You've Got Me From Hello
Remake by Santhy Agatha's Novel
with the same title
Hunhan as Maincast
GS(Genderswitch) for uke, Typo(s)
"Cinta dan penghianatan hanyalah dibatasi oleh satu garis penghalang yang bernama :kesetiaan"
Semua ini terlalu cepat, Luhan membatin dalam hati. Dia bahkan tidak tahu apapun tentang Sehun dan begitu juga sebaliknya. Tetapi ajakan Sehun untuk berjalan bersama dan menelaah arti dari kebersamaan mereka terasa begitu menggoda.
"Luhan?" Sehun memanggil lagi, mulai tidak sabar dengan kediaman Luhan, dia butuh jawaban, segera.
Setelah itu dia bisa bertindak cepat, meluruskan semua rencananya.
Luhan menatap Sehun, melihat kesungguhannya di situ.
Sehun memang luar biasa tampan, tetapi lelaki itu tampaknya tidak pernah sadar menebarkan pesonanya ke orang-orang, tidak seperti Kris. Dan Sehun juga baik, lembut, serta menghormatinya, mungkin Luhan bisa mencobanya. Dengan lebih sering bersama Sehun, mencoba mengenalnya lebih dekat dan kemudian memutuskan apakah akan membuka hatinya ke dalam hubungan yang lebih serius dengan Sehun atau tidak.
Luhan menganggukkan kepalanya.
"Aku bersedia mencobanya, Sehun. Tetapi hanya itu, kita bersama-sama berusaha untuk lebih saling mengenal. Dan mengenai hasil akhirnya mungkin bisa kita lihat nanti."
Sinar kemenangan muncul di mata Sehun, tetapi lelaki itu dengan cepat menutupinya, membuat wajahnya tampak lembut.
"Terima kasih atas kesempatan yang kau berikan ini Luhan. "
Pagi harinya, Sehun yang sedang duduk di ruangannya di kantor pusat kedatangan tamu. Tamu yang sudah sangat di tunggunya. Seorang lelaki yang sangat tampan, dan juga sahabatnya.
"Jadi kau meminta bantuanku?" Kai menatap Sehun sambil tersenyum manis.
"Kaulah satu-satunya orang yang kupercaya bisa melakukannya."
Kai tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mungkin di dunia ini, hanya kaulah satu-satunya orang yang meminta sahabatnya untuk merayu tunangannya."
Tatapannya berubah serius. "Apakah kau yakin ini akan berhasil? Irene kelihatannya sangat mencintaimu dan dia sudah akan menikah denganmu. Mungkin saja dia sangat setia kepadamu dan susah dirayu?"
Mata Sehun bersinar dingin dan kejam.
"Dia sudah pernah mengkhianatiku sekali karena aku kurang memberinya perhatian. Aku yakin dia akan melakukannya lagi kalau ada kesempatan."
"Hai."
Sehun sudah menunggu di depan lobi apartemen Luhan, mereka berjanji untuk menghabiskan hari sabtu ini bersama-sama. Memberi kesempatan kepada diri mereka untuk saling mengenal lebih dekat.
"Hai juga."
Luhan berdiri gugup di depan Sehun, menyadari penampilannya yang sederhana jika dibandingkan dengan penampilan Sehun yang begitu gaya.
Oh, lelaki itu tidak berpakaian macam-macam. Dia hanya memakai celana jeans warna hitam pekat dan T-shirt polo bergaris, tetapi entah kenapa keseluruhan penampilannya begitu luar biasa. Bahkan beberapa orang yang berlalu lalang di lobi apartemen pasti menoleh dua kali untuk meliriknya.
Tetapi bukan hanya penampilan fisik sebenarnya yang membuat Luhan tertarik kepada Sehun. Aura lelaki itu yang misterius di balik sikap lembutnya, membuat Luhan ingin mendekat dan ingin tahu.
Apakah dia akan seperti ngengat yang menjadi korban karena tidak bisa menahan ketertarikannya terhadap api yang menyala?
Luhan mendesah dalam hati. Setidaknya dia sudah mempersiapkan diri, memasang pagar di hatinya agar dia tidak terjun bebas, jatuh ke dalam pesona Sehun dan kemudian terluka parah.
"Kita akan kemana?"
Luhan melangkah bersama Sehun keluar. Mobil Sehun sudah disiapkan, diparkir di depan
apartemennya.
Sehun mengangkat bahunya. "Terserah, kemana saja. Mungkin nonton, jalan-jalan, bersantai, apapun itu asal bersamamu."
Sehun mengucapkan kata-katanya dengan santai, tidak menyadari bahwa dia membuat pipi Luhan memerah.
Mereka melakukan apapun yang dilakukan orang-orang untuk bersantai di akhir pekan, nonton, makan, jalan-jalan.
Setiap detiknya terasa menyenangkan, mereka mengobrol tanpa henti, sangat cocok dalam pembicaraan apapun dan menyadari bahwa mereka punya banyak sekali kesamaan minat.
Bersama Sehun seharian pun terasa begitu sekejap saking menyenangkannya. Tanpa sadar hari sudah beranjak malam. Ketika mereka mengendarai mobil hendak pulang,
Luhan menyandarkan tubuhnya dengan santai di kursi penumpang, menatap Sehun dalam senyuman.
"Terima kasih atas hari yang sangat menyenangkan ini."
Sehun menoleh sedikit dan tersenyum simpul. "Sama-sama Luhan, aku juga bahagia bisa menghabiskan waktu denganmu, itu sangat menyenangkan."
Lelaki itu meremas jemari Luhan dengan sebelah tangannya, lembut. "Minggu depan kita lakukan lagi ya."
"Iya." Dada Luhan membuncah dipenuhi oleh perasaan berbunga-bunga yang pekat.
Oh ya, gawat! Seharian ini dia sudah berusaha memasang pagar di hatinya, tetapi Sehun sudah menerobos pagar itu, membuatnya tidak bisa menahan lelaki itu.
Luhan sepertinya sudah jatuh cinta kepada Sehun.
Irene sedang duduk di dalam mobil, dalam perjalanan menuju butik langganan keluarga, dan merenung.
Ini semakin lama semakin menakutkan, hari pernikahannya dengan Sehun sudah menjelang. Keluarganya sudah mempersiapkan semuanya terutama menyangkut gaun pengantinnya. Karena selain hal itu, untuk masalah persiapan pesta seperti dekorasi, gedung, catering, dan lain-lain mereka tidak akan perlu mencemaskannya.
Sehun memiliki jaringan perusahaan di bidang resor, perhotelan, dan restoran. Lelaki itu tinggal menjentikkan jarinya dan sebuah pesta yang megah pasti akan disiapkan dengan mudah.
Tetapi perasaan Irene terasa semakin tidak nyaman.
Hari demi hari hubungan mereka merenggang, dan semakin dekat ke hari pernikahan mereka, Sehun semakin jarang muncul. Lelaki itu kadang hanya membalas pesan singkatnya sekenanya, tidak pernah mengangkat telepon ketika dia mencoba meneleponnya. Dan lelaki itu tidak pernah datang ke rumahnya lagi.
Sudah sebulan berlalu, bahkan kedua orangtuanya mulai menanyakan kenapa Sehun tidak pernah muncul dan dengan senyum palsunya Irene menjelaskan bahwa semua baik-baik saja, hanya saja Sehun memang sedang sangat sibuk. Tetapi Sehun tidak pernah seperti ini sebelumnya, dulu meskipun sibuk, lelaki itu selalu menyempatkan menemuinya meskipun
sebentar di akhir pekan.
Irene tahu bahwa Sehun mungkin tidak mencintainya lagi. Sejak dia mengaku pengkhianatannya yang dilakukannya dengan Jackson karena begitu haus perhatian dari Sehun, yang membuatnya terjerumus terlalu jauh lalu hamil, cinta itu sudah musnah di mata Sehun.
Tatapan Sehun kepanya sudah berbeda, datar dan tanpa perasaan meskipun laki-laki itu selalu bersikap lembut kepadanya. Tetapi Irene bisa dibilang sangat mensyukuri kecelakaan itu, kecelakaan yang membuatnya didiagnosa tidak akan bisa berjalan lagi. Yang membuat Sehun sangat menyesal dan pada akhirnya memutuskan untuk bertanggungjawab kepada Irene.
Ya, Irene tahu dia memanfaatkan rasa bersalah Sehun, tetapi dia mencintai Sehun dan tidak bisa membayangkan kalau harus ditinggalkan oleh lelaki itu.
Pengkhianatan yang dilakukannya dengan Jackson semata-mata karena pelarian, dia
membutuhkan kekasih yang hangat dan penuh kasih sayang, yang selalu ada di dekatnya. Tetapi Sehun tidak bisa melakukannya, lelaki itu waktu itu sedang sibuk membangun bisnisnya, sehingga hanya punya waktu sedikit bersamanya. Dan dalam kondisi emosi yang labil, Jackson datang dan semua hal buruk itupun terjadi.
Semua yang Irene lakukan adalah untuk mengikat Sehun supaya bersamanya. Dia bahkan rela bertingkah seperti orang invalid, hanya agar Sehun bertahan bersamanya.
Kelumpuhan ini adalah satu-satunya pengikatnya dengan Sehun, dan Irene rela kesulitan seperti ini, hanya bisa berjalan ketika dia berada di dalam rumah dan hanya di depan orang-orang yang dipercayanya, semua demi memiliki Sehun.
Dia meremas kedua jemarinya kuat-kuat.
Sebentar lagi. Desahnya dalam hati.
Dia hanya perlu bersabar sebentar lagi dan Sehun akan menjadi miliknya sepenuhnya. Dia akan menjadi istri Sehun dan lelaki itu tidak akan punya alasan untuk tidak memperhatikannya.
Butik itu cukup ramai, milik seorang desainer baju pernikahan yang sangat terkenal.
Pegawai Irene mendorong kursi rodanya memasuki butik itu. Irene sudah membuat janji dengan Joshua, sang perancang sekaligus pemilik butik itu.
"Hai cantik."
Joshua langsung menyapanya ketika pegawainya mendorong kursi rodanya memasuki ruangan Joshua.
Irene memberikan isyarat kepada pegawainya untuk menunggunya di luar.
"Hai Joshua, kau sudah menerima pesanku untuk deskripsi gaun pengantinku?"
"Sudah sayang." Joshua mengedipkan sebelah matanya.
"Sungguh deskripsi yang sangat spesfik, kau ingin gaunmu bertaburan dengan kristal yang mahal dan berkilauan ya? Untung saja tunanganmu kaya. Jadi kau bisa meminta gaun
apapapun yang kau inginkan. Aku akan mengukur dulu badanmu ya, baru aku terapkan ke beberapa desain dan nanti kau tinggal memilih yang mana."
Joshua melirik ke arah pintu.
"Ngomong-ngomong, tunanganmu yang tampan itu tidak mengantarmu?"
"Dia sibuk." Gumam Irene.
"Aku ingin gaun ini yang terbaik, Joshua. Harus yang paling indah dan paling cantik. Ini akan menjadi pernikahan yang pertama dan satu-satunya untukku."
"Tentu saja sayang." Joshua terkekeh, lalu menyuruh pegawainya untuk mengukur badan Irene.
Tentu saja mereka kesulitan karena Irene berada di kursi roda dan tidak bisa berdiri. Irene sendiri merasa gemas karena sebenarnya dia bisa berdiri, tetapi dia tidak bisa melakukannya, karena semua sandiwaranya bisa ketahuan.
"Mungkin kita harus mengukur tubuhmu kalau Sehun sudah bisa datang bersamamu, sayang."
Joshua menatap Irene dengan menyesal, dia juga laki-laki tapi tubuhnya ramping dan gemulai jadi dia tidak bisa membantu Irene supaya punya tumpuan untuk berdiri. Sementara itu kebanyakan pegawainya adalah perempuan.
"Jadi Sehun bisa membantumu untuk berdiri."
"Mungkin aku bisa membantu."
Sebuah suara yang maskulin dan begitu dalam muncul dari pintu, membuat Irene dan Joshua menoleh bersamaan.
Di pintu itu berdiri seorang lelaki yang amat sangat tampan. Darah Korea sudah jelas mendominasi penampilannya, lelaki itu tinggi, sempurna dengan rambut cokelat gelap, dan setelan tiga potong yang dijahit sempurna, menempel ketat dan seksi ke tubuhnya.
Joshua lah yang kemudian memecah suasana, dia berteriak kegirangan dan hampir melompat mendekati lelaki itu.
"Oh Ya Ampun! Kai, kau sudah pulang dari Paris?"
Lelaki tampan itu hanya tersenyum tenang, tampak sedikit geli menghadapi kehebohan Joshua yang menyambutnya.
Dia melirik ke arah Irene dan menganggukkan kepalanya dengan sopan ke arah Irene, membuat Irene menyadari bahwa dia telah terpesona kepada lelaki itu.
Memang Sehun tampan dan tetap nomor satu baginya, tetapi Sehun sangat jarang tersenyum, sedangkan lelaki ini, dia begitu murah senyum dan tampak sangat tulus secerah matahari.
"Sepertinya kau dan nona ini menghadapi masalah. Mungkin aku bisa membantu."
Joshua melirik Irene, masih tersenyum lebar.
"Ini Kai, dia adalah salah satu investor butik dan salon kami. Kau tidak keberatan Irene kalau Kai membantumu?"
Siapa yang tidak keberatan kalau dibantu berdiri oleh lelaki setampan itu?
Irene berpikir bahwa kadang-kadang berpura-pura lumpuh ada untungnya juga.
"Irene ingin membuat gaun pernikahan yang indah, Kai. Kami sedang akan mengukur gaunnya."
Kai melemparkan pandangan dalam ke arah Irene.
"Sayang sekali kau sudah akan menikah, aku iri kepada lelaki beruntung itu." Gumamnya penuh arti membuat pipi Irene merona.
Joshua menepuk pundak Kai sambil tertawa.
"Jangan merayu Irene, Kai. Dia sudah punya tunangan dan akan menikah, mungkin kau bisa mengalihkan sasaranmu kepada gadis lain."
Kai tampak tidak mempedulikan perkataan Joshua, dia masih memandang tajam ke arah Irene. Ia lalu mendekat dan mengulurkan tangannya lembut.
"Aku akan membantumu berdiri, maaf ya." Bisiknya lembut di dekat telinga Irene.
"Sini, letakkan tanganmu di pundakku."
Irene merasakan jantungnya berdebar keras, aroma maskulin itu langsung melingkupinya, membuatnya bergetar.
Dengan tangannya yang kuat, Kai menarik Irene berdiri, lalu menopang pinggangnya.
Tangan Irene berpegangan erat ke pundak Kai, lalu melingkarkan lengannya di sana, sementara itu dia berakting sekuat tenaga untuk melemaskan kakinya, menumpukan beban tubuhnya di pundak Kai.
"Nah tunggu sebentar, kami akan mengukurnya."
Para pegawai Joshua mulai mengukur. Proses itu cukup singkat. Dan kemudian setelah Joshua selesai, Kai mendudukkan Irene lagi di kursi rodanya dengan lembut.
Lelaki itu menyelipkan kartu namanya yang bernuansa hitam dan keemasan di jemari Irene.
"Hubungi aku, kapanpun itu. Aku akan dengan senang hati membuang semua urusanku demi dirimu." Bisiknya pelan, lalu berdiri tegak, mengatakan sesuatu tentang pekerjaan kepada Joshua, kemudian melambaikan tangannya dan melangkah pergi.
Sementara itu Irene masih menggenggam erat-erat kartu nama di tangannya itu dengan terpesona.
Siang itu Luhan sedang berjalan ke minimarket di ujung jalan dari apartemennya ketika dia melihat Sehan di dalam minimarket yang ia tuju. Lelaki itu sedang membeli rokok, dan langsung menoleh ketika pintu terbuka lalu tersenyum lebar ketika melihat Luhan.
"Hai kita bertemu lagi."
Luhan tersenyum menatap wajah yang sama persis dengan Sehun namun dalam versi yang berbeda ini.
"Halo Sehan, apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku membeli rokok." Sehan tergelak.
Luhan melirik ke arah cafe di ujung jalan, bukankah di sana juga ada rokok? Kenapa Sehan malahan berkeliaran di tempat ini?
"Kau mau membeli apa?"
"Hanya beberapa bahan makanan." Luhan mengangguk sambil tersenyum lalu melangkah menuju rak-rak tempat penjualan mie instant.
Dia mengira Sehan akan pergi dari supermarket itu setelah mendapatkan rokoknya, tetapi rupanya tidak, lelaki itu mengikutinya.
"Setelah ini, maukah kau jalan denganku? Kita bisa duduk, minum bersama, dan mengobrol."
Luhan mengernyit, Sehan tidak sedang berusaha mendekatinya bukan? Karena Luhan sama sekali tidak melihat ada hal yang lebih dari pertemanan di mata Sehan.
"Kita bisa berbicara di cafe." Gumam Luhan akhirnya, memilih tempat yang paling aman.
"Jangan di cafe." Sehan langsung menyela. "Sehun akan membunuhku."
"Apa?"
Sehan mengangkat bahunya. "Kalau kau belum sadar, Sehun kan sudah mengincarmu untuk menjadi miliknya, dan kalau sampai dia tahu aku mendekatimu, dia akan membunuhku."
Namun setelah itu Sehan tergelak. "Meskipun rasanya pasti menyenangkan untuk membuat Sehun jengkel dan memancing kemarahannya keluar."
"Apa?"
Luhan menatap Sehan dengan bingung, ada apa di antara dua saudara ini? Kenapa mereka tampak tidak akur?
"Aku tahu Sehun sedang mengejarmu, dan biasanya kalau dia mengejar seseorang dia akan melakukannya dengan kekuatan penuh. Dan aku tertarik kepadamu karena tidak pernah sebelumnya Sehun bertindak begitu intens pada seorang perempuan." Sehan mengedipkan matanya menggoda.
"Kau pasti perempuan yang istimewa, jadi maukah kau melewatkan sedikit waktumu untuk makan siang denganku, dan mungkin kita bisa berbagi cerita. Aku ingin lebih mengenal calon kakak iparku dan kau mungkin bisa tahu kisah-kisah tentang Sehun yang hanya kami yang tahu, seperti kisah masa kecil kami misalnya."
TBC
Apdeeettt gaes!
Gue tau ini pendek dan sori karena buat kalian nunggu lama. Tapi gue bener bener sibuk banget tahun kemaren, dan baru bisa apdet ini ff sekarang. Dan gak luput dari park hye cha yang maksa banget buat ini lanjut :3. Tapi gue usahain mulai sekarang bakal sering apdet ff gue ya gaes. Gue ingetin sekali lagi ya gaes, ff ini rated T, jadi buat yang berharap ada NC sori banget gak bisa menuhin permintaannya mengingat ini ff remake, bukan karya gue sendiri. Tapi kalian masih bisa baca ff gue yang lain kok, yang ratednya M,wkwk /promo/. Makasehh..
Big Thanks to:
almurfa, DEERHUN794, park hye cha, Arifahohse, Angel Deer, Seravin509, chenma, sehundoyansodokluhan, Bambi, gitaaorgee, OhXiSeLu, misslah, Guest, lululovehunnie, Kim124, Skyeilysma, Sehunnissa, sehunbubble, auliaMRQ, DBSJYJ, noVi, ichaadyah, oktafernanda666, deerbee, nunurachma, Sofia Hana, xihun77, Wenxiuli12, whirlbambi, Laharnshi, Sarrah Hunhan, park rara, Hannie, chanyeolsehun72, KimaSL, ParkHyunwa, KimaHunhan, & Itsuka Sehunie.
