Holla saya balik lagi... monggo dibaca...
.
.
"Saya ingin membeli salah satu wanita anda di bar ini nyonya." Ucap Naruto spontan yang membuat ekspresi kaget di wajah Shion. Kini dia mengetahui rencana Naruto itu.
"Ohoho, sebegitu mempesonanyakah para gadisku dimata tuan?" Tsunade berkata dengan tenang sambil mengambil cangkirnya.
"Ya begitulah. Jadi bolehkah nyonya?" Naruto menggantung pertanyaannya.
"Tentu saja bisa tuan, asalkan telah terjadi kesepakatan di antara kita." Tsunade berkata santai sambil menyeruput minuman dari cangkirnya. Naruto tahu bahwa ini semua menyangkut uang yang akan dijadikan bayaran.
"Jadi berapa harga yang nyonya tawarkan?" Tanya Naruto yang langsung disambut dengan senyuman bahagia Tsunade.
"Oh, itu tergantung dari gadis mana yang akan tuan beli itu." Jawabnya kemudian. "Jadi, kalau boleh tau, gadis manakah yang tuan ingin beli?"
"Sakura."
.
.
.
Unwanted Meeting
Disclaimer Masashi Kishimoto
Genre: Romance/Hurt/Comfort
Warning: OOC, AU, typo di mana-mana.
Don't like? Just don't read
Enjoy!
Chapter 5 : Sakura's New Life
Seketika saja perhatian seluruh ruangan dimiliki oleh Naruto sekarang begitu mendengar nama yang disebutkan olehnya. Mereka masih ingat dengan kejadian yang baru menimpa pemilik nama itu di malam sebelumnya, kejadian yang memungkinkannya tak lagi dipekerjakan di bar ini. Tapi sekarang kenyataannya bahkan ada yang mau membelinya.
"Apa anda yakin dengan pilihan anda tuan?" Suara Tsunade yang tadinya terdengar percaya diri sekarang berubah menjadi ragu-ragu. Ia takut tak akan mendapat keuntungan besar mengingat kondisi Sakura sekarang.
"Saya yakin nyonya. Apa ada yang salah?" Tanya Naruto mengangkat sebelah alisnya berpura-pura sambil tersenyum.
"Ohoho tidak tuan, hanya saja kami mempunyai banyak gadis lain yang lebih menawan." Tawa tsunade kembali muncul.
"Ah tidak usah, saya sudah menentukan pilihan saya." Katanya berusaha meyakinkan Tsunade.
"Tapi bagaimana jika anda tidak cocok?"
"Oh itu gampang saja. Saya tidak kembali kesini dan memilih gadis yang lain bukan, hahaha." Setelah menambahkan tawanya yang khas akhirnya tsunade pun menyerah dan mulai memberikan penawaran harga.
"Hmm, naiklah kalau begitu. Tapi dengan masalah harganya bagaimana? Kuharap anda tidak tersinggung dengan harga yang kutawarkan." Tsunade ragu-ragu memulai pembicaraannya, dia takut tak bisa menawarkan harga tinggi pada Naruto.
"Untuk masalah itu anda tidak usah khawatir." Naruto mengeluarkan sebuah buku cek dan merorobek lembarannya setelah itu meletakan kertas tipis itu di atas meja Tsunade. "Anda bisa menuliskan angka yang anda minta disini. Saya akan menyetujuinya."
"Benarkah tuan?" mata Tsunade langsung berbinar melihat ke arah benda yang diletakan Naruto. Segeralah ia meraih lembaran kertas itu dan memperhatikannya dengan seksama, Memikirkan jumlah nol yang akan ia tuliskan disitu.
"Hmm," Naruto berdeham pelan.
"Oh, maaf tuan. Jadi sampai mana tadi?" Tsunade yang baru tersadar dari imajinasinya terlihat malu.
"Bisakah saya membawa barang saya malam ini juga?" Dia menekankan pada setiap suku kata yang ia ucapkan.
"Oh, tentu saja, hahaha. Ternyata anda sudah tidak sabar rupanya, hohoho." Tsunade tersenyum dibuat-buat sambil menutup mulutnya anggun dengan kipas. "Choji..." panggilnya pada pria tambun yang berdiri di pojok ruangan sambil menjentikkan jari. Yang dipanggil mengangguk dan menghampiri sang majikan. "Bawa sakura kemari untuk bertemu tuan Naruto."
"Baik," Choji berjalan keluar ruangan itu untuk melaksanakan tugasnya.
"Nah tuan sambil menunggu waktu. Sebenarnya saya penasaran, apa gerangan yang membuat tuan tertarik pada gadis saya yang itu?" Tsunade kembali mengalihkan perhatian pada Naruto. Kakinya sekarang disilangkan dengan kedua tangan berpangku diatasnya.
"Hmm, kupikir aku sedang membutuhkan orang yang bisa membantuku merapikan rumah. Kebetulan orangku yang lama sudah berhenti karena sudah terlalu tua." Jawab Naruto santai dengan cengiran lebarnya yang biasa.
"Hanya begitukah?" Tsunade agak bingung sekaligus terkejut mendengarnya. Orang seperti ini, jika membutuhkan pembantu mengapa tidak pergi ke agen pekerja saja. Sampai harus repot-repot membeli wanita di tempatnya. Kelakuan orang kaya sekarang memang aneh-aneh, pikirnya.
"Yaa, begitulah..." Naruto menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Shion yang masih berada di ruangan itu tidak bersuara sama sekali, pikirannya sibuk mencerna apa yang sedang terjadi. Namun tak lama ternyata orang yang ditunggu-tunggu muncul juga.
Sakura berjalan lesu dengan kepala tertunduk di belakang tubuh Choji yang tinggi besar. Dia bingung ada apa gerangan Tsunade memanggilnya ke ruangannnya. Jangan-jangan ini menyangkut kejadian kemarin malam di bar, apakah Tsunade bermaksud unutk menghukumnya? Lagi?
Tapi kebingungan itu malah semakin bertambah lagi ketika ia menyapukan matanya ke seluruh isi ruangan, dilihatnya sudah ada dua sosok lain yang dikenalnya di ruangan itu. Dia berjalan ke depan meja Tsunade, tepat dibelakang kursi tempat Naruto duduk.
"Nyo-nyonya memanggil saya?" Tanyanya ragu-ragu.
"Ya Sakura, kita langsung saja ke inti permasalahan. Karena tuan Naruto sudah terlalu lama menunggu. Aku ingin kau mengemasi seluruh barangmu sekarang juga, malam ini kau akan pergi bersama tuan Naruto."
"Ma-maksud Nyonya?" Ucapnya bingung. "Saya tidak mengerti."
"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Segera lakukan saja yang kukatakan. Lebih baik kau cepat, tuan Naruto menunggumu 30 menit lagi di mobilnya." Potong Tsunade agar urusan tidak menjadi panjang. Dia pikir mungkin nanti Naruto sendiri yang akan menjelaskannya pada Sakura, karena semakin cepat Sakura pergi maka semakin cepat juga ia mendapatkan uangnya. "Shion, kau bantu Sakura berkemas."
"Iya nyonya." Shion mengangguk dan menghampiri Sakura. Dia segera menggandeng tangan Sakura dan menyeretnya setengah paksa. Sakura yang belum sempat membuka mulutnya untuk menanyakan sesuatu pada Tsunade pun mau tak mau harus mengikutinya.
"Ayo ikut," Kata Shion.
"Ta... tapi..." Sakura berkata ragu-ragu sambil celingukan.
"Sudah, nanti aku jelaskan." Potong Shion singkat. Akhirnya Sakura pun mau diam meskipun sejuta tanda tanya meliputi hatinya. Mereka terlebih dahulu menyeret Ino yang sedang bersantai di kamarnya sebelum pergi ke kamar Sakura.
"Hei, ada apa sih?" Tanya Ino begitu melihat wajah tegang Shion dan bingung Sakura.
"Lebih baik aku bercerita sambil kita mengemasi barangmu Sakura."
"Hah? Mengemasi barang? Memangnya kau mau kemana?" Ino bertambah bingung setelah mendengar perkataan Shion. Matanya kini beralih pada si gadis berambut merah itu.
"Aku juga tak tahu, semua begitu cepat dan tiba-tiba."
"Jadi begini...," Shion berhenti sejenak untuk melemparkan sebuah koper besar ke atas tempat tidur, dibukanya koper itu dan mulai memasukkan pakaian yang ia ambil dari lemari di sebelahnya. "Naruto telah membeli Sakura dari Tsunade."
"APA!" Ino terkejut, sedangkan Sakura hanya terdiam dengan mata terbelalak tak percaya. Setelah itu Shion mulai menceritakan setiap detail ceritanya dimulai ketika dia bertemu dengan Naruto malam itu sampai alasan mengapa mereka sedang mengemasi barang-barang Sakura sekarang.
"Aku masih tak percaya," Sakura terduduk di atas tempat tidur berusaha memasukkan sebuah boneka beruang putih ke dalam tas begitu Shion mengakhiri ceritanya. Ino segera memeluk sahabatnya itu sambil menangis.
"Setidaknya mungkin dengan begini kehidupanmu akan menjadi lebih baik." Ucapnya sambil terisak. Shion yang melihatnya tak kuasa menahan air mata juga. Dia pun merangkul kedua sahabatnya itu.
"Jangan lupakan kami." Bisik Shion.
"Jangan begitu, kalian sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Aku pasti akan sering menemui kalian."
"Kami akan sangat merindukanmu." Ino terisak dalam pelukan Sakura. Namun dia segera melepaskan rengkuhan tangannya dan mengusap air matanya. "Sebaiknya kita bergegas, Naruto sudah menunggumu."
Dalam keheningan mereka melanjutkan memasukkan barang Sakura ke dalam tas. Semua menikmati momen terakhir kebersamaan mereka. Beriringan, mereka mengantar Sakura sampai gerbang masuk Hazel Eyes. Disana tengah berdiri Naruto yang sedang berbincang dengan Nyonya pemilik bar. Saat ketiga gadis itu mendekat, kedua orang yang sedang mengobrol itu menyadari keadiran mereka.
"Kau sudah siap?" Tanya Naruto pada Sakura. Gadis bersurai merah jambu itu hanya mengangguk lemah. Saat Naruto membuka bagasi mobilnya, Ino dan Shion membantu Sakura untuk memasukkan barang-barangnya. Mereka berpelukan untuk yang terakhir kalinya. Naruto sendiri sudah membukakan pintu depan untuk Sakura.
"Hati-hati." Ino berucap lirih.
"Ya," Sakura mengangguk. " Jaga diri kalian." Ucapan terakhir Sakura sebelum masuk ke dalam mobil Naruto.
"Terima Kasih Nyonya. Saya harus berangkat sekarang karena ada urusan lain." Naruto berpamitan dan berjabat tangan pada Tsunade.
"Ohoho baiklah. Jangan lupa mampir kembali ya tuan."
"Tentu saja." Naruto mengangguk dan melemparkan senyum pada ketiga wanita itu. Dia masuk dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Dalam perjalanan itu. Keheningan tercipta diantara keduanya, sakura melihat ke arah jalanan dengan pandangan kosong yang tak fokus, Naruto berkonsentrasi pada jalanan di depannya.
"Mengapa kau melakukan ini?" Sakura berbicara pelan hampir setengah berbisik.
"Mmh?" Naruto mengerutkan kening menandakan dia tak mendengar jelas perkataan Sakura.
"Mengapa kau membeliku?" Tanyanya lagi. Naruto hanya diam saja, mengacuhkan pertanyaan Sakura.
"Oh, baiklah kalau tidak mau menjawab." Sakura mengalah dan kembali termenung memperhatikan jalanan. Diam pun kembali menyelimuti keduanya selama beberapa saat. Akhirnya Naruto pun mengalah. Dia menghembuskan nafas panjang dengan suara yang terdengar jelas. Spontan Sakura langsung melihat ke arahnya.
"Aku memang sudah berniat dari dulu, hanya saja..." Naruto menggantung kalimatnya.
"Hanya saja kenapa?" Sakura penasaran.
"Mungkin aku belum menemukan waktu yang tepat, mmh, nah kita sudah sampai." Mata Naruto mengarah pada sebuah bangunan di ujung jalan, dia berusaha mengalihkan alur pembicaraan mereka. Namun Sakura masih termenung memikirkan maksud dari kata-kata Naruto.
Sakura baru tersadar saat Naruto memberhentikan mobilnya di depan gerbang, beberapa saat kemudia dilihatnya seseorang berpakaian satpam membukakan pintu gerbang itu.
'Apartemen?' Naruto memang belum pernah menceritakan dimana dia tinggal pada Sakura. Namun dia cukup kaget saat mereka memasuki basement parkir untuk sebuah apartemen. Mungkinkah Naruto tinggal sendiri di apartemen ini? Dan wanita keberapa aku yang dibawanya kemari?
"Ayo keluar," Naruto membukakan pintu mobil untuk Sakura, kemudian mengeluarkan barang-barang Sakura dari bagasi. Dari sana Sakura hanya bisa mengikuti Naruto berjalan di belakangnya memasuki lift, dia menekan angka 26. Pintu lift tertutup sebentar dan terbuka kembali saat angka yang tertera di sebelahnya menunjukan angka yang sama seperti yang ditekan oleh Naruto. Beberapa pintu berjejer dan Naruto memasukkan kunci ke salah satunya.
Di dalamnya adalah sebuah apartemen yang terlalu besar mungkin untuk ditinggali oleh Naruto. Interiornya yang megah dengan furniture yang lengkap telah menyihir pikiran Sakura sejenak dari pikiran-pikiran buruknya. Dia tidak menyangka bahwa Naruto bisa sekaya ini, ya mungkin dia sudah mengetahui bahwa Naruto bukanlah orang sembarangan. Tapi ini terlalu diluar bayangan imajinasi Sakura.
"Kau tidak pernah bercerita bahwa kau tinggal di apartemen mewah seperti ini." Gumam sakura cukup keras sampai bisa terdengar Naruto. Namun alih-alih menanggapinya, Naruto malah membuka sebuah pintu kamar dan memasukkan tas dan koper bawaan Sakura ke dalamnya.
"Ini kamarmu sekarang. Anggap saja rumah sendiri, jangan terlalu memikirkan hal aneh seperti itu." Sakura berjalan menuju ke arah kamar yang ditunjuk Naruto. Saat dia menyalakan lampunya, terlihat sebuah kamar yang besar dengan balkon yang langsung menghadap pemandangan kota yang indah. Sangat berbeda sekali dengan kamarnya dulu yang begitu pengap dan sempit.
"Wah ini besar sekali!" katanya sambil merebahkan diri pada tempat tidur. Benar-benar nyaman rasanya, empuk sekali. "Lalu kamarmu dimana?" tanyanya sambil melihat ke arah Naruto yang sedang bersandar di pintu, dia mulai berpikir apakah dia harus satu kamar dengan Naruto?
"Tepat di depan pintumu." Katanya, dan benar saja saat Sakura menengok, terlihat sebuah pintu kayu lagi yang mirip dengan miliknya dan saling berhadapan di seberang ruang utama. Hal itu membuatnya sedikit lega, tapi ada rasa kecewa juga sih, lho? #dasarauthormesum
"Bereskan barang-barangmu, aku akan mandi. Setelah ini kita makan."
"Makan? Dimana?" Tanya Sakura.
"Yah mungkin di restoran dekat sini."
"Jangan!" Kata Sakura tiba-tiba.
"Ya?" Naruto menaikkan sebelah alisnya.
"Kau kan capek. Biar kita makan di sini saja. Aku yang masak ya!" Sakura berantusias.
"Kau bisa masak?"
"Hm, sedikit sih, mungkin." Ucapnya ragu. "Tapi kalau mie instant saja kan aku bisa." Matanya berbinar berusaha memastikan Naruto. Naruto tersenyum melihat ekspresi itu.
"Ya sudah, kau cari saja yang ada di kulkas." Naruto lalu berjalan keluar kamar.
"Eh, mau kemana?"
"Kan sudah kubilang, aku mau mandi dulu."
"O iya iya, aku lupa. Hehe." Dia tersenyum sebentar dan memperhatikan Naruto masuk ke pintu yang dia tunjuk kamarnya tadi. Sejenak Sakura termenung lalu dia teringat bahwa dia harus menyiapkan makan untuk mereka. Sakura keluar kamar lalu celingak-celinguk ke seluruh isi apartemen itu sampai akhirnya menemukan sebuah bagiannya yang mungkin agak sedikit mirip dengan dapur.
Dia membuka kulkas yang terdapat di pojok ruangan. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat isi kulkas itu sangat lengkap sekali, dimulai dari sayuran, daging, telur dan bahan-bahan lain. Sepertinya sang pemilik tak pernah absen untuk mengisinya. Huh, andai saja Sakura bisa memasak, pasti dia tak akan segan-segan mengolah bahan-bahan itu. Tapi apa daya tangannya hanya mampu menggapai mie instant.
Dalam beberapa menit saja dua mie instant telah tersaji di atas meja dengan asap yan masih mengepul di atasnya. Tak lupa Sakura juga menyiapkan Jus jeruk sebagai minumannya. Memang tidak cocok sih Mie dihidangkan dengan Jus. Tapi saat ini hanya itu yang ada di lemari es.
Beberapa saat menunggu, Naruto keluar dari kamarnya dengan rambut yang masih basah dan berantakan. Dia hanya mengenakan polo shirt putih dan celana selutut berwarna Khaki. Sakura belum pernah melihat Naruto yang sepolos ini, dan itu cukup membuat semburat merah muncul di wajahnya.
"Wah, betul mie instan nih." Naruto melihat hidangan yang tersaji di meja.
"Maaf ya, hanya ini yang bisa aku buat. Lain kali aku akan belajar memasak yang lain deh." Sakura terlihat sedikit lesu, ekspresi wajahnya sedikit sedih. Tapi dia mulai terpikir bahwa kata 'lain kali' mengingatkannya bahwa dia akan menghabiskan waktu lebih lama bersama Naruto, sekarang jantungnya lah yang mulai bereaksi dengan berdegup lebih cepat.
"Haha, tak apa. Sudah bagus jika kau mau memasak untukku." Naruto tertawa lebar, khasnya seperti biasa. "Ayo kita makan." Naruto mulai menyantap mie instan itu sampai habis. Sakura memperhatikan cara makan Naruto yang lucu itu sambil tersenyum. Dia bahagia bisa tinggal bersama Naruto sekarang. Namun apakah kebahagiaannya ini akan berlangsung selamanya?
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N:
Akhirnya aku bisa update juga ini fic. Maaf banget ya readers, benar-benar kelewatan nih aku meninggalkan fic ini.
Chap ini memag pendek banget sih dibanding chap yang lainnya. Tapi ini hanya awal, soalnya seperti yang saya bilang konflik utama dari fic ini akan segera muncul. Mudah-mudahan gak bosan ya readers dan selalu mengikuti fic saya.
Saya dengar bulan ini bulan nominasi IFA ya. Wah saya agak kuper juga nih, walau sudah di PM sama humas-humas yang rajin. Saya ucapkan selamat berkarya pada author-author yang lain ya, semoga fanfiksi indonesia makin maju!
Jangan lupa saran dan kritiknya ya readers... saya tunggu di kotak review. Dan jika kotak review sudah memenuhi kuota tertentu, saya pasti akan segera meng-update secepatnya...
Makasih ya readers...
-THYZ-
