Audaces Atropine

Main Cast:

Lee Sungmin.

Cho Kyuhyun.

Ren (Choi Minki).

Cho Seungri (Lee Seunghyun).

Warning:

Ada beberapa crack pair untuk kebutuhan cerita, but it's real KyuMin Fanfiction ;; YAOI ;; Semi M ;; Typo(s) ;; dll.

Disclaimer:

KyuMin saling memiliki, dan cerita ini milik kakak saya. :D

.

.

.

:: Happy Reading ::

Tidak ada lagi sosok yang kerap memberikan harapan, impian, kebahagiaan, dan spirit dalam hati. Apakah manusia sejatinya ditakdirkan mengalami kesunyian dan kesepian? Segalanya menjadi terasa hampa. Sama halnya kehabisan gas untuk memantik kehangatan. Sebenarnya tidak begitu yakin akan kondisi perasaanku. Entahlah, apakah ini hanya perasaan sentimentil atau fakta yang menampakkan titik cahaya dipenghujung lorong pengap dan berliku. Tapi mengapa bagian relung hati terdalamku masih mencoba mengais sisa-sisa onggokan harapan, yang walau tidak pasti, namun hal itu seperti mendesakku untuk tetap bertahan. Sosok salju yang hangat. Bisakah kini kusematkan istilah hangat pada pribadinya? Bahkan akhir-akhir ini, ia lebih dingin daripada bongkahan gunung es. Ia lebih beku dari Kyuhyun yang kukenal.

Lima menit lalu, aku baru tiba di kamar asrama setelah sebelumnya menjenguk Seungri di rumah sakit. Yeah pernyataannya masih kuingat penuh. Peristiwa-peristiwa yang terjadi disana masih berputar memusing menyelubungi benakku. Pernyataan cinta lelaki itu ibarat musim semi di bulan januari, terlalu cepat dan membuat hatiku tergeragap oleh suatu perasaan ganjil yang mengetuk-ngetuk. Tidak kusangka bahwa kesedihanku dapat memutar balikkan perasaannya.

Sadar akan keterkejutanku, Seungri mencoba memberi waktu. Dan itulah yang kuharapkan. Dia tidak ingin aku menerima cintanya hanya karena keadaan yang memaksa dan aku tidak berniat menjadikan hubungan kami sebagai bahan percobaan hanya karena hendak move on dari Kyuhyun. Ia membiarkanku mengambil napas sejenak dan memikirkan semua ini matang-matang hingga tiada penyesalan di penghujung. Selepas itu senyumku kembali merekah dan kupeluk tubuhnya erat, seerat mendekap suatu kelegaan. Baru kusadar ia telah membuktikan bahwa ia berhasil menyelamiku. Tunggu saat yang tepat, aku berjanji akan balas menyelaminya.

Kuhela napas dalam ketika suara ketukan pintu membuatku mengernyit. Eh, benarkah memang ada yang mengetuk pintu? Sekedar memastikan, kuputuskan sengaja tidak langsung membuka pintu sebelum ketukan itu terdengar lagi. Kulirik jam di ruang santai menunjuk pukul 5 sore. Siapa gerangan? Apakah Kyuhyun? Apakah ia hendak menginap?

Mendadak harapan seolah terpantik kembali. Menerangi sesuatu dibalik rongga dadaku. Cahaya itu seperti memberiku secercah kesempatan. Kendati bersinar lamat-lamat, namun lebih baik daripada gelap sama sekali. Aku cukup lelah selalu hidup bernaung kegelapan.

Merasa telah memantapkan segalanya, kakiku melangkah cepat menuju pintu. Ketukan tidak terdengar lagi. Tapi aku benar-benar mengharapkan Kyuhyunlah yang berdiri di balik pintu. Pintu terkuak hingga sosok dihadapanku membuatku tercenung. Sejenak tubuhku membatu.

"Bisakah aku masuk? Lama sekali kau membuka pintu. Aku sengaja datang lebih dulu. Sebentar lagi Kyuhyun menyusul."

Kunaikkan alis heran. Mempersilakannya masuk? Mendadak perasaan tidak nyaman menderaku. Ren bersidekap menunggu setidaknya satu kata sebagai respon. Kurasa aku tidak mungkin menolak lelaki ini agar secepatnya enyah dari sini.

"Silakan. Maaf menunggu lama. Kau boleh masuk." Jujur aku masih bingung. Walau bagaimana, pintu kamarku tetap kukuak lebih lebar sampai Ren masuk sepenuhnya untuk kemudian kututup kembali. Tidak kukatup seluruhnya, menyisakan celah sempit.

Ren mengedarkan pandang, mengeksplor inci demi inci ruangan kamar. Menelisik satu per satu benda apapun yang dapat tertangkap mata. Seperti menilai sesuatu. Sedangkan aku tetap berdiri di sisi pintu, memperhatikan gerak-geriknya. Lekuk tubuhnya, gesture gerakan, cara berpakaian dan sorot matanya seperti terpahat dari kemewahan dan keangkuhan. Ren memang agak pendiam dan tidak gemar merecoki urusan orang lain selain urusan Kyuhyun tentunya. Tapi di balik itu, aku merasa ia memiliki sisi hidup yang tak terduga. Dan firasatku mengatakan, sisi hidup Ren yang tersembunyi, hanya Kyuhyun yang mengetahuinya. Entahlah. Ini hanyalah sekedar interpretasi dangkal yang bisa saja salah.

Mendadak Ren menoleh menatapku. "Barang-barangmu lebih bagus," ia mendesis.

"Benarkah? Mmm... terima kasih."

Beberapa saat hening, Ren memberikan komentar. Lebih seperti menggumam. "Disini lebih nyaman, kurasa."

"Oh, ya disini memang nyaris selalu sejuk. Kau pasti bisa merasakannya."

Ren menggumam lagi. "Hm, dapat kurasakan keporak porandaannya."

"Apa?"

Tanpa kupersilakan dan tanpa menjawab kebingunganku, Ren mendudukan diri pada sofa ruang santai sembari masih menatapku. Oh, sebenarnya apa ada yang salah? Ia menyorotku tenang dan tajam di saat bersamaan. Anehnya, mulutnya tidak berkata sepatahpun. Dibalik itu semua, makin kusadari ternyata lelaki ini begitu cantik. Persis seperti saudara kembarnya. Yeah, berkali-kali aku bermimpi menonton teater musikal dengan tokoh utama seorang perempuan berwajah tidak beda dari Ren, bisa dikatakan mereka memang bagai pinang dibelah dua. Sangat mirip dan tanpa cela.

Berusaha mengusir kecanggungan, walau kuyakin tidak akan semudah kelihatannya, aku mendekat menuju sofa di hadapan Ren kemudian turut mendudukkan diri. Benakku berusaha menerka-nerka. Ren masih mengawasi gelagatku. Oh, ini kamarku, mengapa ia memandang seolah aku yang tamu disini? Mungkin memang seperti itu tata laku orang kaya.

"Kau pindah kamar? Kurasa begitu. Bukankah ini kamar cadangan?" Ren memecah kesunyian. Ia tampak menyampirkan rambutnya ke belakang.

Aku mengangguk. Sebenarnya apa tujuan dia kemari? Semoga ia tidak bertanya tentang hal yang sepantasnya kurahasiakan. "Ya, seperti yang kau lihat. Ini telah menjadi kamar tetap kami."

Ren melirik sekilas beberapa sudut ruangan lalu menatapku lagi, tanpa berkata apapun. Mendadak sorot matanya sangat dingin. Seperti biasa, kedua lengannya disilangkan di depan dada. Kuelus tengkuk perlahan. Lelaki ini agak aneh dan misterius, kurasa. Apa ia bersikap seperti ini karena masih merasa asing padaku? Lalu sekali lagi, apa tujuannya kemari? Ganjil sekali. Tapi lebih baik aku berusaha berpikir positif.

"Ingin minum apa? Sebutkan saja. Biar kubuatkan," tawarku mengedepankan kesopanan. Walau mungkin akan ditolak.

Ren menggeleng. Kulihat ia seperti mulai dilanda jenuh. Ekspresinya seperti tidak tergugah sedikit pun. "Tidak. Aku memintanya pada Kyuhyun saja bila ia datang. Terima kasih."

Oh, aku tahu ia tidak berniat mereguk minuman biasa seperti yang tersedia di kamar ini. Begitulah. Sangat tampak dari caranya menolak. Yeah maklumi saja.

Lama kami terdiam hingga kedatangan Kyuhyun sontak membuat kami menoleh bersamaan. Ia terdiam beberapa jenak. Matanya yang masih sekelam malam, menyorot kami. Ia langsung menguak lebar pintu, dan apa itu? Kendati angkuh, tapi lagi-lagi kulihat sorot cemas di matanya. Mendadak dadaku berdesir. Tanpa bisa dicegah, perasaan rindu teramat sangat, dengan seenaknya menggerayangi saraf ini. Telah kurang lebih seminggu ia tidak ke kamarku.

Kyuhyun melangkah lalu duduk di sebelah Ren setelah Ren sedikit menggeser posisi. Kami sempat bersitatap sesaat. Entah mengapa, hawa pikiranku menyejuk. Kami berhadapan. Kini aku berusaha agar tetap tenang.

"Seungri... Mmm... Dia belum pulang? Kupikir ia pulang hari ini," Kyuhyun membuka suara. Sangat dingin, menyiratkan bahwa ia tidak merindukanku sama sekali, mungkin. Mendadak hatiku mulai nyeri.

"Dia pulang besok. Mungkin. Kisaran pukul 8," jawabku singkat.

Kyuhyun tersenyum kecil. Bukan sebuah lekukan hangat. Sekilas aku merasa senyum itu nyaris dipaksakan. "Dia sepupuku, kudengar ia sakit, jadi kami hanya ingin menengok. Ada beberapa siswa yang bilang hari ini dia sudah pulang, tapi ternyata tidak, jadi maaf mengganggumu. Kupikir ia disini."

Aku berusaha tersenyum lantas menggeleng. Hm, jadi itu alasan mereka kemari? Mengapa mendengarnya berbicara semakin membuatku merasa ada sesuatu yang ganjil? "Tidak mengganggu sama sekali. Aku baru dari rumah sakit."

Kyuhyun menaikkan alis. Seraya mengangguk samar. Jujur, sambutannya tidak seperti yang ku harapkan. "Bagaimana keadaannya?"

Sontak kebingungan kian melingkupiku melihat sikap Kyuhyun. Benarkah ia sepeduli itu pada Seungri? Masih membayang di benak menyangkut responnya ketika aku hendak berbincang perihal Seungri saat menginap di kamarnya. Bukankah selama ini dia tak pernah mau menggubris? Mengapa mendadak ia peduli? Atau Kyuhyun tengah berupaya untuk menaut kembali hubungan yang renggang?

"Dia sudah pulih. Yeah syukurlah. Kondisinya sehat." Untuk kesekian kalinya, mulutku menjawab singkat. Aku pun tidak tahu pasti alasannya. Mungkin, karena situasi canggung.

Kulihat Ren bergerak seperti menyamankan posisi duduknya. Sofa menjadi sedikit berderit. Mungkin ia hendak menarik perhatian Kyuhyun. Kyuhyun menengok ke arahnya. "Ada apa? Ingin kembali ke kamar saja?"

Nada bicara Kyuhyun begitu lembut. Well ia memang selalu seperti itu bila menyangkut Ren. Aku mulai sangsi mereka pernah bertengkar. Rasa nyeri di hatiku makin menjalar.

Ren bersandar, menidurkan kepalanya di kepala sofa, membuatnya sedikit menengadah. Kyuhyun menaikkan alis menunggu jawab. Sejenak Ren membenarkan kerah baju Kyuhyun lantas membuka suara. "Sayang, aku haus. Aku tidak mau minuman disini," ia mengadu.

Kyuhyun membelai rambut kekasihnya. Sebaliknya dapat kurasakan hawa panas mulai membelai hatiku. Menyaksikan keserasian tak terbantahkan didepan mata, ingin rasanya aku pergi jauh-jauh dari tempat ini. "Ingin minum apa, hm?"

"Cocktail. Hm itu saja. Aku menginginkannya sekarang," ujarnya cepat. Keningku mengernyit, mengapa dia meminta minuman seperti itu?

Kyuhyun menatapnya heran. Alisnya menyatu. Tidak kalah heran dariku. "Minuman ringan saja sayang. Sore hari bukan waktu untuk mabuk."

"Tidak bila hanya segelas. Ayolah. Aku bosan dengan minuman ringan," Ren masih bersikukuh.

Kyuhyun berusaha memberi alternatif. Dengan menyodorkan minuman beralkohol rendah. "Bagaimana kalau blue lemonade saja?"

"Tidak. Itu kurang."

Kyuhyun menarik napas sekilas. Lantas meraih ponsel dari dalam saku. Memutuskan untuk mengalah. "Baiklah, ingin campuran apa?"

Ren tersenyum kemudian tampak berpikir. Sebelah tangannya ditaruh diatas paha Kyuhyun. Beberapa detik kemudian ia melontarkan suara. "Louis XII cognac, crystal rose champagne, gula semut dan angostura bitters."

Kyuhyun mengusapkan ibu jari di permukaan layar ponsel lalu menempelkan benda itu ke telinga menghubungi pelayan. Ponsel itu berbeda dengan ponsel yang kulihat saat menginap dikamarnya. Tidak membutuhkan waktu lima detik, Kyuhyun mengeluarkan suara. Menyebutkan campuran-campuran tadi. Selama menelpon, ia menatapku tanpa disadari Ren tentunya. Tatapan itu berakhir seiring dengan diputusnya line telepon.

Kyuhyun kembali menanyakan kondisi Seungri ketika Ren beranjak menuju meja di dekat jendela. Sesekali tatapan Ren menerawang menembus bening kaca jendela. Kini ia tampak mencermati beberapa pajangan. Kyuhyun tidak mempermasalahkan karena mungkin ia berpikir Ren hanya hendak melihat-lihat.

Kupikir selama Ren tidak memperhatikan, eskpresi Kyuhyun akan menghangat. Biasanya ia pasti seperti itu. Kupikir Kyuhyun akan menunjukkan suatu gelagat yang menyiratkan bahwa aku masih ada di hatinya. Namun kenyataannya bukanlah seperti yang kuangankan. Setelah menanyakan keadaan Seungri, ia mendiamkanku. Aku berusaha mencairkan suasana dengan menanyakan keadaannya, tapi ia meresponnya dengan jawaban singkat. Bahkan ia menatapku seakan aku tidak pernah ada dalam kehidupannya. Sontak hatiku meringis sakit. Kini Kyuhyun malah sibuk mengawasi Ren. Seolah mengisyaratkan bahwa lebih baik aku menyerah saja dalam hubungan ini karena ia sendiripun sudah menyerah. Aku menatapnya kecut. Tidakkah Kyuhyun merasakan betapa aku merindukannya? Sembab di mataku masih tampak jelas pasca menangisinya di rumah sakit tadi, tidakkah ia terpanggil untuk sekedar bertanya?

Lama kami saling bungkam hingga kedatangan Ren dengan tatapan sinisnya membuat alisku menyatu. Ia muncul dari arah kamar tidur. Buruan napasnya seakan tengah menahan suatu gejolak. Ia melangkah cepat mendekati kami.

"Mantel cokelat Kyuhyun ada di kamarmu, bagaimana bisa? Apa maksudnya? Kyuhyun tidak akan memberikan pada orang lain. Itu mantel kesayangannya."

Aku tersentak. Baru kuingat bahwa aku meletakannya diatas kasur. Tubuhku menegang. Oh Tuhan! "Itu..."

Kyuhyun mencoba menengahi. Seperti biasa, berusaha bersikap tenang. "Sayang, mungkin itu mantel Seungri."

Ren beralih menatap Kyuhyun. Sepasang matanya mulai memerah. Diiringi dengan kilatan tidak suka. "Aku yakin itu mantelmu. Sudah sejauh apa hubungan kalian?!"

Kyuhyun memejamkan mata lantas mendekati Ren, menggenggam tangannya. Meremas pelan. Mencoba untuk tidak gegabah. "Kita kembali ke kamar. Aku jelaskan disana."

Ren menggeleng. Telapak tangannya balas menggenggam erat. Tapi kali ini raut wajahnya berbeda. Sorot matanya melembut. "Tidak perlu. Aku percaya padamu. Tapi tidak untuk lelaki murahan ini!" Ren beralih menatapku tajam.

Aku terkesiap. Jantungku berdebar kuat. Sebenarnya aku tidak terbiasa dibentak seperti Ren meninggikan suaranya. Napasku tercekat. Lelaki murahan?

Kyuhyun berniat menyergah. Sekilas kulihat ia mendelik tajam kearah Ren. Kepanikan mulai melingkupinya. "Hey..."

Ren menyerobot. Tidak membiarkan Kyuhyun menghabiskan bahkan sekedar separuh kalimat. Ia bertanya sinis pada Kyuhyun, menyindirku. "Sudah berapa kali kau digodanya Kyu? Sudah berapa kali dia menyerahkan tubuhnya!" Suara Ren meremehkan.

Sesuatu yang tajam seolah melesat, menghujam hingga ulu hati terdalamku. Menikamnya tepat. Mengiris-iris hingga terluka lebar. Ingin rasanya aku membela diri. Tapi mendadak lidahku seakan telah terpotong oleh gunting tajam yang amat sangat menyakitkan. Aku membeku.

Ren menunjukku sarkastis. Tidak pernah kulihat ia segeram ini. Napasnya memburu dikuasai emosi. "Lihat dirimu! Memalukan! Menyedihkan! Mengapa kau diam?! Tidak bisa menjawab? Mencari dalih? Kau pikir aku tidak menyadari kalau kau selalu menatap kekasihku diam-diam?! Aku diam selama ini, bukan berarti aku buta sama sekali! Aku tahu kau mengincar Kyuhyun! Tidak sadarkah betapa menyedihkannya dirimu! Kau tidak berharga dan Kyuhyun mencintaiku! Kau pikir ia tergoda denganmu?! Kau tidak lebih dari seonggok sampah dan Kyuhyun bisa saja membuangmu dari Vachgaux!"

Aku membisu. Hanya mampu terkesiap. Seperti ada duri tajam yang mencekat kerongkongan. Tidak mampu berkata-kata. Hatiku terasa sakit, perih dan berdarah mendengarnya. Sebagai manusia yang memiliki emosi, aku juga ingin melawan. Tapi apa yang harus ku lawan? Bukankah pernyataan Ren benar? Akupun akan marah luar biasa bila berada di posisinya. Kemarahan besarnya tidaklah berlebihan.

"Oh Tuhan, ada apa dengan mulutmu, mengapa berbicara sekasar itu?"

"Aku hanya ingin mempertahankanmu!" Ren menjawab cepat pertanyaan bernada frustasi Kyuhyun.

Kyuhyun masih mencoba membujuk. Berupaya menjelaskan sesuatu. Kendati tak sekejap pun ia memandangku. "Cukup. Semua tidak seperti-

Ucapan Kyuhyun terpotong oleh kedatangan butler yang membawa cocktail pesanan Ren. Melihatnya, Ren mendekat. Meraih minuman pesanannya sebelum menyuruh sang butler berlalu. Ia tersenyum getas. Aku tidak tahu apa yang hendak ia lakukan hingga tiba-tiba minuman itu telah mengguyur wajahku. Ren menyiramkan seluruh isi gelas hingga tak bersisa. Mendadak wajahku perih dan memerah. Mataku pun sakit. Rasa pedih menjalar cepat.

"Anggap kenangan manis dariku! Ini lebih baik dari apa yang seharusnya kulakukan padamu! Jauhi kekasihku!"

Tangannya baru akan menghempaskan gelas kaca itu padaku ketika Kyuhyun beranjak berdiri diantara kami. Tatapannya pada Ren seolah mengatakan 'lempar saja gelas itu padaku'. Kontan genggaman Ren melemah dan gelas itu terjatuh menghantam lantai. "Sudahlah. Kita kembali ke kamar," Kyuhyun berkata lirih. Suaranya tercekat dan bergetar seperti menahan suatu luapan. Seperti timbul gemuruh-gemuruh ombak dilautan hatinya.

Kaki Ren melangkah mundur beberapa tapak. "Dan kau akan membawaku ke pintu itu lagi."

"Setidaknya aku tidak pernah meninggalkanmu!"

Ren terkesiap. Wajahnya ketakutan. Lantas menubruk tubuh Kyuhyun lalu memeluk erat. Dalam penglihatan samar mataku yang masih perih, kusaksikan mereka berpelukan untuk kemudian berlalu dari hadapanku. Tanpa meminta maaf seolah aku memang sesuatu yang pantas dipandang sebelah mata, bahkan tidak perlu dipandang.

Air mataku menggenang di pelupuk. Tapi aku sudah berjanji pada Seungri untuk tidak menangis lagi. Pelupuk mataku semakin berair, entah karena sedih, entah akibat mata perih ditubruk minuman keras. Apakah ini salahku saja? Bahkan Kyuhyun tidak pernah mengakuiku. Lihatlah, ia tidak kunjung kembali. Tidak peduli aku hancur. Ia telah mematahkan harapanku, mematikan semangatku. Apa lagi yang hendak kutuntut?

Kini barulah aku yakin, Kyuhyun tengah mempermainkan perasaanku. Barulah aku sadar bibit harapan yang terus kupupuk, kujaga dan kupelihara hanyalah tidak lebih dari menantikan suatu bunga mimpi tak terjangkau. Kyuhyun lebih memilih kekasihnya, daripada aku, bukan siapa-siapa.

Ibuku meninggal demi memberikanku kehidupan, ayah tewas di bunuh saat aku begitu mendamba kasih sayangnya. Aku benar-benar tidak mempunyai siapapun. Bertahun-tahun hidupku didekap sepi, dipeluk duka, direngkuh ketidak beruntungan. Tidak banyak orang-orang yang tulus tersenyum padaku. Hanya segelintir, sangat sedikit. Tapi mereka punya masalah masing-masing, membuatku tidak tega menumpuknya dengan tambahan masalahku. Sebisa mungkin aku menahan semuanya seorang diri. Sesakit apapun itu. Hingga suatu hari aku termenung di balkon. Kyuhyun datang. Aku yang walaupun telah tertarik padanya, tidak begitu hendak banyak berharap, aku sadar siapa diriku dan siapa dirinya.

Namun Kyuhyun menarikku. Tarikan yang begitu lembut dan peduli. Menggiringku ke dalam kehangatan. Meyakinkanku untuk tetap bertahan bagaimanapun kondisinya. Mencairkan hatiku yang telah lama membeku.

Tidak pernah aku merasakan perasaan seperti itu. Tidak pernah aku begitu mempercayai seseorang seperti percayaku padanya. Aku mulai mencintainya, walau aku paham ia telah milik orang lain. Tapi milik orang lain atau tidak, yang terpenting Kyuhyun tetap membagi hatinya untukku.

Saat hatiku mulai terbujuk dan sedikit demi sedikit mulai merasai apa itu kebahagiaan. Saat harapanku membuncah tidak bertepi. Saat seseorang sepertiku mulai dapat mengecap manisnya hidup, ia menghempaskanku. Ketika ia baru sadar betapa menyedihkannya diriku, ia berpaling dan lebih memilih seseorang yang sempurna.

Salahkah bila kini aku menyesalinya? Salahkah bila kini aku baru paham yang sesungguhnya? Pantaskah aku seperti itu? Sejak awal aku tahu di hadapanku adalah sebuah racun, mengapa tetap kuminum? Sejak awal aku tahu dihadapanku adalah genangan lumpur hidup mematikan, mengapa tetap kutapaki? Sejak awal aku tahu di hadapanku adalah sebuah pistol, mengapa kutembak diriku sendiri?

Sejak awal aku tahu di hadapanku adalah seseorang yang jelas-jelas bukan untukku, mengapa aku tetap bertahan? Mengapa aku tetap percaya? Pantaskah aku menyesal bila akar penyesalan itu berasal dari keputusanku sendiri? Pantaskah aku menyalahkan orang lain padahal dirikupun sama bersalahnya?

Perlahan, kuusap mataku kuat-kuat sebelum bulir kesedihan meluncur lagi. Kesedihan ini masih mampu kutanggung tanpa bantuan air mata. Pandanganku masih samar. Sembari menggapai-gapaikan tangan mencari kain bersih, aku melangkah perlahan. Penglihatanku tidak begitu baik dan wajahku sedikit perih. Dengan sisa-sisa harga diri, aku mencoba untuk bangkit dari hempasan Kyuhyun. Butuh beberapa menit hingga kutemukan sapu tangan di lemari. Kuhapus jejak cocktail menyakitkan di wajahku seiring dengan harapan semoga kesakitan ini turut terhapus. Seirama dengan segala hal menyangkut Kyuhyun yang perlahan akan terhapus tak bersisa.

~Audaces Atropine~

Selepas kejadian menyedihkan kemarin sore, hingga kini aku belum memutuskan apa-apa. Mengapa seperti itu? Ya, otakku belum berniat memikirkannya. Tepatnya bukan belum, mungkin tidak. Kurasa cukuplah peristiwa kemarin memberi pelajaran padaku. Aku tidak akan berkeputusan apapun lagi karena memang tidak ada yang mesti diputuskan. Berusaha melupakan semuanya adalah langkah terbaik. Telah sepatutnya aku dan Kyuhyun kembali pada hidup masing-masing sehingga tak ada lagi yang akan tersakiti dan menyakiti. Aku sadar apa yang kami lakukan di hari-hari lalu, adalah sebuah kesalahan. Kini tekadku adalah berupaya keras agar semua itu takkan terulang lagi dan aku harus memaafkan diri sendiri. Memaafkan semua keputusan keliruku di masa sebelumnya. Kini, aku berharap kami memulai pelarian estafet hidup pada jalur masing-masing. Harapanku padanya telah kuhapus dalam-dalam hingga tak meninggalkan jejak. Aku perlu mengubah resolusi dan melakukan evaluasi. Yeah, pelan-pelan akan kucoba memperbaiki apa yang sudah sepantasnya dibenahi dan dikembalikan pada tempat semestinya.

Siswa Audaces tengah sarapan di aula besar seperti kebiasaan sebelum memulai pelajaran awal. Temanku di meja ini hanya beberapa potong roti bagel dan segelas susu. Lagi-lagi kuputuskan duduk seorang diri dan untuk kedua kalinya terpaksa menolak halus ajakan Minho. Kebetulan mejaku berhadapan dengan meja Kyuhyun, Ren dan kelompok mereka.

Aku masih menyantap secubit roti ketika kudengar sedikit keriuhan dari arah belakang. Seperti ada seseorang yang baru masuk aula. Mungkin lagi-lagi mereka menjahili Henry yang memang sangat polos, entahlah. Kucoba untuk tidak mempedulikan karena bila mengangkat kepala, bisa saja pandanganku bertemu dengan Kyuhyun dan hal itulah yang paling kuhindari. Kendati hendak kuhapuskan nama Kyuhyun dari guratan kehidupanku, tapi untuk beberapa waktu dari sekarang aku masih belum siap melihat wajahnya. Aku memang butuh waktu yang tidak singkat untuk melupakan seseorang.

Soal wajahku yang diguyur minuman keras, untunglah tidak membawa dampak serius. Efeknya tidak begitu berpengaruh. Padahal ketakutan telah merayapiku ketika kupikir wajah ini akan memerah berhari-hari bahkan lebih parah. Mungkin karena itu cocktail mahal jadi tidak ada masalah berkelanjutan. Semalaman aku mengompresnya dengan air dingin hingga bangun tidur. Kini, wajah dan mataku tidak perih lagi dan telah kembali seperti semula. Masalah perlakuan kasar Ren, jujur aku tidak berniat mengingatnya. Itu terlalu menyakitkan untuk di kenang.

Beberapa menit berlalu dan sarapanku telah usai ketika mendadak tubuhku tersentak kecil akibat tubrukan lembut dari belakang sebelum lengan seseorang melingkupi erat pinggang dan pundakku. Mendekap gemas. Kucermati lengannya. Segera saja membuatku tercenung, lengan ini...

Cepat-cepat menolehkan kepala kebelakang dan... Eh?! Astaga, wajah lelaki ini nyaris membuatku memekik. Ini Seungri! Mengapa aku bisa lupa kalau hari ini Seungri kembali?

Saking kaget, aku masih saja termenung memandanginya. Entah karena apa? Mungkin terlalu bahagia sebab pada akhirnya Seungri benar-benar sembuh dan itu berarti kami dapat menjalani hari-hari bersama lagi. Seungri mengulum senyum menatapku. Ia sedikit mengendurkan rengkuhan pada tubuhku, tidak benar-benar melepasnya. Tiba-tiba ia memajukan wajahnya, mencium keningku agak jengkel, agar aku segera sadar dari sikapku yang seolah mengacuhkannya. Aku mengerjap, kembali pulih dari reaksi keterkejutan. Entah sebab apa, mendadak kami sama-sama menahan senyum untuk kemudian saling tertawa karena tidak mampu menahan perasaan senang yang membuncah.

Setelah Seungri mendudukkan diri di sisiku, kurengkuh lagi pinggangnya dengan kedua tangan, mengingat pelukan darinya tadi begitu tiba-tiba jadi kuanggap ini pelukan sebenarnya. Tidak peduli ia kesesakan. Aku sengaja hendak berlama-lama menempel padanya karena telah sangat rindu ingin menyaksikan keberadaan Seungri di Vachgaux. Ia tertawa kecil menyaksikan luapan rasa rinduku lantas diraihnya pundakku. Dipeluknya dan digesernya tubuhku agar kami semakin erat dan lekat.

Aku melirik kondisi sekitar lantas menggigit bibir sebelum membisikkan kalimat cemas ke telinga Seungri. Berusaha bersuara sekecil mungkin. "Teman-teman memperhatikan, bagaimana kalau kita mengubah posisi?"

Seungri terkekeh kecil. Ia tampak makin fresh saja sekembalinya dari proses penyembuhan. "Mereka semua tersenyum melihat kemesraan kita, itu berarti kita direstui dan tidak perlu mengubah posisi."

Ingin bermain-main sedikit, mataku menyipit pura-pura menyangsikan. "Benarkah semuanya tersenyum?"

"Oke oke tidak semua, tapi kebanyakan memang tersenyum, oh anggap saja yang tidak tersenyum itu iri, kau tahulah, lelaki gentle sekeren diriku dan lelaki manis seimut dirimu, well wajar saja kalau ada yang merasa tersaingi."

Tanpa bisa ditahan, aku tersenyum geli mendengar kalimat percaya diri maksimumnya. Bagaimana aku tidak uring-uringan jika lelaki semenyenangkan ini tidak ada didekatku selama seminggu penuh? Tapi inilah salah satu sifat Seungri yang kusenangi. Pernyataan cintanya padaku tidak lantas membuat ia canggung atau lebih parahnya lagi menjauh. Untungnya ia tetap sama, bahkan ia tampak semakin menyayangi dan tidak mau jauh dariku.

Aku mengangguk. Kutunjuk meja depannya yang masih kosong dengan menggunakan dagu. "Mana sarapanmu?"

Seungri bergumam sekilas. Lantas mengalihkan pandang kearah pintu. "Sebentar lagi datang."

Bingung hendak menanyakan apalagi, aku turut bergumam ketika tanpa sengaja mataku menatap Kyuhyun yang ternyata juga telah menatapku. Oh, jadi dari tadi ia memperhatikan? Tapi sorot mata itu tak seperti biasa. Ia memandangku... sedih? Pandangan kami terputus ketika tiba-tiba Donghae duduk di hadapan kami.

Donghae menaruh nampan di atas meja. Senyumnya terkembang misterius. "Wah wah wah. Menonton pasangan mesra secara live pasti menyenangkan. Tidak perlu membuang-buang listrik menyalakan televisi." Ia terkekeh dengan sorot mata menggoda. Sebenarnya aku tak begitu suka sorot itu mengingat betapa banyak manusia jatuh dibawah pesona orang ini.

"Jangan mengganggu, Hae. Lihat, makananmu belum habis tapi kau asal pindah saja." Sergah Seungri dengan lengannya yang masih melingkar di pundakku, bisakah aku mengatakan bahwa hal ini sedikit banyak membuatku merasa nyaman?

Donghae tersenyum tidak jelas, tanpa rasa bersalah ia melanjutkan menyendok sarapannya untuk ia lahap. Oh jujur saja padahal aku dan Seungri ingin mengobrol berdua sepuasnya. Tapi tidak urung juga kami melihatnya pergi. Yeah, sepertinya kami mesti mengalah.

Tiba-tiba alis Donghae menyatu menatap Seungri. Piringnya telah bersih. "Sebenarnya.. kau sakit apa hingga seminggu absen?"

"Bukankah kau mengetahuinya persis? Aku lihat kau ada disana saat itu," Seungri menjuruskan pernyataan tak terduga, bahkan kulihat tatapan Seungri pada Donghae menyiratkan suatu makna terselubung.

Senyumku yang tadi merekah kini perlahan memudar lantas kualihkan fokus pada Donghae. Kutatap wajahnya dengan penasaran. "Kau tahu sesuatu?"

Kini Donghae terhenyak. Tidak begitu kentara karena sedapat mungkin disembunyikannya. Ia membuka mulut hendak menjawab lantas menutupnya kembali. Hey, ada apa dengan orang ini? Apakah ia memang tahu sesuatu tentang kamar yang hancur? Setelah kuingat-ingat lagi, aku baru sadar kalau ia juga tidak kulihat menghadiri pesta dimalam mengerikan itu. Sebenarnya tidak yakin pasti, yeah siapa tahu ia datang ke pesta agak terlambat. Mengingat ia mesti membuat dirinya setampan mungkin demi menaburkan serbuk-serbuk pesona pada seantero ruang pesta.

Tawa Seungri memecah kebisuan kami. Telapak tangannya yang bebas dikibaskan sekilas. "Kau serius sekali Hae, aku bercanda. Santai saja."

Mendengarnya, kedua tanganku langsung menjauh dari pinggang Seungri. "Ck seriuslah sedikit. Aku akan marah kalau kau menganggap ini adalah sebuah candaan," protesku tidak terima.

"Aku serius bercanda, oh coba lihat wajahmu semakin cute jika seperti ini. Kalau begitu marah saja, aku tidak takut pada bayi."

Kontan kutampar pelan pipi Seungri. Ada-ada saja anak ini. Tapi kurasa reaksiku malah makin membuat kami tampak romantis. "Tidak lucu, kau tahu." Sungutku. Kupikir Seungri betul-betul serius. Sedikit banyak kasihan juga melihat Donghae yang wajahnya sudah seperti hewan ternak yang hendak digiring ke tempat penjagalan. Tapi justru itulah sisi ganjilnya.

Seungri menepuk-nepuk rambutku. Lalu beralih mengusap pundakku. Ia tersenyum penuh. Berusaha membujuk. Walau sejujurnya aku tidak marah sama sekali. "Baiklah-baiklah, jangan marah Min, Donghae saja tidak, bukankah begitu Hae?" Seungri beralih menatap Donghae. Seungri tersenyum lebar menyiratkan bahwa ia betul-betul sekedar bercanda. Telapak tangannya masih mengelus pundakku.

Tawa kikuk Donghae membuatku makin yakin pasti ada yang tersembunyi. Sayangnya aku tidak mau memberatkan suasana dengan pertanyaan yang seperti mendesak Donghae. Lagipula sudah tentu ia tidak akan mau menjawab jujur. Untuk kemudian, sebisa mungkin Donghae dan Seungri merajut keakraban kembali. Untunglah mereka berhasil menanganinya. Mulut ini terus terdiam di tengah candaan mereka. Entahlah, tiba-tiba malas berbicara. Renungan ini buyar setelah untuk kesekian kali, tanpa sengaja terlihat Kyuhyun yang rupanya masih memandangi lekat, agak lama sebelum ia memutuskan bangkit dari kursinya dan berlalu tanpa mengajak Ren.

~Audaces Atropine~

Napas lembut angin menerpa membasuh wajah. Menyejukkan kulit. Membelai lembut rambutku. Cahaya matahari temaram menimpa pepohonan hutan belakang sekolah. Menjelma bentangan kabut bening keemasan redup yang menguar dari rerengkahan batu dan julangan pohon pinus. Entah mengapa kurasa hutan ini tak seindah diwaktu malam.

"Aku tidak tahu kau juga kemari di sore hari. Ternyata keinginan mendadakku untuk kesini tidak sia-sia."

Kupejamkan mata dalam-dalam. Cengkraman jemariku pada pagar kian mengetat. Mendadak napasku tersendat. Mengapa suara itu lagi? Mengapa orang itu lagi? Tidak bisakah ia memberiku waktu untuk melupakannya hingga saat dimana aku mampu menatap mata itu tanpa sorotan cinta didalamnya. Jujur, hatiku masih bertalu bahkan bila seseorang menyebut namanya.

Tahu-tahu Kyuhyun telah berdiri menumpu lengan disampingku. Tatapannya nanar. Memandang kesenduan pepohonan. Lama kami hanya saling terdiam.

"Aku tahu akan seperti ini pada akhirnya. Tapi aku juga tahu kau akan bersikap seperti ini setelah akhir itu sendiri," aku mengusir senyap di antara kami. Terbersit begitu datar. Walau butuh suatu kekuatan besar untuk melontarkannya.

Matanya menatapku dalam. "Kau boleh menamparku sekarang, makilah aku, luapkan segala kemarahanmu, aku memang bajingan dan kau pantas melakukan itu."

"Kau pikir segalanya akan menjadi terasa lebih mudah bila aku mengakhiri semua ini layaknya kisah dalam drama murahan seperti perintahmu itu?"

Terkejut dengan jawabanku, ia memekur. Merunduk menatap bentangan rerumputan halus halaman belakang. Seakan tengah dipaksa memikul beban tak tertanggungkan. Tak pernah aku saksikan ia selelah ini padahal ia sedang tidak melakukan apapun. "Ya. Seharusnya aku tidak menarikmu."

Senyumku melekuk pahit. Kutarik napas dan kuhembuskan pelan. Teringat malam dimana pertama kali Kyuhyun mengatakan hal sebaliknya. Kerongkonganku tercekat, lagi-lagi menimbulkan perih. "Seharusnya aku menepis tarikanmu."

Kyuhyun menatapku tenang. Setenang angin yang perlahan mulai susut. Tidak bergejolak seperti biasa. Kurasa ia juga butuh kekuatan hati untuk melakukannya. Entah mengapa aku sakit melihat ini. Bukan hatiku, tapi tatapan Kyuhyun. Setelah hening sebentar, aku menggumam. "Seharusnya kau tidak menawarkan mantelmu padaku."

Kyuhyun tersenyum kecil. Senyuman paruh senang. Setengah senyum. Aku paham senyum itu bukan menyiratkan suatu kebahagiaan. "Seharusnya kau menolak penawaranku dan kembali ke kamar."

Mulutku mengatup rapat beberapa detik, tanpa suara. "Lantas mengapa kau tetap menawariku kalau pada dasarnya kau berharap aku menolaknya? Mengapa kau tetap menggenggam suatu tangan jika pada hakikatnya kau berharap tangan itu melepasmu? Tidakkah itu bodoh?" Tanyaku mengalun dingin.

Kyuhyun menarik napas pelan. "Aku tidak pernah berharap seperti apa yang kau katakan. Harapanku sederhana. Aku hanya berharap tangan yang sudah melepas dari genggamanku tidak akan meninggalkanku terlalu jauh membuatku masih bisa mencari dan mengejarnya, lalu pada saat yang tepat nanti, tanganku dapat menemukan, menggenggam, merekat tangan itu kembali, hingga tangan kita tidak akan terpisah lagi."

Air bening di pelupuk mataku mengapung, sangat berharap semoga ini tidak tumpah. Tidak akan. Aku tidak ingin terlihat lemah untuk kesekian kali. "Saat itu aku memutuskan untuk bertahan tetapi tidak untuk sekarang."

Kyuhyun masih menatapku dengan sepasang maniknya yang kini berubah sunyi. Segala pancaran suara dimata itu bagai melamat dan mengendap dalam gelap. Namun bisakah kutafsirkan bahwa masih terdapat kasih sayang penuh dibalik pancarannya? "Kau akan ke kamar?"

Aku mengangguk. Sangat lemah. Pelan, nyaris tak tampak. Perasaan tidak mengerti berkecamuk. Mengapa begitu berat untuk melakukan hal sesederhana ini? "Seungri sudah menunggu dan Ren pasti sama. Kembalilah ke kamar, anginnya mulai kencang," aku mencoba tersenyum lantas mulai beranjak sebelum tangan Kyuhyun menggenggam tanganku, menahan langkah.

Aku berbalik menatapnya. Menantikan kemuraman apalagi yang akan ia lontarkan. Ekspresi Kyuhyun seperti tidak rela membiarkanku pergi. Seperti banyak kalimat yang ingin ia ucapkan, namun terganjal oleh sesuatu yang tidak akan pernah mampu kupahami. Kyuhyun bungkam beberapa detik sebelum berkata singkat. "Maaf."

Kupandangi wajahnya dalam-dalam. Berusaha menerobos jalan pikiran lelaki ini. Mendadak terdapat sesuatu yang runtuh dalam jiwaku. Hingga hanya menyisakan puing yang tidak dapat dibangun kembali. Kulihat matanya berkaca, melawan perasaan sesak. Ingin sekali aku mendekat, menubruk tubuhnya, dan memeluknya kuat, takkan pernah kulepas lagi. Namun aku tahu itu hanya sebatas khayalan. Yang mulai kini, tidak akan pernah terealisasi nyata. Perlahan, genggamannya lepas. Ia pun tak menahan kembali, hingga mudah saja kami terpisah. Lantas langkah ini semakin cepat, menjauh dari Kyuhyun, menjauh dari langit malam yang hangat.

~Audaces Atropine~

"Aku masih ingat saat kau terbangun tengah malam, napasmu sampai terengah-engah. Keringat dingin juga merembes. Aku cemas bukan main melihatmu ketika itu."

Gumaman Seungri membuatku menoleh menatapnya. Yah pasti mimpi buruk itu. Rupanya ia belum melupakan reaksinya yang dulu telah menjadi makanan sehari-hari untuk Eunhyuk. Sekarang pukul 9 malam dan kami berada di kamar. Duduk di lantai dekat sofa, mengerjakan tugas bahasa inggris yang kini nyaris rampung. Pada meja sofa, beberapa buku dan peralatan tulis berhampar serak. Beberapa buah kue custard susu diatas nampan termangu menanti disantap.

"Lalu? Jadi kondisinya semenyedihkan itu ya? Tapi apa ada yang salah?"

Kaki Seungri diselonjorkan melintang dibawah meja. "Tentu saja banyak yang ganjil, apa yang kau lihat dimimpi?"

"Apakah harus kuceritakan?"

Seungri menaikkan bahu. Kakinya bersila kembali. Dengan ragu, ia bertanya. "Jadi... sebenarnya kau bermimpi apa?"

Aku menghela napas. Entah ini sudah keberapa kali ia tanyakan. Lagi-lagi pertanyaan serupa. Apa yang baiknya kukatakan? Jujur hatiku masih ragu hendak menyeritakan pada siapapun. Mulutku masih bungkam ketika Seungri membuka suara.

"Mmm... aku selalu bermimpi untuk menjadi triple threat. Well, itulah mimpi sekaligus harapanku. Menguasai segala kemampuan berteater musikal. Menurutmu apa aku mampu?" Tanya Seungri. Aku tahu itu adalah pertanyaan pengalih. Mungkin Seungri menyadari gelagat kurang nyamanku.

Aku tersenyum lebar. Yeah ia memang selalu memikirkan untuk jadi yang terbaik dengan jalan belajar tekun dan kerja keras, berbeda dengan Kyuhyun yang meraih semua penghargaan dengan jalan belajar seperlunya dan lebih karena didorong oleh bakat bawaan lahir. Tapi sampai kapanpun sifat ambisius Seungri tidak akan mengikis seincipun. "Tentu saja mampu. Kurasa kau pandai dalam ketiganya."

Seungri meletakkan pulpennya sebelum memutar tubuh menghadapku. Menatap lekat. Ia berujar lirih. "Tapi aku masih lemah dalam vokal. Apa kau punya solusi?"

"Kau kurang dalam teknik apa? Eh, teknik apa tadi? Oh ya, maksudku teknik vokal apa? Tapi mungkin solusi dariku tidak banyak membantu," aku bertanya sekaligus memberi warning ketika kuraih satu custard dan melahapnya.

Seungri tampak berpikir. Bola matanya bergerak acak. Sembari menopang dagu mengingat-ingat. Selama ia mencari-cari kelemahan, aku kembali menyelesaikan tugas bahasa inggrisku. Sesekali kubuka kamus bila ada kosa kata rumit. Tugas Seungri telah tandas beberapa menit lalu.

"Kurasa aku lemah dalam teknik trill. Kau pasti paham kan? Berpindah dalam dua nada berbeda sedikit banyak menyulitkanku. Vibrato milikku juga masih kasar," Seungri memecah hening.

Aku mengelus tengkuk. Mulutku mengatup. Bingung ingin merespon apa. Jujur akupun tidak begitu baik dalam keduanya. Bagaimana hendak memberi solusi? Mendadak kepalaku teringat sesuatu.

"Tunggu. Ini pasti bisa memberikan solusi. Aku segera kembali," pintaku lalu melangkah menuju kamar. Seungri mengernyit sebelum aku kembali dengan laptop dan sebuah flashdisk.

Kuaktifkan layar dan mencolok flashdisk saat Seungri tetap diam memperhatikan. Setelah mengecek isi data, ternyata prediksiku benar tentang video tips. Hatiku girang, entah karena apa.

Beberapa menit berlalu. Oh, ini dia. Akhirnya telah kutemukan apa yang kami butuhkan. "Kau lihat? Triple threat bukan? Ada video tipsnya."

"Oh bagus. Kau menyimpan data seberharga ini. Mengapa tidak beritahu aku dari dulu? Kau temukan ini dimana?" Seungri bertanya antusias.

"Hadiah Yesung songsaenim. Kau ingat kan saat aku bisa menjawab pertanyaannya. Beruntung benda ini tidak hilang" aku menjawab seperlunya sebelum durasi video mulai bergerak

Kami sama-sama tenggelam dalam pembelajaran. Tidak ada yang bersuara. Seakan tengah menyimak penuturan songsaenim di kelas, hanya saja sekarang lebih santai. Banyak tips-tips tambahan yang sangat berguna. Sesekali mereka memberikan beberapa contoh teknik sulit. Sepanjang menonton, Seungri memelukku dari belakang. Aku membiarkannya.

Hingga berselang satu jam, video telah usai. Oh akhirnya. Tubuhku lumayan pegal karena selama satu jam tidak juga pindah posisi.

"Wah, datanya banyak sekali. Oke oke. Yang tadi aku sudah paham. Ayo kita melihat-lihat," pinta Seungri sembari menggenggam mouse.

Dan kami pun kembali mengeksplor isi data flashdisk. Banyak sekali, memang. Sesekali kubiarkan Seungri yang memilih video. Beberapa video pembelajaran teater musikal sudah kami saksikan bersama hingga suatu data menarik perhatianku.

Keningku mengernyit. Mencoba menerka sesuatu. Data ini terletak paling akhir. "Mengapa data video ini tanpa title?"

"Coba buka saja. Bukan sesuatu yang ganjil. Mungkin hanya pelatihan khusus," Seungri memberi pendapat.

"Kau pindah duduk disini. Tubuhku pegal. Juga bosan. Biar aku yang memelukmu di belakang," perintahku.

Seungri tersenyum misterius. Matanya menyipit curiga. Namun tak juga membantah. "Kau takut ya?"

Dengus kecilku terhembus. Segera beranjak ke belakang tubuhnya. Judul data saja tidak tahu, bagaimana bisa takut? "Ayolah."

Seungri terkekeh. Telapak tangannya menepuk-nepuk pipiku. Anak ini gemar sekali bercanda. Ia berujar 'baiklah' sebelum bergeser lebih kedepan mendekati laptop di atas meja. Kupeluk tubuh wanginya dari belakang sembari menopang dagu pada bahunya.

Seungri memutar video tanpa judul dan durasi video mulai bergerak. Tanpa alasan, jantungku seperti menciut. Semula seluruh layar dipenuhi dengan warna hitam hingga perlahan memudar dan suatu tempat disana membuat kami mengernyit. Kami sama-sama terhenyak. Begitu kaget dengan tampilan rekaman pada layar.

Seungri bergumam. Lebih kepada berbicara sendiri. Nada bicaranya begitu yakin. "Bukankah ini panggung proscenium Audaces?"

Aku menelan ludah. Yeah, kubenarkan itu dalam hati. Tidak berniat menjawab karena pertanyaan Seungri sekedar retoris untukku. Pada putaran video, para murid Audaces entah angkatan ke berapa tengah menampilkan suatu pertunjukan. Hingga sosok yang muncul pertama kali di panggung membuat napasku terhenti.

"Ya Tuhan, bukankah ini Ren? Mengapa rambutnya hitam? Tapi tunggu dulu. Ini... perempuan?"

Kalimat Seungri memacuku untuk mengeratkan pelukan pada perutnya, dengan berusaha tidak menekan area bekas hujaman pisau. Mengapa pertunjukan ini lagi? Mendadak suasana hatiku berubah temaram. Seungri yang paham kegelisahanku, kontan menggenggam lenganku dengan sebelah tangannya.

Setengah jam kami menyimak, wajahku memucat. Sensorik dalam simpuls neuron otakku menyala teringat suatu kejadian. Ini begitu persis. Kecuali penonton dan kekelaman gedung, segalanya di teater musikal itu persis seperti mimpiku. Setiap nyanyian, setiap tarian, setiap adegan, alunan musik... Seakan kini aku menonton untuk keseratus kali. Ketakutan membuatku hanyut. Apa Yesung songsaenim yang merekam pertunjukan ini? Apa maksudnya? Mengapa menyimpannya dalam data flashdisk yang aku terima?

"Min ini... teater musikal Requiem yang kau ceritakan bukan? Aku masih ingat jalan cerita tebakanmu. Tidak salah lagi," Seungri berkata nyaris berbisik. Kurasa ia juga mulai takut. "Apakah 35 murid yang menghilang itu adalah mereka?"

Tak kuasa untuk menjawab. Mulut membungkam dengan sendirinya. Lidahku membatu. Selama menonton, entah mengapa hawa kamar menjadi aneh. Sekujur tubuhku merinding. Walau begitu, kami tetap melanjutkan menonton hingga akhirnya kini selesai.

Seungri baru saja akan mengklik cancel ketika kutepis tangannya. Ada baiknya didiamkan dulu beberapa detik. Firasatku mengatakan video ini belum berakhir walau jelas-jelas durasinya telah usai. Seungri mengernyit bingung menyaksikan tindak-tandukku. Sesuai prediksi, pertunjukan teater itu memang telah berakhir namun tidak dengan rekamannya. Rekaman itu beranjak, berjalan menuju backstage. Kami menantikan dengan jantung berdegub hebat. Di backstage para pemain teater yang merupakan murid Audaces tiga tahun lalu tertawa riang dan melambai pada kamera. Beberapa dari mereka menyapa si perekam yang ternyata memang Yesung songsaenim.

Seorang siswa yang merupakan pemeran utama lelaki pada pertunjukan Requiem berkata ke arah kamera. Senyuman puas melekuk. Wajahnya sangat sumringah. "Senang sekali, teater musikal akhir semester awal sukses dan kami meraih gelar kelas genre terbaik. Semua berkat kerja keras dan bimbingan para guru juga dukungan wali kelas kami, Yesung songsaenim tentunya," lelaki itu membungkuk ke arah belakang kamera diiringi sorak sorai tepuk tangan para pemain dibelakang si pemeran utama lelaki. Kulihat pula ada seorang siswa yang menjunjung piala emas.

Mereka masih sibuk bergembira ketika tanpa sengaja, mataku menyorot seorang siswi yang turut terekam. Tidak. Lebih tepatnya, tak sengaja ikut terekam, kurasa. Ia berdiri di pojok seorang diri, tatapannya tidak sebahagia para murid lain.

"Bukankah siswi persis Ren di pojok itu pemeran central, mengapa tidak digubris? Seharusnya ia berdiri paling depan bersama si pemeran utama lelaki. Tidak dihargai sama sekali," Seungri bergumam.

Aku tidak menanggapi saking hendak fokusnya mencermati gelagat siswi di pojok itu, yang ku yakin adalah saudara kembar Ren. Itu memang dia, tidak akan ada opini yang bisa menyanggah keyakinanku. Entah mengapa, aku bergidik melihat gelagatnya. Tatapannya masih tajam membidik satu per satu murid yang tengah riuh hingga tiba-tiba sekelompok murid perempuan mencengkram kuat rambutnya, menyeret ke dalam ruangan dibalik pintu dan video itu berakhir.

Kutarik napas gelisah. Hembusannya tidak kalah gundah. Kini telapak tanganku membeku. Kulihat ekspresi Seungri berubah shock. Aku melepas rengkuhan ketika ia berbalik menatapku. "Yang tadi itu... dia hendak diapakan?"

Aku menggeleng lantas mengusap wajah. Terbayang akan sikap teman-teman noona Ren. Jujur, perlakuan teman-temannya tadi sangat kasar dan seakan tidak ada yang berniat menengahi. Entah mengapa keringat dingin membanjiri tubuhku tanpa mampu dicegah.

Lama kami terdiam. Namun kalimatku ini seperti terlempar begitu saja dari alam bawah sadar. Karena akupun tidak begitu sadar dengan apa yang coba aku lontarkan. "Apa kau tahu bahwa barusan kita tengah menyaksikan video orang yang telah mati?"

Seungri tergeragap. Sedikit bergidik seram. Matanya membulat. Kulihat wajahnya juga memucat. Dapat kurasakan suasana kamar makin menguarkan aroma muram yang menakutkan. "Jadi kau ingin mengatakan bahwa rumor pembunuhan 35 siswa sekaligus itu nyata?"

Kuelus tengkuk pelan. Eh, benarkah itu maksud ucapanku? Sejujurnya aku masih bingung dengan kalimat sendiri. "Hmm... mungkin."

Mata Seungri menyipit ingin tahu. "Selain flashdisk, apa yang Yesung songsaenim hadiahkan padamu? Apa yang kau tahu Min? Mengapa kau bilang tentang 'video orang yang telah mati'? Jadi sekali lagi kutanyakan dan jawablah dengan terus terang, apa rumor pembunuhan 35 siswa itu nyata?" Tanyanya mendesak.

Aish, tiba-tiba kepalaku nyeri lagi. "Baiklah baiklah, selain flashdisk, songsaenim memberiku beberapa buku, kau bisa membacanya, kutaruh di laci kamar tidur keempat dari atas. Mengenai rumor itu, aku belum tahu jelas. Percayalah. Tapi beberapa hari ini aku..." mendadak lidahku tercegat, hingga...

TOK TOK TOK TOK

Kami terperanjat. Serempak menoleh kearah pintu depan. Apa-apaan itu? Suara ketukan di pintu terlampau kasar bila seseorang dibalik sana hanya berniat bertamu. Lagipula sekarang nyaris tengah malam, sangat tidak mungkin ada siswa yang keluyuran ke kamar siswa lain.

TOK TOK TOK TOK TOK

Hantaman keras menggaung lagi. Semakin tidak sabaran. Perasaanku kian tidak menentu. Berefek pada munculnya getaran di sekujur tubuh. Seungri menelan ludah. "Tunggu disini," ia berbisik.

Sontak aku menggeleng panik. Cepat-cepat kutangkap lengannya. Oh aku tahu ia hendak melakukan apa. "Jangan dibuka, kumohon."

Seungri mengelus kepalaku menenangkan lantas berjalan mendekati pintu. Melangkah setenang yang ia bisa. Sepintas kulihat rasa takut juga menghinggapinya. Namun ia bersikukuh, tak menggubris permintaanku yang ketakutan setengah mati disini.

Telapak tangan Seungri telah bertumpu pada gagang pintu. Beberapa detik hening. Hingga ketukan itu menggedor kembali. Sebisa mungkin aku tetap bernapas hingga pintu itu terkuak. Seungri mengernyit. Lorong gelap di hadapannya tampak membuat suasana makin mencekam. Seungri menggeleng. "Tidak ada siapapun."

"Kalau begitu kembalilah. Abaikan saja. Jangan gegabah," suaraku mengalun gemas.

Tanpa menuruti petuahku, dengan nekat Seungri menyembulkan kepala mengintip ke arah ujung lorong hingga mendadak tubuhnya menegang lantas cepat-cepat ditutupnya pintu dan dikunci dua kali. Oh sekarang baru dia tahu rasa. Tapi apa yang ia lihat? Alisku menaut.

"Ada apa? Sudah kubilang kan. Kau melihat se-

Belum habis pertanyaanku terlontar, Seungri menarik tanganku ke kamar tidur tanpa membereskan buku-buku kami. Memaksakan langkah secepat mungkin. Seolah kini kamar tidur adalah tempat yang paling aman.

Setibanya di kamar ia masih tampak ketakutan, wajahnya memucat hingga ruas-ruas jari tangan. Yeah, aku yakin ia pasti melihat penampakan. Bukannya ikut takut, keadaan Seungri malah membuatku iba. Kurengkuh tubuhnya dari depan, menghentikan gerakan mondar-mandirnya, lantas mendongak menatapnya. Suaraku mengalir pelan nyaris berbisik. "Kau ingin kita tidur seranjang? Kau terlihat kurang baik."

Ia menatapku. Seperti tidak yakin. Tapi dalam dan lekat. "Kau tidak keberatan? Kita bukan sepasang kekasih."

Aku tersenyum. Kuusap-usap punggung belakangnya. Lelaki ini masih menghormatiku rupanya. "Tentu saja tidak keberatan. Setidaknya kau bisa lebih tenang jika disampingmu ada seseorang. Kau bisa memeluk bila masih takut."

Dan setelah segala ketegangan yang terjadi, Seungri terlelap lebih dulu dengan dekapan lengannya dari belakang. Nafasnya berderu tipis teratur. Sedangkan mata ini masih membuka tanpa iringan kantuk sama sekali. Namun syukurlah ketukan misterius itu lenyap seiring perjalanan malam yang lebih senyap dari malam-malam sebelumnya.

.

.

.

TBC

A/N:

Hai berjumpa lagi :D Gimana? Bagus gak? Lama ya, hehe maaf, ini untuk kepentingan bersama *alesan* okelah ini bulan puasa dan kami tetap update kan? Hihihi :D

Mungkin disini ada yang perlu diluruskan, mengenai kepemilikan akun ya? Haha, ada beberapa yang keliru sepertinya, kami bukan seperti dari beberapa yang kalian kira. Wkwk mungkin karena kesamaan umur maupun kesamaan jumlah makhluk(?) diakun ini. Tapi tenang aja, kami gak marah *cieileh* gak masalah salah ngira karna kami juga seneng nerka2 gak jelas. Kyakakaka :v Jadi yang jelas kami adalah kami, saya dan dia, dua manusia pendukung KyuMin selamanya *jder* ah satu poin kami sudah masuk SMA yang akhirnya satu sekolah lagi, Alhamdulillah.

Buat yang bertanya-tanya siapa 1 dari 35 anak itu, hihi ada yang ngira Kyu ada juga yang ngira Sungmin, ah tunggu aja kelanjutan ceritanya, pasti kejawab kok. Setiap chapter pasti kami sisipkan clue yang tersurat maupun tersirat *ditabok* jadi asal kalian jeli…. dan taraaa terjawab deh tanda tanya besar(?) itu :D

Akhir, TERIMAKASIH atas semuanya, atas dukungan kalian, dan atas masukan kalian yang berharga. Kami menghargai semuanya, seneng banget baca review kalian yang menakjubkan itu :D TERIMAKASIH TERIMAKASIH TERIMAKASIH, jangan bosan2 utmtuk memberi kami saran pendapat atau masukan. See you next chapter;)) SELAMAT BERPUASA.

.

.

Preview Chapter 7

"Aku mohon jangan menjawab tidak ada apa-apa bila kenyataannya kau ketakutan semalam. Apa yang kau lihat hingga kau kalut?"

"Aku… melihat sosok perempuan persis Ren diujung koridor. Mengenakan seragam Vachgaux. Hanya saja… tubuhnya tergantung, seperti orang yang bunuh diri."

"Dimana Kyuhyun?! Aku membutuhkannya!"

"Dia phobia gelap Min, jadi maklumi saja. Kami tadi sampai berkeliling mencarinya."

"Menjauh dariku, dalam keadaan ada atau tidak ada Ren. Akupun akan melakukan hal yang serupa."

"Ayahmu ya. Lee Yunho bukan? Penulis naskah teater musikal terkenal, bahkan dia yang menulis Requiem untuk Audaces."