Another Side

Chapter 6

Aku tertekan, sayang...

Kau selalu saja membuatku tertekan.

Baik dengan ego ataupun cintamu...

...Kau selalu saja menghancurkanku.

Jika begitu, biarkan sisa kelopak bunga ini terbang bersama angin.

.

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto and cover not mine.

Warning : typos, OOC, gaje, abal, meinsetrum, dll.

Langsung saja...

.

.

.

Naruto mulai membuka kelopak matanya, memandang sekeliling dan mendapati dirinya berada di ruang serba putih –lagi. Berbeda dengan dulu, saat ini ibunya –Uchiha Kushina- berada di sampingnya. Wanita itu memeluknya erat, dan menangis di bahunya. Memberikan kenyaman tersendiri untuk Naruto.

Ia rindu pelukan ibunya, ia rindu senyum hangat ibunya –sekalipun ia sering menerima itu. Sejujurnya ia ingin mengadu pada ibunya, jika selama ini ia tertekan. Baik oleh pernikahan Ibunya ataupun kehidupanya.

Dulu, ia ingin sekali menentang pernikahan ibunya dengan Uchiha Fugaku, saat tau jika calon ayahnya itu adalah ayah Sasuke. Tapi Naruto merasa tak pantas untuk bersikap egois, terlebih ibunya tampak sangat bahagia.

Dan Naruto memilih berkorban, mengorbankan cintanya dan cinta Sasuke demi kebahagiaan kedua orang tuanya. Namun, Sasuke tak pernah mengerti dan selalu memaksakan egonya.

Membuat keadaan semakin rumit bagi keduanya.

Suster dan dokter mulai datang ke ruangannya, memeriksa tubuhnya. ia bersyukur saat dokter mengatakan jika tubuhnya baik-baik saja, hanya beberapa luka lecet akibat goresan ranting pohon –yang ia timpa saat terjatuh.

Merutuki tindakan bodohnya. Naruto menyesal, karena tak memikirkan perasaan ibunya. Wanita itu pasti akan sangat sedih dan frustasi jika ia mati.

Menerawang jauh, andai saja ada orang yang mau berbagi dengannya –ia mungkin tak akan setertekan ini.

" Naru-chan.."

Tersentak dari lamunanya, Naruto menoleh pada ibunya. " Ha'i?"

Mengeryit heran saat ibunya tersenyum aneh, " lihat siapa yang datang..."ucap Kushina merdu, pintu terbuka. "...your hero"tambahnya, tangannya menunjuk pada seorang pria berambut merah dengan bebat di tangan kenannya.

Pria itu tak berekspresi apapun, mata jade-nya menatap lurus Naruto. " Ohayou"sapanya datar, membuat Naruto semakin mengeryit heran.

" Sabaku... Gaara?!"tanya Gadis itu tak yakin, berpikir bagimana murid baru di sekolahnya bisa datang dengan keadaan yang eum.. tidak baik. Apa Gaara juga mengalami kecelakaan?

Tap..tap..tap..

Mata shapire Naruto memperhatikan gerak-gerik Gaara yang kini berjalan ke arahnya. Pria itu berhenti tepat di samping ranjang, dan menunduk tepat di depan wajah Naruto. " Kau tak mau bertemakasih pada kesatria-mu ini, Naruto?!"

Kesatria...?!

Naruto tampak berpikir sejenak –memiringkan kepalanya lucu, membuat Gaara yang berada di sampingnya tersenyum tipis.

-lol-

Melihat kematian di depan matanya, entah kenapa tiba-tiba Naruto merasa takut. Waktu berjalan dengan sangat lambat saat tubuhnya melayang di udara, dan semua memori indah terlintas di benaknya.

Apa semua orang yang akan menghadapi kematian mengalami hal ini?, tanya Naruto dalam hati.

Rasa sesal menghantuinya. Naruto tidak ingin mati –ia tak ingin kehilangan semua kenangan indah yang ia miliki.

Tolong aku...

Grep..

Seseorang maraih tangannya, mendekapnya dalam pelukan yang penuh kenyamanan. Namun Naruto terlalu takut untuk membuka mata.

" Aku akan menolongmu.."

Bisikan lembut tertangkap indra pendengarannya dan Naruto hanya mengangguk –berharap bahwa itu bukan bisikan malaikat pencabut nyawa.

Tubuhnya mendarat di pekarangan sekolah, dan Naruto dapat mendengar orang-orang meneriakinya. Namun, ia tak merasakan rasa sakit sedikitpun.

" Terimakasih..."

Bisik Naruto pada siapapun yang telah menolongnya, sebelum gadis itu benar-benar kehilangan kesadaran.

-lol-

Untuk ke sekian kalinya Naruto kembal berjalan di pekarang rumah sakit bersama Gaara, sejujurnya ia masih merasa tak percaya jika Gaara yang telah menyelamatkannya.

Bagaimana bisa pria itu meloncat dari lantai dua dan hanya mengalami patah tulang. Yeah, kecuali jika Gaara adalah alien berwajah panda yang dikirim Kami-sama untuk menyelamatkannya.

" Naru-chan.."

Merutuki panggil itu, entah kenapa namanya terdengar lebih manis saat suara baritone Gaara yang menyebutnya. Membuatnya gugup dengan rona di pipinya.

" Ha-hai?"

" Sepertinya kau kedatangan tamu."

Mengalihkan atensinya pada siapapun yang Gaara tunjuk. Naruto terdiam.

" Hai, Naruto..."

Mulutnya terasa kelu, bahkan untuk mengucapkan sepatah kata. Hatinya berdenyut sakit karena rasa bersalah. Dan batinnya menjerit untuk berlari, namun kakinya sama sekali tak dapat di gerakkan.

" Eum... bagaimana kabarmu?"

Lagi-lagi Naruto bergeming, membuat manusia di depannya gelisah. Dan Sabaku Gaara hanya terdiam menikmati interaksi keduanya.

Hening...

Terdengar hembusan napas dari Naruto, gadis itu tampak sedang manenangkan diri.

Sakura berdiri tepat di depannya dan ia hanya bisa membatu. Oh, astaga... yang benar saja?!

Bukankah ini kesempatan untuk menjelaskan semuanya? Bukankah ini kesepatan untuk memperbaiki persahabatan mereka? Dan bukankah ini menjelaskan... jika Naruto memang bersalah?

Damn.

Dan kemana si Tuan Uchiha –penyebab semua kesialan ini?! Pria itu bahkan tak menampilkan batang hidungnya semenjak Naruto di rawat di rumah sakit. Brengsek, kenapa ia harus teringat Sasuke.

" Oke, sebaiknya aku pergi."ucap Gaara akhirnya, seolah menyadarkan Naruto. " Datanglah ke kamarku sebelum makan siang. Ingat ada yang harus kita 'lakukan' di kamarku."tambah Gaara ambigu dengan senyuman menggoda, kemudian melangkah meningalkan keduanya.

Membuat Sakura mengernyit heran dengan wajah merona dan Naruto yang ternganga.

" Naruto... kau dan Sabaku-san..."

" Tidak! Bukan itu maksudnya."sargah Naruto cepat, wajah gadis itu memerah. " Aku dan Gaara tidak melakukan apapun."

" Tapi kau bahkan sudah memanggil dengan nama kecilnya..."

Naruto menjambak rambutnya frustasi. " Astaga, Sakura. Aku hanya akan menyuapinya hanya karena tangannya yang patah karena menyelamatkanku. Jadi berhentilah memikirkan hal aneh."jelas Naruto, sedikit kesal karena Sakura yang terus berpikir aneh tentang hubungannya dan Gaara.

Melihat kecanggungan yang menghilang di antara mereka membuat Sakura tersenyum. Ah, ia sangat rindu dengan sahabatnya. Sakura mulai berpikir, bagaimana bisa ia kehilangan sahabat sebaik Naruto hanya karena cintanya kepada seorang pria yang bahkan tak mencintainya.

Hening...

Perlahan atmosfer canggung itu kembali dan Naruto mengalihkan tatapannya ke arah lain.

" Ne, Naru-chan. Gomen ne."kata itu akhirnya terucap dari bibir Sakura, hingga Naruto tertegun di buatnya.

Sebuah ucapan sederhana yang mungkin akan mengembalikan persahabatan mereka.

Naruto menggigit bibir bagian bawahnya, ada perasaan senang sekaligus sedih yang ia rasakan saat ini. " A..aku juga meminta maaf Sakura. Karena aku, kebahagiaanmu..."

Lengan Sakura langsung merengkuh tubuh Naruto. " Sudahlah. Lagipula aku dan Sasuke-kun sudah putus."

Naruto melepas pelukannya dan menatap Sakura dengan tatapan tidak percaya. " Benarkan?"

Sakura tersenyum terpaksa, karena bagaimana pun mengingat kejadian saat Sasuke memutuskannya selalu membuat hatinya sakit. " Tentu. Mana mungkin aku tetap berpacaran dengan pria brengsek seperti dia. Ups."canda Sakura masih berusaha bersikap tegar.

Naruto balas tersenyum. " Aku yakin kau akan mendapatkan yang lebih baik, Sakura."

" Arigatou."

-lol-

Suasana di kantin terasa berbeda dari sebelumnya. Terasa aneh dan sedikit awakward –terutama di bangku ke dua, tempat kedua orang insan berbeda gender sedang duduk. Beberapa pasang mata menatap heran dan kesal pada ke dua insan itu.

Tangan Naruto memegang erat sumpit di tangannya, menarik napas sejenak sebelum beralih menyumpit makanan di kotak bentonya. Sementara Gaara menopang dagu dengan tangan kirinya, menunggu suapan dari Naruto.

" Bisakah kau cepat? Kau hampir membuatku mati kelaparan, Naruto."Ucap Gaara, menuai pelototan tajam dari Naruto.

Gah, bagaimana ia bisa menyuapi Gaara jika seluruh pasang mata menatap ke arahnya –terlebih tatapan ganas para gadis.

" Kenapa aku harus menyuapimu, panda."gerutu Naruto kesal.

Gaara menyunggingkan senyuman mengejek, senyuman yang selalu berhasil membuat Naruto kesal dan mengingat Uchiha Sasuke –yang juga selalu memberinya senyuman yang sama.

" Ingat kau harus bertanggung jawab terhadap tanganku, Naruto."balas Gaara santai.

Sial, dia memanfaatkanku.

" Baiklah. Bu..buka mulutmu."Naruto menyerah akhirnya, mengarahkan makanan yang di sumpitnya pada Gaara dengan wajah memerah.

Sekali lagi Gaara tersenyum lembut, membuat siswi blushing dan beberpa murid mengernyit heran –Sabaku Gaara si murid baru yang dingin untuk pertama kalinya tersenyum.

' Hie..ada apa dengannya?'batin para siswa kompak.

Naruto menunggu reaksi Gaara yang terdiam sambil mengunyah makanannya.

"Apa ini buatanmu?"

Naruto mengangguk, menyelipkan rambut pirang panjangnya kaku. "Ha'i. Gomen ne, jika masakanku tidak sesuai seleramu."

"Tidak."

"Benarkan? Apa kau suka?"tanya Naruto, mata birunya tampak berbinar. Padahal awalnya ia mengira Gaara tak menyukai masakannya –jika dilihat dari ekspresi datar yang pria itu berikan.

Gaara mengangguk, kemudian menatap lurus Naruto. Tatapan yang berhasil membuat jantung Naruto berdebar-debar. "Ha'i. Suki da..."jawab Gaara, "...Naruto."tambahnya membuat seisi kantin melotot tak percaya –termasuk Naruto.

" NANI?!"

-lol-

" Siapa yang kau pilih, Naru-chan?"

" Heh?"

Sakura mengembungkan pipinya, berusaha untuk tidak melempat tas pada Naruto –mengingat mereka masih berada di jam pelajaran. "Apa maksud 'heh' mu itu, Naru-chan. Aku tau kau mengerti apa maksudku."bisiknya.

Naruto mengalihkan atensi dari buku di hadapannya, menoleh pada Sakura sambil memiringkan kepalanya –sama sekali tak mengerti maksud Sakura. Memilih, memilih apa?

Mendengus kasar, Sakura hampir saja mencubit gemas pipi chubby Naruto. "Maksudku... kau pilih Gaara atau Sasuke, Na-ru-to."Jelasnya blak-blakan.

" HEH?!"

" Ekhem... ada apa Uchiha-san?"

Naruto langsung menunduk meminta maaf, mengingat ia berteriak di kelas tadi. Sementara Sakura berusaha menahan tawanya, membuat Naruto mendengus geli dan kembali mendudukkan tubuhnya.

Haah~ pertanyaan blak-blakkan Sakura benar-benar mengejutkannya. Dasar gadis itu...

Hm.. Gaara... Sasuke?

-lol-

Bel pulang sudah mengalun indah di KHS, dan pelajaran telah berakhir di kelas Naruto bersaam dengan keluarnya guru mata pelajaran. Hampir seluruh murid di kelas Naruto sudah pergi, menyisakan Naruto dan Sakura. Naruto mulai membereskan bukunya, bersiap-siap untuk pulang.

" Jadi bagaimana, Naru-chan?"tanya Sakura untuk ke sekian kalinya –membuat Naruto jengah mendengarnya.

" Sudahlah, Sakura."

" Ayolah! Aku sangat penasarah. "desak Sakura.

Naruto memasukkan buku terakhirnya dan balas menatap malas Sakura. " Baiklah. Terlebih dahulu aku ingin bertanya pendapatmu tentang keduanya?"Naruto balas bertanya.

Sakura terdiam cukup lama memikirkan jawabannya, hingga akhirnya ia membuka mulut. " Etto... Menurutku kau terlihat berbeda akhir-akhir ini semenjak kebersamaanmu dengan Gaara."

Naruto mengeryitkan dahinya, tak mengerti. "Maksudmu?"

" Maksudku... Kau tampak lebih hidup. Kau bahkan tersipu dan marah-marah secara bersamaan saat kejadian Gaara yang menembakmu beberapa hari yang lalu."Jelas Sakura.

Wajah Naruto kembali memerah, mengingat kejadian di kantin beberapa hari yang lalu. "Ja..jangan bahas hal itu lagi! Gaara menyukai masakanku. Bukan Aku, Sakura."jelas Naruto untuk ke sekian kalinya.

Sakura menyeringai melihatnya. "Ayolah, akui saja. Dia tampan, baik, dan... seksi loh. Aku yakin Sabaku-san juga menyukaimu."godanya.

"SAKURA! Huh- baiklah. La..lalu bagaimana dengan Sasuke?"

Seringai di wajahnya menghilang, Sakura terdiam sejenak. Entah kenapa memikirkan Sasuke membuat perasaan sakit itu kembali. " Dia memang pria brengsek, jahat, dan egois."Ungkapnya jujur, dan Naruto tersenyum maklum. " Namun... perasaan Sasuke padamu sangatlah tulus."Naruto tersentak dengan pengakuan Sakura.

" Sa..Sasuke sangat mencintamu, Naru-chan."

Aku tau itu, Sakura. Tapi kau harus tau, hubunganku dan Sasuke akan sangat sulit.

" Seandainya kau menjadi aku, siapa yang kau pilih, Sakura?"

Naruto sendiri bingung siapa yang harus ia pilih, jika seandainya benar kedua pria itu memperebutkannya.

" Mungkin... aku akan memilih Sabaku-san, dia tampak membuatmu nyaman."jawab Sakura.

' Hm..Gaara?'

Sakura kembali membuka mulut. "Tapi saat kau..."

"Naruto."

Belum sempat Sakura meneruskan perkataannya, suara seseorang mengintrupsi keduanya. Naruto dan Sakura menoleh secara bersamaan, dan mendapati Gaara yang berdiri di depan pintu. Kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana dan berjalan dengan cool ke arah Naruto.

" Gaara? Kau sudah melepas bebatmu?"Naruto mengernyit heran.

Gaara tersenyum miring. " Kau pikir aku mau terus menggunakan benda menyebalkan itu."ujar Gaara dengan nada sing a song.

Naruto berdecak kesal dengan tingkah Gaara. "Bukankah dokter menyuruhmu untuk memakainya selama sebulan lagi? Bagaimana jika tulangmu kembali patah, Dasar Panda!"omel Naruto panjang lebar.

" Yare-yare... sepertinya kau tak rela jika harus berhenti menyuapiku. "goda si rambut merah, membuat Naruto menggeram kesal.

" Bukan itu, baka."

Sakura memperhatikan interaksi lucu keduanya. Meski kesal karena tak di anggap, tapi gadis itu tersenyum senang. Berdehem sejenak, seolah memberi tahu keberadaannya. " Sepertinya aku menggangu. Jaa ne, Naru-chan. "dan dengan sekenaknya, Sakura berlari meninggalkan kedua sejoli itu.

" Chotto... Sakura!"

Cepat sekali gadis itu, batin Naruto sweatdrop saat menyadari jika Sakura sudah benar-benar menghilang dari pandangannya. Haah... padahal Naruto masih penasaran dengan kelanjutan perkataan Sakura.

Naruto kembali menoleh pada Gaara. "Sekarang apa?"

" Ayo, pulang."ajak Gaara, tanpa menunggu jawaban Naruto pria itu langsung menyeret tangan Naruto.

" Hoi! Hoi!"protes Naruto, namun tak melepaskan pegangan Gaara dari tangannya.

Dasar si panda pemaksa.

Dari belakang, Naruto dapat melihat dengan jelas punggung tegap Gaara, tangan besar Gaara yang menggenggam lengannya hangat, dan rambut merahnya yang bergerak-gerak. Naruto sedikit tersentak saat Gaara tiba-tiba menoleh, membuat gadis itu mengalihkan perhatiannya –tak mau Gaara mengetahui jika ia memperhatikan pria itu diam-diam,

" Naru-chan..."

Astaga, kenapa Gaara harus memanggilnya dengan nama itu lagi.

Naruto memberanikan diri menatap Gaara, menatap langsung jade yang menatapnya lembut. Pria itu tersenyum mempesona, senyuman yang berhasil membuat Naruto tersipu –lagi.

Mungkin aku juga akan memilih Gaara, Sakura.

-lol-

Naruto dan Gaara sudah berada di parkiran. Keduanya berjalan beriringan menuju sebuah motor sport berwarna hitam milik Gaara.

" Pakai ini, Naruto."Ucap Gaara menyerahkan sebuah helm.

Naruto mengangguk dan memakai helm yang Gaara berikan.

" Kau mau kemana, Naruto?"

Deg.

Suara ini...

Sasuke?

" Aku akan mengantar imotou-mu pulang, Uchiha."jawab Gaara dingin, sambil memasang wajah datarnya.

Sasuke memandang Gaara dengan tatapan tak suka, terlebih saat Naruto tak bereaksi apapun. " Tidak. Naruto akan pulang denganku. "putus Sasuke mutlak, menuai tatapan tak suka dari Gaara –hingga keduanya beradu deatglere.

" Apa hakmu, Uchiha?"tangtang Gaara.

Sasuke bergeming dengan pertanyaan Gaara dan beralih menatap Naruto. " Naruto, ikut denganku. Sekarang."

" Tidak."tolak Naruto, " aku akan pulang dengan Gaara."

Sasuke menatap Naruto dingin, tak suka dengan penolakan yang gadis itu berikan. Dengan kasar, ia langsung menarik tangan kanan Gadis itu. Namun Gaara dengan sigap menarik lengan kiri Naruto –tak ingin kalah dalam perang dingin ini.

Tubuh Naruto berada di antara kedua pria tampan yang kini sedang beradu deatglere –lagi.

" Lepaskan, Sabaku. "Sasuke mendesisi tak suka, terlebih saat melihat sifat protektif yang terpancar dari mata Gaara.

" Tapi Naruto tak ingin pulang bersamamu, Uchiha."

Naruto meringis dengan posisinya. Dan ia benar-benar berada dalam keadaan harus memilih di antara keduanya.

Melihat Naruto yang tampak kesakitan Gaara melepaskan pegangannya, mengalah untuk kali ini. "Kau tak punya hak untuk memaksanya, Uchiha."

Sasuke bergeming dan tetap menyeret Naruto menjauh. Mengabaikan rintihan gadis itu.

" Kau bukan siapa-siapanya, Uchiha."teriak Gaara.

Menghentikan langkahnya, Sasuke menggeram marah. " AKU KAKAKNYA, SABAKU. Dan kau yang tak memiliki hak atas dirinya."jawab Sasuke kesal, tak menyadari Naruto yang tertegun mendengarnya.

" lepas..."gumam Naruto lirih.

" Kau akan pulang denganku, Naruto."

" LEPASKAN AKU, BRENGSEK."teriak Naruto kesal.

Sasuke melepas genggamannya, mata onixnya memandang Naruto yang berjalan menjauh. Dapat dilihat senyuman kemenangan yang Gaara berikan kepadanya.

Motor sport Gaara melaju, meninggalkan Sasuke yang masih menatap keduanya.

-lol-

Naruto mengeratkan pelukannya pada pinggang Gaara. Berusaha keras untuk tak menoleh pada Sasuke.

Dan pada akhirnya ia mungkin akan benar-benar memilih Gaara, seperti yang di katakan Sakura.

Gaara benar-benar membuatnya nyaman.

Bolehkah aku menjadikanmu tempat bersandar, Gaara-kun?

-lol-

Jam sudah menunjukkan pukul 08:00, Sasuke benar-benar cemas menunggu kepulangan Naruto. kedua orang tuanya pergi karena perkerjaa bisnis mereka dan Naruto menjadi tanggung jawabnya untuk itu.

Tapi gadis itu bahkan belum menunjukkan batang hidungnya. Seharusnya, aku benar-benar menyeret Naruto untuk pulang bersama tadi.

Dengan sigap, Sasuke melangkahkan kakinya ke menuju jendela. Saat medengar deruman suara motor. Mengintip dari jendela, Sasuke dapat dengan jelas melihat Naruto turun dari motor Gaara, tangan Sasuke mengepal kuat saat melihat interaksi keduanya.

Ceklek..

Pintu terbuka dan Sasuke sudah siap dengan kemarahannya.

" Dari mana saja kau?"tanya Sasuke menatap dingin Naruto.

Naruto bergeming, memutuskan untuk berjalan menuju kamarnya –mengacuhkan Sasuke.

Sasuke menggeram kesal. " Uchiha Naruto!"bentak Sasuke.

" APA MAUMU?!"Naruto balas berteriak. Sejujurnya ia terlalu lelah untuk bertengkar dengan Sasuke hari ini, namun pria itu tak pernah berhenti mengusiknya.

Berusaha menetralisir emosinya, Sasuke menarik napas panjang. " Jawab aku. Kenapa kau baru pulang?"tanya setelah cukup tenang.

" Bukan urusanmu."jawab Naruto ketus.

Tapi Sasuke tak akan menyerah begitu saja. " Jawab aku Naruto..."

Naruto menatap Sasuke tajam. "Berhentilah bersikap egois, Sasuke. Atas dasar hak apa kau memaksaku. Kakak, huh? Kau bahkan tak menjengukku selama aku di rumah sakit padahal kau penyebab semua kesialan itu. Jika kau memang sudaraku, saudara macam apa yang membuat saudaranya terluka."

Sasuke bungkam.

Naruto dapat merasakan matanya mulai memanas, sebelum air mata itu meluncur sempurna. Naruto memilih membelakangi Sasuke, tak ingin memeperlihatkan air matanya pada Sasuke.

" Kumohon berhentilah membuatku tertekan..."pinta Naruto, sebelum beranjak pergi.

Sasuke terdiam cukup lama.

"Aku...aku tak pernah benar-benar ingin menyakitimu, Naruto."

-lol-

Udara taman KSHS cukup untuk menjernihkan pikiran Naruto, angin melambaikan surai pirang panjangnya. Dan Naruto benar-benar menikmati saat-saat tenang ini untuk membaca buku.

" Hello, Naruto."sapa suara baritone yang familiar di telinga Naruto.

Gadis itu balas tersenyum pada Gaara yang duduk di sampingnya.

" Baca apa?"

Naruto memperlihatkan judul novel yang ia baca pada Gaara. " 'Sakura Wish'."jawab Gadis itu.

Gaara mengangguk mengerti. "Jadi apa Sakura wish-mu, Naruto?"tanya Gaara.

Naruto terdiam sejenak. "Mungkin kehidupan yang tenang. "jawab gadis itu akhirnya. "Lalu, kau?"Naruto balik bertanya, mata shapirenya memandang Gaara penasaran.

Dengan senyuman mempesona milik Sabaku Gaara, Gaara merapatkan tubuhnya pada Naruto, membuat gadis itu gugup. Menundukkan kepalanya, dengan mata jade yang menatap Naruto dalam. Dan Naruto dapat merasakan sapuan napas Gaara di wajahnya, membuatnya kembali merona dengan debaran aneh di dadanya.

Gaara mulai membuka mulutnya. " I wish..."menggantungkan perekataannya, membuat jantung Naruto hampir meledak.

"...i wish you will be my girlfriend, Naruto?"

Deg.

.

.

.

TBC

Jumpa lagi dengan Ran di Chap 6. \(^o^)/

Semoga puas dan terhibur dengan Chap ini...

Gomen ne Ran baru bisa Up ff ini sekarang. ('/ ')

Karena kesibukan Ran di DuTa, Ran jadi susah buat nulis. Dan mungkin buat up selanjutnya akan sedikit ngaret, soalnya bentar lagi Ran bakalan UKK –akhir Mei.

Haha.. di chap ini sudah ketahuan siapa yang jadi hiro-nya dan banyak adegan GaaraNaru.

Dan udah pikirkan cerita endingnya dan fic ini akan taman 3-4 chap lagi. Untuk sarannya terimakasih banyak. Selamat datang untuk para reader baru, dan maaf karena Ran gak bisa membalas Review kalian...

Thanks to : ayanara47, Rin Naoko UchiNami, kuraublackpearl, Natsuki no Fuyu-hime, Hinata'Rp228, Mellyn3, rheafica, shirota strain, .39, Habibah794, Dobe Amaa-chan, narudobetetsuyapolepel, antichan no kitsune, riobethethe, choikim1310, scorpionaruka,, Uzumaki Prince Dobe-Nii, .777, Classical Violin, Kyutiesung, 85, Uzumaki Cherry Blossom, Dwi341, Guest, indy, .11, Aiko Vallery, Syiki894, Rizky2568, ophis hime.

Thanks juga buat yang udah foll dan fav. ^^

RnR, please? ^^