"A..."
"Iya, Neng? Kenapa? Joknya kurang empuk, ya?"
"Bukan—"
"Aa kurang cepet bawa motornya? Sip, lah. Kita ngebut—"
"—Eh, jangan! Lagian bukan itu."
"Terus apa, Neng?"
"... Neng mau kapan dipulangin? Kita udah muter-muter kompleks lima balikan, lho."
Mengejar Matahari
[Chapter 6: Simfoni Hitam]
Haikyuu milik Haruichi Furudate, tidak ada keuntungan pribadi yang saya ambil dari menulis fiksi ini selain kesenangan dan hiburan semata. Judul chapter ini diambil dari lagu Sherina berjudul serupa. Warning: (masih) seriyus mode.
Kei sadar sesadar-sadarnya kalau dia itu kelihatan desperet banget. Gara-gara deklarasi perang dari si rambut kelimis—siapa itu namanya, Swageyama?—dia jadi merasa harus semakin gencar PDKT ke Neng Shoyo kalau mau hubungannya berkembang. Kei tidak mau kalau jadi ojek pribadi terus. Kan enggak lucu kalau nanti dia kalah saing dan Neng Shoyo malah jadian sama si Kageyama itu terus dia masih harus nganter-jemput Neng Shoyo tiap mereka pulang kencan. Amit-amit. Membayangkan Neng Shoyo jadian sama orang lain saja sudah bikin Kei galau tujuh turunan, apalagi kalau betulan kejadian. Mending Kei minggat ke London nyusul Akiteru. Ngapain kek gitu di sana, ngojek kek, ngamen di Buckingham Palace kek, yang penting jauh-jauh dari penyebab patah hati.
Kei menggeleng-gelengkan kepalanya. Nggak boleh patah semangat sebelum usaha! Biar alay begini dia punya tampang memadai. Ya seenggaknya kalau dia mau bikin pesta dansa ala pangeran di cerita dongeng buat nyari jodoh masih bakal ada yang mau dateng, lah. Seenggaknya. Soal dapet jodoh atau enggak, itu beda urusan.
"Kei, Neng Shoyo pulang tuh!" seru Bokuto, membuyarkan lamunannya. Benar saja, pemuda manis yang diam-diam Kei kasih julukan matahari itu kelihatan sedang berjalan ke arahnya setelah turun dari angkot dan membayar ongkos.
Oke, hari ini dia harus bisa ngobrol banyak sama Neng Shoyo. Demi cinta dan keadilan!
"Neng, bensin Aa abis nih. Aa anter pulangnya jalan kaki aja, ya?" ujarnya begitu Neng Shoyo sampai di pangkalan ojek. Neng Shoyo sendiri cuma ngangkat sebelah alisnya dan masang wajah heran.
"Itu di warung sebelah 'kan jualan bensin, A. Neng bayarin, ya—"
"—Atau Neng mau Aa gendong?" Terdengar bunyi tamparan keras ketika Bokuto menepuk jidatnya sendiri. Diem lu, jambul. Lo nggak tau apa ini pertempuran hidup dan mati?!
Neng Shoyo sendiri makin heran. Setelah kemarin dia dibawa muter-muter kompleks selama dua jam lebih padahal waktu tempuh dari depan sampai rumahnya itu cuma lima menit, sekarang ini.
"Ya udah nggak apa, A. Neng jalan sendiri aja—"
"—Weh, jangan! Nanti kalau ada yang nyulik gimana? Pokoknya Aa anter!"
"Kalau mau pinjem motorku boleh, kok, Kei—" Bokuto buka mulut dan langsung dihadiahi pelototan maut. Alis tipisnya Kei berkerut dan matanya menyipit tajam. Dari aliran-aliran listrik yang ia salurkan lewat pelototannya, terkirim pesan semacam 'baca sikon, kampret'.
"Nggak usah," Kei menjawab, senyum sadisnya terpasang di wajah, "Bokuto-san 'kan mau narik abis ini. Iya, 'kan?" lanjutnya dengan nada bicara yang luar biasa manis. Bokuto langsung merinding. Kalau kamu bukan Neng Shoyo, maka denger Kei pake nada ngomong yang manis itu ibarat ketemu kucing hitam di malam Jumat kliwon tanggal 13 Oktober. Bukan pertanda rezeki.
Bokuto mengangguk cepat. Ya kali mau nggak nurut kalau Kei sudah pakai nada berbahaya semacam begitu. Dia masih kepingin melanjutkan hidup sama Akaashi jadi mending cari aman.
"Ya padahal Neng sendiri juga nggak apa kok, A."
"Nggak, nggak. Bahaya, Neng. Lagi banyak begal." Alasannya semakin ngaco. Bokuto berharap Neng Shoyo cepat-cepat menyerah saja, kalau kelamaan dengerin alasan-alasan ngawurnya Kei bisa-bisa kena stroke.
Lalu terdengar Neng Shoyo menghela napas. Sepertinya sudah menyerah.
"Ya sudah. Yuk jalan, A."
"Oke. Mau mampir ke warungnya Kang Suga? Es kelapanya enak, lho, Neng."
"... Iya terserah Aa aja, Neng ngikut."
Ding. Ding. Ding.
Shoyo menutup pintu kamarnya, melirik ke arah ponsel yang tergeletak di meja belajar. Tangan kirinya memegang handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut, tangan kanannya mengambil ponsel berwarna hitam itu dan membuka kunci layarnya. Ada beberapa pesan masuk yang ia terima dari kontak yang ia namai Kei.
'Neng'
'Neng'
'Neng'
Tiga pesan yang sama persis menyambutnya. Ketiganya cuma dipisahkan interval satu menit. Shoyo menghela napas dan tersenyum simpul, jemarinya bergerak mengetik pesan balasan.
'Kenapa, A?'
'Udah malem. Neng belum tidur?'
'Ini baru mau tidur.'
'Oke. Selamat tidur, Neng. Jangan lupa mimpiin Aa, ya 3'
Shoyo tertawa kecil. Ia kembali menyimpan ponselnya ke atas meja lalu menghempaskan tubuhnya ke kasur di sebelah meja. Netra sewarna kenari miliknya menatap langit-langit kamar. Shoyo memegang wajahnya sendiri, sadar kalau sedari tadi semburat merah hadir di sana dan membuat suhu bagian tubuhnya yang itu agak meningkat.
Pemuda berambut jingga itu berguling ke kiri, memeluk gulingnya. Menyembunyikan wajahnya yang tersenyum semakin lebar.
Shoyo masih ingat persis ketika dulu Kei salah menyangkanya sebagai perempuan. Tidak heran juga, gara-gara postur tubuhnya yang pendek dan kecil juga wajah yang ia warisi penuh dari ibunya, Shoyo memang sering disangka perempuan. Awalnya memang ia tidak suka karena mau bagaimana pun dia laki-laki tulen. Tapi lama kelamaan ia jadi tidak terlalu peduli, saking terlalu seringnya.
Shoyo cukup yakin tiga bulan lalu, ketika pertama kali mendengar Kei menggombalinya, ia sama sekali tidak tersipu. Shoyo yang memang tidak punya rasa apa-apa terhadapnya cuma menanggapi karena ia ingin menghargai pemuda itu. Semburat merah di wajahnya hadir cuma karena menahan tawa mendengar ungkapan-ungkapan super cheesy dari bungsu Tsukishima itu. Tapi sekarang rasanya sulit kalau mau bohong dan bilang dia tidak punya rasa kepada Kei.
Semuanya bermula dari ketika dirinya sakit dan ibunya bilang kalau seseorang menanyakannya dan cuma meninggalkan pesan semoga lekas sembuh, ditunggu di pangkalan ojek. Tentu saja Shoyo langsung paham kalau itu dari Kei. Tapi tidak mengurangi keterkejutannya karena pemuda itu sampai mendatangi rumahnya karena ia menghilang berhari-hari. Awalnya Shoyo mengira Kei itu kurang lebih sama seperti semua orang yang pernah mendekatinya cuma karena ia terlihat manis. Kalau dicueki sedikit, atau dikasih tanda ia tidak tertarik langsung mundur. Tapi ternyata pemuda pirang itu berbeda.
Sejak saat itu Shoyo mulai merasakan ada gemuruh di dadanya tiap kali melihat Kei. Itu juga yang membuatnya merasa ia harus memberikan kesempatan kepada Kei buat mencoba, makanya ia mengajak Kei buat jalan waktu itu. Meski di akhir acara mereka dikacaukan oleh kehadiran teman kuliahnya yang kampret itu.
Shoyo sudah jatuh kepada Kei. Jadi ketika Kei (yang sebenarnya cuma berniat merendahkan diri) mengatakan kalau dia bukan siapa-siapanya, Shoyo jadi sedikit muram. Ya ibaratnya kayak, udah dikasih jalan biar maju, tapi Kei-nya malah mundur. Syukurlah dia akhirnya maju lagi, meski dengan deklarasi konyol semacam 'Aku ini ojek pribadinya Neng Shoyo!'.
Shoyo kembali tersenyum di balik guling yang ia peluk.
Kei yakin sekali kalau dia pernah melihat wajah ibu-ibu itu. Tapi di mana?
Iklan sabun cuci piring kah? Kayaknya bukan, berhubung Kei sudah lama tidak nonton TV gara-gara dimonopoli si Mama buat nonton sinetron yang panjangnya mengular naga. Terakhir ia lihat iklan sabun cuci piring sepertinya sekitar setahun lalu.
Costumer yang pernah ngojek kah? Sepertinya juga bukan karena Kei bakal ingat rumahnya di mana plus rute jalannya.
Terus siapa?
Sosok yang dari tadi diterka-terka siapa itu tiba di pangkalan ojek. Kei tidak berani menjemput karena tidak yakin beliau mau ngojek. Kan enggak lucu kalau kegeeran.
"Kamu ojek yang selalu nganter Shoyo, 'kan?"
OH. Ibunya Shoyo!
Astaga, Kei malu sendiri. Bisa-bisanya dia lupa wajah calon mertua.
"I-Iya, Tante. Ada apa ya?" Kei mulai gemetar. Apa dia bakal dilarang buat mendekati Shoyo lagi? Apa ibunya bakal ngasih tahu kalo Shoyo sudah dijodohkan dengan orang lain yang lebih jelas bibit bebet bobotnya? Atau ibunya mau ngasih tahu kalau Shoyo punya penyakit serius dan hidupnya tinggal sisa tiga bulan?
Bah, ini akibatnya kalau dipaksa nemenin si Mama nonton sinetron. Otaknya dipenuhi prasangka konyol.
"Dompetnya Shoyo ketinggalan, tolong anterin ke kampusnya bisa?" tanya si Ibu, menyodorkan dompet berwarna cokelat muda kepada Kei. Kei langsung berdiri dengan antusias.
"Bisa, Tante!" ia membungkuk hormat dan menerima dompet itu, memperlakukannya seperti anggota paskibra memegang bendera negara. Ia bergegas menaiki motornya dan menyalakan mesin, baru saja akan menarik gasnya untuk berangkat, tangan Ibunya Shoyo menahannya.
"Eh, sebentar! Ongkosnya berapa?"
"Nggak usah, Tante! Saya berangkat dulu, ya. Permisi!" Kei mengangguk sopan lalu segera berangkat. Meninggalkan Ibunya Shoyo dengan wajah heran, ia menolehkan kepalanya ke geng tukang ojek yang kebetulan sedang mangkal semua. Semuanya memasang wajah maklum.
"Kok ngojek tapi nggak mau dibayar?" ia bertanya. "Kalian juga semuanya ngojek gratis?" Kuroo nyaris mau tertawa lepas kalau tidak disikut Lev.
"Ah, itu, Tante..." Akaashi yang angkat bicara karena dia yang paling waras, "Kei memang nggak mau dibayar kalau urusannya sama Ne—uhm, Shoyo."
"Lho, kenapa? Rugi dong?"
Tawa kecil lolos dari mulut Kuroo. Ia disikut habis-habisan sama Lev dan Bokuto, tapi akhirnya nekat juga bicara, "Ta-Tante, saya tahu bayaran paling diinginkan Kei dari Tante. Dan bentuknya bukan uang."
"Terus apa?"
"Restu buat macarin Shoyo."
Shoyo mengobrak-abrik tasnya, mencari dompet yang seharusnya ada di situ. Ia sudah dipelototi orang-orang yang mengantre di belakangnya gara-gara memakan waktu lama memesan makanan.
Mampus. Ketinggalan kah?
Shoyo buru-buru membungkuk minta maaf kepada petugas di kasir restoran cepat saji itu.
"Maaf, pesanannya bisa dibatalkan? Saya lupa nggak bawa—"
"Kau ngapain sih, boke. Bikin orang ngantre lama." Dan Kageyama tiba-tiba muncul di sampingnya. "Berapa totalnya?"
Petugas itu menyebutkan sejumlah uang dan Kageyama menyerahkan selembar uang bernominal sepuluh ribu yen.
"Kageyama? Kau ngapain di sini?" Kageyama menautkan alisnya, menyentil dahi pemuda pendek itu.
"Mau makan tapi antreannya jadi lama gara-gara kau." Setelah menerima kembalian dari kasir, Kageyama kembali ke ujung antrean. Meninggalkan Shoyo dengan wajah heran.
"Sudah bawa pesananmu sana, cari meja!" ujarnya. Shoyo cuma mengedikkan bahu lalu mengambil baki berisi pesanannya dan duduk di salah satu meja yang kosong.
Beberapa lama kemudian Kageyama muncul dengan baki berisi pesanannya. Ia mendudukkan diri di kursi seberang Shoyo dan mulai melahap makan siangnya.
"Terima kasih. Nanti kuganti uangnya," ujar Shoyo setelah sekian lama mereka terdiam.
"Tidak perlu."
"Hah?" Alis Shoyo terangkat sebelah.
"Aku bilang tidak perlu. Kau ini selain boke ternyata juga punya masalah pendengaran, ya?"
"Wah," Shoyo memasang wajah sebal, anak ini tidak pernah menahan diri kalau menghina, ya. "Kau lagi banyak duit, ya? Habis dapat kerjaan di mana?"
Kageyama cuma mendengus sebagai jawaban. Shoyo memutar matanya dan memutuskan untuk tidak membicarakannya lebih jauh.
"Tapi kalau kau bersikeras mau membayar, kau bisa pergi kencan sehari denganku."
Hah.
Sendok yang dipegang Shoyo jatuh.
Kencan?
"Maksudnya?" Shoyo cukup yakin dia tidak salah dengar. Tapi tetap terdengar aneh.
"Kencan. Kau tidak mengerti kencan? Seperti yang kau lakukan dengan, siapa itu, Tsukishima? Yang mukanya sengak setengah mampus itu."
Shoyo membatin. Wajahmu juga nggak beda jauh songongnya kali.
"Ya itu kalau kau mau membayar, sih. Tidak juga tidak apa. Tak masalah," ujar Kageyama, kembali melahap makanan di piringnya.
Shoyo menghela napas. Apa ini? Tiba-tiba Kageyama ngajak dia kencan. Dia serius atau cuma menjahilinya seperti biasa?
Tapi demi Tuhan, kalau ada hal yang tidak ingin Shoyo miliki, itu utang pada Kageyama. Lahir batin.
"Ya sudah. Kau atur tanggalnya." Shoyo menyerah. Kageyama terlihat melonjak kaget dan tersedak makanan yang dikunyahnya.
"Hari Minggu besok? Kujemput."
"Ya sudah."
Shoyo kembali fokus ke makanan di piringnya. Bodo amat lah. Dia tidak ada rasa ini ke Kageyama, ini cuma biar dia tidak berutang apa-apa ke pemuda berambut hitam itu.
Pintu restoran cepat saji itu didorong terbuka. Sosok pirang jangkung muncul di baliknya. Kakinya melangkah cepat ke arah Shoyo. Pemuda berambut jingga itu membelakangi pintu jadi tidak sadar.
"Neng," bahunya ditepuk pelan. Shoyo menoleh ke belakangnya, terkejut karena ia sangat kenal suara barusan.
Kalau ini drama Korea, adegan ini akan ditampilkan dengan super lambat dan diiringi petikan gitar akustik yang menyayat hati.
"Dompetnya ketinggalan, saya diminta nganterin sama Ibunya Neng." Tangannya meletakkan benda berwarna jingga itu di meja Shoyo. Matanya sama sekali tidak mau bertemu dengan iris kenari Shoyo.
"Ya sudah. Saya pulang dulu."
Belum sempat Shoyo mengatakan apapun, sosok itu sudah menghilang lagi di balik pintu restoran.
Kageyama tersenyum penuh kemenangan.
DRAAAAMAAAAAAAAA /YHA
Mohon bersabar dengan porsi humor yang garing dan seadanya ya.
Sampai jumpa di chapter berikutnya! /wink
