Nightmare In Reality

By Kitahara Aoi

Disclaimer : Kuroko's Basketball © Fujimaki Tadatoshi

Genre : Horror, Mystery, Psychological

Rated : M (for bloody's party :v)

Pair : MidoAka

Slight : MidoTaka, AkaKuro

Warn : Typo(s), OOC, absurd, weird, strange, bad story, bad summary, no feels, bloody action, the title does not fit to story, etc.

Saya tidak mengambil keuntungan apapun, semuanya hanya untuk menghibur para pembaca.

Summary : Midorima, Kuroko, dan Takao pergi kesebuah mansion yang terdapat mitos mengerikan. Dengan rasa penasaran mereka pun pergi menuju mansion tersebut untuk membuktikan rumor yang beredar. Namun mereka melihat sesuatu yang tidak seharusnya mereka lihat.

Happy reading!

Don't like, don't read please

.

.

.


"Kenyataan kadang tidak selalu sama seperti ekspetasi bukan..?"


Chapter 6 [Tragedy]

Author POV


Pintu ruang Akashi terbuka, Takao yang nampak heran. Takao berjalan mendekatinya dan mengintip sedikit melalui celah kecil tersebut. Matanya membola terkejut dengan apa yang di lihatnya. Tiba-tiba tubuhnya kaku untuk bergerak, ia mundur beberapa langkah tanpa memperhatikan sekitar.

Punggung terasa menabrak sesuatu, bukan! Itu bukan dinding! Dengan segenap tenaga yang di milikinya, Takao membalikkan tubuhnya dengan rasa gemetar yang menjalar di tubuhnya. Sekali lagi ia terkejut dengan kenyataan yang ada. Ia terjatuh kebelakang, berusaha mundur dan menjauh dari sesosok yang di lihatnya tersebut, namun terlambat. Pria tersebut menjambak surai raven Takao dan menariknya masuk kedalam ruangan Akashi, ia mengunci pintu tersebut.

.

.

.

.

.

Tak ada yang tahu apa yang terjadi di sana.

Apakah kau bisa menebaknya?

Tentang misteri ini..


Nightmare In Reality

By Kitahara Aoi

Disclaimer : Kuroko's Basketball © Fujimaki Tadatoshi

Genre : Horror, Mystery, Psychological


Gemericik hujan masih dapat terdengar membuat Midorima terjaga dari tidurnya. Listrik masih yang padam hanya menyisakan cahaya remang dari jendela kamarnya. Midorima menatap kesampingnya dan mendapati Takao yang menghilang entah kemana. Ia khawatir dengan Takao. Huh? Khawatir? Tidak biasanya dirinya sekhawatir ini dengan partnernya mengingat Midorima adalah orang yang tidak pernah peduli dengan apapun.

Setelah beberapa menit berdebat dengan pikirannya ia pun memutuskan untuk pergi mencari Takao. Berkali-kali ia menyakinkan dirinya bahwa ia tidak takut dengan setan dan iblis semacamnya. Keadaan mansion yang sepi membuatnya dapat mendengar detak jantungnya sendiri. Terlihat di luar sana hujan masih mengguyur dengan derasnya membuat suasana semakin menyeramkan.

Derap langkah kaki terdengar, Midorima berjalan perlahan sembari tetap waspada dengan sekitarnya. Ia mengusap lengannya sendiri. Ugh tubuhnya menggigil kedinginan mengigat hawa disekitarnya terasa kurang nyaman.

Midorima mencari Takao di dapur namun tak menemukannya, ia pun beralih ke kamar mandi namun tak juga ia menemukan batang hidung Takao. Ia memijit pelipisnya, sejak kapan Takao menjadi seorang yang ahli dalam bersembunyi sih? Midorima terus melangkahkan kakinya mencari di seluruh penjuru mansion. Ia bingung kemana perginya Takao? Tiba-tiba sebuah ide sekilas melintas di benaknya.

"Sepertinya aku harus bertanya pada Kuroko.." gumamnya.

Midorima pun memutar arah menuju kamarnya Kuroko, menyebalkan sekali jika ia harus berjalan di tengah kegelapan yang hanya bermodalkan cahaya remang dari halilintar di luar ruangan seperti ini. Ia kembali mempercepat langkahnya yang terkesan merasa terganggu dan tak nyaman. Ia melihat sebuah pintu di ujung koridor dan berhenti di depannya.

"Kuroko?" Midorima mengetuk pintu kamar Kuroko.

Sunyi..

Tak ada jawaban dari Kuroko. Hanya ada keheningan dan suara tetesan air hujan yang menabrak jendela. Perasaannya menjadi tidak nyaman.

"Kuroko kau ada disana?" Kembali Midorima memanggilnya.

Dan sekali lagi Kuroko tidak menjawab panggilan Midorima.

"Apa dia tertidur?" pikir Midorima.

Midorima menggeleng pelan, ini belum terlalu larut untuk tidur. Midorima menarik nafas dan menghembuskannya, mencoba menguatkan dirinya. Tangan kirinya yang terbalut perban tersebut memegang handle pintu dan memutarnya.

Krek..

Pintu terbuka memperlihatkan kamar dengan desain interior yang mewah khas bangsawan, kamar yang mirip seperti yang di tempati oleh Midorima. Ia melangkahkan kakinya masuk dengan pelan.

"Kuroko?" Midorima menoleh kesamping kanan dan kiri untuk mencari keberadaan Kuroko.

Namun kamar tersebut kosong. Hanya terlihat ranjang king size yang terlihat tidak rapi seperti sehabis di gunakan. Ia memeriksa kamar mandi dan lagi-lagi tak mendapati temannya tersebut. Midorima merasa ini benar-benar aneh sekarang, kedua temannya menghilang entah kemana dan meninggalkan dirinya seorang diri di sini.

Sebisa mungkin Midorima berpikir positif, mungkin keduanya sedang berada di kamar Takao, bermain bersama tanpa mengajaknya. Ya pasti itu! Jika saja memang benar seperti itu mungkin ia akan mengamuk pada kedua manusia tersebut. Akhirnya Midorima kembali menuju kamar Takao, namun aneh ruang kerja Akashi terbuka, cahaya remang dari jendela ruang kerja Akashi yang membuatnya dapat melihat pintu itu terbuka.

Midorima mendekati pintu tersebut, mencoba memfokuskan pandangan dengan apa yang ada di hadapannya. Namun ia terkejut, terkejut bukan main.

Bau anyir khas besi memasukki rongga penciumannya, membuatnya hampir muntah. Setumpukkan mayat terlihat saling tumpang tindih di dalam ruangan tersebut, tangannya bergetar memegang handle pintu, ia ingin lari, ia ingin pergi. Namun seakan kakinya kini membeku membuatnya tidak bisa lari. Hatinya berteriak ingin pergi namun pikirannya merasa ingin tau jasad siapa yang ada di sana.

Tubuhnya berjalan memasukki ruangan Akashi meskipun bergetar hebat, sambaran halilintar memberinya cahaya untuk melihat lebih jelas. Tubuhnya membeku, perutnya mual, matanya membola tak percaya. Dihadapannya kini terlihat sebuah kapala tanpa tubuh dengan mata yang masih terbuka lebar. Dengan tangan gemetar Midorima mencoba menyentuhnya.

Surai itu, surai orang yang sangat di kenalnya, surai langit musim panas, iris aquamarine. Kuroko. Yap teman satu kelasnya yang bersamanya tadi kini sudah dalam keadaan tak bernyawa tanpa tubuh. Midorima mengeluarkan isi perutnya yang berisi makan malam tadi. Memuntahkannya sembari menangis menatap temannya tersebut.

Sebuah benda bergelinding menabrak punggungnya, seperti bola yang berat namun rasanya sedikit berbeda, Midorima pun membalikkan tubuhnya dan lagi-lagi ia di kejutkan dengan sebuah kenyataan yang menyakitkan. Surai raven dengan poni yang terbelah di tengahnya pun kembali membuat Midorima menangis menatapnya. Takao. Yap benda tersebut adalah kepala Takao yang kondisinya hampir sama seperti Kuroko.

Midorima menatap seluruh penjuru ruangan. Sadis, ini benar-benar sadis. Bagaimana tidak? Beberapa tubuh mayat tanpa kepala terlihat tak lagi utuh. Mengingat dari beberapa jasad tersebut terlihat beberapa organ bagian dalamnya yang berceceran kesana kemari, ia tidak bisa mengenali yang mana tubuh Kuroko dan Takao. Kepalanya berkunang-kunang, pusing yang membuatnya hampir pingsan melihat keadaan ini.

Siapa gerangan orang brengsek yang tega menghabisi nyawa kedua temannya tersebut? Midorima mengepalkan erat kedua tangannya.

"Pasti Akashi yang melakukannya.." gumamnya pelan.

Ia yakin bahwa pasti Akashi yang melakukannya, bagaimana tidak? Siapa lagi memangnya orang yang membunuh Kuroko dan Takao jika bukan Akashi? Ia pun melangkahkan kakinya keluar mencoba menghakimi Akashi dengan tangannya sendiri. Namun langkahnya terhenti melihat sesosok jasad yang berada di belakang pintu, keadaannya bahkan jauh lebih mengenaskan ketimbang Kuroko dan Takao.

Surai crimson itu, ia mengenalnya. Surai yang hanya di miliki oleh seseorang yang menjamu dirinya, Kuroko, dan Takao. Seseorang yang memberikannya tempat untuk berteduh dari hujan. Seseorang yang selalu sendirian tanpa siapapun di sekelilingnya. Dan seseorang pemilik mansion ini.

Akashi Seijuurou.

Kembali mata Midorima membola seketika, bagaimana mungkin Akashi dan kedua temannya mati? Lalu siapa yang membunuh Kuroko dan Takao? Ia masih menatap tak percaya kepada sebuah benda yang memiliki surai crimson tersebut, kedua bola matanya hilang dan mulutnya yang mengangga lebar.

Tubuhnya melemas melihat pemandangan yang mengerikan tersebut, Akashi terbunuh? Siapa gerangan yang membunuh semua orang yang ada di ruangan ini? Dengan tertatih-tatih Midorima keluar dari ruangan tersebut.

Indra pendengarannya mendengar sebuah besi yang diseret dan nampak seperti di pukulkan secara perlahan pada pilar-pilar yang ada. Tubuh Midorima menegang, dengan sekuat tenaga yang ada ia lari menjauhi asal suara tersebut. Ketakutannya semakin menjadi-jadi seketika mendengar suara tersebut semakin mendekatinya.

Midorima yang berlari dengan tergesa-gesa membuatnya ceroboh. Ia tersandung kakinya sendiri menyebabkan dirinya terjatuh dengan tidak elitnya, kacamata miliknya pun terlempar entah kemana. Suara besi tersebut terdengar semakin dekat, semakin dekat dan tak terasa kini hanya tinggal beberapa meter di belakangnya.

Midorima menyeret kedua kakinya sebisa mungkin. Efek terjatuh tadi membuat kakinya terkilir sehingga tidak bisa di gerakkan. Suara tersebut semakin dekat, tepat di belakangnya. Terlihat dari bayangannya sepertinya orang ini tidak lebih tinggi dari pada dirinya. Midorima membalikkan tubuhnya menatap orang tersebut.

Terlihat dari surainya yang pendek sepertinya pria, namun karna tidak mengenakan kacamata di tambah cahaya yang remang-remang membuatnya tidak dapat melihat wajah pria tersebut. Pria tersebut membawa pemukul bat berbahan besi di tangan kanannya. Midorima terdiam terpaku dan membeku, ia tidak dapat lari. Ah sepertinya orang inilah yang bertanggung jawab atas kematian ketiga temannya tersebut.

Terlihat pria tersebut menyeringai ala psychopath kearah Midorima sebelum memukul kepalanya dan membuatnya pingsan tak sadarkan diri.

Terdengar tawa iblis yang menggema di seluruh ruangan, pria tersebut mengusap surai go green Midorima, kemudian membawa Midorima pergi bersamanya

.

.

.

.

.

Misteri baru pun muncul..

Apakah kau tau kebenaran di balik ini semua?

Siapa dalang dari pembunuhan yang terjadi?

Dan akan seperti apa akhir dari cerita ini?

.

.

.

.

.

The End

.

.

.

.

.

.

.

.

Bercanda.. XD

To be continue...

.

.

Mind to RnR?


A/N :

Yahallo Aoi balik lagi dengan fict ini..

Ahahaha gomen kalo ceritanya terlalu mononton dan kurang sadis, karna ini untuk mempersingkat cerita dan memudahkan readers buat menebak siapa pelakunya..

Gimana? Apa ceritanya selalu ngga terduga semacam pandora? Begitulah~ Dan dengan berat hati harus Aoi katakan fict ini sebentar lagi akan mencapai final ending~ *tebar bunga*

Silakan berspekulasi siapa pembunuh tersebut, dan tentu saja di chapter depan akan terungkap siapa pembunuhnya, karna Aoi sudah memasang beberapa skenario bagus (menurut pribadi)

Oke oke daripada Aoi ngebacot ngga jelas.

Time to reply review!

TanakaIchira : Heee~ Nande deshou ne? Saa.. Tapi sayangnya bukan cuma Takao yang jadi korbannya~ Oke ini udah di lanjut, arigatou sudah mau menunggu fict ini update dengan tenggak waktu yang selalu berubah-ubah macem kamen read*r.. Thanks for review!..

kireimozaku : Saa.. siapa kira-kira orang yang di lihat Takao? Akashi? Entahlah~ Dan abaikan saja seseorang yang meniup-niup leher Midorima, itu hanya ayakashi yang sedang iseng(?) /dilempar lucky item sama readers + Midorima/ bebeb Sei-kun Aoi itu bukan dukun ato semacemnya yang suka melihara yang begituan XD semoga di chapter ini semakin bikin kirei-san makin penasaran, mari berspekulasi! Thanks for review!..

uzumaki himeka : Fufufufu~ ternyata banyak yang nebak Akashi ya? Hmm.. Saa.. kita liat aja gimana akhir dari cerita teror yang mengerikan ini~ terima kasih atas dukungannya! Thanks for review!..

Oke done!

Thanks for fav, follow, and review my story..

You are awesome..! *bakar kemenyan*

See you in the next chapter~

.

.

Next chapter :[Haruskah Aku Mempercayai Ini?]