Kode Merah: OOC (Out Of Character)–DOC (Death Of Character), CCD (CaCaD), AU (Alternative Universe). Cacad mencakup misstype serangkai menjamur, rasa mengantuk, menyesal, bengong ga ngerti, alur kelamaan, author kemalesan yang gila.
Karena... semalam, baiklah itu bukan semalam tapi sudah pagi, Eren terlibat baku hantam dengan Levi dan akhirnya berakhir dengan ia tidur sendirian di luar.
Sekarang Eren mengerti kenapa Levi bisa bangun pagi, karena sesungguhnya tidur di sofa tidak begitu menyenangkan. Lagi atmosfir di luar rasanya dingin dan mencekam, dapat mendengar apapun yang terjadi juga, selain posisi yang sudah pasti kurang nyaman.
Eren baru hanya melihat sekitar, kalau matahari bahkan belum tampak dan langit masih membiru tua. Selain itu keadaan super hening super dingin, penurunan suhu yang terjadi saat pagi buta benar-benar membuatnya membeku. Walau sebenarnya masih belum jelas motif penggusuran Eren dari kamarnya sendiri, tapi mungkin saja ada unsur balas dendam. Levi mungkin saja ingin agar penderitaannya ada yang mengalami juga.
Eren akhrinya berdiri dan hendak untuk membasuh wajahnya yang masih berat, sungguh rasanya bukan tidur 1 malam, tapi hanya 5 menit berlalu. Ia pergi mencuci wajah tidak ke kamar mandi, tetapi pada bak pencuci piring di dapur. Setelah menekankan nafas dalam-dalam lalu membuangnya jauh-jauh ia menekan kedua tangan pada pinggiran bak, tetesan air berjatuhan di ujung dagunya.
Berhubung ia sedang ada di dapur, membuatnya teringat sekaligus memberikan sebuah ide yang tidak gila... Eren ingin membuat sarapan.
Mungkin sekalian sebagai permintaan maaf terbesar darinya yang bisa ia lakukan.
Ragu, tidak yakin, takut juga.. apakah mahluk dunia kurcaci itu akan membanting meja makan melihat hidangan yang amburadul? Atau tidak? Tapi seburuk-buruknya pun Eren sudah terbiasa menerima yang paling buruk
Akhirnya sekitar 1 jam berlalu, setelah bunyi-bunyi gaduh dan bunyi mencurigakan membahana mengudara, Eren selesai.
Eren duduk manis di meja makan, menanti pangeran tidurnya bangun. Tapi rasanya lamaa sekali mungkin hampir setengah jam, ia tidak tahan juga keburu mati kelaparan.
Munculah keinginan darinya untuk pergi menembus kamar dan membangunkan singa tidur, tetapi... terakhir kali pintu itu dikunci bukan? Hingga ia berakhir dengan melewati pagi buta di luar. Baiklah mungkin tidak harus menembusnya juga, ketuk saja pintunya.
.
.
.
Tidak ada reaksi, akhirnya Eren mulai berteriak-teriak layaknya Tarzan di hutan rimba. Tangannya sudah memerah mengetuk kayu di depan wajahnya, sebenarnya ia bisa saja mendobraknya langsung... tetapi itu kelewat heboh.
Akhirnya Eren berhenti, ia menundukan kepalanya dan menempelkannya pada badan pintu. Terpikir kalau ia akan mengintip Levi dari jendela, apakah yang sebenarnya sedang dilakukannya hingga tidak menjawab? Tidak kedengarankan tidak mungkin. Apa Levi sedang mendengarkan lagu di dalam menggunakan headphone volume paling besar? Itu hanya kebiasaan yang dilakukannya sendiri.
Eren pun pergi keluar, memutar rumah hingga ia dapat melihat jendela kamarnya sendiri.
Langsung saja ia gedor jendela itu, kalau bisa mungkin sampai pecah. Melihat lewat hordeng transparan, tapi hampir tak kasat karena kaca pada jendela adalah riben. Sayangnya jendela ditutup, ingin ia ambil linggis untuk mencongkelnya... sekaligus untuk mencongkel mahluk di dalamnya keluar.
Eren akhirnya menyimpan tenaganya kembali, menyenderkan badannya kepada tembok.
Kali ini apakah sebuah balas dendam, lelucon, atau Levi memang benar-benar telah kehilangan kesadarannya?
Eren merasa niatnya yang baik hati terhkianati oleh Levi, sungguhlah sekarang ia menganggap manusia salju itu manusia paling berdosa.
Akhirnya karena Eren ngambek beneran, dia makan sendiri. Makin parah ketika kebosanan melanda karena handphonenya ada di kamar. Untung saja dikunci, kalau tidak bisa saja Levi mendadak stalking terus melihat-lihat galerinya.
Ingin menonton tv remotenya tidak ada, sungguh Armin mungkin membawanya dalam perjalanannya. Lagi tv seperti itu tidak tahu rasanya bagaimana menyalakannya tanpa remote.
Sengaja membuang-buang waktu biar lamaan dengan berendam 2 jam di kamar mandi, hampir rasanya tertidur pengaruh dimabukkan aroma.
Untuk membunuh waktu.. apakah sekarang ia harus melakukan tugas rumah juga seperti Levi?
Eren memutar bola matanya ke atas, haaa... tidak mungkin.
Akhirnya ia hanya duduk manja bersandar di sofa ruang tengah. Ingin berenang rasanya... mungkin, lain kali saja kalau kenangan pahit itu sudah mulai pudar rasanya.
Akhirnya Eren ke atas, berniat main bilyar sendirian lagi.
Ketika sudah menyentuh stik bilyar, ia tidak sadar kalau keasikannya yang sendiri ini membuatnya lupa. Melihat jam dinding di sana menunjukan hampir tengah hari, turunlah ia ke bawah.
Benar saja, masih tidak ada tanda-tanda kehidupan kalau seorang sudah keluar dari tempat peristirahatannya.
Eren tidak ingin menggunakan kemampuannya membuka kunci, atau menyongkel jendela...
Tetapi rasanya ini harus.
Akhrinya ia berkeliling rumah untuk menemukan benda yang dapat dimanfaatkannya untuk melakukan kerajinan tangan ini. Karena ia tidak menemukan kawat, dan rasanya terlalu ekstrim kalau memutus kawat sembarangan, ia menemukan linggis di kebun.
Setelah menyodok jendela dengan cepat dan mudah selesai, ia dapat melihat situasi di dalam lebih jelas. Tapi sayangnya kalau memang harus menerobos dan masuk lewat jendela, maka ia harus melengkahi Levi. Karena poisi ranjang singa tidur itu menempel dengan tembok yang ada jendelanya. Dengan perasaan yang melompat-lompat seperti popcorn di panggangan, ia akhirnya menginjak ranjang itu. Untungnya badannya muat masuk lewat tralis, dan posisi Levi juga sedang menghadap ke samping membelakanginya.
Sejujurnya sih, kalau Eren sendiri berada di posisi Levi sekarang ini, maka dia akan bangun. Mendengar suara maling yang menerobos rumah dengan kasar, masa tidak bangun.
Akhirnya. Eren berjinjit dan lompat melewati singa tidur, inginnya saat dilompati sih langsung terbangun. Tapi tidak.
Kini sepasang matanya yang keseluruhan bewarna hijau menatap sosok di depannya yang masih saja, masih saja... masih... menutup mata, wajah Eren sudah menampakkan ketidak senangan yang luar biasa.
Karena linggisnya ia bawa juga, untuk berjaga-jaga di situasi yang seperti ini... langsung saja ia tusuk mahluk di depannya dengan linggis berkarat itu, awalnya pelan seperti hanya menyentuhnya dengan cotton bud. Tetapi karena reaksi masih juga belum terjadi, Eren paksa menggunakan tenaga menusuk bahu Levi dengan linggis.
Eren sudah menyiapkan rencana kalau masih tidak berhasil menusuk pundaknya dengan linggis, maka ia akan menusuk bagian yang lain... bisa jadi bagian bawah.
Ternyata Levi terbangun pada saat itu juga... ia akhirnya membuka mata walau dengan slow motion, menatap langsung Eren yang jelas-jelas masih memegang linggis di depannya, tentu ia akan tahu kalau pelakunya adalah dia.
Eren pikir, Levi pasti tahu tujuannya apa menusuknya dengan linggis... setidaknya ia bisa berdiri dan bangun, tetapi detik berlalu dan yang terjadi hanya tatap-tatapan antara kedua belah pihak. Melihat sepertinya Eren hanya kurang kerjaan, hendaklah Levi menutup kedua matanya kembali.
"Apa kau tidak mengerti juga aku menyuruhmu untuk bangun?" Ucap Eren sebelum Levi menutup matanya. Ujung linggis masih menempel pada bahunya, ia sengaja.
"Aku sudah bangun sejak kudengar ada kegaduhan dari dapur," Eren langsung membeku mendengar jawabannya.
Ia pun menutup mata dan menarik nafas dalam, "... baiklah, kau sudah mendengarnya bukan? Sekarang bangun!" Perintahnya tiada henti.
"Ambil saja handphoemu kalau bosan dan pergilah, kunci kamar ada di belakang pintu," seraya Levi menutup kedua matanya kembali.
"..."
Keheningan menyerbak di antara keduanya.
"Levi-san..." Suara Eren mulai serius.
"Aku tahu kau masih marah padaku, tapi tolong jangan begini... tidur di luar benar-benar tidak enak!" Detik selanjutnya Eren langsung luluh tubuhnya dan kini kian berlutut di hadapan sang pangeran, dengan suara memohon dan segala macam, linggis itu sudah dibuang.
Levi tahu ini takkan mudah, kecuali ia sendiri yang mengakhirinya. Tetapi ia diam saja bahkan tetap memejamkan mata.
Tetapi Eren mulai sewot dan mengguncang-guncang tubuh mini di depannya. "Huaa...~ kau bahkan tidak menjawabku!"
Tidak tahan karena kegilaan makin menjadi, Levi segera bangkit dan menepis tangan Eren dari tubuhnya. Entah ini kelihatannya bagus atau buruk, tetapi wajah dingin itu masih begitu-begitu saja sambil bangun lalu melangkah melewati Eren.
Sebenarnya tidak ada alasan yang jelas bagi Eren, tetapi ia langsung mencegat langkah Levi dengan menarik tangannya.
"Hei..." Eren mengadah menatap wajah yang makin tidak senang dengannya itu, "aku sudah membuatkan... mm... makanan... kau akan memakannya kan?" Tanya Eren ragu, hanya tatapan dari warna paling gelap yang dilihatnya sebagai jawaban.
"Omong-omong, tanganmu panas sekali... apa kau demam?" Mendengarnya langsung membuat Levi menyingkirkan tangannya dari jeratan setan lalu segera pergi.
Langsung saja Eren menyamakan posisi dengan Levi, berdiri dan mengejarnya, "t-tunggu dulu!"
Karena Eren lebih cekatan, maka segera ia melangkah duluan dan menghadang Levi di muka pintu. Melihatnya, Levi sudah biasa mungkin dengan kegilaan-kegilaan belakangan ini, maka ia tetap saja memantapkan niat untuk menerobos Eren.
Hendaknya Eren akan melawan kalau saja itu memang harus, ia sudah mempersiapkan rencana. Tapi nyatanya begitu Levi ada tepat di depan wajahnya, manik hijau nampak tak berkutik melihat dinginnya warna mencekam yang seolah akan menelannya.
Namun detik selanjutnya bukan Eren yang bertindak, Levi mengambil kedua tangannya lalu menaruhnya di wajahnya yang dingin dan kaku itu.
Bukannya merasakan panas yang ada kalau Levi memang demam, tetapi Eren suda tidak tahan duluan dengan panas yang menjalar di pipinya sendiri.
"Aku baik-baik saja," kata-katanya dari jarak sedekat itu membuat Eren terperangah se-terperangahnya, lemas ia langsung seluruh badan.
Mungkin hanya untuk pembuktian. Tetapi Eren terbawa perasaan sendiri, hingga ia tetap hening di sana dan membiarkan Levi keluar seenaknya. Sudah ia tak ingat lagi apakah awal pembicaraannya tadi.
Walau sebenarnya dengan merelakan Levi sendirian, Eren jadi tidak tahu apa dia benar memakan makanan buatannya atau diberikan saja kepada hewan liar... enthahlah.
Eren baru bisa meninggalkan kamarnya ketika menjelang malam, setelah ia tertidur sendiri di kamarnya melepas rindu dengan ranjang usang.
Sejak perputaran kehidupan mereka yang mulai racau, pagi kesiangan, malam kepagian, sadar-sadar kalau pukul 6 kini sudah makan malam.
Eren keluar karena mendengus aroma yang membuatnya beleberan air liur, karena aroma makanan yang menggugahlah yang ditangkap inderanya. Biasanya mungkin akan tercium, tetapi kali ini semerbak. Ia sempat berfikir kalau ini memang sengaja sebagai cara efektif untuk membangunkannya.
Tak lain dan tak bukan pasti itu adalah aroma makan malam yang bersumber dari dapur, segeralah ia dengan antusias layaknya hewan yang akan diberi makan oleh majikannya.
Di hadapannya adalah pria berwajah masam yang mulai duduk dan nampak berdoa sendirian, Eren yang masih mematung karena melihat hidangan yang lagi-lagi homey banget segera mengambil kursi di seberang Levi. Tidak ada yang salah dengan homey kalau memang rasanya enak. Diam-diam bibir itu tersenyum, tipis hampir tak terlihat.
Tetapi, baru saja Eren memain-mainkan sendok. "Eh... Levi-san, boleh aku bertanya?"
"Katakan," bahkan ia tidak beranjak dari aktivitasnya, makannya serius banget.
Eren diam saja melihat kelakuannya begitu. "Mmm.. benar kau tidak akan marah kalau aku bertanya soal ini?"
Mendengar kata-katanya yang mulai ambigu, Levi megadahkan pandang kepada Eren, "soal apa?"
"Berapa sebenarnya usiamu?" Kedengarannya lancar dan tidak tersendat, walau tatapan Eren kepada Levi mulai ragu.
Tahu bahwa pertanyaannya ternyata tidak begitu penting, dan tidak seserius itu, Levi kembali melanjutkan makannya... hening sebentar Eren menunggu panda memakan bambu 2 tahun.
"20."
Krik..
Krik...
Krikk...
"Hello...? Maaf aku kurang jelas mendengarmu tadi?" Ulang Eren.
"Usiaku 20 tahun."
Hanya sebuah kata tidak dapat membuat Eren percaya, semudah itu, tidak akan.
"Aku tidak percaya kalau kita hanya berbeda 3 tahun," kini ia berikan tatapan yang penuh dengan kecurigaan, layaknya sedang mengintimidasi.
Mendengar baby Eren mulai merajuk, Levi segera menurunkan sendok dari mulutnya lalu menatap anak di depannya dengan yakin, "kau mau tahu kebenaran yang sesungguhnya?"
"Apa?" Langsung saja Eren.
"Aku masih 19 tahun sekarang ini, belum sampai 20."
"..."
"..."
Hening.
Tetapi, masih saja Eren penasaran. "Apa kau punya bukti? Mana tanda pengenalmu...?"
Langsung Eren mendapatkan tanda membunuh lewat tatapan yang singit abis, ia mengerti, lalu ia diam.
"Baiklah, kalau begitu apa yang sudah kau raih dalam 20... eh, maksudku 19 tahunmu itu?" Tanya Eren, inginnya ia terus memperpanjang percakapan ini, memancing-mancing.
Tetapi karena di kubu Levi tidak begitu antusias, maka ia tetap saja menghabiskan suap demi suap. Sementara Eren belum menyentuh piringnya, saking fokus dengan interogasi ini. Melihat keadaan yang mulai membosankan, Eren minum saja segelas air yang ada di sampingnya.
"Aku sudah menikah."
"PFFFFFFFFTTTTTTTTTT...!"
Levi masih serius makan, untungnya luapan gunung vulkanik itu tidak mengenai wajahnya. Sementara Eren mulai mengelap sisi mulutnya karena muncratan air.
"Ah, lelucon yang bagus, Sir, aku tidak melihat kau mengenakan cincin," Eren masih, masih belum puas. Disamping ia tak menyangka itu pernikahan dini sekali.
"Aku memang sengaja tidak mengenakan cincin."
Eren tentu tidak terkesan dengan alasan itu. "Kalau begitu, apa kalian sudah bercerai?"
"Iya," seberkas cahaya terang mulai menyinari.
"Cerai mati."
Langsunglah Eren terhenyak mendengar suara dingin yang seolah benar menceritakan sebuah kematian.
"Ah! Aku tahu sekarang kenapa kau selalu memakai baju putih-putih!" Eren merasa senang seperti habis memecahkan teka-teki dalam permainan andro, tidak begitu menyesal mendengar berita kematian. Sementara Levi sudah hampir menyelesaikan makannya.
"Tapi... apakah... apakah kematian istrimu baru-baru ini?" Layaknya ingin menggali harta karun sedalam-dalamnya.
"Kau sudah menjawab semuanya," tutup Levi, yang akhirnya sudah selesai beneran dan meninggalkan meja makan bersama piringnya.
Menyadari akan senangnya informasi yang didapat, Eren bahkan belum memulai makannya. Sementara Levi sedang mencuci piringnya di bak pencuci, setelah itu pergi.
Tak biasanya Eren terbangun dari tidurnya tengah malam. Dilihatnya jam di layar terang itu, matanya masih belum bisa menerima brightness yang keterlaluan. Ternyata belum tengah malam, keluarlah ia untuk pergi ke kamar kecil... sebenarnya tidak ingin ke kamar kecil, tapi karen sudah bangun yasudah.
Dengan jalannya yang masih terseok-seok, Eren pergi ke kamar mandi. Lalu setelah lebih segar sedikit dia berencana untuk istirahat kembali, tapi tanpa sengaja ia melihat sofa ruang tengah kosong... ke mana perginya Levi? Apa dia belum tidur?
Awalnya tidak peduli, tetapi penasaran juga, disatronilah rumah Armin untuk menemukan mahluk cebol itu. Saat sampai ke kebun terlihat Levi sedang berjalan keluar rumah, langsung Eren berubah jadi mata-mata dadakan. Tetapi sebelum itu, Eren teringat untuk mengambil sesuatu dan kembali ke dalam kamarnya. Saat sampai di luar lagi, untung saja mahluk putih di tengah malam itu belum terlalu jauh.
Eren tidak tahu apakah Levi menyadari langkahnya yang kasar, tapi teruslah ia berjalan layaknya pengintai handal. Tidak jauh hanya beberapa jengkal, Levi ternyata masuk ke sebuah minimarket bernuansa hijau-oranye. Eren pun berhenti di seberang mini market itu dan bersembunyi di balik mobil yang terpakir di jalan.
Levi terlihat tidak memutar di dalam rak-rak toko seperti keperluannya ada di sana, tapi langsung mengantri di depan kasir. Kalau begitu antara dia mau beli kondom, pulsa listrik, atau galon. Nuansa malam makin mencekam karena sepi sekaligus dingin, angin bertiup menerpa Eren.
Terlihat ada 2 orang yang mengantri di depan Levi. Tetapi yang paling depan nampaknya sudah hampir selesai, benar saja setelah beberapa saat ia keluar. Lalu tinggal seorang di depan Levi... baru saja orang bertubuh tinggi besar, berambut panjang hitam, berjubah itu berdiri tepat di depan meja kasir.
Eren membelalakan matanya tak percaya, terjadi perampokan dan Levi menjadi sandera.
Eren langsung keluar dari persembunyian dan menyeberangi jalan menerobos toko. Baru saja ia sampai di depan pintu masuk, sebelum semua orang di toko menyadari, ia tembak sebuah peluru tepat pada kepala orang yang baru saja menyandera Levi. Mendengar ada suara tembakan, ternyata antek-antek perampok berski mask itu muncul langsung menerobos kaca. Langsung Eren mengamankan Levi di balik meja kasir. peluru langsung menghujani, kasir malang yang tidak diketahui namanya itu tewas di tempat.
Dengan darah panasnya, Eren bukanlah tipe yang sabar menunggu dan mendengar. Baru sedetik ia sembunyi, langsung dengan spartannya muncul kembali dan menembakan peluru kepada kepala siapapun yang dilihatnya. Sempat ia mendapat perlawanan, namun dapat menghindar, kebetulan sekali tidak ada yang meleset di kepala. Bunyi tembakan terdengar begitu keras. 4 orang sudah habis. Walau ia masih tidak yakin kalau situasi aman, tetapi langsung saja ia tarik tangan Levi di sebelahnya untuk keluar.
Begitu keluar, keadaan masih hening. Eren melihat kiri-kanan. Baru saja dirasa aman, terdengar bunyi iring-iringan sirine polisi. Mendengarnya, membuat Eren lari begitu saja sambil masih tangan Levi berada dalam genggamannya. Melihat gerak-gerik mereka berdua yang mencurigakan, langsung saja mobil polisi itu menembakan tembakan peringatan.
Pada saat itu juga, orang di belakangnya mendadak tersungkur jatuh. Langsunglah Eren panik. Tetapi ia memaksa hingga tak sampai sedetik, Levi kembali berdiri. Karena polisi itu makin dekat dan gawat juga kalau sampai di rumah Armin terjadi baku tembak, Eren menyusuri gang-gang sempit dan tikungan-tikungan. Hingga mungkin ribuan mil telah berlari hingga mereka sampai ke tempat yang benar-benar sepi.
Eren terengah-engah lalu berlutut pada kakinya sendiri, ia sudah melepaskan genggamannya pada Levi. Sementara manusia dingin itu sendiri masih berdiri melihatnya, tanpa terlihat menggebu-gebu. Yang penjadi perhatiannya sebenarnya adalah senjata api yang ada di tangan Eren.
Eren akhienya bisa berdiri tegap. "Oiya, apa kau terluka?" Ia menatap Levi yang terlihat diam saja, mungkin saking lemas.
"Tidak," jawabnya benar-benar 'tidak', "bagaimana dengan dirimu sendiri?"
Eren tersenym mendengar pertanyaannya walau nafas masih sesak, sebenarnya ia cukup terkesan karena Levi menanyakan soal keadaannya.
"... baik-baik saja," ia tersenyum maksa.
Lalu keduanya hening.
Sekarang mereka berada pada sebuah gang terpencil yang hanya lampu jalan menemani, sungguh sepi.
"Apa kau tahu jalan di sekitar sini...?" Tanya Eren.
"Aku tidak tinggal di sekitar sini," jawabannya cukup mendeskripsikan.
"Hahh... aku juga."
"..."
"..."
"LALU BAGAIMANA INI?! APA KITA TERSESAT?!" Eren panik mode on.
Levi diam saja, sementara Eren mulai keluar dari gang dan mengintip jalan pertokoan yang sudah tutup semua. Lalu sekembalinya ia menoleh kepada sosok yang masih diam dengan muka yang hampir sama dengan tembok, melihatnya sungguh membuat hatinya luluh.
Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba Levi serasa tubuhnya diremas dalam genggaman titan "Aku benar-benar minta maaf!" Suara Eren terdengar terbenam karena ia menyembunyika wajahnya kepada sebidang dada di hadapannya. "Aku tahu aku telah membuat kekacauan, aku membahayakanmu, aku menghancurkan sebuah toko, dan... dan... aku hanya membuat situasi semakin buruk..."
Awalnya Levi diam saja, selalu, dan seterusnya dia memang diam bahkan tidak membalas Eren yang benar-benar sudah merangkul pinggangnya.
Sebenarnya, sedikit sekali sebuah nafas berat terkeluh dari wajah dingin itu. "Kau sudah melakukan yang seharusnya, Eren, angkatlah pandanganmu."
Terkejut sekaligus senang mendengarnya, bola mata hijau itu sempat membola, apalagi Levi yang mengatakannya. Lasngusng Eren mengangkat kepalanya dan menatap wajah yang masih saja menembok di hadapannya.
Menyadari ada yang aneh di sebelah pelipis Eren, Levi menggunakan sebelah jari tangannya untuk menyapu sebuah noda merah dari sana, "kau terluka..."
Eren benar-benar tepaku dengan perlakuan yang diterimanya. Walau hanya untuk sebuah sapuan halus, tetapi jemari itu masih belum lepas dari wajahnya. Eren menatap Levi untuk yang terdalam... dan kali ini warna gelap yang kebiruan itu tidak begitu menutup diri kepadanya, seolah memberi sedikit ruang untuk cayaha yang masuk.
Tetapi detik kemudian, walau Levi masih saja tidak membalas pelukan itu sama sekali, ialah yang mendekatkan wajahnya terlebih dulu, terlebih lagi... pandangan di antara keduanya pun terputus karena ada mata yang terpejam.
Namun selum sampai bibir keduanya saling bersentuhan, Eren melepaskan dirinya dahulu dengan tiba-tiba.. lalu melangkah mundur sejauh-jauhnya.
"Ah, maaf..." ucap Eren begitu saja, ia tahu mungkin akan ada kecewa. "Aku tidak bisa melakukan ini... sebelum... kau harus mendengarku dulu."
Baiklah, Levi masih teridam di sana, dengan ini dia tidak bisa mengatakan apapun kalau begitu.
Eren mempersiapkan suaranya yang mulai terasa kaku, ia menelan ludah melihat sosok di depannya menanti ucapan yang sudah dijanjikannya. Yang terpampang di wajahnya, selain rasa panas adalah malu sampai mati yang membara.
"Hanya untuk berjaga-jaga kalau... mungkin suatu saat nanti kita akan berpisah... aku ingin mengatakan..."
Kata-kata Eren tak sampai, begitu banyak jeda sampai-sampai orang yang sudah menuggunya kini sudah tak sabar dan malah menghampirinya. Dengan itu pula, kata-katanya makin terhenti hingga tidak keluar sungguhan.
"Aku tahu," Levi sudah ada tepat di depan wajahnya, lalu tangannya yang dingin terangkat dan menutup mulut yang tak dapat berkata itu.
Kata yang sudah tak dapat terucap kini makin saja tertahan, Eren akhirnya hanya bisa menahan malunya dengan wajah memerah –yang tinggal siluet karena gelapnya malam. Baru saja bibirnya disentuh oleh jemari milik pria berambut hitam, jantung serasa over.
Akhirnya Levi yang melepaskan tangannya sendiri dari Eren, kini ia akan menggunakan sesuatu yang sungguhan untuk menguci mulut sang bocah. Sebenarnya tidak ada apapun di belakang Eren untuk menghalanginya mundur, tapi kali ini dia tidak akan menolak ketika Levi mulai mendekatkan wajahnya.
Waktu serasa berhenti seketika, Eren membeku dalam ciuman itu... kepalanya dimiringkan menghadap orang yang terhubung dengannya, ini, matanya terpejam mencoba merasakan sensasi, namun minus sentuhan pada kedua tubuh. Tapi sebelum semuanya makin jauh and make it out, Eren perlahan mendorong kedua bahu Levi ke belakang, awalnya hanya sentuhan biasa.
"Ah!" Begitu Eren terlepas, langsung saja ia tatap wajah di depannya yang seolah memberi makna ambigu, antara kecewa dengan kemampuannya dan nafsu yang belum terpuaskan. "Maaf... aku tidak bisa sejauh itu."
Eren merasa panas sekali, terutama di wajahnya, walau dinginnya malam lebih dingin dari pada Levi yang biasanya. Tentu kali ini Levi tidak seperti biasanya.
Sebenarnya Levi sempat menduga kalau peforma Eren kurang, tapi kenyataannya benar-benar kurang sekali. Ayolah, bahkan itu mungkin bukan ciuman namanya. Ia lihat bocah di depannya hanya kalang kabut, tak apa, ia bisa menerima.
"Aku akan mengajarimu sampai kau bisa, Eren."
"Eh...?"
Tebece.
Woooah, gw seneng banget, ini akhirnya pendek ga kepanjangan *cries* karena biasanya kepanjangan banget ampe gw sendiri ngantuk :p #author macam apa# tapi sekali lagi saya hanya bisa menahan air mata darah yg udah kayak keran ngelihat hasilnya kayak gini :')
Karena baru kali ini updet lama banget :'''))))))) *cries*
Setelah medapatkan pencerahan diri dan kesaktian melalui meditasi di gunung kidul, akhirnya saya bisa ada feel RiRen setelah kemaren keracunan EreRi mendadak.
Jangan berantem-beranteman kapal, please karena saya sendiri tidak memiliki kapal untuk diberantemin :v
Im soooo sorry and thanksomuchhhh to y' all.
Sopiler alert!
bentar lagi tamat :V
Keeping Lines Blurry
Mission 4
True Color
Disclaimer
Hajime Isayama
Rating
T
Genre
Crime & Romance
Pairing
RivaEre
Maaf apabila ada kesalahan pada penulisan nama/gelar saudara/i
Kritik dan saran terbuka untuk disampaikan.
Terimakasih pake banget yang udah mau membaca ff ini, apalagi yang udah ngikutin sejauh ini, howa akan selalu memperhatikan views and visitors
