Disclaimer : kalo Naruto itu punya Aya-chan, saya bakal bikin SasuHina sebanyak mungkin di setiap episodenya! *dijitak Masashi Kishimoto*

Pairing : terserah readers aja nilainya apa. baca aja, pasti tau kan? *plak*

Warning : Aya-chan bikin Gaara jadi super duper mega OOC ! *plak*


ya ampun!

udah berapa lama saya nggak update? TT^TT

maafkan saya readers! *nunduk-nunduk ampe kejedot tembok*

aduh... malu banget! baru update skaraang!

malu banget!

malu banget!

malu ba- *mulut author disumpel mouse kompi*

oke, lanjutt! ^-^"


Ch. 6 : Awkward Meeting!

Kadang, ada jeleknya juga Gaara dipilih jadi Ketua OSIS. Udah bisa ngelakuin apa aja, orangnya pintar debat, lagi! Sasuke pasti skak mat kalau disuruh perang mulut. Siapa sih, yang menurunkan bakat nggak penting itu pada seorang Sabaku no Gaara? Kurang kerjaan deh.

Sebenarnya, Sasuke bisa saja menolak waktu disuruh menjaga Hinata di rumah sakit, benar-benar bisa, dan ia punya seribu alasan untuk mewujudkannya. Sialnya, Gaara bisa menjawab semuanya! Gila nggak, sih?

"Gaara, aku belum izin pada ibuku."

"Tenang, aku bisa SMS beliau!"

"Aku masih ada acara dengan anggota basket."

"Kau kira aku tidak baca buku agenda OSIS? Tidak ada lagi event-event yang berhubungan dengan basket sore ini."

"Gaara, adikku sendirian di rumah." (?)

"Bukannya kau tidak punya adik?"

Oke, rasanya ia punya seribu alasan, tapi alasannya nggak mutu semua. Nasib.

-oOo-

Sore itu, Sasuke hanya duduk di sofa yang ada di dalam kamar rawat inap Hinata, yang sebelumnya sudah dipindahkan untuk memudahkan proses penyembuhan tulang kakinya. Hinata harus operasi tulang besok, dan setelah itu ia boleh pulang.

Bosen, bosen, bosen. Sasuke hampir saja kabur kalau nggak tiba-tiba terdengar sesuatu.

"Aduh!" rintih seseorang. Cowok itu menoleh.

"Jangan banyak gerak," katanya singkat. Hinata - yang sudah siuman itu - mencibir dalam hati. Gue juga tau!

"Y-yang lain mana?" tanya Hinata polos.

"Mereka sudah pulang."

"Oh..." jawab Hinata seadanya. Padahal, dalam hati ia merasa dijebak. Kenapa bukan Neji-nii, Sakura-chan atau yang lain saja yang menjagaku? Kenapa harus Sasuke?

"Jangan berpikiran aneh-aneh," lanjut Sasuke seraya mundur satu-dua langkah. Seolah tahu apa yang dipikirkan Hinata. "Mereka menjebak kita. Cih."

Hinata menghempaskan badannya kembali ke atas kasur. Ujung mulutnya menekuk ke bawah. "Seper...tinya."

Ada keheningan yang kaku dan panjang.

Jalan buat kabur ada nggak, ya? pikir Sasuke putus asa. Lompat dari jendela? Jangan. Ini di lantai tiga. Ngebor pintu kamar? Ntar disuruh bayar tagihan buat perbaikan pintu sesudahnya! Lewat ventilasi di langit-langit? Kagak ada! Buat apa juga ada ventilasi di langit-langit buat kamar rawat inap VIP yang notabene ber-AC! Kalau siang-siang, palingan jendelanya di buka.

Jadi, nggak ada jalan buat ngabur, nih?

Hiks...

Malangnya Sasuke.

-oOo-

Sasuke benar-benar berharap ada suster yang hilir mudik untuk memberi Hinata bubur, mengganti selang oksigen, dan entah apalagi. Tapi, kok sekarang kesannya dicuekin banget, ya? Seolah-olah seluruh dunia mendukung dia buat bisa "berdua" dengan Hinata.

Kenapa harus sama Hinata, coba?

Memang, tadi ada suster yang membawakan nampan berisi makanan-makanan Hinata, tapi setelah itu, sudah. Tidak ada lagi. Males amat. Dilihatnya, Hinata kesusahan meraih mangkuk buburnya yang diletakkan di meja samping tempat tidur Hinata karena tangannya yang masih terbelit selang cairan.

Kriek...

"Maaf Nona Hinata, saya terlalu sibuk mengurus pasien lain," tiba-tiba, suster (yang diharapkan Sasuke) datang membuka pintu dan langsung mengambil mangkuk bubur Hinata. Akhirnya, Hinata makan dengan cara disuapi. Tangannya tidak dapat digerakkan dan terlalu banyak selang melekat di sana.

-ringtone keong racun (?) berbunyi-

"Eh, iya, Dok? Iya, iya, Dok," sang suster mengangkat panggilan itu, dan dengan cepat langsung memutuskannya lagi. "Maaf, Nona. Ada pasien yang sedang operasi di sana, saya harus membantu dokter," jelas suster itu cepat-cepat. "Bagaimana kalau... Anda saja yang menyuapinya?"

Hinata melongo.

Sasuke blushing. (kyaa! jarang-jarang! *plak*)

"Ya sudah, saya permisi dulu," jawab suster itu. Ia memberikan mangkuk bubur pada Sasuke dan langsung ngibrit keluar ruangan.

Sasuke merutuk. Masa' harus gue, sih?

Harus sama Hinata?

Dengan ragu, Sasuke berjalan mendekati tempat tidur dengan membawa mangkuk itu. Ia memberanikan diri menyendok bubur sesuap. "Makan, atau awas."

Hinata manut-manut aja waktu sesendok bubur itu masuk ke dalam mulutnya. Meskipun ia menggerutu cara Sasuke menyuapinya. Gila aja ada orang makan pake diancam segala.

Hingga suapan ketujuh...

Pluk! Bubur yang ada di sendok yang Sasuke pegang, jatuh mengotori seragamnya. Cowok itu mengerutkan kening. Harus marah? Atau...

"G-gomen..." sahut Hinata otomatis. Ia mencoba menggerakkan tangan kirinya untuk membersihkan seragam Sasuke. Semoga saja bisa digerakkan sedikit.

"Nggak apa-apa. Udah," geleng Sasuke ketika Hinata sibuk membersihkan seragamnya. "Gue nggak peduli bakal kotor apa nggak."

Oke, Sasuke bukannya pengen jadi baik di sini. Dia cuma berpikir, buat apa dibersihin, toh nanti juga kering sendiri. Baunya? Gampang lah, kayak di rumahnya nggak ada mesin cuci aja. Jadi, dengan niat menyingkirkan tangan Hinata dari seragamnya, tangan mereka justru tidak sengaja saling menggenggam.

Klise. Sialan.

Mereka berdua salah tingkah, tidak ada yang melepaskan tangan mereka berdua terlebih dahulu.

Atau tidak ada yang ingin?

"Ah," tiba-tiba Hinata menarik tangannya, memecah kesunyian. "Gomen."

Sasuke membuang muka.

Saat Hinata melepas tangannya, ada sesuatu yang... hilang.

-oOo-

Pagi hari, 06.00 AM

"Hoahm," Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya dan bahunya menggeliat, karena tangannya masih lemah. Ia menoleh ke sebelah kirinya. Sasuke tertidur dalam posisi duduk di sofa. Kasihan. Hinata mengangkat tangan kirinya, merenggut selimut dari tempat tidurnya, dan melemparkannya pada Sasuke.

Yap. Tepat! Dan Sasuke belum juga terbangun.

Sasuke manis juga kalau tidur seperti itu, gumam Hinata. Lucu. Ekspresinya polos sekali.

Andai kakinya sudah bisa digerakkan. Sayangnya, tidak. Paling tidak, setelah operasi nanti, ia akan bisa bergerak lebih dari sekedar menggunakan tangan kirinya. Hinata menghela nafas.

Pagi masih panjang. Apa Sasuke tidak sekolah?

"Hmm..." tiba-tiba, Sasuke menggeliat bangun. Dan kaget mendapati dirinya sudah terselimuti selimut tebal yang seharusnya dipakai Hinata. Lagian, Hinata-nya kreatif. Selimut yang udah satu paket ama tempat tidurnya dicopot juga!

Dengan kesadaran setengah kosong (?), Sasuke memungut selimut itu, berjalan ke arah tempat tidur dan menyelimuti Hinata kembali. Gadis itu speechless. Bingung mau bilang apa. Kelihatannya, cowok itu masih setengah sadar melakukannya.

Setelah memberikan selimut itu pada Hinata, Sasuke kembali ke sofa dan mengucek-ngucek mata. Ia berjalan ke wastafel, membasuk mukanya, dan kembali lagi ke sofa. Perasaannya gamang.

Masih nggak ada jalan buat ngabur? Sasuke mikir dengan polosnya.

"Nona Hinata!" pekik sang suster yang (lagi-lagi) tiba-tiba memasuki kamar rawat inap dan membuat kesadaran Sasuke kembali 100%.

"Ada apa?" tanya Hinata.

"Anda harus dipindah ke ruang operasi. Anda akan menjalani operasi lebih cepat dari yang ada di jadwal," jelas suster itu terburu-buru.

Sasuke yang menyaksikan mereka, hanya meringis miris. Baru jam 6 pagi? Rajin amat yang mau ngoperasi.

-oOo-

Abis itu?

Skip time nggak ya? *plak*

Oke, SKIP TIME! *plakplakgubraak*

-oOo-

"Operasinya berjalan lancar. Tulang kering Nona Hinata sudah berhasil dikoreksi ke tempat yang benar," jawab dokter ketika Neji menanyakan nasib sepupunya itu. (nama dokternya? hmm... Aya nggak niat-niat amat ngasih nama *dijitak persatuan dokter Indonesia* ya... terserah readers aja deh :p)

"Boleh saya masuk?" tanya Neji lagi meskipun ia tahu bahwa jawabannya pasti ada unsur penolakan.

"Untuk sekarang tidak bisa, Nona Hinata masih butuh banyak istirahat. Dan pemulihan kakinya bisa memakan waktu seminggu."

Tuh, kan!

"Ya sudah," kata Neji dengan mulut yang berubah cemberut.

Sementara itu, Gaara sibuk mencoretkan sesuatu pada buku catatannya, tersenyum tipis mendengar kabar Hinata, sambil sesekali melirik Sakura yang ada di sana dan kemudian berkutat kembali dengan buku catatan dan (tumben) untuk kali ini, ia menggunakan kacamata. Entah untuk apa...

"Selesai," gumamnya, menutup kembali buku catatannya, menyelipkan pulpen di atas telinganya, dan berjalan menghampiri Sasuke yang cuma melamun dengan c*ca-cola-nya. (merk disamarin, hehe)

Yang dihampirin cuma ngelirik, seolah yang dateng adalah anak kecil yang nanya letak toilet.

"Mau tau kabar Hinata, nggak?" tanya Gaara.

Sasuke diam.

"Mau, nggak?"

Sasuke menggumam, tapi nggak jelas.

"Ya sudah kalau nggak mau. Operasinya GAGAL!"

Petir di otak Sasuke.

"HAH?"

"GOTCHA! Operasinya sukses, Baka!" Gaara kesusahan menahan tawanya. Puas deh, ngejailin sohibnya dari kecil.

Sasuke merah padam, salah tingkah. Pengen rasanya nimpuk Gaara dengan sepatu ketsnya yang lumayan gede. Biar tuh anak tau rasa!

"Ekspresi lo aneh amat waktu gue bilang operasi Hinata gagal. Kenapa? Nggak pengen kehilangan Hinata?" bombardir Gaara.

"Diam, Baka. Cih," sahut Sasuke dingin.

Gaara melirik c*ca-cola milik Sasuke yang masih penuh. "Mubazir, tuh. Buat gue, ya?" ia menyambar sekaleng (apa sebotol? Author jarang minum c*ca-cola nih) c*ca-cola itu dan meneguknya hingga tandas setengah. "Mau nanya sesuatu?"

"Lo nggak ada kerjaan di sekolah?" tanya Sasuke malas. "Pake ngunjungin Hinata segala..."

"Itu gampang buat gue, Sas."

"Kalo gampang, kenapa nggak lo aja yang kemaren nungguin Hinata? Aneh."

"Karena pas itu, bener-bener ada keperluan yang urgent! Kalau sekarang, gue lagi longgar. Tinggal izin sama sensei. Selesai."

Tuh, kan. Sasuke sadar, sebaik apapun dia berdebat, pasti bakal bertekuk lutut di depan seseorang bernama Sabaku no Gaara. Lebih baik tutup mulut.

Tapi, Sasuke, itu sih lo-nya yang selalu salah tingkah kalo ditanyain hal yang berhubungan dengan Hinata! Gue kenapa sih akhir-akhir ini? Aneh.

"Gaara," panggil Sasuke karena dilihatnya tuh cowok tiba-tiba bengong.

"Gaara?" panggil Sasuke lagi, mulai meraasa ada yang nggak wajar.

"Kumbaang!" teriak Sasuke dengan volume pelan (?) karena gedek dicuekin Gaara sedari tadi.

"Hah? Mana-mana?" jerit Gaara juga denga volume pelan (?) biar nggak ketauan serumah sakit gitu. Hehehe.

"Nggak ada. Lo kenapa? Tiba-tiba diem begitu."

Gaara meringis. "Masa' sih? Eh, gu-gue cuma... cuma..."

Cih. Jadi mirip Hinata.

Tuh, kan! Otak gue nyasarnya ke Hinata lagi.

Sasuke mengikuti arah pandangan Gaara. Hmm... Sa... Sakura? Nggak salah?

"Udah ah, lupain aja," Gaara mengibas-ngibaskan tangannya layaknya ngusir kambing. "Lo pulang sono, gih. Tapi lo musti masuk lagi ke skull, paling lambet jam 11.00 harus udah ada di sekolah. Awas kalo bolos," ia melirik Sasuke dan masang muka penguasa. "Inget satu hal. Jawab pertanyaan gue yang dulu, lo suka sama Hinata, kan?"

Sasuke diam.

Nggak, lah. Tapi... ah. Apa iya?


kok endingnya jadi nggantung gini? *garuk-garuk kepala*

bodo ah! yang penting tebece! *plak*

waah, Gaara jadi mirip Naruto di sini? 0w0 di situlah letak OOC yang paling parah, hehehe. *untung author nggak masang tokoh Naruto di sini* *digebukin Naruto FC* maap! maap banget! emang udah lama Aya ngerasa kalo tokoh Gaara (sengaja) di-OOC-in... nggak pa-pa deh, demi jalannya cerita *plak*

KRITIK SARAN DI REVIEW! FLAMERS ALLOWED! ^O^