5W(plus)1H

.

.

Present by December28

.

Cast: Jung Daehyun – Choi Junhong

BAP Members

.

Genre: Romance, Drama, other..

.

Warning: YAOI, BOYXBOY, Not EYD, Typo, Don't like don't read.

Rat little M for this chapter

This is Daelo Fanfiction

.

Lets Start

.

Happy Reading ^^

Last: 'How' do I live without you?

Perhatian! Di chapter ini mungkin ada beberapa unsur dewasanya.

Yang belum cukup umur harap tutup matanya pas baca(?)

..

….

Daehyun mengikat baju handuk miliknya dan bergegas keluar dari dalam kamar mandi. Menggosok rambut cokelatnya yang basah dan menghampiri pemuda tinggi yang tengah tertidur pulas di atas ranjang yang kacau dan berantakan.

"Junhong.. bangunlah"

Mengguncang tubuh Junhong perlahan dan mengusap rambut Junhong sayang.

"Biar ku ganti dulu bed covernya, setelah itu kau bisa tidur lagi"

Junhong menggeliat malas, meringis kecil kala merasakan perih di bagian belakang tubuhnya.

Membuka matanya perlahan dan tersenyum saat melihat Daehyun yang berada tepat di depannya.

"Kau sudah mandi hyung?"

Daehyun mengangguk, mencubit pipi Junhong yang menggeliat khas orang bangun tidur.

"Aku sudah memesan pizza, kau bangunlah sebentar. Biar ku ganti bed covernya"

Junhong menggeleng enggan, menarik tangan Daehyun dan mendekapnya erat.

Memejamkan matanya ingin tidur kembali dan memastikan bahwa Daehyun tidak akan pergi kemanapun selama ia tertidur.

"Pemalas, bangunlah"

Daehyun memainkan rambut merah Junhong dengan pola berputar, terkekeh saat mendengar Junhong mendengung tanda ia nyaman.

Ting Tong!

"Pizzanya datang, kau tidak lapar? Kita sudah terkurung di dalam kamar selama lebih dari 8 jam Junhong"

Junhong menggigit lengan Daehyun yang tengah ia dekap.

Ting Tong!

"Ishhh"

Junhong merengek, merasa terganggu dengan bunyi bel yang terus bersautan.

Daehyun terkekeh, melepaskan dekapan Junhong pada lengannya dan bergegas bangkit mengambil pizza yang sudah ia pesan.

"Jangan mencoba kabur meninggalkanku sendirian lagi, aku akan bunuh diri menggigit lidahku kalau kau berani melakukan itu"

Daehyun tertegun mendengar ucapan Junhong, berbalik menatap Junhong yang tengah bersandar pada kepala ranjang dengan tatapan tegas namun terkesan dipaksakan.

Daehyun melangkah kearah ranjang, dengan hati-hati mencium pucuk kepala Junhong dan mengacak rambut Junhong.

"Aku hanya akan mengambil pizza sayang, kau tunggu dan hitunglah sampai 10. Aku akan sampai disini sebelum atau tepat pada hitungan ke 10"

Junhong mengangguk mengerti.

"SATU!"

"Hei! Belum dimulai, kau boleh memulai-"

"DUA!"

"YA!"

Daehyun berlari kencang keluar kamar, dan semakin kencang kala mendengar Junhong berteriak 'tiga' dari dalam kamar.

Junhong tertawa melihat tingkah Daehyun yang masih kekanakan seperti dulu.

Memejamkan matanya dan tersenyum mengingat kegiatan mereka yang terus berjalan seakan tidak mengenal lelah.

Saat ia melihat mata Daehyun yang memancarkan rindu dengan lilitan nafsu.

Saat ia merasakan pusat Daehyun membesar dan menghangat karena dekapan dindingnya.

Saat ia mendengar suara lembut Daehyun bergetar puas sambil menyebutkan namanya.

Saat ia mencium aroma lelehan pusatnya bersatu dengan aroma lelehan pusat Daehyun.

Saat ia mengecap kembali seluruh bagian tubuh Daehyun yang selalu ia rindukan setiap malam selama 3 tahun yang terlewat.

Saat ia-

"Junhong~"

Suara lembut itu. Ia mencintai pemiliknya.

"Ya hyung"

Daehyun datang membawa satu kotak besar pizza dan sekotak ayam goreng.

"Apa masih sakit?" Meletakkan makanan itu di meja dan dengan cepat menghampiri Junhong.

Mengusap pipi Junhong yang masih memejamkan matanya.

Junhong bersyukur. Katakan ia cengeng dan tak tahu malu, karena saat ia kembali merasakan sentuhan kecil dari Daehyun, air matanya jatuh tiba-tiba.

"Hei sayang~ ku fikir acara menangisnya sudah selesai"

Daehyun tersenyum lembut, membawa tubuh Junhong ke dalam dekapannya dan mengusap punggung polos Junhong teratur.

"Aku kesakitan hyung~"

Berkata pelan dengan suara yang bergetar, membalas dekapan Daehyun tak kalah erat.

"Aku minta maaf, aku akan membelikanmu obat dan-"

"Tapi anehnya, aku bersyukur karena rasa sakit ini membuatku yakin kalau yang kita lakukan tadi bukan imajinasiku saja"

Terisak kembali saat merasakan tangan Daehyun dipunggung polosnya melaju turun kearah bongkahan daging dibagian bawah tubuhnya.

Mengusapnya kecil dan membuat Junhong meringis ditengah isakannya.

"Apa aku perlu membuatnya semakin sakit agar kau lebih yakin kalau ini bukan imajinasimu saja?"

Berbisik perlahan ditelinga Junhong membuat Junhong bergidik kecil.

Membaringkan kembali tubuh Junhong di ranjang dan membuka baju handuk yang ia kenakan setelah selesai mandi tadi.

Mengurung pinggul Junhong dengan kedua kakinya hingga lututnya beradu dengan ranjang.

Mendesis saat merasakan 'Daehyun mini' bergesekan dengan milik Junhong.

"Junhong, Aku tau ini gila tapi ugh!"

Menggeser sedikit posisi hingga pusatnya kembali masuk perlahan ke dalam lorong kenikmatan milik Junhong.

Melihat dengan jelas wajah pucat Junhong yang perlahan memerah dengan mata berkabut nafsu.

"Hyung~ im okay"

Junhong membelai paha Daehyun yang berada dekat dengan tangannya.

Mengangkat sedikit tubuhnya agar Daehyun lebih leluasa untuk masuk ke dalam dirinya.

Daehyun bergerak perlahan, mendesis kecil kala merasakan gelitik-gelitik pada pusat dirinya.

Hangat.

Dalam.

Dan membuat candu.

Ia benci mengatakan ini, tapi ia benar-benar dimabuk kepayang dan sulit mengendalikan tubuh serta fikirannya kala aroma tubuh Junhong sudah tercium indranya..

Semakin cepat dan dalam.

Meraih wajah Junhong dan memberinya lumatan panas dengan nafas yang tersengal-sengal.

"Hyungh~"

Junhong tau ini lebih dari gila, mereka melakukan ini seakan tidak akan bertemu hari esok.

Tubuh Junhong bergetar kala Daehyun dengan tepat menyentuh bagian terdalamnya, bagian teristimewa dari lorong miliknya.

Semakin bergetar kala mendengar suara Daehyun meraung kenikmatan.

Kala Daehyun bergerak dengan frustasi karena tak bisa mentolerir pusatnya yang dimanja habis-habisan oleh Junhong.

"Daehyunh ugh..hyung~"

Junhong benci mendesah, karena faktanya kala ia mendesah Daehyun akan bergerak semakin aktif dan tak kenal berhenti.

Tapi ia sadar, ia hanya manusia biasa yang akan bersorak gembira kala merasakan kenikmatan itu datang.

Dan kenikmatan itu datang dari orang yang ia cintai. Ia bersorak dalam hati, bersorak karena mampu membuat Daehyun bertekuk lutut padanya.

Bersorak karena tau Daehyun tak akan mampu pergi kemanapun tanpa dirinya.

Daehyun mungkin tak sadar, tapi Junhong tau. Sentuhan dan pelukan Daehyun berbeda dari dulu.

Pelukan dan sentuhan Daehyun semakin hangat dan semakin dalam.

Daehyun yang lebih dewasa sudah mengerti apa inti dari kegiatan yang mereka lakukan sekarang.

Daehyun yang lebih dewasa sudah mengerti untuk memperlakukan Junhong lebih baik dari yang dulu.

Daehyun yang lebih dewasa sudah mengerti bahwa kegiatan mereka bukan hanya menyalurkan nafsu yang memang secara manusiawi harus disalurkan.

Daehyun yang lebih dewasa tau, bahwa ini adalah kasih sayang.

Dan bisikan panas yang Daehyun hantarkan di telinga Junhong semakin membuat Junhong yakin bahwa kini Daehyun benar-benar sudah menjadi lebih dewasa.

"Aku mencintaimu…..sangat mencintaimu Choi Junhong"

….

….

Daehyun mengeram kala mendengar dering ponsel miliknya yang tergeletak di bawah ranjang.

Membuka matanya lalu melirik Junhong yang masih terlelap dipelukannya.

Bangkit lalu meraih ponsel itu malas-malasan.

"Hallo"

"Daehyun-ah!"

"Siapa ini?"

Bertanya karena tidak tahu siapa orang yang menelepon pada pukul 8 pagi ini. Mengganggu.

"Apa kau bersama Junhong?!"

Melebarkan matanya kala mendengar nama Junhong disebut.

"Nuguseyo?"

"Ini Himchannie. Apa kau sedang bersamanya?"

"Hm~ bagaimana kau tau?"

"Youngjae meneleponku, bisa aku bicara dengan Junhong?"

"Tidak"

"YA! Ada masalah dibutiknya karena kemarin dia lupa menghubungi Tuan David"

"Junhongku sedang tidur, aku akan menyuruhnya menguhubungimu nanti hyung"

"Apa kau menghabisinya habis-habisan?" Himchan bertanya dengan suara berbisik.

Daehyun terkekeh membayangkan raut wajah Himchan.

"Di mana kau sekarang hyung? Aku ingin bertemu dengan kau dan Yongguk hyung"

"Junhong tau tempatku, cepat bangunkan dia dan bersiaplah mendapat pukulan dari Yongguk karena berani meninggalkan adik kesayangannya hingga tak mau makan maupun tidur"

Daehyun menatap Junhong yang masih tertidur dengan wajah tenang.

Mencium dahi Junhong dan bergumam mengiyakan menjawab Himchan.

Menutup sambungan telepon dan bergegas bangkit keluar kamar.

…..

….

"Hyung! DAEHYUN HYUNG! HYUNGG!"

Daehyun terbatuk kala sedang meminum kopinya. Berlari ke dalam kamar dan melihat Junhong yang tengah menyapu pandangan kesekeliling kamar mencarinya.

"Hei, aku disini"

Junhong menghembuskan nafasnya lega, merentangkan tangannya meminta Daehyun memeluknya.

Daehyun terkekeh, memeluk Junhong sayang dan menarik telinga Junhong.

"Benar-benar manja"

Junhong terkekeh ditengah pelukannya.

"Aku lengket dan ingin mandi, bisa kau bantu aku?"

Daehyun mengangguk, menarik tangan Junhong untuk bangkit dan berjalan perlahan kearah kamar mandi.

"Apa benar-benar sakit?" Daehyun ikut meringis kala melihat Junhong meringis kecil saat bagian tubuhnya beradu dengan lapisan bathup di tengah rendaman air hangat.

Junhong mengangguk, merengut kecil dan menatap Daehyun tajam seakan semua ini salah Daehyun.

Daehyun menggerutu kecil dan dengan telaten mengusap tangan Junhong dengan lapisan busa harum berwarna merah jambu.

"Apa enak hyung?"

"Apa?"

"Jadi yang mengendalikan dalam hubungan?"

Daehyun memucat, membayangkan Junhong yang akan mengendalikan dirinya kala melakukan kegiatan diatas ranjang.

"Ten..tu enak, tapi itu, Junhong itu tak cocok untukmu okay?"

Junhong tertawa melihat ekspresi Daehyun.

"Aku memang tidak berniat mencoba, aku sudah puas dengan keadaan sekarang"

Daehyun mengangguk bangga, menggosok perlahan dada Junhong dan dengan jahil mencolek kulit Junhong kala menemukan nipple mungil disana.

"Hentikan bodoh!"

Junhong memukul kepala Daehyun yang tersenyum lebar.

"Woah, lihat.. kulitmu digigiti nyamuk eoh? Semuanya memerah"

Junhong mendengus tak percaya, maju mendekat dan menggigit bibir bawah Daehyun karena kesal.

Daehyun meringis mengusap bibirnya yang pasti tambah memerah.

"Lihat kanibal kecil ini, lihat saja!"

Menggelitik pinggang Junhong yang meraung kegelian.

Tertawa terbahak kala Junhong dengan kalap menyiraminya dengan air dari dalam bathup.

"Hentikan hyung~ tubuhku masih sakit~"

Junhong Aegyo, menatap Daehyun dengan pandangan bak malaikat yang datang dari negeri cahaya.

Daehyun berdegup kencang. Choi Junhong ini benar-benar penggoda.

"Berikan hyung ciuman disini, lalu acara mandinya akan selesai"

Daehyun menunjuk bibir tebalnya, meminta Junhong memberikan ciumannya disana.

Junhong mengangguk.

Maju mendekat lalu meraup bibir tebal Daehyun dengan bibir tipisnya.

Menariknya lalu mengulumnya sedikit.

"Selesai~"

Kembali merentangkan tangannya meminta Daehyun menyambutnya.

Daehyun menyambut tangan Junhong dan menuntun Junhong untuk berdiri. Dengan perlahan menyiram tubuh Junhong dengan air hangat dari shower yang berada didekatnya.

Selanjutnya membalut tubuh bagian bawah Junhong dengan handuk besar lalu meraih handuk baru unutk mengusap setiap inci kulit tubuh Junhong yang lainnya.

Junhong tersenyum menatap Daehyun yang tengah serius mengusap kedua kaki Junhong dengan handuk di bawah sana.

"Apa kau mencintaiku hyung?"

Daehyun mendongak, menatap Junhong lalu mengangguk mantap.

Bangkit lalu menarik pipi Junhong yang masih sedikit basah.

"Pertanyaanmu itu sama saja dengan pertanyaan 'apa matahari itu pusat tata surya?'. Jawabannya pasti Iya Junhong"

Junhong mengangguk puas, melangkah menuju rak kamar mandi tempat Daehyun biasa meletakkan baju handuk miliknya.

"Biar aku saja sayang~"

Daehyun melangkah mendahuluinya mengambil baju handuk itu.

"Aku bukan bayi yang tidak bisa melakukan apapun hyung~"

Merengek pada Daehyun yang tertawa gemas sambil memasangkan baju handuk pada tubuh tinggi Junhong.

"Kau memang bayiku"

Mengecup pipi Junhong lalu meraih tangan Junhong untuk berjalan bersama keluar kamar mandi.

"Aku lebih tinggi darimu hyung"

Junhong masih kesal karena dianggap Daehyun seperti bayi.

Daehyun merengut kesal.

"Aku lebih kuat darimu di atas ranjang"

"Hanya itu yang bisa kau banggakan? Heol~"

"Aku lebih mencintaimu, mau apa kau?"

Menjulurkan lidah menggoda Junhong.

"Enak saja, aku yang lebih mencintaimu hyung!"

"Aku mencintaimu sebanyak bintang diangkasa Junhong"

Junhong bergidik mendengar ucapan Daehyun.

"Hentikan! Kau menjijikan hyung!"

"Aku mencintaimu sebanyak ikan-ikan di samudra luas Choi Junhong~"

"Hyung! Aku membencimu! Hentikan!"

"Aku mencintaimu sebesar mataha-"

Mencubit perut Daehyun yang tertawa keras karena berhasil menggoda Junhong.

Berniat meninggalkan Daehyun di dalam kamar dan melangkah perlahan menuju dapur.

"OH CHOI JUNHONG~ AKU MENCINTAIMU SEBESAR PLANET JUPI-"

"HENTIKAN JUNG DAEHYUN! AKU AKAN MEMBUNUHMU!? BERHENTI DISANA"

Berlari tertatih mengejar Daehyun yang tertawa terbahak kala melihat wajah Junhong yang memerah malu.

Bahagia itu sederhana, cukup ada kau disampingku.

Aku…bahagia.

….

….

"Apa kau bahagia?"

Junhong berbalik, tersenyum lebar lalu memeluk erat sahabatnya yang sudah 3 bulan tidak ia temui.

"Jongup hyung~ kau benar-benar datang ternyata"

"Pernikahan sahabatku, aku pasti datang bagaimanapun kondisinya. Coba biar kulihat"

Melipat tangannya di dada dan menatap Junhong yang berbalut setelan putih dari atas hingga bawah.

"Kau melupakan satu hal sepertinya Jung Junhong"

Junhong melebarkan matanya panik, mengecek seluruh pakaiannya dan tidak menemukan satupun kekurangan.

"Dimana kau letakkan sayapmu?"

Jongup terkekeh kala merasakan pukulan Junhong di bahunya.

"Aku akan menuntutmu karena berani menggoda pasangan orang lain"

Suara Daehyun terdengar, tersenyum menatap Jongup yang juga tersenyum tulus kearahnya.

"Terima kasih sudah datang"

Menjabat tangan Jongup dan membungkuk berterima kasih.

"Aku minta maaf karena sudah menimbulkan kekacauan sebelumnya Daehyun-shi"

Daehyun menggeleng, berjalan kearah Junhong dan menggenggam tangan Junhong erat.

"Dia ada disisiku sekarang, mari kita lupakan kejadian yang dahulu"

Jongup mengangguk setuju, tersenyum menatap Junhong yang tertawa bahagia, tawa yang tak pernah gagal membuat Jongup tertarik hingga…..

"Tuan Jung maaf menggangu, Tuan Park sudah datang dan ingin bertemu dengan anda"

Jongup percaya, Tuhan memiliki lebih dari satu malaikat ciptaannya.

Selain Junhong, ada malaikat lain yang tak kalah bersinar dengan pipi yang nampak halus dan suara yang melantun merdu.

Rambut hitam legamnya membuat Jongup sulit melepaskan pandangannya dari orang itu.

Harum tubuhnya yang tetap jelas tercium ditengah banyaknya aroma lain diruangan ini.

"Namanya Yoo Youngjae hyung~ dia sahabat baik dan juga asisten Daehyunku"

Bahkan suara halus Junhong tak mampu membuat Jongup berpaling dari sosok itu.

"Dan yang paling penting, dia single"

Junhong berbisik kecil di telinga Jongup, membuat Jongup bereaksi dan dengan cepat melangkah menuju sosok itu.

Sosok yang membuatnya tertarik dipertemuan pertama mereka.

Dan yang paling penting adalah…..dia single.

…..

…..

Paris, 8 Years Later..

"Nooo, Jung Haru letakkan itu di tempatnya"

"Tidak Daddy, Maru kemarin boleh meminjam ini kenapa aku tidak!"

"Demi Tuhan, letakkan atau aku akan menangis sekarang juga"

Junhong berlari mengejar bocah lelaki berumur 6 tahun, bocah berwajah imut dengan hidung mancung yang sekilas terlihat seperti Daehyun.

"Aku akan mengadu pada ayah!"

"Daddy akan meminjamkanmu sketsa yang lain, tapi tidak yang itu okay Haru"

Mencoba merayu Jung Haru yang merengut keras kepala.

"Maru meminjam sketsa yang lain sayang, kalau begitu Daddy akan membelikanmu kertas sketsa kosong yang bisa kau gambar sesukamu"

Haru tampak mendengarkan, terlihat sekali tertarik dengan tawaran itu.

"Apa kita deal sekarang? Daddy benar-benar membutuhkan sketsa itu sayang ayoolah"

Haru perlahan maju mendekat kearah Junhong dan meyodorkan sketsa itu.

"Sorry daddy, aku hanya benar-benar menyukai sketsamu"

Junhong memeluk anak itu, mengusap rambutnya sayang dan mengecup pelipis Haru.

"Daddy akan membawakan banyak kertas sketsa dan pensil warna untukmu, kau mau?"

Haru mengangguk dipelukan Junhong.

"Dimana adikmu?"

"Ayah mengajaknya membaca buku super tebal diperpustakaan"

"Kau tidak ikut?"

"Aku mengantuk bahkan saat melihat lembar pertama"

Junhong tertawa, menuntun Haru untuk melangkah menuju perpustakaan di rumah besar ini.

"Apa kita akan membaca buku?"

Junhong menggeleng.

Mengacak rambut Haru dan menarik hidung anak itu.

Membuka pintu besar ruangan dan menyapu pandangan keseluruh tempat mencari sepasang ayah anak yang memiliki hobi sama 'membaca buku'.

"Disini hanya ada empat langkah metode pengembangan prototypeevolusioner Ayah"

"Benarkah? Kenapa disini ada 5?"

"Menurut hanya ada 4, jangan menambah-nambahkan"

Daehyun tertawa gemas, menarik pipi Jung Maru yang langsung menepisnya kesal.

"Aku bukan anak-anak lagi Ayah"

"Ayaaaaah~"

Suara lain terdengar, suara yang terdengar melengking membuat Daehyun dan Maru mengerutkan kening.

Haru datang dan langsung duduk dipangkuan sang ayah tanpa aba-aba.

"Coba tebak aku akan dibelikan apa oleh Daddy?"

"Mainan? Susu? Atau buku cerita?"

"Please, aku bukan anak-anak ayah. Aku bahkan lebih tua dari Maru"

Maru yang mendengar hanya mengendus malas.

"Daddy akan memberikanku alat-alat gambar, kertas sketsa, pensil warna, papan gambar dan semuanyaaaa"

"Benarkahh?"

Daehyun mencium pipi Haru gemas.

"Hng~"

"Dimana Daddymu?"

"Dia pergi lagi keluar setelah mengantarku kesini"

Daehyun mengerutkan alisnya bingung.

"Apa kau nakal lagi? Apa daddy marah lagi?"

Haru menundukkan kepalanya.

"Hanya sedikit masalah tadi ayah"

Haru menunjukkan ujung jarinya seakan menunjukkan betapa sedikitnya masalah tadi.

"Dia merebut sketsa daddy dan membawanya lari keliling rumah. Bahkan ada satu sketsa daddy yang kotor terkena lumpur di taman belakang"

Maru menjelaskan dengan mata yang tak lepas dari buku tebal bergambar milik ayahnya.

"Benar begitu Haru?"

Hidung Haru kembang kempis menahan tangis, menatap Maru kesal yang masih santai membaca buku.

"Kau membaca buku dulu disini bersama Maru, jangan nakal okay Haru? Ayah akan membelikanmu buku nanti"

Haru memukul ayahnya kesal.

"Aku tidak suka buku ayah!"

Daehyun tertawa gemas, benar-benar mirip Junhong.

"Arraseo, kau tunggulah disini dan jaga Maru. Kau kakaknya kan?"

Haru mengangguk senang, sebaliknya dengan Maru yang merengut kesal.

"Maru sedang membaca apa?"

"Haru jangan coba-coba menganggu, pilih satu buku dan baca dengan tenang"

Daehyun tertawa melihat kedua anak menggemaskan itu.

Keluar perpustakan dan berjalan menyusuri rumah mencari Junhong.

"Kau sedang apa?"

Memeluk tubuh Junhong dari belakang dan menggigit bahu Junhong gemas.

"Aku sedang membuat susu, kau mau?"

"Tidak, apa Haru membuatmu kesal lagi?"

Junhong tertawa, berbalik dan mengecup bibir Daehyun.

"Tidak, dia anak baik walau kadang sedikit rewel"

Daehyun tertawa mengingat Haru yang hobi merajuk dan rewel.

Berbeda dengan Maru yang cenderung diam dan tenang.

"Apa mau tambah?"

"Apa? Anak?"

Daehyun mengangguk.

"Ya, aku juga berfikir begitu, nanti saat kita ke Korea kita bisa mengadopsi anak lagi untuk adik Haru dan Maru"

"Apa kau tidak repot?"

"Mungkin akan repot, aku tetap lelaki walau bagaimanapun hyung~"

Tertawa dan memeluk tubuh Daehyun.

"Kau akan ke butik?"

Junhong mengangguk, menciumi leher Daehyun sayang.

"Junhong, apa kau bahagia?"

Junhong terkekeh membuat Daehyun bingung.

"Apa pertanyaan itu lucu?"

"Tentu lucu, Pertanyaanmu itu sama saja dengan pertanyaan 'apa matahari itu pusat tata surya?'. Jawabannya pasti Iya Hyung"

Daehyun tertawa melihat Junhong yang menjulurkan lidahnya meledek.

"Kau masih ingat?"

Junhong mengangguk.

"Aku ingat tentu saja, segala tentangmu aku ingat. Bagaimana keluarga di Korea hyung?"

"Lancar, perusahaan keluarga kita lancar setelah keduanya dibantu oleh Yongguk hyung dan Himchan hyung. Apa kau rindu Korea?"

Junhong mengangguk kecil.

"Ya, aku rindu Korea. Aku benar-benar rindu suasana disana"

"Kita akan kesana libur musim panas nanti, bersabarlah"

Maju mendekat dan mengecup bibir Junhong cepat.

"Ayo kita ke butik hyung.. ini sudah hampir jam 11"

Daehyun mengangguk dan berlari menuju perpustakaan menjemput Haru dan Maru.

Junhong tersenyum, menatap cincin hitam pekat yang masih melekat di jari manisnya, mengusapnya dan mengingat semua yang sudah terjadi selama 13 tahun ini.

Mengenal Daehyun, berpacaran, putus hubungan, kembali bersama sampai akhirnya memutuskan menikah dan mengadopsi anak untuk selanjutnya menjalankan kehidupan jauh dari Korea untuk mengejar mimpi keduanya.

"Hyung~ kau benar-benar membuktikan janjimu untuk tumbuh sukses dan membangun butik bersamaku. Terima kasih"

Menghampiri Haru dan Maru yang berlari kearahnya, memeluk kedua anak laki-laki itu dan menuntunnya berjalan keluar rumah.

Tertawa keras saat meninggalkan Daehyun yang berteriak kesal sambil mengejar ketiganya untuk berjalan bersama.

Jatuh cinta itu mudah.

Asal itu kau, aku pasti jatuh cinta.

…..

"Hyung..aku menyukaimu"

"Tapi…"

"Kau lihat butik disana?"

Pemuda yang dipanggil 'hyung' mengangguk.

"Butik super besar itu milik orang Korea yang tinggal bersama dengan dua anak laki-lakinya di Paris ini"

"Benarkah?"

"Ya, jadi ku mohon. Aku menyukaimu hyung. Saat aku sudah berhasil nanti kita akan membuat yang seperti itu"

"Butik?"

"Bukan. Kita akan membuat toko kue terbesar di Paris. Aku yang mengurus bisnisnya dan kau yang mengurus toko kuenya"

"Tapi Jongin….."

"Kyungsoo hyung, aku mohon. Aku benar benar menyukaimu. Aku akan belajar yang rajin agar impianku untuk bersamamu bisa tercapai"

Kyungsoo tersenyum, meraih tangan Jongin dan menggenggamnya erat.

"Jongin, mari kita tetap bersama, sampai kita bisa mewujudkannya impian itu bagaimana?"

"Hyu…ng?"

"Bagaimana?"

Jongin mengangguk cepat, mengecup tangan Kyungsoo yang tengah tersipu malu.

"Ya hyung, mari kita tetap bersama sampai kita bisa mewujudkan segalanya"

….

Yang kau butuhkan hanya waktu untuk jatuh cinta, merasakan kasih sayang dengan cara cemburu, menghargai pasanganmu agar tidak saling meninggalkan, saling merindukan dan tidak terpisahkan, mendengarkan kata hati saat menghadapi masalah sulit dan mencintai pasanganmu hingga merasa tidak dapat hidup tanpanya.

Cinta itu mudah.

Cinta itu indah.

Cinta itu mudah jika itu kau. Dan cinta itu indah jika itu juga kau.

…..

FIN

…..

AKHIRNYAAAA~~

Bersyukur akhirnya fanfic ini selesai juga.

Aku makasihhhh banget buat kalian yang ngikutin dari chapter 1 sampai selesai.

Buat kalian yang rajin review, buat kalian yang tadinya ga review tapi akhirnya mau review ataupun buat kalian yang masih males buat review.

Aku makasih bangeeeet.

Makasih buat: NAP217, Kim Rae Sun, zakurafrezee, jimae407203, hazel, Dae, Daelogvrl, daehana, NathalieVernanda, jxnhxngie, daehyun, ichizenkaze, KekeMato2560, Guest, , kimchunwae, GI24, pudtrie, kimparkshi1, bang3424, lalany, Daelo SB, neobakke, rrashjl, bunbunchan, 0907, tarassi, , Hana Kim, daeloshipper, kiki, Rahae Angelfishy Dae, Daelo SB yang ganti nama jadi Daelo Jung kkkk, , fangurllss.

Buat daelo SB, aku udah ga maen fb. Maaf ya, aku lupa passwordnya masa huhuhu…

Sampai jumpa di fanfic lain.

Buat love bus, dilanjut pasti dilanjut.

Makasih yaaaa.

Pyoooong~