutkan keningnya melihat Chouji yang panik, "ada apa Chouji? Kenapa kau panik begitu?"
"Di luar! Di luar!" kata Chouji lagi.
Ino bergegas melihat ke gerbang melalui jendela kelas mereka. Setelah mengetahui apa yang terjadi, dia berkata kepada Naruto, "Naruto, sebaiknya cepat pergi. Tidak perlu melihatnya!" katanya panik.
'Sial! Kenapa mereka kembali lagi?' batin Ino panik.
"Memangnya ada ap-"
"Perwakilan Namikaze dan Uzumaki! Yang beberapa bulan lalu datang mencari Naruto!" teriak Kiba yang juga melihat ke arah gerbang.
DEG!
'Namikaze dan Uzumaki?' batin Naruto. Tiba-tiba saja tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin membanjiri wajahnya.
"Ini anak Kushina. Dia membawa aib bagi Uzumaki, bunuh dia!"
"Tidak, jangan bunuh aku. Hiks…hiks…"
"Che, anak yang membunuh orang tuanya, sudah sepantasnya mati."
"Bukan! Bukan aku yang membunuh haha dan chichieu."
"Bunuh saja anak kotor itu!"
"Naruto! Apa yang kau lakukan? Cepat pergi lewat jalan belakang!" seru Ino yang melihat Naruto hanya diam sambil menutup mulutnya.
"Kau anak yang tidak diinginkan. Akan lebih baik kalau kau mati saja Naru-chan…."
"A….apa salahku? Kenapa kalian mau membunuhku?"
"Hm? Entahlah, aku hanya diperintahkan membunuhmu oleh keluarga ayahmu. Siapa ya? Em, Namikuza? Namikasu? Ah! Aku ingat Namikaze! Kalau mereka sih suruhan keluarga ibumu, yang Uzumaki itu kan?"
"Naruto!" teriak Ino dan teman-teman sekelasnya yang panik melihat Naruto terjatuh dan mulai sesak napas. Tidak hanya itu Naruto memberontak saat teman-temannya ingin menyentuhnya. Ia tidak mendengar suara teman-temannya yang khawatir padanya, yang terdengar olehnya hanya kata-kata kejam dari masa lalu yang ingin ia lupakan.
"Naruto! Cepat panggil guru atau siapa saja! Aku mohon!" seru Ino. Kiba dan Chouji refleks mengambil langkah seribu mencari yang diperintahkan Ino. Hinata menelepon Neji, dan Sai berusaha menenangkan Ino.
"Ino, tenanglah. Sebentar lagi guru akan kemari."
"Naruto! Hiks…hiks….hiks…. Naruto!" isak Ino.
"Ne….Neji-nii…. Na….Naruto-kun jatuh, dia sesak napas….. berontak…. Neji-nii bagaimana ini?" kata Hinata panik, air mata juga sudah membanjiri wajahnya.
"Hinata, tenanglah. Aku akan segera ke sana. Aku akan mengabari Sasuke!" kata Neji.
Hari ini Naruto memang berangkat sendiri ke sekolah, sedangkan Sasuke terlambat datang. Di luar, Gaara masih berdiri menghadang wakil tetua Namikaze dan Uzumaki memasuki gedung sekolah.
"Gaara, sebaiknya kau pindah sekarang juga. Kami akan menjemput pewaris Namikaze!" bentak seorang wanita berambut hitam dikuncir ke atas.
"Anko-san, maaf tapi tindakan kalian sangat berlebihan. Aku rasa-"
Brum! Ckiit!
Suara mobil yang memasuki halaman sekolah dengan tergesa-gesa memotong perkataan Gaara. Sang pengemudi yang ternyata Sasuke langsung melewati Gaara masuk ke gedung sekolah. Rupanya ia mengebut karena menerima kabar dari Neji bahwa Naruto dalam keadaan gawat di sekolah.
"Gaara, aku harap kau bisa menghormati kami. Biarkan kami bertemu dengan Naruto, dia adalah kandidat utama pewaris Uzumaki corp.," seorang wanita lain berambut ikal hitam dengan mata merah yang bicara.
"Tidak bisa! Apa kalian tidak melihat bahwa Naruto lebih mirip Namikaze dibandingkan Uzumaki?" potong Anko.
"Tapi secara sifat dan wajah ia mirip dengan ibunya, dari klan Uzumaki!" kata wanita bermata merah itu.
"CUKUP!" seru Gaara kesal. "Apa kalian tidak malu membuat keributan di sekolah ini? Bukankah kalian dari keluarga beradab? Kalian benar-benar memalukan!"
"Tapi,-"
"Anko-san, Kurenai-san, saya harap anda bisa menunggu sejenak. Saya sendiri yang akan membawa Naruto kemari. Saya minta kalian tidak membuat keributan dengan bodyguard kalian seperti empat bulan yang lalu!" kata Gaara lalu segera meninggalkan mereka.
Brak!
Sasuke mendobrak pintu kelas Naruto dengan kasar. Dilihatnya Naruto masih sesak nafas. Saat dia menyentuh Naruto, Naruto langsung berontak dan berteriak kesakitan, bahkan Naruto mulai menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah. Guru-guru yang sudah dipanggil tidak bisa berbuat apa-apa. Orochimaru yang nekat, ingin menenangkan Naruto malah digigit sampai tangannya berdarah.
"Dobe!" seru Sasuke panik. Ia menahan tangan Naruto yang terus berontak, namun bahunya malah digigit oleh Naruto, dan kaki Naruto terus menendangnya.
"Sasuke!" seru Neji dan Shikamaru khawatir.
"Tinggalkan kami! Biar aku yang mengurusnya," kata Sasuke menahan sakit di bahunya.
"Tapi," protes Ino.
"Cepat!" bentak Sasuke. Setelah dibentak Sasuke dan dipaksa keluar oleh Neji dan Shikamaru, akhirnya mereka meninggalkan Sasuke dan Naruto di kelas. Masih terdengar suara teriakan Naruto yang seperti kesakitan, dan Sasuke yang terus memanggil Naruto dengan kata 'dobe'.
"Dobe! Tenanglah, ini aku Sasuke!"
Duak!
Lagi-lagi Naruto menendang Sasuke. Tidak punya pilihan lain, Sasuke mengunci kaki Naruto di antara kedua lututnya, tangannya menahan tangan Naruto yang terus memberontak. Sedangkan bahunya digigit Naruto semakin keras. Sasuke yakin bahunya sudah berdarah sekarang.
Beberapa menit mereka dalam posisi itu, secara perlahan kaki Naruto mulai melemas, begitu pula dengan tangannya, dan gigitannya akhirnya terlepas. Kepala Naruto terkulai, hampir saja terbentur di lantai andai Sasuke tidak langsung memutar posisi mereka, sehingga kepala Naruto terkulai di dadanya.
Setelah beristirahat sebentar, Sasuke membawa Naruto ke ruang kesehatan. Awalnya ia diikuti oleh para Guru dan siswa yang ingin tahu apa yang terjadi. Namun, dengan bantuan Shikamaru dan Neji mereka semua tidak berani masuk ke ruang kesehatan. Terkecuali Ino yang memang diizinkan ikut.
"Apa yang menyebabkan Naruto begini?" tanya Sasuke pada Ino sesampainya ia di ruang kesehatan, "aku bukan dokter, tetapi aku tidak bodoh untuk menyadari sikapnya ini adalah karena trauma mendalam di masa lalunya."
Ino hanya menatap ke lantai, tubuhnya gemetar. Secara perlahan ia mulai bercerita tentang masa lalu Naruto.
FLASHBACK…..
"Naruto! Awas kau ya!" seru Ino sambil mengejar Naruto yang kabur setelah dia membawa lari tas Ino. Namun Naruto tidak mengacuhkan teriakan Ino dan terus berlari sampai di persimpangan jalan yang tidak begitu jauh dari sekolah mereka. Ia hanya memasang cengiran lebarnya saat Ino datang dengan tergopoh-gopoh karena kehabisan napas saat berlari.
"Baka! Kenapa kau membuatku lari-larian hah! Sekarang aku jadi kehausan," keluh Ino.
Naruto menatap khawatir pada Ino, lalu berkata, "aku masih punya sedikit uang sisa jajan tadi pagi, aku belikan air minum untukmu ya?"
"Gak mau! Aku mau es krim," tolak Ino dengan tampang bos.
Naruto menghitung uangnya sejenak, lalu ia tersenyum sumringah, "ayo jalan, di taman depan sana ada yang jual es krim!" lalu kedua bocah berusia 8 tahun itu pun berjalan dengan riang menuju taman yang dimaksud. Namun mereka tidak menyadari sebuah mobil yang melaju cepat ke arah mereka, tepat ketika mobil itu sejajar dengan mereka, sepasang tangan menarik Naruto yang tengah memegang tangan Ino sehingga mereka berdua masuk ke dalam mobil itu.
"Tolong! Kami diculik!" teriak Ino panik namun seseorang segera membekap mulutnya dengan sapu tangan dan secara perlahan kesadarannya berkurang. Suara terakhir yang ia dengar adalah teriakan Naruto yang memanggilnya "one-chama".
Selang beberapa lama merasa terperangkap dalam kegelapan, Ino melihat setitik cahaya remang-remang meneranginya, rupanya ia baru saja sadar dari pengaruh obat bius. Saat ia membuka matanya, yang ia tahu ia dikurung di sebuah ruangan seperti penjara di mana tempat itu hanya diterangi satu buah lampu yang tidak begitu terang.
"One-chama!" teriakan Naruto menyadarkan Ino akan kebingungannya. "Naruto!" ia balas memanggil Naruto saat melihat orang yang ia maksud tengah dikelilingi tiga orang tidak dikenal berada sekitar 15 meter dari tempatnya dikurung.
Wajah Naruto saat itu sangat ketakutan, ia tidak tahu apa salahnya sehingga ia dan Ino diculik. Terlebih lagi orang-orang yang menculik mereka menatap Naruto dengan ekspresi lapar, seolah mereka adalah serigala yang telah mendapatkan mangsa setelah seminggu kelaparan.
"Siapa namamu anak manis?" tanya seorang wanita dengan nada kejam yang dipermanis(?) pada Naruto. Wanita itu mencengkram wajah Naruto dengan sangat keras.
"Na….Naruto U….Uzumak-"
'Plakk!'
Seorang pria berbadan basar dengan banyak perban di wajahnya langsung menampar Naruto. "Heh, 'Uzumaki' katanya!"
"Jangan begitu, Zabuza-kun," tegur sang wanita memanggil si pria berbadan besar, "kau tidak boleh bersikap kasar pada anak kecil."
Seorang lagi lelaki dengan wajah yang seperti ikan, maju dan menjambak rambut Naruto hingga Naruto mengerang kesakitan, namun ia malah meninju Naruto tepat di perutnya. Ino yang melihat Naruto diperlakukan seperti itu kontan menangis dan memanggil Naruto. "Ini anak Kushina. Dia membawa aib bagi Uzumaki, bunuh dia!"
"Tidak, jangan bunuh aku. Hiks…hiks…" isak Naruto ketakutan dan kesakitan.
'Duak!"
"Arrgh!" Naruto berteriak kesakitan saat dadanya ditendang dengan keras oleh Zabuza. "Che, anak yang membunuh orang tuanya, sudah sepantasnya mati," kata Zabuza dingin.
"Bukan! Bukan aku yang membunuh haha dan chichieu," ujar Naruto ditengah erangan kesakitannya. Ino yang hanya bisa melihat Naruto diperlakukan dengan tidak manusiawi terus berteriak meminta tolong dan memohon agar menghentikan perbuatan kejam mereka pada sepupunya.
"Bunuh saja anak kotor itu!" suara dingin seorang pria berumur langsung menjatuhkan vonisnya.
Sang wanita yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka, akhirnya angkat bicara, "kalian hanya memerintahkan kami untuk membunuhnya tanpa tahu apa sebabnya. Sebelum dia mati, aku rasa akan bijaksana bila dia mengetahui alasannya kan Dan-"
"Dia adalah anak yang tidak diinginkan. Anak kotor yang memberikan aib bagi Namikaze dan klan 'itu'. Mereka pun dibayar oleh mereka, kan? Jadi lebih baik, lakukan saja tugas kalian!" setelah mengatakan itu, pria itu pun pergi meninggalkan mereka.
"Kau anak yang tidak diinginkan. Akan lebih baik kalau kau mati saja Naru-chan…." Desah wanita itu di telinga Naruto.
"Kenapa?" kata Naruto tidak jelas.
"Apa kata bocah sialan ini? bunuh saja dia, dan segera tinggalkan tempat ini!" kata Kisame, si pria yang wajahnya mirip ikan.
"A….apa salahku? Kenapa kalian mau membunuhku?" tanya Naruto dengan air mata membasahi wajahnya yang berdebu.
"Hm? Entahlah, aku hanya diperintahkan membunuhmu oleh keluarga ayahmu. Siapa ya? Em, Namikuza? Namikasu? Ah! Aku ingat Namikaze! Kalau mereka sih suruhan keluarga ibumu, yang Uzumaki itu kan?" kata wanita itu lagi.
"Kenapa?" tanya Naruto lagi.
'Duak!'
Satu tendangan kembali menghantam punggung Naruto, lalu satu tendangan lagi di dadanya. Zabuza yang tidak begitu banyak bicara terus menendang Naruto tanpa ampun. Tidak mengindahkan air mata dan teriakan kesakitan Naruto, serta permohonan Ino.
Wanita yang memakai topi dan berkacamata hitam itu akhirnya meninggalkan Zabuza dan Kisame yang masih asyik menendang Naruto yang sudah berlumuran darah itu, ia mendatangi tempat Ino dikurung. "Kau sepupunya kan?" tanya wanita itu pada Ino kecil yang masih menangis.
"Hiks, hiks, i…iya. Bibi tolong hiks…. lepaskan hiks…. kami," isak Ino ketakutan.
Wanita itu mengusap kepala Ino lembut, "hei bocah, kau pikir aku suka menyiksa anak kecil ya? Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah dibayar dan aku harus membunuh anak itu."
"Jangan bibi! Hiks….aku hiks….mohon," kata Ino lagi.
"Baiklah, ku beri kau satu kesempatan untuk menyelamatkannya," kata wanita itu seraya mengeluarkan sebuah ponsel dan melemparkannya ke Ino, ia juga membuka kurungan Ino. "Telepon orang tuamu, dan katakan kau berada di sebuah gudang tua no.4 sebelah barat dermaga Konoha. Suruh mereka agar secepatnya ke sini atau sepupumu akan mati kehabisan darah. Semuanya tergantung seberapa cepat kau bisa mengabari orang tuamu dan seberapa cepat mereka bisa sampai kemari," setelah mengatakan hal itu, wanita itu kembali ke tempat Naruto dan ia mengeluarkan sebuah pistol menodongkannya ke arah dada Naruto dan….
'Dor!'
Wanita itu menarik pelatuk pistol tanpa ada keraguan, darah bermuncratan keluar dari dada Naruto yang ditembus peluru. Mereka lalu pergi meninggalkan Naruto yang terkapar bersimbah darah dan Ino yang berusaha untuk tidak panik dan menelepon ayahnya. Beruntung, ayahnya cepat datang dan membawa Naruto ke rumah sakit. Meski begitu, nyawa Naruto hampir saja melayang karena ia hampir kehabisan darah.
FLASHBACK OFF…..
Sasuke terpaku di tempatnya, ia tidak menyangka Uzumaki dan Namikaze berbuat sampai sejauh itu. Namun yang membuatnya sangat marah adalah mereka kini memperebutkan Naruto untuk menjadi pewaris mereka setelah sebelumya pernah mecoba untuk membunuh Naruto.
"Brengsek mereka! Aku tidak akan pernah membiarkan mereka menyentuh Naruto lagi" desis Sasuke tajam.
Tok, tok, tok!
"Sasuke, ini aku, Gaara," kata Gaara dari balik pintu ruang kesehatan.
"Masuklah," kata Sasuke datar.
Gaara pun masuk setelah diberi izin oleh Sasuke. "Perwakilan Namikaze dan Uzumaki ingin bertemu dengan Naruto, tetapi aku dengar Naruto dibawa ke sini," kata Gaara.
"Biar aku yang menemui mereka. Yamanaka, kau jaga Naruto," kata Sasuke dingin lalu segera ke luar menemui perwakilan Uzumaki maupun Namikaze tersebut.
Sasuke diikuti Gaara, Shikamaru, dan Neji menemui perwakilan Uzumaki dan Namikaze yang masih menunggu di depan sekolah mereka. Murid-murid yang lain tampak bergerombol di jendela kelas mereka, ingin menyaksikan apa yang akan terjadi setelah Sasuke turun tangan menghadapi mereka.
"Gaara, kami ingin bertemu dengan Naruto, anak dari Namikaze Minato-sama bukan pemuda Uchiha ini!" kata Anko marah.
"Itu benar Gaara, lagi pula kau sendiri yang mengatakan akan membawa Naruto, anak tunggal Kushina-sama, kepada kami. Tetapi kenapa kau malah membawanya?" tanya Kurenai.
Sasuke maju selangkah, menatap dingin pada Anko dan Kurenai. "Berani sekali kalian datang kemari mencari Naruto setelah apa yang kalian perbuat padanya dulu," kata Sasuke dingin, "apa kalian tidak punya malu?"
"Dengar ya bocah, aku tidak ada urusan denganmu. Yang aku cari adalah Namikaze Naruto, calon penerus Namikaze!" kata Anko, angkuh.
"Tepatnya pewaris klan Uzumaki, Anko-san," protes Kurenai.
Anko mendelik kesal pada Kurenai, "Naruto adalah anak Minato-sama. Sudah seharusnya bila kami yang mendapatkannya."
"Selama hidupnya, sampai saat ini, ia menyandang nama Uzumaki. Jadi sudah sewajarnya bila Naruto memilih kami," tantang Kurenai.
"Berhenti memperlakukan Naruto seperti barang!" bentak Sasuke, amarah benar-benar menguasainya. "Uchiha Naruto. Bukan. barang!"
"Uchiha Naruto?" kata Kurenai dan Anko bersamaan.
Seorang pria tua dengan mata diperban sebelah keluar dari mobil yang dikendarai Anko. "Danzou-sama," kata Anko saat menyadari kehadiran pria bernama Danzou itu.
"Apa maksud ucapanmu itu anak muda?" tanya Danzou pada Sasuke.
Sasuke langsung menjawab tanpa ragu, "kami sudah menikah."
"Jangan bercanda nak, kalian-"
"Itulah faktanya. Dia bukan Uzumaki atau Namikaze lagi, dia adalah seorang Uchiha. Jadi sebaiknya, kalian tinggalkan tempat ini sekarang juga," sela Sasuke.
Danzou memandang tajam pada Sasuke, "kau sungguh tidak sopan memotong pembicaraan orang yang lebih tua, nak. Lagi pula, apapun yang kau katakan aku akan tetap mengambil Naruto."
"Kau-"
"Aku menolak mengikuti kalian!" suara dingin Naruto meredam makian yang hampir saja dilemparkan Sasuke pada Danzou.
"Naruto," kata Sasuke tidak percaya.
"Naruto-sama," kata Anko dan Kurenai bersamaan.
Danzou maju mendekati Naruto, melayangkan tangannya hendak menampar wajah Naruto namun segera ditepis Sasuke. "Anda harus berpikir dua kali untuk melakukan kekerasan terhadap seorang Uchiha, Danzou-san," kata Sasuke dingin, sedangkan Naruto hanya menatap Danzou datar.
"Apa kau sadar dengan yang kau katakan tadi Naruto? Kau adalah penerus Minato, tidak sepantasnya kau menolak tugasmu sebagai penerus Namikaze," kata Danzou marah.
Naruto memandang penuh amarah dan benci pada Danzou, "'Penerus Namikaze' katamu? Apa kau pikir aku tidak tahu siapa yang telah memerintahkan 'mereka' untuk membunuhku? Bukankah aku hanyalah 'anak yang tidak diinginkan yang akan mengotori nama baik Namikaze'? Asal kau tahu saja, aku telah membuang Namikaze maupun Uzumaki dari hidupku. Mulai saat ini aku adalah Uchiha."
"Kau akan menyesal dengan pilihanmu itu anak bodoh!" geram Danzou, "tunggulah sampai aku kembali dan membawa kebenaran yang akan membuatmu kembali pada kami." Setelah mengatakan hal itu, Danzou segera memanggil Anko untuk meninggalkan tempat itu.
Sepeninggal Danzou, Kurenai tetap berdiri memandang Naruto. "Naruto-sama," panggilnya.
"Anda sudah mendengar keputusanku," kata Naruto mantap.
Kurenai tersenyum lembut, "Saya mengerti. Saya yakin Kushina-sama akan sangat bangga pada anda. Saya permisi." Kurenai pun akhirnya meninggalkan tempat itu.
"Bagaimana Kurenai?" tanya seorang wanita melalui telepon pada Kurenai.
"Dia tumbuh menjadi pemuda yang kuat dan berkharisma. Saya rasa dia hanya akan memilih kita bila anda sendiri yang menemuinya," jawab Kurenai.
"Begitukah? Mungkin memang harus aku. Terima kasih, Kurenai."
"Sama-sama, Kushina-sama."
"Apa kau baik-baik saja, dobe?" tanya Sasuke pada Naruto yang masih terpaku pada gerbang sekolah. Naruto hanya memandang datar pada Sasuke, lalu segera menarik tangannya menuju ruang kesehatan, tidak mengindahkan tatapan kaget plus heran milik Sasuke, Neji, Shikamaru, dan Gaara.
"Buka bajumu," kata Naruto sesampainya mereka di ruang kesehatan.
Sasuke hanya diam menatap Naruto, membuat Naruto jengah dan pada akhirnya berkata, "bahumu terluka karena aku gigit tadi, kan?"
"Ah, ya. Tak apa, bukan masalah-"
"Buka saja," perintah Naruto tegas.
Menurut, Sasuke melepas bajunya. Bahunya yang putih kini ternoda darah yang sudah setengah kering. Naruto yang melihat luka itu, menggumamkan kata "maaf" yang hanya bisa didengar oleh Sasuke. Lalu ia membersihkan luka di bahu Sasuke dan membebatnya dengan perban.
"Err, terima kasih, dobe," kata Sasuke canggung.
Naruto tiba-tiba menunduk, tubuhnya gemetar membuat Sasuke kembali khawatir melihatnya. "Dobe?"
"Huahahahahahahahahahahahahaha!" Naruto tertawa terbahak-bahak sampai-sampai ia mengeluarkan air mata. Semua orang yang ada di ruangan itu, Sasuke, Neji, Gaara, dan Shikamaru, terkejut dengan sikap Naruto, sampai-sampai mereka tidak tahu harus berbuat apa.
"Terima kasih sudah membelaku, teme! Aku puas sekali bisa membalas perbuatan mereka padaku dulu," kata Naruto dengan senyum tulus. "Aku selalu saja lari dari masa lalu, tetapi tadi aku telah berhasil melawannya. Thanks teme!" katanya lagi sambil meninju pelan lengan Sasuke.
Ada satu kebahagiaan tersendiri yang tiba-tiba saja hadir pada diri Sasuke saat melihat Naruto tersenyum dan tertawa di hadapannya dan karena dirinya. Itu membuktikan bahwa usahanya selama ini tidak sia-sia dan akhirnya Naruto mau melihatnya, bukan dengan kebencian ataupun amarah.
"Ya, sudahlah. Aku mau kembali ke kelasku dulu, kasihan Ino dan yang lainnya mencemaskan aku. Semuanya aku duluan," kata Naruto pada yang lainnya lalu meninggalkan ruang kesehatan tersebut.
Lama mereka semua yang tersisa di ruang kesehatan itu terdiam, sampai suara ponsel milik Gaara memecahkannya. "Halo? Sudah dapat informasi terbaru? Apa? Kau yakin?" kata Gaara di telepon, "Sasuke, kau harus mendengarkan ini."
Gaara lalu me-loudspeaker ponselnya sehingga mereka semua dapat mendengar informasi yang akan disampaikan informan Gaara. "Gaara-sama, kecelakaan Namikaze Minato dan Namikaze Kushina bukan kecelakaan biasa. Menurut bukti yang berhasil saya dapatkan, kecelakaan mereka adalah hasil sabotase, dan pelakunya adalah…"
"Tidak mungkin!" kata Sasuke dengan suara tertahan.
Gaara menatap Sasuke tajam, mengabaikan tatapan tidak percaya yang juga berasal dari Neji dan Shikamaru, "semua itu berdasarkan bukti."
"Sasuke, jangan sampai Naruto tahu penyebab kematian orang tuanya. Kau harus merahasiakan hal ini darinya," kata Neji.
"Aku tidak menyangka masalahnya serumit ini," komentar Shikamaru. Keringat dingin mengalir di wajahnya.
"Tidak mungkin!"
TBC
Nah, bagi yang merasa meminta saya untuk menyudahi acara penderitaan Sasuke (Sasuke: loe pikir apaan, pake acara-acaraan segala?" saya kabulkan keinginannya.
Okeeh…..
Err, gak kepanjangan kan?
Pokoknya jangan lupa review chapter ini ya?
Sedikit pengumuman, mungkin untuk chapter depan akan mengalami keterlambatan update karena saya yang tiba-tiba saja terkena WB setelah selesai mengetik fic ini. jadi saya mohon maaf kalau chapter depannya akan lama *mungkin sangat lama*…..
Sign,
YumeYume-chan
balesan review...
Vipris : wah, maaf saya lupa jawab pertanyaan vipris yang itu. Sebisa mungkin yume usahain update sekali seminggu….
Namikaze Hanaan: hahahahahaha penasaran ya? Saya juga penasaran, apa saya buat gak bersatu aja ya?
Fi suki suki :Hahahahaha, jangan Nangis dong fira-chan… kan salahnya Sasu juga buat Naru kayak gitu…
Umur Yume? yume umurnya 18 tahun bulan desember nanti…..
Mau tanggalnya juag? Tapi harus kirim hadiah lho… XDD
#plakk
Namikaze Sakura : siap! Ini bakalan jadi SasuNaruSasu kayaknya…. Yang kalah, dalam adu pukul ya itu yang jadi seme…. XDD
Matsuo Emi : saya berusaha buat dia gak Ooc sih…. Tapi sussssssaahhhhh bageeeetttttttttttsssssss…..
kuraishi cha22dhen : wkwkwkwkwkwkwkwkwkwk…. Pos kali ya, ada paket kilatnya…
update ababil aja deh ya? Kayak punyanya ghee yang nulis poor prince…..
LUKIAST : masih lama ya? Padahal yume udah usahain apdet tiap minggu lho?
Cesia :sipppp….. mudah-mudahan chap ini bikin puas ya?
2010-11-01 . chapter 5
namikaze-hana : tenang aja, penderitaan Sasu-chan bakalan segera berkurang kok… tapi bukan berakhir lho? *ketawa iblis*
Kou Todoryu 'Kyuuketsuki' :Aih…. Senangnya ada yang suka fic ini…. Boleh kok…. Makasih ya?
Itazurayuuki : sip, nih udah di update kok…
yuuchan no haru999 :jeren ya? *blushing* makasih udah muji ya? Jadi malu nih hahahahahaha
^/^
.
Black winx : oooooceeelah kakakakalalalau begituuuuu….XPP
Lyra du Reccif : jangan kabur dulu woy! Khusus buat ZUKA mana fic SEME VS UKE dan THE STORY OF SNOW?
Momochan : ini gak lama kan?
Rhie chan Aoi sora : tapi emosinya gak habis kan?kalo abis ntar kayak Sasuke lo? Gak berekspresi alias muka datar XDD #plakk
Anenchi ChukaCukhe : kalau chapter ini suka nggak?
Bocoran Next Chappie…..
"Apa kau yakin akan tetap memilih Uchiha setelah tahu bahwa yang membunuh kedua orang tuamu adalah Uchiha itu sendiri?"
"Hm, kenalkan aku Naara Shikamaru dan aku menyukaimu,"
"Sayangnya aku tidak berminat pada anak kecil,"
"Naruto,"
"Haha?"
Tinggalkanlah Uchiha, tidakkah kau ingin bersama haha? Haha sudah mencarimu sejak lama,"
