Sorry for the typos I have ever made. Tapi saya juga berusaha sebaik mungkin supaya fic ini jadi enak dibaca.
Another update; tapi gak secepat dari yang dibayangkan, sih. Kekuatan mengetik saya gak secepat kekuatan mengetiknya Neru…
'..' untuk perkataan dalam hati.
Miku: halo, aku menggantikan Len dan Rin hari ini!
Author: hah? Kok bisa? Asik dong, aku gak bakal di road n' roll ama tuh 2 anak! \=D/
Miku: mereka bakal tampil di akhir cerita, kok. Tenang~
Author: oh ya… kamu belom pernah kedapetan muncul di prolog ini ya?
Miku: *ngangguk* iyaiyaiya!
Author: oke… silahkan baca disclaimernya.
Miku: YEYY!
DISCLAIMER: Kawan, Vocaloid bakal dikuasain Dora The Explorer kalo si author ini yang punya.
Author: …aku dijelek-jelekin lagi… dan oh, BAD TITLE YA UNTUK CHAPTER INI XO
The Yellow Melody
Chapter 6 : Three Things
-Len's POV-
Aku terbangun oleh jam wekerku yang berbunyi. Setelah bangun dari kasur, aku langsung mandi, berganti baju dan sarapan.
Aku bukan tipe orang pagi; harusnya aku bangun siang—berkisar jam 9 pagi dan seterusnya. Tapi karena sekolah, aku harus bangun jam 6 pas.
Aku sebenarnya malas sekali menjalani sekolah. Tetapi setelah aku bertemu seorang gadis yang fisiknya sama sepertiku, seperti rambutnya yang panjangnya hanya sebahu dan berwarna honey blonde, dihiasi dengan jepitan rambut di poni rambutnya dan pita putih besar yang berada diatas kepalanya yang terlihat seperti telinga kelinci. Matanya yang biru seperti aquamarine jernih terlihat sangat indah. Dengan semua fisik yang dia miliki, hampir seluruhnya sama denganku. Bahkan marga saja sama.
Tapi yang membedakan kami adalah,
Dia adalah seorang perempuan, dan aku adalah seorang laki-laki.
Kami sering dikira kembaran, tapi semua itu salah!
Aku lebih memilihnya sebagai teman daripada saudara sedarah.
Kenapa?
Errrm… Simpan itu nanti. Sesuatu yang tidak bisa dikatakan.
Pokoknya, setelah aku bertemu dengan gadis itu yang bernama Rin, hidupku berubah 180 derajat.
Awalnya aku yang hanya tidur atau bahkan bengong di rumah setelah sekolah atau pergi jalan bareng Akaito, sekarang lebih menghabiskan waktu untuk bersosialisasi dengan Rin.
Kita bahkan punya sebuah kejadian yang sama; kita tinggal di rumah kami masing-masing sendiri, tanpa orang tua.
Ya… Orang tua-ku juga mengelilingi dunia, sama seperti Rin.
Memang kami benar-benar sama, kan?
Tapi aku tidak ingin dikaitkan tentang hal saudara sedarah dan semacam itu.
Ah, aku sudah terlalu banyak bengong. Lebih baik aku segera berangkat ke sekolah dan…
Bertemu Rin!
Entah kenapa, senang saja kalau aku bertemu dengannya. Awalnya aku ingin berangkat ke sekolah sama-sama. Tapi pada saat sampai di rumahnya, rumahnya kosong.
Berarti dia sudah duluan.
Lebih baik cepat ke sekolah~!
Tapi… setelah berada di depan gerbang sekolah, aku melihat…
Rin dan laki-laki lain sedang mengobrol dan tertawa-tertawa.
Hei! Orang itu merebut posisiku sekarang, ya?
Aku melihat mereka dari jauh, dan tidak terlalu bisa mendengar mereka dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan. Akhirnya aku berjalan mendekati Rin. Tapi dia tidak merespon.
Apakah dia terlalu dekat dengan laki-laki itu sampai aku tidak diketahui olehnya bahwa aku sudah berada persis di sampingnya?
Aku langsung menepuk pundaknya. Dia langsung terkejut. "E-eeh! Ada Len-kun. Oh ya, ada apa?" katanya.
"Hm, siapa dia?" tanyaku sambil menunjuk pria yang ada didepan Rin.
"Dia? Oh, dia Mikuo Hatsune! Dia adik kembar Miku, dan dia juga teman mainku kalau Miku tidak ada," jawab Rin. Ooh. Adik kembar Miku. Aku pernah mendengar namanya…
Mikuo punya warna rambut yang sama seperti Miku, hijau toska, dan warna matanya pun senada dengan warna rambutnya.
"Hei Rin, mau pergi ke kelas bersama?" ajakku kepada Rin.
"Maaf, tapi aku mau pergi ke ruang kelas lain bersama Mikuo! Mungkin besok saja, atau lain kali? Dan oh, daah! Aku pergi dulu!" katanya melambaikan tangan padaku. Aku balik melambaikan tangan padanya.
DASAR BOCAH MIKUO!
Oh salah.
DAMN MIKUO!
Dia merebut Rin dariku! Dia tidak menganggap bahwa akulah yang paling dekat dengannya daripada dirinya! ...Apakah itu benar?
Pada saat aku melihat mereka yang semakin jauh dariku, aku lihat Mikuo mulai menggengam tangan Rin seperti seorang otouto yang manja kepada oneesan-nya.
Tapi Rin hanya terkikik.
APA YANG SEDANG MIKUO ITU LAKUKAN DENGAN RIN?
DOUBLE DAMN MIKUO!
Aku tidak ingin melihat yang lain, maka aku langsung mengebut ke kelasku.
Di mejaku, aku menaruh kepalaku di meja dan kadang membenturkannya berkali-kali ke meja. Akaito, teman yang sesama jenis yang paling dekat denganku, langsung memberhentikan aku membenturkan kepalaku yang sudah kubenturkan 18 kali.
"Bung! Apa yang terjadi denganmu? Kalau kau terus seperti ini… Nanti bisa amnesia, bahkan masuk rumah sakit!" kata Akaito. Aku berhenti untuk membenturkan kepalaku.
"Uhm. Yeah."
Pada saat perasaanku mulai membaik, malah datang sesuatu yang membuatku terbakar seperti di neraka.
Rin dan Mikuo datang ke kelas dengan memasang muka tertawa dan, pegangan tangan itu masih ADA.
Lalu Lily yang melihatnya, langsung menyoraki Rin dan Mikuo.
"Wiiii~~ RIN DAN MIKUOOOO! MESRA BANGET!" teriak Lily. Murid yang lainnya ikut menyoraki mereka berdua.
Dan kulihat, Mikuo tersenyum kecil dan aku hanya jeli pada Rin. Rin merona sedikit, hampir tidak terlihat!
TRIPLE DAMN MIKUO!
Lalu aku membenturkan kepalaku lagi, dengan kekuatan yang hebat dan cepat. Akaito tidak bisa menghentikanku sampai semuanya hitam…
Sebelum semuanya hitam, aku merasa aku mendengar sesuatu…
"LEN-KUN…!"
Itulah suara Rin.
"Uuuh… dimana aku?" tanyaku sambil meraba kepalaku, lalu aku mengeluarkan sedikit 'Agh!' saat aku meraba di sebuah tempat di kepalaku.
"Len-kun! Kau sadar! Akhirnya!" kata seseorang, saat aku menengok kearahnya, itu Rin.
"A-aku kenapa…?" benar, aku tidak tahu sampai aku berada disini, di UKS.
"Oh. Tadi entah kenapa kamu membenturkan kepalamu berkali-kali dengan kekuatan dan kecepatan yang hebat sampai Akaito-san tidak dapat menghentikannya. Lalu kamu berhenti dan darah mulai mengucur dari keningmu…" kata Rin dengan muka khawatirnya. "kau tidak apa-apa kan, Len-kun?"
"Tidak apa-apa kok." kataku sambil tersenyum. Dia balik tersenyum.
"Kalau begitu, kita bisa mulai acara tukar tempat duduknya!" katanya. Aku bingung.
"Tukar tempat duduk…?" tanyaku.
"Yap! Kiyoteru-sensei yang bilang. Supaya tidak bosan dengan teman semeja kita, dia mengidekan untuk bertukar tempat duduk. Kita akan mengambil undian dan, menentukan tempat duduknya. Tapi kau kan baru saja pingsan. Jadi kata sensei kita harus menunggumu sampai sadar supaya bisa mengambil undiannya," jawab Rin. Ah, ini menyangkut keberuntunganku. Apa aku bisa duduk di sebelah Rin?
"Kalau begitu, ayo!" kataku semangat.
Sesampai di kelas, semua murid bersorak atas kedatanganku. Mereka mungkin senang karena akhirnya undian bisa diambil.
"Kagamine-kun, bisa dimulai kan?" tanya Kiyoteru-sensei padaku.
"Ya!" jawabku. Lalu murid di 1-B semuanya bersorak lebih keras.
Kami dipanggil sesuai absen, mengambil undian.
Setelah semuanya mengambil, Kiyoteru-sensei menyuruh kita membuka undian itu. Undian itu yang awalnya terlipat-lipat, langsung kubuka dengan tidak sabar. Lalu aku memperoleh angka…
"Aku 8! Siapa pasanganku?" kataku setengah berteriak, agar seluruh murid mendengarku. Aku harap yang menjawab Rin.
"A-aku! AKU! Aku nomor 9!" kata seorang perempuan sambil mengangkat tangannya.
Ow… itu bukan Rin, tapi…
"Lily?" kataku dengan pelan. Tidak percaya dengan semua ini. Kenapa harus Lily…?
Kulihat Rin, dia sudah duduk bersama seorang laki-laki… itu Mikuo! Agh sial! Mereka duduk bersebelahan!
"Len? Mau duduk gak?" kata Lily yang menyadarku dari tatapan kosongku yang mengarah ke Rin dan Mikuo.
"Eeh.. iya." Kataku lalu duduk di bangkuku.
Pelajaran demi pelajaran lewat, dan kadang pandanganku mengarah kearah Rin dan Mikuo. Mereka memang memerhatikan guru berceramah, tetapi kadang mengobrol sedikit. Aku jadi agak…. Iri?
"Kagamine-kun! Kenapa kamu?" tanya seorang guru.
Aku tersentak karena ada guru yang memanggilku. Aku langsung berdiri. "A-ah! Tidak apa-apa, pak!" kataku.
Satu alis dari guru itu naik. "Benarkah? Kalau begitu kenapa pandanganmu terus tertuju pada Kagamine Rin dan Hatsune Mikuo?"
Aku kaget, dan melihat Rin juga kaget. Err.. timing yang gak pas sama sekali.
"Saya melihat… ah.. uh… oh! Saya melihat laba-laba kecil di kepala Rin tadi." kataku. Lalu mata Rin melebar, dan berteriak sambil keluar kelas.
"AAAHHH! LABA-LABAAAAA!" lalu sosok Rin sudah hilang dari 1-B.
Guru itu mengangguk, dan menyuruhku kembali duduk dan melanjutkan pelajarannya. Aku tidak enak pada Rin. Itukan hanya bohong…
Jujur, ini baru pertama kali merasakan rasanya… cemburu.
Pulang sekolah. Waktu yang tepat untuk mengunci diri di kamar dan berdiam diri di kamar. Momen terbaik. Tapi kuharap Rin tidak datang melihatku… kenapa?
Pertama, aku membenci untuk melihat Rin yang bersama Mikuo!
Kedua, aku pasti dimarahi Rin.
Ketiga, karena aku sudah membohongi Rin.
Baik! Aku langsung lari keluar sekolah! SEKUAT TE-NA-GA!
Krat!
Bajuku… seperti ditarik seseorang dari belakang…
"Tidak semudah itu kau melarikan diri, Len-kun~" kata seseorang dengan nada datar. Aku menengok kebelakang dengan pelan-pelan.
"R-Rin! Kenapa? Aku ingin belanja untuk sesuatu di rumah!" kataku sambil meronta, berusaha melepaskan diri. Tapi kali ini, Rin yang lebih kuat.
"Sudah kubilang, tidak semudah itu. Sekarang aku lebih kuat!" Rin mengerutkan dahinya, dan aku menelan ludah.
"Jadi, beritahu aku kenapa kau berbohong padaku bahwa ada laba-laba kecil diatas kepalaku?"
Oh, aku harus mengungkapkan kebenaran ini?
Aku menaruh satu tanganku kebelakang, sambil gugup dan memainkan ponytailku. Bingung mau jawab apa.
"I-itu… hanya takut di apa-apakan guru" kataku sedikit berbohong. Tapi untungnya, dia percaya.
"Oh. Kalau kenapa kau membenturkan kepalamu hingga berdarah itu, dan kenapa tadi pada saat kau ditegur karena melihatku dan melihat Mikuo, itu kenapa?"
"Ah… aku hanya… uhhh…." Aku kebingungan. Rin mulai melipat tangannya dan bergaya seperti 'ck-ck-ck'. Aku hanya bisa pasrah.
"Beritahu saja. Tidak akan disebar," tegas Rin, lalu dia menjewer telingaku.
"HEY! ITU SAKIT! TELINGAKUUU!" teriakku sambil memegang telinga kananku yang memanas dan memerah karena habis dijewer Rin.
"Sama seperti yang kau lakukan pada saat kau mengintrogasiku kemarin. Kalau kau tidak mau kuberitahu, telingamu jadi korban~" kata Rin dengan nada jahil, sama sepertiku kemarin. Agh…
"Tapi kutanya dulu, kenapa pas tadi kamu disoraki Lily dan kawan-kawan kau merona?" tanyaku.
"Ooh, yang 'Rin dan Mikuo mesra bangeeet' itu? Aku merona kan karena malu! MALU!" jawabnya.
"Baiklah. Aku tidak ada apa-apa denganmu, tapi kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau suka pada Mikuo? Setidaknya kan aku bisa membantumu!" kataku secara lepas. Rin terdiam. Tapi lama-lama…
"Puh… puhahahaha! Aku? Suka pada Mikuo? Buahahaha! Itu lucu sekali!" tawa Rin yang tidak bisa berhenti tertawa. Aku agak kesal, karena apa yang dia tertawakan?
"Maksudmu? Apa yang kau tertawakan?" tanyaku. Akhirnya Rin berhenti tertawa, tapi tetap tersenyum.
"Aku ingin memberi tahumu 3 hal. Hal pertama. Darimana kau tahu aku suka pada Mikuo?" setelah Rin mengatakan hal ini, aku agak sakit mendengarnya…
"Uh, dari tingkahmu dan tingkah Mikuo?"
"Hal kedua. Aku tidak akan mungkin jatuh cinta pada adik sahabatku sendiri. Tebak kenapa?" Ini mulai membuatku bingung.
"H-hah? Tidak mungkin jatuh cinta?" kataku kebingungan. Rin memasang senyum kecil di wajahnya.
"Hal ketiga. Karena aku sudah menyimpan perasaan pada orang lain." kata Rin, lalu Rin hanya mundur dan menaruh tangannya dibelakang tetapi tetap tersenyum.
"Lalu, siapa dia?" tanyaku. Rin langsung cemberut. Dia menjewer telingaku lagi.
"STOP RINNN! ITU SAKIT!" kataku, sekali lagi memegang telingaku yang makin panas karena dijewer.
"Kalau yang itu jangan ditanya!" lalu Rin meninggalkanku.
-Rin's POV-
Aku tadi setengah kesal dengan Len. Dia memang naïf. Tapi sudahlah, tak usah dipikirkan. Yang penting, sekarang aku ditunggu Luka didekat halte bis. Setelah sampai, aku melihatnya dan menghampirinya.
"Nee, maaf Luka-chan. Lama ya?"
"Enggak, kok. Sekarang, kamu siap les?" tanya Luka. Tentu saja iya! Aku langsung mengangguk dan mengikuti Luka berjalan kearah tempat les-nya.
Sesampainya di tempat les, aku dan Luka menghampiri resepsionis.
"Selamat datang di Pelatihan Vokal Yowane. Ada yang bisa saya bantu?" kata salah satu resepsionis dengan ramah. Aku terkejut.
"Luka, les vokal ini… punya Haku? Haku Yowane kelas 1-C itu?" bisikku pada Luka.
"Betul. Makanya aku akrab dengan Haku, dia juga les disini," jawab Luka padaku tapi berbisik.
"Teman saya mau mendaftar berlatih disini. Saya sudah pernah bilang. Dia akan sekelas dengan saya." kata Luka yang tidak kalah ramahnya.
"Oh, Rin Kagamine, betul?"
Aku mengangguk. Aku membayar uang les-ku, dan Luka menambahkan uangnya. Jadi berasa tidak enak pada Luka, nih…
"Sesi Megurine-san dan Kagamine-san akan dimulai 10 menit lagi, ya." resepsionis itu mengingatkan kita.
10 menit kemudian, ada bel berbunyi. Kami langsung menuju ke ruangan berlatih kita, ruang 7.
Didalam ruangan itu, ada mikrofon dan beberapa alat musik lainnya. Dan mataku terpaku pada seorang anak kecil yang sedang duduk di bangku, sedang melihat kertas yang dia pegang. Lalu Luka menyapanya.
"Hai Yuki-chan! Masih mempelajari lagu?" sapa Luka. Gadis kecil itu lalu mengalihkan pandangannya ke Luka dan tersenyum.
"Hai Luka-chan! Iya, aku lagi mempelajari lagu untuk ulang tahun temanku. Oh, itu siapa? Teman kak Luka?" katanya sambil menunjuk kearahku.
"Oh, dia Rin Kagamine! Dia akan les disini juga, satu ruangan bersama kita," kata Luka.
"Hei, siapa namamu?" tanyaku.
"Aku Yuki. Yuki Kaai. Senang bisa berkenalan dengan kakak!" kata Yuki gembira.
"Dia juga pintar dalam menyanyi loh. Dia masih SD, tapi sudah masuk kalangan les SMA. Aneh kan? Tapi hebat!" puji Luka. Yuki tertawa kecil.
"Kak Rin bisa membantu aku juga kan?" Tanya Yuki.
"Tentu saja!" Jawabku.
Sepertinya hari-hari les-ku akan asyik.
"Daah kak Luka, kak Rin!" kata Yuki sambil melambaikan tangannya dari dalam mobil. Mobil yang dia tumpangi pun langsung berjalan meninggalkan kita.
"Dia imut banget ya! Suaranya, mukanya lucu banget! Aku pingin banget dia jadi imouto-ku!" kataku.
"Hahaha, aku juga begitu! Aku senang kalian berdua sudah bisa akrab dengan cepat." Luka mengecek hanphone-nya.
"Ayo kita pulang. Sudah jam setengah 7 malam. Aku duluan, ya!" kata Luka berlari meninggalkanku.
Ah, aku ditinggal sendiri. Aku agak merinding berjalan pulang kerumah gelap-gelap begini! Bagaimana kalau ada… ah, lupakan!
Aku berjalan. Rumah-rumah dan bangunan yang sudah kulewati semuanya sunyi. Jalan yang kulalui pun sama sunyinya. Apalagi setengah jalan yang kulewati lampunya ada yang tidak menyala. Itu.. mengerikan.
Tep!
Hah? Bunyi langkah kaki?
Aku terus berjalan, tidak membalikkan badanku dan menambah kecepatan berjalanku. Tapi langkah kaki itu tambah cepat.
Pat!
Tiba-tiba aku merasa ada yang menepuk pundakku. Tapi aku ketakutan. Aku berhenti berjalan.
"Hiiiii~"
"GYAAAAAA!" teriakku. Refleks, aku menonjok sesuatu itu yang menepukku.
BUAGH!
Tapi setelah kuteliti, dia…
"Len-kun! Itu kamu! Ah, maaf! Aku kira... ah, maaf banget!" kataku sambil melihatnya.
'RIN. KAMU JADI ANAK IDIOT BANGET SIH YAAAAA!'
Len seperti tersungkur, tangan kirinya memgang hidungnya yang berdarah. Aku kelabakan mencari tisu-ku yang berada dalam tas-ku.
"U-uwaaa, aku tidak tahu kalau itu kamu! Maaf banget!" kataku sambil melap hidung Len yang berdarah. Aku melihat muka Len memerah. Ah, dia kutonjok terlalu keras sampai mukanya jadi merah juga…
"Ah, tidak apa-apa! Harusnya aku yang salah, karena aku menakutkanmu. Dan tonjokanmu itu… kelas pegulat…" Len mengambil tisu yang kutawarkan padanya, dan aku memberikannya tanganku untuk membantu dia berdiri. Dia diam.
"Kok diam? Ayo bangun!" kataku sambil menghentakkan kakiku. Dia menerima tanganku dan berdiri.
Len sembari membersihkan baju dan celananya. "Uuhh, terima kasih. Dan maaf karena tadi kukagetkan..."
"Sebagai tanda maaf, aku akan menginap dirumahmu!" kata Len. Tiba-tiba aku shock. Entah siapa yang mengutukku jadi batu sampai aku diam begini.
LEN MAU MENGINAP DIRUMAHKU?
SERIUS?
Aku gedek total.
"Ma-maaf?" kataku sambil kebingungan.
"Buktinya aku sudah bawa tasnya." Len menunjukkan koper yang dia bawa. Dia betulan apa bohongan?
"Bi-bisa aja sih.. tapi, kenapa gak dirumah Akaito-san?" tanyaku.
"Meeh, dia kan adiknya Kaito-sensei. Ak tidak mau menginap dirumah orang yang ada gurunya!" jawabnya.
Lalu Len memasang puppy eyes.
"Kumohon~?" Len semakin memperkuat puppy eyes-nya.
Gah! Dia imut banget kalo kayak gini! Eeh? Imut! Tunggu! CORET ITU! COREEEEEEET!
Aku tidak tahan dengan puppy eyes-nya!
"Uuuh.. boleh deh.." lalu Len entah kenapa teriak-teriak sendiri sambil menyanyikan We Are The Champion sambil nari ala penari salsa.
Kami jalan berdua kerumahku. Sesampai dirumahku, Len melihat-lihat rumahku.
"Rumahmu simpel juga, aku tidur dimana? Dikamarmu?"
"TIDAK ADA KATA KAU DI KAMARKU!"
Len mundur. "o-ooookeee… itu kan bercanda…" kata Len sambil ketakutan.
"Kamu tidur di kamar.. oh tunggu, orang tuaku tidak memperbolehkanku untuk menginjinkan semuanya menginap di kamar mereka. Berarti… Len, tidur di sofa aja ya?"
"Rin, ada 3 hal yang perlu kusampaikan," katanya.
"Pertama, aku tidak suka tidur di sofa. Kedua aku ada fobia tidur di sofa. Ketiga aku ingin tidur di lantai 2~" kata Len dengan nada stalker. Aku jadi jijik. Dan, apa betul ada fobia tidur di sofa?
BAGAIMANA LEN TAHU LANTAI 2 ITU ADA KAMARKU?
"Uuh, oke… kamu tidur diluar kamarku ya, didepan pintu. Nanti kutata futon dan selimut disitu" kataku pasrah. Dia girang, lompat-lompat dan naik ke lantai 2 sambil membawa kopernya.
Untung saja lantai di rumahku itu lantai kayu. Jadi lebih nyaman sepertinya.
Selesai aku menata futon dan selimut untuk tempat tidur Len, kami mengobrol.
"Ngomong-ngomong, Len-kun mau menginap disini sampai kapan?" tanyaku pada saat Len lompat dan berguling di futonnya.
"Ah~~ empuk sekali! Oh? Aku akan menginap disini sampai senin. Tidak keberatan kan?" Len lagi-lagi memasang puppy eyes.
"Ya.. aku tidak keberatan." kataku dan melihat jam dinding. "sudah jam 8. Lebih baik kita tidur."
"Rin," panggil Len. Aku memalingkan mukaku kearahnya.
"Hmm?" balasku. Dia mengambil tanganku.
"Hah..?" aku bingung apa yang mau dia lakukan. Lalu dia mencium tanganku. Aku tersentak dan kaget, mukaku merah padam pastinya!
"APA YANG TELAH KAU LAKUKAN LEN KAGAMINE?" teriakku sambil menjauh darinya ala anime.
"Good night kiss. Tapi versiku pakai tangan" jawabnya kalem. Aku serasa ditiban batu.
"Uuuuhhh…kalo begitu, se-selamat malam, Len-kun!" kataku sambil memasuki kamarku dan langsung berganti baju, lalu berbaring di kasurku.
Ada apa sih? Kok pakai 'good night kiss'? itu apa?
Aku tidak ingin pusing lagi, langsung saja aku tidur.
Esok hari harus lebih waspada terhadap Len.
To Be Cotinued
Weits, ternyata late update lagi! ARRGGHHH MANUSIA MACAM APA KAU SHINEY MENGETIK SAJA KALAH KECEPATANNYA DENGAN NERU? *mumbling*
Tapi saya juga mengutamakan panjangnya cerita supaya kalian merasa puas dengan cerita saya ^^ kalau disini ada typo, maaf ya…
Len: HEI ITU KENAPA AKU KAYAK STALKER SIH?
Author: namanya juga FanFiction!
Rin: nih juga nih.. masa aku jahat sama Lenny? Cuman ngasih futon ama selimut!
Author: *ngelirik Rin* 'Lenny'…? Ooh, interesting..
Len: RIN!
Rin: nee! Sorry! Woi author, bales reviewnya!
Author: oh yaaa!
Utamine OmepoiDesu: ada flagelaaa~~ rival cinta sudah ada~ tapi namaya Shiney gak bagus bikin romance atau semacamnya, jadi kayak gombal gitu deh XO Lily bisa jadi baik dan jahat, dan dia bakal jadi rivalnya Rin! Me-menarik cerita saya! YEY ADA YANG MENGAKU! THANK YOU OME-SAN! :'D
Saya sendiri lupa: betul, setiap menit ada fic baru! Jadi bingung mau baca yang mana XD wah, anda sudah liat fic saya yang Persona? Terima kasih! :DD
Hikari Kamishiro: pa-pakai huruf besar ya senpai? Aku enggak tau maaf ;O; tapi setahu saya itu sih gak apa-apa kalau gak pake huruf besar, atau? Aah saya sebagai WNI gak bisa bahasa Indonesia yang baik dan benar? Kurang ajar! *tampar diri sendiri* teirma kasih ya reviewnya~~ :3
Rinkaro-chan: happy new year for you too, Rinkaro-chan! :D 1. Oh iya ya. Kan dulu anda pernah ngasih satu merk trakindo. Hohoho~ 2. Benar! Dia maniak es krim! Tapi jangan samakan dia dengan Irfan Bachdim.. 3. Sepertinya… mungkin agak telat… 4. Tanya saja, taka pa-apa XD 5. Tentu saja buatan saya lah O.o hahaha but thank you for your review!
Renmi3 novanta: salam kenal juga Renmi-san ;D wah terima kasih kaena sudah mau suka dengan karya saya! Hiks saya terharu! *digampar karena lebai* tentu saja akan saya update!
Author: okay! Aku akan mengerjakan chapter selanjutnya! *keluar area*
Miku: hei aku muncul lagi! Tolong review yaaa~~! Bisa berupa saran, kritik dan curhat (?) juga boleh~~
Len & Rin: betuuul! Klik aja tombol dibawah ini, 'Review This Chapter' XD
