6. Panitia Lelang

"Aku tidak menyangka kalau syaratnya harus seperti itu!" Killua misuh-misuh sendiri sambil berjalan kembali ke dalam hotel.

"Sejak kapan ya peserta acara lelang yang di bawah umur harus didampingi orang tua?" Gon ikut bete sambil berjalan di samping Killua. "Huh, padahal sudah rapi-rapi memakai jas seperti ini…"

"Hmm, mungkin karena penawaran anak di bawah umur tidak akan dianggap serius?" jawab si anak rambut perak sambil melempar tangannya ke belakang kepalanya. "Che. Menyebalkan."

"Bagaimana donk, Killua…? Kalau seperti ini, kita tidak akan bisa mendapat kesempatan untuk membeli game Greed Island…" ujar Gon lesu.

Tiba-tiba langkah Killua terhenti saat melihat Kurapika berjalan di hadapan mereka.

"Lho, kalian sudah kembali? Bagaimana pelelangannya? Berhasil mendapatkan game yang diinginkan?" tanya Kurapika ramah. Demam tinggi yang sebelumnya dideritanya terlihat sudah sembuh.

"Belum, nih~ Kami tersandung sebuah masalah…" Gon akan memulai curhatnya. Tapi kemudian dipotong oleh Killua.

"Kurapika! Kami butuh bantuanmu! Maukah kau ikut bersama kami kembali ke acara pelelangan?"

"Eh? Untuk apa?"

"Nanti setelah sampai sana akan kami jelaskan. Mau, ya? Yaa?" Killua mengeluarkan jurus mata anak kucingnya.

"Kenapa Kurapika harus ikut?" tanya si anak rambut jabrik dengan polos.

Killua memberi kedipan sebelah mata pada Gon. "Nanti kau juga tahu."

Kurapika yang tidak sadar akan maksud sebenarnya dari Killua menyanggupi permintaannya. Mereka bertiga pun kembali ke hall tempat pelelangan akan diadakan.

Gon dan Killua kembali dipertemukan dengan si panitia lelang di pintu masuk.

"Kalian lagi, kalian lagi. Kan tadi sudah saya bilang, kalau mau masuk harus dengan orang tua!"

"Cih, ngerti kok. Sekarang kami membawa mami kami!" Killua menggelayut di lengan Kurapika. "Mami, tuh om itu nakal ga bolehin aku sama Gon masuk!"

Gon pun langsung mengerti maksud dan tujuan dari Killua membawa Kurapika ke sana.

"Iya, Mi! Masa tadi aku sama Killua dibilang anak nakal!" Gon menggandeng lengan Kurapika yang satu lagi.

"E-Eh? Hah?" Kurapika bingung setengah mati.

"Tuh, Om. Kami sudah bawa mami kami. Sekarang kami boleh masuk kan?" tanya Killua galak.

"Hmph. Apa benar Anda adalah ibu dari kedua anak ini?" tanya si panitia tidak percaya.

Gon dan Killua menatap Kurapika dengan puppy eyes andalan mereka.

Kurapika kembali pasrah pada nasib.

"Ya, benar bahwa saya adalah ibu dari mereka. Kenapa tadi Anda tidak mengizinkan mereka masuk? Jangan main-main ya dengan saya. Saya ini bagian dari keluarga Nostrade. Anda tidak boleh macam-macam kalau tidak mau berurusan dengan saya."

Nyali si panitia langsung ciut diberi ancaman seperti itu. Apalagi tatapan Kurapika saat itu cukup menakutkan.

"M-Maafkan saya, Bu. Tadi saya hanya mengikuti aturan yang sudah ada. Bila Ibu ikut masuk ke dalam, kedua anak ini juga boleh, kok!"

"Memang sudah seharusnya," kepala Kurapika menengadah sombong.

Si panitia langsung membuka jalan untuk mereka bertiga. Gon dan Killua tidak lupa memeletkan lidah mereka ke si panitia malang. Setelah sudah sampai ke bagian yang cukup dalam, mereka pun akhirnya menghentikan akting mereka.

"Puas kalian?" tanya Kurapika manyun ke kedua bocah tengil itu.

"Kurapika kereen! Aku ga nyangka Kurapika jago akting!" seru Gon berbinar-binar.

"Hihihi… Sori ya, Kurapika. Sengaja ga aku kasih tahu di awal, karena pasti langsung kau tolak!"

"Iya lah! Kenapa bukan Leorio atau Senritsu saja yang kalian mintai tolong?"

"Karena tadi kaulah yang sedang lewat di hadapan kami. Seketika aku langsung dapat ide cemerlang~" ujar Killua sambil memberi tanda peace dengan kedua jarinya.

"Paling tidak kau bisa bilang kalau aku ini ayahmu…"

"Tidak mungkin. Tidak akan ada yang percaya. Kurapika terlalu girly untuk jadi ayah," Killua nyengir lebar.

Gon pun tertawa dibuatnya. "Lagian Kurapika kan pake rok, jadi lebih cocok kalo jadi ibu-ibu!"

Namun seketika tawa keduanya terhenti ketika di kepala mereka muncul benjolan besar hasil jitakan keras si pemuda cantik.


Next chapter is the last chapter! :D