- VI -
(Hoseok POV)
Mereka bilang aku berbahaya. Mereka bilang aku kotor. Mereka bilang aku tidak pantas hidup. Jadi mereka membuangku. Mereka berpaling dariku. Mereka meninggalkanku sendiri. Bahkan mereka mengunciku di sebuah gudang. Sampai ada seorang pertugas yang membawaku pergi dari sana dan menempatkanku di ruangan serba putih ini. Ruangan yang ketika pertama kali kulihat akan terlihat seperti surga. Karena semua permukaannya lembut seperti spons. Tapi mereka bilang ini bukan surga, ini hanya sebuah ruang rumah sakit yang khusus untukku. Ya, aku tau, aku memang tidak pantas ditempatkan di dalam surga. Mereka juga berkata kalau aku lebih pantas tinggal di neraka dibandingkan dengan surga.
Aku membuka mataku dan menatap langit-langit ruangan ini. Ini sudah tahun ke lima semenjak aku dikurung disini. Kenapa aku masih disini? Mereka bilang aku akan pulang jika aku sudah sembuh. Tapi mereka bahkan ke ruangan ku hanya untuk mengajakku berbicara dan tidak menyembuhkanku. Memberi obat saja tidak. Tapi aku bahkan tidak tau apa penyakit yang sedang kuderita, karena aku tidak merasa sakit sama sekali. Aku bangun dan menatap kedua lenganku yang terbalut baju rumah sakit ini. Panjang lengan baju ini melebihi ukuran tangan asliku. Dan keduanya diikat menyilang ke belakang punggungku. Aku tidak mengerti, kenapa aku harus diikat seperti ini?
Saat aku sedang sibuk berpikir tentang itu semua, aku merasakan kalau satu-satunya pintu dari ruangan yang kutempati ini baru saja dibuka. Aku menengok dan melihat seorang pria gemuk memakai jas putih layaknya dokter disana. Aku mengenalnya, dia dokter yang biasa menanganiku. Bisa kulihat seorang wanita di belakangnya, wanita itu temannya. Orang yang biasa membawa papan di tangannya. Pria gemuk itu tersenyum padaku dan menyapaku sepeti biasa.
"bagaimana keadaanmu hari ini Hoseok?"
Aku terdiam dan masih menatapnya seperti yang biasa kulakukan pada dokter lain. Ia tersenyum melihat reaksiku. Aku juga masih terdiam menatapnya saat ia duduk di kursi yang dibawa masuk oleh beberapa petugas rumah sakit. Ia menunjuk salah satu kursi kemudian menyuruhku duduk disana. Aku masih terdiam sampai salah satu petugas rumah sakit melepaskan ikatan pada tubuhku dan membawaku ke depan dokter itu untuk duduk berhadapan dengannya. Bisa kurasakan permukaan meja dan kursi itu lembut. Mungkin mereka melapisinya dengan busa, seperti biasa.
"ya Hoseok, jadi... bagaimana hari-harimu? Apa sudah berani bercerita pada kami?"
Apa yang dia katakan. Terkadang aku berfikir kalau setiap dokter yang datang kesini itu aneh. Mereka selalu berganti wajah dan selalu menanyakan hal yang sama setiap kali bertemu. Dan mereka juga selalu berkata "ah aku tau, kau mau ini?"
Aku terkejut ketika ia menyodorkan pisau. Aku melihat senyumnya yang seakan berkata 'ambilah'. Perlahan tanganku tergerak mengambilnya. Setelah menatapnya beberapa lama, aku mulai menggoreskan pisau itu ditanganku. Ah~ ini dia, rasa yang aku suka. Aku merasa seakan-akan aku memakai narkoba dengan dosis tinggi. Tapi ini tidak cukup. Aku ingin lebih banyak darah. Ya, aku ingin. Aku akan mengambilnya.
"jadi Hoseok, apa kau sudah mau bercerita padaku? Apa kau ingat sesuatu? Kejadian saat itu?"
"ya, aku ingat" ucapku sambil menunduk dan memberikan senyuman pada dokter kesayanganku ini.
Aku mendongak sedikit dan melihat air mukanya mulai berubah. Ya. Ya! Aku menyukainya! Raut wajah itu! Teringat olehku saat aku menjadi iblis. Iblis yang membunuh siapa saja. Dan dia, aku ingin darahnya. Aku menginginkannya. Aku menutup pintu ruangan ini dan berjalan ke pojok ruangan, dimana disana terdapat seorang dokter baru yang ketakutan. Mereka memberikannya padaku. Untuk mainanku. Tentu saja, kalian memang baik. Para manusia sok suci yang baik. Dan penuh dosa. Aku akan menikmati mainanku ini.
(Hoseok POV End)
