Chapter 5: THE PROGRESS

.

MEI 14

Hari ini walau berbeda satu hari dari yang direncanakan, Junhong sudah bersiap untuk melakukan pekerjaannya bersama Himchan, tanpa memberi tahu idenya pada yang lain; Yongguk, Jongup, Youngjae bahkan Jungkook. Gegabah memang. Apalagi jika gagal, Yongguk bisa saja mencincangnya. Yongguk sama sekali bukan tipe orang yang tidak mungkin menyiksa kekasihnya.

Tapi Junhong cukup percaya diri dan sudah bersiap di balik pohon, memantapkan karakter yang akan dilakoninya. Himchan berada cukup jauh darinya, tetap berada di dalam mobil dan menunggu aba-aba dari Junhong—sang dalang dari ide itu.

Mereka sudah bersiap sejak limabelas menit yang lalu, dan kini saat anak-anak kecil berseragam berhamburan keluar dari gerbang, Junhong semakin bersiap. Rata-rata orang yang menjemput mereka—bisa supir, orangtua, atau kakak—langsung melajukan kendaraannya setelah siap.

Junhong menajamkan matanya dan mencari sesosok anak yang berwajah sama dari potret yang sudah ia coba hapalkan. Cukup kesulitan selama beberapa saat, tetapi ia menemukannya kemudian. Kulitnya yang putih dan pipinya yang gembul sangat menonjol dari sekian banyak anak disana. Junhong juga bisa melihat Sehun datang dari jarak yang cukup jauh dari gerbang, karena memilih untuk turun dari mobil dan menghampiri Xiumin dengan berjalan kaki.

Xiumin bisa melihat Sehun mendekat, dan pada detik itu Junhong memberikan aba-aba pada Himchan.

Tahu gilirannya sudah tiba, Himchan mengenakan kacamata hitamnya, lalu menarik gas dan melajukan mobilnya. Perlahan berjalan lurus seperti biasa, namun saat mendekati jarak Xiumin, ia membelokkannya berusaha untuk menabrak.

Sehun di titik itu membulatkan matanya dan berteriak.

"Xiumin!"

Junhong tahu saatnya sudah tiba. Karena persiapannya yang matang, Junhong segera menginjak papan skate-nya dan meluncur ke arah Xiumin lalu menggendong anak itu sehingga Himchan tidak berhasil menabraknya.

Walau Junhong tahu betisnya tersayat oleh plat nomor mobil itu.

Tapi itu hanya bagian dari rencana.

Himchan melajukan mobilnya kencang dan pergi.

Beberapa orang disana terlihat panik, apalagi Sehun. Jantungnya terasa hampir berhenti berdetak ketika ia mengira bahwa ia tidak sempat menyelamatkan keponakannya.

"Gwenchana?"

Junhong masih memeluk tubuh Xiumin yang menegang dan bergetar ketakutan. Bahkan Xiumin sendiri memeluk Junhong dengan erat. Sehun masih panik, tapi berusaha berterima kasih di sela-selanya.

"Aku tidak apa." Junhong tersenyum. "Ah, apa dia adikmu?"

Sehun mengangguk lalu menggeleng saking paniknya. Kemudian ia meraih Xiumin dari pangkuan Junhong dan menggeleng lagi. "Dia keponakanku."

"Um," Junhong mengangguk dan tersenyum manis. "lain kali hati-hati."

Tangan Sehun menepuki punggung Xiumin yang menangis secara lembut. Berusaha untuk menenangkannya. Sehun hanya mengangguk membenarkan, lalu berusaha untuk membuat Xiumin aman.

"Ssh, tidak apa-apa Xiuminie."

Junhong menggenggam skateboardnya dan kemudian pamit untuk pergi. Tapi Sehun menahannya.

"Kakimu terluka. Biar aku obati."

Junhong menggeleng ramah.

"Tidak apa. Ikut saja." kata Sehun lagi. Lalu menunjuk ke arah mobilnya. "Mobilku ada disana."

Junhong tahu ia berhasil melewati sesi pertama.

.

.

Motherfucker

An Action Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"Are you ready to kill?"

A sequel of Welcome to Our Madness

.

.

.

Setelah beberapa lama mengemudi, akhirnya Sehun berhasil mencapai rumahnya. Sehun tidak memikirkan hal lain selain Xiumin yang tampak masih shock, dan orang yang menolongnya.

Sehun menggendong Xiumin keluar setelah mematikan mesin mobilnya, lalu mengajak Junhong untuk masuk ke dalam. Disana ia meminta Junhong untuk menunggu di ruang tengah, sedangkan Sehun sendiri membawa Xiumin ke kamarnya dan kembali setelah sekitar limabelas menit menghilang.

"Maaf, aku harus membuatnya tidur tadi." kata Sehun saat menghampiri Junhong disana sambil membawa kotak P3K.

"Tidak apa."

Sehun duduk di samping Junhong yang duduk di sofa panjang. Ia membuka kotak P3K-nya dan kemudian meraih sebuah kapas, dua plester dan obat merah.

"Kau tidak apa?"

Junhong menjawabnya dengan senyuman.

Sehun menarik napasnya dan meminta Junhong untuk melurukan kakinya di atas paha Sehun. Junhong agak keberatan tetapi Sehun memaksanya.

"Terima kasih karena menyelamatkan Xiumin." ucap Sehun. "Siapa namamu?"

"Aku Junhong." Junhong memperhatikan Sehun yang membuka botol alkohol lalu menuangkannya sedikit pada kapas. "Kau?"

"Sehun." jawab Sehun. Ia kemudian menggumamkan kata maaf sebelum membersihkan darah pada luka gores di betis Junhong yang hanya menggunakan celana selutut. "Maaf."

Junhong meringis—sebenarnya pura-pura. Rasa perih itu tidak sebanding dengan setiap latihan yang ia lakukan. Luka ini hanya bernilai nol dari sepuluh. Bahkan Junhong tidak peduli. Tapi disini dia menggunakan karakter lain, dan bertopeng.

"Aku yang minta maaf karena kau jadi repot begini."

Sehun terkikik pelan. "Repot bagaimana? Kau ini aneh sekali. Harusnya aku berterima kasih banyak karena kau sudah menyelamatkan keponakanku." Jari Sehun meraih obat merah lalu mengoleskannya pada luka Junhong. Kemudian menutupnya dengan kapas dan merapatkannya dengan plester di dua sisi. "Apa sakit?"

Junhong menggeleng pelan tetapi meringis.

"Sakit, ya? Maafkan aku." Sehun tersenyum tipis.

"Aniya. Ini benar-benar tidak apa-apa." Junhong terkekeh pelan lalu menurunkan kakinya dari paha Sehun. "Terima kasih."

"Okay, berhenti berterimakasih karena seharusnya aku yang melakukan itu."

Junhong menggumam tidak jelas sambil memperhatikan luka gores yang sudah diobati di kakinya.

"Siapa namanya?" tanya Junhong.

Sehun tidak mengerti, namun hanya berlangsung satu detik sebelum ia menjawab. "Oh, namanya Xiumin."

"Dia imut sekali." kata Junhong dengan mata berbinar. "Dimana orangtuanya? Sedang bekerja?"

"Um," Sehun menjilat bibir bawahnya. "Ia hanya punya Ibu. Dia kakakku. Dan, ya, ia sedang bekerja."

"Oh," Junhong mengangguk beberapa kali seperti orang bodoh. "Jadi kau kau mengurusnya?"

Sehun menjawabnya dengan anggukan juga. Lalu ia melirik ke arah dapur dan meminta Junhong menunggu. Saat Sehun beranjak, Junhong meraih smartphone di saku celananya kemudian mengetikkan pesan untuk Himchan agar menunggunya di blok lain—Himchan mengikuti mereka. Sehun meninggalkannya ke dapur sekitar tiga menit lalu kembali dengan dua gelas jus jeruk.

"Kami belum beli persediaan, maaf jika hanya ada ini."

"Ya ampun, tidak apa." ucap Junhong. "Apa aku mengganggu disini?"

"Oh, tidak sama sekali. Lagipula aku tidak punya hal yang harus aku kerjakan. Kau boleh ada disini."

Junhong berterima kasih. Dalam hati bersyukur.

Sehun mempersilahkan Junhong untuk minum.

"Untung sekali kau ada disana."

Junhong meraih gelas jus jeruknya dan kemudian menyesapnya sedikit. "Kebetulan lewat. Aku sedang mencari daerah yang bagus untuk menggunakan papanku."

Sehun mengangguk dan mulai mengganti arah pembicaraan menujuk percakapan orang yang baru berkenalan pada awalnya.

Junhong berhasil.

~..o..~

Buagh!

Jungkook tidak terlalu dekat dengan teman-teman Junhong yang lainnya selain Youngjae. Jadi ia meminta bantuannya untuk berlatih. Tetapi Youngjae tidak semudah yang Jungkook pikirkan. Mungkin karena Youngjae hanya bertugas sebagai pengobat—menurut Jungkook—ia tidak berfikir bahwa Youngjae pun ahli dalam bertarung.

"Kau bisa menyuruhku untuk berhenti jika tidak kuat."

Lalu Youngjae memukul Jungkook berkali-kali pada perut lalu dadanya.

"Coba lawan aku."

Tangan Jungkook berhasil menahan tangan Youngjae, tetapi tidak bisa menahannya untuk tidak memukul dengan tangan lainnya. Jungkook hampir kewalahan, tapi tetap saja mencoba bertahan. Youngjae salut dengan ambisi besarnya, tetapi tetap saja ingin menghina melihat Jungkook tidak bisa melawan.

Youngjae mengangkat kakinya dan menendang Jungkook pada lutunya.

Buagh!

Kaki Jungkook bergetar lalu terjatuh. Youngjae melipat kedua tangannya di dada dan memperhatikannya. Rasa ngilu itu menyebar sampai terasa tegang di seluruh otot kakinya.

"Beruntung aku tidak membuat tempurung lututmu rusak, Jungkook. Aku bahkan bisa membuatmu cedera ligamen."

Jungkook masih mengerang dengan posisi di lantai. Youngjae merendahkan tubuhnya dan berjongkok, lalu memperhatikan namja yang berumur dua tahun di bawahnya.

"Kapan kau siap menghadapi musuhmu yang sesungguhnya, hm?"

Kemudian terdengar suara klakson mobil dari arah luar. Youngjae meliriknya dan kemudian menarik napas. Ia berdiri, meninggalkan Jungkook disana dan berjalan menuju rolling door lalu membukanya.

Mobil Himchan masuk ke dalam lalu memarkirkannya. Junhong keluar dari pintu mobil yang berbeda dari arah Himchan keluar.

"Darimana kalian?"

Junhong tidak menjawab. Ia tampak terkejut melihat Youngjae yang mendampingi Jungkook berlatih. Junhong hanya berjalan mendekati Jungkook yang masih merintih.

"Dia yang meminta." Youngjae memberi penjelasan singkat.

"Berhenti membuatnya lebam. Aku lebih suka melihat Jungkook dipenuhi warna merah."

Terdengar psikopat memang, tetapi Youngjae setuju. Mungkin Junhong sendiri menginginkan Jungkook mengalami hal yang sama dengan apa yang terjadi padanya. Youngjae sangat ingat bertahun-tahun yang lalu, namja terrmuda itu sering melewati hari dengan darah di seluruh tubuhnya.

"Sudah merasa kuat, Jungkook-ah?"

Junhong tertawa saja saat Jungkook tidak kuasa menjawab. Himchan meninggalkan tempat itu melalui pintu dalam. Youngjae mengikutinya setelah menimbang-nimbang. Dan tersisa dua teman lama itu disana.

"Aku suka dengan semangatmu." Junhong berjongkok di depan Jungkook, sama seperti yang Youngjae lakukan sebelumnya. "Tapi aku kecewa dengan aksimu. Bodoh. Lemah."

Kuku jari Jungkook bergesekkan dengan lantai semen itu, seperti mau menggaruknya. Tapi itu hanya luapan dari rasa sakit di sekujur tubuhnya.

"Ini benar-benar mengecewakan! Jungkook yang dulu kuat sekarang bisa dengan mudahnya kuludahi!"

Kalimat itu membuat Jungkook geram.

"Jika Sehun memiliki kematangan di angka delapan dari sepuluh," Junhong menarik rambut Jungkook dan membuat mata mereka bertemu. "kau berada pada angka nol koma lima."

"Kkh..." tidak ada yang bisa Jungkook keluarkan dari mulutnya selain rintihan, walau sorot matanya menampilkan amarah.

"Aku jadi ingin membunuhmu. Kau terlihat seperti pecundang. Tidak berguna."

Sudah cukup. Kalimat-kalimat itu membangkitkan seluruh emosi di dalam jiwanya. Junhong tidak tahu bahwa Jungkook berusaha mati-matian untuk melawan, tetapi kondisi ini membuatnya gila. Ia tidak menyangka Junhong bisa sekuat ini.

"Aku inginkan permainan yang lain, Jungkook."

Deg!

Kalimat itu...

Aku inginkan permainan yang lain, Jungkook.

Aku inginkan permainan yang lain, Jungkook.

Aku inginkan permainan yang lain, Jungkook.

Kalimat yang terngiang di benaknya walau sudah berlalu bertahun-tahun yang lalu. Kalimat yang Sehun ucapkan beberapa saat sebelum membunuh dua temannya. Kalimat yang Sehun katakan sebelum membunuh Jin dan Taehyung.

Mata Jungkook memerah karena memendam amarah.

Jungkook menggeram lalu menarik tangan Junhong dari rambutnya, kemudian memutarnya keras dan membanting tubuh Junhong. Junhong mengerang tetapi gerakan Jungkook lebih cepat berdiri dan menendang perutnya berkali-kali.

Bahkan Jungkook hampir tidak akan berhenti walau mendengar Junhong merintih dan berusaha bangkit, sampai Youngjae kembali ke ruangan itu dan menghentikan semuanya.

Napas Jungkook memburu.

Youngjae membantu Junhong untuk berdiri. Tetapi mata Jungkook hanya diam memperhatikan Junhong.

Dia benar-benar membenci Xi Sehun.

~..o..~

Selama berada disini, Jungkook tidur di kamar Youngjae, berdua. Jadi mau melakukan apapun Youngjae tahu hal itu. Jungkook belum berkeinginan untuk pulang, ia tidak mau mendengar orangtuanya mengomeli ia. Lagipula Jungkook sudah mengatakan sejak pertama ia tinggal di bengkel ini pada orangtuanya bahwa Jungkook menginap di rumah temannya yang sakit parah dan tidak bisa ditinggal. Orangtuanya agak keberatan karena mereka baru saja memiliki Jungkook kembali, namun kali ini anaknya sudah pergi lagi.

Youngjae meminta ia untuk duduk di atas sofa kamar itu dan berbalik, dengan keadaan topless. Jungkook menurut saja karena tahu apa yang akan Youngjae lakukan padanya. Youngjae memperhatikan banyak lebam itu, pemulihannya agak kurang cepat karena saat Jungkook merasa sudah lebih baik, Jungkook memilih untuk dipukuli lagi.

"Berbaliklah."

Jungkook membalikkan tubuhnya perlahan, masih posisinya duduk di sofa. Youngjae memperhatikan lebam di sekitar dadanya juga.

"Bagian mana yang paling sakit?"

Jungkook menggeleng pelan.

Bodoh, ia berbohong. Namun pada kenyataannya tidak sepenuhnya ia berbohong. Jungkook mulai menikmati rasa sakit ini. Semuanya membuat ia merasa kuat dan juga siap.

"Baguslah. Karena Junhong tidak akan tanggung-tanggung membalas perbuatanmu."

Laki-laki yang sering mengobatinya itu berjalan ke sisi lain, menuju sebuah lemari kecil di dekat ranjang. Jungkook sendiri mulai memperhatikan kakinya. Rasa ngilu di lututnya mulai menguap.

"Aku ingin bertanya." kata Jungkook kemudian.

Youngjae mempersilahkan tanpa menoleh.

"Apa saja yang dilalui Junhong sampai ia bisa... menjadi seperti ini?"

Gerakan tangan Youngjae berhenti selama beberapa saat, lalu kembali mengoreh ke dalam laci. "Itu gila. Lebih darimu."

"Aku tidak mengerti."

Youngjae berbalik perlahan dan menatap Jungkook. "Jika kau ada pada saat itu, melihat Junhong berlumuran darah adalah makanan keseharianmu."

Jungkook menyadari bahwa tekad kuat Junhong membuatnya tidak akan menyerah.

~..o..~

"Oh, perkembangannya sudah bagus?"

Yang ditanya hanya mendecih sambil berdiri di depan cermin. Junhong mengangkat kaos yang dikenakannya sebatas dada, dan memperhatikan lebam di sekitar perut rampingnya.

"Itu karena aku sedang lengah. Tidak ada yang spesial."

"Begitukah?" Yongguk tertawa meremehkan saat tangannya meraih selembar foto dari banyak tumpukkan di meja hadapannya. "Jangan meninggikan diri."

Junhong memutar kedua matanya karena kesal. Lebam yang Jungkook hasilkan memang tidak seberapa, tetapi tetap saja rasanya lumayan menyakitkan.

"Jungkook itu belum ada apa-apanya."

"Oh, ya?"

Junhong sedikit menggeram lalu berbalik menatap Yongguk. Ia melepaskan tangannya dari kaos. "Hyung lihat sendiri saat pertama bertemu, bukan? Dia itu lemah karena jeruji besi itu!"

"Lalu bagaimana dengan Sehun?" Yongguk tertawa kecil melihat responnya.

Laki-laki jangkung itu melangkahkan kakinya ke arah jendela. Tidak tahu untuk apa maksudnya, bukan menghindar sama sekali. Entah saja, Junhong sedang memiliki sesuatu dalam pemikirannya.

"Entahlah. Tapi kurasa Jungkook perlu melatih dirinya lebih giat, dan setelah itu membalaskan dendamnya."

Yongguk hanya mengangkat bahu.

~..o..~

Hellow

Maaf, saya tahu saya menghilang sekitar 3 minggu atau sebulan

Itu karena kesibukkan dan kesehatan u.u

Untuk sekarang maaf tidak bisa cuap-cuap

Tapi saya harap kalian mau memberikan review untuk saya, saya sangat membutuhlan itu

Ah ya, selamat menunaikan ibadah puasa untuk yang menjalankan ya :3

Setelah ini aku berusaha post ff sesuai jadwalnya ko

Untuk Horror, Supernatural dan sejenisnya setiap Kamis

Untuk FF lain sebangsa Drama, Romance pada hari Minggu

Seeyou