Naruto © Masashi Kishimoto

Genre : Crime, Friendship, Romance

Pairing : PeinxKonan, PeinxNaruto, Dll

Warnings : OOC, bahasa kasar, Vulgar, Yaoi, Lebay, Typo betebaran, dll.

.

No Like Don't FLAME


Chapter 6: Broken…

Pukul dua puluh dua lebih dua puluh tiga menit. Asap mencurigakan bergumpal memenuhi sebuah ruangan reot yang ditiduri delapan nyawa dengan tenangnya. Tak lama setelahnya, beberapa orang berbaju hitam dan memakai masker menyelinap masuk. Salah seorang dari mereka menyibak kelambu putih nan tipis tersebut, lalu mengedarkan pandangannya ke satu persatu wajah yang tengah terpulas –tergesa-gesa. Senyuman lebar terbentuk dari balik masker yang ia kenakan ketika melihat target yang telah di incarnya sedari pagi kini tampak sangat cantik dengan rambut panjang tergerai.

Secara perlahan ia mendekati sosok itu. Memandanginya sampai puas, sesekali mengelus pipi tembem si pirang, kelihatan begitu terhipnotis oleh pesona laki-laki setengah telanjang itu. "Deidara…" bisiknya pelan.

"Psst! Apa yang kau lakukan di dalam? Lama sekali. Jika begini kita bisa ikut terhirup asap racun ini." Kegiatannya terinterupsi oleh salah seorang rekan yang memanggilnya dengan suara kecil.

Dengan agak terburu-buru ia menangkup Deidara lalu menggendongnya ala bridal style. Ketika akan keluar dari kelambu, tanpa sengaja kakinya tersandung Sasori yang tertidur di samping Deidara tadi, berakibat terjatuhnya orang itu beserta gendongannya.

Sasori tersentak. Ketika matanya membuka paksa, pening tiba-tiba menyerangnya. Sasori mencengkeram kepalanya kuat, ia ingin muntah, dan tubuhnya terlalu lemas untuk digerakkan. Ia hanya mampu mendengar suara gaduh di dalam ruangan. Sang pelaku yang terjatuh dengan panik langsung bangkit dan menggeret Deidara. Rekan-rekannya telah kabur sedari tadi. Oh, mereka tak mau memperpanjang urusan dengan laki-laki berambut merah itu, apalagi sampai membunuhnya. Selain karena tak ada waktu karena asap racun, mereka pun tak ada niat membunuh orang. Mereka bukan anggota cells yang seenak jidat membantai orang tanpa pandang bulu.

Sasori mengerang tertahan. Ia kembali mencengkeram surai merahnya. Tubuhnya bolak-balik ke kanan dan kiri. Seketika baru disadarinya Deidara telah tak ada di tempat.

Dengan tingkat kepanikan luar biasa, Sasori memaksakan dirinya untuk bergerak menuju pintu yang ternganga lebar.

.

.

.


"Pein, aku tak bisa." Konan berusaha melepas pelukan Pein, lalu melanjutkan, "tolong naikkan aku ke atas."

Pein yang menganggap perkataan Konan hanya candaan tersenyum simpul meski entah bagaimana perasaannya tak enak. Segera dinaikkannya perempuan itu ke kayu jamban. Konan bangkit dan memasang kembali pakaiannya. Pein yang merasa diacuhkan pun akhirnya bertanya kembali, "Oi. Jadi apa jawaban mu?"

Konan memandang Pein datar. "Bukankah sudah ku jawab? Aku tak mau menikah dengan mu. Aku tak mau dan tak bisa."

"Kenapa?" dan Pein menuntut sebuah jawaban yang tepat.

Konan membuang muka dan mengambil nafas dalam, lalu mengenghembuskannya, seakan mengeluh. "Kau ini bagaimana. Mana bisa aku menikah dengan preman. Aku buronan polisi. Kau buronan polisi. Mau seperti apa anak kita nanti?"

"Jadi maksud mu aku bukan laki-laki baik-baik begitu? Aku tak akan bisa mendidik anak ku, begitu?" Pein mulai tersinggung.

"Fikir saja sendiri. Kau punya fikiran." Konan mendengus malas. "Menikah? Dengan mu? Tak bisakah kita menjalin hubungan seperti ini saja, Pein? Lagi pula… Aku sebenarnya sudah punya tunangan. Ku minta jangan menuntut lebih." Tanpa sadar kata-kata menyakitkan yang berisi kebohongan itu terlontar dari mulut Konan.

Pein terdiam. Ulu hatinya amat sakit mendengar kata-kata sadis yang keluar dari mulut orang yang sangat di cintainya. Jadi perasaannya selama ini dianggap apa oleh wanita itu, heh?. Fikiran Pein berkecamuk dan segera ia melompat dari air dengan berpegangan pada sisi jamban. Ia memakai pakaiannya dalam diam.

Tubuh Konan gemetar. Ia merasakan hawa yang sangat buruk dari kekasihnya itu. Untuk menetralisir sakit di dadanya, Konan menggigit bibir bawahnya kuat.

Pein telah selesai berpakaian. Ia memandangi sungai dengan raut wajah datar, lalu mengucap kata tak kalah menyakitkan. "Aku besumpah aku sangat mencintai mu. Sangat mencintai mu. Dengan mu aku berniat meninggalkan segala kehidupan gelap ku. Aku tak menyangka wanita itu sangat mengerikan dalam hal mempermainkan perasaan laki-laki. Kau tak seharusnya memiliki hubungan dengan ku sementara kau sudah bertunangan. Kita akhiri saja sampai disini. Jangan jadi murahan, perempuan."

Mimik wajah datar. Ucapan yang mengalir datar. Tubuh tegap itu berangsur meninggalkan perempuan yang serasa mau pingsan di tempat karena tak sanggup mendengar kata-kata sadis itu. Beberapa langkah, Pein memberi perintah tanpa menoleh. "Ayo kembali ke posko, anggota Akatsuki."

Konan kini hampir menangis. Pein bahkan tak mau menyebut namanya. Namun ditelannya perasaan yang semakin sakit itu kuat-kuat. Ya! Ini semua dia lakukan untuk Pein dan teman-temannya juga. Konan takut Naruto mengapa-apa kan teman-temannya. Perempuan itu mengepalkan tangannya yang masih gemetar, berusaha mencari sebuah kekuatan untuk menyemangati dirinya sendiri. Sekuat tenaga Konan mencoba menyunggingkan senyum tipis, lalu berkata tegas "Siap, leader." Konan sedikit membungkukkan badannya, 'Baik Pein, kita akhiri. Aku juga sangat mencintai mu.' Bisik Konan pelan.

Konan mengikuti langkah kaki Pein yang bermuka masam dari belakang.

.

.

.


Sepanjang perjalanan, Sasori berpegangan pada pohon-pohon agar tak terjatuh.

"Hueeek!" tak kuat menahan perasaan mual dan sensasi berputar, Sasori memuntahkan isi lambungnya. –Sampai puas! Begitu tekad Sasori dalam muntahannya. Setelah itu, perlahan keadaannya membaik meski tubuhnya masih agak lemah dan pening kepalanya masih terasa. Sasori mencoba menguasai keadaan. Ia menghirup udara dingin itu dalam-dalam hingga memenuhi seluruh alveolus di balik paru-paru nya, lalu menghembuskan perlahan. Hal itu terus dilakukannya beberapa kali.

Berhasil.

Sasori telah mampu menguasai dirinya. Di lihat nya sekeliling. Gelap. Sasori menundukkan kepalanya. Oke. Dia lupa memakai baju. Hanya celana training panjang yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Mata Sasori menjelajah kembali dengan cepat. Dapat dirasakannya sepasang kaki telanjang tanpa alas kaki. Oke. Dia lupa memakai sandal. Sasori ingin sekali rasanya menjedukkan kepalanya ke pohon terdekat.

"Shit!" Sasori mengumpat ketika keteledorannya dianggap telah diluar batas seorang Assassin. Ia melupakan senjata-senjata yang tergeletak di atas bantal. Ia terlalu panik sehingga tak ingat apa-apa lagi selain mengejar kumpulan brengsek yang menculik Deidara.

Sasori merasa tak punya cukup waktu kembali ke posko untuk mengambil perlengkapan senjatanya, maka dengan lihai Sasori memanjat sebatang pohon terdekat lalu melompati dahan demi dahan. Do'anya semoga insting yang selalu diandalkannya selama ini membawa sepasang kaki itu ke tempat Deidara.

Sekitar tujuh menit melompat, kaki Sasori berhenti pada sebuah dahan tepat berada di depan gubuk kecil dengan pencahayaan remang. Sasori menajamkan pendengarannya.

"Agh! Aah"

Seketika, mata pria sadis itu berkilat merah.

.

.

.


Pein menatap tak percaya pada sekumpulan asap hitam aneh yang menaungi posko.

"Apa-apaan ini! apa kebakaran?!"

"Konan yang melihat kepanikan sang mantan kekasih ikut menengok ke lokasi. "Ya ampun! Pein! Ini asap racun!" Seru Konan. Ia melangkahkan kaki nya dengan cepat kesamping Pein.

"Aku tak membaca bagian yang itu. Apakah berbahaya?"

"Efeknya membuat sakit kepala, mual, lemas. Kalau terlalu lama menghirup asap itu, tubuh akan mati rasa dua hari berturut-turut." Konan menjelaskan dengan cepat.

"Oh, great!" masalah di malam pertama menginap." Pein menanggapi dengan sarkatis. "Jadi, yang terpenting asal tak terhirup racun itu kan?"

Konan hanya mengangguk.

"Berapa lama kau mampu menahan nafas?"

"Sekitar dua menit saja."

"Bisakah kau mengambil tikar di kamar dalam waktu kurang dari dua menit?"

"Aku bisa!" Konan menghirup nafas dalam-dalam, lalu menahannya. Segera ia berlari dan beberapa detik kemudian, sosoknya hilang ditelan asap. Pein sebenarnya cemas kalau-kalau Konan ikut terhirup asap. Ia tak mau semakin direpotkan dengan mengangkut sembilan orang. Itu melelahkan.

Pein lalu ikut berlari memasuki posko. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah kelambu yang telah tersibak dan dua orang sepertinya telah hilang. Tanpa membuang waktu, Pein mengangkat dan mengeluarkan teman-temannya satu persatu, membaringkannya di tikar yang telah di bentang Konan.

.

.

.


BRAK!

Sasori mendobrak pintu reot itu hingga melayang mengenai muka salah seorang pemuda di dalam. Matanya menatap tajam kepada sekumpulan pemuda yang tengah duduk sembari bermain batu domino yang balas menatapnya dengan terkejut. Namun melihat penampilan Sasori, mereka kini malah memasang muka remeh.

"Ooi bocah! Kalau jalan-jalan, pake baju. Pake sandal. Dan kamu itu pake popok tidak? Aku sungguh tak mau membersihkan kotoran mu." Hinaan yang disambut gelak tawa sejadi-jadinya tersebut membuat telinga Sasori memerah menahan marah. Sasori lalu mengedarkan pandangannya, mencari pria cantik berambut pirang panjang. Tak menemukan apa yang dia cari, Sasori mendelik lagi ke sekawanan pemuda.

"Oi. Apa yang kau cari di sini? Hah?" tanya salah seorang pemuda tersebut lagi.

"Mana Deidara…" Sasori balik bertanya dengan nada seram.

Mendengar nama Deidara disebut sebut, tak ayal para pemuda langsung mengetahui bahwa Sasori adalah anggota Akatsuki.

'Psst! Dia itu kan laki-laki bantet tadi pagi yang mengaku sebagai pacarnya Deidara." Pemuda saling berbisik namun kedengaran oleh telinga tajam Sasori.

Merasa tak mendapat tanggapan, Sasori bertanya untuk kedua kalinya. "Mana Deidara…" dengan nada yang lebih seram lagi kali ini Sasori melangkah mendekat kepada sekumpulan pemuda yang menatapnya takut-takut.

'Tujuh orang…' fikir Sasori. lalu matanya melirik sekilas ke pemuda yang masih pingsan dengan tak elit nya akibat insiden pintu tadi.

'Kalau dia bangun, berarti delapan orang.' Pandangan tajam Sasori kembali ke kawanan maling manusia itu. Kesabaran Sasori sudah diambang batas. Dengan tak sabaran ia mencabut sebilah pedang dari –tunggu! Sasori baru saja tersadar untuk kedua kalinya kalau dia tidak membawa senjata apapun. Sesaat Sasori merasa bodoh, terutama melihat kawanan pencuri yang sibuk menahan tawa akibat tingkah konyolnya.

"Pfft! Jangan bercanda… dia mungkin bagian dari anak Kukerta itu, tapi aku tak yakin dia bisa berkelahi, apa lagi membunuh. Yang membantai kelompok cells pasti bukan dia…"

Oh begitu mau nya orang-orang ini. kesabaran Sasori benar-benar habis dibuatnya. Dengan cepat Sasori berlari kearah kumpulan orang itu dan melayangkan sebuah tendangan telak tepat di selangkangan pemuda bercelana hijau.

"AAAAAARRGHH!" pemuda bercelana hijau itu seketika berteriak kencang dan pingsan. Pemuda lainnya yang melihat kejadian naas itu sontak kaget dan terbelalak ngeri. Rasa ngilu dan merinding merayapi tubuh mereka seakan ikut merasakan sakit yang di derita si laki-laki kurus bercelana hijau.

'Itu pasti sakiiit…!' bathin mereka kompak.

Sasori menyeringai lebar menatap kumpulan laki-laki itu. Mata nya semakin memerah dengan pandangan psikopat. "Kalian tahu, aku bukan siapa-siapa di kelompok ku. Aku memang bukan pembunuh tercepat dan terkuat diantara Akatsuki yang lain." Sasori menahan ucapannya sesaat.

"Tapi kalian juga harus tahu… kami yang terpilih untuk turun ke daerah ini adalah kumpulan pembunuh professional dalam dunia kriminal. Dan itu artinya aku termasuk di dalam nya. Pem-bu-nuh!. Sekedar info, aku ini sama sekali tidak mengenal belas kasihan terhadap target apa lagi musuh. Jika kalian melihat sekumpulan potongan tubuh manusia dengan isi perut terburai di gerbang desa, kalian sekarang tahu siapa pelakunya dan aku sama sekali bukan seorang penyabar."

Kumpulan orang itu gelagapan. Mereka mundur teratur dengan keringat bercucuran. Manusia di depannya benar-benar memberikan aura mengintimidasi kali ini. Suram, menyeramkan.

"Ampuuun!" para pemuda akhirnya berlutut ketakutan.

"Dia ada di kamar, sedang bersama bos kami."

"Oh… jadi kalian ini sekumpulan preman kecil ya~" sahut Sasori dengan nada main-main. Sasori berlari ke sebuah pintu satu-satunya diruangan itu, Sebelum membukanya, Sasori memutar kepalanya menghadap pemuda yang masih menatapnya takut, lalu berkata, "Pergilah. Kalian ini kumpulan manusia sialan yang sungguh beruntung tak merasakan sabetan pedang ku." Dan dengan perintah itu, mereka lari terbirit-birit.

Sasori membuka pintu kamar perlahan. Tidak terkunci. Setelah pintu terbuka lebar, Sasori melihat Deidara yang sedang di ikat dengan tubuh telanjang. Kelaminnya sedang dipermainkan oleh seorang lelaki yang berwajah er… lumayan. Nampak wajah Deidara yang memerah dan tubuh lemah membuat si pirang hanya dapat merintih kesakitan. Mukanya memerah menahan malu dan marah. Cipratan benda kental putih menyembur deras dari ujung kejantanan Deidara, mengenai muka manusia yang di anggap 'bos' oleh teman-temannya tadi.

"Ah… Agh! Brengh –shek!" maki Deidara di sela rintihannya. Kepalanya masih sangat pusing akibat terhirup racun di posko tadi.

"Kau benar-benar cantik padahal laki-laki…" laki-laki itu menangkup pipi Deidara dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya masih asyik bermain di bawah sana.

"Sudah siap dengan permainan yang sebenarnya, cantik?" desahnya kemudian di telinga Deidara membuat pemuda bermata biru itu jijik dan meronta tak karuan meski tubuhnya masih sangat lemas.

Sasori tak menunggu sampai laki-laki mesum menyadari kehadirannya. Seketika ia telah berada di belakang si mesum dan mematahkan lehernya. Bunyi 'KRAK!' khas tulang patah menggaung sadis di dalam ruangan sempit itu. Si pria mesum mati mengenaskan dengan leher berputar hampir seratus delapan puluh derajat.

Sasori menatap Deidara yang masih meronta di ranjang dengan mata tertutup. Keadaannya amat kusut dan acak-acakan. Lalu pemuda berwajah baby face itu melepaskan ikatan Deidara yang masih belum menyadari kehadirannya, dan menarik lengan si pirang agar terduduk, memeluknya –mencoba menenangkan.

"Psst… Dei-chan… Dei-chan… tenanglah. Ini aku, Sasori…" Sasori berbisik pelan di telinga Deidara. Si pirang yang mendengar suara lembut itu membuka kedua matanya dengan cepat. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah rambut merah wangi yang menggesek lembut pipi nya, bahu telanjang tempat lehernya bersandar, dan ruangan remang-remang."

"Sa- Saso…" Deidara terisak pelan. Suara seraknya membuat Sasori semakin mengeratkan pelukannya.

"Ya, Dei-chan. Ini aku… Sasori… maafkan aku Dei… maaf."

.

.

.


Enam laki-laki yang berjejer di tikar tersentak bersamaan. Lalu secara bersamaan pula mereka mencengkram erat kepala masing-masing. Konan yang melihat hal tersebut menyuruh Pein mendudukkan teman-temannya satu per satu, di balas dengan tatapan tak mengerti oleh sang leader.

"Mereka harus memuntahkan isi lambungnya, leader. Itu satu-satunya cara agar racun keluar dari tubuh mereka." Konan mencoba menjelaskan dengan sabar.

"Tapi mereka menghirup asap, bukan memakan asap. Bukankan seharusnya yang terkena masalah itu paru-paru mereka?" Pein bertanya dan mengernyitkan alisnya. Si pimpinan hendak berdebat ternyata.

"Mana aku tahu! Aku baca di file tentang racun racikan penduduk sini dan itu satu-satu jalannya! Sudah kalau kau tak mau bantu diam saja di situ! Atau pergi cari Sasori dan Deidara! atau buka file tentang asap itu dan cara menghilangkannya." Konan berseru keras. Sungguh! Dia tak sedang ingin berdebat di saat-saat seperti ini.

Pein mendecih pelan. Perempuan ini makin ketus saja tampaknya. Pein lalu menimang-nimang. Mencari Deidara dan Sasori sangat tidak memungkinkan karena Pein mudah nyasar. Bisa dipastikan dia yang belum mengenal daerah ini yang bakal di cari balik oleh orang nanti. Pein memilih opsi ke dua. Sekilas ia melirik Konan yang mendudukkan Kisame dan memaksa Kisame memuntahkan isi perutnya.

Pein lalu mengambil nafas dalam-dalam. Berlari kencang masuk ke posko, mencari tas merah tempat dia menaruh file tersebut. Pein lalu keluar dengan sebuah berkas di genggamannya. Pein menyorot lampu senter yang tergantung di pergelangan tangannya, mencari-cari informasi tentang asap racun. Membolak-balik beberapa halaman, Pein lalu membaca sekilas dan kembali mendekati Konan.

"Bagaimana?" Konan bertanya tanpa menoleh. Tangan lentiknya sibuk memberi minum ke teman-temannya yang terduduk dengan kondisi agak membaik.

Pein menatap Konan datar, lalu memandang teman-temannya yang lain.

"Bagaimana keadaan kalian?" Pein bertanya dengan nada datar dan dingin padahal dalam hati sudah dagdigdug cemas.

"Siip leader. Aku baik-baik saja." Hidan menjawab dengan suara lemah. Yang lain hanya menangguk sebagai tanggapan.

"Hei. Jawab pertanyaan ku!" seru Konan kemudian karena pertanyaan awalnya tak di tanggapi.

Pein mendegus malas, kemudian menjawab. "Biarkan saja asap itu nanti akan hilang sendiri. Paling lama satu jam. Sekarang ini aku lebih khawatir dengan Sasori dan Deidara."

"Eeh! Deidaraaa!" Hidan yang baru menyadari hilangnya Deidara tak dapat menyembunyikan wajah cemas nya.

"Apanya yang 'Eeh!' kenapa hanya Deidara yang kau tanya kan? Sasori kan juga hilang." Pein bertanya kepada Hidan, membuat wajah itu memerah. Hidan terdiam seketika.

"Hei. Bukannya kalian itu, musuhan ya? Kenapa kau tampak cemas sekali?" Konan yang melihat gelagat benih cintrong dari si klimis tersenyum simpul dan mencoba menggoda.

"AAAGH!" Hidan salah tingkah menjadi pusat perhatian teman-temannya.

"Sudahlah jangan main-main lagi. Ayo kita cari mereka." Itachi menengahi. Ia mencoba berdiri di susul teman-temannya yang lain.

"Eh? Kalian yakin bisa berdiri?!" seru Konan khawatir.

"Sudah tidak apa-apa lagi. Hanya pusing sedikit saja," Jawab Kisame dengan cengiran sepuluh jari nya.

"Baiklah. Berhubung hanya aku dan Konan yang benar-benar sehat wal afiat di sini, kita pecah menjadi dua tim. Aku, Zetsu, Kisame, dan Hidan. Lalu sisanya pergi bersama Konan. Jika sampai pagi kita tak menemukan mereka, kita pulang ke posko. Apa pun yang terjadi, usahakan menghindari penduduk apalagi menanyai mereka karena kita tidak tahu apakah mereka anggota cells yang menyamar atau bagaimana." Pein memberi instruksi.

Dan pencarian Akatsuki dimulai.

.

.

.


Kepala Deidara terasa amat berat.

"Ah! Sebentar Dei." Sasori melepaskan pelukannya, lalu menarik tubuh Deidara agar berdiri. Sasori lalu berdiri di belakang Deidara. Tangan kirinya dengan sigap memeluk pinggang Deidara sementara tangan kanannya mengurut punggung laki-laki itu pelan.

"Hueek! Hueeek!" Deidara muntah. Kepalanya semakin pusing. Ia bahkan akan tumbang jika tangan kiri Sasori tak memeluk pingganggnya kuat.

"Begitu Dei-chan… muntahkan saja semuanya…" Sasori lalu melirik ke segelas air putih di atas meja, menggapainya, lalu meminumkannya ke Deidara begitu memastikan Deidara sudah selesai dengan muntahannya.

"Kumur-kumur dulu Dei…" menurut, Deidara berkumur-kumur untuk membersihkan sisa muntahan di mulutnya. Sasori kembali mendekatkan bibir gelas ke mulut Deidara dan meminumkannya hingga habis. Jakun Sasori ikut naik turun melihat jakun Deidara yang menenggak minuman itu perlahan. OOC sangat. 'Bukan saatnya berfikir yang tidak-tidak Sasori.' Sasori membisiki dirinya sendiri.

"Gah! Airnya … a-agak -hik! Aneh Sas…" desah Deidara pelan. Sasori yang tak terlalu menanggapi ucapan Deidara lalu membaringkan Deidara yang tampak semakin melemas dan wajah memerah. Glek! Sasori lupa Deidara masih telanjang. Memalingkan wajah, Sasori berkata canggung, "A-aku akan cari celana mu Dei-chan. Tunggu sebentar." Sasori mengedarkan pandangannya ke penjuru lantai. Dapat! Boxer hitam, celana panjang dan celana kolor motif bunga bangkai teronggok tak berdaya di sudut ruangan. Tanpa mempedulikan hatinya yang mau bersweatdropped ria, Sasori memungut tiga jenis celana itu dan bergegas hendak memasangkannya ke Deidara.

Tunggu! Sebuah keanehaan kentara sekali kini terpapar di wajah si pirang. Deidara nampak tersenyum sensual menatap kedua biji mata Sasori yang membola. Sasori mengucek-ngucek matanya, memastikan hal yang baru kali ini dilihatnya seumur hidup hanyalah ilusi. Ilusi. Ilus-

"Kenapa, Danna?" Suara merdu pembangkit gairah mengalun seduktif di balik bibir pink milik pria berambut kuning itu. Sasori berhenti berkomat-kamit. Bola matanya hendak keluar rasanya melihat Deidara dengan erangan tertahan memasukkan jari telunjuknya perlahan ke dalam belahan mulut nan tipis dan memainkan lidahnya disana. Air liur mengalir dari sudut bibir dan jari Deidara.

'Oh maimai! Apa dia memanggil ku tadi… Danna!' Sasori membatin horror. Ia menggelengkan kepala nya kuat-kuat. "Kau kenapa Dei? tiba-tiba saja aneh seperti ini…" Celana Sasori mulai sempit melihat adegan terlalu vulgar yang diperagakan laki-laki di hadapannya. Sasori mendekati kaki Deidara dengan gemetar. Namun entah setan apa yang memaksakan Sasori hingga menengok sekilas ke selangkangan Deidara.

Sungguh gila! Sasori memuncratkan darah dari hidungnya melihat kejantanan temannya itu telah berdiri dengan sempurnanya. Deidara yang melihat Sasori terpaku pada miliknya, perlahan menyusuri benda itu dengan tangan kirinya, begitu seduktif. Lidahnya menjilat-jilat bibir bawahnya perlahan. Sasori yang khilaf langsung menepis tangan Deidara dan secepatnya memasang celana dalam motif bunga itu.

Kaki Deidara memberontak. Deidara malah melebarkan kedua kakinya, membuat Sasori nyaris jantungan, dan berinisiatif memegang kedua kaki Deidara agar celananya dapat dipasang.

'Susahnya…tersiksa lahir bathin aku!' Sasori mendumel dalam hati menghadapi rontaan Deidara. akhirnya Sasori menduduki kedua paha Deidara dengan tubuh menghadap ke kaki laki-laki itu. Sasori membungkukkan badannya menggapai telapak kaki Deidara.

Dapat! Secepat kilat Sasori memasangkan celana dalam Deidara. Celana dalam itu berhenti di paha si blonde karena Sasori masih mendudukinya. Alhasil Sasori mengangkat sedikit pinggulnya dan menyusupkan celana dalam itu sampai menutupi benda pribadi Deidara.

"OH MAIMAIIII!" Teriak Sasori kaget karena tangan Deidara merayap dengan cepat melewati bokong Sasori yang masih terangkat dan menyergap cepat gundukan di sana. Sasori berusaha melepas tangan nakal yang meremas dengan tempo tak beraturan miliknya.

Nafas Sasori makin memburu. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan rasa sakit dan kenikmatan yang berkumpul dengan elitnya. Ah. Si pirang makin membuat Sasori repot.

"Kenapa, Danna-sama? kau tak tertarik pada ku, yah?" ucap Deidara kemudian setengah merajuk setengah mendesah.

Sasori memekakkan telinganya untuk mendengarkan desahan erotis Deidara yang entah kena apa sehingga bisa melakukan hal memalukan tersebut.

Waktunya memasang boxer. Sasori meraih boxer hitam itu, lalu memasangkan ke kaki Deidara. kali ini Sasori agak dibuat heran. Deidara sama sekali tidak memberontak. Sasori menaikkan sedikit pinggulnya lagi agar boxer itu benar-benar menutupi pinggang hingga paha Deidara, dan berharap penderitaan bathin nya berakhir.

SRET

Mata Sasori membola. Dengan cepatnya Deidara memeluk pinggang Sasori yang memunggungi wajahnya, lalu membanting tubuh itu ke kasur. Sasori belum dapat mencerna apa yang terjadi. Semuanya begitu cepat. Deidara menaiki tubuh pria yang beberapa senti lebih pendek dari dirinya itu. Boxernya masih tergantung di paha. Deidara menatap pria dibawahnya dengan mata berkabut, masih memasang senyum sensual. Sasori gelagapan dan menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Tangan Deidara bergerak menyusuri pipi mulus sang baby face, lalu bergerak ke telinga.

"Kau itu imut sekali, Dannah…aku suka sekali mata madu mu ini. Aku suka bibir tipis ini, aku suka pipi lembut ini, daan…" Kalimat beserta desahan tertahan keluar dari mulut Deidara. Deidara mendekatkan bibirnya ke telinga kanan Sasori, mengecupnya pelan lalu menjilatnya. "Aku suka aroma tubuh mu. Kenapa wangi sekali… ahh Sasori no Danna…"

Sasori menggelinjang. Jantungnya semakin terpompa tak karuan, hampir meledak.

"Ne~ Danna sayang… tubuh mu sensitive sekali ternyata…" Deidara masih asyik dengan kegiatan menjilat daun telinga Sasori. Sementara sang korban menggigit bibir bawahnya keras sambil berusaha menghentikan aksi itu. Sasori membuka kedua telapak tangan yang sedari tadi menutupi mata dan wajahnya yang merah, mendorong wajah Deidara dengan bringasan.

"Dei! sadar Dei!" Seru Sasori panik. Misi nya memasang celana Deidara masih belum selesai. Sasori menggampar wajah Deidara pelan, tak berhasil. Kali ini agak kuat hingga pipi kuning langsat itu agak memerah, namun yang terjadi malah Deidara memasang wajah hampir menangis.

"Aku mau bercinta dengan mu, hik –Dannah…"

Oh ya! Sasori menyeringai tipis. Dengan cepat ia membalik tubuh Deidara lalu menindihnya.

"Naa Deidara-koi… mau bercinta dengan ku?" seringai Sasori agak melebar. Wajah sensual Deidara kelihatan semakin menggoda. Deidara mengalungkan kedua lengannya di leher Sasori, lalu menariknya dengan cepat. Mempertemukan bibir pink nya dengan bibir tipis pucat pemilik mata madu itu. Melahapnya dengan ganas dan dalam. Sasori mulai membalas ciuman panas yang memabukkan. Dengan tak sabaran Sasori membalas lumatan-lumatan Deidara lebih keras sehingga Deidara kewalahan dan mendesah tertahan dalam ciumannya.

Sasori memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Deidara. sementara kedua tangannya bergerak ke paha si pirang dan meraup sesuatu yang masih menggantung di kedua pahanya.

Dapat!

Sasori mendapatkan karet boxer Deidara dan menariknya hingga menutupi organ pribadi si pirang. Setelah beberapa belas menit berciuman panas, Sasori melepas ciuman nya dan melihat bibir Deidara yang bengkak. "Kalau begini aku bisa benar-benar menganggap kau suka pada ku, Deidara…" Bisik Sasori pelan. Tangannya menyisir pelan rambut pirang Deidara yang lepek karena keringat.

Cup.

Sasori mengecup lembut kening Deidara. seketika mata ocean blue milik pemuda pirang itu tertutup, tergantikan dengkuran halus yang membuat Sasori lagi-lagi harus terkejut.

"Sebenarnya apa yang terjadi…" Sasori bertanya entah pada siapa. Kemudian Sasori memasang celana Deidara dan menggendongnya di punggung.

"Ayo pulang, Dei-chan…"

.

.

.

Karena telah hafal jalan, Sasori dengan mudahnya kembali ke posko. Asap hitam telah hilang. Sasori cukup kebingungan melihat tikar yang terbentang di halaman posko dekat jemuran. Tanpa senter pun mata Sasori bisa menebak serakan muntahan di sekitar posko dari bau menyengat itu. Sasori buru-buru masuk ke posko dan mendapati ruangan yang kosong melompong. Sasori mengambil kesimpulan bahwa teman-temannya mencari dirinya dan Deidara. Ngomong-ngomong soal Deidara, wajah Sasori kembali memerah mengingat apa yang dilakukannya bersama si pirang tadi. Sasori menurunkan Deidara dari gendongannya dan membaringkan tubuh kuning langsat itu di dalam kamar Konan. Memakaikannya kaos tipis dan menyelimutinya dengan selimut yang kemungkinan adalah milik Konan.

Sasori tersenyum tipis melihat wajah cantik itu begitu damai dan semakin kelihatan cantik dalam tidur nya. Sasori mengecup bibir Deidara sekilas, lalu menjauhkan wajahnya. Baru mau berbalik arah, Sasori kembali memutar tubuhnya memandang si pirang lalu kembali mendekatkan wajahnya.

"Maaf, bukan bermaksud kurang ajar dengan mengambil kesempatan, Dei… tapi errr… ya bibir mu ini begitu….ya begitu lah…" kembali mengecup. Kali ini sedikit lebih lama dengan lumatan kecil. Deidara melenguh pelan. Sasori menyudahi acara cium-ciumnya dan bergegas keluar dari kamar.

Sasori memakai pakaian lengkap beserta persenjataanya. Malam ini dia tak akan tidur. Dia harus waspada jika gerombolan pemuda tadi ingin menculik Deidara kembali atau cells datang menyerang tiba-tiba. Sasori merapikan ruangan tengah, mengatur bantal-bantal, senjata-senjata milik teman-temannya dan melipat kelambu besar itu.

Setelah semuanya rapi, Sasori mendudukkan dirinya di ruangan tengah. Duduk bersila. Pandangannya awas ke segala arah.

.

.

.


Hari kedua…

Pukul Sembilan pagi, Akatsuki duduk bersila di ruang tengah. Mereka semua terdiam, beberapa menundukkan kepalanya. Penampilan mereka acak-acakan dengan mata sembab.

Salah seorang dari mereka meringkuk di sudut ruangan. Tangannya memeluk kedua lutut gemetar. Wajahnya tersembunyi di dalam lipatan kaki. Disampingnya, seorang wanita berbisik-bisik pelan berusaha menenangkan dengan mengusap-usap kecil punggung laki-laki itu.

"Ini diluar dugaan ku…" sang pemimpin memijit pelipisnya –jengah. "Aku tak menyangka di desa ini pemudanya juga-" Pein tak lagi meneruskan perkataannya –tak sanggup. Ia lalu memutar sedikit kepalanya, memandang salah seorang anggota yang diharapkan akan sangat membantunya –terutama dalam menumpas gerombolan cells itu.

Tapi bagaimana mau menumpas? Baru hari kedua orang itu sudah down.

"Deidara…" panggil Pein pelan.

Laki-laki yang tengah memeluk lututnya itu tersentak. Tapi sedikitpun tampak tak berniat mengangkat wajahnya yang kusut.

"Ini semua salah ku leader…" Sasori mengalihkan perhatian Pein padanya. "Aku telah berjanji akan melindunginya. Tapi kenyataannya-"

"Ini juga bukan salah mu Sasori, kita semua memang lengah." Kakuzu memotong kata-kata Sasori.

"Ini memang salah ku. Sebenarnya permasalahan ini di mulai sejak laki-laki yang berkerumun kemarin melihat Deidara. Aku mendengar percakapan mereka. Aku memang berencana akan membicarakan masalah ini ke kalian. Tapi aku benar-benar lupa, bodohnya aku." Sasori kembali menyahuti ucapan Kakuzu.

"Jadi Deidara, aku sangat mengerti perasaan mu. Tapi Aku sangat berharap kau menguatkan hati untuk bangkit dan ikut bersama kami menjalankan misi kita yang sebenarnya di sini." Pein berkata dengan suara selembut mungkin.

Deidara tiba-tiba mendongakkan kepalanya, matanya menatap Pein marah.

"Mana mungkin kau mengerti perasaan ku leader!"

"Siapa bilang aku tak mengerti? Bukan hanya kau yang pernah mendapat pelecehan seksual." Jawab Pein dengan cepat.

Semua terdiam sesaat. Ingatan tentang perkataan Naruto kembali merambati fikiran mereka.

"OOH! Leader juga pernah di uke in sama Naruto ya. Tak ku sangka ternyata itu benar!" celetuk Tobi heboh tak kenal kondisi. Dasar autis *digampar Lolipop*

Semua yang disana ikut heboh dengan mulut menahan tawa. Pein menepuk jidat menahan keinginan hatinya yang terdalam untuk melakban mulut blak-blakkan laki-laki bertubuh tinggi itu.

'Tenang Pein… tenang… masih pagi…' bathin Pein setengah murka sebenarnya.

"Jadi ternyata itu benar… ck ck ck…" Itachi mengangkat telunjuk kanannya dan menggoyang-goyangkannya –mengejek dengan telak.

"Aku tidak pernah di uke in sama si pirang gila itu!" teriak Pein frustasi.

"Kalau begitu jelaskan apa yang terjadi, dong leader…" Kisame dengan cengiran mesem nya menatap Pein meminta klarifikasi.

Pein menghela nafas panjang sekali, lalu berkata. "Yang terjadi pada ku itu bukan urusan kalian. Yang jelas apa yang diceritakan si Naruto itu tidak benar. Percaya pada ku."

"Aku percaya pada mu, leader." Sasori tersenyum tipis.

"Iya iya… kami juga percaya pada mu. Kami tadi cuma bercanda leader…" gelak tawa akhirnya pecah di tengah-tengah kelompok itu. Dengan mereka sadari keadaan tegang dan menyedihkan telah pecah digantikan atmosfir yang lebih nyaman. Bahkan Deidara sedikit tersenyum melihat tawa teman-temannya.

Pein yang sedikit merengut karena merasa dipermalukan menatap Deidara yang tersenyum tipis. "Jadi Deidara…" Pein berdiri dan berjalan kearah si laki-laki cantik. Konan menyingkir dan mendudukkan dirinya di dekat Kisame.

Pein menjulurkan tangan kanannya. Dibalas tatapan bingung oleh si pirang.

"Percaya pada ku… aku tau perasaan mu…" senyum Pein dibalas anggukan pelan Deidara. dia menyambut uluran tangan itu dan berdiri. Pein menarik tangan Deidara dan mengajaknya bergabung dalam lingkaran teman-temannya untuk melanjutkan rapat.

"Terima kasih kawan ku." Pein tersenyum tipis, lalu mengedarkan pandangannya ke manusia-manusia lainnya yang membentuk lingkaran itu.

"Kita mulai rapat hari ini. Sekretaris, tolong siapkan buku dan pena untuk mencatat." Pein memberi perintah. Konan lalu bangkit dan merogoh buku dan pena yang tersimpan dalam ransel besarnya.

Konan mendudukkan diri disamping Kakuzu.

"Pertama. Masalah makanan…."

.

.

.


Pukul sebelas siang. Begitu selesai rapat, mandi dan sarapan, Akatsuki bergegas berangkat ke rumah kepala desa untuk membicarakan rencana program yang akan mereka jalankan hari ini, yaitu pengupayaan pemasangan listrik dengan tenaga diesel.

Mereka duduk melingkar di ruang tengah rumah tersebut, memulai rapat dengan kepala desa.

"Di sini diesel sangat susah nak. Sepertinya tak mungkin bisa diterapkan. Itu membutuhkan biaya yag besar." Danzo berkata lirih.

"Untuk itulah kami kemari rencananya mau mengganti dengan tenaga air, pak. Di sini air terjunnya bisa dimanfaatkan." sela Hidan. Danzo tampak mangut-mangut.

"Tapi tetap saja biayanya sangat besar… tak bisa kah kita hanya mengadakan program kerja yang ringan seperti belajar membaca menulis? Warga di sini sangat antusias…"

"Sayang sekali jika kehadiran kami di sini hanya membawa perubahan sekecil membaca menulis pak Danzo. Kami ingin memberikan perubahan yang lebih baik, tentunya dengan bantuan warga sini juga. Dan masalah uang bapak jangan khawatir. Bukan sombong atau apa, bahkan satu orang dari kami bisa membeli sepuluh mobil mewah." Hidan berkata dengan cepat sambil membentang selembar kertas di hadapan kepala desa.

"Kita bisa mengandalkan tenaga potensial dan kinetik dari air terjun untuk menghasilkan hidroelektrik." Hidan lalu menunjuk sebuah skema dengan tulisan-tulisan yang cukup rumit untuk dimengerti oleh kepala desa. "Ini namanya generator, pak. Generator ini di hubungkan ke turbin yang digerakkan oleh air terjun. Jika sukses, pasokan listrik di tempat ini akan melimpaaah." Dengan riangnya Hidan menjelaskan dan membentangkan kedua tangannya hampir-hampir mengenai kepala desa yang berada di sampingnya.

Pein melotot kejam. Hidan kicep seketika dan menurunkan tangannya dengan cepat, sementara teman-temannya sibuk menahan tawa.

"Bagaimana, pak?" tanya Pein kemudian.

Danzo tampak berfikir kembali. Lalu menangguk. "Baiklah. Saya akan kumpulkan warga desa untuk membantu. Kita akan mulai bekerja setelah makan siang." Jawab Danzo akhirnya.

"Satu lagi pak. Tolong kumpulkan juga anak-anak desa sini ke posko kami. Tak usah membawa apa-apa… kami telah menyediakan alat tulis dan buku untuk mereka." Lanjut Pein.

"Saya mengerti."

Pein lalu mengedarkan pandangannya ke teman-temannya. "Masih ingat rapat tadi? Konan, Deidara dan Tobi yang akan mengajar. Hanya hari ini saja Deidara ku izinkan mengajar, karena kondisi tubuhnya yang masih lemah. Sisanya membantu menyiapkan semuanya." Semua mengangguk sebagai jawaban.

Mereka pamit dari rumah kepala desa. Dalam perjalanan menyusuri hutan menuju posko, Sasori mendekati Deidara dengan muka sedikit memerah. "Em… Dei."

"Ada apa Sas?" Deidara mengalihkan pandangannya ke Sasori.

"Emm.. jadi…sebenarnya yang tadi malam itu, apa?" Sasori bertanya hati-hati, takut Deidara kembali murung. Namun diluar dugaan, mood si pirang tampaknya cepat berubah. Dia malah balik bertanya dengan wajah bingung, "yang mana Sasori? seingat ku setelah kedatangan mu aku muntah, lalu minum, lalu tidur sampai pagi." Jelas Deidara.

Raut wajah Sasori berubah pucat. 'jadi yang tadi malam itu Deidara melakukannya tanpa sadar?' Sasori mencoba menganalisis kejadian. ' Deidara mulai aneh setelah muntah –bukan! Tapi setelah minum air putih di meja! Jangan-jangan itu bukan air putih biasa!' Sasori kembali membathin dengan tampang polosnya, membuat Deidara membolakan matanya melihat tampang imut Sasori yang sedang berfikir keras.

"Ya sudah Dei…" Sasori kembali berjalan mendahului Deidara. Hidan yang entah sengaja entah tidak, mendengarkan percakapan itu mendadak kepo. Tapi nanti. Ada saatnya untuk bertanya.

.

.

.

Pemasangan listrik bertenaga air dilakukan deegan cepat dan tanpa hambatan yang berarti. Para pemuda, bapak-bapak dan rombongan kukerta sibuk bekerja sama untuk memasang tenaga hydro tersebut. Konan, Tobi dan Deidara membentang tikar yang lebar di depan posko mengajar anak-anak yang jumlahnya lebih dari tiga puluh orang. Sementara ibu-ibu menyiapkan kue-kue, minuman dan makan sore besar.

Makan sore besar?

Mereka berencana akan makan bersama sore ini di dekat sungai pukul lima sore. Artinya, kegiatan pemasangan listrik harus dihentikan sebelum waktu tersebut. Akatsuki maklum dengan sikap warga yang tak mau keluar di malam hari, mungkin takut di cegat gerombolan cells yang bengis.

Hari berlalu begitu cepat. Sebelum pukul enam, semua warga sudah berpamitan pulang dan akan kembali lagi untuk bekerjasama keesokan harinya.

.

.

.

Pukul tujuh malam. Pein mengumpulkan anggotanya untuk rapat selanjutnya. Rapat mengenai penyerangan terhadap gerombolan cells.

"Jadi, rencana awal untuk menghancurkan cells di pertengahan bulan ini, kita percepat mulai malam ini juga." Pein mulai menyusun rencana dan di simak dengan baik oleh anggotanya.

"Menurut kepala desa, sekeliling desa ini kemungkinan adalah tempat persembunyian kelompok-kelompok kecil cells. Pantas saja kita di serang kemarin. Mungkin di dekat perbatasan gerbang mereka melihat kita. Enam orang akan berangkat. Aku, Itachi, Zetsu, Konan, Deidara dan Kakuzu. Sementara Kisame, Sasori, Hidan dan Tobi berjaga di posko. Mana tahu mereka sudah mengetahui tempat tinggal kita. Aku dan Tobi akan mulai memasang jebakan mengerikan di sekeliling posko. Jadi, sekarang kalian tidur. Pukul satu kita berangkat."

Pein lalu menyuruh Tobi membagikan walkie talkie berbentuk headset kepada masing-masing anggota.

"Pasang ini ketika kita berangkat nanti, agar dapat berkomunikasi mengetahui posisi masing-masing. Ini adalah benda khusus buatan Tobi untuk misi kita."

"Tungu leader. Deidara sakit. Mana mungkin dia bisa ikut?" Sasori tiba-tiba menyela.

"Em. Aku sekarang baik-baik saja, Saso un." Jawab Deidara kalem. Dia mencoba-memasang walkie talkie dan mencobanya dengan Tobi yang ternyata juga telah memasang benda itu. "Halo, un. Deidara kepada autis, Deidara kepada autis." Lelucon Deidara mengundang gelak tawa temannya. Tobi manyun, namun tetap menjawab dengan nada kesal. "Autis kepada Deidara… Autis kepada Deidara…"

"Ah sudah-sudah. Simpan benda itu untuk nanti. Nah kau dengar sendiri jawabannya. Tenang saja Sasori. Sekarang tidurlah. Nanti di perjalanan akan aku jelaskan jebakan yang di pasang agar kalian tidak kena, dan Tobi yang akan menjelaskan pada yang tinggal." Pein melipat kedua tangannya di dada.

.

.

.

Hari ketiga…

Pukul satu dini hari. Pein dan Tobi membangunkan teman-temannya. Mereka telah bersiap dengan jubah kebanggaan Akatsuki dengan beragam senjata mengerikan di baliknya.

.

.

.

Hutan yang angker. Enam anggota Akatsuki bergerak cepat menyusuri pepohonan dengan pijakan samar. Aura hitam tanpa disadari berembus begitu saja dengan bebasnya dari tubuh mereka, memancarkan kengerian para pembunuh professional.

"Cells akan menyesal telah berurusan dengan kita…" bisik Itachi pelan namun dapat di tangkap pendengaran teman-temannya. Pein menatap ke mata onyx kelam Itachi, lalu menanggapi. "Aku mengerti rasa haus darah mu, pak Yakuza. Namun tetaplah tenang agar semuanya berjalan lancar. Kali ini jangan terlalu memperturutkan nafsu membunuh mu."

"Aku mengerti, pak ketua. Lebih baik sekarang jelaskan mengenai jebakan yang kau janjikan sadis itu." balas Itachi datar.

Pein menghela nafas, lalu di sepenjang perjalanan menjelaskan mengenai jebakan yang di pasangnya bersama si gila IT Tobi.

.

.

Perbatasan desa.

Akatsuki memandang awas sekeliling. Pein membagi anggotnya dua kelompok dan berpencar menyusuri keliling desa yang lebih banyak hutan itu. Kelompok Pein yang terdiri dari Deidara dan Kakuzu menyusuri mulai dari sisi kanan, sedangkan tim Itachi bergerak ke kiri dari gerbang, melompati jurang panjang yang masih di tutupi asap tebal. Dalam lima menit sekali, mereka akan terus memberi informasi pada teman-temannya mengenai keadaan mereka dan apa yang telah mereka temukan.

Hanya berselang sepuluh menit dari titik kedua tim berpisah. Tim Pein berhenti pada sebuah pohon raksasa di depan sebuah rumah besar namun bobrok itu. Mata mereka mengerjap sesekali. Beberapa laki-laki keluar masuk dari rumah dengan membawa wanita-wanita cantik yang ketakutan. Itu benarkah sarang salah satu anak buah cells?atau hanya rumah bordil biasa? Deidara dan Kakuzu turun dari dahan pohon, berjalan pelan mengitari rumah itu berlawanan arah dan berdiri di samping jendala.

"Bagaimana?" tanya Pein di balik walkie talkie.

"Belum bisa dipastikan, leader un." Jawab Deidara. Dia mengintip sedikit ke jendela, tiba-tiba saja seseorang menepuk pundaknya dari belakang.

"Hei! Apa yang kau lakukan di sini, manis?" tanya orang itu. tubuhnya besar tinggi dan bau alcohol. "Kau manis sekali, pakai acara malu-malu. Lihat teman-temanmu sudah menunggu di dalam sana. Dan coba lihat pakaian mu ini. apa kau ini pesanan khusus bos? Selera bos tinggi juga…" orang itu mangut-mangut dalam mabuknya.

Pein, Kakuzu dan semua teman-teman Akatsuki mendengarkan interaksi dua orang itu dalam diam dan ketegangan. Sasori dan Hidan yang paling cemas saat ini. Deidara lalu menempelkan tubuhnya ke orang itu. berkata pelan, "Iya… aku ini pesanan bos tertinggi mu. Kira-kira dimana yah… markas nya, un?"

"Oh! Kau ini orang baru ya?. Tempat bos ada di… ah aku juga kurang tahu sih, belum pernah kesana."

"Oh gitu… kau tau sesuatu tentang…cells?" tanya Deidara dengan seringai tipis. Pemuda mabuk yang terpesona oleh seringai Deidara itu mengangguk cepat. "Tentu saja. Kami ini kan bagian dari cells. Disana…sana…sana… lalu sana lagi… dimana-mana banyak terdapat markas kecil khusus anggota seperti tempat ini." jawab orang itu dengan entengnya.

"Hmmm… kalau di dekat hutan bagian sana jurang bagaimana?" tanya Deidara lagi.

"Oh… disana… setau ku tidak ada apa pun."

"Berbalik." Bisik Pein.

Tim Itachi yang mengerti arahan tersebut, berbalik arah menuju tempat Pein berada. Sedangkan Deidara masih memberondong laki-laki itu dengan banyak sekali pertanyaan.

Tim Itachi telah sampai di tempat Pein, namun Deidara masih asyik menginterogasi salah seorang anggota itu dengan mudahnya.

"Jadi… aku telah menjawab semua pertanyaan mu, sebelum menemui bos besar? Boleh kan aku minta cium…?" kata laki-laki itu. Deidara memasang tampang merajuk, sementara tangannya merayap ke balik jubah, mengambil sesuatu yang bertengger tajam disana.

CRAATTT!

Jerit tertahan bergema dengan seorang laki-laki mabuk yang bergelimpangan di tanah. Darah mengucur deras dari kepalanya yang terbelah dengan kapak di tengahnya. Tak ada satu orang pun yang mengetahui apa yang terjadi pada orang mabuk itu.

Dengan tampang tak berdosa Deidara mencabut kapaknya dari kening orang itu dan berbisik pelan, "kalian sudah dengar sendiri mereka anggota cells."

Pein memberi aba-aba. Anggota Akatsuki yang lainnya ikut turun mengelilingi rumah tersebut.

"Kali ini… tolong lakukan dengan bersih. Aku tak mau salah seorang dari mereka berteriak. Bisa-bisa anggota yang lainnya datang."

"Siap leader."

.

.

.

Tiga jam adalah waktu yang cukup panjang bagi mereka untuk menghabisi beberapa puluh orang dalam rumah besar itu. Akatsuki cukup kesulitan menyergap satu tersatu orang dan membunuh mereka tanpa suara bising. Apalagi banyak perempuan warga asli desa di sana.

Subuh telah tiba. Enam anggota Akatsuki pulang dengan lumuran darah di sekujur jubah dan tubuh mereka. Para perempuan telah di suruh pulang kerumah masing-masing dan mereka berjanji akan menutup mulut mengenai hal yang dilakukan Akatsuki agar warga tidak gaduh. Di sekeliling posko, empat anggota Akatsuki yang lain masih berdiri di posisi masing-masing dengan senjata yang sudah mereka persiapkan. Setelah malam ini, malam berikutnya akan lebih melelahkan bagi mereka…

Bersambung.

Maaf pembaca sekalian, lagi-lagi saya telat update. Biasa, ngurus banyak hal di dunia nyata khahaha.

Naruto baru akan muncul kembali di chapter berikutnya :)

Bersediakah pembaca sekalian meninggalkan review? Terima kasih bagi yang telah menyempatkan waktunya untuk meriview, follow dan fave fic gaje saya…