Harry Potter hanya milik J.K Rowling
(Warning : sudut pandang bergantian, OOC, miss typo. Ide cerita muncul tiba-tiba dari penulis, kritik dan saran terbuka. Happy reading.)
Chapter 6
-(0)-(0)-(0)-(0)-
(Normal)
Draco masih tidak percaya bahwa gadis itu adalah Chloe, sepupu jauh Nott yang hampir dua tahun lalu dia hadir kepemakamannya. Gadis itu adalah gadis yang ada dilukisan yang dilihat Hermione di villa pribadi milik Draco.
"Tidak mungkin. Kau sudah meninggal Chloe, aku bahkan hadir di pemakamanmu. Apakah ini sebuah lelucon?" Draco menatap tidak percaya gadis itu.
"Ini bukan lelucon Draco, aku tidak meninggal, mereka menemukan mayat yang salah. Aku masih hidup. Gadis yang dikubur dibawah nisan bertuliskan namaku, bukanlah diriku yang asli." Gadis itu menjelaskan bagaimana dirinya bisa berdiri di depan Draco padahal semua orang tahu bahwa gadis bernama Chloe itu sudah meninggal.
"Ini tidak masuk akal." Balas Draco sambil menggelengkan kepalanya sambil memasang wajah nyinyir.
"Dimana yang tidak masuk akal? Polisi menemukan mayat perempuan tanpa identitas yang sudah tidak dapat dikenali. Semua orang mengira itu adalah mayatku, bahkan keluargaku mengira itu adalah aku yang mati bunuh diri karena depresi, hanya dengan melihat rambut hitam bergelombang perempuan itu. Bagaimana mungkin kalian tidak mengotopsi mayat itu dan langsung mengklaim itu adalah aku?" Wajah gadis itu berubah menjadi merah, dia berusaha sekeras mungkin agar Draco mempercayainya bahwa dia nyata, bahwa dia sebenarnya masih hidup.
Pria berambut pirang platina itu tidak begitu saja menerima dengan mudahnya penjelasan gadis yang mengaku sebagai Chloe itu. Dia butuh pengungkapan yang masuk akal tentang semua ini. Draco tidak bisa membedakan dimana kenyataan dan mimpi, dia merasakan seolah sedang bermimpi bertemu dengan Chloe, yang sangat jelas sekali sudah terkubur didepan matanya.
"Jika kau tidak meninggal? Lalu pergi kemana saja kau selama ini?" Akhirnya Draco mengajukan pertanyaan itu pada Chloe. Jadi pergi kemana saja dia selama 2 tahun ini? Apa yang dia lakukan, dan mengapa dia baru muncul sekarang jika dia tidak benar-benar meninggal?
"Itu cerita yang panjang Draco. Yang jelas aku masih hidup." Jawabnya tertawa sarkrastik sambil menatap langit-langit ruangannya ini, menahan air matanya agar tidak jatuh. "Apakah ini caramu menyambutku? Atau mungkin kau lebih senang jika aku mati dan tidak pernah kembali?" Gadis itu memberikan tatapan sedih pada Draco, wajah cantiknya terlihat menderita.
"Apa yang kau katakan? Tentu saja tidak. Kenapa kau berkata seperti itu?" Draco diam cukup lama setelah menyelesaikan kalimatnya. Mengamati dengan teliti wajah wanita yang dulu sangat dia kenal.
"Jadi ini benar-benar kau Chloe?" Draco bertanya satu kali lagi, dia hanya ingin kebenaran.
Gadis yang Draco sebut sebagai teman baiknya pada Hermione itu mengangguk. Tidak peduli itu akan meruntuhkan Draco untuk mempercayainya atau malah membuatnya semakin tidak percaya padanya. Mimik wajah Draco berubah menjadi lebih hangat. Urat-urat tegang diwajahnya melunak, dan tatapan rindu bercampur lega tergambar disana.
Dia maju mendekati gadis itu dan meraih wajahnya, mengamatinya lebih teliti bahwa gadis itu adalah Chloe yang dia kenal. Dia menatap mata birunya yang amat sangat dikenalinya. Jadi ini alasan Theo bersikeras ingin membicarakan Chloe di depan Draco, karena sepupunya itu masih hidup selama ini.
"Ini benar-benar kau." Draco langsung memeluk gadis itu, tidak dipungkiri bahwa Draco merindukan gadis itu, sahabatnya, teman baiknya sejak kecil yang dia pikir meninggalkan dia untuk selamanya, tapi nyatanya dia ada disana dalam pelukannya.
Gadis itu mengubur wajahnya di dada Draco, dia tidak terlalu tinggi. Hingga sepatu hak tinggi yang dikenakannya tidak membuat tingginya setara dengan pundak Draco.
Di saat itu, Hermione datang keruangan yang hanya diisi oleh mereka berdua. Hermione melihat mereka berpelukan dengan begitu erat dan kalimat serta adegan-adegan selanjutnya antara Draco dan Chloe membuatnya meninggalkan ruangan dengan hati hancur dan terluka.
Ciuman yang didaratkan oleh Chloe pada bibir Draco membuat pikiran Draco buyar, dan untuk beberapa detik dia baru tersadar dari kenekatan wanita yang ada dipelukannya ini.
Suara bunyi pintu yang dibanting membuat Draco mengingat Hermione yang datang ke pesta perpisahan Theo bersamanya. "Hermione." Ucapanya lirih.
"Chloe, apa yang kau lakukan?" Jawab Draco sambil mendorong gadis itu darinya.
"Aku merindukanmu Draco." Gadis itu membulatkan matanya pada Draco, seolah hal yang dilakukannya itu tidak salah.
"Dengar, hubungan kita sudah berakhir Chloe. Kau sudah tahu perasaanku yang sebenarnya padamu. Aku tahu kau sekarang disini, tapi hubungan kita telah lama berakhir, bahkan sebelum kau meninggal, maksudku, sebelum orang-orang mengira kau meninggal." Draco berusaha menjelaskannya pada Chloe. Tentu saja Hermione tidak mendengar semua itu, dia sudah melewati pintu saat Draco mendorong Chloe untuk menjauh darinya. Dan Hermione tidak mendengar kalimat penting yang dapat merubah persepsinya tentang Draco.
Chloe adalah mantan kekasih Draco yang sama sekali tidak diketahui Hermione. Selama Hermione tidak bertanya pada Draco, mungkin dia tidak seharusnya menceritakan kisah cintanya bersama Chloe yang berjalan tidak begitu menyenangkan.
Mereka berdua bersahabat sejak kecil, keluarga Chloe tinggal di London sama seperti keluarga Draco. Mereka tumbuh bersama sejak kecil, saat usia mereka 11 tahun, Draco, Theo, Blaise dan Chloe sangat antusias untuk mendapat surat dari Hogwarts, surat yang berisikan bahwa mereka terdaftar menjadi murid sekolah sihir di Inggris itu.
Tapi hal yang menyedihkan menimpa Chloe, dia tidak mendapatkan suratnya seorang diri. Sejak kecil dia tidak pernah menunjukkan bakatnya sebagai seorang penyihir. Orang tuanya kecewa dengan hal itu, bagaimana mungkin anak yang terlahir dari pasangan penyihir murni, menjadi squib. Apakah ada kesalahan hingga hanya Chloe yang tidak mendapatkan suratnya dari Hogwarts?
Orang tua Chloe sempat menghubungi Proffesor Dumbledore tentang hal itu, dan Proffesor Dumbledore mengatakan bahwa tidak ada kesalahan tentang daftar nama siswa baru Hogwarts, namanya tidak pernah tercatat sejak lahir sebagai murid Hogwarts.
Mengetahui dirinya squib, Chloe merasa diasingkan oleh orang tuanya sendiri dari dunia luar, dia tidak diperbolehkan pergi keluar rumah. Kegiatannya sejak usia 11 tahun adalah berdiam diri dirumah, hanya membaca dan melakukan sesuatu yang menjadi kesukaannya, memasak. Dia selalu meminta orang tuanya untuk menyekolahkannya di sekolah muggle manapun, namun hal itu tidak pernah dikabulkan orang tuanya, itu akan lebih membuat reputasi keluarganya semakin memburuk. Kasih sayang orang tuanya mulai berkurang padanya, mereka pikir Chloe adalah aib.
Saat yang paling menyenangkan bagi Chloe adalah saat musim panas dan natal, karena hanya di saat itu sahabat-sahabatnya datang mengunjunginya. Bercanda bersama, tertawa bersama, Draco, Blaise dan Nott memberi warna pada hidup Chloe yang kelam. Dari mereka bertiga Chloe menaruh hati pada pria pirang bermata indah itu, Draco Malfoy. Chloe mengungkapkan perasaanya saat usia mereka menginjak 16 tahun, Draco Malfoy adalah cinta pertamanya.
Draco tidak pernah menganggap Chloe lebih dari sekedar adik, Draco menyayangi Chloe seperti adiknya sendiri tidak lebih dari itu. Dia merasa Chloe adalah seseorang yang perlu dia jaga, terlepas dia adalah squib atau penyihir murni, Draco tidak pernah peduli akan hal itu, bahkan Draco benar-benar tidak peduli dengan status darah.
Bersikap baik, itulah yang dilakukan oleh Draco, dia merasa hidup Chloe sudah cukup menderita ditambah lagi dia tidak memiliki teman, atau akses ke dunia sihir maupun muggle. Dan akan semakin menambah deritanya jika dia tidak bahagia dalam cinta yang dia harapkan selama ini.
Hubungan mereka terjalin hanya beberapa bulan, karena Draco tidak pernah bisa mencintainya, karena Draco mencintai gadis lain, Hermione Granger. Draco tahu Chloe terluka akan keputusannya itu, tapi dia sendiri merasa tersiksa dengan hubungan mereka. Dan beberapa bulan kemudian, kabar kematian Chloe sampai ditelinga Draco, dia merasa sangat bersalah padanya. Sebelum meninggal Chloe sempat depresi, dia merasa bahwa dirinya tidak berharga karena dia squib dan tidak ada siapapun yang mengharapkan dirinya ada. Alasan Draco tidak menyukai jika Theodore Nott menceritakan atau hanya menyebutkan nama Chloe adalah karena Draco benar-benar merasa berdosa padanya.
Dia pergi meninggalkan Chloe di dalam ruang itu dan pergi mencari Hermione yang dia lihat menghilang di keramaian pesta setelah dia yakin bahwa Hermione yang menutup pintu dengan kasar karena melihat Chloe mencium Draco, karena Hermione berlari dari arah lorong yang sedang dilewati Draco.
"Draco." Chloe menyusulnya.
Masih berdiri mematung di depan pintu yang baru saja dilewati oleh Draco dan Chloe, Theo tersenyum licik dengan pemandangan yang baru saja dilihatnya. Sepertinya rencananya menghancurkan hubungan mereka berdua akan berjalan sangat mulus.
-(0)-(0)-(0)-(0)-
Hermione bangun dengan kondisi yang berantakan, dress yang dikenakannya semalam masih dia kenakan. Wajahnya sembab karena menangis semalam, rambutnya acak-acakan. Dia masih berbaring di atas ranjangnya. Dia menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong, benar-benar tidak ada yang dipikirkannya sekarang. Mengetahui Draco memiliki mantan kekasih dan semalam melihatnya berciuman dengannya membuat hidup Hermione hancur.
Dia merasa tidak ada energi yang tersisa di dalam tubuhnya. Cemburu, sakit hati, dan frustasi, itu adalah 3 kata yang mewakili perasaan Hermione saat ini. Reaksi Draco semalam yang langsung pergi begitu saja ketika Hermione berteriak padanya membuatnya kecewa. Hanya seperti itukah usaha Draco untuk meyakinkan Hermione dan memperbaiki semua yang telah terjadi?
Benarkan Draco mencintai Hermione selama ini? Hermione ingin kembali menangis. Air matanya sudah membuat pandangannya kabur.
"Stupid girl. Untuk apa aku menangisi pria tidak tahu diri seperti dia." Hermione bergumam sendiri, dia benar-benar sinting.
Dia bangun dari ranjangnya, melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 10.00 dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang kacau. Jika dia hanya berdiam diri di ranjang, dia yakin bahwa dia akan menangis sepanjang hari. Hermione memutuskan untuk pergi ke The Burrow, menemui Ginny atau bertemu dengan Ron, siapapun yang bisa menghibur dirinya.
Kaos hitam berlengan panjang yang dipilih Hermione untuk dia kenakan menuju The Burrow. Dia tidak sadar sepenuhnya dengan setelan yang dia pilih. Dia mengikat rambutnya tinggi agar terlihat segar, namun kantung matanya tidak dapat menyembunyikan bahwa dia sehabis menangis sepanjang malam.
Hermione berapparte ke The Burrow langsung dari kamarnya, dia menemukan Mrs Weasley berada di pekarangan, sedang menangkap jembalang. Dia mendekati wanita bertubuh gempal dan sangat cerewet namun hangat kepada semua orang itu.
"Selamat pagi Mrs Weasley." Sapa Hermione kepada ibu dari 6 orang anak itu.
Mrs Weasley kaget dengan suara Hermione dan tanpa sengaja dia melepaskan jembalang yang baru saja di tangkapnya.
"Oh Merlin! Aku melepaskannya." Dia membalik badannya untuk melihat seseorang yang telah mengagetkannya.
"Hermione dear. Sejak kapan kau ada disitu?" Kata Mrs Weasley sambil berusaha untuk memeluk Hermione dengan membentangkan kedua tangannya.
"Aku baru saja datang." Hermione menyambut pelukan Mrs Weasley.
"Selamat atas kelulusanmu dear. Aku bangga padamu, dan yang jelas orang tuamu pasti lebih bangga padamu." Sambung Mrs Weasley sambil melepaskan pelukannya pada Hermione.
"Terima kasih Mrs Weasley, aku tahu mereka akan bangga." Hermione tersenyum simpul pada Mrs Weasley yang sangat menyayanginya bagai anak sendiri. "Mrs Weasley, dimana Ginny?" Tanya Hermione.
"Ginny, dia di Diagon Alley, membantu George di toko." Mrs Weasley menjawab pertanyaan Hermione sambil melengkungkan bibirnya sambil mengangguk.
Toko Weasley's Wizard Wheezes yang didirikan oleh George dan Fred sempat tutup semenjak kematian Fred. George merasa tidak ingin kembali melanjutkan bisnis mereka tanpa Fred. Ginny mengatakan bahwa George lemah dan terlalu cengeng, Hermione tahu Ginny wanita tangguh, Ginny meyakinkan George bahwa jika Fred masih hidup dia akan terus melanjutkan bisnis yang mereka dirikan bersama. Ginny berjanji akan membantu membuka kembali toko milik kakaknya itu.
"Apa kau akan menyusulnya? Harry juga ada disana. Kau sudah sarapan dear? Kau demam?" Tanya Mrs Weasley pada Hermione yang kelihatan tidak sehat.
"Aku baik-baik saja Mrs Weasley, ya, mungkin aku akan menyusul Ginny ke toko. Ngomong-ngomong dimana Ron?" Hermione menyusuri pandangannya di halaman luas The Burrow, barangkali menemukan Ron yang mungkin saja sedang mencari jembalang seperti Mrs Weasley.
"Kau seperti tidak tahu dia saja. Dia sedang tidur di kamarnya, bangun hanya untuk menyapa Harry pagi tadi." Jawab Mrs Weasley malas. "Aku tidak menyangka dia akan bekerja di kementerian sebagai auror." Lanjut Mrs Weasley masih tidak percaya bahwa Ron akan menjadi auror.
Hermione berpamitan pada Mrs Weasley untuk menyusul Ginny ke Diagon Alley. Sebelum pergi Mrs Weasley meminta Hermione untuk makan malam dirumahnya, dan Hermione dengan senang hati menerima tawaran Mrs Weasley. Dia berapparate di pekaran The Burrow yang rumputnya menguning seperti hamparan emas yang luas dan meninggalkan Mrs Weasley yang akhirnya masuk ke dalam rumah karena merasa sudah lelah menangkap jembalang yang telah membuatnya kalang kabut.
Di depan Weasley's Wizard Wheezes Hermione menapakkan kakinya, dia menaiki tangga masuk toko yang terdapat tulisan close yang berputar-putar di pintu kacanya itu. Belum ada kehidupan di toko itu, karena memang toko milik Fred dan George ini belum secara resmi di buka kembali. Mata Hermione menangkap sosok Ginny dan Harry yang sedang duduk untuk memilih barang-barang konyol yang akan dijual oleh George, saat dia mencoba melihat dari balik pintu kaca di depannya sebelum masuk ke dalam toko.
Hermione membuka pintu toko dan bunyi lonceng di pintu membuat Ginny dan Harry menoleh. Kemudian Hermione menutup kembali pintu masuk toko itu dan bunyi lonceng terdengar untuk kedua kali.
"Hermione." Ginny menyapanya saat masih berdiri di depan pintu yang baru saja dia tutupnya. Wajah Hermione terasa panas dan wajahnya berubah menjadi merah. Dia tidak bisa membendung air matanya di depan kedua sahabatnya itu.
"Gin." Itulah kata-kata yang keluar dari bibir Hermione.
Harry sudah akan berdiri sebelum Ginny melarangnya, dan menyuruhnya untuk tetap diam di tempat, atau membantu George di gudang.
"Biar aku saja." Jawab Ginny pada Harry. Ginny menganggukkan kepalanya pada Harry sebagai isyarat bahwa dia bisa menenangkan Hermione, dan ini adalah masalah wanita.
Ginny menghampiri Hermione yang menangis dan memeluknya. Harry tidak pernah mengerti tentang wanita. Tapi sebagai seorang laki-laki dia tidak mungkin tega membiarkan seseorang wanita di hadapannya. Dia masih berdiri ditempat sambil melihat Hermione menangis sesenggukkan dalam pelukan Ginny.
"Hermione, ada apa? Katakan padaku." Kata Ginny akhirnya.
Pelukan Ginny membuat air mata Hermione semakin deras mengalir. Dan mulutnya seakan terkunci untuk mengatakan apa yang dirasakannya sekarang. "Baiklah, menangislah sepuasmu terlebih dahulu." Ginny memutar kepalanya pada Harry yang masih berdiri terdiam sambil melihat mereka berdua. Kemudian meminta Harry pergi dengan mengatakan "Go" tanpa suara. Ginny menyadari sesuatu, jika Hermione tidak ingin Harry mendengar dan akhirnya mengetahui alasan kenapa dirinya menangis.
Butuh waktu untuk membuat Hermione benar-benar menengkan dirinya. Hermione mendongakkan wajahnya pada Ginny dan tersenyum.
"Untuk apa kau tersenyum? Kau berantakan sekali, lebih baik kita pergi makan untuk memberikan tubuhmu energi, sebelum kau ceritakan apa yang sebenarnya terjadi padamu." Komentar Ginny setelah Hermione berhenti menangis.
Mereka berdua pergi meninggalkan toko dan pergi ke kedai yang pertama kali mereka temui di sepanjang jalan Diagon Alley, mereka bahkan tidak membaca dengan benar apa nama kedai itu. Kedai itu kelihatan lumayan layak untuk dikunjungi menurut mereka.
Ginny memilih tempat duduk di sudut kedai itu, dan memesan sup jagung manis untuk Hermione dan satu gelas minuman dari bahan jahe yang dapat menghangatkan badan Hermione. Wajahnya pucat dan hampir pingsan, kantung matanya tebal dan hitam.
"Katakan apa yang membuatmu separah ini." Tanya Ginny saat pesanannya baru saja di antar oleh pramusaji kemejanya.
Hermione masih diam dan menatap Ginny dengan tatapan yang mengerikan namun terlihat kosong.
"Draco." Hermione menarik nafas panjang untuk menguatkan dirinya agar dapat menceritakan hal yang membuat dirinya hancur dan tidak berbentuk manusia seperti ini. Hermione menceritakan semuanya, menceritakan adegan perselingkuhan Draco dengan mantan kekasihnya yang sama sekali tidak diketahui Hermione yang berhasil membuatnya semakin sesak nafas. Menceritakan kebohongan bahwa Draco mengatakan wanita itu adalah teman baiknya dan sudah meninggal.
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Gin. Bahwa gadis itu masih hidup, dan Draco hanya mengarang cerita tentang kematiannya." Hermione berapi-api dengan emosi dan patah hatinya. Wanita mana yang tidak sakit hati ketika kekasihnya berbohong.
"Dasar laki-laki brengsek. Dia langsung pergi begitu saja setelah mengatakan bahwa wanita jalang itu adalah mantan kekasihnya adalah tindakan pengecut." Ginny tidak terima dengan Draco yang telah menyakiti hati sahabatnya, betapa beruntungnya Draco yang telah mendapatkan Hermione, namun sekarang dia malah sia-siakan.
"Ginny, jangan sebut dia brengsek." Hermione membela Draco sambil mengaduk supnya dengan sendok.
"See, kau membelanya seolah kau tidak hancur karenanya." Guman Ginny.
Ginny memalingkan wajahnya ke luar jendela yang tepat berada disisi kanannya. Melihat aktifitas penyihir lain yang berlalu lalang di Diagon Alley dan mengamati beberapa penyihir remaja yang baru saja keluar dari toko jubah Madame Malkin.
Hermione tidak tahu apa yang akan dia lakukan dengan hubungannya bersama Draco. Dia ingin mengakhirinya, tapi tidak cukup kuat untuk melakukan itu. Dia mencintai Draco dan dia membutuhkannya.
"Putuskan saja hubunganmu dengan dia." Lanjut Ginny sambil melihat kearah Hermione. "Kau wanita cantik, pintar dan mandiri, banyak laki-laki lain yang lebih baik dari Draco Malfoy yang mau denganmu. Dan yang terpenting dia mencintaimu lebih baik dari Draco Malfoy." Ginny berusaha membujuk sahabatnya yang masih saja bermain-main dengan supnya agar meninggalkan Draco Malfoy yang berdasarkan cerita yang baru saja didengar oleh Ginny, tidak pantas untuk dipertahankan oleh wanita manapun.
Hermione tersenyum lemah dan mendongakkan wajahnya untuk menjawab kalimat Ginny.
"Laki-laki lain? Seperti?"
"Ron, mungkin." Jawab Ginny asal.
"Ron? Ayolah Gin." Hermione menyandarkan punggungnya pada sofa dan melipat kedua tangan di depan dadanya.
"Apanya yang salah? Kau tahu betul dia mencintaimu." Komentar Ginny, dan Ginny berharap bahwa Hermione bisa menjadi kakak iparnya. Menjadi satu-satunya anak perempuan yang mempunyai 5 kakak laki-laki sangatlah membosankan.
"Kau tahu aku tidak mencintai Ron, itu sebabnya aku menolak cintanya. Aku terlalu nyaman menjadi sahabatnya. Dan itu sudah cukup." Alis Hermione menyatu.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan pada hubunganmu?" Tanya Ginny yang sudah kualahan menghadapi Hermione yang selalu menolak dan mempunyai perwalawan ketika diberi solusi.
"Aku tidak tahu, tidak semudah yang kau pikirkan untuk mengakhiri hubungan dengan orang yang benar-benar kau cintai Ginevra." Jawab Hermione sambil menarik nafas panjangnya lagi. "Aku akan melihat reaksinya padaku saat kami bertemu di kementrian besok. Setelah itu aku baru memutuskan apa yang akan aku lakukan."
-(0)-(0)-(0)-(0)-
Mereka berdua kembali ke toko lewat tengah hari, Hermione membantu George di gudang dengan semua stock dagangannya yang amat menggelikan bagi Hermione. Dan saat senja hari Hermione memenuhi janjinya untuk makan malam di rumah keluarga weasley. Mereka pulang ke the burrow dengan berapparate setelah George mengunci pintu tokonya. Dari halaman rumah keluarga Weasley bau masakan Mrs Weasley sudah tercium dari arah pintu belakang rumah yang miring dan hampir roboh itu. Nafsu makan Hermione tergugah setelah sempat kehilangannya seharian ini.
"Hai Mom." Sapa Ginny ketika memasuki dapur dan langsung menaiki tangga menuju kamarnya.
"Hai Ginny. Bisa tolong ambilkan piring sebelum naik, tambahkan juga piring untuk Hermione dan Harry." Jawab Mrs Weasley dengan meminta bantuan Ginny sambil masih sibuk mencicipi masakannya.
"Mom, aku ingin mandi dulu." Suara ginny menggema di tangga ruangnya yang cukup tinggi.
"Anak itu." Gerutu Mrs Weasley didepan wajan penggorengannya.
"Biar aku saja yang mengambil piring dan membantu menyiapkan makan malamnya Mrs Weasley." Hermione maju ke arah tempat cuci piring dan mengambil piring-piring bersih yang tersusun rapi di rak sebelah kanannya. Mengambil beberapa piring sambil menghitung jumlah keluarga Weasley yang tinggal di the burrow sekarang ditambah 2 piring untuknya dan Harry.
"Hai Hermione." Ron terdengar kaget dengan kedatangan Hermione yang tidak terduga ke rumahnya.
"Ron. Apa kau baru bangun tidur?" Tanya Harry yang juga membantu Hermione menata meja.
"Well, aku juga bangun ketika kau membangunkanku pagi tadi kan Harry." Ron membela dirinya sendiri.
"Dia tidur seperti orang mati, dan bangun hanya ketika lapar." Mrs weasley menggerutu untuk kedua kalinya sambil meletakkan kentang tumbuk dengan melayangkan wadahnya dengan sihir, setelah sebelumnya meletakkan sup jamur dan daging ayam.
"Jika aku tidak bangun karena lapar, itu artinya aku benar-benar mati." Ron menarik kursi dan duduk di depan tumpukan daging ayam goreng.
"Ron Weasley, jika kau menyentuh ayam itu, tidurlah di pekarangan bersama jembalang-jembalang itu." Mrs Weasley meledak ketika putra bungsunya itu dengan mengendap-endap ingin mengambil satu potong besar paha ayam. "Terima kasih Hermione dear." Lanjutnya lagi pada Hermioe.
"Sama-sama Mrs Weasley." Jawab Hermione sambil tersenyum.
"Ron panggil adikmu untuk makan malam." Seru Mrs Weasley lagi pada Ron, dan Ron dengan gusar berdiri dari duduknya dan menaiki anak tangga.
Hermione mencuci kedua tangannya di westafle setelah menata meja, dan mengelapnya dengan kain. Hari sudah semakin malam, bintang-bintang sudah muncul menghiasi malam. Kakinya melangkah ke pekarangan keluarga Weasley ketika Mrs Weasley juga meninggalkan dapur untuk membersihkan dirinya sementara Harry masih sibuk dengan pakaiannya yang terena cipratan sup jamur buatan Mrs Weasley. Hermione berdiri di bawah langit malam, dibawah langit cerah yang penuh bintang, meraskan angin yang walaupun tidak terlalu kencang namun napan menenandang dirinya, ditambah suara rumput pohon yang bergorang tertiup angin.
"Hermione. Apa yang sedang kau lakukan?" Hermione menoleh kembali ke The Burrow dan melihat Harry mengikutinya ke pekarangan. Dia mendekati Hermione dan berdiri sejajar dengannya.
"Mencari udara, di dalam panas sekali." Jawab Hermione kembali memandang ke depan setelah melihat siapa yang memanggil namanya dan Harry mengangkuk.
"Hermione." Dia memanggil namanya lagi.
"Ya."
"Apa kau baik-baik saja?" Harry bertanya pada sahabat wanitanya itu, merasa khawatir dengan dirinya setelah melihat dirinya menangis sesenggukan dalam pelukan Ginny.
"Ya aku baik." Hermione tersenyum pada Harry.
"Jika kau baik-baik saja, kenapa kau menangis?"
Hermione menunduk dan mengamati pucuk sepatunya cukup lama setelah mendengar pertanyaan Harry. Hermione tidak bisa mengatakan masalah yang satu ini pada Harry, merasa bahwa dia bisa mengatasi ini. Lagipula jika dia memberitahu Harry bahwa Draco berselingkuh dengan mantan kekasihnya. Hermione takut terjadi sesuatu pada hubungan Draco dan Harry yang sudah tidak sedikit membaik dari beberapa tahun belakangan ini. Diam adalah satu-satunya jawaban yang dipilih Hermione untuk pertanyaan Harry yang satu ini.
"Harry, bagaimana rasanya ketika kau merindukan orang tuamu?" Pertanyaan ini tidak pernah terlintas di benak Hermione untuk dia tanyakan pada Harry saat ini, namun mulutnya meluncurkan kata-kata itu begitu saja.
"Mmm."
"Aku selalu mendengar cerita tentang orang tuaku dari orang lain, bahkan aku tidak ingat satu kejadianpun yang aku lewati bersama dengan orang tuaku. Tapi kadang aku benar-benar merindukan mereka dan tidak tahu harus berbuat apa. Saat aku, untuk pertama kalinya kepemakaman mereka berdua bersama denganmu. Rasanya, seperti pertama kali aku bertemu dengan mereka setelah semua rindu yang aku kumpulkan selama ini, aku membayangkan wajah mereka yang aku lihat di foto dan di cermin tarsah, membayangkan mereka berdiri di depanku dan tersenyum padaku. Dan sekarang aku menyadari satu hal ketika aku merindukan mereka, mereka tidak benar-benar pergi, mereka masih hidup dan mereka semua hidup di dalam diriku." Hermione mendongakkan kepalanya kembali dan menatap Harry, tanpa dia sadari kata-kata yang diajukannya pada Harry membuat mereka merindukan orang-orang terkasih mereka yang telah tiada.
"Kau merindukan orang tuamu?" Sambung Harry.
"Setiap hari." Jawab Hermione bergetar.
"Selalu ada aku, Ron, Ginny, dan semua yang menyayangimu. Kau tidak akan pernah sendirian. Jangan pernah menangis lagi" Harry mengusap rambut Hermione, menunjukkan rasa sayangnya.
"Baiklah baiklah." Jawab Hermione tersenyum lebar. "Harry, bagaimana dengan Ginny?" Harry sedikit salah tingkat dengan pertanyaan Hermione.
"Jadi kau tahu tentang itu?" Harry menggaruk belakang kepalanya.
"Hey, sudah berapa lama kita bersahabat?'' Balas Hermione sambil melipat tangan di depan dadanya.
''Hahaha. Hermione kau memang benar-benar tahu segalanya.'' Harry memeluk Hermione secara spontan dan mendekapnya didalam dadanya dan Hermione membalas pelukannya. Pelukan untuk sabahatnya yang sudah tidak terhitung berapa kenakalan yang mereka berdua lakukan. Dan berapa peraturan yang sudah mereka langgar bersama. Mereka tertawa bersama sambil berpelukan.
"Terima kasih." Kata Harry.
"Untuk apa?" Balas Hermione singkat. "Karena telah mengerti aku." Jawab Harry.
"Hahaha. Harry." Jawab Hermione melepaskan pelukan Harry. "Sama-sama kalau begitu."
"Harry, Hermione, semuanya sudah siap!"
"Kami akan segera kesana." Balas Hermione berteriak.
Ginny berteriak pada mereka berdua dari pintu belakang untuk bergabung dimeja makan. Dan semua tawa dan pelukan yang dilakukan oleh Harry dan Hermione yang telah dilihat Ginny mengubah persepsinya tentang hal-hal yang diceritakan Hermione padanya. Bahwa Harry menyukainya. Dia tidak cemburu tentu saja, karena Ginny tahu sedekat apa Harry dan Hermione. Ginny tidak tahu perasaan Harry sebenarnya padanya dan dia berpikir bahwa, bagaimana jika orang yang di cintai Harry adalah Hermione bukan dirinya.
-(0)-(0)-(0)-(0)-
(Hermione)
Hari pertama bekerja di kementrian membuatku sedikit sibuk. Aku tidak tahu apa yang harus kukenakan untuk pertama kali bekerja di kementrian. Aku memutar otakku untuk memikirkan pakaian seformal mungkin yang akan mendukung penampilanku di kementrian. Aku percaya akan kesan pertama dan itu akan didukung oleh pakaian yang cocok. Beberapa potong pakaian yang aku coba terlihat kurang formal dan beberapa lagi sudah tidak muat kukenakan.
Kemeja hitam berlengan panjang dan rok pendek selutut berwarna abu-abu yang akhirnya membalut diriku. Tidak lupa aku memakai stoking hitam dan sepatu pantofel hitam yang cukup tinggi. Aku mengikat setengah rambutku dan membiarkan sisanya jatuh menutupi bahuku. Tas yang sudah aku sihir agar dapat memuat seluruh kebutuhanku sudah aku siapkan dari semalam. Tidak ingin aku terlalu tergesa-gesa dan akhirnya buyar jika aku menyiapkannya pagi ini. dAN terbukti, pagi ini pikiranku sudah buyar hanya karena pakaian.
Pukul setengah 7 dan aku harus bertemu Harry, Ron dan Mr Weasley di kereta bawah tanah, kami sepakat untuk bertemu disana jam 7 tepat, dan aku tidak ingin terlambat. Aku menyambar tasku dan menuruni tangga dengan bunyi sepatuku yang terdengar cukup keras. Kami semua sampai di Kementerian Sihir tepat pada waktunya untuk melakukan briefing bagi para staff baru seperti aku, Harry, Ron dan seluruh staff baru dari berbagai departemen yang ada di kementerian. Aku tidak melihat batang hidung Draco selama briefing dan melakukan arahan-arahan yang dijelaskan oleh beberapa staff dari Departemen masing-masing. Mau tidak mau aku peduli dengan keberadaan Draco, walaupun hal itu membuatku merasa bahwa hatiku tidak berjalan sesuai dengan keinginan otakku.
Hingga jam pulang aku tidak menemukannya sama sekali. Aku pulang lebih sore daripada yang lainnya karena harus membantu menyelesaikan kasus di departemenku, padahal aku masih staff baru yang baru saja dilantik. Lorong yang aku lewati terasa begitu sepi sepanjang aku berjalan menuju lift, karena staff yang lain sudah pulang terlebih dahulu kira-kira 30 menit yang lalu. Namun tiba-tiba suara derap langkah laki yang terdengar begitu cepat berjalan membuntuti di belakangku, aku sedikit takut namun aku tetap berjalan dengan santai. Sampai seseorang menarik tanganku dari belakang, dan secara reflek aku menoleh ke belakang.
"Hermione."
"Draco."
TBC
RnR
Please
Mungkin di bagian awal chapter ini banyak menjelaskan tentang mantan pacar Draco. Siapa sebenarnya dia. Supaya readers gak bertanya-tanya aja sih. XD. Trus kenapa dia datang lagi ke kehidupan Draco? Apa ada hubungannya sama Theo? Next chapter. Semoga masih setia nunggu. HHHEEHE. Terima kasih untuk dukungan kalian melalui favorite, follow dan review. Semoga saya tidak mengecewakan kalian.
Balasan Review :
Citra.12 : Makasih hheehe, wah, kamu bisa merasakan perasaan Hermione yang sebel banget lihat Draco ciuman sama mantannya berarti. Ini lanjut lagi kok bikin ceritanya. :-)
Wldrth : duh, kalo yang satu ini author gk bisa (#janganlembarakupakekuali). Gk bsa fast update untuk waktu-waktu ini, kalo penasaran ikutin terus ya ceritanya. Makasih. ^^
DmHgLovers : Draco gak akan melepaskan Hermione kok tenang saja. Hhhehehe. Gak bisa update asap, maaf. makasih ya. Salam kenal dari Vale.
Riska662 : Kuharap tidak mengecewakanmu karena lama updatenya. ^^
Swift : makasih swift disempet-sempetin lanjutin kok demi kamu. XD
Staecia : Iya di maafin, iya Theo licik. Draco gak bodoh cuma gak pernah mikir bahwa Theo sebenarnya punya sisi gelap. wkwk
Andien May : Kenapa? Kenapa kenapa? Jangan lupa ikuti terus ceritanya yh, biar tahu kenapa Theo jahat. Hheehe
Lee Haejiin : Makasih, typo memang agak susah dihindari. ^^
