Kuro dorobō

Disc © Masashi Kishimoto

Chapter 6

Rated : T

Pair : NaruXOc

Warning : OOC, abal, Gaje, typo(s), EYD tak beraturan, imajinasi liar Author

Kuro dorobo : Ivera1412

"Ohayou Minna..." Sapa Naruto sambil berteriak dengan cerianya. Meski sebenarnya moodnya hari ini sedang tidak bagus, Naruto menatap satu persatu teman-temannya yang mengguarkan aura kesuraman yang pekat.

"A-ada apa Kiba, kenapa semua orang diam?" tanya Naruto berbisik pada Kiba.

"Kau baru datang jadi Kau tak tahu, tadi Sensei datang dan memberitahu Kami. Semalam Ayah Shikamaru mengalami kecelakaan, dan meninggal ditempat kejadian rumah sakit," jawab Kiba pelan.

"A-apa?" dunia Naruto seakan diguncang dengan gempa hebat, apa katanya? Paman Shikakau meninggal? Dan semalam itu bukankah Dia bertemu dengan Shikaku. Apa kecelakaan terjadi sesaat setelah bertemu dengannya.

"Aku juga tak menyangka. Setelah pelajaran usai Aku dan yang lainnya akan ke rumah Shika. Kau ikutkan Naruto, bagaimanapun Shikamaru adalah sahabatmu."

"Naruto?" Kiba menatap Naruto yang seperti orang linglung.

"Ah tentu Aku ikut." Jawab Naruto.

Fikirannya pecah, tenaganya seakan ditarik paksa keluar, Dia berjalan perlahan menuju bangkunya , otaknya bekerja keras, kemarin adalah hari terakhir pertemuan Mereka. Kebetulankah?

'Bagaimana bisa?' batin Naruto.

(Ivera1412)

Tatapan Naruto jatuh pada Shikamaru yang terdiam didekat peti Ayahnya sambil memeluk Sang Ibu yang terus menangis di dadanya. Namun Naruto tahu Shikamaru memendam kesedihannya, Dia mencoba bersikap dewasa, Dia anak tunggal, sebagai anak Dia harus tegar menerima semua keluh, kesah dan tangis Ibunya.

"Aku dan keluarga Namikaze turut berduka Bibi, Shikamaru. Ayah dan Ibu meminta maaf karena tak bisa datang ke pemakaman Paman Shikaku." Naruto membungkuk hormat setelah selesai menyimpan bunga mawar putih diatas altar.

"Terima kasih Naru-kun," ujar Yoshino disela tangisnya.

Saat Naruto pamit undur diri Dia berpapasan dengan pria berperawakan tinggi besar dan cukup sangar menghampiri Shikamaru dan Yoshino. Dan Naruto tahu siapa Dia, kalau tidak salah Dia adalah Morino Ibiki , polisi yang biasa bertugas mengintrogasi tersangka pelaku kejahatan, rumornya mengatakan tak ada tersangka yang tak mengaku saat Ibiki melakukan introgasi. Ahh Kalian mungkin merasa aneh Naruto tahu wajah-wajah para polisi. Jangan meremehkannya, Dia memang harus menghafal setiap polisi yang biasa tergabung dalam penyelidikan Kuro dorobo tentu saja dengan sifat Mereka juga Dia harus hafal. Jika dikeandaan genting Dia akan menyamar sebagai salah satu dari Mereka, sebagai info saja, didalam kepolisian hanya 3 orang yang Naruto tak mau menyamar menjadi Mereka. Shikaku yang sudah pasti akan sulit, Dia seolah tau pergerakannya,jika Dia bertemu Paman Shikaku saat menyamar menjadi dirinya sudah pasti langsung ditangkap. Ibiki, lihat saja wajah dan perawakannya, Naruto enggan mengubah wajahnya yang tampan seperti Ayah Minato itu menjadi seperti Ibiki, dan tentu saja yang terakhir adalah Paman Fugaku, dapat dibayangkan jika Dia menyamar menjadi Fugaku yang terkenal akan kekakuannya, dan aura intimidasi ala Uchiha, apalagi jika Dia tak sengaja bertemu Fuma, bisa berabe nanti.

Oke itu sudah diluar topik, Kini Kita kembali pada TKP.

"Nyonya Yoshino, Shikamaru-kun lama tak bertemu, masih ingat Saya? Saya Detektif Morino Ibiki dari bagian introgasi, Saya dan bawahan Saya mengucapkan bela sungkawa, saya tak menyangka kejadian seperti ini terjadi pada detektif Shikaku," ujar Ibiki memberi hormat pada Yoshino.

"Ya, Aku masih mengingatmu Ibiki-san. Dan juga terimakasih," ujar Yoshino.

"Begini Nyonya Yoshino, Saya ingin menyampaikan beberapa hal tentang kecelakaan Shikaku-san, Maaf sebelumnya, Saya datang ditengah duka seperti ini."

Yoshino menatap sang putera, Shikamaru memberi anggukan.

"Silahkan ikut Saya," Shikamaru membawa Ibiki menjauh, dan tentu saja Naruto membuntuti Mereka karena merasa ada yang tak beres.

"Begini, Shikamaru-kun, Ada beberapa hal yang harus Kau ketahui. Dan juga Aku meminta Kau agar menjelaskan perihal keanehan yang dapat Anda lihat sebelum kecelakaan itu terjadi." Ibiki membuka suara setelah cukup jauh dari tempat duka.

"Bisa dijelaskan detektif?" Shikamaru meminta penjelasaan.

"Yang pertama, Mobil Ayahmu disabotase seseorang. Ada bekas potongan disambungan rem mobilnya. Yang kedua, mobil yang menabrak Ayahmu ditemukan didekat dermaga yang tak jauh dari TKP. Mobil itu mobil curian. Dengan kata lain ini pembunuhan, Ada seseorang yang merencanakan pembunuhan ini." jelas Ibiki.

"Jadi maksud Detektif Ada yang meninginginkan Ayahku mati?" tanya Shikamaru memastikan.

"Ya, karenanya Shikamaru-kun apa Kau mengetahui sesuatu, sifat Ayahmu yang tiba-tiba berubah, atau alasan Dia pergi dari rumah malam itu."

Shikamaru yang memang memiliki ingatan yang baik langsung mengingat apa yang Ayahnya lakukan hari itu, "Dari dulu Ayah banyak mengurung diri di ruang kerjanya, bahkan bisa sampai seharian jika Dia memang tengah tidak bertugas. Akhir-akhir ini juga sepertinya Ayah tengah memikirkan sesuatu, dan malam itu saat Aku masuk kedalam ruang kerjanya untuk memberitahu bahwa makan malam sudah siap Ayah terlihat kaget dan menyembunyikan sesuatu dariku."

"Apa Kau tahu apa yang disembunyikan Shikaku-san itu?" tanya Ibiki penasaran.

"Tidak, Namun saat setelah makan malam Ayah pamit menemui seseorang sambil membawa 3 buah amplop coklat."

"Amplop coklat? Shikamaru-kun amplop yang Kau sebutkan itu Kau tak menemukannya dimanapun, kemungkinan amplop itu diberikan pada seseorang atau dicuri."

'Amplop coklat? Amplop yang ditunjukan Paman Shikaku padaku semalam yang berisi dataku dan kuro dorobo, dan uga hasil tes DNA. Tak ditemukan katanya? Apa mungkin dicuri oleh orang yang mencelakai Paman Shikaku? Tapi kenapa? Aku harus mulai menyelidikinya.' Batin Naruto bertekad.

"Pembicaraan ini Kita bisa sambung lagi, aku meminta kerjasamamu Shikamaru-kun. Kami juga meminta izin untukmengecek ruang kerja Shikaku-san di kediamannya."

"Tentu, Aku akan membantu. Anda bisa datang kapanpun kesini,"

Naruto yang tahu pembicaraan sudah usai langsung pergi, merogoh sakunya mengambil handphonenya untuk menghubungi Iruka. "Moshi-moshi Iruka-san, Ini Aku, bisa tolong Kau cek cctv dekat apartemenku dan cafe tempat pertemuanku dengan Paman Shikaku, dan setelah itu hapus, cari juga rekaman cctv dijalan tempat kecelakaan Paman Shikaku sebelum polisi. Ya Aku mengandalkanmu."

Naruto menutup telponnya, menghela nafas panjang, kini Dia harus menyusup kedalam kepolisian untuk melihat ruang kerja Shikaku dan penyelidikan Ibiki. Dia kini berpacu dengan kecepatan polisi, Dia tak boleh terlambat, jangan sampai polisi mendahuluinya.

"Oii dobe, Kau dicari Kiba, jangan asal menghilang," tegur Sasuke yang tentu saja membuat Naruto terlonjak kaget.

"Teme. Kau mau membuatku mati," ujar Naruto kesal.

"Jika itu bisa membuatmu mati Aku bersyukur," Sasuke menatap Naruto dengan senyum meremehkan yang membuat Naruto naik pitam.

Bletak.

Ini rumah yang tengah berduka. Kalian pulang saja jika mengganggu," Sakura memukul kepala Naruto dengan gampangnya.

"Ittai, kenapa hanya Aku yang dipukul kenapa tidak si teme juga?" protes Naruto.

"Sasuke-kun tak berisik sepertimu," jawab sakura dengan menatap Sasuke menggoda.

(1412)

"A-apa? Kau tadi bilang apa Iruka-san?" tanya Naruto memastikan.

Kini Dia sudah ada di Apartemennya, dan didepannya ada Iruka yang datang melapor apa yang didapatnya.

"Rekaman cctv pertemuan Anda, dan juga rekaman cctv kecelakaan itu hilang, berkasnya tidak ada, seseorang menghapusnya. Aku sudah mencoba membalikan file yang hilang itu namun hasilnya nihil. Tak ada jejak, Maaf.." Iruka kembali menjelaskan sambil menunduk merasa bersalah.

Naruto menatap Iruka yang terlihat benar-benar merasa bersalah, "Maaf Iruka-san, Aku tak bermaksud menyalahkanmu, Biar Aku yang menyelidiki ini sendiri."

"naruto-kun, Anda tak boleh gegabah." Tentang Iruka.

"Aku tak gegabah Iruka-san. Aku tahu apa yang Aku lakukan. Aku sudah tenang, namun semua ini membuatku frustasi. Seseorang mati setelah bertemu denganku, dan itu dibunuh. Lalu rekaman cctv hilang tanpa jejak, menurutmu apa arti semua ini? Penyelidikan ini akan menjadi berbahaya, iruka-san cukup mengawasiku, biar Aku yang tangani ini."

"Ta-tapi..."

"Aku baik-baik saja, dan Terima kasih." Iruka hanya mengangguk tanpa bisa melawan. Jika Naruto sudah membuat keputusan, maka keputusan itu sudah pasti tak bisa digoyahkan..

(1412)

"Anda datang Petugas Morino, Silahkan Masuk." Sambut Yoshino .

"Nyonya Nara, Anda tak perlu repot-repot." Ibiki tersenyum tak enak saat Yoshino menyuguhkan minuman dan juga makanan ringan dimeja ruang tamu.

"Tidak meropatkan sama sekali, Ahh Aku panggilkan puteraku dulu." Yoshino masuk tak lama Shikamaru keluar dengan membawa banyak kertas dengan coretan tak jelas.

"Ibiki-san, Akhirnya Anda datang juga, Aku ingin mendiskusikan banyak hal," ujar Shikamaru.

"Maaf baru sempat sekarang, 3 hari ini kepolisian cukup repot, jadi apa yang ingin Kau sampaikan?" tanya Ibiki.

"Setelah Anda mengecek ruang kerja Ayah, Aku juga mengeceknya kembali, menyusun kertas berisi coretan tak jelas. Awalnya Aku tak mengerti, namun 3 hari ini Aku terus mengeceknya dan tahu, semua kertas ini berhubunga dengan satu kasus." Jelas Shikamaru.

"Apa itu?" tanya Ibiki penasaran.

"Pencurian yang melibatkan Kuro dorobo. Ayah memang tengah ditugaskan khusus pada kasus ini jadi, Aku menarik kesimpulan bahwa kematian Ayah ada hubunganya dengan kasus yang ditanganinya. Namun ada yang aneh, folder dikomputer Ayah kosong, tak ada folder yang menyimpan data kasus kuro dorobo, hanya kertas coretan ini yang Aku temui dan inipun sudah tak beraturan, Kasus yang dulu ditangani Ayah biasanya disimpan didalam folder komputer, dan sampai sekarang masih ada, namun tidak dengan Kuro dorobo."

"Maksudmu kematian Shikaku-san ada hubungannya dengan pencuri itu?" tanya Ibiki.

"Besar kemungkinan. Dan amplop yang dibawa Ayah itu ada hubungannya." Jawab Shikamaru.

"Lalu Apa yang Anda temukan Ibiki-san?" tanya Shikamaru.

"Rekaman cctv ditempat kecelakaan hilang, komputer yang biasa digunakan Shikaku-san dikepolisian semua filenya hilang, Kami sudah mencoba mengembalikannya namun tidak bisa, hasilnya nihil."

'Aku juga bingung dengan penyelidikan ini, bukan hanya Shika dan Ibiki-san saja,' batin Naruto mengangguk-angguk mendengarkan percakapan Mereka dari aerophone. Ahh ngomong-ngomong Dia tengah ada di apartemennya, dan menyadap kediaman Nara.

"Aku menduga akan hal itu, karenanya coretan kertas ini mungkin akan dapat membantu Kita. Aku menemukan beberapa fakta tentang Kuro dorobo, dari coretan tak jelas ini. Pertama, Kuro dorbo seorang pemuda, entah investigasi darimana, yang pasti Ayah menuliskan hal itu. Yang kedua, kuro dorobo berhubungan dengan mantan narapidana Momochi Zabuza yang juga pernah diserang oleh pencuri itu,Yang ketiga saat melakukan aksinya pada Zabuza kaki kuro dorobo tengah terluka entah karena apa, yang keempat, kasus yang baru-baru ini terjadi disekolahku. Kuro dorobo tertusuk Katana, dan Ayah sepertinya melaukan tes namun hasil DNA entah kemana, kesimpulanku mengatakan Ayah tahu siapoa Kuro dorobo bahkan kenal, dan mencoba menemuinya membujuknya menyerahkan diri dan mengalami kecelakaan. Bagaimana kesimpulanku?"

Naruto bertepuk tangan di Apartemennya, salut dengan otak Shikamaru yang sudah tak diragukan lagi kejeniusannya. "Bravo, Aku langsung tertangkap olehmu Shika." Ujar Naruto berbicara sendiri.

"Lu-luar biasa. Tak heran Kau sering membantu penyelidikan Ayahmu, hanya dengan coretan tak jelas milik Shikaku-san Kau bisa seperti ini. Namun dalam penyelidikan akan sulit jika hanya mengandalkan coretan seperti itu, harus ada bukti nyata." Komentar Ibiki.

"Aku tahu, karenanya Aku meminta Ibiki-san untuk menyelidiki tim analisis, cari siapa yang Ayah suruh menganalisa DNA yang dibawa Ayah, mungkin kunci kasus ini ada pada DNA. Bisa saja Kuuro dorobo yang membunuh Ayah karena indentitasnya diketahui, banyak kemungkinan."

"Akan kucoba, kebetulan Aku ada teman dibagian sana. Kau tak perlu khawatir." Ujar Ibiki.

"Oh ya Shikamaru-kun, Kau bilang Kau meneliti ini dalam 3 hari? Berarti Kau tak sekolah? Apa tak masalah. Akan lebih baik penyelidikan ini Kau lakukan sambil tetap menjalani kewajibanmu sebagai pelajar. Kau juga merupakan salah satu kandidat polisi terbaik masa depan menggantikan Ayahmu." Ujar Ibiki.

"Aku memang punya rencana untuk masuk besok. Ibu sudah mengomel, menyuruhku sekolah agar Ayah tak menangis dialam sana." Ujar Shikamaru dengan nada canda terselip disana.

"Baguslah. Kalau begitu Shikamaru-kun, Aku tak bisa lama, masih banyak hal yang perlu diselidiki." Ibiki pamit.

"Ah ya Ibiki-san, jika Aku menemukan hal baru akan Aku hubungi lagi," ujar Shikamaru mengantar kepergian Ibiki sampai depan pintu.

Naruto menyudahi acara menyadapnya, sekarang Dia harus ekstra hati-hati pada Shikamaru yangnaluriahnya melebihi Sang Ayah.

(1412)

Naruto melihat jamnya sudah hampir jam 8 pagi, Dia harus cepat jika tak mau terlambat,

BRUK.

Naruto tersungkur, melihat siapa yang menyenggolnya, "Teme, kurang ajar Kau," teriak Naruto siapa yang menyenggolnya.

"Apa yang Kau lakukan dobe? Mencium jalan? Kau bisa terlambat." Ujar Sasuke dengan wajah dipolos-poloskan.

"Ini semua salahmu. Dasar Uchiha kurang kerjaan." Teriak Naruto yang melihat Sasuke berlari menuju gerbang.

Naruto mengejar Sasuke, waktu suah menunjukan bel berbunyi dan Dia hrus bergegas, "Hah.. benar-benar si teme itu meninggalkanku," ujar Naruto menatap loker-loker yang berjajar. Sudah tidak ada siapapun.

"Tentu saja tidak ada siapapun, bel berbunyi 3 menit yang lalu." Gumam Naruto, membuka lokernya mengganti sepatunya dengan sepatu dalam ruang. Namun matanya tertuju pada sebuah amplop yang terselip disana, dengan heran Naruto mengambil amplop itu.

'Mungkinkah surat pernyataan cinta? Wow Aku populer juga yaa...' batinnya. Namun ditepis jauh-jauh, dari besar amplopnya Naruto tahu itu bukan amplop biasa terlebih warna amplopnya yang hitam, entah kenapa membaw firasat tak baik.

Naruto membuka amplop itu yang berisi 3 amplop coklat, dan sebuah kertas.

'Kau mungkin sedikit terkejut melihat amplop ini, namun jangan takut, Aku selalu ada dipihakmu, melindungimu dari balik bayang-bayang, Aku sudah membereskan tikus yang mencoba menangkapmu. Dan sebagai hadiah Aku mengirimkan hadiah untukmu.'

Naruto langaung melihat 3 amplop yang ada didalam amplop hitam itu, menatap ketiganya dengan penuh selidik.

Deg.

Badannya seolah kaku, amplop dengan lambang kepolisian Jepang. Dan Naruto sangat ingat Shikaku juga membawa 3 amplop yang sama. Buru-buru Naruto memasukan ampolp itu kembali dan memasukannya kedalam tas.

'Mungkinkah ini... Kuso.. Aku ingin menyelidiki hal ini.' Batin Naruto menggebrak lokernya kasar.

Tanpa tahu bahwa ada yang tengah memperhatikannya Naruto berjalan pergi menuju kelasnya, 'Kenapa dengannya? Wajahnya terlihat frustasi?'

Naruto benar-benar tak bisa bersikap seperti biasanya. Fikirannya diisi oleh amplop itu, Dia bahkan tak mengindahkan ocehan Kiba tentang Kuro dorobo yang sekarang tak terlalu eksis. Tentu saja, karena Naruto kini sibuk dengan penyelidikannya tentang kematian Shikaku.

Naruto berjalan dengan lesu menuju apartemennya, terlalu banyak misteri membuatnya tertekan. Ingin rasanya Dia berbagi beban ini, namun jika Dia berbagi dengan Iruka, Dia merasa tak enak, pasalnya Iruka selalu saja membantunya, Dia tak ingin menambah beban Iruka.

Sreett

Naruto hampir saja tersungkur untuk kedua kalinya untuk hari ini. Jika saja orang yang menatiknya tidak mendorongnya ke dinding, perut bekas tusukan terasa kembali, lukanya memang belum sembuh benar.

"Te-teme... Kau mengejutkanku, Ada apa?" Tanya Naruto kaget sekaligus bingung.

"Aku ingin melihat tasmu." Tanpa diduga Sasuke langsung menarik tas Naruto dan mengambil amplop hitam yang ada disana.

"He-hei. Apa yang Kau lakukan..." Naruto mencoba merebutnya, namun tangan Sasuke lebih cepat, Dia bahkan sudah mengeluarkan 3 amplop yang ada didalamnya.

"Katakan Dobe. Kenapa Kau menerima amplop ini. Kau tahu, ini adalah amplop kepolisian." Ujar Sasuke.

"Kembalikan teme. Aku sedang lelah hari ini." Bisik Naruto, Dia memegang perutnya, Dia lupa minum obat penghilang rasa sakit.

Sasuke langsung membuka amplop itu satu persatu, mengeluarkan beberapa dokumen yang ada didalamnya.

"Cukup teme. Jangan membuatku marah, kembalikan." Suara Naruto terdengar rendah.

Sasuke membaca satu persatu kertas yang ada disana, terlihat ekspresinya yang terkejut. Dia menatap Naruto, menatao kembali lembaran kertas yang dipegangnya.

"Dobe Kau..."

"Teekejut?" Tanya Naruto dengan seringai yang baru pertama kali dilihat Sasuke.

Entah tenaga dariman Naruto mendorong Sasuke dan mengambil kertas yang dipegang Sasuke.

"Inilah Aku, Kau bisa menelpon Ayahmu. Aku akan menunggu polisi datang ke apartemenku." Naruto berjalan sedikit tertatih menahan rasa sakit, diambilnya amplop dan tasnya. Meninggalkan Sasuke yang diam terpaku.

-Ivera-

Naruto merebahkan dirinya disofa setelah meminum obat. Memang sekarang ini entah Dia merasakan badannya terasa panas. Ahh demam, mungkin berkat Dia yang terlalu memaksakan diri.

Brak.

Suara pintu ditendang, Naruto tersenyum mungkin ini akhir Kuro dorobo, perlahan kesadarannya hilang. Menatap siluet hitam yang mendekatinya.

TBC.

A/N : Oke akhirnya Saya bisa melanjutkan fanfic ini setelah Saya repot dikarenakan akun ffn Saya tidak bisa dibuka, hingga akhirnya Saya pindah. Oke disini ada hal yang cukup tak terduga dikarenakan Sasuke yang mengambil paksa amplop Naruto. Nah bagaimana nasib Naruto silahkan tunggu di chapter selanjutnya. ^^