I do not own the story!

copyright © 2012 I Couldn't Care Less by fantasy_seoul (AFF)

translated by Xiao Wa (Jan 13, 2014)

Enjoy~


Ch. 5: The Game

o

o

o

(*Luhan*)

"Terima kasih, Pak Jung. Aku akan menemui Anda besok," kata Luhan sambil membungkuk kepada pria yang lebih tua dan berjalan keluar dari Heavenly Cafe, tepat di belakangnya Baekhyun dan Chanyeol. Pasangan itu membawa Luhan ke toko kopi terkenal, di mana mereka bekerja, untuk mencoba dan mendapatkan pekerjaan. Setelah sukses melakukannya, ketiganya mulai berjalan pulang ke rumah, mengobrol tentang apapun dan semuanya. Luhan mencatat bahwa Baekhyun dan Chanyeol sungguh pasangan yang cerewet.

"Jadi Luhan hyung, apa kamu menyukai tempat kami sejauh ini?" Chanyeol bertanya setelah menyadari Luhan menjadi sedikit lebih diam.

"Oh...Itu bagus." Minus fakta aku tidur di kantung tidur semalam.

"Apa Sehun memberimu kesulitan?" tanya Baekhyun, sudah tahu lebih dulu jawabannya.

Luhan mengkerutkan dahi. "Ya. Dia...Apa kalian tahu kenapa dia sangat memusuhiku?"

"Aww. Jangan khawatir hyung, itulah dia saat pertama kali. Dia akan akrab denganmu." Chanyeol menepuk punggung Luhan.

Aku meragukannya.

"Disamping, dia mungkin belum terbiasa untuk berbagi kamar," tambah Baekhyun.

"Tunggu...Aku teman sekamarnya yang pertama?" Luhan bertanya, memikirkannya sekarang bahwa mungkin Sehun hanya bersikap dingin karena dia, Luhan, sudah menyerbu ruangan yang semata-mata milik anak yang lebih muda.

"Mhm. Karena Sehun adalah maknae yang berharga, kami memutuskan untuk membiarkannya mempunyai kamar untuk dirinya sendiri." Wow, si brengsek itu mempunyai para hyungnya di tanganya yang dingin.

"Yeolli, kamu lupa bahwa kita membiarkannya mempunyai kamar sendiri karena dia memberi kita semua bahu dingin selama seminggu." Sekarang lebih terlihat sepertinya.

"Aku bermaksud untuk menanyakan ini –kenapa kalian membuat iklan untuk teman sekamar baru?"

"Untuk menutupi biaya," Baekhyun menjawab. "Sungguh sulit bagi 11 anak laki-laki untuk hidup nyaman di sebuah rumah besar seperti milik kita dengan hanya 5 orang yang bekerja. Uang sangat ketat."

"Khususnya setelah membeli seluruh bagian-dari-seni sistem hiburan rumah," Chanyeol menyindir. Mereka semua tertawa. Lalu Chanyeol tiba-tiba membeku. Matanya tergoda oleh sebuah poster yang tertempel di depan sebuah toko game.

"Ada apa Chanyeol?" Luhan bertanya, terlihat bingung.

"Game Kill Mission 3 yang terbaru keluar besok! Aku harus mendapatkannya," kata Chanyeol penuh tekad, masih berdiri di depan toko game.

"Di sana pasti akan menjadi antrian panjang Yeolli," kata Baekhyun sambil mendorong pacarnya untuk tetap berjalan.

"Aku akan berkemah di depan toko pagi-pagi sekali," Chanyeol dengan mudahnya merespon. Kemah?...

Sebuah ide brilian datang pada Luhan.

"Chanyeol, jika kamu pergi untuk berkemah, kamu butuh membawa barang-barang pokoknya," Luhan menyatakan dengan senyum lebar.

"Seperti apa hyung?"

"Seperti..."

(*Sehun*)

Hampir tengah malam ketika Sehun keluar dari sekolah. Dia sudah lelah, tapi sesaat setelah ia melangkah di rumah, pikirannya tiba-tiba menjadi tajam. Dia mempunyai tujuan. Matanya mulai meneliti ruang tamu, distel untuk mencari orang khusus, atau tepatnya seekor mangsa. Gagal menemukan kepala khusus dengan rambut cokelat madu yang dia cari, Sehun berlari menuju dapur.

"Dimana Bamb–Luhan?"

"Luhan hyung," Kris mengkoreksi si maknae.

"Ya. Dimana dia?" Sehun bertanya, terlihat kesal.

"Di lantai atas. Sehun-ah apa kamu mau kubuatkan makan malam?" tanya Kyungsoo, tapi si maknae sudah lebih dulu meninggalkan ruangan.

"Aku sudah makan," Sehun berteriak seraya beranjak naik di tangga.

Dia masuk ke kamarnya hanya untuk menemukan Luhan yang tertidur di tempat tidur. Tempat tidurnya. Sehun berjalan pelan-pelan dan duduk di kasurnya, di sebelah Luhan yang tertidur.

"YAH! Bangun! Kau tidak boleh ada di kasurku," Sehun berteriak marah.

"Mhmm...Apa itu kau...Setan?" Luhan bergumam sambil berusaha menyembunyikan seringainya. Se...tan? Setan?

"Apa? YAH!" Sehun mengambil bantal lain dan memukul Luhan di wajah, memaksa anak yang lebih tua untuk membuka matanya.

"Hei! KENAPA KAU MELAKUKAN ITU?" Luhan beteriak.

"KAU TAHU KENAPA! SEKARANG PERGI DARI TEMPAT TIDURKU KE KANTUNG TIDURMU. Bambi."

"Aku punya nama, dan itu LUHAN. LUHAN HYUNG UNTUKMU!" Luhan menyentil dahi Sehun. Ouch!

"YAHH! KAU MAU MATI?!" Sehun bersiap untuk mengayunkan bantalnya pada anak yang lebih tua.

"TENTU SAJA TIDAK! DAN AKU TIDAK AKAN MASUK KE KANTUNG TIDUR ITU KAU–"

"Ahem ahem." Lay dan Chen ada di pintu, memandang mereka.

"Um apa semuanya baik-baik saja?" tanya Lay dengan satu alis terangkat.

"Yeah kami mendengar teriakan," kata Chen khawatir.

"Uh yeah kami baik-baik saja. Hanya berdebat tentang siapa yang akan menang di Music Bank (acara musik k-pop) besok," jawab Luhan. Sehun melihat Luhan seperti itu adalah alasan terbodoh yang pernah dia dengar. Luhan menembaknya dengan pandangan 'ikuti saja'.

Tiba-tiba Chanyeol masuk. "Hei Sehun, apa kau masih punya kantung tidur milikmu?"

"Yeah. Kenapa?"

"Boleh aku meminjamnya?"

"...Apa? Kenapa?"

"Jadi aku bisa menggunakannya untuk kemah di depan toko game di jalan sana. Kill Mission 3 yang baru keluar besok dan aku harus mendapatkannya."

Luhan, yang sudah bangun dari tempat tidur, mengambil kantung tidur keluar dari lemari dan memberikannya pada Chanyeol. "Ini, Chanyeol. Bawa saja selama yang kamu mau." Ia tersenyum lebar saat anak yang lebih tinggi mengambil kantung dari tangannya.

"Terima kasih hyu–"

"Hei! Aku tidak bilang kamu bisa membawanya," sela Sehun, yang sekarang sadar akan situasinya.

"Kenapa? Apa kau memakainya?" Chanyeol mengerucutkan bibirnya pada si maknae, hampir terlihat menyedihkan. Lay dan Chen juga memandangnya, bertanya-tanya kenapa dia tidak memperbolehkan Chanyeol membawanya.

Luhan menengok untuk menghadap Sehun. "Yeah Sehun, kenapa kau butuh kantung tidur?"

Sehun melotot pada Luhan. Kau tahu benar kenapa. Secepatnya, dia menengok ke Chanyeol dan mendesah. "Baik. Kamu bisa memakainya, hyung."

"Terima kasih maknae!" Chanyeol memberikan Sehun sebuah pelukan erat sebelum berlari ke luar kamar, diikuti oleh Lay dan Chen, yang tidak melihat tujuan lain berada di sana.

Sehun memandang Luhan yang terlihat puas. Permainan yang baik, Bambi.

"Kau tahu kau tetap harus tidur di lantai," Sehun berkata dengan pasifnya. Dia menolak untuk membiarkan Luhan memiliki tempat tidur di atas.

Luhan meloncat ke tempat tidur dan berbaring dengan tangan berada di belakang kepala, terlihat sangat santai. "Buat aku."

Dengan tendangan cepat, Sehun berhasil membuat Luhan jatuh dari tempat tidurnya, tapi Luhan menarik selimut dari kasur bersamanya, membantalinya ketika jatuh.

"Hei, berikan itu kembali!"

Luhan, menjulurkan lidahnya keluar, berkata, "Sayang sekali! Tanpa kantung tidur, Aku butuh sesuatu untuk bantalan punggungku." Ia mulai berguling, membungkus dirinya dengan pas di dalam selimut.

Sehun hanya memandanginya, tertegun. Setan kecil ini!

Akhirnya, dia melemparkan tanganya ke udara. "Baik!"

Luhan 2: Sehun 1?

Pagi berikutnya Sehun terbangun dan menemukan dirinya kehilangan sebuah bantal. Dia melihat ke bawah dan di sanalah –di bawah kepala Luhan. Sehun mengerang. Keadaan tidak sejalan dengannya...sama sekali.

Sarapan menjadi semacam lomba membelalak antara Sehun dan Luhan. Sehun memberikan anak yang lebih tua pandangan "aku akan menghancurkanmu," tapi Luhan merespon dengan senyum ramah. Sehun ingin melempar muffinnya pada sikap wajah yang dibuat manis itu.

"Ada apa dengan mereka berdua?" Tao berbisik pada Kris, yang hanya mengangkat bahu.

Selama perjalanan menuju sekolah, Sehun berpura-pura bahwa Luhan tidak ada di sana berjalan bersamanya dan hyungnya. Saat di depan gedung dia dengar Luhan memanggil, "Sampai jumpa Sehun-ah!" Sehun menghiraukannya dan berjalan pergi. Dia bicara dalam batin-

Ini dia, Sehun. Bersikaplah tidak peduli. Jangan biarkan dia mendapatkanmu. Dia tidak sebanding dengan waktu dan tenagamu.

Sisa hari itu berjalan lancar (karena dia tidak melihat Luhan sepanjang hari). Ketika sampai di rumah, dia menetap di kamarnya, pertama mengerjakan pekerjaan rumahnya, lalu berlatih keyboard.

Malamnya, Luhan yang kelelahan dengan malas membuka pintu depan dan tersandung masuk. Hari pertamanya di Heavenly Kafe sangat ramai, setidaknya bisa dikatakan begitu. Luhan membuat kesimpulan bahwa orang-orang yang kecanduan kafein sangatlah tidak sabar, belum termasuk bagaimana mereka sangat teliti dengan kopi yang mereka mau.

Kehabisan tenaga, Luhan menjatuhkan diri di sofa ruang tamu dan tidur di sana.

Sehun turun ke lantai bawah berharap bisa mendapatkan makanan ringan dari dapur. Dia melihat seorang tertidur di sofa. Dia berjalan mendekat untuk melihat siapa itu. Bambi. Dia mendengus dan pergi ke dapur untuk mengambil makanan ringannya. Sehun berjalan kembali ke lantai atas, meninggalkan teman sekamarnya yang tertidur aka musuh barunya.

Tiga puluh menit kemudian, Kris dan Suho muncul, memandang pada sosok yang tergeletak di sofa.

"Kenapa dia tidur di sofa?" Suho bertanya sambbil berlutut untuk memperhatikan anak yang lebih tua, yang mulai mendengkur halus.

"Aku tidak tahu, tapi ayo bawa dia ke atas." Sewaktu Kris mengangkat Luhan ke lantai atas, ia mendengar anak itu bergumam sesuatu tentang caramel latte dengan 2 sendok gula.

o

o

o


A/N: Lulu sudah berada di bawah kulit Sehun. Hehehehe. Aku menikmati menulis dialog antara Hunhan :)

Bagian berikutnya: Luhan mulai merasakan sesuatu terhadap Sehun..apa yang mungkin terjadi :PP

Jika tidak jelas, Luhanlah yang memberikan ide pada Chanyeol menggunakan kantung tidur Sehun. Lol. Dia ingin menyingkirkannya.

x.w: Terima kasih yang sudah follow/favorite dan review :D

ChanBaek, KrisTao, KrisHo, juga KrisLu muncul XD rasanya disamber Kris semua =_=

p.s: edited.

nah loh, Bambi mau dipindahin ke kamar, apa reaksi Sehun? kkk~ klik next yang penasaran. Yehet~