Fiksi ini mengandung OC, OOC, dan pairing sesuka author.

Season I: Somewhere the Wind Is Blowing

29/06/18 & 19.56

All characters' name of Naruto belong to Masashi Kishimoto

This story does not make any profit.

"SLOW DANCE WITH YOU"

By Kohan44

Chapter 4: Aku-Kamu Jadian


.

.

"Kak… papan nama itu…"

Saki tertawa seraya melepas papan nama Naruto. Kepalanya geleng-geleng, nampaknya Saki sudah mengira Naruto bakal menghampirinya untuk menagih kembali papan nama yang pernah diberikan tanpa perhitungan panjang, tanpa tahu makna di balik pemberian papan nama. Saki yakin, Naruto diberitahu Lee soal adat kebiasaan sekolah MM, dan ketika membayangkan Naruto bersama Lee, Saki juga mengira Lee tidak hanya bercerita sedikit. Barangkali, sebagai adik kelas yang akrab dengan Saki, Lee mengatakan hal-hal yang selama ini hanya Saki pendam tentang Naruto.

"Udah aku kira sih kamu bakal minta balik. Cuman… aku pengen ngerasain sekali, walaupun hanya pura-pura. Gimana rasanya aku jadi sama kamu. Bentar, yah.. nyangkut." Katanya sembari bersusah payah melepas papan nama.

Naruto tak menjawab sambil menunggu Saki melepas papan namanya, untuk sesaat, Naruto menangkap kesan sedih dari nada bicara Saki. Tiba-tiba saja teringat perkataan Lee tentang Fukushi Saki yang diam-diam memperhatikan Naruto sejak SMP, dan masih mempedulikan Naruto di SMA bahkan ketika mereka tidak berada di satu sekolah yang sama. Membayangkan Fukushi Saki menyimpan perasaan untuk Naruto dengan setia, sementara Naruto sibuk mengejar laki-laki lain yang Cuma bisa membuatnya terombang-ambing tak jelas, itu membuat Naruto bersimpati.

"Bisa nggk, Kak?" tanya Naruto yang diam menunggu dan menonton tangan Saki masih bergerumul di dada.

"Bentar lagi." Kata Saki yang memperlambat gerakan. Setelah ini, setelah Naruto mengetahui soal papan dada dan perasaan Saki, Saki tahu konsekuensi yang harus diterimanya. Selama ini, Saki meyakini dirinya telah jatuh untuk seorang anak laki-laki straight. Saki tak pernah yakin apakah Naruto juga menyukai anak laki-laki, dan jika Naruto jijik atau membenci Saki karena ini, Saki siap. Perasaan bertepuk sebelah tangannya akan selamanya bertepuk sebelah tangan. Begitulah nasib perasaan seorang anak lelaki gay. Tapi… ayolah, Saki bukan satu-satunya yang mengalami ini di sekolah MM, dan mengingat itu membuat Saki sedikit lega. Setidaknya Saki bisa bergabung dengan mereka untuk menghibur diri.

"Sini, aku bantu." Kata Naruto yang mendadak merasa bersalah mendengar nada Saki.

Naruto mendekat, menggenggam tangan Saki untuk menjauhkannya dari dada. Lalu dengan teliti Naruto melepas peniti papan tersebut, tak menyadari Fukushi Saki terpesona oleh tindakan sesederhana itu. Karena, ini pertama kalinya mereka bersentuhan fisik, dan yang terpenting lagi mereka berdiri amat berdekatan. Naruto di hadapannya, bukan hanya dekat dalam bentuk foto atau imajinasi yang seringkali dibayangkan dan tak pernah sekali pun terpikirkan bakal jadi nyata.

Aroma rambut Naruto, Saki menyesapnya dalam dan memastikan tidak akan pernah lupa. Bentuk lengkung alisnya, atau panjang bulu matanya, atau bekas luka di pipinya, Saki akan mengingatnya baik-baik dalam ketidakberdayaan. Saki tak berdaya hanya untuk berkata, aku suka kamu. Saki tak berdaya hanya untuk menyentuh Naruto walaupun itu hanya sekedar sapaan. Sebab, baginya Naruto tidak sama seperti teman laki-laki lainnya. Segala tentang Naruto istimewa, dan ini adalah lebih dari resiko yang bisa Saki ambil. Tidak bisa ditambah lagi. Maka hanya bersyukur menjadi tindakan terakhir.

Naruto mendongak, bertemu dengan mata Saki yang lebih tinggi beberapa senti darinya.

Ah… Naruto mendesah dalam hati. Wajah mereka amat dekat, dan entah bagaimana pikiran mencium Saki muncul begitu saja. Apakah karena posisi mereka yang memudahkan, atau karena ada sesuatu di mata Saki. Warna hitam yang mengingatkan Naruto kepada Sasuke.

Naruto terdiam, seperti menunggu. Jika Saki memang jatuh padanya, kenapa Saki hanya diam? Bukankah ini kesempatan besar? Naruto bertanya-tanya, dan secepat kilat ciuman pertamanya melintas, memberi perasaan tak nyaman. Jika dulu itu membuatnya senang, sekarang Naruto ingin menghilangkan ingatan itu. Sungguh bodoh membiarkan ciuman pertamanya direbut oleh lelaki yang bahkan tak memiliki perasaan untuknya.

"Sudah?" kata Saki.

Naruto mengerjap, segera menurunkan pandangan. Sebelah tangannya menggenggam hati-hati papan nama yang sudah dilepas.

"Oh, makasih," kata Saki lagi. "Kalau gitu…"

"Ga… gak usah, Kak." Kata Naruto memenggal. "Ini," Naruto kembali menyodorkan papan nama.

Tidak ada respon. Mata Saki terpaku pada papan di telapak tangan Naruto, tapi hanya itu saja.

"Apa?" katanya yang berubah dingin.

"Gak usah dibalikin." Naruto melanjutkan kalimat lalu kembali memasangkan papan nama di dada Saki, yang mana Naruto tak tahu untuk sesaat Saki menahan nafas dan jiwanya pergi meninggalkan raga, tak mempercayai apa yang sedang terjadi. Isi kepalanya berhamburan tak jelas. Ketika kepalanya mulai beramsumsi, sesuatu meletup-letup dalam dirinya, dan Saki hampir kehilangan diri. Gila. Jangan-jangan maksud Naruto…

"Oh," Saki mendengus, tertawa kecil, menertawai dirinya sendiri yang berimajinasi terlampau jauh, hampir ditelan harapan. Saki mengingatkan diri bahwa Naruto hanya anak baru di sekolah ini, yang tak tahu banyak soal budaya dan kebiasaan yang ada. Naruto mungkin tak tahu apa pentingnya bertukar papan nama.

Saki mendesis, masih tertawa, dan kini bercampur perasaan tolol. Sebab, dirinya merasa senang untuk alasan bodoh atas tindakan polos Naruto.

"Ini kan punya kamu," kata Saki mengawali. Matanya terjun bebas di mata Naruto, dan mereka bertemu tanpa beban, seolah Saki tak pernah menyembunyikan kekagumannya pada Naruto, dan seolah Naruto tak melihat seseorang lain dalam diri Saki.

"Aku gak bisa jadi kamu walaupun aku pakai papan nama kamu," kata Saki menjelaskan, lalu tangannya bergerak lamban hendak melepas papan nama.

"Aku tahu maksud tukar papan ini." Balas Naruto cepat. Entah kegilaan apa yang merasuki Naruto, tapi setiap kata keluar dari mulutnya dengan enteng.

"Jadi, mulai hari ini…" kata Naruto lambat-lambat, dan kalimatnya berhenti di sana ketika mereka saling bertukar tatap lagi. Milik Saki terbelalak bulat.

"HAHAHA!" Tapi Saki berakhir tertawa, seolah berkata aku hampir percaya yang kamu bilang itu serius!

Tentu Naruto tidak mengerti tawa itu. Saki tidak pernah tertawa selantang ini. Saki selalu terlihat kalem, dan jika tertawa, maka itu tertawa yang teratur, tidak berlebihan.

"Heh… sepertinya aku dikerjai Lee." Kata Naruto dengan suara kecil. Tangannya menggaruk-garuk belakang kepala. "Kayaknya aku Cuma salah paham."

"Oh… Eh?"

Aku ingat kalimat Naruto di suatu malam. Tante, papan namaku ada padanya, dan papan namanya padaku. Tahu gak, Tante? Ini kayak setiap detik aku bareng dia terus. Itu membuatku termenung. Mesi aku belum pernah bertemu dengan anak yang bernama Fukushi Saki ini, aku mengerti seberapa dalam dia menyimpan perasaan untuk keponakanku. Hanya saja… jika dia mampu mempertahankan perasaan itu di masa remajanya, apakah dia mampu bertanggung jawab ke depannya? Ketika dia mulai dewasa dan menghadapi hal lebih serius, bahwa kenyataan tidak semenarik adrenalian dan pikiran menggebu-gebu di masa remajanya.

Karena itu…. Aku mendengus pura-pura menahan perasaan geli oleh roman picisan ini. Kupandangi bingkai yang diam-diam kusimpan di dalam laci kamar, berisi foto Kakak dan suaminya. Meski banyak yang berkata aku dan Kak Kushina mirip, sudah jelas kepribadian kami berbeda. Jika Kak Kushina masih hidup, aku yakin Kakak akan mendukung Naruto sepenuhnya, dan Kakak Ipar bakal bertingkah seolah-olah Naruto bakal pergi hari ini untuk menikah. Aku yakin mereka akan senang, dan karena itu… aku pun, hari ini, ingin menikmatinya perlahan-lahan. Sebab, aku tersenyum amat lebar dan sangat tak menyangka suatu hari Naruto benar-benar menceritakan ini padaku, tentang dirinya yang tak tertarik pada Hinata, tentang masa SMP, semuanya. Aku bagai seorang ibu. Semoga Naruto cepat-cepat melupakan Sasuke.

"Kamu tetap mau ngasih aku papan nama sekalipun kamu tahu tukar papan nama artinya…"

Naruto mengangguk, tak membiarkan Saki menyelesaikan kalimat.

.


"SLOW DANCE WITH YOU"

Kisah Kedua dari

"SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING"


.

Naruto berbaring menonton langit-langit kasur teman sekamarnya. Sejak hari pertama Naruto tidur di kasur sempit itu, Naruto selalu merasa dirinya terkurung di tempat yang bahkan tak mengizinkannya meregangkan tangan, dan kemanapun Naruto melihat, pemandangan bakal cepat berakhir, terhalangi dinding, atau langit-langit kasur yang sering berderit tiap kali pemiliknya bergerak. Anehnya, hari ini langit-langit berbentuk persegi panjang itu membentang amat luas seperti Naruto bisa melihat seisi antariksa tergambar di sana, dan terkekeh sembari meraba papan nomor yang masih menempel di seragam sekolah.

M-001

Seringai lebar di muka Naruto tak surut-surut.

Di langit-langit ranjang itu, Naruto bisa membayangkan wajah kemerahan Fukushi Saki dan entah bagaimana suara Fukushi Saki pun terngiang jelas. Naruto terkekeh tiap kali mengingat kembali bagaimana Saki terbata malu-malu ketika mereka bertemu di jam latihan klub basket hari tadi. Naruto tahu Saki berusaha mati-matian untuk bersikap biasa supaya teman-temannya tidak ada yang curiga, tapi usahanya itu malah membuat keadaan jadi terasa aneh. Hal terpentingnya adalah Naruto lah alasan seorang mantan presiden yang begitu disegani dan paling berwibawa bisa berubah demikian. Hanya di depan Naruto.

Apalagi kemarin, setelah bertukar papan nama.

"Hahaha…"

Apa Naruto pernah sesenang ini ketika bersama Sasuke? Pertanyaan itu terlintas di benak Naruto dengan cepat, tapi Naruto tak berusaha mencari jawabannya. Tidak ingin dipusingkan oleh hal yang telah lalu. Ya, aku setuju denganmu, Naruto. Tidak perlu dipikirkan lagi. Majulah. Nikmati apa yang kamu miliki sekarang. Perlahan-lahan. Seperti kamu menari mengikuti melodi yang kamu favoritkan.


.

"SLOW DANCE WITH YOU"

Kisah Kedua dari

"SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING"

.


Naruto membolak-balik halaman buku di pangkuannya. Tentu saja Naruto tidak membaca dengan serius. Naruto tidak pernah membaca serius selain saat belajar keras bersama Shikamaru demi bisa masuk SMA yang sama dengan Sasuke. Bahkan Naruto bukan tipikal anak yang bakal memilih buku dan duduk di bagian paling pojok perpustakaan. Tapi di sinilah Naruto sekarang. Pastinya bukan untuk membaca. Dia duduk sebagai pundak sandaran untuk Fukushi Saki yang gemar membaca.

Aroma sampo Fukushi Saki, Naruto bisa menciumnya, dan Naruto menyukai itu. Bukan aroma yang kuat, tapi juga bukan sesuatu yang feminim. Tercium lembut. Rambut Fukushi Saki amat lurus, dan berdiri rapi meskipun angin berusaha mengacak-acaknya. Jika sedikit lebih panjang, Naruto yakin pasti sama seperti rambut milik Sasuke.

Naruto termenung menyadari tiap kali dia memikirkan Saki, dia juga memikirkan Sasuke, dan Naruto tahu Sasuke pun gemar membaca.

"Kak Saki," bisik Naruto.

"Hm?" Saki membalas tanpa melepas pandangan dari buku.

"Jangan baca buku,"

Saki mendongak mencari mata Naruto, lalu balik berbisik, "kenapa?"

"Cukup Kakak keren saat main basket aja, jangan keren saat baca buku juga. Nanti aku gak kebagian apa-apa."

Saki mendengus, tersenyum lebar dan berseru lantang di dalam hati tentang alasan dia jatuh pada Naruto bertahun-tahun lamanya.

"Naruto,"

"Hm?"

Tiba-tiba seluruh kata menggulung di ujung lidah Saki, terlalu beresiko untuk diucapkan. Jadi Saki hanya menggelengkan kepala, dan kembali menyimpan kepalanya di pundak Naruto.


.

"SLOW DANCE WITH YOU"

Kisah Kedua dari

"SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING"

.


Ada masa ketika bermain bola basket bagai berada di surga. Bukan hanya karena Naruto suka berlari dan membuat poin, tapi permainan basket memberinya ruang untuk menjadi diri yang dia suka. Untuk berteriak kemenangan, untuk berseru kelelahan, untuk menjerit kekecewaan, untuk tertawa pada tiap momen bersama timnya, dan semua itu yang diajarkan Temari, yang Naruto pikir kesenangannya bakal berkurang jika Temari tak ada, tapi anehnya kesenangan itu malah bertambah. Apalagi seusai kegiatan selesai, ketika Fukushi Saki menyampirkan jaketnya di kepala Naruto dan berlagak cuek. Naruto bakal meliriknya, dan Saki berlalu seolah-olah tak terjadi apapun. Tapi keduanya sadar, di luar sudah gelap, suhu berubah dingin, dan Naruto tak membawa pakaian hangat.

Keesokannya, Naruto berpura-pura kelupaan mengembalikan. Padahal pagi-pagi sebelum berangkat, Naruto membaui aroma khas Saki yang menempel di jaket. Naruto berjanji akan mengembalikan jaket tersebut besok, meskipun sebenarnya jika memang berniat dikembalikan, mereka bisa pergi sama-sama ke gedung asrama Naruto yang Cuma lima menit jalan kaki dari gedung pembelajaran.

Lalu ada hari dimana Fukushi Saki berlari dari gedung kelas tahun ketiga ke gedung utama tempat kelas tahun pertama dan kedua. Jika guru sedang tidak ada di kelas, Saki bakal masuk bagai mendatangi kelas sendiri, menarik kursi ke dekat meja Naruto kemudian berkata, "aku gak bawa baju olahraga." Dan mata mereka berdua jatuh pada dada Naruto yang mengenakan kaos olahraga SMA MM.

"Sino punya dua baju olahraga," kata Naruto yang hendak beringsut dari kursi untuk memanggil Sino.

"Nggak usah!" Saki menarik ujung kaosnya. "Punya kamu aja, biar cepet."

Tidak ada yang mencurigai mereka di kelas, atau begitulah apa yang mereka pikirkan. Bagai kamu menari sambil memejamkan mata dengan gaun ballerina dan mengikuti alunan biola. Kamu merasa cantik dan menari seirama, tapi entah menurut mereka yang menonton. Yang bisa kamu rasakan adalah kenikmatan dari tiap gesek nada biola, dan meresapi tiap gerak tubuhmu.

Naruto…

Meskipun kamu tak bersama Sasuke, aku tetap khawatir ketika kamu dan Saki berjalan bersama-sama menuju toilet yang sepi. Mungkin kamu tidak berpikir apa-apa, karena begitulah kamu. Begitu polos. Tapi laki-laki pada umumnya adalah makhluk buas.

Aku tidak heran ketika kamu menuruti perkataan Saki sehingga kamu melepas pakaianmu di depan wastafel ketimbang di bilik toilet. Aku tahu, setelah mengalami perjalanan yang sulit di SMA X, akhirnya kamu menerima kebaikan yang tidak bisa kamu tolak di SMA MM. itulah sebabnya, kamu kehilangan kekuatan untuk menolak. Saat Fukushi Saki mendorongmu ke dinding, menindih tubuhmu, akal sehat penolakan pun tiba-tiba hilang. Yang ada hanya ketegangan dan adrenalin yang memicu ingin tahu apa yang bakal dilakukan Saki, dan karena apa yang dilakukannya begitu nikmat, kamu membiarkannya.

"Naruto,"

Dan mantra pertama lolos lewat bisikan yang menyapu telinga dan membuat bulu kuduk merinding, menghipnotis.

Kedua mata mereka bertemu, dan sedikit demi sedikit mereka bergerak menghampiri satu sama lain, mencicipi apa yang bisa mereka tawarkan. Pertamanya kecupan yang membuat keduanya malu. Kedua, kecupan lagi dengan bunyi yang lebih keras. Ketiga, kecupan yang sama dengan waktu lebih lama dan Saki si Peraih Nomer 1 di ujian sekaligus penyandang gelar mantan ketua osis terkemuka di antara 3 angkatan hanyalah anak laki-laki seperti kebanyakannya, yang suka berpikir aneh-aneh dan menonton apa yang dilarang sebelum mereka berusia tujuh belas tahun. Hanya dengan menonton, Saki belajar bagaimana melakukannya dan karena mereka berdua laki-laki, mereka memiliki bakat alamiah soal mencumbu dan menaikkan gairah.

Jika Naruto tidak terlalu naif, Naruto bakal melenguh menikmati lidah Saki. Keluar-masuk. Hangat. Naruto suka ketika Saki menghisap lidahnya, atau membasahi bibirnya. Naruto tak enggan melingkarkan tangan di leher Saki, menyerahkan seluruhnya. Biarkan permainan melaju dengan alami.

Sekembali dari toilet, Naruto duduk diam menenggelamkan wajah di antara dua tangan di atas meja. Angin dari jendela berhembus dan Naruto bisa merasakan angin itu menabrak lubang lengan kemejanya yang lebih besar daripada biasanya. Naruto berusaha tenang dan tak memikirkan siapa pemilik kemaja itu. Naruto sangat perlu tenang supaya tidak ada yang memperhatikan di antara selangkangannya sesuatu membengkak.

Di lapang serbaguna, Saki melompat tinggi lalu menerkam salah satu temannya sampai beberapa anak merasa terundang untuk ikut bermain. Mereka tertawa, Saki tertawa. Mungkin yang paling lantang di antara semuanya. Hari ini dia berpura-pura menjadi murid ceroboh yang suka melupakan hal penting. Sebab kalau tidak begitu, Saki tak yakin kapan dia akan memiliki kesempatan membuat Naruto mengenakan papan namanya tanpa dicurigai orang-orang di sekitar.

.


"SLOW DANCE WITH YOU"

Kisah Kedua dari

"SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING"


.

Diam-diam Naruto mengintip halaman yang tengah dibaca Saki, sekedar ingin tahu buku macam apa yang dibacanya. Tapi kata-kata yang Naruto bisa pahami hanya she dan he, dan beberapa kosakata bahasa Inggris sangat sederhana.

"Apa buku favorit Kakak?"

Saki tak langsung menjawab. Setelah membuka satu halaman, baru kemudian Saki merespon, "A Little History of the World." Yang mana mengingatkan Naruto padaku. Sudah pasti karena judul buku tersebut membuatnya mengerut dan meringis mendengar sesuatu yang melukai intelejensinya. Bahkan Naruto tak bisa mengulangi judul buku itu, dan ini adalah salah satu momen yang menyadarkan Naruto seberapa bodoh dirinya.

Ini tidak hanya disadari Naruto. Awalnya teman-teman sekelas, lalu entah bagaimana merembet ke teman seangkatan dan menyebar luas ke anak tahun pertama maupun ketiga, berita tentang kemampuan akademik Naruto berpindah dari mulut ke mulut. Beberapa berita terdengar seperti, "Tentu saja dia kurang soal akademik, soalnya dia jago olahraga," dan sebagian lain terdengar seperti, "pantes aja dia deket sama Kak Saki, mungkin biar deket Nona Tsunade dan dapet rapot bagus—eh."

Buat Naruto yang pernah di-bully, perkataan macam itu tidak melukainya sampai berdarah-darah. Tapi hanya membuatnya khawatir jika kabar tersebut tiba di telinga Saki. Naruto tidak ingin membuat kesalahpahaman dalam hubungan mereka. Naruto tidak pernah ada niatan memanfaatkan Saki si Peraih Nomer 1 dalam ujian tahun ketiga.

Lee meneguk minuman kaleng dinginnya bagai seorang pria menegak sake, sementara Naruto hanya menggengam minuman dengan rasa yang sama. Lee mendesis seraya menjatuhkan kepala di pangkuan tangan. Diam-diam matanya melirik papan nomer yang tidak seharusnya dimiliki anak tahun kedua. Papan nomer putih M-001 di hadapan mereka.

"Bener-bener deh…" ujar Lee yang kehilangan banyak kata.

"Lee…"

"Kamu suka Kak Saki?"

Naruto tak langsung menjawab. Sejenak hanya bertukar tatap.

"Oke. Oke." Lee mengangkat kedua tangannya seolah berkata apapun yang pengen kamu bilang, tahan dulu. "Sebagai teman yang kenal kamu sejak SMP, aku gak larang kamu buat berhubungan dengan siapapun, tapi… aku perlu tau, apa kamu dan Sasuke m—"

"Nggak! Udah aku bilang, aku gak pernah punya hubungan apa-apa sama dia!" Naruto menyela cepat.

Lee mengangkat kedua bahu, lalu berputar acuh tak acuh.

"Ketika aku bilang Nona Tsunade suka ikut campur permasalahan OSIS, itu artinya kamu—AAH!"

Kemudian berputar frustasi ke arah sebaliknya. Kain merah yang melingkar di lengannya melorot dan Naruto bisa membaca jelas dua kanji di kain tersebut. Kanji yang menghentak jantungnya sampai berdegup keras. Naruto sadar, meskipun Lee adalah seorang teman, Lee profesional dalam menjalankan tugas.

"Kalian gak perlu putus," kata Lee terdengar yakin.

"Gak apa-apa. Aku putusin aja besok. Lagian, aku juga ngerti. Latar belakangku Cuma bakal ngotorin Kak Saki."

Lee ternganga setengah merasa lucu. "Latar belakang apa, woy? Ngotorin? Hmfft… dan baru jadian terus putus?"

Naruto mengerlingkan mata, dan setengah memaklumi reaksi Lee. Tentu saja Lee tidak tahu apa yang terjadi selama mereka tidak pernah berkomunikasi setelah lulus SMP, bahwa Naruto tak sama seperti ketika mereka masih SMP. Di SMA, Naruto hanya kesia-siaan. Jadi Naruto hanya berdecak kecil menahan perasaan tak enak.

"Terus gimana perasaan Kak Saki?" kata Lee lagi, dan mata Naruto berlari ke kain merah di lengan Lee, kemudian berpindah cepat ke emblem-emblem di dadanya. Naruto terdiam, mendadak bingung sendiri.

"Memang sih kamu atau Kak Saki gak tuker papan dada, tapi seisi sekolah udah pada tahu kok. Permasalahan utamanya kan bukan itu. Kalau Kak Saki gagal masuk universitas yang udah ditargetkan Nona Tsunade gara-gara hubungan kalian, kemungkinan kamu juga gagal dalam suatu hal di sekolah ini."

Naruto mendengus, geleng-geleng kepala sebelum tertawa palsu, lantang dan berlebihan. Padahal diam-diam Naruto tengah menutup kekhawatiran kalau-kalau Saki mengetahui masa lalunya. "Hahahaha! Apaan tuh! Kepala Sekolah macam apa yang ikut campur urusan pribadi, dan ngasih hukuman yang gak masuk akal."

"Emang. Di SMA MM emang banyak yang gak masuk akal. Sekolah terkenal tapi di hutan. Katanya terkenal, tapi dikit yang daftar. Katanya berprestasi, tapi populasi pemalas banyak banget. Katanya cowok SMA MM banyak yang ganteng-single, tapi gak pernah mau diajak pacaran sama cewek. Yaiyalah kampret… mereka homo. Sekali ada yang lurus, cewek-cewek gak tertarik."

"Aku kasih tau aja ya, Naruto… ada yang ngincer Kak Saki sejak kelas 2, tapi gak pernah berani jujur. Soalnya, Nona Tsunade serius. Kami serius. Gak pacaran. Suntuk belajar atau ada waktu senggang, mending males-malesan. Maen game. Para alumni juga ngewanti-wanti soal ini. Kalau murid macam Kak Saki gagal masuk universitas ternama, itu sama kayak mengurangi reputasi SMA MM, lain halnya kalau kita gak ada yang daftar ke Univ ternama itu. Ya kan udah aku bilang tadi, yang daftar ke SMA MM itu sebenernya sedikit. Malah tiap tahun jadi makin sedikit. Reputasi itu penting. Makanya Nona Tsunade serius soal pacaran."

"Yaudah, aku tetep bakal putusin dia, tapi aku bakal cari cara biar dia gak sakit hati."

.

.

.

Halo!
Akhirnya saya bisa update. Lumayan, chapter ini isi 3000an kata buat membayar keabsenan update hehehe gak bisa janji lagi soal update mingguan. Jadwal udah gak menentu, ditambah tugas panit IFA yang (saya tumpuk) di akhir pekan.

Follow dan klik favorit aja dulu, ok?