The Space Between

Main Cast : Chanyeol, Baekhyun

warning : GS, typo semakin banyak (soalnya gak di periksa lagi), geje, absurd

yang sebelumnya gak bisa review sekarang udah bisa kok, soalnya pas itu kan pengurangan chapter heheheh

jadi sekarang sudah bisa, mohon reviewnya sebagai penghargaan atas kerja kerasku, semuanya kan pasti mau di hargai ^.~

RnR

.

.

.

.

.

HAPPY READING

.

.

.

.

.

huwaaaa T.T maap baru update alesannya bisa dibaca di NA di bawah okeh, semoga suka sama kelanjutannya.

Chap 5

Saat ini jam sudah menunjukan pukul 11.00 KST, bukan waktu yang tepat untuk seorang mahasiswi yang baru saja tiba dikampus tetapi memiliki kelas pagi.

"Baek kau tau kan jika nona Park Yoora akan ke butik untuk melihat hasil jadi salah satu gaunnya?"

"tentu aku tau Soo"

"jadi kau akan ke butik?"

"pasti Soo, aku akan ke butik"

"baguslah"

Kini kedua yeoja mungil dengan pakaian yang tidak terlalu mencolok, tapi masih memiliki kesan feminin ditubuh mungil mereka karena berwarna pastel sedang berjalan menuju kelas mereka selanjutnya.

Kyungsoo terus bentanya pada Baekhyun tentang pekerjaannya, Kyungsoo takut Baekhyun tidak pergi ke butik untuk menemui clientnya, tapi Baekhyun bukanlah orang seperti itu walaupun harinya sangat menyebalkan.

Pagi tadi Baekhyun bangun kesiangan, memanggang roti hingga hangus, mobilnya mogok, kesiangan untuk masuk kelas pertama dan itu membuat Baekhyun bolos di kelas pertamanya, lalu bertemu Kyungsoo di café gedung fakultasnya *itu tidak termasuk bagian sialnya di hari ini, tapi bagian sialnya ya mendengarkan suara Kyungsoo yang terus bertanya ini itu.

Baekhyun dan Kyungsoo sudah memasuki kelas mereka, dan duduk bersebelahan.

Kyungsoo masih terus berbicara hingga membuat kepala Baekhyun terasa berdenyut.

"yak! Kyungie bisakah kau diam?" kesal Baekhyun, dan seketika membuat bibir hati milik Kyungsoo itu mengantup rapat.

Kyungsoo mengeluarkan senyum manisnya, "mianne Baekhyunie."

.

.

.

"tuan muda Park, apa kau sudah bangun?" terdengar suara yeoja dari sebrang telepon.

"tentu noona bahkan aku sudah dikantor, wae?" tanya namja yang saat ini sedang berkutat dengan berkas ditangannya dan ponsel yang di apit oleh pundak dan telinga kirinya.

"yak! Kau lupa jika kau akan mengambil salah satu gaunku yang masih dalam tahap pembuatan dan membawanya kemari?" kesal yeoja itu.

"aku ingat noona, kirimkan saja alamat butiknya aku akan kesana setelah selesai dengan pekerjaanku." Jawab Chanyeol malas, dan ternyata yang berada di sebrang teleponnya adalah Yoora kakaknya.

"ah, aku lupa mengirimkan alamatnya, baiklah tapi jangan terlalu lama." Jawab Yoora.

"iya nyonya muda Park yang CEREWET" Chanyeol menekankan kata di akhir kalimatnya.

"yak kupukul kau!" pekik Yoora, dan Chanyeol hanya terkekeh.

.

.


The Space Between


"Baekhyun!"

Baekhyun yang merasa namanya dipanggil membalikkan badannya menghadap kebelakang, dimana suara namja yang cukup ia hafal memanggilnya.

Baekhyun tersenyum pada namja yang sedang menghampirinya.

"kau sibuk?" tanya namja itu.

"ada sedikit pekerjaan, wae?" tanya Baekhyun.

"bagaimana dengan makan malam?" tanya namja yang ternyata Taehyun.

Tanpa fikir panjang Baekhyun mengiyakan ajakan Taehyun.

"baiklah, aku jemput jam 7 malam" Taehyun mengusak gemas rambut Baekhyun, dan pergi menjauh.

Baekhyun yang masih sibuk dengan pikirannya dikejutkan dengan kedatangan Kyungsoo yang entah dari mana, sebelumnya Kyungsoo dan Baekhyun berpisah karena Kyungsoo harus menemui seorang dosen.

"hey! Kenapa kau senyum-senyum?" tanya Kyungsoo menepuk pundak Baekhyun.

Baekhyun hanya menggelengkan kepala dan menarik Kyungsoo untuk masuk kekelas mereka.

.

.

.

Chanyeol memasuki butik yang dapat dibilang mewah.

Butik terkenal dengan bangunan bernuansa Paris, dan pakaian limited edisi membuat butik ini semakin memiliki nama tersendiri di Korea.

Banyak setelan pria yang menarik perhatian Chanyeol.

Seorang pegawai wanita berseragam yang cukup minim mendekati Chanyeol dan tersenyum ramah.

"ada yang dapat saya bantu tuan?" tanya yeoja itu.

"aku diminta membawa gaun setengah jadi milik kakakku Park Yoora"

"tentang gaun pernikahan nona Park dikerjakan oleh asisten designer Byun, jadi dapatkah tuan menunggu sebentar?"

Chanyeol hanya mengangguk dengan wajah datarnya.

.

.

.

Baekhyun memasuki butik dengan tergesa-gesa, karena di hubungi oleh pegawai butik jika adik dari Park Yoora sudah menunggu untuk membawa gaun milik Park Yoora.

Bertanya pada salah satu pegawai tentang keberadaan adik dari Park Yoora, dan Baekhyun diantar mendekat keseorang namja jangkung yang sedang melihat setelan kerja.

"tuan Park, sekertaris designer Byun sudah sampai" kata pegawai yang mengantar Baekhyun.

Namja itu memutar badannya dan matanya tepat menatap mata milik Baekhyun.

"KAU!" kata mereka bersamaan.

Baekhyun berucap dengan raut wajah kagetnya, sedangkan Chanyeol dengan senyuman miring hampir seperti menyeringai di bibirnya.

"saya permisi" kata pegawai yang mengantar Baekhyun tadi.

Baekhyun menghela nafas panjang.

"baiklah, ikuti aku!" perkataan Baekhyun lebih seperti memerintah.

"tak bisakah aku tenang hari ini?" gumam Baekhyun yang masih dapat didengar oleh telinga lebar Chanyeol.

"apa anda berbicara sesuatu sekertaris designer Byun?" tanya Chanyeol.

"ah, ani aku tak berbicara apapun"

Baekhyun yang berjalan lebih dulu tak dapat melihat Chanyeol yang terus-terusan tersenyum dibelakangnya.

Entah kemana perginya image dingin dan datar Chanyeol.

.

.

.

"aku tak suka menunggu lama"

"bisakah kau sabar sebentar?"

"tidak, toh sekarang atau nanti sama saja. Lebih baik sekarang agar rasa sakitnya lebih lama"

"berbeda, carilah waktu yang tepat"

"aku sudah memiliki waktu yang tepat"

Keheningan merepa ruangan itu, dan terlihat salah satu namja sedang menyeringai.

.

.

.

"jadi, gaun ini yang harus aku bawa?" tanya Chanyeol pada Baekhyun yang sedang merapikah salah satu gaun setengah jadinya.

"ya, gaun ini" jawab Baekhyun singkat.

"apa yang harus di pertanyakan oleh kakakku?"

"dia harus mencobanya, dan memotretnya agar aku dapat meihat bagaiaman gaun ini ditubuhnya"

"itu merepotkan, bagaimana jika kau ikut dan melihat sendiri lalu memperbaiki yang salah dan melanjutkan pembuatan gaunnya?"

Pertanyaan Chanyeol membuat Baekhyun kesal, bagaimana mungkin dia ikut dengan Chanyeol apalagi dia masih kesal dengan kelakuan Chanyeol tempo hari.

Tapi perkataan Chanyeol ada benarnya, dan itu membuat Baekhyun tidak melakukan pekerjaan dua kali.

Chanyeol masih setia memandangi wajah imut Baekhyun, entah kenapa wajah itu dapat mengalihkan semua yang ada disekitar Chanyeol.

Apalagi wajah berfikirnya ini, lebih terlihat menggemaskan.

"jadi?" tanya Chanyeol yang sudah begitu pegal, karena tidak dipersilahkan duduk oleh Baekhyun.

Baekhyun menghela nafasnya lagi.

"biaklah" jawab Baekhyun.

Jawaban Baekhyun membuat Chanyeol lega, padahal dia tidak terlalu mengharapkan jawaban iya dari Baekhyun.

.

.

.

Dalam perjalanan menuju kediaman Park, baik Baekhyun maupun Chanyeol tidak ada yang memulai percakapan.

Hanya alunan music yang terdengar di penjuru mobil itu.

Baekhyun sangat menyukai music, maka dari itu dia mempelajari piano dan ahli dalam memainkannya.

Entah terbawa hening atau memang menyukai lagunya Baekhyun mulai bersenandung ringan, walau masih terdengar lirih tapi Chanyeol dapat mendengarnya karena mereka duduk bersebelahan.

Chanyeol sangat menyukai suaranya, lembut dan enak didengar.

Tak butuh waktu lama Chanyeol dan Baekhyun sudah tiba di kediaman Park, yang dapat dikatakan mewah.

Bangunannya tak jauh dari bangunan rumah keluarga Byun, yaitu keluarga Baekhyun.

Gaun yang mereka bawa, sudah keluar dan di bawa ke kamar Yoora oleh salah satu pekerja disitu.

Langkah kaki Baekhyun yang kecil harus mengikuti Chanyeol yang notabennya namja dan bertubuh tinggi menuju kamar Yoora yang berada dilantai dua.

Baekhyun dan Chanyeol berhenti di pintu berukuran cukup besar berwarna putih.

"ini kamar Yoora noona, dan yang itu kamarku" kata Chanyeol menunjuk pintu kamar dengan ukuran besar berwarna cokelat.

Baekhyun mengernyitkan dahinya bingung dengan ucapan Chanyeol.

"jika kau membutuhkanku ketuk saja pintunya, atau jika pekerjaanmu sudah selesai dan butuh tumpangan silahkan ketuk" kata Chanyeol dan di akhiri dengan wink.

Sebelum Chanyeol pergi meninggalkan Baekhyun, Chanyeol sempat mencubit pipi Baekhyun, dan itu sukses membuat Baekhyun kesakitan.

Chanyeol berlari menuju kamarnya, menghindar dari tendangan dan pukulan Baekhyun.

Setelah Chanyeol menghilang dibalik pintu cokelat itu, Baekhyun memasuki kamar Yoora.

"hay, cepat masuklah. Aku sedikit kesusahan dengan bagian yang ini" jelas Yoora menunjuk gaun bagian dadanya.

"apa terlalu sempit?" tanya Baekhyun menghampiri Yoora.

"tidak, malah terlau besar. Aku ingin ini dikecilkan dan pas ditubuhku"

"baiklah eonnie, bisa aku ukur kembali?"

"silahkan."

Setelah selesai mengubah berbagai hal yang ada digaun mili Yoora Baekhyun kembali ke butik.

Baekhyun kembali ke butik dengan diantar salah satu supir milik keluarga Park, karena Chanyeol harus kembali ke kantor, Karen ada rapat penting.

Baekhyun tidak terlalu mengharapkan diantar oleh Chanyeol.

.

.


The Space Between


.

.

Baekhyun terus mematut dirinya didepan cermin.

Gaun berwarna putih sepaha, rambut digelung dan memperlihatkan leher jenjangnya.

Baekhyun tak henti-hentinya mematut diri, hingga suara bel berbunyi.

Baekhyun segera berlari untuk membukakan pintu yang dia tau pasti,

"hay" sapa Taehyun.

"hay" balas Baekhyun.

"kau sangat sempurna, ini untukmu" Taehyun memberikan bunga mawar berwarna merah"

"waw, gomawo" ucap Baekhyun malu-malu.

"sudah siap?" tanya Taehyun dan mengulurkan tangannya.

Baekhyun mengangguk dan menerima uluran tangan Taehyun dan menutup pintu apartemennya yang otomatis terkunci.

.

.

.

Chanyeol sangat lelah dengan berbagai aktivitasnya hari ini.

Dari memeriksa berkas, mengambil gaun kakaknya, rapat ini rapat itu.

Chanyeol memutuskan untuk pulang ke apartemennya, tapi sebelumnya menyegarkan otaknya di sungai yang tak jauh dari apartemennya.

Sungai yang lumayan sepi, untuk sekedar bersantai melepaskan penat.

.

.


The Space Between


.

.

Baekhyun disuguhkan dengan makanan-makanan mewah, dan berbagai kejutan dari Taehyun.

Dari music yang diputar di Restaurant tersebut adalah lagu kesukaan Baekhyun.

Meja makan dengan view laut.

Restaurant yang disewa Taehyun, dan jadilah mereka adalah satu-satunya pengunjung disana.

"kau suka?"

"sangat suka, gomawo Taehyun" jawab Baekhyun dengan senyuman yang membuat matanya berbentuk seperti bulan sabit.

"sudah kenyang?"

Baekhyun mengangguk sebagai jawaban.

"kita pulang?" tawar Taehyun.

"baiklah"

.

.

.

Mobil yang ditumpangi Baekhyun dan Taehyun memasuki area yang Baekhyun kurang tau.

"kita mau kemana?" tanya Baekhyun.

"aku ingin mengunjungi suatu tempat dulu, apa kau keberatan?" tanya Taehyun lembut sembari mengusap tangan Baekhyun yang berada dipahanya.

"ah, tidak keberatan sama sekali" jawab Baekhyun dengan senyuman.

Tak lama mobil itu berhenti di suatu tempat ang cukup sepi.

CKLEK

Suara penguncian mobil, yang hanya dapat dibuka oleh pengemudi.

Taehyun mendekatkan dirinya kearah Baekhyun, refleks Baekhyun memundurkan badannya.

"Taehyun jangan bercanda, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Baekhyun mulai ketakutan.

Seringaian tercetak jelas diwajahnya.

KLEK

Taehyun membuka pisau lipatnya yang sedari tadi ada dikantong celananya.

"kau takut?" suaranya memberat, terasa sangat mengancam.

"kau tak ingat aku?" tanyanya lagi.

"apa maksudmu?" tanya Baekhyun yang kini sudah berkeringat dingin.

"ah, mungkin benar kau tak mengingat aku, tapi pasti kau mengingat adikku?"

"sebenarnya apa maksudmu aku tak mengerti?"

"kau cantik tapi bodoh, terlalu mudah untuk di bohongi"

Pisau yang tadinya jauh, muali mendekati pipi Baekhyun.

Pisau itu terlihat sangat tajam.

"APA KAU INGAT KIM SOJIN?" teriak Taehyun di depan wajahnya.

Baekhyun memejamkan matanya, kaget dengan teriakan Taehyun.

"k-kim so-soj-in?"

"YA KIM SOJIN, APA KAU MENGENALNYA?"

"hahaha kau mematahakan tangan dan kakinya saat perlombaan hapkido" suara Taehyun melemah.

Baekhyun tetap diam.

"kau tau DIA ADIKKU, DIA LUMPUH DAN TAK ADA SEMANGAT HIDUP HINGGA DIA MENINGGAL!"

Nafas Taehyun memburu

"bagaimana jika kau merasakan sakit yang adikku rasakan Baekhyun?" Taehyun menyeringai dan semakin medekatkan pisau itu hingga menempel pada pipi Baekhyun.

SRET

"akh, appo" ringis Baekhyun saat pisau itu merobek pipi kananya.

Airmata mulai turun membasahi pipinya dan itu membuat pipinya semakin nyeri, Baekhyun tek berani melawan, karena saat ini posisinya Taehyun menindihnya.

SRET

Kini giliran pahanya.

"aw" Baekhyun mulai menangis keras Karena rasa sakit semakin bertambah.

SRET

Kini tangan sebelah kirinya yang sobek.

Baekhyun semakin menangis.

"DIAM!" bentah Taehyun.

Baekhyun menahan tangisnya dan menyisakkan isakan perih.

Taehyun menjambak rambut Baekhyun, "aw, appo. Maafkan aku"

"APA? MAAF? Dengan semudah itu mau bilang maaf? Apa kata maafmu dapat mengembalikan nyawa adikku? APA IYA? JAWAB?"

Baekhyun hanya menggeleng dan terus menahan tangisnya.

Taehyun menciumi leher Baekhyun dan memberikan tanda keunguan di leher itu.

Rasanya sangat sakit, Baekhyun mencoba memberontak tapi ketika berontak bagian ditubuhnya akan disobek dengan pisau.

Perih, sakit, sedih, bersalah, semua menjadi satu.

Sampai,

PRANG

Kaca mobil Taehyun pecah, dan seorang namja membuka paksa pintu mobil itu.

Taehyun yang belum siap mendapat serangan secara mendadak.

BUGH BUGH BUGH BUGH

Taehyun tersungkur di tanah.

"kau tak apa?" tanya namja yang memecahakan kaca mobil.

Baekhyun memejamkan matanya, masih menahan tangisnya akan rasa sakit perih dan bersalah.

SRET

"aw" lengan namja itu sobek oleh pisau yang dipegang Taehyun.

BUGH BUGH BUGH

"BERANINYA KAU!" geram namja itu dan,

BUGH

Taehyun tersungkur ketanah, dan tak sadarkan diri.

Namja itu segera menggendong Baekhyun.

rambut Baekhyun yang awalnya tertata rapi, kini sudah kusut dan tidak teratur.

gaun berwarna putihnya sudah sobek di beberapa bagian dan berwarna darah.

sobek pada bagian gaunnya mengekspos bagian tertentu tubuh Baekhyun.

Karena merasa tubuhnya melayang Baekhyun memberanikan membuka matanya.

"kau?" Baekhyun dengan suara paraunya

"tenanglah kau sudah aman" kata namja itu sambil menahan nyeri di lengan kanannya yang sobek, ditambah beban Baekhyun.

"Park?" pandangan Baekhyun masih kabur.

"Chanyeol, panggil saja aku Chanyeol" kata namja itu dan memberi senyuman.

Entah gerakan darimana Chanyeol mendekatkan wajahnya dan mencium kedua mata Baekhyun.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

aaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhh akhirnya update, ditengah tengah tugas yang menumpuk, ini udah kelas 12 tetep aja dikasih tugas ini itu, udah gitu setiap hari adaaaaa aja ulangan, entah itu tulis atau lisan, hadeuhhh.

dikit? iya emang dikit, aku gak punya banyak waktu jadi miaannnnnnnnn.

maaf kalo chap ini tidak sesuai keinginan, entah kenapa tadi malem pas lagi menghafal terlintas ide, heheheh jadilah kelanjutan ini.

oh ya ini belum konflik looohhhh, jadi jangan salah dulu ya, sebelum Chanyeol atau Baekhyun menderita ya belum konflik heheheh.

oke ditunggu ya reviewnya, dan aku gak berani janji buat update cepet, miannnn.

pay pay ^.~