Pecah

Chapter 6. Merawat Daun.

.

Daun POV.

.

"Aduuuh." Pagi itu aku dibangunkan oleh denyutan rasa sakit di pergelangan tangan kananku. "Sakiiit!" Jeritku kesakitan sambil membenamkan wajahku sedalam-dalamnya pada bantal milik BoBoiBoy yang berada di kepalaku. Minimal teriakanku tidak membuat orang serumah bangun.

"Daun, tanganmu sakit lagi?" Kudengar suara Ochobot yang melayang mendekati aku.

"Iya, tangan Daun sakit," aku melirih menahan sakit. "Sepertinya tertindih badan Daun sendiri."

Ochobot langsung mengulurkan tangannya untuk membantuku bangun. Sorotan sinar memancar dari kedua mata LEDnya ketika Power Sphera itu memindai pergelangan tangan kananku. "Aku ngga ngerti perkara medis begini sih, tapi sepertinya ngga ada masalah di tanganmu itu."

Belum sempat aku menjawab Ochobot ketika pintu kamar dibuka.

"Wah, Daun sudah bangun. HOOI, ANGIN, DAUN BANGUN NIH!"

"Eh? Api?" Aku tidak menyangka akan melihat pecahan elemental BoBoiBoy yang berbaju armless merah dari balik pintu itu, apalagi dia memanggil Angin. "Ada Angin juga?". Tanyaku dengan keheranan.

"Iya." Jawab Api yang beranjak mendekati aku. "Ada Tanah juga, dia lagi masak sarapan buatmu."

Aku membiarkan Api mengamati tanganku yang diperban ini. Terlihat jelas kalau dia penasaran dengan luka karena anak panah Robot ABAM. "Pelan-pelan, jangan iseng ya!" Sebelum terlambat lebih baik aku peringati Api karena dengannya, aku tidak tahu kapan dia akan berbuat jahil dan aku tidak mau tanganku jadi sasaran kejahilannya yang legendaris.

Api menggelengkan kepalanya. "Ngga koq, jahilnya aku ngga separah itu, Daun."

Tak lama kulihat Angin melangkah masuk ke dalam kamar. Ia membawa sebuah kantung plastik yang berisikan obat dan perban ekstra dari rumah sakit tempatku dirawat kemarin. "Sini, Daun. Tanah menyuruhku menggati perbanmu itu."

"Ngga deh." Aku langsung menggelengkan kepala mendengar tawaran Angin itu. Bukannya aku tidak percaya dengan Angin, hanya saja aku lebih percaya Tanah atau BoBoiBoy dalam masalah seperti ini.

"Ayo, ngga usah takut. Tanah sudah mengajari aku caranya koq." Lanjut Angin yang sudah duduk di atas ranjang yang kutiduri ini.

"Ngga mau!" Protesku dengan ketus sambil menyembunyikan tangan kananku dibawah ketiak kiriku. "Daun maunya sama Tanah!"

"Hm... Ini bakal merepotkan, bukan begitu, Api?" Angin menoleh ke arah Api sembari mengedipkan sebelah mata.

"Ya, merepotkan... Tapi kan Daun cuma sendiri, kita berdua, kan?" Ujar Api lengkap dengan seringaian kepada Angin.

Aku yakin kalau aku akan sangat tidak suka dengan kedipan mata Angin dan seringaian Api itu. Betul saja, keyakinanku terbukti ketika Api meniban badanku dengan badannya dan menjepit tangan kananku supaya diam sekuat tenaga dengan kedua kakinya. Belum lagi tangannya yang sebelah lagi malah membekap mulutku.

"ASTAGA!" Pekik Ochobot panik. "Kalian mau membunuh Daun?"

Aku berusaha menjerit minta tolong ketika Angin mulai membuka perban yang meliliti pergelangan tangan kananku. Tapi dengan mulut terbekap tangan Api begini, aku hanya bisa melenguh sekeras mungkin melalui hidungku. 'Habislah, matilah aku.' Batinku pasrah. Semoga saja ada yang mendengar lenguhanku dan menolongku

"Wah, jahitannya banyak juga ya?" Aku bisa mendengar Angin yang menggumam ketika lilitan perban di pergelangan tanganku terlepas.

"Tenang, Daun, sedikit lagi selesai koq." Ujar Api yang berusaha menenangkan aku.

'Gimana aku bisa tenang kalau ditindih, dibekap dan dipegangi begini!' Jeritku dalam hati. Aku bisa merasakan ketika Angin mengusap bekas luka dan jahitan pada pergelangan tanganku dengan cairan antiseptik yang terasa dingin. Mungkin terlalu banyak karena aku bisa merasakan cairan itu tumpah sampai membasahi baju dan badanku.

"Kalian berdua mau membunuh Daun ya?" Aku menggerutu saja ketika Angin selesai memasang perban baru pada pergelangan tanganku. Akibat aksi mereka, aku bisa merasakan lukanya kembali berdenyut-denyut.

"Biar cepat selesai. Kata Tanah, kerjakan secepatnya, biar ngga terlalu sakit." Jawab Angin sambil terkekeh-kekeh. Ini dia yang kumaksud dengan polosnya Angin yang dibuat-buat, sangat berbeda dengan sifat polosku yang murni polos.

"Angin jahat, Api juga. Tangan Daun jadi sakit lagi nih!" Ketusku sambil menahan sakit yang semakin terasa berdenyut-denyut ini.

"Memang kamu diapakan oleh mereka berdua ini?" Akhirnya, suara hangat dan ramah khas Tanah terdengar. Kuangkat kepalaku dan benar saja, Tanah sudah berdiri dengan tangan terlipat di belakang Api dan Angin.

"Nih lihat sendiri." Ochobot membuat sebuah layar proyeksi dengan mata LEDnya yang memperlihatkan adegan manusiawi Api dan Angin ketika mengganti perbanku.

Api langsung memucat, begitu juga dengan Angin, aku sendiri masih meringis dan memegangi tangan kananku yang gemetaran. Tanah juga terlihat gemetaran, tapi aku yakin gemetarannya bukan karena sakit. Dengan kesalnya Tanah menjitak kepala Api dan Angin tanpa basa-basi lebih lanjut.

"Aduuuh.". Dengus Api sambil memegangi kepalanya yang benjol karena baru saja dijitak Tanah. "Kenapa kita dijitak, kan tadi kau bilang ganti perbannya secepatnya." Protesnya yang tidak terima dijitak oleh Tanah.

"Iya nih... Kan maksud kita hanya menolong saja!" Angin ikutan protes yang juga memegangi kepalanya yang benjol.

"Tapi tangan Daun jadi sakit lagi!" Gantian aku yang protes aksi mereka berdua.

Tanah terlihat menghela napas panjang dan mengambil beberapa obat yang harus kuminum dari kantung plastik yang tadi dibawa oleh Angin. "Ini, minum dulu obat painkillernya. Nanti sakitnya pasti hilang."

Aku mengangguk saja dan meminum obat yang diberikan Tanah. Untungnya obat-obatan itu semuanya berbentuk tablet dan kapsul sehingga tidak ada rasa pahit dimulutku.

"Cantum semula." Gumam Tanah yang memanggil semua elemen-elemen yang berpecah itu kembali kedalam dirinya. Kini di hadapanku berdiri BoBoiBoy seorang.

"Maaf, Daun, kupikir Api sama Angin akan senang bertemu denganmu." Ujar BoBoiBoy sambil terkekeh dan menggaruk-garuk pipinya. Sepertinya menggaruk pipi atau kepala jika sedang nervous memang sudah menjadi ciri khas kami semua.

"Iya mereka senang, tapi Daun yang ngga senang." Aku mendengus sebal sambil melipat tangan sebisanya karena kan tangan kananku masih sulit untuk digerakkan.

"Maaf deh." Ujar BoBoiBoy sambil mengulurkan tangannya. "Ayo sarapan, aku sudah membuat nasi goreng untukmu."

"Wah, nasi goreng." Air liurku langsung terbit mendengar ajakan BoBoiBoy. Tanpa pikir panjang dan membuang waktu, aku langsung mengamit tangan BoBoiBoy yang terulur untuk bangkit dari ranjang yang aku duduki.

Aku telah duduk di meja makan. Nasi goreng tersaji, lengkap dengan segelas es teh manis untuk sarapanku. Sekarang pertanyaanku hanya satu. "Daun gimana makannya nih?" Tanganku kan masih diperban. Hanya ujung jariku yang menyembul keluar, itupun tidak bisa banyak digerakkan.

"Ayo buka mulutnya. Aaaa." Aku hanya terbengong ketika nasi goreng itu disendok dan disuapi ke mulutku oleh BoBoiBoy.

Semoga saja BoBoiBoy tidak melihat rona merah di pipiku. Bahkan akupun bisa merasakan leherku mendadak jadi hangat.

"Lho Daun kenapa mukanya jadi merah?" BoBoiBoy langsung meraba keningku. "Kamu demam?"

"Ah, ngga koq, Daun ngga demam" Aku menggelengkan kepala. 'Aduh, kenapa suaraku jadi mencicit begini sih!'.

"Ayo buka lagi mulutnya, Aaaa." Sekali lagi BoBoiBoy menyuapiku.

Kuterima saja suapan demi suapan dari BoBoiBoy. "Daun malu lah, sudah besar masih disuapin."

"Mau gimana lagi, Daun. Kamu harus sarapan. Tangan kananmu kan masih sakit. Masa mau pakai tangan kiri? Nanti berantakan semua nasi gorengnya"

Aku menunduk saja tersipu. "Iya sih... Terima kasih BoBoiBoy..."

.

.

.

Bersambung.

Author note: Hari ini tanggal 5 Juni 2019 bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri. Author turut mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin.

-Maaf kalau update kali ini agak singkat. Author mau lebaranan dulu.