"Hey hyung," Baekhyun menunjukkan senyumannya saat Luhan menoleh kearahnya. Ia terkekeh pelan saat lelaki yang memiliki tubuh mungil itu memeluk dirinya. Mau tidak mau ia membalas pelukan orang yang telah ia anggap seperti saudara.
"Baekkie!" pekik Luhan senang. "Kenapa kau jarang berkunjung kesini?" Luhan menarik Baekhyun agar masuk kedalam ruangannya, agar dirinya dapat berbicara bersama Baekhyun tanpa harus berteriak. Karena suasana club yang bising. Baekhyun masih belum menjawab pertanyaan Luhan, karena lelaki itu tidak ingin menghabiskan suaranya. Baru saat ia sudah duduk dengan tenang di sofa dalam ruangan Luhan, ia menjawab pertanyaan Luhan.
"Jongin tidak mengizinkanku untuk datang kemari."
Terdengar kekehan pelan dari Luhan. Lelaki cantik itu mengambil satu botol wine kemudian menuangkan kedalam gelas untuk ia berikan kepada Baekhyun. "Lalu kenapa tiba-tiba Jongin mengizinkanmu datang kemari?"
"Dia sedang ada rapat, jadi aku diam-diam datang kemari."
Luhan tertawa keras mendengar ucapan Baekhyun, bahkan lelaki itu sampai memegang perutnya yang terasa sakit. Namun mendapati Baekhyun yang hanya duduk diam dengan wajah yang datar membuat Luhan menghentikan tawanya. Lelaki yang memiliki rambut sebahu yang ikal dibagian bawahnya mendudukan dirinya disamping Baekhyun. "Ada apa, Baek?"
"Aku bertemu dengannya."
Helaan nafas kecil terdengar dari Luhan. Baekhyun kembali membicarakan lelaki masa lalunya yang sama sekali tidak ia kenal. Namun mampu membuatnya kesal hanya karena wajah sedih Baekhyun terlihat saat menceritakan lelaki tersebut. "Lalu apa masalahnya? Kau sudah mempunyai Jongin."
Baekhyun menoleh kearah Luhan. "Itulah masalahnya. Aku memiliki Jongin, dia sudah sangat baik kepadaku. Membantuku bangkit, memberikanku cinta yang besar. Tapi dengan kurang ajarnya, aku tidak bisa berhenti mencintai lelaki masa lalu itu."
"Baekhyun, kau harus melupakan lelaki itu, bahkan bila perlu kau harus membencinya," Luhan memegang pundak Baekhyun lalu mengelusnya pelan. "Ingatlah semua rasa sakit yang dia berikan. Ingat masa-masa sulitmu untuk bangkit karena lelaki brengsek itu."
Baekhyun menundukkan kepalanya, menatap karpet berwarna merah maroon dengan penerangan yang cukup minim. Apa yang diucapkan Luhan tidak sepenuhnya salah. Memang sudah wajar jika dirinya membenci Chanyeol, melupakan lelaki itu. Tapi… kenapa ia merasa bahwa Luhan sangat jahat. Karena baginya tidak mudah untuk melupakan Chanyeol.
"Aku tidak bisa."
"Kau bisa."
Baekhyun menatap Luhan sambil menggigit bibir bawahnya. Tanpa banyak bicara, Baekhyun izin pamit untuk pulang. Tidak mengindahkan teriakan Luhan yang mulai tidak terdengar karena suara bising, dia hanya ingin cepat-cepat pergi.
.
When We Meet Again
ChanBaek ft KaiBaek
Chapter 6
-baca a/n dibawah ya-
.
Baekhyun tau, dirinya tidak sedang baik-baik saja. Memikirkan bahwa besok adalah hari minggu benar-benar membuatnya merasa stress. Apalagi saat mendapati sebuah surat yang dikirim kealamat studionya. Bahkan ia hanya dapat menatap surat tersebut dengan tatapan kosong. Chanyeol sudah tidak datang menemuinya sejak hari dimana ia menolak lelaki itu, seharusnya Baekhyun bersyukur, namun tetap saja di tidak bisa menghilangkan bayang-bayang lelaki tinggi itu dalam pikirannya.
Kepalanya terasa ingin pecah. Jongin, hari minggu, orangtua Jongin, surat ditangannya, dan Chanyeol. Beruntung dirinya dengan susah payah dapat menahan diri untuk tidak membeli sebotol soju. Baekhyun harus dapat membuktikan kepada Chaeyeon kalau dia tidak akan sama seperti dirinya di masa lalu.
Kembali kepada permasalahannya, baekhyun telah memikirkannya sejak dirinya membuka kelasnya hari ini. Dia tidak dapat berbohong, berbohong adalah kelemahannya. Baekhyun lebih suka menjadi orang yang jujur. Namun kali ini ia takut, kejujurannya dapat menyakiti perasaan orang lain. Sejak pertemuannya kembali dengan Chanyeol, perasaan untk Chanyeol yang mulai terkubur bangkit kembali. Bahkan perasaan itu tumbuh semakin besar. Baekhyun benar, dirinya sangat lemah karena dapat mencintai Chanyeol semudah itu.
Lalu perasaan untuk Jongin… semakin terkubur. Karenanya, mengingat besok adalah hari minggu benar-benar membuat Baekhyun semakin frustasi. Dia tidak ingin pergi, tidak ingin bertemu dengan orangtua Jongin, tidak ingin melakukan hal yang salah. Namun kebaikan Jongin kembali mengingatkan dirinya. Meskipun hal tersebut tidak berdampak sama sekali dengan perasaannya untuk Jongin yang menghilang.
"Apa yang harus aku lakukan…" Baekhyun menjambak rambut panjangnya dengan kedua tangannya. Tidak mempedulikan rambut yang selama ini selalu dia rawat sebaik mungkin. Persetan dengan rambut dan penampilan, Baekhyun tidak peduli lagi.
Memikirkan itu, Baekhyun kembali menatap dalam surat yang telah ia letakkan diatas meja.
Helaan afas pelan terdengar darinya, Baekhyun mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Jongin bahwa tidak perlu menjemputnya. Lagi. Ya… sejak hari dimana dia menolak Chanyeol dan Jongin mengajaknya menemui orangtuanya, Baekhyun selalu menolak dijemput oleh Jongin seperti biasa. Entah kenapa dia sangat ingin menjaga jarak dengan lelaki itu. Baginya sangat aneh jika ia menunjukan kasih sayang untuk Jongin padahal dirinya tidak menginginkannya, perasaan itu sudah tidak ada.
Layar ponselnya menunjukkan kontak Sehun, setelah berperang dalam dirinya, Baekhyun akhirnya menelpon lelaki tersebut. Menunggu nada sambung yang tanpa menunggu lama diangkat oleh lelaki diseberang sana.
'Ya, Hyungie? Ada apa?'
Baekhyun menggigit bibir bawahnya, berpikir apakah dia harus mengatakan keinginannya. "A-apa kau tau dimana rumah Chanyeol?" akhirnya kalimat tersebut terucap cepat olehnya.
'Tentu. Ada keperluan apa Hyungie menanyakan alamat orang itu?'
"Ada yang ingin kubicarakan padanya."
'Baiklah akan kukirim lewat chat alamatnya.'
Baekhyun menghela nafasnya pelan. "Terima kasih, Sehunnie…"
Setelah menutup telponnya, Baekhyun menatap nanar layar ponselnya. Ia menarik nafas dalam kemudian menghelanya pelan. Mencoba menenangkan dirinya yang bergetar karena gugup. Keputusan ini telah ia buat sejak Jongin mengajaknya menemui kedua orangtuanya, dan Baekhyun harus menyelesaikan ini semua.
Saat chat dari Sehun yang berisikan alamat Chanyeol telah diterima oleh Baekhyun, lelaki cantik itu langsung bergegas dari studionya untuk menuju alamat tersebut. Ia menatap dalam studionya sebelum meninggalkan tempat tersebut.
.
.
Baekhyun dapat menatap wajah terkejut Chanyeol ketika lelaki tinggi itu membuka pintu flatnya. Ia menunjukkan senyuman tipisnya dan memandang Chanyeol dengan mantap. "Hey, Chan…"
"Baekhyun?" Chanyeol mengusap kedua matanya, memastikan bahwa sosok didepannya benar-benar Baekhyun dan bukan khayalannya. "Ada apa kau kemari?"
"Hm… boleh aku masuk dulu?"
"Ah! Tentu!" Chanyeol memundurkan tubuhnya, mempersilahkan Baekhyun masuk kedalam flat sederhananya. Ia menghadap kearah Baekhyun setelah sebelumnya menutup pintu. "Kenapa kau tiba-tiba datang kesini, Baek?"
"Kau tidak suka aku berkunjung?"
"Tentu tidak! Bukan begitu maksudku, aku hanya… bingung…"
Tawa kecil terdengar dari Baekhyun. Jemari lentik Baekhyun menyelipkan rambutnya kebelakang telinga kemudian berjalan mendekat kearah Chanyeol. Ia memeluk leher Chanyeol dan mendongak untuk menatap wajah lelaki yang lebih tinggi darinya. Ia terkekeh mendapati wajah shock Chanyeol. "Ada yang ingin aku bicarakan…"
"Hm?" mimic wajah Chanyeol perlahan berubah, kini ia menjadi lebih santai dan mulai membalas perlakuan Baekhyun dengan memeluk pinggangnya.
"Kau benar, Chanyeol. Aku memang masih mencintaimu," kedua manik mata keduanya saling bertemu. "Aku memang tidak bisa melupakanmu, ataupun membencimu meskipun kau sudah sangat menyakitiku."
"Baek…" Chanyeol mendekat erat tubuh Baekhyun. Menghirup aroma tubuh yang lebih mungil dengan mata yang terpejam. Sebuah senyuman terlukis diwajahnya.
"T-tapi aku tidak bisa bersamamu, Chan…"
"Apa?" Chanyeol melepaskan dekapannya untuk menatap wajah Baekhyun. Ia menghela nafasnya dan menangkup wajah Baekhyun dengan kedua tangannya. "Aku mencintaimu, Baek. Dan kau juga masih mencintaiku, kenapa Baek?"
Baekhyun memegang pipi Chanyeol dengan satu tangannya. Ibu jarinya mengelus pipi tersebut dengan lembut. Sebuah senyuman tipis ia berikan untuk Chanyeol. "Maaf Chan…"
"K-karena Jongin?"
Masih dengan senyuman tipisnya, Baekhyun mengangguk kecil. Ia memeluk tubuh Chanyeol dengan erat, merasakan detakan jantung lelaki itu yang berdetak cepat. "Aku akan menikah dengannya…"
Pelukan Baekhyun dibalas tidak kalah erat oleh Chanyeol. Bahkan Baekhyun dapat merasakan perasaan marah dari pelukan Chanyeol. Ia hanya menghela nafasnya pelan dan mengusap punggung Chanyeol dengan lembut. Berusaha membuat lelaki tinggi itu menjadi nyaman. Baekhyun melepaskan pelukannya untuk menatap wajah Chanyeol. Kedua tangannya menangkup pipi Chanyeol. "Chanyeolie… cium aku."
Setelah kalimat tersebut terucap dari bibir Baekhyun, kedua belah bibir mereka saling menempel. Terhanyut dalam pagutan lembut namun menuntut. Tubuh keduanya menempel, dengan tangan yang saling memeluk satu sama lain. Jemari Baekhyun meremas rambut Chanyeol, menikmati setiap lumatan dan hisapan dari yang lebih tinggi pada bibirnya. Belum lagi tangan Chanyeol yang mengelus punggung dan pinggangnya. Ia merasa seperti terbang saat ini. Baekhyun tidak dapat berbohong, dirinya merasa bahagia. Berpagutan panas bersama Chanyeol, saling menghisap, melumat dan memberikan belaian pada bagian tubuh tertentu.
Tapi tetap saja Baekhyun merasakan hantaman kuat di dadanya yang terasa sesak.
"Chan…" desis Bekhyun di depan bibir Chanyeol. Maniknya menatap mata bulat Chanyeol yang menatapnya sayu. Kepalanya mendongak ketika Chanyeol menurunkan ciumannya pada leher jenjangnya. Baekhyun mendesah pelan saat sebuat hisapan kuat diberikan Chanyeol tepat di perpotongan lehernya. "C-chan…"
"Hm?"
"K-kita pindah saja…"
.
Semuanya terjadi begitu saja, terjadi sangat cepat. Kedua lelaki yang tengah dimabuk cinta saling menggesekkan tubuh polos mereka diatas ranjang. Dengan bibir yang saling berpagutan. Lenguhan dan desahan pelan terdengar dari keduanya, membuat suasana dalam kamar tersebut semakin panas.
Baekhyun melepaskan pagutan basah mereka terlebih dulu, ia tersenyum kecil menatap Chanyeol lalu mencium ujung hidung bangir Chanyeol. "Cepat lakukan," ucapnya penuh penekanan.
Chanyeol mengangguk mantap. Ia memposisikan tubuh Baekhyun agar nyaman berada dibawahnya, kedua tangannya menopang berat badannya. Chanyeol kembali memberikan lumatan singkat dibibir Baekhyun sebelum dirinya semakin melebarkan kaki Baekhyun dan membawa kedua kaki Baekhyun menuju pundaknya. Dengan menggunakan satu tangannya, Chanyeol memegang penisnya dan mengarahkannya pada lubang Baekhyun, menggesek-gesekkan ujung penisnya sebelum dirinya mendorongnya masuk kedalam lubang Baekhyun.
"Sshh…"
"Baekhyun… ini adalah pertama kalinya aku melakukan dengan seorang lelaki."
Baekhyun tersenyum dan membelai rahang Chanyeol. "Kalau begitu aku orang special untukmu…"
"Tentu sayang…" Chanyeol kembali menyatukan bibir mereka, bersamaan dengan dirinya yang menghentakkan pinggulnya keras. Memasukkan keseluruhan batang penisnya sekali hentak.
"ANMHH!"
Desahan Baekhyun tertahan karena lumatan Chanyeol yang menuntut pada bibirnya. Demi mengabaikan rasa sakit luar biasa ditubuh bagian bawahnya, Baekhyun mulai membalas tiap lumatan Chanyeol. Membuka mulutnya agar dirinya dapat merasakan lidah Chanyeol yang menggelitik daerah dalam muutnya. Menekan-nekan lidah Chanyeol dan menghisap bibir tebal lelaki itu.
Chanyeol mulai menggerakkan pinggulnya, mengeluar-masukkan penisnya dalam lubang Baekhyun. Satu tangannya memberikan cubitan kecil pada puting Baekhyun yang sejak tadi telah menengang. Hal ini membuat Baekhyun merasakan kenikmatan ganda dari Chanyeol.
"Aahh aahh Chanyeollie…"
Kamar sempit Chanyeol dipenuhi oleh Desahan Baekhyun dan suara tepukan kulit mereka yang bertemu. Baekhyun membiarkan tubuhnya terhentak-hentak karena genjotan Chanyeol. Ia melingkarkan kedua tangannya pada leher Chanyeol, menatap wajah Chanyeol dalam-dalam. Merekam setiap sudut wajah tampan lelaki itu. Satu tangannya memegang pipi Chanyeol, dan membelainya dengan lembut.
"Aahhnn~"
Bibir bawahnya ia gigit, bukan karena ingin meredakan desahan nikmatnya, melainkan menahan tangisan yang akan ia keluarkan.
"Jangan ditahan, sayang..."
"Aahh ahh~"
Baekhyun menarik kepala Chanyeol, membawa bibirnya untuk melumat bibir Chanyeol. Yang langsung dibalas oleh lelaki itu tanpa memelankan hentakan pinggulnya. Baekhyun merasakan kedutan pada penis Chanyeol yang berada di dalam lubangnya, yang tidak lama kemudian semprotan sperma Chanyeol membasahi lubangnya. Dan iapun menyusul dengan menyemprotkan spermanya mengotori perutnya dan Chanyeol.
Keduanya mengatur nafas mereka, Chanyeol melepaskan penyatuan penisnya dan merebahkan tubuhnya disamping Baekhyun. Membawa tubuh mungil itu kedalam pelukannya. "Aku mencintaimu, Baek..."
"Aku juga mencintaimu, Chanyeol..."
Setelahnya Baekhyun meninggalkan rumah Chanyeol saat lelaki tinggi itu sudah terlelap menuju alam tidurnya.
.
.
Baekhyun masuk kedalam rumahnya dan Jongin dengan langkah pelan. Dirinya cukup terkejut saat melihat sosok Jongin yang berdiri didepan televisi dengan wajah khawatirnya. Senyuman kecil diberikan Baekhyun ketika lelaki itu berjalan mendekatinya.
"Baekhyun…" Jongin memegang pipi Baekhyun dengan kedua tangannya. "Kau darimana saja, hm?" dielusnya pipi tirus Baekhyun dengan lembut. "Aku mengkhawatirkanmu."
Baekhyun tersenyum dan melepaskan tangan Jongin dari wajahnya. "Maaf telah membuatmu khawatir."
Helaan nafas pelan terdengan dari yang lebih tinggi. Jongin mengulum senyuman lalu menarik Baekhyun agar menuju kamar mereka. Menyuruh lelaki itu untuk beristirahat. Namun penolakan dari Baekhyun membuat keningnya berkerut bingung. "Kenapa sayang? Kau tidak ingin istirahat?"
"Ada yang ingin kubicarakan…"
Jongin terkekeh. Salah satu tangannya memegang pundak Baekhyun, kembali menyuruhnya agar menuju kamar, meskipun lagi-lagi Baekhyun menolaknya dengan menghempaskan tangannya cukup keras disertai dengan gelengan. "Kita bisa bicara didalam, Baek. Besok kita harus bertemu keluargaku, jadi kau harus istirahat."
Kepala Baekhyun menggeleng kuat. "Tidak, Jongin. Aku ingin bicara sekarang."
"Hah…" Jongin kembali menghela nafasnya. "Baiklah, tapi sebaiknya kita duduk dulu."
"Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita."
Jongin yang baru membalikkan tubuhnya untuk berjalan kearah sofa seketika membatu ditempat. Ia kembali menghadap Baekhyun dengan gerakan yang kaku. Maniknya menatap wajah cantik didepannya dengan tatapan bingung. "A-apa?"
Baekhyun menggigit bibir bawahnya dan meremas tangannya. Dengan susah payah dirinya menahan airmata yang akan jatuh dari matanya dengan menatap tajam kearah Jongin. "Aku tidak pantas untukmu."
"Hei," Jongin kembali mendekat pada Baekhyun. Mengelus kepala Baekhyun dan menatapnya hangat. "Kenapa kau bicara seperti itu? Kau adalah sesuatu yang sangat berharga untukku."
"Aku bertemu dengan lelaki masa laluku," Baekhyun dapat menangkap wajah terkejut Jongin. "Lelaki itu Chanyeol."
"A-apa?"
"Dia memang sudah menyakitiku, sudah membuatku hancur. Tapi aku tidak menghilangkan perasaanku untuknya," Baekhyun mundur dua langkah dari Jongin yang berdiri kaku di depannya. Menatap lelaki itu penuh dengan perasaan bersalah. "Aku memang sempat melupakannya karena kau memberiku banyak cinta. Aku mencintaimu, sungguh. Tapi saat aku melihatnya kembali…" Baekhyun menggigit bibir bawahnya. "Aku baru sadar kalau aku masih mencintainya, dan perasaan itu tidak pernah hilang sebelumnya."
Tatapan penuh rasa sakit dari Jongin membuat Baekhyun menundukkan kepalanya, memejamkan matanya untuk menahan airmata yang akan jatuh. Namun sebuah dekapan membuat tubuhnya sedikit terlonjak dengan mata yang membola. Membuat air yang telah ditahannya jatuh membasahi pipinya. "J-jongin?"
"Kita bisa pergi setelah menikah nanti, Baek. Dan kita tidak akan bertemu lagi dengan Chanyeol."
"T-tapi Jongin-"
"Sstt…" Jongin menangkup wajah Baekhyun lalu menatapnya dengan lembut. Ia memberikan kecupan lama pada kening Baekhyun. "Pada akhirnya kau akan memberikan hatimu sepenuhnya untukku, Baek. aku yakin itu. Aku tidak mengapa kalau saat ini kau masih belum bisa melupakan Chanyeol. Aku akan menunggumu."
Baekhyun menggeleng kuat. Ia mendorong tubuh Jongin dan menatapnya sendu. "Maaf Jongin…"
"Bahkan Chanyeol tidak menyukaimu-"
"Tidak! Dia mencintaiku," Jongin tidak bersuara, lelaki itu hanya menatap Baekhyun dengan mata yang membesar. "D-dia datang dan mengakui perasaannya. Dia merasa menyesal dengan kejadian di masa lalu. M-maka dari itu. Aku… aku ingin bersamanya."
"Baek…"
"Maafkan aku, Jongin-ah…" Baekhyun meraih tangan Jongin dan menggenggamnya kuat. "Aku sudah tidak pantas bersamamu. Aku… aku brengsek. Aku tidak bisa mencintaimu seperti kau mencintaiku, bahkan aku bertemu dengan Chanyeol dan bercinta dengannya."
Jongin menghela nafas keras. Ia melepaskan genggaman tangan Baekhyun lalu menutupi matanya dengan satu tangannya. Ia tidak peduli jika terlihat memalukan saat ini, tapi tangisannya benar-benar tidak dapat ia tahan lagi. Hatinya benar-benar hancur. Setiap ucapan Baekhyun membuatnya merasakan sebuah batu besar menimpa dirinya. Bahkan kakinya terasa seperti jelly saat ini. Maka dari itu Jongin mendudukkan dirinya diatas lantai, menangis disana.
"Rasanya sangat sakit, Baek…"
Baekhyun meremas kedua tangannya. Menahan dirinya agar tidak memeluk tubuh Jongin yang terlihat sangat rapuh. "Maafkan aku…" hanya kata itu yang dapat keluar dari celah bibir tipisnya. Suasana menjadi hening, yang terdengar hanya deru nafas keduanya dan suara jarum jam ditengah ruangan. Tidak ada yang berniat untuk membuka suara.
"K-kalau begitu aku pergi…"
Suara lirih Baekhyun memecah keheningan. Membuat Jongin mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk. Menatap tubuh mungil Baekhyun yang perlahan menjauhi dirinya. Jongin tidak mengucapkan apapun hingga tubuh mungil itu menghilang di balik pintu apartement. Setelahnya ia tersenyum kecut dengan airmata yang sudah membasahi seluruh wajahnya.
"Baekhyun…"
.
.
To Be Continue
.
.
Halo gais… maaf banget ya tiba-tiba ngaret gini updatenya gak kayak sebelum-sebelumnya u,u aku kemarin udah bilang kambek, tapi ternyata salah banget dong waktunya karena minggu-minggu ini ternyata UAS T.T dan banyak laporan wawancara yang harus dikerjain. Sumpah shock banget pas tau kalo UAS udah di depan mata jadi sepertinya aku harus kembali hiatus…
Yawlah sedih banget dah
Pas nyadar besok udah UAS langsung drop mood buat ngetik ff. Di otak aku Cuma teori, latar belakang, metode blablabla ) ku mohon pengertiannya ya teman-teman u,u
Setelah kembali nanti. Aku bakal update My Squishy deh, janji
Dan untuk FF ini… Sampai sini aja atau lanjut nih?
Jangan lupa review ya bebeb-bebeb tersayang. Muah~
*ps. Aku udah lama ga nulis enceh nih… jadi aneh banget ya wkwk
