Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Sabaku No Naruto © Back-Total yaoi addict

Rate : M

Genre: Romance, Hurt/Comfort.

Pairing : Gaara x Naruto.

Spoiler Warning : Semi-Canon, Yaoi, MaleXMale, BL, Lemon, M-PREG. Don't like Don't read!

.

.

Thanks ripyu nya di chap lalu: Namikaze Naru, hanazawa kay, Dewi15, Guest, justin cruellin, sivanya anggarada, AprilianyArdeta, Aristy, shizuka kirarin, Guest, Nayuya, yuma, aikhazuna117, Natsuki, Jessica, The Greatest Archer, sakuranatsu90, dianarositadewi4, choikim1310, kagurra amaya, askasufa, Sayuri, khakha, onyx sky, Dark, Guest, Indahchan.

.

.

Enjoy!

.

.

SABAKU NO NARUTO

.

.

Chapter 6!

"Ya, sudah selesai," ujar Hokage ke-4 setelah memeriksa kandungan Naruto. "Umur janin 2 bulan dalam keadaan baik, keadaan ibu- maksudku yang mengandung baik," ralat Tsunade ketika melihat kerutan didahi Naruto. "Konsumsilah makanan yang bergizi dan ingat pesanku sejak dulu kalau kau tidak boleh menggunakan cakra sedikitpun, Naruto?"

"Iya aku ingat Baa-chan," Naruto menjawab. "Ne, Baa-chan. Apa aku boleh makan ramen?"

Alih-alih Tsunade yang menjawab malah pemuda berambut merah, "Ramen tidak sehat, terlalu berminyak."

Naruto mendengus kepada suaminya, "Aku tidak tanya padamu. Ne, Baa-chan?"

Tsunade memotong Gaara yang hendak menjawab lagi. Malas rasanya mendengar pertengkaran kedua pemuda dihadapanya berlanjut, "Tergantung cara mengolah dan penyajiannya."

Mata pemuda berambut pirang berbinar seyumnya merekah dengan lebarnya, "Berarti aku boleh makan ramen?!"

Tsunade mengangguk. "Boleh saja, kecuali ramen instan. Kurangi penggunaan minyak dan lemak, kurangi rasa pedas, perbanyak sayuran, daging dan ikan."

"Nah, Gaara kau dengar itu? Jangan pernah larang aku makan ramen lagi!" Naruto menjulurkan lidahnya kearah pemuda berambut merah. Sementara pemuda berambut merah hanya mendengus.

"Sudah-sudah, ada satu lagi hal penting yang harus kukatakan," ucap Tsunade melerai kedua bocah dihadapannya. Berikutnya Tsunade menghadap kearah Gaara yang berdiri disamping ranjang tempat Naruto berbaring, "Aku sarankan kalian mengurangi intensitas berhubungan seksual," Tsunade memandang tajam pemuda tersebut.

Gaara mengambil jeda sesaat sebelum berkata, "4 kali seminggu?"

Tsunade geleng kepala.

"Kalau begitu 3 kali seminggu"

Kening wanita berdada besar itu berkedut, merasa malu plus kesal kenapa ia harus membicarakan hal ini. "Terserah kau lah, yang pasti kurangi sampai trisemester pertama selesai."

Mata pemuda berambut merah menyipit. Sementara Naruto hanya mampu menyembunyikan wajahnya dibalik bantal, menurutnya ini sangat memalukan.

"Dan lakukan dengan lembut," tambah Tsunade jahil, perkataanya sendiri membuatnya ingin tertawa.

"Cukup Gaara~ Kau tidak malu membicarakan itu? Kau juga Ba-chan!" teriak Naruto wajahnya semerah tomat.

"Apa ada hal lainnya yang harus kuperhatikan?" kata Gaara sekaligus membantu Naruto untuk turun dari ranjang.

Tsunade terdiam. Ada hal lain yang harus dibicarakan mengenai persalinan Naruto, tapi untuk saat ini lebih baik nanti ia bicarakan berdua saja degan Gaara. "Yah.. Tidak begitu penting, kita bisa bicarakan nanti. Begitu ada keluhan kalian harus segera menghadap padaku atau Shizune," jawabnya kepada pemuda yang menjabat sebagai Kazekage ke-5.

"Kenapa tidak dijelaskan sekarang saja, Baa-chan?" tanya Naruto bingung.

"Karena sekarang aku sibuk, tidak seperti seseorang yang akan menjadi gendut karena kerjanya hanya tidur dan makan," ujar Tsunade dengan seringai jahilnya.

Alis Naruto berkedut, dia mulai tersinggung. "FURUI O BAA-CHAN!" teriak Naruto dengan kesal, sebelum membanting pintu kuat-kuat saat keluar dari ruang pemeriksaan.

Wanita tua berdada besar itu terbahak, merasa menang kali ini bisa membuat bocah kuning kesal.

Gaara hanya memandang dengan diam pemuda kuning yang keluar dengan kesal kemudian ia menatap Tsunade. "Apa hal itu tentang persalinan Naruto?" tanyanya mengenai maksud Tsunade beberapa saat lalu.

Tsunade berdeham sekali, wajahnya kembali serius. "Iya, hal itu harus dibicarakan lebih dalam. Kita tidak tau berita mengenai kehamilan Naruto sudah tersebar sampai sejauh mana, yang pasti jangan sampai kejadian dimasa lampau terulang kembali, Gaara."


Tubuh tak berpeluh berdiri kokoh diatas kumpulan awan pasir, tanganya membentuk segel untuk menciptakan duplikat dirinya sendiri. Hentakan sepasang tangan yang seirama menggerakan pasir bak tarian memukau. Satu pihak menggerakan tangan kanan, maka yang lainnya menggerakan tangan kiri. Benturan pasir dengan pasir menciptakan suara berdebam keras. Sabaku Kyu dan Sabaku Kyu saling beradu, sama-sama kuat. Terus begitu hingga Jutsu dilawan dengan Jutsu yang sama.

'Khu khu khu.. Melawan bunshin diri sendiri bukan lawan yang efektif. Kau kuat Gaara, tapi bunshin mu juga kuat. Pelajari jurus bocah rubah, aku tau kalian sama-sama mempunyai elemen angin'

"Gaa! Masih lamaaa?!" dari bawah Naruto berteriak. "Aku bosan hanya melihatmu berlatih!" keluhnya kesal.

Pupil hijau Gaara menyipit. Dia melompat dari pasir berbentuk awan dan mendarat dengan aman tepat dihadapan pemuda berambut kuning. Kemudian Gaara memanggil kembali pasir-pasirnya kedalam gentong dipunggung. "Sini, bantu aku berlatih," ajaknya pada pemuda berambut kuning.

Dengan mata berbinar Naruto menjawab dengan semangat, "Nah, biarkan kejeniusanku yang mengajarimu tebayoo!"

Gaara menyeringai, "Baiklah jenius perhatikan aku sebentar."

Gaara mengangkat tangan kanannya, dengan konsentrasi penuh mengarahkan aliran cakra kesana, memusatkan cakra dan memberikan kekuatan yang cukup sebelum cakra tersebut membentuk bola yang terkompresi.

Naruto terpukau dengan apa yang dilihatnya, "Rasengan."

Gaara mengangguk, "Lalu dari sini digabungkan dengan elemen angin."

Tanpa menghilangkan rasengan ditangan kanan Gaara dengan sigap melompat 5 langkah besar kebelakang. Fokusnya kembali dia arahkan ketangan kanan, menggabungkan elemen angin kedalam rasengan. Sontak bunyi bedenging memekakkan telinga. Bola berkompresi tinggi di tangan Gaara berputar semakin liar, membuat tangannya kian bergetar menjadi-jadi. Dengan mendorong cakra dalam jumlah besar, bola angin tersebut sedikit demi sedikit bertambah besar. "Fuuton Rasengan," Gaara mengangkat bola angin yang telah berevolusi ditanganya tinggi2, ujung bibirnya terangkat sedikit.

Naruto bergeming, ada rasa kesal juga kagum didadanya melihat Gaara meniru teknik tertinggi miliknya. Dimasa depan nanti apa lagi yang akan dilakukan Gaara untuk membuatnya terkejut. Iris biru Naruto membara, tidak sabar menunggu saat-saat dimana ia bisa berlatih bersama pemuda hebat dihadapannya. Dengan kesal Naruto meneriaki Gaara, "Kuso, kau mencuri jurusku!"

Gaara terkekeh pelan, "Bertahun-tahun bersamamu bukan hanya untuk bersenang-senang, Naru. Shinobi yang hebat harus melihat, memahami, dan mepelajari jurus lawan maupun kawan."

Gaara menghentikan aliran cakra ditanganya, seketika Fuuton Rasengan terpecah bagai sapuan angin. "Rasengan masuk kategori jutsu tingkat A sampai S, sudah pasti sulit untuk mempelajarinya. Aku rasa bila dikembangkan lebih lanjut jutsu ini masuk kategori jutsu terlarang. Tingkatan setiap jutsu dibuat bukan hanya dinilai berdasarkan kekuatan penghancur yang akan dihasilkan, tapi juga dampak yang diberikan kepada si pengguna jutsu". Tangan kananya terluka dan sulit digerakan, seakan pernah dihujam ribuan jarum. "Ampuh tapi berbahaya, hanya bisa digunakan beberapa kali," katanya lagi.

"Menurut Baa-chan, dampaknya padaku berkurang karena cakra regenerasi milik kyuubi," ujar Naruto.

"Aku pikir juga begitu, kurang dari semenit saja tanganku sudah seperti ini. Cakra regenerasi Ichibi tidak sebesar Kurama. Kau harus menggunakan jutsu ini secara bijak, Naru."

Melihat kekawatiran Gaara, Naruto menyengir lebar, "Tentu saja rasengan digunakan disaat-saat tertentu, misalnya untuk melawanmu."

"Aku tidak sabar menunggu waktu itu tiba," Gaara menjawab tantangan verbal dari Naruto.

Krucuuukk~

Wajah Naruto merona.

Seulas senyum mendarat di bibir Gaara, "Ramen?"


Pemilik kedai ramen itu tertawa, "Tenang saja Kazekage khusus untuk Naruto kuberikan ekstra sayuran."

Alis pemuda berambut kuning berkedut, "Paman Teuchi, kau sengaja ya. Kenapa bukan dagingnya yang ditambah?"

Teuchi menggerakan jari telunjuknya ke kiri dan kekanan, "Naruto, kau mau perutmu bertambah besar memangnya?"

"Pamaaaaan!"

Gaara menggelengkan kepala mendengar pemuda disampingnya beteriak kesal pada pemilik kedai. Di Konoha sendiri hanya orang terdekat Naruto yang mengetahui perihal kehamilanya, salah satunya pemilik kedai ramen, Teuchi. Menurutnya semakin sedikit yang tau semakin baik.

"Silakan dimakan!"

Dua buah ramen jumbo diletakkan dihadapan mereka berdua. Salah satu mangkuk berisi tumpukkan sayur jauh lebih banyak.

"Ittadakimasuuu!"

Naruto dengan semangat menyeruput mie diantara sumpitnya, sampai-sampai terlihat tidak perlu dikunyah. Memang kecepatan Naruto memakan Ramen tidak ada yang menandingi.

Gaara menahan tangan Naruto yang hendak mengarah kemulut, "Pelan-pelan."

Naruto memajukan bibirnya, "Lepas."

Ketika Gaara melepaskan tangannya, Naruto kembali memakan ramen nya agak pelan sedikit.

Selesai menghabiskan ramennya, untuk Naruto tentu ramen ke-4, mereka berpamitan dengan pemilik kedai.

Gaara menggandeng tangan Naruto, "Naru, kita ke tempat Kakashi dulu. Aku ada perlu denganya."

"Ada perlu apa?"

"Ini urusan Kage."

"Huh," Naruto mencibir.


"Kakashi~ Ini masih sore," Iruka meronta-ronta didalam pelukan pria berambut perak.

"Jangan salahkan aku, pesonamu yang tidak memandang waktu."

Kakashi mendorong Iruka ke atas kasur yang setahun ini menjadi saksi bisu mereka berdua.

"Kakashi!"

"Yare-yare belum apa-apa kau sudah memanggil namaku terus-menerus."

Dengan cekatan Kakashi membalik tubuh Iruka hingga tengkurap dan menindihnya. Ia menyelipkan tanganya diantara celana iruka dan membuka kancingnya.

Mata Iruka membulat ketika merasakan celana yang ia pakai terlepas.

"Kau menggodaku?"

Berkat pertanyaan Kakashi, Iruka memerah seperti kepiting rebus.

"Nee, Iruka-Sensei sangat nakal," Kakashi menggigit pelan telinga Iruka, membuat lelaki itu mengerang. "Kau tau aku menyukaimu memakai celana dalam daripada boxer. Ah!" Kakashi mengerang ketika mendorong pinggulnya yang terbungkus celana lengkap ke daging bokong pemuda dibawahnya.

Iruka menggigit bibir bawahnya untuk menahan erangan, "K-Kau yang membuang semua boxer ku."

Kakashi menjauh dari tubuh Iruka. Dalam posisi duduk ia menarik pria yang lebih muda beberapa tahun darinya itu kedalam pelukan. Kedua kakinya memerangkap tubuh Iruka.

Iruka menegadah, memandang pria yang dengan kuat memeluk punggungnya. "Ka-Kash–mmh!"

Kakashi mencium bibir Iruka, menahan kepalanya dengan sebelah tangan yang lain. Ia kulum bibir itu kuat, menyisakan erangan dari bibir Iruka.

Iruka merasakan nyeri di bibirnya, bisa-bisa membiru sampai besok.

Kakashi melepaskan bibir Iruka untuk beralih pada lehernya, menempelkan hidungnya kesana dan menghirupnya. Bagi Kakashi wangi tubuh Iruka sangat seksi.

Iruka mendesah saat lidah Kakashi menyapu dari pangkal leher hingga ke dagunya. Ia tidak percaya dirinya bisa selemah ini ditangan Kakashi.

"Nnhh~"

Iruka kembali mendesah saat Kakashi menghisap kulit lehernya.

"Iruka.. Iruka.."

Suara Kakashi parau penuh gairah. Tubuh pria dipelukanya, suranya membuat celananya kian menyempit. Tangan nya bergerak membuka rompi hijau Iruka, meninggalkan kaus hitam berlengan panjang yang menempel bagaikan kulit keduanya. Matanya menjelajah dengan liar mulai dari wajah Iruka hingga bagian bawah tubuhnya yang terbuka.

Kaki jenjang itu membuat Kakashi menjilat bibirnya sendiri.

"Indah.."

Kakashi kembali menarik Iruka dalam pelukannya. Wajah merona dengan mata sayup-sayup itu balas menatapnya.

Sudah tidak kuat, batin Kakashi. Ia mendorong Iruka dan menindihnya, membuka kedua pahanya lebar kemudian…

"Iruka-Sensei!"


Ratusan kilometer dari Desa Konoha, empat remaja terlihat sedang beristirahat didalam hutan yang lebat.

"Fshh, lalu apa rencana kita setelah ini Sasuke?" tanya pemuda berambut putih.

"Sementara kita tinggal didesa yang paling dekat dari sini. Sisanya akan kujelaskan disana, Suigetsu." jawabnya memejamkan mata dan bersandar dibatang pohon.

"Bagaimana dengan madara? Aku tau dia akan menghukum kita karena bergerak sebelum ada perintah," ungkap Suigetsu.

"Nee, kau takut Shui?" sergah perempuan berkacamata berambut merah.

Suiegetsu mendelik kearah perempuan yang meremehkanya, "Aku tidak takut, Karin."

Sudut bibir Karin terangkat, menampakkan seringai menyebalkan. "Orang lemah sepertimu tidak pantas masuk Tim Taka apalagi berada disamping Sasuke."

Suigetsu menghampiri Karin yang kini ikut berdiri, mereka saling memandang dengan garang.

"Apa maksudmu? Semakin kudiamkan mulutmu semakin kurang ajar!"

"Kenapa? Kau memang lemah. Kalau bukan karena Sasuke yang membantumu kau sudah jadi santapan mahluk percobaan Orochimaru yang gagal!"

"Diam kau perempuan jalang!" bentak Suigetsu, deretan gigi tajamnya bergemeretak keras. Tangan kirinya sudah terangkat untuk menampar perempuan dihadapanya –tapi dihentikan orang lain. Suigetsu memandang pemuda berambut coklat oranye bertubuh besar dihadapanya. Ia tidak senang tindakanya yang ingin memberi pelajaran kepada Karin dihalangi. "Minggir Juugo," desisnya.

Pemuda bernama Juugo menggelengkan kepala sekali. Ia tau pertengkaran Suigetsu dan Karin yang sudah beberapa kali terjadi ini akan berakhir kemana.

"Aku bilang minggir!" Suigetsu membentak keras. Kini bukan lagi ingin menampar Karin, malahan rasa ingin membunuh gadis itu yang ada di pikiranya.

Tubuh Suigetsu memanas dan mulai terasa sakit ketika segel joutai mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Saat itu juga Juugo mengarahkan tinjunya kewajah Suigetsu dengan keras, membuat tubuh pemuda yang jauh lebih kecil darinya menghantam pohon. "Misi tim Taka adalah merebut Bijuu dan membunuh tetua Konoha, bukan membunuh rekan sesama tim."

Karin merasa menang. "Kau lihat? Kau itu lemah Sui."

Suigetsu berusaha kembali berdiri, rasa sakit dirahangnya sangat luar biasa, "Pe-pela.. Cur."

"Apa kau bilang! Kau berani padaku dasar mahluk rendahan, kau hanya manusia percobaan pemuas nafsu! Kau yang pelacur! Tubuh dan wajahmu itu menjijikan, kau lebih baik mat–"

"KARIN!"

Sasuke habis kesabaran, matanya mengaktifkan Mangekyo. "Diam, sebelum kuhancurkan mulutmu!" deliknya pada perempuan berambut merah.

Pandangan marah Sasuke membuat Karin diam seketika, terlihat ketakutan diwajah perempuan itu. Walau bagi Sasuke, Karin masih beruntung karena seandainya ia tidak turun tangan maka gadis itu benar-benar bisa mati ditangan Juugo.

"Juugo, bawa Suigetsu," perintah Sasuke pada pemuda yang tubunya sudah dipenuhi pelepasan pertama segel joutai.

Sasuke kembali memandang Karin dengan intens, "Jaga hinaanmu pada Suigetsu didepan Juugo. Tanpa ku' kau bisa mati ditangannya. "

.

.

~TO BE CONTINUE~

.

.

(A/N: Dikit banget ya? Hahaha.. Ngerjain banget *Ditakol reader*.. Maap nanti diusahaain update cepet, tapi ga janji :()

.

Terakhir

Minta Review