die Farbe
Chapter 6 : Silber
Sakura terbangun saat ia mendengar suara seseorang mamanggilnya. Matanya masih terpejam dan tampaknya masih terlalu berat untuk dibuka. Kepalanya serasa berputar konstan dan beberapa bagian tubuhnya terasa sedikit sakit. Memaksakan diri membuka mata emerald-nya sembari berusaha untuk mengambil posisi duduk. Mengusap matanya perlahan membiarkannya beradaptasi dengan cahaya. Ternyata sudah pagi. Bergerak sedikit mengambil posisi duduk yang nyaman dan tiba-tiba saja ia merasa kesakitan di antara kedua kakinya. Jantungnya berdegup kencang.
Kejadian semalam…
"Sakura."
Kemudian suara itu memanggilnya lagi. Sebuah suara datar namun dalam—suara Sasuke. Dari suaranya bisa dipastikan Sasuke telah bangun dari tadi. Mencari arah sumber suara tersebut, Sakura menoleh dan melihat Sasuke telah mengenakan seragam militer lengkap. Dari tangan kirinya, Sakura melihat pria itu menenteng sebuah senapan laras panjang.
"Se-selamat pagi," ucap Sakura dengan suara parau.
Satu dua alasan ia menolak untuk mengingat apa yang terjadi semalam. Toh, sebenarnya ia mengingatnya. Sangat mengingatnya. Setiap sentuhan, gerakan, rasa panas, deru napas, dan suara Sasuke semuanya terekam jelas di benaknya. Tak peduli bahwa saat itu ia hanya memikirkan Sasuke dan berhenti merasakan hal lain setiap detiknya, tetap saja semuanya ia ingat. Semburat garis merah di pipinya tidak bisa disembunyikan lagi, ia menunduk menghindari tatapan mata onyx Sasuke. Memejamkan mata, berharap bayangan Sasuke akan menghilang, namun memorinya menayangkan sosok Sasuke dengan lebih jelas. Mata merah cantik yang membuatnya tidak bisa melepaskan pandangannya. Lagi, ia memejamkan matanya dengan erat berusaha mengusir sosok Sasuke di pikirannya dan berharap Sasuke akan segera pergi.
Sebuah gerakan di tempat tidur Sakura rasakan. Jantungnya berdebar kencang dan cepat. Mungkin jika memperdengarkan dengan saksama detak jantungnya bisa didengar oleh Sasuke. Perlahan sebuah tangan kekar meraih rambutnya, menyisir bagian luar rambut merah muda Sakura dengan lembut hingga ujung. Kemudian dengan gerakan yang lembut mengusap kepalanya, sedikit mengacak-acak rambut yang masih berantakan tersebut. Membuka matanya perlahan, Sakura melihat Sasuke tepat di hadapannya. Tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun, gadis itu menyentuh tangan Sasuke dan membawanya menjauhi kepalanya.
Semua begitu tenang, masih tenggelam dalam pikiran masing-masing. Berusaha mengambil kesimpulan dari apa yang terjadi malam sebelumnya. Berbagai kejadian berfusi menjadi satu, tidak bisa dimungkiri antara satu dan yang lain berbeda, membuat semuanya menjadi lebih kompleks. Sasuke hanya bisa diam, di samping Sakura, tanpa bisa menemukan langkah apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
Bagi mereka pengalaman itu adalah yang pertama kalinya, berbagi hangatnya suhu tubuh menjadi satu. Setiap gerakan dalam menitnya, semuanya bergerak dengan ritme yang sempurna. Sebuah rasa perpaduan antara kebutuhan, keinginan, kehangatan, dan sesuatu yang Sasuke sendiri belum bisa menamainya. Rasa itu terus bergejolak, semakin kuat dan kuat saat melihat Sakura. Semakin kuat hingga membuatnya menahan napas saat melihat Sakura.
Namun, Sasuke tetap tidak ingin menamainya.
Satu menit sudah terlewat dan mereka berdua masih terdiam. Tidak ada yang mengambil inisiatif untuk memulai pembicaraan. Hanya berada di sana duduk dalam diam diiringi suara desiran angin yang masuk melalui jendela. Frustrasi, Sakura hendak membuka mulutnya untuk mengakhiri keheningan yang mungkin akan membuatnya gila bila berlangsung dua atau tiga detik lagi, namun sebuah suara gebrakan pintu keras terdengar. Refleks, mereka melihat ke arah sumber suara dan melihat teman berambut pirang mereka berdiri dengan amarah yang bisa dilihat kasatmata. Mungkin sebentar lagi akan meledak.
…dan memang benar.
"Sasuke!" teriakan Ino mungkin bisa didengar beberapa bangunan dari tempat itu, "apa kau melihat Sa—"
Mata Ino membulat saat melihat Sakura berada bersama Sasuke, di kamarnya, dan yang membuat tubuhnya menegang adalah kenyataan bahwa tubuh Sakura hanya berbalutkan sebuah selimut di ranjang Sasuke. "Apa yang terjadi?" tanya Ino tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Sasuke berdiri dan berjalan menuju sebuah meja kerja di samping beberapa rak buku yang berdiri menjulang. Ratusan bahkan mungkin mencapai ribuan buku ada di rak-rak buku tersebut. Ruangan besar berarsitektur romanik ini sungguh memamerkan keindahannya dalam diam. Lalu ia mengambil sebuah kantong kain yang semalam Izumo tinggalkan. Mengambil alat suntik dan mengisinya dengan cairan kuning tersebut.
Ino yang merasa terabaikan mendekati Sasuke, "Apa maksudnya ini?"
Sasuke hanya melihatnya sekilas kemudian kembali berjalan mendekati Sakura, "Berikan tanganmu."
Sakura melirik Leben—cairan kuning tersebut sejenak. Memikirkan bahwa tanpa cairan kuning menggelikan itu akan membuatnya mati membuat bulu kuduknya merinding. Perlahan ia ulurkan tangannya tanpa berani melihat Sasuke. Sasuke meraih tangan Sakura, ia menelan ludah. Tangan itu masih lembut seperti saat ia menyentuhnya. Perlahan seolah tidak ingin melukai Sakura, Sasuke menelusuri kulit lembut itu. Dengan cepat setelah menemukan pembuluh yang tepat, Sasuke menusukkan jarum kecil ke dalam kulit Sakura, menembus perlahan dan menekannya, mengosongkan isinya dengan cepat. Setelah habis ia mencabutnya.
Rasanya seperti digigit semut, hanya saja rasa itu terbawa sampai ke perut. Membiarkan aliran darah membawa cairan tersebut ke sistem tubuh Sakura.
Mereka menunggu apa yang akan terjadi, karena secara pasti efek dari cairan kuning ini masih misteri.
Sedikit rasa penasaran Sasuke perlihatkan. Dengan saksama memperhatikan Sakura menunggu reaksi yang akan terjadi.
Satu menit terlewat, masih tidak ada efek yang terlihat. Sebenarnya apa fungsi dari Leben ini? Untuk membuatnya Sakura mengatakan bahwa membutuhkan sel-sel embrio yang telah bermutasi dan direkayasa sedemikian rupa. Untuk memungkinkan sel-sel manusia beregenerasi dengan cepat tanpa memperdulikan keadaan inangnya.
"Hei, aku masih di sini," Ino menggerutu. Gadis berambut pirang itu pun mendekati Sakura dan Sasuke. Karena sudah dipastikan Sasuke tidak akan menjelaskan apa yang telah terjadi, Ino menyerah. Dari sudut matanya ia melirik Sakura kemudian ia berjalan mengambil satu per satu pakaian Sakura yang terlupakan di lantai. Kalau sudah seperti ini, Ino sudah bisa memastikan satu hal. Mereka telah melakukan hal intim dan manusiawi tersebut. "Sakura, pakai pakaianmu," ucapnya sembari mengulurkan pakaian Sakura. "Dan Sasuke, kau terlambat."
Agak canggung Sakura menerima pakaiannya. Berbagai rasa berkecambuk dalam perasaannya. Entah senang, entah merasa bersalah, atau apa ia tidak bisa menyebutkannya. Tangannya mengepal kuat. Selama dua bulan mengenal Sasuke semakin lama emosinya semakin tidak terkontrol. Walau sejak pertama kali mendengar namanya dari Tsunade saat pertemuan terakhir mereka di laboratorium di lepas Suna, ia sudah merasa bahwa dengan satu dua alasan, Sasuke akan mengubah hidupnya. Namun, bagaimanapun juga tidak secepat ini.
Tidak sedrastis ini. Tidak mungkin.
Karena berpikir keras ia tidak menyadari rasa panas seperti terbakar sudah menyebar ke seluruh tubuhnya. Mendadak napasnya sesak menderu, terhenti di kerongkongannya. Ia ingat rasa ini, setiap setelah Leben disuntikkan ke dalam tubuhnya akan bereaksi seperti ini. Ia tidak boleh merasa kesakitan di hadapan dua orang ini, pikir Sakura.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ino, "Kau mendadak pucat."
Tulang pipinya mengeras, menahan rasa sakit dan terbakar. Panas, sangat panas dan setiap organ dalam tubuhnya seperti disayat, perlahan namun bersamaan. Tidak melupakan satu bagian pun, setiap senti dalam tubuhnya.
Menahan napas kuat Sakura berusaha tersenyum, "Aku baik-baik saja."
Sakura mengambil langkah untuk berdiri, darah dalam tubuhnya mengalir dengan cepat. Perlahan semuanya terlihat kabur. Meremas selimut yang masih melingkar di tubuhnya, Sakura terjatuh. Kulitnya seperti ditarik dan dipaksa untuk terlepas dari daging beserta tulangnya. Ia menahannya, menggigit bibir bawahnya kuat hingga berdarah.
Namun itu hanya beberapa saat, karena dalam detik berikutnya luka itu tertutup. Sama sekali tidak meninggalkan bekas. Mungkin hanya bercak merah darah yang segera Sakura usap bersih.
Sasuke dan Ino tidak tahu apa yang terjadi, mereka hanya tertukar pandangan kemudian perhatian mereka kembali ke Sakura saat gadis itu berteriak keras hingga akhirnya pingsan.
Tubuh Sakura tergeletak lemas di lantai, Ino dengan cepat menghampirinya.
Dunia Sasuke seperti dilebur menjadi debu saat mendengar suara jeritan Sakura. Suara menahan kesakitan yang melengking, bukan menusuk telinga namun secara langsung terhempas ke dalam dirinya. Mungkin jantung Sasuke seperti jatuh ke dasar bumi. Ini asing bagi Sasuke, rasa ini sangat asing. Terlampau asing sehingga membuat kewarasannya menguap entah kemana dalam beberapa detik.
"Ino, panggil Karin," ucap Sasuke sembari mengendong Sakura untuk kembali berbaring di tempat tidur. Tangannya memeriksa suhu badan Sakura, dingin. Sangat dingin seperti nyawa dalam tubuh itu telah pergi.
Ino tetap terdiam dalam posisi berdirinya, memandang Sasuke dan Sakura bergantian.
"Karin? Apa kau gila?" pekik Ino mengacak-acak rambutnya. Ia panik dengan keadaan ini, memang Karin adalah seorang tenaga medis yang bisa diandalkan, tapi untuk memanggilnya dalam situasi seperti ini? Tidak, wanita itu tidak bisa dipercaya.
Karin sangat setia pada pemerintahan. Mungkin ia memang tertarik dengan Sasuke, namun wanita itu tidak akan berpikir dua kali jika pemerintahan dan Sasuke diletakkan dalam satu garis, ia akan memilih pemerintahan.
Mereka saat ini tidak boleh gegabah, mereka tidak akan membiarkan Sakura dengan segala keganjalan yang ada pada gadis itu menjadi kelinci percobaan pemerintah.
Sasuke hanya melihat Ino dengan ekspresi datar. Ino tidak akan membuat hal ini mudah dan cepat. Mengambil ponselnya, Sasuke menekan tombol-tombolnya beberapa kali.
Setelah terhubung dengan cepat pula ia bicara, "Karin. Cepat ke kamarku dan bawa peralatan medismu."
.
.
.
Sepuluh menit kemudian Karin datang. Tersenyum saat melihat Sasuke, dengan cepat Karin mendekatinya. Namun senyuman itu pudar tak berbekas saat ia melihat Ino berdiri di sisi lain ruangan itu.
"Ada apa?"
Ino berjalan mendekati Karin, langkah demi langkah tatapan mata mereka tidak terputus. Sorot mata persaingan terpancar kuat. Saat sampai tepat di hadapan Karin, Ino menunjuk Sakura yang masih terbaring tak sadarkan diri. "Periksa dia."
"Aku tidak menerima perintah darimu," jawab Karin memalingkan muka.
"Karin," suara Sasuke yang terlihat membenarkan perintah Ino membuat Karin menoleh. Berdecak sebal ia menghampiri Sakura.
Dengan serius ia memeriksa Sakura. Memastikan tidak ada yang salah dalam setiap bagian tubuh yang terlihat rapuh itu dengan tangan kosong. Sudah terampil dengan apa yang ia geluti. Hingga akhirnya tangan Karin berhenti di dada Sakura, tepat dimana jantungnya berada, berdetak di bawah tulang rusuk dalam rongga dada dan di atas diafragma, jantung yang terbungkus dengan sempurna.
Karin mengerutkan keningnya. Perlahan memejamkan mata, menelusuri jauh ke dalam setiap saraf-saraf kecil yang terhubung satu sama lain tanpa terputus. Seperti mengalirkan energi panas, tangan Karin bercahaya. Perlahan, tubuh Sakura bergerak dan kelopak matanya terbuka, menampakkan bola mata yang hijau sejuk. Sekilas mereka tampak seperti sebuah warna kehidupan dalam pucatnya warna kulit tersebut. Sakura terdiam, membiarkan Karin melakukan apapun yang ia lakukan tanpa berani bersuara, masih lemas dan sedikit atau banyak ia juga penasaran dengan kondisinya.
Sakura sudah tidak merasakan rasa sakit.
Sakura merasa ia baik-baik saja, bahkan lebih baik dari sebelumnya.
Membuka matanya, sejenak berpikir. Karin melepaskan tangannya, "Ini gila," gumamnya.
"Apa maksudmu?" Ino mengangkat sebelah alisnya.
"Gadis ini sudah mati!" pekik Karin.
Sakura hanya bisa menatap kosong Karin, tanpa disadari tangannya bergerak menuju dada sebelah dirinya. Ia bernapas perlahan, kemudian mendengarkan dan merasakan jantungnya masih berdetak. Masih berdetak, masih bisa merasakan denyut nadi seperti orang hidup. Ia masih hidup. Bagaimana bisa dikatakan telah mati saat ia merasa tubuhnya baik-baik saja?
Sungguh ia masih hidup.
Sasuke melihat Sakura yang terdiam tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sasuke menyadari bahwa banyak pertanyaan yang berputar di benak gadis itu.
"Jelaskan," perintah Sasuke.
"Dia sudah mati," ucap Karin lagi dan ia hanya menerima tatapan mata Sasuke yang semakin tajam. Menghela napas sembari mengusap wajahnya sendiri, Karin kembali menatap Sakura.
"Kau," Karin menunjuk Sakura, "berasal dari Regenbogen?"
Sakura hanya bisa mengangguk.
"Ini gila. Mereka gila!" pekik Karin.
Ino mendengus, ia tidak suka Karin. Mereka terus saja bersaing sejak masih memakai popok dan mungkin akan terus berlanjut sampai mereka melebur menjadi tanah. "Karin, bisakah kau diam? Bisa jadi kau yang gila," cetus Ino.
Karin berdecak dan melihat Ino dengan sinis.
"Karin," suara dingin Sasuke membuat Karin memalingkan wajahnya. Pria itu sudah hampir habis kesabarannya.
"Siapa gadis ini, Sasuke?" tanya Karin dengan raut wajah keras.
"Bukan urusanmu dan jelaskan apa maksudmu."
Menghela napas panjang, Karin menyerah.
"Regenbogen. Distrik terakhir yang terkontaminasi dan di sana ada Tsunade. Distrik itu masih sangat murni dan bersih hingga entah siapa yang menyebarkan kabar bahwa daerah itu telah terkontaminasi dan memaksa pemerintah untuk menghancurkan mereka," Karin mengambil jeda. Mengambil napas cukup panjang dan melihat ke arah Sakura yang masih berbaring di tempat tidur, sepertinya gadis itu masih merasakan rasa panas dan kesakitan. Namun dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk menyembunyikannya. "Tsunade menjalankan sebuah penelitian tentang regenerasi sel atau semacamnya, dan ada kabar di antara kami para medis bahwa…," Karin terkejut saat ia menyadari sesuatu.
Dengan cepat ia berjalan ke arah Sakura, menghampiri gadis itu dan dengan kasar ia menyikap membuka pakaiannya. Melihat ke bagian leher hingga bahu. Ia tersenyum sinis saat melihat sebuah tato terukir di kulit mulus gadis itu.
Dari sudut matanya, Karin melirik Sasuke dan Ino. Berjaga-jaga akan sesuatu dan memposisikan tangannya di balik punggung Sakura. Dari balik lengan bajunya, Karin mengeluarkan sebuah alat pengambil darah. Dengan cepat ia menusukkannya dan mengambil darah Sakura. Kemudian dengan satu gerakan kecil ia memasukkan kembali.
Karin berbalik menatap Sasuke, "Ya, kabar bahwa Tsunade berhasil menetralisir seorang anak kecil yang terkontaminasi waktu itu. Sakura Haruno. Namun anak itu tidak bisa bertahan hidup."
"Sakura masih hidup dan dia ada di hadapan matamu, Karin!" Ino berusaha menghubungkan antara titik dan titik yang disampaikan Karin.
"Aku belum selesai bicara," dengusnya. "Kau dengar ada sebuah laboratorium di lepas Suna? Di sana Tsunade melakukan sebuah penelitian ilegal. Semacam tentang embrio manusia yang telah bermutasi dan diberi penanganan khusus, dengan itu mereka membuat sebuah formula untuk sel beregenerasi melawan Tuhan—kau bisa bilang seperti itu—lalu percobaan pertama yang sukses adalah gadis ini!" Karin menunjuk Sakura lagi.
Mereka terdiam.
"Gadis ini tidak memiliki pemacu darah yang normal, jantungnya—tidak tapi semua organnya, berada dalam kondisi terbaik. Saat aku pertama kali memeriksanya aku yakin organ-organnya telah rusak, namun setelah memeriksanya lebih dalam dengan cepat semuanya memperbarui diri hanya dalam hitungan detik. Sel-sel beregenerasi secara cepat dan liar. Bukan manusia, aku berani bertaruh gadis ini telah mati," Karin menggigit bibir bawahnya. Berpikir berusaha menemukan kesimpulan yang memungkinkan. Namun nihil, semua harus diperiksa lebih lanjut. "Dia aset yang besar, Sasuke," Karin berjalan mendekati Sasuke. "Berikan dia pada kami."
Berikan dia pada para medis Konoha.
"Aku menolak," ucap Sasuke mentah-mentah, "dan jika kau mengatakan hal ini pada orang lain kau akan mati."
Karin membulatkan matanya, "Tapi Sa—"
"Keluar."
Kalimatnya sudah disela sebelum terselesaikan. Karin terdiam, merasakan embusan angin dingin yang membuat rambutnya bergerak. Pintu di sana terbuka lebar, menghela napas. Karin keluar tanpa mengemasi kembali peralatan medisnya.
Ino tertawa renyah, sedikit senang melihat ekspresi Karin. "Cih, dia semakin menyebalkan saja."
"Kau juga keluar."
Ino akan membuka mulutnya namun ia mengurungkan niatnya tersebut. Sekilas ia menoleh ke arah Sakura, menghela napas pelan. Ino berbalik menuju pintu keluar dan tidak lupa menutupnya dari luar dengan keras. Sangat keras seperti saat ia masuk tadi.
Persetan dengan Sasuke.
Di ruangan itu hanya ada Sasuke dan Sakura.
"Aku sudah mati," gumam Sakura.
Sasuke mendekati Sakura. Sejenak ia melihat gadis itu dalam diam, egonya menyarankan untuk membiarkannya, namun jauh di dalam benaknya ia ingin meraih gadis itu, mendekapnya. Hingga akhirnya ia melihat tangan Sakura gemetar. Antara acuh dan tak acuh. Tanpa ia sadari tangannya bergerak mengusap rambut Sakura, perlahan berusaha menenangkan gadis itu.
Itu saja tidak cukup.
Sasuke tidak pernah mengharapkan situasi ini. Mengambil tempat di samping Sakura, ia duduk. Perlahan kedua tangannya meraih tangan Sakura. Memegangnya dengan cukup erat untuk menghentikan gemetarnya.
"Aku sudah mati," ulang Sakura.
Sasuke diam, mempelajari dan memikirkan apa yang akan dilakukannya. Hal terakhir yang ia harapkan adalah situasi seperti ini, seorang gadis di hadapannya dengan raut wajah seperti itu.
"Kau masih hidup," ucap Sasuke pelan. Kemudian tangan kirinya terlepas sementara tangan kanannya tetap memegang erat kedua tangan Sakura. Di luar dugaan, tangan Sakura terlihat kecil dibandingkan tangan Sasuke. Jauh lebih lembut, tidak seperti tangannya, kasar. Mungkin tangan itu masih bersih jika dibandingkan milik Sasuke yang telah banyak merenggut nyawa manusia, menghilangkan banyak kehidupan. Mungkin tidak terhitung.
Perlahan membawa Sakura mendekat, memeluknya sesaat.
"Kau hangat," Sasuke merasakan embusan napas Sakura. "Jantungmu berdetak," tangan Sasuke membimbing tangan Sakura ke dada gadis itu, merasakan detak jantung yang masih ada. Setiap detaknya membawa kehidupan baginya. Detak jantung yang semula terpacu liar lambat laun menjadi normal. Napasnya menderu dan kadang tertahan, sesekali membiarkan suara detak jantung terdengar tanpa terselingi suara deru napas.
Sakura membenamkan wajahnya ke dalam pelukan Sasuke. Ia terisak namun tidak bersuara. Tubuhnya berontak gemetar dan saat itulah Sasuke melingkarkan kedua tangannya, mempererat dekapan tersebut, berusaha menenangkan Sakura.
Naluri Sasuke membimbingnya melakukan semua itu, tanpa ia sadari dan mempertanyakan alasannya.
Sasuke hanya bisa terdiam, membiarkan Sakura melakukan apa yang bisa membuatnya nyaman. Kemudian tangan kekarnya bergerak ke punggung Sakura, membenarkan pakaian Sakura yang tadi hampir dirobek oleh Karin.
Melepaskan pelukan mereka perlahan, Sakura menjauh. Mengusap matanya yang basah dan menatap Sasuke lurus. "Terima kasih," ucapnya pelan.
Sasuke hanya tersenyum tipis, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura. Hingga dahi mereka bersentuhan.
"Saat aku bilang kau adalah milikku, kau secara otomatis menjadi tanggung jawabku," merasakan embusan napas yang hangat, darah di dalam nadi Sakura berdesir dan terpacu dengan cepat. "Siapa dirimu sebenarnya, asal kau ada dan nyata, kau tetap milikku."
Sakura terdiam, menyerapi setiap kata-kata Sasuke. Saat itu, saat dimana Sasuke mengatakan bahwa ia adalah miliknya dulu, Sakura mengartikannya secara keseluruhan dan wajar. Namun kini, semuanya terasa lebih dari itu. Atau mungkin Sakura sendiri yang berharap bahwa semuanya lebih dari itu? Ya, mungkin memang benar setelah apa yang mereka lakukan semalam.
Fokus mata Sakura tertuju pada bibir Sasuke yang bergerak pelan, mengucapkan setiap kata-kata yang membuat hatinya tenang. Mengagumi bentuk dan garis bibir tipis tersebut, Sakura menelan ludah. Mengingat dimana saja bibir itu pernah berada. Pipinya memanas, ia menunduk.
…dan kemudian setelah sebuah tarikan napas, Sakura mengangkat kepalanya. Memandang kedua mata onyx Sasuke. Tanpa pikir panjang lagi Sakura mengecup bibir Sasuke. Lembut, sangat lembut dan hangat.
Dengan ini hubungan mereka sampai pada jenjang selanjutnya. Tidak membutuhkan kata-kata, hanya dengan tindakan. Semua sederhana, karena saat ini mereka belum bisa mendeskripsikan hubungan mereka ke dalam kata-kata. Hanya membutuhkan satu sama lain berdampingan, sesederhana itu. Jangan bertanya lebih, semua sudah jelas pada titik ini.
Kecupan singkat itu terlepas, hingga akhinya tatapan mata mereka terkunci. Embusan napas hangat membuat suhu atmosfer ruangan itu seolah naik beberapa derajat. Mereka mendekatkan wajah mereka kembali, hingga hidung mereka bersetuhan. Sakura memejamkan mata bersiap merasakan goresan bibir Sasuke di bibirnya. Lagi, kali ini sedikit kasar.
Mungkin hanya kecupan dan goresan, begerak secara perlahan namun kadang kasar. Berlangsung selama tiga puluh detik, hingga akhirnya Sakura menjauhkan wajahnya kembali. Hanya sempat menjauhkan wajahnya tiga puluh sentimeter, Sasuke kembali menarik Sakura. Cepat, pria itu melumat bibir yang sejak semalam entah mengapa rasa manisnya tidak berkurang. Lidahnya turut bergerak, membuat Sakura merasa kelu.
Kemudian mereka menjatuhkan tubuhnya ke mantras yang lembut, menghentikan lumatannya dan tergantikan dengan kecupan lembut, Sasuke kali ini turut memejamkan matanya.
Sepertinya hormon Sasuke sudah berada di ubun-ubun.
Dunia ini mereka lupakan, sama seperti malam sebelumnya. Terus dan terus, dalam kecupan demi kecupan.
Mereka tidak menyadari langkah kaki keras yang mendekat. Hingga akhirnya langkah kaki itu berhenti di depan pintu, seseorang membuka pintu dengan keras. "Sasuke! Kau terlambat!" Naruto berteriak seolah tidak ada hari esok.
Kembali dalam kontrol dirinya, Sasuke menoleh. Melihat sepasang mata biru langit yang membulat seperti tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dengan tenang Sasuke melepaskan Sakura, kemudian membenarkan posisi mereka.
Naruto membeku, berusaha mengenali apa yang baru saja dilihatnya, "Er… apa aku menganggu?"
Sakura terdiam, tidak berani menatap Naruto. Tangannya mengepal kuat, tanpa ia sadari ia meraih sebuah botol kaca kecil di sampingnya, meremasnya dengan kuat.
Sasuke mengamati Sakura, kemudian tatapan tertuju pada tangan Sakura yang mengepal. Hingga dari sela-sela jarinya keluar butiran pasir lembut.
Mengerutkan dahinya, Sasuke menyadari bahwa botol kaca kecil yang semula menjadi wadah untuk Leben telah berubah menjadi butiran pasir halus di tangan gadis itu. Tidak seserpih kaca pun terlihat. Tidak ada darah yang mengalir tersayat pecahan kaca. Sasuke akan membuka mulutnya untuk bertanya, namun suara Naruto kembali memecah keheningan itu. "Sasuke, simpan itu untuk nanti! Ayahmu sudah naik pitam saat ini. Kau benar-benar terlambat!"
Well, rapat dengan dewan pemerintahan. Tidak ada hal di dunia ini yang lebih membosankan dari itu.
Sasuke hanya mendengus dan berdiri beranjak dari tempat tidur. Kemudian mendaratkan sebuah kecupan lembut di kening Sakura. "Lusa sebelum matahari terbit, kita ke Regenbogen."
Kemudian Sasuke pergi, meninggalkan Sakura sendiri di ruangan itu tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Beberapa saat sebelum Sasuke benar-benar menghilang di balik pintu ia mendengar bahwa Ino akan segera datang menemaninya.
.
.
.
.
Hari itu pun tiba, hari ini, sebelum matahari terbit mereka berangkat menuju Regenbogen.
Mereka menaiki sebuah mobil van, menelisir jalan tanah yang kering berdebu. Dengan jalanan yang cukup terjal membuat mereka tidak dapat melaju dengan cepat. Memang tidak bisa berharap bahwa mereka akan melintasi jalan aspal yang mulus mengingat ini adalah sebuah perjalanan rahasia. Mereka berangkat saat matahari belum terbit, dengan diam-diam dan dibantu orang-orang bawahan Sasuke di Konoha, mereka dapat keluar.
Sepanjang perjalanan Sakura merasakan kehangatan. Tidak henti-hentinya senyum ia sunggingkan dari sudut bibirnya. Ino dan Naruto terus saja berceloteh, ini membuat Sakura terasa nyaman. Melupakan apa yang terjadi beberapa hari yang lalu.
Jika saja setiap saat dalam hidupnya seperti ini, Sakura tidak akan meminta lebih. Hanya dengan senyuman orang-orang di sekitarnya ia bahagia, sangat bahagia.
Sasuke dengan tenang berada di belakang kemudi, terlihat mengacuhkan ocehan orang-orang di sekitarnya. Sakura duduk di sampingnya dan Ino berserta Naruto duduk di bangku belakang.
Kaca jendela tertutup rapat. Kaca hitam itu anti peluru, namun tetap saja mereka harus waspada. Mungkin saja nanti akan ada musuh menyerang mereka, seorang penembak ahli dengan peluru kaliber tertentu yang bisa memecahkan kaca itu adalah hal terakhir yang mereka harapkan. Atau mereka tidak mengharapkannya sama sekali. Bagaimanapun juga, kaca anti peluru atau tidak, jenis kaliber apa pun, rencana mereka harus berhasil.
Ya, rencana menemui Tsunade dan mengungkap misteri yang ada satu per satu. Terlihat tenang Sasuke terus mengemudikan mobil tersebut, tanpa ada seorang pun yang menyadari bahwa saat ini kewarasannya sudah hampir tidak bisa ia pertahankan.
Sedikit lelah Sakura menyadarkan kepalanya di kaca jendela, sepertinya mengantuk. Sesekali kepala gadis itu terbentur kuat saat mereka melewati jalanan terjal.
Melihat gadis itu setengah terlelap, Sasuke tersenyum tipis. Gadis itu mungkin bisa mempertahankan kewarasan Sasuke. Entah mengapa Sasuke nyaman berada di sisi Sakura.
Setelah lima jam perjalanan akhirnya mereka berhenti di sebuah pertengahan jalan, beberapa mil dari Regenbogen.
Merasakan guncangan mobil yang berhenti, Sakura membuka matanya. Mengerjabkan matanya beberapa kali sebelum pandangannya jelas. Mereka masih di tengah tempat kering seperti sebelumnya, lebih tepatnya padang rumput yang kering kerontang. Sakura menoleh pada Sasuke, "Sudah sampai?" tanyanya.
Sasuke tersenyum tipis dan memandang ke arah seberang jalan.
Sakura menelusuri arah pandangan Sasuke dan matanya membulat.
Ia terkejut. Jantungnya berdebar cepat.
Di seberang sana ia melihat Izumo dan Kotetsu, namun bukan itu yang membuatnya merasakan rasa yang entah bisa disebut apa. Kedua pria itu berdiri di samping sebuah mobil, di sana ada dua orang wanita berambut pirang dan cokelat.
Berusaha memastikan terkaannya, Sakura sekali lagi menoleh melihat Sasuke. "Sasuke?"
"Tsunade," ucap Sasuke pelan.
Secara refleks tubuh Sakura bergerak. Membuka pintu mobil dan berlari ke seberang jalan. Tak mengacuhkan panggilan Naruto di belakang.
Berlari dan terus berlari. Sakura ingin segera bertemu dengan Tsunade, merasakan usapan tangan hangatnya sekali lagi seperti sebelum ia terpisah dengannya.
"Sakura!" Naruto berteriak, hendak mengikuti gadis itu. Naruto akan membuka pintu mobil hingga tangan Ino menahannya.
"Well, tidak apa-apa, Naruto," ucap Ino sembari tersenyum.
Kemudian Naruto melihat gadis berambut merah muda itu sesaat, ia berlari dengan tatapan mata penuh harapan. Entah mengapa Naruto turut merasakan rasa bahagia, walau itu hanya sepercik.
Sasuke keluar dari mobil, disusul Ino dan Naruto. Mereka bertiga keluar dari mobil untuk mengikuti Sakura. Di luar dugaan, ternyata jarak seberang jalan dan tempatnya semula lebih dari tiga puluh meter.
Baru beberapa langkah berjalan, mereka menyadari ada dua buah mobil jeeb mendekat.
Tanpa bertanya lagi, keadaan ini memaksa mereka untuk bersigap siaga.
Sial.
Sakura terlalu jauh dari jangkauan mereka.
"Sasuke! Ino! Berlindung di balik mobil! Cepat!" Naruto berteriak sembari meraih senapan jenis M-5 dari sakunya.
Mereka berlindung di balik mobil dan mendadak suara tembakan pecah, pihak musuh menghujani mereka dengan mortil-mortil panas tanpa henti.
Sepertinya mereka kalah telak. Percikan-percikan api kecil menyebar akibat badan logam mobil yang bertemu dengan logam lain, timah panas yang melaju cepat.
"Sasuke, ini gila!" gerutu Naruto yang berlindung di belakangnya. Kedua tangan pria itu terus memegang senjatanya, bersiap menarik pemantiknya jika ada kesempatan.
"Apa Tsunade menembaki kita?" tanya Ino. Sama seperti Naruto, gadis itu juga bersiap dengan senjata apinya.
Sasuke terdiam, membaca suasana. Ia menyadari sebuah mobil jeeb melaju ke arah mereka dengan kencang dan dalam satu tarikan rem, mobil itu berhenti. Tidak ada gerakan dan suara dari seberang.
Semakin tegang, Mereka bertiga dengan cekatan mengamankan diri mereka di balik badan mobil van mereka. Bersiap menerima serangan dan menyerang balik. Menghela napas berusaha untuk tetap tenang. Menghitung setiap detiknya.
Satu detik, dua detik, tiga detik…
Tidak terjadi apa-apa. Hingga terdengar sebuah pintu mobil terbuka dan disusul dengan derap langkah kaki.
Sepertinya mereka harus menerima kenyataan pahit lainnya, yaitu mereka kalah jumlah. Terus waspada dan tenang, menarik napas perlahan, menahan, dan mengembuskannya. Itu adalah satu-satunya hal yang bisa membuat mereka tetap tenang dan fokus.
"SASUKE!"
Hingga suara teriakan Sakura membuat jantung Sasuke berhenti beberapa sepersekian detik. Terkejut.
Sasuke akan menengok apa yang terjadi, baru beberapa sentimeter ia mengangkat tubuhnya sebuah timah panas melesat mengenai pipinya. Menggores pipi mulusnya, mengeluarkan darah merah segar yang kemudian menetes meresap ke dalam tanah kering di bawahnya. Bersatu dengan gravitasi bumi.
Sempat terkejut dan membeku sesaat, dengan cepat Sasuke kembali dalam posisi semula. Berusaha mengatur napasnya kembali. Dari dasar sekali lagi, membangun ketenangannya.
Terus menghitung setiap detiknya, menunggu apa yang akan terjadi.
Tujuh detik, delapan detik, sembilan detik…
Cukup.
Tidak lebih lama lagi.
Kesabaran Sasuke sudah habis. Berniat menghadapi mereka namun gerakannya terhenti saat Naruto meraih lengannya.
"Jangan gegabah, Sasuke," ucapnya dengan tatapan serius, "Akatsuki."
Akatsuki, eh? Katakan mereka tidak kalah telak lebih dari ini, mereka telah tersudut dan tidak dapat bergerak sedikit pun.
Lagi, suara tembakan menghujam mobil van mereka. Seolah memberi gertakan kepada mereka siapa yang lebih kuat di sini.
Mengumpat pelan, Sasuke menyandarkan tubuhnya dengan keras. Tangannya mengenggam kuat senapan di tanganya, walau jari telunjuk Sasuke telah terlepas dari pemantiknya.
Semuanya menjadi rancu.
Suara tembakan terhenti.
Tidak ada suara apa-apa lagi.
Naruto memandang Sasuke dan Ino secara bergantian. Selain memastikan bahwa mereka baik-baik saja, Naruto bersiap menerima perintah untuk menyerang kapan saja. Sorot mata biru langitnya berapi, mungkin terlalu semangat.
Jika diingat sudah dua bulan ia tidak memegang senjata api dan menarik pemantiknya.
Hingga suara ponsel Ino berbunyi, mengalihkan perhatian mereka.
Ino mengangkat tangan kanannya, meminta kedua rekannya untuk diam. "Shikamaru," bisiknya sembari menjawab panggilan masuk tersebut.
Perhatian mereka kembali beralih pada musuh di depan sana saat mereka mendengar suara mesin mobil hidup dan melaju kencang. Lagi secara beruntun, disusul dengan tembakan-tembakan brutal ke arah kendaraan mereka.
Suara mobil itu semakin menjauh beserta tembakan-tembakan yang mereda.
Naruto dengan cepat keluar dari tempat berlindungnya, mengincar mobil jeeb yang kini telah menjauh. Mengarahkan senjata api ke arah musuh, tatapan matanya meredup. Harapannya kandas saat melihat musuh mereka sudah bergerak terlalu jauh. Hampir tidak terlihat.
"Sasuke, ayo kejar mereka!" Naruto bergegas menaiki mobil mereka, saat membuka pintu ia menengok ke arah Sasuke. Pria bermata onyx itu terdiam menatap ke bawah dan kosong.
Naruto mengerutkan keningnya, kemudian ia melihat kemana arah tatapan mata Sasuke.
Ban mobil mereka meleleh.
Cih, mobil busuk. Percuma mempunyai kaca anti peluru jika ban mereka bisa meleleh seperti itu.
Hening.
Sasuke melihat ke seberang jalan. Tsunade dan yang lain ternyata masih di sana, mereka baru saja keluar dari tempat perlindungan—di balik mobil—sama seperti Sasuke dan kedua rekannya.
Sejenak ia melihat lurus ke depan, pandangannya bergeser menelusuri padang rumput kering tersebut. Melihat kanan dan kiri mencari keberadaan Sakura. Berharap Akatsuki tidak benar-benar membawanya. Namun harapan itu kandas, gugur jatuh ke dasar bumi yang terdalam. Ia tidak dapat menemukan Sakura dimana pun.
"SASUKE!" Ino berteriak. Gadis itu terlihat panik, berjalan dengan cepat menghadap Sasuke. Berusaha mengontrol napasnya yang tidak karauan. "Konoha diserang Akatsuki!"
Konoha atau Sakura, mana yang menjadi prioritas pastinya sudah jelas Konoha. Tapi bagaimana bisa Sasuke tetap waras saat sumber kewarasannya tidak bersamanya? menyisir anak rambutnya dengan kanan kiri, Sasuke menghela napas. Sekali lagi berusaha berpikir jernih.
Ini tidak berjalan sesuai dengan rencana.
Sial, sial,sial…
Tangannya dengan cepat menghantam pintu mobil van tersebut, sangat kuat hingga membuat engsel pintu tersebut lepas. Suara besi jatuh bertemu tanah beserta bebatuan menemani suara napas Sasuke yang menderu. Sesekali mengumpat, ia tidak bisa langsung pergi menyusul Sakura.
Sungguh, Sasuke akan membuat Akatsuki membayarnya berlipat-lipat. Membunuh mereka satu per satu, merasakan pintu neraka di tangan Sasuke sebelum akhirnya merasakan neraka yang sebenarnya.
Semua hanya tinggal menunggu waktu. Pasti.
"Kita kembali ke Konoha," ucapnya dengan setengah hati. Kemudian memandang ke arah seberang jalan memberi sinyal pada Tsunade untuk mendekat, wanita berambut pirang itu hanya mengangguk.
Mereka tidak akan melukai Sakura karena ia adalah aset penting. Tidak akan ada sebuah goresan pun di tubuh gadis itu, dengan beberapa alasan Sasuke yakin hal itu.
Kendatipun itu terjadi, Sasuke akan membuat mereka merasakan tiga lapis neraka dunia sebelum rencana mengirim mereka ke neraka yang sesungguhnya ia lakukan.
