Hua… Sudah nyaris dua bulan semenjak saya mengupdate fanfict ini…
Maafkan saya, beberapa kejadian di awal tahun 2014 ini membuat saya tidak bisa mengupdate fanfict ini. Sebagai permintaan maaf, saya membuat chapter ini lebih panjang daripada chapter-chapter sebelumnya.
Terimakasih atas review-reviewnya. Itu sangat berarti bagi saya... :)
Disclaimer : I own nothing, except the plot. Please read and review :)
×Chapter 6 : Another Memory, Another Pain×
Little boy, six years old
A little too used to being alone
Another new mom and dad
Another school, another house that will never be home
When people ask him how he likes this place
He looks up and says with a smile upon his face
Sinar keperakan rembulan jatuh dengan lembut di kelopak mata Susan. Bau tanah basah menyambutnya dari tidurnya. Mengerjap dan perlahan ia mencoba membuka kelopak matanya yang terasa berat. Bayangan-bayangan yang kabur kini mulai menampilkan potongan gambar yang membuatnya tersenyum. Di sebelah kanannya, Lucy meringkuk dalam dekapan Peter. Dan di sebelah kirinya Edmund menyandarkan kepalanya pada kepalan tangan yang ia letakkan di atas paha kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang pergelangan tangan kiri Susan, seolah menahannya untuk pergi dari kasur. Perlahan Susan berusaha untuk bangkit dari posisi tidurnya. Sontak tangan Edmund yang memegangi pergelangan tangannya menegang.
"Shh… Losto vae, muindor nin,(1)" bisik Susan lembut.
Perlahan tangan Edmund melemas. Susan mengernyit kemudian menoleh ke arah kiri, melihat luka yang -tadinya- berada di tangan kirinya. Ia meraba tangan kirinya dan tersenyum.
"Healing cordial… Hannon le, Lue,(2)" senyumnya lalu berusaha membuka dan menutup genggamannya.
Merasa yakin bahwa kondisinya sudah jauh lebih baik, Susan berusaha melepaskan jemari Edmund dari pergelangannya. Usaha yang tak mudah, memang. Mengingat bagaimana jemari Edmund selalu kembali ke tempat asalnya saat Susan berusaha menggangkat jari yang lain. Susan menghela nafas pelan, berusaha menahan emosinya. Dengan gerakan cepat, Susan menarik tangannya dari genggaman Edmund. Setelah meyakinkan diri bahwa Edmund tidak terbangun, Susan berusaha turun dari kasur tanpa menimbulkan suara. Perlahan, Susan membuka pintu kamar, dan setelah melemparkan senyum kemenangan pada saudara-saudaranya yang sedang terbuai dalam mimpi, ia keluar dari kamar dan menutup pintu.
Susan setengah berharap koridor gelaplah yang akan menyapanya saat ia keluar dari kamar. Namun, secercah sinar tampak di ujung koridor.
"Apakah masih ada yang terbangun?" gumamnya bingung, sinar rembulan membuat ia yakin bahwa saat ini sudah memasuki tengah malam.
Perlahan Susan mengikuti cahaya itu menuju ke ujung koridor yang membawanya ke sebuah ruang duduk. Seseorang menduduki salah satu kursi yang ada di ruang tunggu itu, namun Susan tidak yakin siapa karena orang itu menundukkan kepalanya, asyik dengan buku tebal yang ada di hadapannya. Susan tidak merasa perlu untuk menjaga agar langkah kakinya tidak terdengar. Siapapun orang itu, tidak mungkin ia memiliki niat buruk. Peter dan Edmund ada di sini, tak mungkin mereka membiarkan sembarangan orang untuk memasuki rumah itu. Tiba-tiba orang itu mengangkat kepalanya dan memandang Susan dengan heran.
"Queen Susan? Mengapa anda berada di sini?"
"Aku juga bisa menanyakan hal yang sama padamu, Prince Caspian," jawab Susan dan melemparkan senyum kecil pada Caspian.
"Please, just Caspian."
"Dan kau bisa memanggilku Susan, tanpa embel-embel lainnya," ujar Susan tegas, "May I?" tanya Susan seraya menunjuk kursi di hadapan Caspian.
"Tentu saja," jawab Caspian, "Bagaimana keadaanmu?"
"Jauh lebih baik. Antidote yang dibuat oleh Professor Cornelius serta Healing Cordial milik Lucy membuatku lebih baik."
"Syukurlah," Caspian menghela nafas lega, "Uh, Susan…"
"Hm?"
"Aku ingin meminta maaf padamu, kau tahu, aku tak seharusnya marah seperti itu padamu," ujar Caspian pelan lalu menundukkan kepalanya, memperhatikan jemarinya yang kini lebih menarik perhatiannya.
"Hey, Caspian," panggil Susan, "Caspian, look at me," pintanya.
Caspian merasakan jemari yang menyentuh dagunya, membuatnya mengangkat pandangannya ke arah Susan.
"It's alright. Kau tak tahu apa yang pernah terjadi padaku," ujar Susan lembut.
"Walaupun begitu…"
"Kita tak usah membicarakan masalah itu lagi, hm? Percayalah, itu bukanlah hal yang menyenangkan untuk dibicarakan," pinta Susan memotong perkataan Caspian.
"My apologies, Que…" Caspian terdiam saat melihat Susan menatapnya, "Ehm… Susan," ujarnya pelan.
"Never mind," jawab Susan seraya tersenyum, "Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Susan seraya menunjuk buku yang berada di hadapan Caspian.
"Oh uh ini…"
"Gol…den… Age… The Be… ginning of the… Era?" tanya Susan tak percaya saat membaca judul buku itu dengan terbalik, "Aku tak tahu kau tertarik dengan sejarah Narnia, bukankah hal itu bukan merupakan hal yang wajar bagi orang Telmarine?"
"Yah, well, memang bukan hal yang wajar bagi orang Telmarine. Namun, perawatku saat aku masih kanak-kanak diam-diam sering membacakan sejarah Narnia. Tentu saja saat itu aku masih berpikir bahwa itu hanyalah dongeng semata. Pamanku sangat marah saat ia mengetahui hal itu, dan ia mengusir perawatku itu, yang beberapa tahun kemudian kuketahui sudah tewas karena dipenggal oleh salah satu orang suruhan pamanku," kilatan kesedihan tampak berkelebat di mata coklatnya, tanpa disadarinya tangan Susan sudah menggenggam jemarinya yang kini berguncang.
######################################################################
Suara langkah kaki kecil terdengar menggema di koridor yang mengarah ke kamar King Caspian IX. Dengan bersiul pelan, Caspian X, atau yang biasa dipanggil oleh keluarganya dengan sebutan Caspie, membawa sebuah buku tebal yang kini berada di dekapannya. Setibanya di depan kamar ayahnya, Caspie mengetuk pintu. Setelah menunggu beberapa saat tanpa adanya sahutan dari dalam, Caspie berusaha berjinjit untuk membuka pintu.
"Father?" panggil Caspie saat ia masih berada di ambang pintu.
Tak mendapatkan respon yang diharapkan, Caspie berjalan menuju kasur melihat gundukan di balik selimut tebal ayahnya, yang ia anggap tubuh ayahnya. Perlahan ia mengguncangkan 'tubuh' ayahnya tersebut.
"Father, wake up," panggilnya semakin keras mengguncangkan 'tubuh' itu, "Father, kau telah berjanji untuk mengajakku berkuda ke Beruna hari ini. Ayo bangun."
Caspie yang kesal karena ayahnya tak kunjung bangun, memutuskan untuk membuka selimut yang menutupi ayahnya. Dengan menyeringai, karena ia tahu kalau ayahnya pasti akan langsung terbangun jika selimutnya dibuka, Caspie menarik selimut tersebut sekuat tenaganya.
Apa yang dilihatnya bukanlah sesuatu yang ia harapkan. Wajah tampan ayahnya kini tampak sangat mengerikan baginya. Mata teduh ayahnya kini melotot, seolah melihat sesuatu yang sangat menyeramkan di depannya saat ia tertidur. Namun mata indah itu kini kehilangan binar kehangatannya.
"Father?" perlahan Caspie mengulurkan tangannya, menyentuh wajah ayahnya.
Rasa dingin yang menyebar di tangannya membuatnya segera menarik tangannya. Air mata kini mulai tampak di mata bulatnya. Perlahan ia melangkah mundur, menjauhi tempat tidur ayahnya, sebelum bagian belakang kakinya menabrak lemari baju ayahnya.
"NOOO!" teriakan histeris Caspie memecahkan keheningan pagi itu, dipantulkan oleh dinding batu dingin yang menjadi saksi di kamar ayahnya.
Dengan segera suara langkah orang yang berlari memenuhi koridor dan kamar itu. Sepasang tangan tegas menarik tubuh Caspie yang kini berguncang karena tangis histerisnya.
"No, no… father… no!" teriak Caspie, berusaha berontak dari tangan yang kini menggendongnya.
"Caspian, Cas…" tangan kecil Caspie nyaris mengenai wajah orang itu, "Caspian, it's me, Uncle Miraz," lanjut orang itu.
Caspie mengangkat wajahnya dan menatap mata coklat pamannya.
"Un… uncle?"
"Yes, Caspian, it's me," jawab Miraz.
Caspie membenamkan wajahnya ke dada pamannya dan menangis histeris. Senyum licik terukir di wajah Miraz yang kini terhindar dari pandangan Caspian.
"Shh… Semua akan baik-baik saja. Paman ada disini. Semua akan baik-baik saja," bisik Miraz, tanpa bisa menghapus senyum di wajahnya.
"Jendral Glozelle, kau harus segera mengurus segala keperluan pemakaman King Caspian. Aku akan mengurus Prince Caspian," ujarnya pada salah satu jenderal yang menjadi orang kepercayaannya.
Untuk mengatakan bahwa kehidupan Caspie berubah merupakan suatu hal yang terlalu konyol. Bagi Caspie, atau yang kini harus membiasakan diri dengan panggilan Prince Caspian dari paman dan bibinya, hidup kini hanyalah warna hitam dan putih belaka. Hari-hari ia lalui dengan senyum palsu yang ia paksakan terus menghiasi wajahnya.
Paman dan bibinya memang mengurusnya. Memastikan bahwa semua kebutuhannya terpenuhi. Namun, Caspian sangat merasakan sesuatu yang kurang. Di depan orang lain pamannya akan berusaha tampak menyayanginya, namun saat mereka sendiri, pamannya akan mengabaikannya. Seolah ia hanya pajangan di kastil.
Bibinya memang lebih baik dari pamannya. Terkadang bibinya-lah yang berlari untuk mendekapnya di tengah malam saat ia terbangun dari mimpi buruknya. Namun beberapa pertengkaran antara paman dan bibinya, yang terjadi di depan matanya, perlahan membuat bibinya menjauh darinya.
Hari demi hari ia habiskan dengan belajar, berlatih menggunakan pedang dan memanah, serta mengurung diri di kamar. Terkadang, ia bertanya-tanya, untuk apakah ia masih ada di dunia ini? Bukankah lebih baik ia cepat meninggal, agar bisa bertemu dengan ayah dan ibunya?
Ia curiga bahwa pamannya sudah bisa menduga pikirannya itu. Sebab, walaupun ia berlatih menggunakan senjata, di kamarnya sendiri nyaris tak ada benda tajam maupun benda yang sekiranya bisa membunuhnya.
Rasa frustasinya semakin menjadi-jadi, hingga pada suatu hari pamannya mengenalkan seorang wanita separuh baya yang akan menjadi perawat pribadinya.
Semenjak hari itu, kehidupan Caspian semakin membaik. Ia yang dulu merupakan pribadi yang tertutup dan sangat pendiam, kini mulai mau membuka mulutnya. Senyumnya kini bukanlah sebuah senyum palsu, melainkan senyum yang berasal dari hatinya.
Knock… knock… knock…
Sebuah ketukan membuat Caspian mengangkat wajahnya dari buku tebal yang sedang dibacanya.
"Come in," pintanya.
Perlahan pintu terbuka dan perawatnya masuk ke dalam kamar Caspian dengan senyum di wajahnya.
"Bukankah sekarang sudah waktunya bagimu untuk tidur?" sebuah suara menyapanya.
"Ah… Gwenn. Aku sudah mencarimu sejak kemarin," seru Caspian lalu berlari mendekap perawatnya, yang kini sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri.
"Maafkan saya, Prince Caspian. Kemarin saya pulang ke rumah saya untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal," jawab Gwenn lembut.
"Gwenn, panggil aku Caspian. Tanpa embel-embel 'Prince'," ujar Caspian, "Apa yang kau sembunyikan di balik badanmu?" tanyanya saat menyadari Gwenn menyembunyikan tangannya di punggung, tak membalas pelukannya.
"Hm… Close your eyes, Caspian," pinta Gwenn.
"Hei…"
"Just close it," potong Gwenn.
Caspian menghela nafas, lalu menutup kedua matanya.
"Baiklah, kau bisa membuka matamu sekarang," kata Gwenn beberapa saat kemudian.
Perlahan Caspian membuka kedua matanya. Matanya melebar saat ia menatap buku yang kini berada di hadapannya. Buku yang bergambar seekor singa yang sedang mengaum.
"The Resurrection of the Lion?"
"Singa yang lebih dikenal dengan nama Aslan," ujar Gwenn.
"Aslan? Aku tak pernah mendengar nama seperti itu sebelumnya," protes Caspian.
"Aku menyadari hal itu. Oleh sebab itu aku membawakan buku ini untukmu."
"Really? Thank you so much Gwenn. You're the best!" seru Caspian lalu kembali memeluk Gwenn.
"Never mind, Caspian," ujar Gwenn seraya mengacak rambut hitam Caspian.
"Maukah kau membacakan buku ini untukku sekarang?" tanya Caspian.
"Hm…"
"Please please please…" pinta Caspian.
"Baiklah, baiklah… Kau tahu aku tak akan pernah bisa mengatakan tidak untuk wajahmu itu, Caspian," jawab Gwenn diiringi tawa kecilnya.
Malam itu, untuk pertama kalinya Caspian mendengarkan dongeng tentang Narnia, tanah yang kini menjadi kekuasaan Telmarine, serta Aslan. Dan malam itu pula, untuk pertama kalinya Caspian tidak mengalami mimpi buruk yang terus menerus menghantuinya semenjak kematian ayahnya dua tahun lalu.
Keesokan harinya, Caspian berjalan menuju ruang maka dengan muka berseri.
"Good morning, Uncle Miraz, Aunt Prunaprismia," sapanya dengan senyum lebar.
"Good morning," jawab pamannya dingin.
"Selamat pagi Caspian," Prunaprismia melemparkan senyum kecil pada Caspian, "Kau terlihat sangat bahagia pagi ini, ada apa?"
Caspian hanya mengangkat bahunya dan kemudian menyendok bubur dihadapannya, "Bukan apa-apa, Auntie, aku hanya senang karena Gwenn sudah kembali ke istana," jawabnya dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya.
"Benarkah?"
"Ya, tadi malam ia mengunjungi kamarku dan membacakan dongeng yang sangat menarik untukku."
Prunaprismia membuka mulutnya, hendak bertanya pada Caspian kembali. Namun, tatapan tajam yang dilemparkan suaminya membuatnya menutup mulutnya kembali.
Keheningan kembali menyapa ruangan itu.
"Uncle Miraz, apakah Uncle pernah mendengar tentang Aslan?"
Pertanyaan yang tiba-tiba dilontarkan Caspian seolah membuat segalanya membeku. Miraz meletakkan sendok yang tadinya sudah hampir berada dimulutnya dan memandang Caspian dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan.
"Pardon me?" tanya Miraz dengan ketenangan yang dibuat-buat.
"Aslan. Apakah Uncle pernah mendengarnya?"
"Kurasa tidak," jawab Miraz, "Kalau aku boleh bertanya, darimana kau mengetahui tentang Aslan ini?"
"Oh, aku mendengarnya dari dongeng yang dibacakan oleh Gwenn tadi malam."
"Benarkah?" tanya Miraz lalu membersihkan mulutnya dengan serbet, "Maafkan aku, tapi sepertinya aku harus melakukan sesuatu yang sangat penting," ujar Miraz lalu berdiri dan meninggalkan meja setelah melemparkan tatapan pada istrinya.
"Kau membuat kesalahan, Caspian," gumam Prunaprismia, "dan aku khawatir tak akan ada yang bisa memperbaikinya."
"Huh?"
"Ah… bukan… bukan apa-apa. Cepat habiskan sarapanmu Caspian. Pelajaran sejarah dimulai sepuluh menit lagi, bukan?"
Caspian mengeluh, namun tak lama kemudian ia membersihkan mulutnya dengan serbet dan berdiri dari meja.
"Aku tak ingin mendapat hukuman untuk menghafalkan sajak-sajak Telmar dari Lord Bernard lagi," Caspian mencium pipi bibinya, "Have a nice day, Auntie," ujarnya lalu berjalan menuju ke ruang perpustakaan.
"Have a nice day too," bisik Prunaprismia saat Caspian sudah meninggalkan ruang makan, "my poor Caspie."
Beberapa hari kemudian, Caspian bersiap untuk tidur dan menunggu kedatangan Gwenn untuk membacakan cerita baginya. Dengan menahan kuap-nya, Caspian menggerakkan jemarinya di atas gambar ukiran yang ada di buku di pangkuannya dengan bosan. Ketukan di pintu membuatnya menggangkat kepala dan berlari untuk membuka pintu.
"Gwenn, dari mana saja kau? Aku sudah…" ocehan Caspian terhenti saat melihat tubuh yang berada di hadapannya adalah tubuh yang terbalut dengan tunik serta ikat pinggang kulit, alih-alih gaun katun, "Oh uh… Good evening, Uncle," dengan cepat ia menyembunyikan buku yang berada dalam genggamannya di balik punggungnya.
"Caspian, mengapa kau belum tidur? Bukankah sekarang sudah melebihi jam tidurmu?"
"Uh… aku… aku me…," Caspian berusaha menelan ludahnya dengan susah payah, "Aku menunggu Gwenn untuk membacakan cerita bagiku sebelum aku tidur."
"Biar paman tebak. Cerita tentang negeri khayalan bernama Narnia?"
"Negeri khayalan? Tidak paman…"
"Ah, dengan sangat menyesal Paman harus mengambil buku itu, Caspian. Buku berisi dongeng tak masuk akal tentang Narnia yang berada di balik punggungmu itu," Miraz mengulurkan tangannya ke hadapan Caspian.
"Paman, apa maksudmu?"
"Caspian! Tidak layak bagi seorang pangeran, terlebih pewaris tahta Terlmarine untuk membaca berbagai hal tak masuk akal seperti itu. Sangat tidak layak," bentak Miraz, "Berikan buku itu pada paman, sebelum paman terpaksa mengambilnya dari tanganmu sendiri. Cepat!"
Perlahan dan dengan ragu Caspian mengulurkan buku yang ia sembunyikan di balik punggungnya itu. Dengan cepat, jemari Miraz mengambil buku itu dari tangan Caspian yang mulai gemetar.
Dengan langkah cepat, Miraz berjalan ke depan perapian yang menyala di kamar Caspian. Dengan senyum licik, Miraz mulai merobek buku itu dan melemparkannya ke dalam lidah api.
"PAMAN, APA…"
"Seharusnya aku tak perlu melakukan hal itu. Namun, demi kebaikanmu sendiri, aku terpaksa melakukannya, Caspian," potong Miraz, lalu berjalan menuju pintu.
Sesaat sebelum menutup pintu, ia menoleh ke arah Caspian yang menatap perapian dengan tatapan kosong.
"Oh, nyaris saja aku lupa. Mulai sekarang, Gwenn tak akan lagi menemanimu, Caspian. Jadi sebaiknya kau lupakan dia dan segala hal tak masuk akal yang ia ceritakan padamu," ujar Miraz dengan nada kasual.
"Apa… Kenapa…"
"Kenapa? Well, katakanlah ia membuat seorang pangeran dari kerajaan Telmarine bertindak di luar batas. Bahkan, nyaris membuatnya tak layak di sebut sebagai pewaris tahta kerajaan. Dan kau tahu apa yang menjadi hukumannya, bukan? Diusir dari istana ini untuk selamanya atau dipenggal. Karena belas kasihanku-lah pengadilan memilih pilihan yang pertama, alih-alih memenggalnya. Walaupun bisa kukatakan, sepantasnya ia mendapat hukuman pemenggalan," jawab Miraz dengan tawa kecilnya, lalu menutup pintu kamar Caspian, meninggalkan Caspian yang hanya bisa mematung memandang pintu kamarnya yang tertutup.
Tanpa sadar, Caspian menjatuhkan dirinya ke lantai kamarnya dan menangis. Rasa dingin yang disebarkan dari lantai beku di bawah tubuhnya tak sedikitpun membuatnya terusik.
"No, Gwenn… Aslan, why did you let this happen to her?" bisik Caspian di tengah tangisnya.
Dua tahun telah berlalu setelah kepergian Gwenn, Caspian seolah kembali berubah menjadi mayat hidup. Bisa dibilang lebih parah. Sama sekali tak ada senyum yang menghiasi wajahnya, bahkan senyum palsu seolah enggan untuk hadir. Sikapnya kini sangat dingin.
Kebenciannya terhadap pamannya sama sekali tak bisa ditutup-tutupi. Sebisa mungkin ia akan menghindari pamannya. Dan salah satu cara yang berhasil ia lakukan adalah dengan bersembunyi di ruang perpustakaan istana. Ia tahu, pamannya sangat membenci perpustakaan. Untuk beberapa waktu, cara itu berhasil dengan baik.
Namun tidak dengan hari ini.
Caspian mengangkat wajahnya dari buku dihadapannya saat mendengar pintu perpustakaan terbuka. Dengan satu lirikan, ia melihat pamannya dan lelaki tua berjalan ke arahnya di tengah perpustakaan. Caspian membuang muka, berpura-pura terhanyut dalam bacaannya.
"Caspian, perkenalkan Professor Cornelius, tutor sekaligus pengasuhmu yang baru," ujar pamannya.
"Aku tak butuh tutor. Aku bisa belajar sendiri. Toh perpustakaan ini memiliki lebih dari cukup referensi bagiku untuk belajar," jawab Caspian acuh, matanya melirik tangan pamannya yang mulai terkepal menahan emosi.
"Kau…"
"Forgive me, to interrupt you, your majesty. Namun saya rasa saya bisa mengenal Prince Caspian lebih baik jika anda meninggalkan kami berdua," suara berat memotong ledakan amarah yang siap keluar dari mulut Miraz.
"Urusan kita belum selesai, Caspian," desis Miraz lalu berjalan dengan langkah penuh amarah keluar dari perpustakaan.
"Selamat siang, Prince Caspian," sapa suara berat itu lagi.
"Kurasa aku tak punya urusan dengan anda, Professor Cornelius. Maafkan aku, namun aku harus segera menghadiri latihan berpedang," ujar Caspian, beranjak dari bangku yang didudukinya.
"Apakah kau kira Gwenn akan bahagia di sana, saat melihatmu bertingkah seperti ini?"
Ucapan Professor Cornelius membuat Caspian terdiam. Perlahan Caspian menolehkan kepalanya.
"Pardon me?"
"Kukira Gwenn telah berhasil mengubah anda menjadi orang yang lebih baik. Namun sepertinya aku salah."
"Kau tak berhak berbicara seperti itu padaku."
"Kukira kau sama seperti orang yang Gwenn ceritakan padaku selama ini, my prince," lanjut Professor Cornelius, tak memperdulikan tatapan tajam yang dilemparkan oleh Caspian.
"Apa…"
"Gwenn adalah saudara sepupuku. Dan ia telah bercerita banyak tentangmu. Termasuk menitipkanmu kepadaku jika terjadi sesuatu yang buruk padanya."
"Apakah kau kira aku mempercayaimu, huh? Cerita seperti itu…"
"Apakah ini bisa membuatmu percaya kepadaku?" perlahan Professor Cornelius mengulurkan seuntai kalung ke hadapan Caspian.
Mata Caspian membulat. Dengan tangan bergetar ia mengambil kalung itu dan membalik liontinnya. Nafasnya tercekat saat ia melihat tulisan di liontin itu. Tanpa sadar, tangannya menggenggam kalung yang teruntai di lehernya sendiri. Kalung dengan liontin yang sama persis dengan liontin yang berada di kalung yang Professor Cornelius tunjukkan padanya.
"Bagaimana… apa yang…"
"Gwenn menitipkannya padaku dua tahun yang lalu. Ia mengatakan padaku, inilah satu-satunya cara agar kau percaya padaku, my prince," jawab Professor Cornelius lembut.
Caspian berdeham, matanya mengerjap berusaha menahan air mata yang mengancam akan menetes.
"Lalu… lalu, bagaimana… Gwenn sekarang? Apakah ia baik-baik saja?"
Professor Cornelius menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Caspian.
"Professor?"
"Gwenn… ia meninggal dua tahun yang lalu."
"Apa?" pertanyaan Caspian kini hanya berupa bisikan.
"Salah satu jendral memenggalnya. Tepat di hadapanku."
Air mata yang sejak tadi berusaha ia bendung kini mengalir dengan bebas di wajah Caspian. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, seolah berusaha menutupi dirinya dari kenyataan. Perlahan Professor Cornelius menariknya ke dalam pelukan. Tangisannya kini teredam oleh bahu Professor Cornelius.
"No… no… Gwenn…"
"Shh… Semua akan baik-baik saja…"
"No…"
Professor Cornelius melepaskan pelukannya, kemudian menyingkirkan tangan Caspian yang masih menutupi wajahnya, berusaha untuk memandang wajah Caspian.
"Aku sudah berjanji pada Gwenn untuk menjagamu. Dan aku tak akan mengingkari janjiku itu. Aku akan melakukan segala yang bisa kulakukan untuk menjagamu tetap aman. Walaupun aku harus kehilangan nyawaku karenanya."
######################################################################
"Sekarang kau tahu mengapa aku sangat bersikeras untuk menyelamatkan Professor Cornelius saat kita menyerang kastil. Dia satu-satunya, orang yang telah kuanggap sebagai keluargaku sendiri yang masih tersisa," bisik Caspian parau.
"Caspian, kau punya kami sekarang. Kami menerimamu sebagai keluarga kami, kalau kau mau menerima kami."
"Benarkah?" tanya Caspian tak percaya.
"Tentu saja," senyum Susan, "mungkin sikap kami, terutama Peter, tidak terlalu baik terhadapmu, namun percayalah saat kukatakan ini. Kami sudah menganggapmu sebagai saudara kami sendiri, saat kami mengetahui bahwa kau membela Narnians dan Narnia itu sendiri. Rakyat dan negeri yang sangat kami cintai," lanjutnya seraya meremas jemari Caspian yang masih berada di dalam genggamannya.
"Susan? Apa yang kau lakukan disini?"
Uh-oh... cliffhanger?
Translate :
(1) Shh… Losto vae, muindor nin : Shh… Sleep, my brother
(2) Hannon le, Lue : Thank you, Lue
