Make a Wish

Pair: Neji.H & Tenten
Rate: K
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre:Family&Romance
Maaf chap.5 banyak banget kata-kata yang salah! Aku akan mencoba perbaiki di chap.6 ini! Happy Reading Minna… ^^/
WARNING: AU,OOC,TYPO,EYD berantakan, Kata-kata gak Baku, GaJe, DLL.

RnR Please?

CHAPTER 6

Ready... Set... Go!
_

Seperti biasa, setelah sarapan pagi aku pamit dan langsung pergi untuk bersekolah, Tenten sudah tidak sabar untuk menceritakan hal yang tidak terduga terjadi antara Tenten dan Neji kemarin, ya, mereka sudah menjadi sahabat!

"Nii-chan, aku pergi berangkat dulu ya! Jaa!" Ucap Tenten bersemangat.

"Aa, hati-hati Tenten." Jawab Kiba yang sedang serius dengan sejumlah kertas-kertas yang menurut Kakaknya penting itu, entahlah kenapa Kakaknya sangat sibuk pagi ini, padahal dia baru kelas 5 SD kelihatannya sulit sekali menjadi seorang Kakak. Tanpa membuang-buang waktu Tenten langsung beranjak pergi dari rumahnya menuju sekolah.

_Di Sekolah_

"Ohayou Sakura-chan!" Sapa Tenten pada Sakura yang sedang duduk dikursinya ditemani seorang gadis. "Ah, Ino-chan? Lama sekali kau tidak masuk sekolah? Bagaimana kabarmu? Baik-baik sajakan?" Tanya Tenten dengan semangat.

"Ohayou, Tenten-chan." Jawab Sakura dengan tersenyum.

"Hehe, genki desu. Terimakasih sudah mencemaskanku Tenten-chan, oh ya aku dan Sakura kekantin dulu ya! Bel masuk masih lama, ayo Sakura-chan," ajak Ino.

"Ah ya baiklah, oya Tenten-chan iku-"

"Tidak usah, Tenten tunggu disini saja, sebentar kok! Jaa!" Ino memotong pembicaraan Sakura dan menarik paksa tangan Sakura, Sakura hanya bisa menurut kepada Ino dan menatap Tenten dengan wajah yang seperti mengatakan `Aku ke kantin dulu,`. Tenten hanya balas dengan anggukan. Entah apa yang sedang dipikirkan Ino sampai meninggalkan Tenten sahabatnya sendirian di kelas.

"Huh, ada apa sih dengan Ino, jangan-jangan dia marah lagi… Tapi apa salahku padanya?" Tanya Tenten sambil duduk dikursinya seraya memikirkan sesuatu yang membuat Ino mungkin marah padanya.

"Akh… Sudahlah, lagi pula bukan hanya dia kok sahabatku, aku masih mempunyai banyak teman!" Ucap Tenten sedikit berteriak sambil mempercayakan dirinya, "Tapi… Akh, tidak bisaaaaa! Tidak bisaaaaa!" Ucap Tenten sambil menjambak rambutnya dengan kedua tangannya, mungkin sudah seperti orang gila Tenten berbicara sendiri di kelasnya. Untung saja suasananya masih sepi jadi tidak ada yang mendengarkan ocehan Tenten tadi.

"Kau berbicara sendiri seperti orang gila, atau memang sudah gila ya?" Celetuk Neji yang baru saja masuk ke kelas dan berjalan menuju bangkunya yang ada disebelah Tenten lalu menaruh tasnya.

"Neji?"

.

.

.

_Di Kantin_

"Aduh… Udah ah Ino lepasin, kasihan tau Tenten sendirian di kelas, kamu marahan sama Tenten?" Tanya Sakura sambil mengelus tangannya yang tadi di tarik oleh Ino, tarikan Ino sudah seperti menarik sapi dengan enaknya.

"Maaf… Maaf Sakura-chan, nah sekarang duduk dulu ya, baru aku ceritakan padamu," ucap Ino sambil menyuruh Sakura duduk disebelahnya.

"Jadi kamu beneran lagi marahan sama Tenten?" Tanya Sakura panik dan duduk disebelah Ino.

"Bukan! Memangnya kau tidak ingat besok tanggal berapa?" Ucap Ino berbalik tanya.

"Huft… Syukurlah kalau begitu, eng… tunggu dulu, tanggal… 9?" Ucap Sakura ragu.

"Yap, 9 apa ya?" Tanya Ino dengan nada bicara yang dibuat-buat.

"9 Maret," jawab Sakura polos.

"… " Satu detik hening.

"… " Dua detik hening.

"Ah! Tenten-chan ulang tahun!" Ucap Sakura akhirnya mengerti yang dimaksud oleh Ino.

"Hah… Kau ini lamban sekali sih Ra? Haha, ya sudah… Besok rencanannya apa buat ngerayain ulang tahun Tenten?" Tanya Ino.

"Hm… bagaimana kalau…" Ucap Sakura setengah berbisik kepada Ino.

"Ide bagus! Aku sudah tidak sabar buat ngerayain ulang tahun Tenten besok." Ucap Ino senang.

"Aku juga," timpal Sakura dengan tersenyum.

_Di Kelas_

"Kau mau kemana?" Tanya Tenten yang melihat Neji berjalan keluar kelas.

"Memangnya kenapa?" Tanya Neji balik.

"Aku boleh ikut?"

"Kalau aku ingin ke toilet kau ingin ikut?"

"Tidak apa-apa, aku ikut ya? Aku bosan sendirian di kelas," jawab Tenten polos.

Neji hanya bisa menahan tawanya atas sikap Tenten itu.

"Hah, kau ini. Terserahlah." Ucap Neji cuek lalu pergi duluan meninggalkan Tenten dibelakang.

"Hehe, tunggu aku Neji!" Tenten berlari menyusul Neji lalu mensejajarkan langkahnya dengan Neji.

Setelah tiba disuatu tempat, halaman belakang sekolah, Tenten dan Neji duduk di bangku halaman sekolah yang telah ada disana.

"Eng, bagaimana kemarin?" Tanya Tenten yang sepertinya Neji mengerti maksdunya.

"Yah… seperti yang kau pikirkan sekarang." Jawab Neji yang seperti tau apa yang dipikirkan Tenten sekarang.

"Benarkah? Syukurlah kalau begitu, aku senang sekali!"

"Kenapa malah kau yang senang sekali? Bukankah seharusnya aku," ucap Neji datar.

"Hihi, entahlah… Aku hanya merasa kalau aku ini berguna untukmu sebagai sahabat," ucap Tenten sambil tersenyum.

"Berguna?"

"Iya! Oh ya, selama kau pergi dari rumah, kau tinggal dimana? Dijalanan?" Tanya Tenten sedikit mengejek.

"Hah, enak saja. Aku tinggal di rumah Gai-Sensei." Jawab Neji santai.

"Hah? Benarkah? Haha pintar sekali kau Neji,"

"Tidak, Gai-Sensei yang menawarkanku untuk tinggal di rumahnya karna beliau adalah teman baik Ayahku," ucap Neji.

"Kenapa menawarkanmu untuk tinggal di rumahnya?" Tanya Tenten penasaran.

"Bukan urusanmu,"

"Huh, ayolah… Aku ini sahabatmu apakah kamu masih curiga padaku?" Tanya Tenten sedikit memelas.

"Hm, baiklah, tapi kau harus ingat… Jangan kau bocorkan pada siapapun termasuk dua sahabatmu itu." Ucap Neji menjelaskan.

"Baiklah… Lagi pula kelihatannya mereka sedang marah padaku." Ucap Tenten sambil menundukkan wajahnya.

"Aku sebenarnya tidak betah tinggal disana, karna didikannya terlalu keras, entah hanya perasaanku saja atau bukan yang diperlakukan sangat kasar hanya aku setelah kematian Ayahku, mereka seperti menyalahkanku karna kematian Ayahku, padahal Hinata Onee-san yang membunuh Ayahku, aku… Aku merasa seperti tidak dibutuhkan, dan karna Gai-sensei tidak ingin melihatku disiksa seperti itu, dia menawarkanku untuk tinggal dirumahnya." jelas Neji dengan wajah yang terlihat sedih.

"Apa? Berarti saat aku pertamakali bertemu dengamu itu, kau habis dipukuli oleh orang-orang yang ada dikediaman Hyuga itu? Kejam sekali!" Ucap Tenten emosi.

Teng Teng Teng

"Bel masuk, sudahlah anggap saja aku tidak pernah berbicara denganmu tentang hal ini." Ucap Neji sambil berbalik meninggalkan Tenten dibelakangnya, Tenten hanya bisa melihat punggung Neji yang semakin lama menghilang.

'Tidak, aku tidak bisa melupakan cerita ini Neji, aku akan membantumu!' Ucap Tenten dalam hati dan segera menyusul Neji yang jauh berada didepannya.

-SKIP TIME-

_Tenten POV_

Huh, dari tadi aku dicuekin oleh Ino dan Sakura, sebenarnya ada apa sih? Aku heran dengan sikap mereka hari ini berbeda sekali seperti biasanya. Ya sudahlah mungkin besok sudah baikkan lagi.

Bel pulang sekolah baru saja berbunyi, para murid berhamburan keluar kelas terkecuali aku yang hanya tertunduk tidak semangat. Tiba-tiba terdengar suara yang sangat familiar ditelingaku.

"Tenten, aku pulang duluan ya!" Ucap sahabatku, Sakura dan meninggalkanku sendirian, aku hanya melihat Sakura yang langsung menyusul Ino dan pulang bersama. Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Saat aku hendak keluar kelas, aku melihat Neji yang masih duduk dikursinya dengan tatapan kosong. Aku segera mendekatinya dan menanyakan suatu hal.

"Neji, kenapa kamu tidak pulang? Perasaan tadi kau sudah pergi dari tempat dudukmu,"

"Tidak apa-apa, kau duluan saja." Ucap Neji.

"Tidak, aku pulang bersamamu." Ucapku sambil duduk kembali ditempat dudukku.

"Kau ini maunya apa sih? Selalu medekatiku tanpa alasan yang jelas," tanya Neji ketus.

"Aku mengawatirkanmu, setelah mendengar ceritamu tadi, aku jadi merasa ingin berada disisimu terus," ucapku polos sambil menatap Neji lekat-lekat.

"Ka-kau ini ngomong apa sih? Terlalu polos," ucap Neji langsung berdiri dari tempatnya.

"Hehe, ayo pulang!" Ucapku bersemangat.

"Hn." Jawab Neji singkat.

.

.

.

Aku merasa canggung dengan keadaan seperti ini, akhirnya kuputuskan untuk mengawali pembicaraan.

"Neji, ke taman yang waktu itu yuk?"

"Ya sudah." Jawab Neji, entah apa yang sedang merasuki Neji, aku tidak percaya Neji langsung mau aku ajak ke taman.

Setiba di taman aku langsung merebahkan tubuhku di rerumputan taman itu, hawanya yang sejuk dan bersih sangat menyegarkan bagiku. Neji segera menyusulku duduk bersila disebelahku.

"Neji, kau laki-laki yang kuat." Ucapku .

"Hm? Maksudmu?" Tanya Neji bingung. Aku segera membetulkan posisi dudukku dan bertanya kepada Neji.

"Padahal kau baru berusia 9 tahun, masih kelas 3 SD, sama sepertiku tapi kau sudah tidak mempunyai kedua orang tua yang mendidikmu dan menyayangimu, bagaimana kau bisa hidup sejauh ini tanpa kasih sayang orang tua atau seorang teman?" Tanyaku penasaran.

"Aku pernah berpikir kalau aku akan menyusul Ayahku saja di surga karna tanpanya aku tidak hidup, tapi aku berpikir sekali lagi, bahwa hidupku masih panjang dan aku mencoba untuk memendam kesepianku didalam diriku ini," jelas Neji.

"Sekarang kau tak perlu memendamnya lagi, Neji. Aku akan selalu berada didekatmu untukmu." Ucapku sambil tersenyum manis.

"Heh, kau ini sok kuat, padahal kau ini juga kesepiankan?" Ucap Neji yang berhasil membuatku tersentak.

"Eh… Y-ya… Kau benar, tapi sekarang aku bisa berbicara seperti ini karena aku mempunyai sahabat yang selalu menemaniku, Sakura, Ino, dan… Kau, jadi aku tidak perlu cemas karena aku tidak akan kesepian lagi. Kau mau menjadi sahabat sejatiku kan? Kita akan selalu bersama-sama!" Ucapku bersemangat.

Neji tersenyum tipis dan berkata, "Baiklah, kau sudah merubahku hingga seperti ini, aku akan selalu ada untukmu, aku janji," ucap Neji.

"Be-benarkah? Senangnya! Akhirnya kau mau menjadi sahabatku! Hihi," ucapku setengah berteriak.

"Ya sudah, sekarang lebih baik kita pulang, nanti dimarahi ,lagi kalau pulang kesorean." Ucap Neji. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum tulus.

_Tenten POV End_

.

.

.

"Aku pulang, Nii-chan! Maaf aku pulangnya sore, tadi aku-" ucapan Tenten terpotong saat melihat Kakaknya, Kiba melihatnya dengan tatapan yang sedih.

"A-ada apa Kak? Kenapa terlihat sedih seperti itu?" Tanya Tenten bingung.

Dengan berat hati Kiba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan sikapnya yang aneh itu.

"Kau… Akan pindah ke Inggris untuk bersekolah disana, dua hari lagi." Ucap Kiba tidak bersemangat.

"Ap-Apa? Tidak mungkin! Mendadak sekali? A-aku belum siap kak! Apa kakak ikut?" Tanya Tenten dengan nada yang terlihat sedih.

"Maaf, ini adalah keputusan Ayah, aku sudah membujuk Ayah untuk tidak menyekolahkanmu di Inggris, tapi Ayah tetap bersikeras agar kamu menjadi anak yang terdidik, maaf kakak tidak ikut dengamu, itu juga keputusan Ayah," ucap Kiba lemas.

"Hiks… Kakak…!" Tenten langsung memeluk kakaknya dan menangis tersedu-sedu dipelukan kakaknya.

"Maafkan kakak," bisik Kiba sambil membalas pelukan adiknya itu.

Baru saja aku menjalin sebuah tali persahabatan, baru saja dia menjanjikan sebuah janji untuk selalu ada untukku tapi bagaimana jika aku pergi meninggalkannya? Kami-sama, tolonglah jangan putuskan tali persahabatan yang baru saja ku jalin dengannya, aku hanya berharap yang terbaik untuk hubungan persahabatn ini… _Make a Wish_

TBC

Gimana? Aku butuh saran kaliaaan! Thx for Read

Review Please?