Title : Menghitung Hujan
Cast
- Do Kyungsoo [Girl]
- Kim Jongin [Boy]
- Kris Wu [Boy]
- Xi Luhan [Girl]
- Oh Sehun [Boy]
Other Cast
- Byun Baekhyun [Girl]
- Kim Joonmyeon [Boy]
Genre
- Romance
- Drama
- Sad
THIS IS KAI X KYUNGSOO FANFICTION
THIS IS GENDERSWITCH
THIS IS REMAKE SANTHY AGATHA'S NOVEL
DLDR
DON'T BE SIDERS
Aku dan kamu...
Memaafkan keraguan,
berdansa dengan kepercayaan.
Mengertikan kemelut hati yang tersesat,
tuk mencari tahu jalan pulang.
Memilih hidup yang hanya satu
Hanya satu, dan selalu begitu
Tak ada ragu
Selalu kembali kepadamu...
Jongin menyuapi Luhan dengan bubur dari rumah sakit, Luhan memang belum boleh menyantap makanan yang keras karena perutnya masih belum bisa mencernanya, tetapi dia sudah bisa makan bubur sehingga tidak tergantung lagi pada infusnya.
Mereka tidak pernah membahas lagi tentang perpisahan.. Jongin menahan dirinya, mencoba bertahan untuk berada di samping Luhan dan merawatnya ketika perempuan itu sakit.
Semua orang benar, Jongin menyimpan hutang budi yang luar biasa kepada Luhan, dia baru menyadarinya sekarang bahwa merawat orang sakit ternyata melelahkan.
Dan Luhan telah melakukan bertahun-tahun untuknya, merawatnya ketika dia lemah tak berdaya.
Mungkin jauh di dasar hatinya Jongin berharap apa yang dilakukannya ini bisa menebus hutang budinya kepada Luhan.
Meskipun ia yakin bahwa itu tidak mungkin. Hutang budinya terlalu besar, dan hanya bisa dibayar kalau dia melanjutkan pertunangannya dengan Luhan menuju jenjang pernikahan.
Tetapi bisakah sebuah pernikahan dijalankan atas dasar hutan budi? Dasar itu terlalu lemah untuk menjadi fondasi mereka.. Luhan bilang kalau dia akan berusaha dan dia pasti bisa membuat Jongin kembali mencintainya. Tetapi Jongin meragu..
Jantungnya tidak berdebar bersama Luhan.
Cintanya sudah pasti bukan lagi untuk Luhan. Kalau Jongin melanjutkan pertunangan ini kembali, itu sama saja dia sudah mati.
Raganya hidup tapi jiwanya mati.
"Jongin?" bisikan Luhan lirih, membangunkan Jongin dari lamunannya. Lelaki itu tergeragap dan mengalihkan matanya ke arah Luhan.
"Apa Lu?"
Luhan mengamatinya dalam-dalam, lalu menatap ke arah mangkuk yang dibawa Jongin, "Buburnya sudah habis."
Jongin menunduk dan mengamati mangkuk di tangannya. Mangkuk itu sudah habis isinya, dia bahkan tidak ingat sudah menyuapi Luhan sampai habis. Ditatapnya Luhan dengan malu, "Mianhae."
Luhan tersenyum lembut, "Tidak apa-apa Jongin."
Jongin kemudian berdiri dan meletakkan mangkuk itu ke nampan piring kotor, setelah itu dia menoleh ke arah Luhan, "Bagaimana keadaanmu?"
Luhan meringis, "Masih sakit."
Hal itu membuat Jongin menghela napas, kondisi Luhan sudah membaik, itu pasti. Rona mukanya sudah cerah, bahkan dokter pun mengatakan bahwa Luhan sudah boleh pulang asal beristirahat di rumah dengan intens.
Tetapi Luhan selalu mengatakan bahwa dia masih sakit dan tidak mau meninggalkan rumah sakit, dia selalu mengeluh perutnya sakit dan kepalanya pusing. Semula Jongin bingung, tetapi kemudian Jongin menyadari, bahwa Luhan selalu mengatakan bahwa dirinya sakit karena ketakutan, dia takut ditinggalkan Jongin lagi kalau ternyata dia sudah sehat.
Apa yang dilakukan Luhan itu membuat Jongin sedih.
Oh ya ampun, kenapa perempuan ini begitu mencintainya? Kenapa dia tidak bisa melepaskan Jongin dengan mudah? Kenapa dia begitu menginginkan Jongin bersamanya?
Pemikiran itu membuat Jongin merasa frustrasi, tetapi dia menahannya. Luhan pernah berakhir dalam kondisi buruk ketika Jongin bersikap tegas dan menolaknya.
Jongin tidak mau Luhan berakhir di rumah sakit lagi atau menanggung resiko fatal kalau dia meninggalkannya lagi kali ini. Kalau dia meninggalkan Luhan, dia ingin perempuan itu sudah melepasnya dengan besar hati, tidak meratapinya lagi.
Jongin duduk di kursi di tepi ranjang dan menatap Luhan lurus-lurus,
"Aku harus kembali kuliah. Aku sudah bolos hampir dua minggu."
Wajah Luhan langsung berubah sedih dan tersiksa, "Kau akan meninggalkanku?" tiba-tiba bening mengalir di pipinya, "Kau akan kembali kepada perempuan itu?"
Jongin menghela napas pahit, "Bagaimanapun juga aku harus kembali ke sana Lu, kuliahku sudah terbengkalai, padahal aku baru memulainya."
"Kau bisa memulai kuliahmu kapanpun." Luhan menatap keras kepala, "Dulu ketika sakit kau menunda kuliah maguistermu dan kau baik-baik saja. Kenapa sekarang kau tidak bisa melakukan hal yang sama?"
"Luhan.." Reno bergumam frustrasi, "Tidak semudah itu, aku tidak bisa berhenti begitu saja, aku harus mengajukan cuti, mengikuti prosedur dan lainnya. Kalau tidak kuliahku selama ini akan hangus sia-sia."
"Biarkan saja." Luhan tersenyum pahit, "Lagipula kau mengambil kuliah itu bukan murni untuk kuliah, itu hanya salah satu alasanmu supaya bisa ke Seoul dan menemui perempuan itu."
"Xi Luhan." suara Jongin agak keras, mengingatkan. Membuat Luhan terdiam dan mengusap air matanya yang meleleh semakin deras.
"Aku tidak bisa lama di sini, aku harus kembali."
"Demi perempuan itu? Kau tega melakukannya kepadaku, Jongin-ah?"
"Ini bukan masalah tega atau tidak.." Jongin mengerang, seperti kesakitan, "Aku harus kembali, Luhan."
Luhan membeku, dengan air mata masih mengalir, ketika dia menatap Jongin kemudian, tatapannya penuh dengan kesakitan dan kepedihan.
"Aku membenci perempuan itu." Akunya dengan getir, "Aku tidak pernah bertemu perempuan itu, tetapi aku sudah membencinya. Dia merenggutmu dari sisiku, hanya karena jantung kekasihnya ada di dadamu. Padahal seharusnya kisah cintanya sudah berakhir, kekasihnya sudah mati. Dia seharusnya tidak punya kisah cinta lagi. Tapi.. perempuan itu ternyata memilih merebut kisah cintaku, merebut kau."
"Kyungsoo tidak pernah merebutku Lu, ingat. Dia bahkan tidak mengetahui tentang transplatasi jantung ini. Aku yang mengejarnya."
Luhan seolah tidak mendengarkan perkataan Jongin, matanya menerawang menatap langit biru di jendela luar, "Seorang perempuan yang berbahagia padahal dia telah merenggut kebahagiaan perempuan lainnya, adalah perempuan paling hina di dunia."
Jongin bagaikan tertampar mendengar perkataan Luhan, perempuan itu seolah menutup diri, mencoba menipu diri bahwa bukan Jongin yang meninggalkannya melainkan Kyungsoo yang merebut Jongin. Luhan seolah membangun tembok kokoh yang dia percaya, menolak untuk menerima bahwa Jongin tidak mencintainya lagi.
Apa yang harus kulakukan?
Jongin berbisik putus asa ke dalam jiwanya. Suaranya bergaung tak tentu arah, tak menemukan jawabannya.
MENGHITUNG HUJAN
"Kalian sudah begitu cocok bersama." Nyonya Kim menatap sedih ketika Jongin membereskan pakaiannya di kamar. "Sebegitu tegakah kau menyakiti Luhan lagi?"
"Aku harus kembali, eomma."
"Andwe." Nyonya Kim bergumam sedih, "Jangan Jongin, eomma mohon. Seandainya kau tahu betapa kalutnya perasaan eomma. Eomma malu dengan orang tua Luhan, mereka telah menerimamu dengan baik waktu itu, tahu bahwa kau sakit, tahu bahwa puterinya menghabiskan waktunya merawatmu meskipun tidak jelas apakah kau akan bertahan hidup atau tidak. Mereka tetap menerimamu dengan lapang dada dan menganggap kau sebagai anak kandung mereka. Begitupun eomma, menganggap Luhan sudah seperti anak eomma sendiri..." Mata ibu nya mulai berkaca-kaca, "Perasaan mereka, eomma tahu persis. Merasakan anak mereka dicampakkan begitu saja karena alasan yang tidak logis... eomma juga merasakan sakit karena sudah menganggap Luhan anak eomma sendiri, dan eomma tambah sakit karena anak kandung eomma lah yang bersikap kejam seperti ini."
"Eomma." Jongin mengernyit, "Jangan berkata seperti itu."
"Apakah hatimu tidak terketuk sedikitpun melihat kondisi Luhan seperti itu? Dia sampai jatuh sakit karena meratapimu." Nyonya Kim mulai terisak, "Jantung itu benar-benar mengubahmu menjadi orang yang berbeda,"
"Semua orang menyalahkan jantung ini." Jongin menggertakkan giginya, "Mungkin kalian semua berharap bahwa lebih baik aku mati saja dengan jantung yang rusak daripada hidup dengan jantung ini lalu mengikuti debarannya sesuai kata hatiku."
"Jongin! bukan begitu maksud eomma."
"Ya! Maksud eomma begitu." Jongin mendesis, mencoba menahan emosinya, "Eomma tidak bisa menerima kondisi ku yang sekarang, eomma menginginkan Jongin yang dulu dengan jantungnya yang rusak. Itu sama saja eomma menginginkan ku lebih baik mati saja daripada mendapatkan jantung ini."
"Bukan begitu, Jongin-ah.." sang ibu berurai air mata, kehabisan kata-kata.
"Jongin sudah merasa bersalah eomma, dan dengan kejamnya eomma membebani ku dengan rasa bersalah lagi, lagi dan lagi.. seolah tak pernah puas. Apa yang eomma inginkan? Apa akh harus mengorbankan hati dan kebahagiaan demi persahabatan eomma, demi moral, demi semua norma sosial dan perihal balas budi?" Jongin menghembuskan napasnya cepat, "Kalau eomma melakukannya, sama saja eomma sudah membunuh ku."
Mata Jongin menyala, "Aku tidak mencintai Luhan, kalau eomma memaksa ku menerima Luhan dan menikah dengannya, sama saja eomma sudah membunuhku dengan tangan eomma sendiri!" Serunya frustasi.
Nyonya Kim tertegun kaget menerima kemarahan anaknya. Dia tidak menyangka Jongin begitu serius seperti ini. Dia berpikir bahwa mungkin Jongin cuma terbawa perasaan setelah operasi sehingga mengejar perempuan bernama Kyungsoo itu. Tetapi sepertinya Jongin sungguh-sungguh dengan perasaannya, walaupun tidak dapat dikelaskan dengan logika, Jongin benar-benar bersungguh-sungguh.
Dia masih membeku ketika Jongin melewatinya sambil membawa tas berisi pakaian yang sudah di packingnya, sambil mengucapkan selamat tinggal dengan kaku.
Sebelum pergi, Jongin menemui Luhan, bertekad untuk memberikan ketegasan kepada perempuan itu. Dia sudah mencoba membalas budi, dia sudah mencoba melembutkan hati ketika merawat Luhan dua minggu lamanya, tetapi perasaannya tidak berubah. Hatinya tetap memanggil-manggil dan merindukan Kyungsoo.
Debaran jantungnya hanya untuk Kyungsoo.. begitupun cintanya yang sekarang bertumbuh makin dalam kepada perempuan itu.
MENGHITUNG HUJAN
Ketika dia memasuki kamar Luhan, perempuan itu sedang duduk dan melamun, kesedihan langsung muncul di matanya ketika Jongin masuk dan membawa tas pakaiannya.
"Kau tetap pergi?" Luhan tampak seperti hampir menangis, tetapi Jongin menguatkan hati.
"Kau setega itu?" Luhan menatapnya tak percaya, tampak rapuh lagi dengan baju rumah sakit dan infus yang ada di tangannya.
Jongin menghela napas panjang, "Kau tahu aku tidak bisa di sini terus."
"Kau bisa... kenapa kau tidak mencoba?" Luhan mulai menangis lagi.
Jongin memalingkan mukanya, "Kau tahu aku sudah mencoba."
"Waktunya terlalu singkat... mungkin kita bisa mencoba lebih lama, mengunjungi tempat-tempat kenangan kita, mencoba menelusuri masa lalu kita yang indah.."
Jongin menggeleng, wajahnya mengeras, berusaha menegarkan hati menghadapi kesedihan Luhan,
"Selamat tinggal.. Xi Luhan."
"Tidak! Jongin! Jongin! Jangan pergi Jongin.. Kim Jongin!"
Luhan berteriak berusaha mencegah Jongin. Tetapi keputusan Jongin sudah bulat, dia membalikkan badannya, meninggalkan kamar itu, menulikan telinganya dari teriakan-teriakan Luhan yang memilukan, memanggil-manggil namanya dengan putus asa.
MENGHITUNG HUJAN
Kuliah siang sudah selesai, Kyungsoo keluar bersama Baekhyun yang mengamatinya hati-hati.
Hujan kembali turun deras di luar, mereka menyusuri lorong kampus sambil menyiapkan payung.
"Beberapa hari ini kau tampak murung Kyung, wae?"
Kyungsoo menghela napas, "Aku sudah cerita tentang telepon aneh yang mengaku sebagai ibu Jongin bukan?" Kyungsoo menatap Baekhyun dan melihat Baekhyun mengangguk, "Dan sampai sekarang Jongin menghilang, tidak bisa dihubungi."
"Kau berpikir bahwa informasi di telepon itu benar? bahwa Jongin pulang untuk menemui tunangannya yang sakit?"
Jantung Kyungsoo terasa diremas, menyakitkan. "Aku.. entahlah... mungkin informasi itu memang benar. Buktinya kebetulan sekali setelah telepon itu dia menghilang."
Baekhyun mengamati Kyungsoo dengan seksama, "Apakah kau pada akhirnya mencintai Jongin, Kyung?"
Kyungsoo merenung lama, lalu menghela napas panjang, "Kurasa.. aku memang mencintainya." gumamnya pelan.
"Dan kau tidak menganggapnya sebagai pengganti Kris? kau tahu dulu kau pernah bercerita bahwa kau merasakan Jongin mirip seperti Kris, meskipun bukan secara fisik..."
"Bukan." Kyungsoo menggeleng, "Kris selalu punya tempat di dalam hatiku.. jauh tersimpan di dalam sini." Kyungsoo menyentuh jantungnya lembut. "Tetapi Jongin berbeda, dia tidak berusaha mengusir Kris dan menggantikan tempatnya, Jongin datang dan berusaha menemukan tempatnya sendiri di hatiku.. dan ketika aku menyadarinya, dia sudah ada di dalam sana."
Baekhyun menghela napas panjang. "Kalau begitu Kyung, begitu kau bisa menemui Jongin, kau harus memastikan tentang informasi itu. Apakah Jongin memang sudah bertunangan atau belum.. apakah memang ibunya yang meneleponmu waktu itu.." Baekhyun menatap Kyungsoo hati-hati, "Kau tidak mau melangkah di awal yang salah kan?"
Kyungsoo mengangguk. "Aku akan menanyakannya kepada Jongin."
Itu kalau dia bisa menemui Jongin.. sekarang dia bahkan tidak tahu di mana Jongin berada...
Kyungsoo sampai di dekat gerbang kampus dan mengembangkan payungnya. Baekhyun berjalan di sebelahnya dan menawarkan, "Kau yakin tidak mau ikut aku pulang naik mobil ku?"
Kyungsoo menggeleng, "Tidak.. aku mau ke cafe itu."
Dan terus berharap Jongin akan datang, seperti ketika dia menunggu dan menunggu di hari-hari sebelumnya sampai cafe, pulang dengan kecewa karena Jongin tidak muncul.
Ketika Kyungsoo melangkah keluar dari gerbang kampusnya, hujan deras menerpanya, angin kencang langsung menghembusnya sehingga dia harus memegang payungnya erat-erat. Dia baru berjalan selangkah menembus hujan dan terpana.
Jongin ada di sana, memarkir mobil orange cerahnya di depan kampus dan berdiri di dekat mobilnya. Lelaki itu berteduh di bawah pohon besar yang membuatnya sedikit terlindungi, meskipun percikan air yang kencang masih membasahi rambut dan pakaiannya. Senyumnya langsung mengembang ketika melihat Kyungsoo.
Baekhyun yang berada di samping Kyungsoo langsung tersenyum penuh arti, "Well sepertinya itu tandanya aku harus pergi. Ingat kata-kataku Kyung, tanyakan dulu kepadanya sebelum kau memutuskan melangkah maju."
Kyungsoo menganggukkan kepalanya, melambai ke arah Baekhyun yang bergegas pergi ke arah parkiran mobil di luar gerbang kampus.
Kemudian Kyungsoo menatap Jongin lagi. Senyum Jongin mengembang lebar dan lelaki itu membuka kedua tangannya.
Di dorong oleh perasaannya, Kyungsoo menghambur ke dalam pelukan Jongin yang langsung menangkapnya. Payungnya jatuh mengembang berguling di tanah, tetapi dia tidak peduli.
Jongin memeluknya kuat-kuat setengah mengangkatnya, menenggelamkan tubuh Kyungsoo dekat kepadanya, menghirup aroma wangi yang sangat dirindukannya, meresapi kenikmatan ketika jantungnya berdebar penuh cinta karena bisa memeluk perempuan yang dikasihinya.
Lama mereka berpelukan di bawah hujan, dan hampir basah kuyup namun mereka tidak peduli,
Jongin tersenyum, senang dengan sikap impulsif Kyungsoo yang menghambur ke pelukannya, Kyungsoo selalu menahan diri di dekatnya, inilah saat ketika dia tampak lepas di depan Jongin. Mungkin perpisahan selama dua minggu itu ada manfaatnya juga.
"Sepertinya kau sangat merindukanku." Jongin tersenyum menggoda, menatap Kyungsoo dengan sayang.
Pipi Kyungsoo merona, tetapi dia tidak mundur, "Aku sangat merindukanmu, Jongin-ah.." Perasaannya meluap-luap, penantiannya selama dua minggu ini tanpa kepastian membuatnya menyadari berapa dia membutuhkan Jongin ada di samping nya. Dan sekarang dia ada di dalam pelukan Jongin, semuanya jadi terlupakan.
Segala kesakitannya, keraguannya, kebingungannya, semuanya musnah. Yang ada di benaknya kini hanya Jongin.. Jongin.. dan Kim Jongin...
Jongin mengusap air yang membasahi rambut Kyungsoo ke mukanya,"Kita basah kuyup, sebaiknya kita segera masuk ke mobil sebelum masuk angin." Lelaki itu tertawa, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
MENGHITUNG HUJAN
Luhan merapikan pakaiannya. Dia sudah boleh pulang dari rumah sakit hari ini dan bergegas merapikan baju-bajunya.
"Kau yakin nak?" Nyonya Xi duduk di pinggiran ranjang, menatapnya dengan hati-hati.
"Yakin eomma."
"Tetapi kau belum sembuh benar, dan eomma mencemaskanmu di sana."
Luhan tersenyum lembut, "Eomma, aku kan tinggal di rumah halmonie di sana, halmonie pasti akan mengurusku. Eomma jangan cemas ya, aku bisa menjaga diri.."
Sang ibu terdiam, masih menatap anaknya dengan kecemasan yang tidak bisa disembunyikannya, tetapi tidak punya daya upaya untuk mencegah niat bulat Luhan.
Sementara itu Luhan sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia akan menyusul ke Seoul, dia akan berkenalan dengan Kyungsoo, tentu saja tanpa sepengetahuan Jongin, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya dilihat Jongin dari Kyungsoo yang tidak dia miliki.
Do Kyungsoo..
Luhan merapal nama itu dalam hati. Well, Kyungsoo harus tahu, kalau Luhan tidak akan menyerahkan Jongin semudah itu. Dia akan memperjuangkan cintanya sekuat tenaga.
TBC
Hai~~
Udh berapa lama aku ga update ff ini?
Masih ada yg ingett? Aku harap masih wkwkwk..
Aku minta maaf ya baru update sekarang, ff ini pasti aku lanjut sampai beres kok jd tenang ajaaa..
Mksh buat yg review fav dan follow di chapter kmrn yaa
Annyeong!
