Tujuh hari telah berlalu. Dan hari ini, Akashi Seijuuro berangkat ke Maldives untuk menyelesaikan pekerjaan yang sangat 'penting' baginya.

"Akashi-kun…Hati-hati ya…" Kuroko berdiri menatap suaminya yang tengah berjalan masuk kedalam mobil Range Rover.

Sang suami menoleh, mengibaskan tangannya–menyuruh sang istri mendekat– "Tentu saja. Jika aku sudah sampai, nantiku kabari" satu kecupan di dahi dan di bibir Kuroko dari Akashi.

Senyum kecil di lukiskan untuk suami hingga mobil hitam itu melesat menuju bandara.

Beep.. beep

"Hm?" Kuroko mengambil smartphone-nya dari saku "Akashi-kun?"


From: Seijuuro-kun

To: Tetsuya

Subject: -none-

Kau tidak akan sendirian di rumah itu, Tetsuya. Akan ada dua orang yang datang besok, tunggu saja, okay?

Aku mencintaimu.


Dahinya mengkerut. "Dua orang?"

"Oh…" senyum kecil kembali terlukis.


.

.

Wedding Mistake

A Kirigaya Kyuu Fanfiction

Kuroko no Basuke © Tadoshi Fujimaki

Mpreg!?

AoKaga slight AkaKuro

.

.


"Eng? Sudah pagi kah…"

Kagami Taiga, terbangun dari tidur nyenyaknya.

Hatchi!

Ah, sisa demam dari kemarin masih berdampak di badannya ternyata. Dan, oh. Kagami tidak tidur sendiri.

"Eng? Ohayou… Kagami"

Satu.

Dua.

Ti–

Kagami mengambil bantal tak bersalah dan melemparkannya kepada lelaki dim yang tengah berusaha bangkit dari tidurnya. "HYAAAAAA! KE-KENAPA KAU ADA DISINI!?"

–ga.

"Ittai! Mou! Kalau ada ucapan selamat pagi, minimal di jawab kek!" keluh Aomine yang–masih–menghindari lemparan bantal ber-liur.

"Ehm… uh… suman" Wajah hingga telinga Kagami memerah "O-ohayou… Ao-Aomine…"

"Hm? Ck… shikatanai na… omae…" tangan corethitamcoret itu mengacak-acak rambut Kagami–yang sudah berantakan dari bangun tidur. Aksi tersebut malah membuat sang empu tambah memerah.

"Dou? Demammu sudah turun kah? Ada keluhan?"

Ah iya. Ini sudah kali ke dua seorang Kagami Tiger–uhuk, Kagami Taiga terserang demam, batuk, serta pilek. Kali pertama, saat mereka pulang dari ferris wheel. Dan Aomine ikut-ikutan demam saat pagi. Kali kedua, yah kali ini. Karena keasikan bermain basket, hujan pun di terobos untuk terus bermain. Ujung-ujungnya? Kagami seorang yang masih demam.

Pipi Kagami memerah–lagi. Dia ingat, tadi malam Aomine memeluknya protektif. Menyalurkan kehangatan untuknya. Dirinya. Dirinya seorang. Dirinya–Kagami Taiga. "U-ung… sudah mendingan. Maaf merepotkanmu, Aomine…"

'K-kawaii…' batin Aomine, nyaris mengeluarkan cairan pekat dari hidungnya.

"Uhm… jadi, mau makan pagi?" tawar Kagami sambil berjalan keluar kamar.

Yang di tawari mengangguk kencang "Hu'um! Aku lapar!"

.

.

.

Lelaki bersurai baby blue terduduk dalam sepi.

"Hm…kapan 'dua orang' itu akan datang ya?" tangan mungilnya mengelus-elus lembut perut. Tatapan matanya juga ikut melembut saat mengingat kata-kata penyemangat suaminya. 'Aku tidak pernah berfikir seperti itu. Dan tidak akan pernah ku lakukan. Aku mencintaimu Tetsuya. Hanya kau' senyumnya mengembang.

"Anakku… cepatlah lahir dan tumbuh menjadi anak baik ya…"

.

.

.

"Gochisousama deshita…"

"Masakanmu memang paling enak Kagami!" puji Aomine sambil mengacungkan kedua jempolnya.

Dan untuk kesekian kalinya dalam hari ini. Kagami, blushing.

"E-eh? Sou na no? Bi-biasa aja sih menurutku… hahaha"

"Hee? Yakin?"

Aomine bangkit dari duduknya. Berjalan mendekati Kagami yang tengah mencuci piring.

"Y-yakin!" seru Kagami tanpa menoleh.

Hup

Tangan kekar dim merengkuh pinggang Kagami. "Bagiku, rasanya sungguh special…" Aomine membisikan kalimat gombal tepat di telinga Kagami. Kagami, iya, Kagami. Kagami yang kembali blushing.

"G-gombal!"

Bruk!

Dorongan kuat dari pihak uke membuat sang seme terjerembab. Menyebabkan bokongnya mencium lantai dingin.

"Hihihi, Kagami jangan-jangan kau sudah jadi tsundere hm?" goda Aomine yang masih terduduk manis (?) di lantai dapur.

"Na-nani?!"

"Pfft– Hahahaha–"

Drrttt… Drrttt

"–Heh?" Aomine mengerutkan keningnya. Diambilah smartphone yang terus bergetar di saku celananya.

"Ng?" Kagami yang merasa ingin tahu, jadi ikut duduk di samping kekasih nya.

'Akashi? Tumben dia mengirimiku pesandan wow, ada apa dengan ASAP?!''


From: Akashi Seijuuro

To: Aomine Daiki

Subject: ASAP

Kau, dan Kagami. tinggal dirumahku selama seminggu untuk menjaga Tetsuya. Dia sendirian di sana. Lakukan apapun yang dia mau, tanpa protes.

Jangan coba-coba mendekati istriku dalam artian, kau tau lah. Dan jangan lakukan 'itu' saat tinggal di rumahku. Aku tahu kalian sudah berpacaran.

Jadi, kalian berdua: Harus. Menjaga. Tetsuya. Selama. Seminggu. Ini. Menggantikan. Aku. Yang. Sedang. Sibuk.


"Eh?"

Puluhan tanda tanya imajiner berkumpul di kepala Aomine dan Kagami.

"A-apa maksudnya ini? Akashi tte, Akashi yang itu 'kan?" tanya Kagami.

"Saa… dan, ya. Akashi yang itu."

'Akashi sudah tahu kalau kita berpacaran? Gosh, hebat sekali dia' pikir Kagami. "Ung, jadi… kita harus ke rumahnya untuk menjaga Kuroko?"

"Ya–sangat terpaksa. Kalau Akashi sudah memasang subjek 'ASAP' itu berarti semua pesannya harus dilakukan. Gaaahhh… kenapa pula tidak boleh melakukan 'itu'?! Niatnya hari ini aku mau melakukan 'itu' bersama Kagami padahal–"

Plak!

"Aduh! Kenapa sih kau hari ini tempramen banget?! Lagi PMS ya–"

Plak! Plak!

"Itte yo baka!" si pemuda dim menatap crimson kesal.

"Itukan salah mu sendiri–hmph!"

Aomine menarik leher Kagami mendekat dengannya–jatuh bersama (lagi) di lantai dingin–, ciuman tak tertahankan pun terjadi. Awalnya hanya lumatan-lumatan kecil, namun berubah menjadi french kiss lama kelamaan. Seminggu berpacaran dengan Aomine, Kagami mempelajari satu hal dari tingkah lakunya. Aomine itu: hentai, a.k.a penuh nafsu–jika melihatnya. Kagami tidak membenci tingkahnya yang satu itu–tidak. hanya saja, terkadang Aomine tidak tahu tempat dan waktu saat menciumnya, atau hal-hal sejenis–minus 'itu–. Kagami masih mau perawan–uhuk, perjaka. Jadi mereka berdua belum melakukan 'itu' sama sekali.

"Nggh…"

Lenguhan dari pihak uke terdengar. Ia butuh oksigen, sekarang. Namun, si seme belum mau (baca: tidak rela) melepas ciuman panas tersebut. Padahal saliva–entah punya siapa–sudah mengalir di sudut bibir mereka berdua. Mau tak mau, Kagami harus meluncurkan pukulannya kembali.

Plak!

"Ngeh, itte yo! Mou… Bakagami!" seru Aomine setelah melepas ciuman mereka–secara terpaksa.

"Ha-habisnya kau tidak mau melepas ciuman tadi! Aku kan bisa mati kehabisan oksigen–"

Chu~

Satu kecupan di pipi diterima Kagami.

"Cepat siapkan barang-barangmu. Kita akan berangkat ke rumah Akashi." Aomine bangkit dari jatuhnya, mengacak-acak surai merah Kagami dan pergi masuk kedalam kamar mereka–ikut menyiapkan barang-barang–.

Kagami harus mulai terbiasa dengan ini semua. Padahal baru seminggu mereka menjalin kasih, tapi tingkah Aomine dan Kagami sudah seperti sepuluh tahun pacaran. Aomine itu kadang romantis, kadang ngeselin. Kalau keduanya digabung–seperti saat ini–dapat membuat Kagami sakit jantung lama-lama. Hembusan nafas panjang untuk menghilangkan pikiran liar Kagami–serta rona di pipinya.

"Iya, iya"

.

.

.

"Aku yang menyetir atau…?" tanya Kagami.

Mereka setuju untuk menggunakan mobil Kagami–McLaren-nya yang ternyata masih mulus setelah di pakai Alex minggu kemarin–dari pada motor Harley Aomine. Alasannya? Karena perjalanan jauh menuju rumah Akashi. Jadi lebih baik menggunakan mobil dari pada motor. Pertanyaannya sekarang adalah: siapa yang mau menyetir? Aomine itu seme, harusnya dia yang menyetir. Tapi mobilnya punya Kagami. Yang patut menyetir itu Aomine atau Kagami?

"Hem… bagaimana kalau kita tentukan dari one on one–"

"Kau saja deh" sela Kagami sambil melempar kunci mobilnya pada Aomine. Si dim hanya bisa terkekeh. Karena dia tahu, sebanyak apapun mereka melakukan one on one, yang menang pasti dirinya.

Sesampainya di parkiran, mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil.

"Hati-hati ya. I-ini mobil kesayanganku…"

Kagami agak ragu sebenarnya meminjamkan mobilnya ke siapapun–bahkan Alex juga di ragukan kebisaannya–. Kagami bahkan belum pernah melihat Aomine menyetir.

"Kau… punya SIM 'kan?"

Aomine mendelik. "Kau pikir aku tidak bisa menyetir?" suaranya seperti tersinggung. Okay, Kagami mengaku, kalimat tadi seperti sangat–amat–tidak percaya kepada kekasihnya.

"Nggg… bukan begitu maksudku! Hanya saja…" Aomine menunggu Kagami menyelesaikan kalimatnya "…Ck! Sudah sana jalankan mobil ini!" ia mengembungkan kedua pipinya.

Oh. Demi apapun. Wajah Kagami yang sedang kesal itu sungguh menggairahkan (?) di mata Aomine.

"Hihi, ryoukai!"

Kunci di masukan kedalam lubangnya–tolong jangan berfikir lubang yang lain–. Tangan corethitamcoret memutar pelan si kunci–menstarter mobil merah nan ketjeh ini. Kakinya menginjak kopling sambil mengganti gigi–tolong jangan berfikir gigi yang lain–. Ia melepas pinjakannya perlahan pada kopling, dan mulai menginjak gas–perlahan.

Wajah Kagami tegang. Rasanya seperti naik roler coaster saja. Dia hanya bisa memanjatkan do'a kepada Yang maha kuasa–semoga dirinya masih hidup sesampainya di rumah Akashi.

"Yosh! Mari berangkat!"

"AAAAAAAAAA"

Perbandingan yang beda bukan? Aomine tampak menikmati ajang menyetirnya, sedangkan Kagami heboh sendiri di dalam mobil.

"Rumah Akashi, here we go!" seru Aomine–lagi.

Dan, yak. Rintangan sebenarnya baru akan dimulai saat memasuki rumah laknat itu.

.

.

.

Sementara di tempat Kuroko,

Dia menerima E-mail kedua dari sang suami. Berisi tentang: Akashi tengah berada di dalam pesawat menuju Maldives. Kuroko tersenyum lagi. Di scroll down E-mailnya hingga mendapatkan sebuah 'Ps'.


From: Seijuuro-kun

To: Tetsuya

Subject: Dalam perjalanan

Hei, um, aku sedang di dalam pesawat sekarang. Menuju Maldives. Kalau sempat akan ku belikan oleh-oleh. Kau mau apa?

Jangan tidur terlalu malam 'okey? Makan yang teratur. Kau bisa menyuruh para butler atau maid 'kan? Dan, kaupun juga bisa menyuruh 'mereka' nanti.

Aku mencintaimu.

Ps: kau boleh memerintah 'mereka' sesukamu. Pastikan 'mereka' tidak menolak. Kau bisa mengadukannya padaku jika itu terjadi.


Senyum licik–pertama dalam seumur hidup–Kuroko mengembang.

"Dou sureba ii desu ka?"

.

.

.

.

.

To be continued


A/n:

*muncul dari balik badan corettitancoret-nya mukkun* "Ha-halo..."

oke... aku tau :'v UDAH GAK APDET LEBIH DARI SEBULAN HAHHAHAHA *slaped*

:'v

ada yang nunggu? gak ya? haha :'v

mana ini chapter pendek (sengaja, author lagi puasa jadi lemes ide :'v)

tapi insyaallah chap depan 2k :'v semoga ga ngecewain yah chap ini dan chap selanjut dan selanjutnya ;'v

review selalu di tunggu dan di terima hangat :3

makasih banget buat yang ngedukung kyuu untuk ngelanjutin ini :'3 kyuu terharu :'v

aku ga tau mau ngomong apa :'v soalnya kemaren wb ngetik ini gak ada mood :'v

Nyanko apdetnya besok yah :'v atau lusa :'v *slapped* aku buntu di sana :v ada yang punya ide kah?:'v *slaped again*

okeh lah. bai :'v

salam,

KiKyuu

Thanks for the last chapter: Kurosaki Seika (laff u dear) Allennad (thanks for the review) Gabriell Michaelis (ini lanjut(?) kok :'v)