Judul: Biru
Peringatan: NYAHAHAHAHA GAJE! OOC! OC! AU! Shonen-ai
A/N: Yak, tidak perlu banyak basa-basi. Langsung saja deh :3 enjoy
.
.
Frey diam dan menunduk. Lassie mengangkat wajah anaknya dan terkejut. Sepasang mata merah milik Frey Faustus terlihat berkaca-kaca. Air mata mengalir di kedua mata yang indah itu.
Untuk pertama kalinya, Frey Faustus meneteskan air matanya.
Lassie menggigit bibir bawahnya dan menghapus jejak air mata yang ada di pipi anaknya. Frey diam dan tidak berkata apapun. Lassie berjinjit dan memeluk anaknya —karena Frey jauh lebih tinggi dari Lassie, Lassie harus berjinjit untuk memeluk anaknya. Frey melingkarkan tangannya di pinggang ibunya dan membenamkan wajahnya di pundak ibunya.
Saat itu, Frey merasa sangat membutuhkan seseorang.
Frey membutuhkan Lassie.
"Kau...menangis, Sayang? Apa ini semua gara-gara Ibu?" Lassie berbisik pelan ke telinga Frey. Frey menggeleng pelan sebagai jawaban dan mengangkat wajahnya. Frey tersenyum kecil dan berkata, "Apa ibu tidak terkejut melihatku menangis?"
"Sejujurnya, ibu tidak pernah membayangkan hari dimana bisa melihatmu nangis." Lassie mencoba bercanda. Frey kembali tersenyum dan Lassie menghapus sisa air mata Frey yang masih membekas di pipi dan rahangnya.
"Bu, siapa nama keluarga itu?"
"Sayang, kau masih ingin tau?" Lassie menghela nafas dan melepaskan pelukannya. Lassie menatap anaknya dan memutuskan untuk mengalah, "Keluarga itu bernama Phantomhive. Orang yang membuat kontrak dengan ayahmu adalah Vincent dan istrinya, Vincent Phantomhive dan Rachel Phantomhive."
Senyuman menghiasi wajah tampan Frey. Lassie melihat senyuman anaknya itu dan mengela nafasnya —lagi. Lassie ragu apa dia melakukan perbuatan yang benar atau tidak. Baginya semua sudah terlambat, anaknya sudah mengetahui seluruh rahasia yang selama ini disimpannya rapat-rapat.
Tapi bagaimana mungkin Lassie menolaknya? Bagaimana mungkin seorang ibu membiarkan anak yang paling disayanginya menangis meminta sebuah kenyataan? Lassie memang tidak mempunyai pilihan lain bukan?
"Bu, aku pergi dulu. Aku tidak akan lama, sebelum jam 9 malam, aku sudah akan dirumah." Frey melambai singkat dan menghilang di balik pintu. Lassie menatap kepergian anaknya dan menutup pintu yang masih terbuka itu.
Lassie mengambil sebuah foto. Di foto itu terdapat foto dirinya dan seorang laki-laki tampan yang bernama Franz Faustus.
"Franz, kuharap aku tidak melakukan kesalahan."Lassie berbicara dengan foto yang ada di hadapannya.
.
.
Ciel melepas coat yang dikenakannya saat tadi ke perpustakaan kota dan menggantungnya di balik pintu. Bibi Ann belum sampai di rumah, ini mempermudahnya. Dia tidak perlu menceritakan bahwa tadi dia pergi, lalu bertemu dengan Michaelis —ah maksudnya, Sebastian— lalu Bibi Ann tidak perlu tau alasan Ciel ke perpustakaan kota.
Ciel tidak perlu mengatakan apa-apa pada bibinya.
"Kau Phantomhive?" Suara seseorang mengejutkan Ciel. Ciel membeku di tempatnya, kakinya membatu, Ciel tidak menoleh ke belakang. Harusnya ruangan itu kosong, karena di rumah itu dia hanya tinggal dengan Bibi Ann. Harusnya tidak ada suara seseorang laki-laki. Jadi suara itu milik siapa? Apa pencuri?
Beberapa detik sudah berlalu. Tidak ada suara siapapun. Apa itu tadi? Apa hanya halusinasi saja? Ciel menghela nafas dan berbalik. Ciel terkejut dan melompat ke belakang setelah melihat seorang laki-laki yang sedang duduk manis di atas kursi. Laki-laki yang sama sekali tidak dikenali Ciel.
"K-Kau siapa?" Ciel akhirnya membuka suara. Lelaki itu berdiri dan tersenyum manis, "Apa benar kau Phantomhive?"
Setelah berfikir beberapa detik, akhirnya Ciel mengangguk dengan ragu-ragu. Laki-laki di depannya tersenyum dan berjalan ke arah Ciel dengan perlahan —namun hal itu membuat Ciel mundur selangkah demi selangkah. Laki-laki itu memiringkan kepalanya dan tersenyum menggoda, "Maaf kalau seandainya aku tidak sopan, tapi apa kau takut padaku, Phantomhive?"
Mendengar perkataan seperti itu, Ciel berhenti melangkah mundur dan menggelengkan kepalanya. "Tentu saja aku tidak takut."
"Kalau begitu berhentilah bergerak mundur, aku ingin berada lebih dekat denganmu."
Seperti sihir, Ciel berhenti melangkah.
Setelah jarak Frey dan Ciel hanya beberapa langkah lagi, Frey menundukkan badannya untuk mengamati dengan jelas anak yang bernama Ciel Phantomhive itu. Ciel tidak bergerak sedikitpun. Frey mengamati Ciel dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan pandangannya kembali ke wajah Ciel.
"Matamu indah sekali, Phantomhive. Biru." Pujian itu tulus keluar dari mulut Frey Faustus. Frey mengangkat badannya lagi dan berdecak.
"Jadi, orang tuamu adalah Vincent dan Rachel Phantomhive, benar begitu?" Frey membuka suara setelah dia mundur ke belakang beberapa langkah. Frey duduk di kursi yang sama dengan kursi yang didudukinya pertama kali dia ada di rumah Phantomhive. Ciel mengernyit dan memiringkan kepalanya sedikit, bingung. Mengapa orang yang ada di depannya ini tau nama kedua orang tuanya?
"I-Iya. Kalau saya boleh tau, anda siapa?"
"Namaku Frey. Frey Faustus." Jawaban Frey mantap. Mendengar nama 'Faustus', Ciel tidak bisa menahan ekspresinya untuk tidak terkejut. Baru saja dia pulang dari perpustakaan untuk mencari siapa itu Faustus, dan sekarang dihadapannya berdirilah seorang Faustus —biarpun tidak sama dengan yang difoto, namun Faustus yang difoto dengan Frey Faustus terlihat sedikit mirip.
"Faustus?" Ulang Ciel.
.
.
Sebastian sedang duduk di sebuah bangku putih di taman belakang rumahnya. Pandangannya lurus ke depan, melihat mawar-mawar yang mulai bermekaran. Mawar yang dirawat oleh ibu dan dirinya sendiri. Sebastian bersenandung pelan, udara pada saat itu sangatlah cerah. Cocok sekali untuk bersantai dirumah sambil ditemani teh dan makanan ringan lainnya.
"Sebastian?" Suara berat seorang laki-laki memanggilnya. Sebastian menoleh dan melihat ayahnya berdiri di belakangnya. Sebastian berdiri dan menunduk singkat, menunjukkan rasa hormat kepada sang ayah. Kepada kepala keluarga Michaelis —Aldred Michaelis.
"Apa yang kau lakukan disini?" Ayahnya melangkah mendekat dan duduk di bangku itu —di sebelah tempat Sebastian. Sebastian ikut duduk di samping ayahnya dan menjawab, "Tak ada yang kulakukan. Aku hanya menikmati taman belakang ini saja."
Aldred mengangguk dan berkata, "Sesekali menikmati mawar memang tidak salah, seseorang seperti akupun bisa merasa sedikit nyaman. Apa Mary yang merawat semua ini?"
"Ya. Ibu sangat menyukai taman ini." Sebastian menjawab semua pertanyaan ayahnya. Dia merasa sedikit canggung, karena hanya duduk berdua dengan ayahnya. Ayahnya diam tak berkata apa-apa lagi. Sebastian melirik ayahnya dan memandang lurus ke depan. Pandangan ayahnya itu, pandangan menerawang.
"Yah?" Sebastian memanggil. Aldred menoleh dan menjawab. "Ya?"
"Ayah tidak apa-apa?" Sebastian bertanya dengan hati-hati. Aldred tersenyum dan menggeleng, "Tidak. Tidak ada apa-apa. Tiba-tiba ayah teringat seseorang, sudahlah lupakan saja." Aldred berdiri, dan bersiap untuk melangkah menjauh dari taman itu ketika Sebastian mengeluarkan suaranya lagi.
"Ayah ingat dengan Bibi Lassie, bukan? Seingatku, dia juga sangat suka dengan mawar." Perkataan Sebastian menghentikan langkah Aldred sebentar sebelum akhirnya dia melanjutkan langkahnya —tanpa menoleh ke Sebastian.
Sebastian melihat ayahnya pergi dan mengalihkan pandangannya ke kebun bunga mawar lagi. Sebastian yakin sekali kalau ayahnya sedang teringat Bibi Lassie tadi.
Kenyataannya adalah, Sebastian yakin sekali kalau sebenarnya ayahnya itu sangat merindukan keluarga adiknya —Franz, Lassie, dan anaknya. Hanya saja, sebagai kepala Keluarga Michaelis, ada beberapa hal yang harus ditutupi.
Salah satunya adalah perasaan rindu dengan seseorang. Tidak ada yang bilang kalau iblis tidak bisa merasakan rindu bukan? Mungkin ini salah satu kesamaan manusia dan iblis? Mungkin ini salah satu sisi lemah seorang iblis?
Sebastian bangun berdiri dari bangku itu dan memutuskan berbalik masuk ke mansionnya yang besar.
.
.
Frey mengangguk dan membuka suara, "Ya. Apa nama Faustus terdengar familiar di telingamu? Oh ya, siapa namamu? Aku sudah memperkenalkan diri sedangkan sampai saat ini aku belum tau saya namamu."
"Ciel. Ciel Phantomhive." Ciel memutuskan untuk menjawab pertanyaan orang yang ada dihadapannya. Frey menganggukkan kepalanya beberapa kali dan akhirnya bertanya lagi, "Ciel, apa kau tidak ingin tau kenapa aku bisa duduk di kursi ruanganmu sekarang?"
Ciel mengangguk dan akhirnya menjawab. "Ya. Tujuanmu apa datang kesini, Faustus? Kau bukan hanya ingin mengajakku berkenalan kan?"
"Tentu saja tidak, Ciel. Aku mempunyai tujuan, tentu saja. Sebelum itu aku harus menanyakan sesuatu padamu. Apa nama Faustus sangat familiar ditelingamu?" Frey Faustus menyilangkan kakinya dan menopang dagunya. Dia menunggu jawaban Ciel. Ciel masih berdiri diam di tempat, tak bergerak dari sejak dia berbicara dengan Frey.
"Oh sebelum itu, Ciel. Kenapa kau tidak duduk? Oh maafkan atas ketidaksopanan ku karena sudah duduk tanpa permisi." Frey berdiri dan menunduk singkat. Ciel seperti tersadar dan memutuskan untuk duduk di pinggiran kasurnya.
"Apakah aku boleh duduk sekarang?"
"Ten-tentu. Silahkan saja." Ciel mempersilahkan 'tamu' nya duduk. Frey tersenyum sebagai tanda terima kasih dan duduk kembali ke kursi itu. Frey menunggu jawaban Ciel sambil bersenandung pelan.
"Aku menemukan foto orang tuaku dan laki-laki yang kuduga bernama Faustus." Ciel akhirnya menjawab. Frey tidak berkata apa-apa. Dia tetap bersenandung pelan. Ciel menunggu reaksi orang yang duduk di hadapannya, tapi sepertinya Frey Faustus masih menunggu kalimat lain yang akan keluar dari Ciel. Ciel akhirnya menghela nafas dan melanjutkan.
"Lalu aku punya teman dan dia mengaku bahwa Faustus adalah nama keluarga pamannya." Kalimat terakhir membuat Frey menghentikan senandungnya dan menatap lurus ke mata Ciel yang biru. Ciel tidak berkedip, berusaha untuk mempertahankan kontak matanya dengan Frey. Kesunyian menghampiri mereka. Tidak ada seorangpun yang mencoba untuk membuka suara. Mereka berdua masih saling bertatapan, tapi jelas sekali kalau mereka sedang larut ke dalam pikiran masing-masing.
"Dan temanmu itu Sebastian Michaelis, bukan?" Akhirnya setelah selang beberapa waktu, Frey memutuskan untuk memecah keheningan diantara mereka. Ciel membelalakkan mata, tak percaya. Mengapa orang yang ada di depannya mengetahui semua tentang dirinya? Dari nama orang tua, hingga teman yang baru saja ditemuinya.
"Kau tidak perlu menjawabnya Ciel, aku sudah bisa menangkap jawaban dari ekspresimu." Frey tersenyum manis dan berdiri dengan tiba-tiba. Ciel ikut berdiri.
"Terima kasih atas waktunya hari ini, Ciel..." Frey mengehentikan kalimatnya sebentar. Dia maju beberapa langkah ke arah Ciel dan menunduk lagi, "...kalau kau penasaran dengan tujuanku kesini, aku akan memberi tahumu. Aku kesini untuk membunuhmu. Tapi tentu saja tidak sekarang. Aku harap kita bisa ketemu lagi, Ciel." Frey menegakkan kembali badannya dan berjalan pelan menuju pintu. Beberapa detik kemudian Ciel tidak bisa melihat bayangan Frey Faustus lagi.
Ciel berdiri membeku ditempatnya.
Terima kasih atas waktunya hari ini, Ciel, kalau kau penasaran dengan tujuanku kesini, aku akan memberi tahumu. Aku kesini untuk membunuhmu. Tapi tentu saja tidak sekarang. Aku harap kita bisa ketemu lagi, Ciel.
Kalimat itu seperti kaset rusak, terus mengulang tiada henti. Selalu terngiang di telinga Ciel tanpa bisa dihentikan.
Orang itu datang untuk membunuhnya?
.
.
-bersambung-
.
A/N: OKAY! Tunggu saja chapter selanjutnya, akhir-akhir ini lagi semangat ngelanjutin cerita ini ahahaha.. Daaaan, kenapa Lassie dan Frey terlihat seperti lover? Aah! Maafkan atas tulisan yang aneh ini (sudah ada di warning kalau tulisan ini gaje, jadi anda tidak bisa protes :D) ahahahaha, terima kasih ya yang sudah membaca cerita ini sampai chapter segini banyaknya. Agak membosankan sih, tapi ya mungkin bisa menjadi hiburan. Okaaaay, sampai jumpa —secepatnya :3 *smirk* *pop* *disappear*
