Perkenalan Singkat Sakamaki
Ia bisa melihat dengan jelas raut ketakutan yang tergambar diwajahnya yang pucat pasi. Dadanya naik turun tak karuan, seolah gadis yang ia lihat diatas atap beberapa waktu lalu baru saja berlari puluhan kilometer. Meski tak kelihatan, tubuhnya gemetar dengan hebat. Seperti ada yang memukulnya, ia langsung memegangi kepalanya seolah kepalanya terluka. Reiji yang tadinya hendak mendekati gadis itu menghela napas panjang dan memutuskan untuk berdiri ditempat, menaikkan bingkai kacamatanya yang tak bergeser satu mili pun.
"Normalnya, kami akan melakukan sesuatu untuk menutup mulutmu yang sudah melihat tindakan memalukan dari Ayato," ucap Reiji dingin. "Tapi, nampaknya... kau mengenal kami."
Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan kuat. Tangan kanannya meremas dadanya dengan kuat, seolah menenangkan dirinya sendiri. Yui yang kehilangan kesadaran sejenak akibat darahnya dihisap oleh Ayato terbangun, menampilkan bola matanya yang berwarna merah muda. Awalnya gadis itu terlihat bingung karena mereka berenam berada disatu ruangan yang sama dengannya. Ia segera mengelilingi matanya dan sangat terkejut ketika melihat gadis itu. Yui segera mendekati gadis itu yang masih tak bergeming ditempatnya.
"Kuruna!" seru gadis itu kencang. Mata birunya yang sejak tadi memancarkan ketakutan berubah tajam, seolah Yui adalah mangsanya. "Jangan coba – coba kau mendekatiku, Cordelia!"
Semua orang yang ada didalam ruang kesehatan, termasuk Yui, terkejut kala nama itu keluar dari mulut gadis itu. Ketika Raito ingin bertanya pada gadis itu, ia membuka jendela yang ada dibelakangnya dan melompat dari sana. Yui yang terkejut langsung berlari menuju jendela. Namun sosok yang dicari hilang dalam sekejap, seperti ditelan oleh bumi.
"Kenapa... orang itu..." gumam Kanato.
"Nee, Subaru-kun. Gadis tadi adalah gadis yang kau temui diatap kemarin itu, kan?" tanya Raito memastikan.
"Darimana kau tahu hentai?" ia berbalik tanya, merasa curiga.
Raito tersenyum. "Tentu saja dari aroma gadis tadi," jawabnya. "Hng... tapi, entah kenapa aku seperti pernah melihat wajahnya disuatu tempat."
"Mungkin gadis tadi salah satu teman mainmu," ujar Shuu asal.
"Hm... tidak mungkin. Aku pasti ingat wajah semua teman wanitaku," tukas Raito.
"Aitsu... kalau tidak salah manusia yang baru saja tinggal bersama dengan si Mukami itu, kan?" tanya Ayato. "Mungkin saja..."
"Itu tidak mungkin," bantah Reiji. "Meski tak ingin mengakuinya, mereka pasti tak akan memberitahukan hal – hal yang tak penting. Apalagi pada manusia macam gadis itu."
"Nee Yui-san, apa kau mengenai gadis tadi?" tanya Kanato pada Yui yang masih terlihat bingung.
"Eh? Ah un, sou da yo," jawab Yui. "Namanya adalah Akatsuki Yuki. Aku mengenalnya karena dia pernah berada dipanti asuhan milik ayah."
"Akatsuki... Yuki..." gumamnya. "Namanya terdengar tak asing."
xxx
Yuki berusaha sekuat mungkin untuk menenangkan napasnya yang benar – benar tak beraturan. Dibandingkan dengan rasa takut yang ia rasakan diruang kesehatan tadi, ia lebih terkejut akan dirinya sendiri yang melompat tanpa pikir panjang dari sana. Beruntunglah ia bisa mendarat dengan sempurna dan segera berlari kesamping gedung, melarikan diri jika saja keenam cowok itu mengejarnya. Kekehan pelan keluar dari mulutnya. Harusnya ia merasa senang karena melakukan hal keren yang biasa ia lihat dalam film – film. Melompat turun dari lantai dua tanpa terluka sedikit pun. Namun, air mata yang keluar dari matanya tak bisa dihentikan. Dengan perlahan dan tak mau mengakuinya, suara isak tangis terlepas dari mulutnya. Pelukan dirinya semakin kuat tatkala mengingat kilasan yang tak pernah ia alami itu.
Bayang – bayang kematian keempat orang itu.
Sosok wanita yang mengincar dirinya.
Juga... sosok pemuda berambut putih panjang dengan pakaian anehnya yang tak pernah ia lihat dalam hidupnya.
Ia tersentak kaget ketika seseorang muncul dari balik pohon. Ada kelegaan tersendiri yang menyelimutinya dan tanpa sadar ia langsung berlari kearah orang itu, memeluknya hingga mereka berdua terjatuh keatas tanah.
"Oi onna! Hanase!" seru orang itu yang dibalas dengan gelengan kuat darinya. Ia justru mengeratkan pelukannya.
"Kumohon... biarkan aku seperti ini..." ucapnya disela isak tangisnya. "Yuuma-san... kumohon..."
Entah karena Yuuma mendengar isak tangisnya atau merasakan tubuhnya yang gemetar dengan hebatnya, cowok tinggi itu membiarkan gadis menyebalkan itu memeluknya. Bahkan sesekali ia mengelus lembut puncak rambut hitam pendeknya, berusaha menenangkannya. Bukannya tenang, tangisannya semakin kencang meski ia sudah mengubur wajahnya didalam dada Yuuma. Ia tak tahu mengapa dirinya menangis begitu melihat Mukami Yuuma. Rasa lega yang membuncah membuatnya tak bisa menghentikan air matanya. Ia lega melihat Yuuma berada didepannya.
Ia lega Mukami Yuuma masih hidup.
Setelah beberapa waktu berlalu dihabiskannya untuk menangis, akhirnya ia melepaskan pelukannya dari Yuuma. Ukh, ia merasa sangat malu karena menangis didepan cowok berwajah garang itu. Bisa dipastikan cowok itu akan marah karena telah membuat seragamnya basah oleh air matanya. Dengan telapak tangannya, ia menghapus bekas air mata yang masih tertinggal disudut matanya.
"Sumimasen, Yuuma-san," sesal Yuki dengan wajah tertunduk. Saat ini, ia tak bisa menatap Yuuma karena malu... juga takut. "Maaf merepotkanmu karena keegoisanku."
Ia mendengar helaan napas panjang yang keluar dari mulut Yuuma. "Benar – benar deh. Lihat apa yang kau perbuat. Seragamku jadi basah begini," ucapnya kesal. "Kau harus bertanggung jawab."
"Hai. Apa pun akan kulakukan," ucap Yuki.
Yuuma sempat terdiam mendengar ucapan Yuki barusan. Kemudian, ia mendengus kesal. Ia merogoh sesuatu dari dalam saku sweaternya dan membuka botol yang berisikan sesuatu. "Oi onna, angkat mukamu sebentar," perintahnya.
Sebenarnya ia tak ingin mengangkat wajahnya karena pasti wajahnya sangat jelek setelah menangis. Tapi, mendengar nada perintah Yuuma barusan, mau tak mau ia mengangkat wajahnya dan menatap wajah cowok tinggi itu. Ia yakin cowok itu akan menertawakan wajahnya saat ini. Yang terjadi justru hal yang tak akan pernah dan tak mungkin bisa ia bayangkan. Telapak tangan besar cowok itu segera menutupi jarak pandangnya dan itu membuatnya sedikit takut.
"A-ano... Yuuma-san?"
"Diamlah," tukas Yuuma. "Buka mulutmu dan jangan banyak tanya."
Yuki membuka mulutnya, seperti yang diperintahkan oleh Yuuma. Baru saja ia ingin memuntahkan apa yang dimasukkan kedalam mulutnya, suara Yuuma menghentikan niatnya. "Kau buang, kuhajar kau," ancamnya.
Seperti itulah hingga dengan terpaksa Yuki merasakan benda apa yang ada didalam mulutmu. Aneh, benda itu rasanya manis seperti gula. Rasanya ia mulai mengenali dan tepat dengan pemikirannya, gula batu berada didalam mulutnya. Ia bisa merasakan jari Yuuma yang mendorong satu gula batu lagi kebibirnya hingga ia membuka mulutnya kembali.
"Habiskan gula batunya," Yuuma memberikan perintah lagi tanpa melepaskan tangannya yang menutupi kedua mata Yuki.
"Kenapa Yuuma-san memberikan gula batumu padaku?" tanya Yuki sedikit penasaran. Tak heran ia merasa begitu mengingat cowok tinggi satu ini sangat menyayangi gula batu yang selalu dibawa kemana – mana.
"Kau tak perlu tahu hal itu," jawab Yuuma dingin.
xxx
Senyum terukir lebar diwajah kecil milik Yuki dengan kedua pipinya yang sedikit berwarna merah muda. "Tapi, tetap saja terima kasih, Yuuma-san," ucapnya. "Pastinya menyenangkan ya memiliki kakak seperti Yuuma-san."
Yuuma mendengus. "Aku tak sudi punya adik merepotkan sepertimu."
Yuki tertawa pelan. Ia kemudian merenggangkan kedua tangannya dan bersandar pada dinding gedung sekolah yang ada dibelakangnya. Rambut hitam pendeknya bergoyang pelan mengikuti arah angin yang berhembus dengan lembut. Keduanya terdiam, menikmati suasana yang mendadak berubah menjadi tenang. Begitu juga dengan Yuuma yang duduk terdiam sembali mengunyah pelan gula batunya. Ia melirik kearah gadis yang memutuskan untuk diam sejak tadi, tak sepertinya biasanya yang banyak bicara. Matanya tertutup dan napasnya terdengar teratur ditelinga Yuuma. Ia menduga bahwa Yuki tertidur. Mungkin lelah karena terlalu banyak menangis. Tangannya terulur, seolah ingin menyentuh gadis yang duduk disampingnya. Namun, langsung diurungkan dan ia memutuskan untuk pergi dari sana.
"Yuuma-kun."
Ia menghentikan langkahnya dan memegangi kepalanya yang mendadak sedikit sakit. Sejak meraka mendapatkan berita bahwa akan ada penghuni baru, kepalanya selalu sakit dan tiba – tiba saja menghilang. Sama seperti sekarang. Ia menoleh kearah Yuki yang masih tertidur pulas tanpa bergerak sedikit pun.
"Yuuma-kun."
Ah, ia mendengarnya lagi. Suara seseorang yang memanggil dirinya dengan suara khasnya yang begitu ceria. Suara dari sosok yang ia rindukan, namun tak ingat siapa orang itu.
xxx
Desahan pelan keluar dari mulutnya begitu merasakan sejuknya air yang membasahi wajahnya. Ia melihat wajahnya yang kelihatan jelek setelah menangis. Ditambah dengan matanya yang sedikit bengkak semakin membuatnya tak karuan. Ia menyiramkan kembali air kewajahnya dan membiarkannya begitu saja. Biarkanlah seragamnya sedikit basah. Toh, tak akan ada yang mengetahuinya ini. Pikirannya kembali melayang pada kejadian diruang kesehatan tadi. Ia yakin, keenam cowok yang memojokkan dirinya adalah Sakamaki bersaudara. Kenyataan bahwa Sakamaki bersaudara bukanlah manusia sama sekali tak membuatnya takut. Reaksinya sekarang ini hampir sama ketika ia mengetahui identitas sebenarnya Mukami bersaudara. Mengingatnya saja sudah membuatnya sangat tertarik dan ia bermaksud untuk menemui mereka, bertanya mengenai banyak hal. Namun, entah karena apa ia merasakan tubuhnya gemetar hingga ia memeluk dirinya sendiri.
Saat bertemu mereka, kenapa aku merasa begitu ketakutan ya? Selain itu, rasanya aku seperti mengatakan sesuatu pada mereka. Tapi... apa? Pikirnya.
Suara tawa pelan yang ia dengar dari luar menyadarkannya dari lamunan. Spontan, ia bersembunyi disalah satu bilik yang terbuka dan mengunci pintunya. Tak lama kemudian, ia bisa mendengar suara cewek yang tengah asyik berbincang ria. Ia menepuk pelan keningnya, menyadari tindakannya barusan. Kenapa pula aku harus bersembunyi?! Batinnya. Baru saja ia ingin membuka pintu, sebuah nama yang keluar dari mulut seorang cewek menghentikannya. Karena sedikit penasaran, akhirnya ia memutuskan untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
"Cewek itu benar – benar beruntung ya. Bisa dikelilingi 10 cowok tampan sekaligus."
"Sou sou. Padahal apa yang bagus dari dia coba? Cantik? Tidak. Manis pun tidak."
"Mungkin dia menjual tubuhnya pada Sakamaki dan Mukami bersaudara itu."
"Hahaha bisa jadi. Apalagi, kudengar dia tinggal bersama dengan Sakamaki bersaudara, kan?"
"Enak ya, bisa dekat dengan mereka. Aku iri."
"Oh iya, kalau tidak salah murid pindahan dikelas satu juga tinggal bersama Mukami bersaudara, kan? Siapa ya? Kalian tahu?"
"Ah... aku pernah melihatnya berbicara dengan Ruki-kun dilorong."
"Kurasa, mereka sama sekali tidak akan tertarik dengan cewek yang tak jelas asal usulnya itu."
"Apa maksudmu?"
"Kudengar, dia itu anak panti asuhan yang dititipkan ditempat Mukami bersaudara."
Ia menggigit bibir bawahnya, tanpa terasa kedua tangannya mengepal disisi tubuhnya. Ia kesal, tapi ia juga merasa tak ada gunanya untuk kesal. Oleh karena itu, ia kembali memasang topeng diwajahnya dan keluar dari tempatnya. Raut terkejut nampak terlihat jelas diwajah, yang ternyata terdapat lima orang siswi disana. Sambil tersenyum lebar pada siswi yang bisa ia katakan lebih tua dari dirinya, ia pergi dari sana dan memutuskan untuk kembali kekelas. Ia tak peduli dengan apa yang akan dikatakan teman sekelasnya ketika melihat wajahnya yang kacau. Saat ini, ia hanya butuh pengalih pikiran.
Begitu bel berbunyi dan guru yang bertugas mengajar keluar kelas, ia langsung menguburkan wajahnya diatas meja. Hari ini ia benar – benar merasa lelah dibandingkan kemarin. Ia tahu harus membereskan bukunya dan segera pulang karena ia yakin limusin milik Mukami sudah menjemputnya. Tapi, ia merasa sudah tidak memiliki tenaga untuk membereskan barangnya. Apalagi mengangkat kepalanya yang nampaknya sudah menempel dengan mejanya.
"Yuki-chan," panggil sebuah suara. Matanya melirik kearah sumber suara dari balik rambut hitamnya yang menutupi wajahnya. Ia menyingkirkan rambutnya dan melihat sosok gadis berambut pirang pucat berdiri sambil tersenyum kearahnya. Tanpa ada niat untuk mengangkat wajahnya, ia menatap Yui.
"Ada apa, Yui-chan?" tanyanya.
"Kau kelihatan lelah sekali. Daijoubu?" Yui berbalik tanya.
"Tidak. Aku lelah sekali hari ini," keluh Yuki. Ia kembali menguburkan wajahnya, seolah menolak untuk menatap Yui. Gadis itu juga nampaknya hanya diam, terlihat bingung ingin menyampaikannya atau tidak pada Yuki.
"Oh iya Yui-chan, kau belum memperkenalkan mereka padaku," ucap Yuki tiba – tiba yang membuat Yui sedikit terkejut. Ia mengangkat wajahnya dan melihat Sakamaki bersaudara sudah berada didalam satu ruangan dengannya. Tangan kiri dan kanannya menopang dagunya, menatap malas cowok bertopi yang ada didepannya. "Aku punya firasat, kalian datang karena apa yang terjadi diruang kesehatan, kan?"
"Kelihatannya kau sama sekali tidak takut pada kami," ujar cowok berkacamata yang berjalan kearah Yuki.
"Kami bisa saja menyerangmu loh, Yu-ki-chan," sambung cowok bertopi.
Senyum terukir dibibir Yuki. "Jika kalian bisa," ucapnya. Ia bisa merasakan dua orang muncul mendadak dibelakangnya, mencium aroma tubuhnya.
"Hng? Kenapa aromamu mendadak hilang?" tanya seorang cowok berambut merah. "Bahkan bau darahmu sama sekali tidak tercium."
"Kau... vampire juga?" cowok pembawa boneka beruang bertanya.
"Aku malah ingin sekali menjadi seperti kalian," jawab Yuki santai. "Bisakah kalian percepat sedikit? Aku ingin pulang."
Cowok berkacamata tadi kembali membetulkan posisi kacamatanya yang sama sekali tidak bergeser. Ia menatap tajam Yuki sebelum akhirnya mulutnya berbicara. "Aku hanya akan mengatakannya sekali," ucapnya. "Kenapa kau mengenal Cordelia?"
Alis Yuki bertaut. "Cor... delia?" tanyanya. "Dare desuka?"
Yuki bisa merasakan kerah lehernya ditarik paksa, membuatnya berdiri dari kursinya. Kilat mata merah dari cowok berambut putih itu terlihat sungguh menakutkan. Bagi manusia normal mungkin iya, namun bagi Yuki tidak. Ia sama sekali tidak terlihat gentar maupun ketakutan. Ia bahkan tersenyum lebar kala bisa melihat cowok itu lagi.
"Jangan bercanda kau!" seru cowok itu. "Jelas sekali kau mengatakannya tadi."
Ia memutar bola mata birunya, nampak berpikir sejenak. Kemudian ia menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak tak tahu. Atau mungkin tidak ingat telah mengatakannya. Cengkraman dikerah seragamnya semakin kuat tatkala Yuki memberikan mereka jawaban. Ia yakin akan mendapatkan setidaknya satu pukulan diwajahnya jika saja cowok berkacamata tidak menghentikan dirinya. Dengan terpaksa ia melepas cengkaramannya dan membiarkan Yuki yang berjalan kembali kekursinya, membereskan buku – buku miliknya. Setelah selesai, ia kembali menghadap kearah cowok berkacamata yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan tak suka.
"Jadi? Apa kalian akan menyerangku ataukah membiarkanku pulang dengan selamat?" tanya Yuki. "Sakamaki... Reiji-san?"
"Kau tau kami rupanya," seorang cowok yang sejak tadi diam bersandar ditembok akhirnya membuka mulutnya.
Yuki tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya. "Tentu saja. Kalian terkenal loh. Bahkan sampai memiliki fans club sendiri," ujarnya.
Ia menunjuk cowok tadi. "Anak tertua Sakamaki, Sakamaki Shuu-san." Kiiroi bara.
Tangannya mengarah kearah si cowok berkacamata. "Anak kedua Sakamaki, Sakamaki Reiji-san." Aoi bara.
Jari telunjuknya kemudian mengarah tiga orang yang berdiri tak jauh dari Yui. "Sikembar tiga Sakamaki, Sakamaki Ayato-san, Kanato-san, dan Raito-san." Akai bara, Murasaki bara, Midori bara.
Terakhir, ia menoleh pada cowok yang masih menatapnya dengan tatapan menusuk. "Sibungsu Sakamaki, Sakamaki Subaru-kun." Shiroi bara.
Hisashiburi, pada Adam yang telah dipilih oleh Eve.
Kuruna : Jangan mendekat
Aitsu : Orang itu
Un, sou da yo : Iya, betul
Hanase : Lepaskan
Dare desuka : Siapa (formal)
Kiiroi : Kuning ; Aoi : Biru ; Akai : Merah ; Murasaki : Unggu ; Midori : Hijau ; Shiroi : Putih
Bara : Bunga mawar
Huahahaha gimana dua chapter servis dari Author? Semua tanggapan, saran, kritikan akan Author tunggu dalam kotak review tercinta. Oh iya, Author belom sempet bales review dari minna~ Okeh deh kalo gitu.
Untuk 08Diandra : Iya, ini lanjutan dari Eternal Nightmare. Ini udah dilanjut kok, tinggal ditunggu aja dengan sabar update-an chapter dari tukang super sibuk + coretmalescoret dari Author hahaha
Untuk : Sengaja update kilat biar pada nggak penasaran kayak apa ceritanya. Soalnya, takut lupa sekaligus ngga ada waktu buat update cepet hehehe. Arigato, Author akan berjuang keras :D
Dan kepada silent reader tachi, terima kasih yg udah mau meluangkan waktunya buat mampir baca fanfic dari Author nggak jelas ini. Buat yg favorite dan follow juga Author mengucapkan terima kasih banyak #sambil sujud berkali - kali. Karena bentar lagi Author akan masuk semester baru dan nggak tau bakal kapan updatenya, ditunggu dengan sabar aja ya. Kalo pada ngga sabar silahkan bombardir Author ini hahaha.
Untuk tambahan karena ada yg nanya, biar Author sedikit jelaskan.
1. Gula batu yang sering dimakan ama Yuuma itu sebenarnya bukan gula batu yg minna bayangkan. Hng... gula batunya Yuuma itu sebenernya balok gula yg biasa kita liat kalo para bangsawan pake buat tehnya. Karena rasanya aneh nulis pake balok gula, jadilah Author ganti dengan gula batu. Honto ni gomen nee
2. Bagi yg penasaran ama musik yang didenger Yuki-chan, sebenernya Yuki-chan dengerin banyak genre musik. Tergantung moodnya dia. Hanya saja, dia lebih milih musik klasik kalo lagi bingung, gundah, ataupun pas pengen bersedih ria #ditabok Yuki-chan
Okeh deh, mungkin sampe segini aja note tambahan dari Author. Semoga cukup bermanfaat ya hehehe. Baiklah, sampai jumpa dichapter berikutnya minna~ (ditunggu ya review kritik dan sarannya hehehe)
