Summary : Kurosaki Ichigo, pengusaha muda, sukses dan handal yang tak pernah mengenal cinta Ketika akhirnya seorang gadis mampu mencuri hatinya, dia akan berbuat apa saja untuk mendapatkannya. Rukia boleh saja diirikan oleh jutaan wanita karena menjadi seorang calon istri dari seorang pria tampan, kaya dan setia, namun tahukah mereka? Pertunangan yang dipaksakan tanpa cinta tetaplah menyakitkan.
Title : Prisoner of Love
Pair : Kurosaki Ichigo, Kuchiki Rukia dan Ulquiorra Schiffer
Dalam sebuah pertemuan internal yang membahas mengenai penanaman modal ke bidang baru, sang diektur muda alias Kurosaki Ichigo malah membiarkan alam pikirannya berkelana. Bisa ditebak bahwa yang ada dalam pikirannya adalah sikap aneh si tunangan tercintanya, Ukitake Rukia.
Meskipun memang Rukia tidak mecintainya seperti Ichigo mencintai wanita itu, tapi selama ini tidak pernah sekalipun dara berparas manis tersebut menolaknya. Kejadian pagi ini sungguh tidak biasa. Ichigo mulai mencurigai terjadi sesuatu di luar sepengetahuannya.
Dan itu... membuatnya cemas.
Perasaannya mengatakan ada bahaya yang mengancam dirinya saat ini. Karena batinnya sangat tidak tenang.
Rukia...
"Kurosaki-sama?"
Panggilan tersebut membuyarkan lamunan Ichigo yang kemudian memfokuskan perhatiannya kembali pada presentasi di hadapannya.
"Maaf, lanjutkan saja."
"Ah, baik, Kurosaki-sama."
Selagi pembicara ini sibuk berkicau, mata musim gugurnya tanpa sadar melirik ke ujung meja di seberangnya. Di sana, diam tak bersuara seperti biasa adalah pemilik marga Schiffer itu.
Rasanya... perasaan mengenai adanya bahaya yang mengancam ini juga dirasakan saat dekat-dekat dengan pria bermata sayu tersebut. Apakah ada hubungannya?
.
.
.
.
Beberapa hari berlalu dengan Rukia selalu mengurung diri di kamarnya. Bahkan jika calon suaminya meminta ijin masuk, terkadang ditolak dengan alasan bahwa dirinya lelah dan tidak ingin diganggu.
Pengecut. Hatinya mencibir.
Yah, Rukia akuinya tindakannya ini memang betul-betul pengecut. Menghindar dari permasalahannya yang sudah berada tepat di depannya.
Tapi apa daya?
Kristal-kristal bening telah membasahi selimutnya sejak berhari-hari yang lalu. Batinnya berkecamuk tanpa henti.
Mungkinkah dara belia ini mengikuti kata hatinya dan pergi meninggalkan ayahnya begitu saja? Atau dia harus membunuh perasaannya sendiri demi pria yang selama ini telah membesarkannya? Bertahan bersama laki-laki yang memintanya menjadi istrinya.
Terus menerus memikirkannya cukup membuat Rukia depresi. Hingga nafsu makannya terus terun dan bobot tubuhnya menurun drastis. Pagi ini saja Ichigo sudah memaksanya ke rumah sakit untuk kembali diperiksa.
Yah, sore nanti tunangannya tersebut akan pulang lebih awal untuk mengantarnya berobat. Sepertinya Rukia sudah harus bersiap-siap. Pertama-tama memperbaiki rona wajahnya yang pucat serta matanya yang sembab.
.
.
.
.
Dokter menganjurkan agar Rukia dirawat inap sementara dirinya diberi suntikan infus. Sepertinya keadaan wanita mungil tersebut kali ini cukup parah. Kalau kondisi tubuhnya tidak dijaga baik-baik, bukan tidak mungkin penyakit lamanya akan kambuh lagi.
Bagi Ichigo, tidak masalah harus menghabiskan uang berapa banyak. Asalkan calon istrinya tersebut tetap sehat dan bisa terus di sisinya.
"Apa ada yang kau inginkan, Rukia?" tanya Ichigo mesra sembari mengecup puncak kepala tunangan tercintanya.
"Tidak perlu. Kau berangkat saja dulu, nanti kau terlambat."
Ya, setiap pagi Direktur muda ini akan menjenguk Rukia sebelum berangkat ke kantor. Hal yang dulu sering dilakukan oleh ayahnya. Batin dara jelita itu bernostalgia.
"Baiklah, kalau begitu. Ingat, kalau kau butuh apa-apa langsung telpon saja ke nomorku. Oke?"
Pemilik mata ungu kelabu tersebut hanya mengangguk sebagai jawaban.
Hari-hari di tempat yang pernah menjadi rumahnya kini sungguh berbeda. Jika dulu meski Rukia berada di ruang rawat sederhana saja namun sikap seluruh personel rumah sakit lamanya amat hangat dan ramah. Sekarang... ruangan besar ala VIP di mana staff yang mendatangi tempatnya sangat menjaga keprofesionalannya. Menghadapi calon nyonya Kurosaki tentu saja tidak bisa bersikap sembarangan. Apalagi jika sudah menerima banyak dana sokongan dari sang direktur.
Setidaknya di tempat ini, Rukia bisa menenangkan diri barang sejenak.
Setidaknya... dia tidak akan bisa bertemu pria berambut kelam yang memiliki mata sayu tersebut lagi.
Yah, ini lebih baik.
.
..
.
.
"Dirawat di rumah sakit?"
"Betul. Mungkin karena itu Kurosaki-sama sering datang terlambat dan pulang lebih cepat. Betul-betul membuat iri saja. Sudah punya tunangan yang tampan, kaya, sukses apalagi begitu dicintai. Ah, coba kalau aku jadi tunangannya Kurosaki-sama~"
Percakapan antara dua Office Lady tersebut menarik perhatian seorang pemuda berambut gelap. Terutama karena orang yang mereka perbincangkan sama dengan wanita yang akhir-akhir ini mengusik pikirannya. Tapi…
Dirawat di rumah sakit?
Pria keturunan Swiss ini tentu saja pernah mendengar segelintir kabar bahwa dara belia yang menjadi calon istri direktur muda Kurosaki itu memang kurang sehat. Tapi sampai rawat inap di rumah sakit… apa penyakitnya parah? Bagaimana kondisinya saat ini?
Sungguh, batin Ulquiorra tidak tenang begitu mengetahui kabar berita tersebut. Selepas dari meeting hari ini, dia memutuskan untuk bertandang ke rumah sakit tempat pemilik mata violet itu dirawat.
Maka di sinilah dirinya berada saat ini. Di dalam ruang rawat VIP di mana wanita cantik tersebut tengah terlelap damai. Mungkin pengaruh obat.
Tak ayal, pemandangan itu cukup membuat batinnya menghangat. Entah sihir apa yang telah mengendalikan Ulquiorra, sejak pertama kali dia melihat Rukia... dia tidak pernah bisa berhenti memikirkannya.
Mata yang indah itu, nampak sedih dan terluka. Seolah di dalam bola ungu kelabu yang dalam tersebut ada lautan air mata yang tak pernah terkikis.
Si marga Schiffer tersebut mendekat, duduk di kursi sebelah ranjang rumah sakit lalu menggenggam erat tangan mungil nan ringkih yang berada di sisi tubuh Rukia. Mengurung sebelah tangan tersebut dengan kedua telapak tangannya.
Sunyi menemani dalam diam sepasang insan ini. Hingga kemudian Rukia terbangun karena rasa hangat yang melingkupi tangannya.
"K-kau..." bata calon nyonya Kurosaki itu terkejut takala melihat pria yang tidak ingin ditemuinya sekaligus amat dirindukannya tersebut.
Ulquiorra memlih bungkam seribu bahasa saat dara mungil di depannya ini bimbang apakah dirinya diperbolehkan membalas genggaman tangan si pemuda atau menapiknya. Lambat-lambat, teramat pelan, jemari mungilnya melingkari tangan putih pucat itu.
"Kenapa... kau ada di sini?"
"Aku mendengar kabar bahwa kau masuk rumah sakit. Jadi aku pun segera datang untuk melihat keadaanmu."
"Oh..." lirih Rukia pelan. Bingung harus bereaksi seperti apa.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Em... kata dokter hanya lelah dan..."
'Merasa tertekan hingga mengakibatkan depresi yang cukup serius,' batinnya menyelesaikan.
"Dan?"
Rukia menggeleng, "Bukan apa-apa," lanjutnya berbohong.
Lagi-lagi hening berkumandang di ruangan besar nan mewah tersebut.
"Aku ingin menemuimu."
Pernyataan yang tiba-tiba dari pria keturunan Eropa itu membuat Rukia mendongkak pada wajahnya.
"Alasan aku segera datang begitu tahu kau ada di rumah sakit… adalah karena aku ingin menemuimu. Aku sangat ingin bertemu denganmu. Aku... sangat merindukanmu."
Sungguh pengungkapan hati yang gamblang. Membuat wajah Rukia bersemu merah saking malunya. Jantungnya bertalu-talu terlalu kencang. Rasanya penyakit lamanya bisa kambuh kalau dekat-dekat pemuda berambut hitam ini lebih lama.
"Kau… tidak seharusnya berkata seperti itu…" bisik wanita dengan iris violet tersebut.
Diam.
"Apa… itu karena kau adalah tunangan Kurosaki-sama?"
Rukia tiba-tiba merasa bagai tersambar petir. Betul. Dia telah bertunangan dengan seorang pria. Sesaat tadi, karena bersama dengan Ulquiorra, dia betul-betul lupa dengan statusnya.
Dan itu... sakit sekali. Sanubarinya bagai teriris sembilu. Pedih dan perih.
Pemuda minim ekspresi ini menyaksikan perubahan wajah Rukia. Dan dia pun menyadarinya. Segala yang dipikirkan wanita berparas manis tersebut terpampang dengan jelas di raut wajahnya. Serta air mata yang nyaris tumpah di pelupuk kristal ungu kelabu nan indah itu.
Maka dengan gesit tubuh ringkih tersebut didekap oleh Ulquiorra. Seperti kembali ke waktu itu. Di lorong restoran yang sepi. Berdua. Tidak ada siapa pun jua yang mencela atau mengkritik perbuatan mereka.
Membiarkan sang wanita menumpahkan air matanya sekali lagi. Menjadi tempatnya bersandar dan satu-satunya orang yang menghapus jejak basah di pipinya. Mengelus surai malamnya lembut.
Lalu...
Lalu mengecup pucuk bibir yang sehalus kelopak mawar ini. Hanya sapuan yang nyaris tak meninggalkan jejak. Hanya... hanya caranya mengungkapkan bahwa dirinya akan selalu hadir untuk dara beriris violet cantik itu.
Tidak ada nafsu. Tidak ada hasrat.
Sekedar keinginan untuk melindungi.
Bagaimana mungkin hati Rukia tidak luluh dengan perlakuan yang demikian?
Bagaimana bisa... Rukia tidak jatuh cinta pada Ulquiorra?
Meski statusnya adalah calon istri dari pria lain. Meski kebebasan ayahnya dipertaruhkan. Tapi hatinya memberontak. Sudah cukup takdir mempermainkannya dengan kejam. Secuil kebahagiaan ini... adalah hartanya yang paling berharga.
Maka... Rukia membalas pelukan hangat itu. Melingkarkan tangan kecilnya dan membenamkan wajahnya ke dada pria dengan mata sayu yang mampu memahaminya tersebut.
Seolah dunia milik berdua.
Tidak menyadari bola mata berwarna hazel menatap adegan itu tajam dan sarat kedengkian dari balik celah pintu kamar rumah sakit.
.
.
.
.
Ini mustahil! Tidak mungkin terjadi!
Kenapa Rukia bersama dengan klien dari Jerman itu? Sambil... berpelukan...
Rukianya?
Sungguh menyakitkan mendapati tunangan yang begitu dicintainya malah bersikap begitu mesra kepada pria lain. Padahal selama ini Rukia tidak pernah membalas setiap dekapan, cumbuan yang dilakukan pria berkepala tiga tersebut. Atau bahkan ketika Ichigo bermalam di kamar calon istrinya ini, wanita berparas manis itu hanya pasrah. Menerima setiap sentuhannya...
Tapi tidak pernah Rukia memperlihatkan inisiatif untuk membalas kasih sayang direktur muda ini. Yah, karena bagaimana pun dara jelita itu hanya terpaksa menjadi tunangannya.
Terpaksa...
Betul. Rukia terpaksa menerima lamarannya semata-mata karena tidak sanggup membiarkan ayahnya dijebloskan ke penjara.
Lagi-lagi kenyataan pahit itu harus ditelan oleh Ichigo.
Rukia tidak mencintainya.
Malah sekarang... wanita pujaan hatinya tersebut jatuh cinta pada orang lain.
'Jika... jika suatu saat nanti Rukia menemukan pria lain. Kumohon lepaskanlah dia. Aku akan membayar seluruh biaya pengobatan Rukia dan uang perusahaan yang kugunakan untuk operasinya. Aku bersumpah akan melakukannya. Tapi tolong, jangan rebut kebahagiaan putriku.'
Tiba-tiba saja ucapan Jushiro tergiang di telingnya. Yah, permohonan ketika kepala keluarga Uktake tersebut menyetujui pertunangannya dengan putrinya.
Melepaskannya? Kepada pria berkulit pucat itu?
Tidak! Hati Ichigo menentang keras.
Bagaimana mungkin Ichigo melepaskan wanita yang teramat dicintainya tersebut sementara dirinya tidak sanggup hidup tanpa Rukia? Memintanya melepaskan tunangannya sama saja membunuhnya dengan cara yang paling keji.
Tidak mungkin. Kurosaki Ichigo tidak akan pernah melepaskan Rukia.
Jika sudah seperti ini... maka hanya ada satu jalan.
Mempercepat upacara pernikahan mereka.
.
.
TBC
.
.
Voidy's note : wah, terima kasih bagi yang sudah membaca, menyukai hingga mereview cerita saia. Maklum, kemarin itu saia langsung kirim lima chapter sekaligus dan saia hanya berfokus ngetik. Untuk urusan membalas review dan perantaranya saia serahkan semuanya aja ke Kin. Kali ini pun saia langsung mengirimkan beberapa chapter sekaligus ke kin.
Selain akhirnya bekerja di kantor sehari-hari sebagai karyawan, urusan lama yang biasa saia urusi di rumah tangga ternyata tetap saja harus saia kerjakan. Jadi beban saia lebih banyak. Herannya sudah tahu saia sudah punya mata pencaharian, kenapa urusan rumah tangga masih saia juga yang mengurusi. Capek, deh. Maaf, jadi berkeluh-kesah di sini. Heheh, sampai ketemu di cerita lainnya.
.
Holaa minna... akhirnya setelah sekian lama berkelana saya akhirnya bisa menyempatkan diri untuk mengupdate fic heheh...
Ah ya, saya hanya bisa membalas apa yang bisa saya katakan saja ya, soalnya fic ini sepenuhnya milik Voidy nee, jadi saya gak ada kewenangan untuk menjawab pertanyaan seputar kelanjutan fic ini ya hehehe...
Oke bales review tah...
Cristiyunisa : Makasih udah review senpai... maaf gak bisa update kilat yaa tapi ini udah update hehehe
Guest : Makasih udah review senpai... nah saya gak tahu apakah ini termasuk panjang ato pendek, tapi kayaknya pendek yaa hehehe
Darries : Makasih udah review senpai... ahahah kalo soal hiatus kan memang bukan pilihan, karena ada kewajiban di dunia nyata, tapi tetep kok diusahain buat lanjut hehhe
Chelsea : Makasih udah review senpai... iya soalnya ini kan Voidy nee yang ketik bukan saya, jadi setelah diketik baru dikirim ke saya via email hehhee
Purple and Blue : Makasih udah review senpai... heheh kenapa yaa saya juga bingung kenapa...
Hanna Hoshiko : Makasih udah review senpai... maaf ya jadi lama banget tapi udah diusahakan secepat yang bisa kok hehehe
Nafidah an : Makasih udah review senpai... maaf ya hiatusnya lama heheh
Silent reader comment : Makasih udah review senpai... kalo saya pribadi sih suka review panjang heheh wah kalo soal itu... hmmm... saya no comment aja ya heheh
Anita indah 77 : Makasih udah review senpai... iya ini udah update
Nana uryuukinimitshuchan : Makasih udah review senpai... maaf gak bisa cepet yaa tapi ini udah update kok hehehe
Rini desu : Makasih udah review senpai... iya ini udah update heheh
Azura Kuchiki : Makasih udah review senpai... eh ini bukan ulah saya kok. Kan bukan saya yang ngetik hehehe
15 Hendrik Widyawati : Makasih udah review senpai... bisa jadi bisa jadi hehehe
Tiwie Okaza : Makasih udah review senpai... iyaa ini udah lanjut hehe
FIV : Makasih udah review senpai... makasih sarannya, nanti biar authornya aja yang nerusin langsung yaa hehehe
Loly jun : Makasih udah review senpai... maaf jadi lama heheh iya ini udah update...
Oke makasih sekali lagi yang udah baca apalagi sampe review... makasih banyak yaa hehehe, dan maaf kalo misalnya ficnya kembali hiatus untuk jangka waktu yang sulit ditentukan, maklum kan punya urusan yang gak bisa dielakkan, tapi tetap semangat kok buat terus lanjut heheh...
Jaa Nee!
