Bodo amat soal penulis sinting yang memintaku menjelaskan sedikit tentang sekolahku. Aku lebih tertarik untuk membalas komentar pembaca di chapter sebelumnya. Biar ulasan tentang sekolah ajib Negara Api punya dibahas sambil jalan saja.

Si penulis sinting bukan pendek, tapi buntet? Oh iya, benar juga. Aku khilaf, maaf.

Authorku kejam semua, piye to? Aku tidak tahu soal author lain. Tapi kalau kita perhatikan isi karya di akun ini, si penulis sinting memang memenuhi kriteria. Dari aku yang dibesarkan oleh toxic parents. Aku yang jadi putera mahkota korban sosialita. Aku yang jadi manusia emotionally dull and mentally unstable karena dikhianati seluruh dunia; dan masih banyak lagi. Daripada aku yang bundir, bagaimana kalau penulisnya saja yang kubantai? Kabeh seneng to? Selapukn pade senang, yen?

"Woi, semua senang apanya?! Aku enggak!"

Sudah kubilang aku tidak mengizinkanmu menyisipkan dialog di sini, penulis sinting!

"Aku dikhianati oleh tokoh ceritaku sendiri, hiks!"

Tidak perlu berterima kasih. Aku ikhlas kok!

Memasukkan plot twist di dalam plot twist yang menciptakan plot twist baru di dalam plot twist? Aku tidak yakin si penulis sinting sanggup mengeluarkan plot twist sebanyak itu. Dia masih trauma dengan serangan plot twist di film terbaru Om Tom Krus. Kokoronya gak kuat, katanya.

#2019RamendiKutub

#Ichirakudiskon70%

ULULULULU!

-o-o-o-

Avataramen is Now Online

Chapter 5

-o-o-o-

Aku meneguk ludahku gugup. Semua lawan berlari ke arahku, siap melakukan keroyokan. Aku tak punya pilihan selain lari mundur, berharap bisa menghindar selagi berusaha mengisi ulang tenagaku yang sudah hampir terkuras habis.

Langkahku terhenti. Aku dapat melihat kembali rekan satu timku tergeletak tanpa nyawa, diserang tanpa ampun dari segala arah. Aku tidak tahu apa yang membuatku bisa bertahan sejauh ini, tapi aku sudah menyerah.

Kubiarkan badanku dikeroyok lawan. Kemudian, semuanya berakhir.

"Avataramen has been slayed!"

Aku mendengus kesal mendengar suara kecentilan itu. Kumatikan ponselku dan kucabut baterainya.

Tiba-tiba, terdengar tawa pongah tak jauh dari tempatku berada. Suara si Pangeran Sialan yang berat kuakui kalau dia adalah sahabatku. Ya, Sasuke.

"Enggak mau rematch?" Sasuke mengangkat dagunya angkuh.

Aku menyingsingkan lengan bajuku. "Ayo rematch di gedung PJPD!" tantangku. "Aku mungkin payah dalam game, tapi kau tak mungkin mengalahkanku di pertarungan asli!"

Sasuke berdiri, ikut menyingsingkan bajunya juga. Ini adalah tanda keakraban kami. Belum kumplit rasanya kalau dalam satu minggu tak ada celetukan random untuk adu ketangkasan; baik dalam pengendalian, tinjuan, hinaan, maupun pemorotan.

Kami mungkin akan saling terjang dan bergulat di tempat kalau saja suara lain tak bertanya, "ini kita rapatnya udahan?"

Suaranya begitu lembut, imut, dapat membuat semua orang bertekuk lutut. Diimbangi dengan penampilannya yang cantik rupawan. Belum lagi sifatnya yang pemalu dan lemah lembut; dirangkum menjadi kutub berlawanan denganku dalam segala aspek. Itu adalah tersangka patah hatinya Sasuke. Putri Hinata.

Oh, kebetulan sekali Kutub tempat lahir kami juga berbeda!

Sasuke langsung melempar isyarat lewat tatapannya. Masih dalam masa-masa berusaha move on, si Pangeran Sialan ini menjadikanku juru bicara tanpa bayaran. Dasar payah, dasar lemah!

"Sudah. Kau boleh kembali ke kelas duluan, kalau mau. Surat dispensasi kita masih punya jatah satu jam. Aku dan Sasuke masih betah di sini." Aku melirik ke arah sosok lain yang bermain dengan bola-bola udara—kebosanan. "Seret Neji juga kalau perlu."

Terdakwa seretan menoleh tajam. "Kalau kau dan Pangeran Sasuke tidak datang bersama kami, aku akan dikatai ketua kelas tidak becus."

Aku mengangkat sebelah alis mata. "Lalu ikut membolos seperti kami kau bilang becus?"

Neji mengangkat bahu tak acuh. "Setidaknya aku setiakawan." Lalu, ia kembali bermain dengan bola-bola udara.

Kemarin sore, Sasuke ditumbalkan oleh tiga per empat dari jumlah seluruh penghuni sekolah untuk menjadi Ketua OSIS. Seperti tradisi sekolah biasanya, keesokan harinya—alias hari ini—kami diberikan dispensasi dari kelas pagi hingga makan siang untuk rapat pertama. Biasanya diisi dengan musyawarah untuk pembagian jabatan dan perencanaan secara garis besar untuk program kerja yang harus kami jalankan. Rupanya Sasuke sudah menyiapkan dari jauh-jauh hari karena percaya diri akan menjadi ketua terpilih—dan tak ada yang keberatan dengan keputusan Sasuke—sampai rapat pun selesai dengan singkat dan padat. Menyisakan waktu luang yang kunilai mubazir hukumnya jika tidak dimanfaatkan untuk membolos.

Seperti dugaanku, aku ketiban musibah jadi wakil ketua. Hinata dijadikan sekretaris kami, tanpa adanya niat modus. Sakura dijadikan bendahara dengan alasan nanti tak akan ada yang berani menunggak uang kas padanya. Neji sebagai koordinator seksi bidang, tentu terpilih bukan karena badannya seksi meski penggemarnya bilang begitu. Kemudian ada Gaara, Sai, Tenten, Ino, dan Kiba sebagai ketua seksi bidang. Menyusul para staff yang terlanjur kembali ke kelas masing-masing sebelum aku sempat menghafal identitas mereka.

Yah, tak perlu diingat juga. Mereka cuma figuran lewat yang tak akan jadi bagian penting dari cerita. Cuma penambah word saja.

Satu jam kemudian, suara panggilan surgawi memanggil seluruh penghuni sekolah untuk melakukan sumo dalam rangka rebutan antrian jatah makan. Aku sudah ngiler memikirkan ramen spesial hari ini—meski tidak senikmat ramen di kedai Ichiraku.

Harapanku untuk segera berkencan dengan semangkuk ramen sirna, ketika Sasuke menyeretku ke arah berlawanan dari kantin. Menuju gedung para penjajah murid berada. Tepatnya, ruangan You-Know-Who.

"Tak bisakah kau melapor sendirian?" cicitku, reflek bersembunyi di belakang Sasuke ketika pintu kayu jati termegah di sekolah ini ada di hadapan kami.

"Dan melewatkan ekspresi ketakutanmu? No, thanks!" Sasuke mengetuk pintu. Tangannya memegang lenganku erat—menghalangiku untuk mempraktekkan teknik langkah seribu. "Permisi!"

Sebenarnya aku bisa saja melepaskan diri menggunakan pengendalian udara—menjauh sejauh-jauhnya. Tapi identitasku dipertaruhkan.

"Masuk!" Aku merinding disko. Itu suara You-Know-Who.

Pintu terbuka lebar. Nyaliku yang berada di titik nol, terjun bebas ke minus sekian juta.

Oke, itu mungkin terlalu hiperbolis, tapi aku tak bisa menahan diri! You-Know-Who terlalu menyeramkan!

"Ini hasil rapat kami." Sasuke menyerahkan secarik kertas dengan tulisan rapi di atasnya.

"Baik." You-Know-Who meletakkan kertas itu di tumpukan dokumen lainnya. "Kebetulan ada Naruto juga di sini, aku ingin meminta tolong pada kalian."

Jangan jadikan aku samsak tinju. Jangan jadikan aku samsak tinju. Jangan jadikan aku samsak tinju. Jangan jadikan aku samsak tinju. Jangan jadikan aku samsak tinj—

"Apa kalian bisa mampir ke rumahku sepulang sekolah?"

Ha?

o

Aku sempat mematung begitu kami sampai di depan gerbang rumah You-Know-Who. Bangunannya setipe dengan rumah Sasuke, tapi skalanya lebih kecil. Namun, yang membuatku termenung bukanlah desainnya yang indah, melainkan bagaimana aku merasa tempat ini tak asing.

Jawaban kudapatkan begitu kami dipersilakan duduk di ruang tamu. Selagi You-Know-Who mengoceh dan Sasuke mendengarkannya, aku sibuk memandangi berbagai macam potret keluarga yang terpampang indah menempel pada dinding. Banyak sekali sosok Hiruzen di sana.

Ini rumahku di kehidupan sebelumnya.

"Avatar Hiruzen adalah keluargamu?" Aku memberanikan diri menatap You-Know-Who.

Keningnya sempat mengerut, lalu senyum simpul terpasang di wajah jelita awet mudanya. "Iya, kenapa?"

"Dia ini senang menghayal jadi avatar. Bahkan ID akunnya saja Avataramen." Sasuke buka aib.

You-Know-Who tampak terkejut, lalu tertawa terbahak-bahak.

Aku menyikut Sasuke keras.

"Avatar Hiruzen adalah ayahku. Jangan terlalu terpukau dengan imagenya. Dia mungkin avatar hebat, tapi dia Ayah yang payah." You-Know-Who menjelaskan setelah puas menertawakanku. Senyum di wajahnya tampak sendu. "Dia sudah berusaha. Tapi kewajibannya sebagai avatar cukup menyibukannya. Apalagi saat itu masih pasca perang."

Aku melihat teh hangat yang dihidangkan asisten rumah tangga beberapa saat lalu bergetar tak tenang.

"Jangan mau jadi avatar. Tidak sekeren kelihatannya, Bocah."

Sungguh sebuah ironi. Andai dia tahu kalau aku memang avatar.

Eh, sebentar. You-Know-Who ini adalah anakku di kehidupan yang lalu?

Nice revelation! Dia jadi Kepsek sekaligus guru You-Know-What saja aku lambai tangan ke arah kamera. Lah, ini?

"AKU PULANG!" jeritan cempreng itu membantuku memutus gambaran mengerikan kalau aku sedang mengurus dan membesarkan You-Know-Who.

"Konohamaru, ke sini sebentar!"

Pintu ruang tamu dibukakan oleh salah satu asisten rumah tangga. Masuklah seorang anak berambut hitam dengan kacamata goggle di kepala. Ia menggembungkan pipinya lucu.

"Ada apa, Bi?" tanya anak itu semi menggerutu.

"Nah, Konohamaru, perkenalkan ini dua murid terbaik pengendalian api di sekolah Bibi. Kak Naruto dan Kak Sasuke." You-Know-Who hanya menghela nafas ketika Konohamaru meleletkan lidah dan meninggalkan ruangan.

Kutarik pendapatku kalau dia lucu.

"Sasuke, Naruto, itu keponakanku Konohamaru, yang akan dibina dalam dasar pengendalian api jika tidak keberatan."

Uh-oh. Jadi kami diminta ke sini untuk mengajari bocah tak sopan itu?

"Kenapa tidak undang pelatih ahli saja, Bu?" Sasuke bertanya.

"Sudah. Banyak yang mengundurkan diri karena sifatnya agak ... yah."

Tunggu sebentar.

Kenapa Sasuke dan You-Know-Who menatapku dengan tatapan yang sama?!

"Berhenti menatapku begitu! Aku merasa tersinggung!"

Apa yang mereka implikasikan? Sifatku? Enak saja! Jangan menyamakanku dengan bocah ingusan seperti itu!

"Jadi, bagaimana? Apa kau bersedia, Naruto?"

Aku mengernyit. "Kenapa cuma aku yang kau tanyai?"

Sasuke menatapku datar. "Sudah kuduga. Kau tidak mendengarkan kami, tadi. Bu Tsunade yakin kalau beliau memintamu saja ke rumahnya sendirian, kau pasti langsung lari terbirit sebelum diberi penjelasan. Makanya aku diajak serta sebagai jaminan kau tidak kabur."

Ha ha ha.

You-Know-Who meneguk tehnya, menatap nanar pada figura kecil berisi Konohamaru yang sedang tertawa lebar dengan dua anak lain. Lalu, ia berujar lagi, "orangtua Konohamaru diserang menggunakan petir hingga mati terpanggang. Sejak saat itu, ia membenci pengendalian api dan tak mau mempelajarinya lagi."

Ah. Trauma.

Mungkinkah beliau menunjukku karena sadar aku punya trauma versiku sendiri? Kalau aku akan lebih mengerti bocah itu?

Baiklah. Jika dia percaya padaku, akan kucoba untuk menjaga kepercayaannya.

"Aku bersedia."

Aku hanya bisa melongo saat sadar aku ditarik ke dalam pelukan hangat oleh Bu Kepsek. Rasa takutku padanya mungkin mulai sekarang akan terfokus pada You-Know-What saja dan ulangan dadakannya.

Bukan berarti aku akan berhenti memanggilnya You-Know-Who, sih.

o

Dua mata berkilat tajam. Senyum galak dikulum. Kedua tangan dilipat dan dagu agak terangkat—angkuh. "Aku tidak akan mendengarkan apapun yang kau katakan!" deklarasi perang diproklamasikan.

Aku menggaruk pantat. Tidak begitu peduli.

"Apa kau masih suka ngompol di celana?"

Ekspresi wajahnya melongo selama beberapa saat, sepertinya terkejut dengan pertanyaan random yang kuajukan. Kemudian, wajahnya bersemu merah, entah malu atau marah.

"Aku sudah kelas delapan! Mana mungkin masih ngompol di celana!"

Oh, ternyata dia marah.

"Katanya tidak akan mendengarkan?"Aku melipat tanganku, ganti memasang tampang mengajak perang. "Oh, maaf. Kukira umurmu masih tiga tahunan."

"KAU MAU BERKELAHI, HAH?!"

"Boleh tuh! Sepertinya seru!" Aku menyingsingkan lengan baju. "Apa peraturannya?"

"TAK BOLEH ADA PENGENDALIAN API!"

Dia berlari menerjangku dengan tangan terkepal siap meninju. Aku dengan senang hati menangkap tangannya, lalu meningkas tangan satunya yang reflek ganti menyerang. Tak bisa menarik tangannya yang kucengkram erat, kaki kanannya terangkat menyilang, hendak menendang. Aku melompat salto melewati kepalanya, kutukar genggaman tanganku pada lengannya saat di udara, lalu kutarik ke belakang badannya begitu mendarat.

"Masih mau lanjut?" Kutaruh satu kakiku di punggungnya dan kupindahkan berat badanku ke kaki sebagai tumpuan dan penahan gerakan Konohamaru yang belum mau menyerah untuk meloloskan diri.

"Sampai kau buat babak belur pun aku tidak akan mau belajar pengendalian api!" Konohamaru menggeram.

Apakah aku terlihat seperti remaja labil yang senang membuat anak yang lebih muda dariku babak belur? Wow. Terima kasih atas kepercayaannya, bocah.

"Apa kau berpikir orangtua dan kakekmu akan senang jika tahu kau membenci dirimu sendiri karena kematian mereka?"

"Aku tidak benci diriku, aku benci pengendalian api!"

"Kau adalah pengendali api. Jika kau benci pengendalian api, itu artinya kau benci bagian dari dirimu."

"Kau tidak akan mengerti!"

Oh, percayalah bocah! Aku sangat mengerti.

"Kau pikir aku berkata sok bijak begini karena apa? Butuh uang honornya? Kasihan padamu? Tidak. Ini untuk kebaikanmu sendiri." Kulepaskan kuncianku pada badannya. Aku lapar. "Oke, sesi perkenalan selesai. Besok kita akan mulai latihan."

"Apa yang membuatmu berpikir aku mau latihan, hah?!"

Aku mengendikkan bahu. "Kau bilang kau tak akan mendengarku, tapi akhirnya tetap dengar juga. Apa yang membuatmu berpikir aku tak akan bisa membuatmu mau latihan?"

Setidaknya dari kegesitan gerakan dan kekuatan tinjuannya, aku bisa menilai kalau anak ini rutin latihan fisik.

Aku menyeringai puas saat mendengar deklarasi kebencian bocah itu padaku.

Senang berkenalan denganmu juga, Konohamaru!

o

[Badan Penguasa Harian]

August 23. 8.45 pm.

Avataramen added Faiprinsuke, HinataH, Sakurawr, and Giringneji to the chatroom.

Giringneji is now online.

HinataH is now online.

Sakurawr is now online.

Faiprinsuke is now online.

Avataramen : Yo semua. Ini chatroom buat Badan Pengurus Harian, ya!

Avataramen : Maksudku, *Penguasa.

Giringneji : lol.

HinataH : Oke. Terima kasih Naru.

Avataramen : Yup!

Sakurawr : Daripada penguasa, bukankah kita lebih tepat disebut pembantu? Tanpa bayaran pula.

Sakurawr changed the chat to Badan Pembantu Harian.

Avataramen : Bagaimana kalau begini?

Avataramen changed the chat to Badan Pelayan Harian.

Faiprinsuke : Kalian ini! -_-"

HinataH : Pangeran Sasuke, tolong maafkan mereka.

Faiprinsuke changed the chat to Budak Pelayan Harian.

HinataH : Naru, kembalikan lagi nama ruang chatnya.

HinataH : Eh? Pangeran Sasuke?

Avataramen : hahaha!

Avataramen : Ailapyu, Suke!

Giringneji : Pacarannya di tempat lain, tolong.

Avataramen : Ide bagus! Sas! Ayo ke tempat biasa!

Faiprinsuke : t ('-'t ).

o

[Faiprinsuke]

August 23. 9.05 pm.

Faiprinsuke : Tempat biasa?

Avataramen : Jangan minggu ini.

Faiprinsuke : Tapi malam ini ada diskon 70% lho di Ichiraku.

Avataramen : Itu dia. Bagaimana caranya aku membuatmu bokek kalau diskonnya sebesar itu?

Faiprinsuke : ( 9w)9.

Avataramen : Lagian besok aku harus bangun pagi-pagi untuk menyiksa ponakannya You-Know-Who.

Avataramen : Ups. Maksudku *melatih.

Faiprinsuke : Kulaporkan.

Avataramen : Silakan saja. Apa yang kulakukan tidak ada bandingannya dengan kesadisan You-Know-Who!

Faiprinsuke : Yang ini benar-benar akan kulaporkan.

Avataramen : Silakan. Jangan salahkan aku kalau foto tidur menungging pangeran kedua jadi viral di website sekolah.

Faiprinsuke : Jangan main curang!

Avataramen : mata dibalas mata. Ancaman dibalas ancaman, Sas.

Faiprinsuke : How do I have a friend like you again?

Avataramen : First of all, im not your friend, im your BEST friend.

Avataramen : Second of all, kau merengek ingin naik nagaku, kita berantem sampai tercebur kolam istana, tertawa bersama, dan setelah itu kau mengetuk palu kalau aku harus jadi temanmu selama-lama-lama-lama-lamanya.

Faiprinsuke : Sial.

Avataramen : Kau terjebak bersamaku sekarang, Pangeran. Suka tidak suka. HUAHAHAHA!

Faiprinsuke : Tombol replay di mana ya?

o

Keesokan harinya, saat langit gelap dan berkas sinar fajar di ufuk timur masih tipis, aku mengunjungi rumah You-Know-Who. Yang bersangkutan masih istirahat, tapi karena pelayan sudah dikabari sebelumnya, maka aku dipersilakan ke kamar Konohamaru.

Bocah itu masih ngorok. Aku iseng mencolok-colok pipinya untuk mengganggu tidurnya. Perlahan namun pasti, matanya terbuka. Ia berkedip, alisnya sedikit terangkat. Sepertinya masih mengumpulkan nyawa.

"Yo, pagi!" sapaku.

Konohamaru membelalak. Anak itu bangun dan menarik badannya menjauh dariku. Tangannya terangkat dengan telunjuk mengacung ke arahku. "Sedang apa kau di kamarku?!" protesnya.

"Mengajakmu berlatih, tentu saja!" jawabku ceria.

"Ini baru jam—" Konohamaru melirik jam dindingnya. "lima lebih?! Kau merenggut hak tidurku!"

"Kau merenggut waktu malas-malasan hari mingguku. Jadi kita impas. Ayo ke halaman belakang sekarang!"

Konohamaru menggeleng tegas. "Aku masih ngantuk!"

"Kalau begitu kita buat kantukmu hilang!"

Aku berdiri tegak dengan dua pasang jari telunjuk dan jari tengah saling bersentuhan di depan dada. Kuhirup udara dalam-dalam, kuhembuskan perlahan lewat hidung. Kutarik kaki kananku ke samping kanan, agak serong ke belakang; bersamaan dengan tangan yang kuputar berlawanan arah di depan tubuhku, dengan percikan listrik yang lama-lama terhubung menjadi petir sesungguhnya.

"Kau sudah gila!"

"Pangeran Sasuke sering bilang begitu. Mungkin memang benar."

Konohamaru melotot horor. Anak itu melompat, menghindari satu kilatan kecil pertama yang kutembak ke arahnya. Dia membuka pintu balkon dan turun ke halaman rumahnya lewat sana.

Aku menyusul turun, senyum penuh kemenangan semakin kulebarkan saat Konohamaru menggeram bagai kucing kupu-kupu yang sedang berebut pasangan di musim kawin.

"Nah, kau sudah bangun, kan?" Aku nyengir.

Konohamaru membuang muka. "Jadi, kau mau mengajariku apa hari ini?"

"Hari ini aku akan mengajarkan padamu tentang serangan dan pertahanan." Aku memasang kuda-kuda.

Konohamaru menatapku bingung, perlahan meniru kuda-kuda yang kupasang.

"Kau siap? Mulai!" Kulepaskan satu tinjuan api.

Konohamaru yang terlalu kaget kehilangan keseimbangannya saat menghindar. Ia jatuh terjembab. Kuberi waktu sampai dia duduk dan melihatku lagi sebelum kuserang dengan tinjuan api lainnya.

"Kenapa kau langsung menyerangku?!" Konohamaru menyuarakan protesannya di tengah kesibukan bertahan dari serangan-seranganku.

"Sudah kubilang aku akan mengajarimu tentang serangan dan bertahan!" jawabku setengah berteriak.

"Bukankah seharusnya kau mengajariku gerakan-gerakannya dulu?!"

Ini dia pertanyaan yang kutunggu-tunggu. Aku memberi jeda seranganku lebih lama dari yang sebelumnya, untuk memastikan Konohamaru melihat mimik wajahku sekarang.

"Pengalaman adalah guru terbaik!" Aku mengekeh sok seram. "Jadi, aku akan menyerangmu sampai kau bisa mengatasi seranganku dan mempraktekkan teknik bertahan yang baik!"

"KAU SUDAH GILA!"

Aku menyudahi percakapan dan kembali melayangkan serangan, sambil terus menilai tiap gerakan dan respon Konohamaru terhadap setiap serangan—sebagai bahan catatan latihan selanjutnya.

Tenang, tenang. Jangan mengamuk dulu. Aku tidak benar-benar akan menggunakan metode 'belajar dari pengalaman' ini. Aku akan memberi pelatihan normal jika Konohamaru mau mengeluarkan apinya.

Kosmik api itu terikat kuat dengan tekad. Jika anak itu punya tekad lebih kuat untuk melawanku, menghentikan 'kegilaanku', maka dia akan tumbuh menjadi pengendali api yang hebat. Dia tidak akan semena-mena menggunakan kekuatannya untuk menyakiti orang lain, karena dia sangat mengerti jika di antara elemen yang lain elemen api adalah yang paling destruktif.

Lagipula, semalam, Hiruzen menitipkan Konohamaru padaku. Aku bersumpah akan membimbingnya menjadi ksatria yang hebat.

Tiga pertemuan dengan tingkat 'kegilaan' semakin meningkat di setiap pertemuannya, Konohamaru akhirnya mau mengeluarkan apinya untuk melengkapi teknik bertahan dan membuka kesempatan untuk menyerang.

Sebagai apresiasi karena akhirnya dia berhenti keras kepala, aku membawanya ke kedai Ichiraku dan mentraktirnya.

Pakai uang Sasuke sih. Tehe.

To Be Continued