Imagine

-bleach©tite kubo-

Pairing: Bya-Ruki

Rate: M

Warning: out of character, Gajeness, etc. tempat yang gak spesifik yang penting Jepang XD #digilas truk.

~Selamat membaca~

#chapter 5- Masa lalu#

Masa lalu adalah bagian dari saat ini dan masa depan. Karena masa lalu adalah salah satu wadah pembentuk kriteria seseorang dalam kehidupan.

Saat itu di taman kota terdapat tiga orang pria tampan yang kini tampak sedikit lusuh dan dua diantaranya babak belur karena perkelahian yang sebelumnya terjadi, sedang berhadap-hadapan. Si pria yang berwajah stoic sedang mendengarkan pria berambut merah yang wajahnya tak kalah lebam dengan wajahnya, dan sesekali pria yang berambut orange dengan wajah yang memiliki kerutan di dahi ikut menimpali.

"Aku adalah taman masa kecil Rukia," ucap pria berambut merah, Renji mengawali.

"Kami, mungkin lebih tepatnya." timpal pria berambut orange. Ichigo. Renji hanya bisa menghela nafas.

"Ya... ya... baiklah..., kami adalah teman masa kecil Rukia. Tapi aku lebih lama berteman dengannya daripada pria jeruk satu ini," ucap Renji sebal. Ichigo hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pria stoic yang notabene adalah Byakuya masih setia mendengar ocehan mereka dalam diam.

"Awalnya Rukia anak yang ceria, penuh semangat. Ia dibesarkan dalam keluarga yang 'sehat', dan mendapat pendidikan yang sangat baik hingga Ibunya meninggal karena sakit yang dideritanya." Ucap Renji pada akhirnya.

"Sakit apa?" tanya Byakuya menyelidik.

"Mana ku tahu, saat itu aku masih delapan tahun. Apa ada anak kecil yang mengerti nama penyakit." jawab Renji ketus, sambil sesekali memegang sudut bibirnya yang koyak dan menahan sakit.

"Setelah kematian Ibunya, Rukia menjadi sedikit murung. Tapi itu tak seberapa karena ia masih bisa bangkit meskipun perlahan. Saat itu sekretaris Ayahnya selalu mengunjunginya dan berusaha menghiburnya, Ia layaknya seorang Ibu pengganti saat itu." lanjut Renji mulai menahan emosinya.

"Apa dia Ibu tiri Rukia saat ini?" tanya Byakuya singkat.

"Hn." jawab Renji dan anggukan Ichigo.

"Disitulah awal mula penderitaan Rukia, rasa sakit hatinya pada wanita brengsek itu. Dia menikahi ayah Rukia hanya demi hartanya, hanya demi ambisinya, dan semua kebaikannya hanya kebohongan," ucap Renji dengan nada geram.

"Saat itu, aku melihat Rukia dibawa ibu tirinya ke taman ria. Aku ingat wajah Rukia yang ceria waktu digandeng olehnya. Ia membawa Rukia mengelilingi taman ria dan akupun menghampirinya, kami akhirnya bermain bersama. Wanita itu sesekali melirik jam tangannya dengan wajah gelisah. Begitu sore tiba, akupun pamit untuk pulang dan kulihat wanita itu merasa lega. Diam-diam aku bersembunyi di balik wahana terdekat dan mengikuti wanita itu." ucap Renji yang berusaha mengingat kejadian lama tersebut.

"Aku tak menyangka kalau awalnya kau penguntit." ucap Ichigo takjub yang kontan mendapat jitakan dari Renji.

"Bukan begitu bodoh..., aku mencurigai si wanita rubah itu." ucap Renji membela diri.

"Ehm..., lalu tak berapa lama datanglah seorang pria mendekati mereka. Ia berbicara dengan wanita itu dan entah mengapa itu seperti kesepakatan. Setelah mereka berjabat tangan, wanita itu meninggalkan Rukia dengan pria asing dengan seringai anehnya. Nnoitra." Lanjut Renji dan Ichigo seperti mendapat pencerahan mendengar nama yang disebutkan oleh Renji.

"Lalu? Apa yang terjadi?" tanya Byakuya yang penasaran.

"Aku mendatangi pria itu dan menyuruhnya melepaskan Rukia, tetapi pria itu malah menyeringai dan memukuliku hingga pingsan. Saat aku tersadar, kami sudah ada di gudang tua. Disana banyak anak-anak yang seusia kami." ucap Renji sambil menyapu wajahnya dengan kedua tangannya. Wajahnya dan Ichigo berubah mendung.

"Kami dijual." ucap Ichigo lirih dengan senyum lemahnya.

'deg'

Jantung Byakuya berdebar kencang karena kaget mendengar apa yang diucapkan Ichigo. Matanya yang sedari tadi fokus kini terbelalak dan mulutnya sedikit terbuka tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun. Tak dirasakannya perih yang hinggap di sudut bibirnya karena pukulan Renji tadi.

"Disanalah aku bertemu dengan Rukia, Renji, Chad, dan disekap bersama-sama selama lebih dari satu bulan. Kami...," ucap Ichigo tertahan.

"Kami disiksa dan dipaksa untuk bekerja. Salah satunya memaket psychotropica. Dan kadang-kadang kami bekerja saat dini hari di underground." lanjut Ichigo dengan suara tercekat.

"Kami diberitahu bahwa kami akan dijual ke *****, dan ini adalah perbekalan kami agar dapat bekerja disana," ucap Ichigo berusaha untuk tenang.

"Disanalah kami menemukan ikatan. Aku, Renji, Rukia, Chad, dan Inoue sudah seperti saudara, kami saling melindungi." lanjut Ichigo yang telah menemukan ketenangannya.

"Setelah tiga bulan, maka kami siap untuk diberangkatkan melalui kapal. Dan kami kembali dipaksa memasuki kontainer bersama para wanita dewasa dengan persediaan makanan yang tak mencukupi," ucap Renji tertunduk.

"Dapat kami rasakan kontainer tersebut bergerak dan tiba-tiba terhenti. Saat itu kami ketakutan dan panik kalau-kalau terjadi sesuatu hal yang buruk, meskipun kami tahu kalau keadaan kami saat itu lebih dari kata buruk. Kami mendengar suara teriakan-teriakan dan tembakan-tembakan yang membuat kami semua diambang keputusasaan." timpal Ichigo.

"Beberapa jam kemudian, kami rasakan kontainer tersebut mulai bergerak kembali dan menjejak bumi. Pintu yang tadinya tertutup rapat kini mulai terbuka dan kami melihat polisi berpakaian rompi lengkap dan bersenjata membuka pintu tersebut." ucap Ichigo.

"Bebas. Itulah yang kami rasakan saat itu." Ucap Renji menimpali seraya tersenyum.

Entah mengapa akhir-akhir ini Byakuya selalu mendapati dirinya tertegun jika menyangkut hal tentang istrinya. Apa yang telah dilakukannya pada Rukia serta fakta-fakta menyangkut istrinya itu selalu membuatnya terkejut hingga kehilangan kata-kata. Berat. Masa lalu istrinya itu begitu berat dibandingkan masa lalunya dengan Hisana. Malah tak sepadan dengan apa yang telah dilaluinya bersama Hisana dengan apa yang telah dilalui oleh Rukia. Kini ia merasa seperti orang bodoh. Manusia terbodoh yang ada dimuka bumi karena mengkhianati kepercayaan istrinya hanya karena masa lalu yang dianggapnya sangat penting saat itu dan sangat tidak penting untuk saat ini.

Byakuya akhirnya mengerti akan tindakan Rukia pada Ibu tirinya yang sangat diluar logika. Kebenciannya serta kemarahannya. Hal tersebut dikarenakan rasa yang terkhianati, dan ia ikut andil dalam pengkhianatan tersebut. Diusapnya wajah tampan itu dengan kedua tangannya hingga ke kepala. Wajah itu kini tampak lelah dan tersiksa dilihat dari kerutan di dahinya serta sinar mata yang sedikit nanar.

"Rukia, maafkan aku." gumam Byakuya.

Renji yang sudah merasa lelah lalu merebahkan tubuhnya. Dilihatnya awan-awan yang berarak perlahan, sedikit demi sedikit meninggalkan langit yang mulai tampak biru jernih.

"Hei, kenapa kau mencari gara-gara denganku? Bukankah kita belum pernah bertemu? Aku bahkan tak menghadiri pernikahan kalian." Tanya Renji tanpa memandang Byakuya.

"Aku selalu memperhatikan kalian saat bersama Rukia. Aku tahu kalian adalah sahabat Rukia." Jawab Byakuya yang juga tengah memandang langit.

"Berarti kau juga penguntit, heh?!" ucap Ichigo tertawa.

"Mungkin," jawab Byakuya sekenanya.

"Sebelum menikah, aku mencari tahu tentang kesibukan Rukia. Tapi aku tak pernah mencari tahu masa lalunya. Aku tahu kalau Rukia membenci Ibu tirinya, tapi aku tak tahu penyebabnya. Kukira itu hanya rasa benci seorang anak yang tak ingin posisi Ibunya digantikan oleh orang lain." lanjut Byakuya.

"Setelah kau tahu, apa yang akan kau lakukan?." tanya Ichigo.

"Aku akan meminta maaf padanya." jawab Byakuya.

"Apa kalian tahu dimana Rukia sekarang?" Byakuya balik bertanya.

"Ia ada di rumah orangtuanya, tadi ia mendapat telepon dari ayahnya." jawab Renji.

"Terima kasih." ucap Byakuya singkat.

"Aa... ." jawab Renji singkat.

"Hei, kau datang terlambat." ucap Renji tiba-tiba pada Ichigo.

"Ah... haha... maaf... aku tadi habis kencan dengan shiro-kun." jawab Ichigo sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Dasar." ucap Renji lalu menutup matanya sejenak, mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan.

Lalu Byakuya bangkit dari duduknya dan perlahan meninggalkan sahabat-sahabat istrinya di taman kota. Ia akan segera menuju kediaman Ukitake agar dapat bertemu dengan istrinya dan menyelesaikan permasalahan yang ada dalam rumah tangga mereka. Tak dihiraukannya perasaan aneh yang tadi dirasakan saat ia melihat Ichigo. Yang ia inginkan saat ini hanya bertemu dengan Rukia, istrinya dan memeluknya seerat mungkin karena berbagai perasaan yang berkecamuk dalam dada. Sedangkan disisi lain, dari kejauhan orang-orang yang berlalu lalang di taman kota melihat pemandangan yang janggal tersebut dengan berkerumun dan berbisik-bisik. Entah apa yang mereka omongkan, yang pasti untuk sementara ketiga pria tampan tersebut akan menjadi gosip hangat setidaknya untuk satu minggu kedepan.

Byakuya lalu memacu mobil sport kesayangannya hingga tiba dirumah Ukitake dalam sekejap. Iapun memarkir mobilnya dan tergesa-gesa keluar agar dapat segera bertemu dengan Rukia. Saat itu Rukia sedang berada di taman belakang rumahnya. Ia kini berbincang-bincang dengan Ayahnya tanpa ada 'Ibu' disekitar mereka. Ketika Byakuya telah menemukan Rukia, saat itu ia segera mendekati dan memeluknya dengan erat.

"Rukia... Rukia... ." panggil Byakuya berulang-ulang.

"Byakuya, apa yang terjadi padamu?" tanya Ayah.

"B-Byakuya?" ucap Rukia terkejut.

Tak diindahkannya pertanyaan Ayah mengenai kondisi tubuhnya yang babak belur. Saat itu yang ada dalam benak Byakuya hanya Rukia, istrinya, belahan jiwanya, tak ada seorangpun yang dapat mengganggunya baik itu Ukitake Juushirou maupun Hisana. Yang ada hanyalah dirinya dan Rukia, cukup dirinya dan Rukia.

T.B.C

a/n

ah... akhirnya... AKHIRNYA SAYA UPDATE JUGA... #teriakteriakpaketoa#didordonkannouji#.

ugh... uhuk... saya sekarat... T_T. ehem... gomen ne minna, saya sangat telat updatenya. Ini karena kondisi saya baik fisik maupun mental saya sedang down gara-gara test yang saya ikuti dan ide dari fic ini juga hilang ditelan alam #alammanaya?#plak XD#. Di chapter 5 ini saya sangat menemukan kesulitan akan masa lalu Rukia, bahkan saya sampai membuat 2 draft hanya untuk chapter ini lho... tapi hanya penulisan yang seperti ini yang dapat saya tuangkan dalam chapter 5. Jadi sekali lagi maafkan saya jika chapter kali ini pendek dan sangat tidak memuaskan #nangisbombay#dibankai Byakuya, tepar#. Lagi-lagi saya menempatkan Byakuya sebagai tokoh yang OOC, tapi gak apa kan? Kan sudah ada warning diatasnya... hehehe. Entah kenapa saya merasa chapter kali ini sangat absurd, apakah ada readers yang setuju sama saya? Ayo angkat tangannya... \(^0^)/

dan chapter kali ini juga tidak ada pemenggalan sisi yang biasanya saya lampirkan seperti peloncatan waktu dan tempat karena settingan waktu dan tempatnya sejajar atau bisa dibilang satu kesatuan. Semoga ini tidak mengganggu readers sekalian #bungkukbadan#.

Karena saya sudah banyak ngemeng di a/n, so sekarang waktunya ngebalas review... iyeeiii... \(^0^)/

Aii Sakuraii

Makasih udah memahami perasaannya Rukia, Aii-san... saya juga nangis bombay dibuatnya... #hahasayabohong#diemutahishogijishou#. Oh... iya... saya udah baca... secara, saya gak mau ketinggalan sama berita yang satu ini. Btw yama-jii akhirnya meninggal juga ya? Hem... apa jadinya sereitei tanpa yama-jii? -_-'

Ah, gomen ne Aii-san saya telat update. Semoga Aii-san masih berkenan membaca fi gaje saya dan sudi mereview.. #puppyeyes#. Yup, makasih udah review... ^_^

Voidy

Oke, makasih Voidy-san atas koreksiannya... sepertinya fic saya memang banyak kejanggalannya. Saya saja jadi ragu sama jati diri saya, hahaha #plakXD. Semoga Voidy-san tidak bosan mengoreksi karya saya... #bungkukbadan# big hug Voidy-san... ^_^

Moku-Chan

Iya, makasih udah setia menunggu fic saya Moku-Chan... :D

Iya nih, lama... saya kehilangan ide buat chap ini hahahaha... semoga Moku-Chan masih sudi mampir ke fic saya dan meninggalkan jejak... XD

Ok ok, request ditampung dulu ya... ^_^d

Zero BiE

Owow... nee-chan... saya terharu melihat jejak nee-chan disini #nangislebay# ow, ini kedua kalinya nee review fic ini lho... hahaha... :D

Hem... sayang sekali... saya masih straight si nee-chan, jadi bersabarlah kalau ngebaca fic saya... ahahahahaha... #didor# ok ok, makasih atas koreksiannya ya nee-chan, semoga kedepannya saya bisa menulis dengan lebih baik lagi ^_^ makasih udah review...

ImyGie-Chan

Ohohohohoho... #ketawalebay# apakah rasa penasarannya sudah terobati Gie-Chan? Semoga sudah... ^_^

Apa? Lemon? Euh... maag saya lagi kambuh, jd saya gak bisa mengkonsumsi lemon... #plakXD#

Hisana mati? Akan saya tampung dulu idenya... ^_^, emang sih lebih baik Hisana mati coz saya juga gak suka sama Hisana disini, hahahaha... ^_^". Makasih udah review...

Rinrin

Nih... saya udah update loh... \(^0^)/ biarpun telat... ~_~' #pundung#

Nanti review lagi ya rinrin-san... # #dirajam#

Makasih udah review... ^_^

Joshua-sama

Yooo... selamat datang kembali... :D

Hahaha... saya sebel liat muka byakuya yang kinclong, jadinya saya buat babak belur... secara, saya iri dengan kekinclongan byakuya... hahahahaha #plakXD

Apa? Rukia kelam? Hem... kelambu? #digilas

Ini saya sudah update loh, joshua-sama... semoga chapter ini menghilangkan rasa penasaran anda joshua-sama #bungkukbadan#dilempar XD

Makasih udah review... ^_^

Ah... akhirnya selesai juga saya ngebalas review... #taburtaburbunga#. So? Saya harap readers dan senpais sekalian masih sudi membaca fic gaje saya ini dan meninggalkan jejak... meskipun saya suka telat updatenya, tapi review dari kalian adalah penyambung fic saya ini... dan untuk silent readers sekali lagi saya ucapkan terima kasih karena sudi mampir kesini... ^_^

Regards,

Yukishirozakura.

RnR Please... XD