Akhirnya bisa sampai di Chapter 6 ! Terimakasih bagi yang sudah meluangkan waktu untuk meReview, Fave dan Follow cerita ini dan mohon kritik dan saran dari pembaca semua.

Juga untuk manajer penagihan saya yg sudah setia menagih update hahaha, berkatmu update jadi lebih teratur

** catatan : Anggap saja Mpreg sudah biasa di didunia ini, GoM sekolah di TEIKO dari SMP hingga SMA (saya suka seragam putih biru hitamnya) dan Kagami juga masuk ke TEIKO saat SMA.

#

#

#

Dingin...

Air dari shower yang mengucur deras di kamar mandi GYM TEIKO, membuat tubuh Kuroko Tetsuya menggigil, namun isi kepala dan dada terasa sesak juga panas. Sungguh perasaanya terasa tidak karuan, ingin sekali bisa mentransfer dirinya ke atas kasur empuk di rumah, bergelun di dalam selimut dan tidak keluar lagi sampai dunia kiamat. Meski sebenarnya Kuroko sama sekali tidak berkeringat pada saat latihan tadi, namun dia berharap air dingin bisa sedikit menjernihkan pikiran dan mengkempeskan bagian mata yang bengkak karena terlalu banyak menangis.

Rasanya sungguh berat melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi, untunglah suasana GYM sepi karena anggota klub basket yang lain sudah pulang sedari tadi. Sang Bayangan sengaja menunggu sampai ruang ganti sepi, baru dia berani masuk untuk mandi dan berganti seragam. Rasanya sungguh menakutkan jika sampai orang lain melihat tubuh topless, terutama pada bagian perut. Kuroko takut mereka akan menemukan sesuatu yang ganjil kemudian menyadari kondisi kehamilannya, meski saat ini masih terlihat rata dan datar seperti biasa. Namun rasa takut itu selalu datang menghampiri.

Berharap sang kekasih sudah membaca pesan singkatnya dan masalah terbesar mereka akan bisa diselesaikan hari ini juga. Kuroko sudah tidak sanggup lagi merasa gelisah, tidak bisa tidur tiap malam karena pikiran yang berkecamuk di dalam otak, membuatnya sangat mengantuk tiap siang hari di sekolah dan tidak bisa berkonsentasi untuk melakukan hal apapun.

Apalagi sang Phantom jelas tahu posisi dan citra sang kekasih si murid teladan, serta sebagai pewaris tungal keluarganya yang terpandang. Akashi masih punya masa depan yang cerah dan panjang di depan sana. Sudah jelas bahwa Kuroko sangat mencintai sang kapten berambut merah, karenanya dia tidak ingin merusak masa depan Akashi Seijuuro dengan beban kondisinya saat ini.

Mengeringkan tubuh dan kembali memakai seragam sekolah dengan rapih, Kuroko berjalan keluar dan menemukan sosok berambut merah cerah sudah menunggu di depan ruang ganti sambil membaca sebuah buku catatan kecil. "Kau sudah selesai Tetsuya? Ayo kita pulang."

Sebuah anggukan lemah dari kepala biru muda yang masih terlihat basah, membuat sepasang alis merah mengerut, "Kenapa rambutmu tidak dikeringkan? Kau bisa sakit nanti." ujar Akashi lembut penuh perhatian, dengan cekatan dia mengeluarkan sapu tangan dari saku celana dan mulai mengelap helai lembut sewarna langit itu pelan.

"Seijuuro-kun, ayo cepat kita ke pulang ... kita masih harus mampir ke klinik." Ucap Kuroko tiba-tiba, mata biru jernihnya terlihat berkaca-kaca, dengan sekejap si biru muda menundukan kepala. Tangan Akashi berhenti di udara, tanpa sadar dia meremas sapu tangan dengan sangat erat.

Akashi Seijuuro mengambil nafas dalam, berusaha mengontrol emosi yang rasanya tiba-tiba membuncah, dia berharap Kuroko Tetsuya tidak melihat sorot kepedihan di mata dan betapa wajahnya kini terlihat pucat, "Baiklah ... ayo ..." ucapnya pelan nyaris tidak terdengar, sambil menggenggam tangan sang kekasih yang terasa sangat dingin.

'Baby Accident'

AkaKuro fanfiction

By. AuRi

Kuroko no Basuke Fujimaki Tadatoshi

Chapt.6 Usaha IV

Malam itu empat kepala dengan warna rambut cerah yang berbeda, juga tengah mengalami kegelisahan mendalam yang baru pernah mereka lalui. Sebuah titah dari sang Emperor, dituangkan dalam lembaran naskah dan skenario yang cukup tebal. Memaksa mereka mempelajarinya hanya dalam waktu semalaman saja, sungguh lebih menegangkan dibanding ujian sekolah yang sudah berkali-kali mereka lewati. Karena jika mereka melakukan setitik kesalahan saja, ancaman gunting merah keramat sudah menunggu untuk menggorok leher dan mencolok mata.

Putra sulung keluarga Midorima langsung mengurung diri di dalam kamar sejak pulang dari sekolahnya. Aomine Daiki berjalan gontai sambil terus menggerutu sepanjang perjalanan kerumah, ditambah dengan wajah pucat pasi, penampilannya sudah seperti Zombie yang gosong kebanyakan berjemur, bahkan dia tidak mengabaikan ajakan sang sahabat kecil : Momoi Satsuki, untuk pulang bersama-sama. Raksasa berambut ungu bahkan pulang tanpa memakan satu buah-pun cemilan, membuat keempat saudaranya menjadi panik dan khawatir. Lagi-lagi Kagami beruntung, karena dia masih bisa tertidur nyenyak di atas ranjang Rumah Sakit.

Sementara si Rambut Kuning kini tengah uring-uringan, berputar mondar-mandir di dalam kamar. Menghafalkan dialog sambil sesekali menangis dan berteriak keras. Beruntung penghuni rumahnya sudah sangat terbiasa mendengar teriakan cempreng mendenging yang memekakan telinga. Mereka tidak memperdulikan teriakan sang model yang semakin lama semakin terdengar wagu dan ambigu. "Tidaak, Akh~ aduh sakit ... Aduuuh, tolong saya!" Rapalnya berkali-kali dengan keringat membasahi dahi, sungguh perjuangan keras dan semua ini terjadi semata-mata demi melaksanakan misi suci dari paduka Akashi, padahal saat hari ujian tiba Kise Ryouta tidak pernah menghafal pelajaran sampai sebegitu seriusnya.

Mereka tidak habis pikir bagaimana Akashi Seijuuro yang dikenal jenius absolut dan tidak pernah salah, mampu membuat rencana gila seperti ini demi membujuk sang kekasih hati. Tetapi karena ancaman nyawa dan masa depan yang jadi taruhan, mau tidak mau mereka terpaksa melakukannya.

.

.

.

Mari kita lupakan sejenak kesulitan yang dialami oleh para anggota GoM, alias anak buah bos Akashi yang berjaya, mengingat kondisi sang pimpinan juga tidak kalah menderita. Mengendarai mobil sport mewahnya, sang pewaris kerajaan bisnis Akashi melajukan kendaraan dengan sangat lamban, menyusuri jalanan padat kota Tokyo di malam hari. Sosok pucat yang duduk di sampingnya diam seribu bahasa dan cuma menatap kosong keluar jendela, semenjak mereka meninggalkan lapangan parkir sekolah 30 menit lalu.

Lampu lalu lintas berwarna merah menyala, kopling dan rem diinjak. Akashi memanfaatkan waktu untuk mencoba bicara. "Tetsuya ... sepertinya hari ini jalanan sangat padat, bisa-bisa kita sampai rumah sangat larut jika harus mampir ke klinik sekarang."

Si Biru muda menoleh, sepasang alis menukik tajam dan mata sewarna langit mulai berkabut, tanda hujan air mata akan segera tiba. "Ja ... jadi, Seijuuro-kun tidak bisa mengantarku? Tidak ... Ukh ... Tidak mau bersamaku menghadapi semua ini?" Ucapnya dengan nada bicara makin tinggi penuh rasa nelangsa, sangat berbeda dengan nada bicara datar yang biasa.

"Jangan berpikiran seperti itu Tetsuya! Tentu saja aku akan bersamamu apapun yang terjadi." Handle gigi transmisi dilepaskan, tangannya segera merengkuh pundak kurus di kursi penumpang, sayang gerakannya terbatas karena seatbelt yang terpasang erat. "Aku cuma mau bilang kalau hari ini kita akan pulang sangat larut jika harus mampir, apalagi kita belum tahu dimana alamat klinik yang bagus ... aku tidak mau kau sampai kenapa-napa jika harus ditangani di klinik sembarangan."

Alasan itu sepertinya sukses mencegah Kuroko menangis pilu, buru-buru Akashi langsung menambahkan, "Bagaimana kalau hari ini kau langsung kuantar pulang? Aku akan mencari informasi dan sekalian membuat janji dengan dokter di klinik. Agar jika besok kita kesana tidak perlu mengantri? Lagipula kulihat kau sangat pucat sekarang, sungguh aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu, hari ini kita pulang saja ya? Aku bisa gila jika kau sampai jatuh sakit Tetsuya ..." ucapnya lembut penuh permohonan. Seorang Akashi Seijuuro sampai memohon, sungguh peristiwa yang sangat langka seperti melihat jamur hitam berbulu (?) tumbuh subur di musim panas.

Menggigit bibir bagian bawah cukup erat, Kuroko berusaha mengambil nafas banyak-banyak untuk menenangkan diri, kemudian dia mengangguk pasrah. Akashi langsung menghela nafas penuh kelegaan, senyum lembut tersungging di wajah tampannya.

Lampu hijau kemudian menyala, dengan gesit Akashi memutar kemudi, menginjak kopling dan gas dengan keras. Mobil melaju kencang, langsung bisa menyalip beberapa kendaraan lain untuk menempati posisi terdepan. Kedua tangan memengang kemudi erat-erat, nyaris membuat buku-buku jarinya memutih, 'Besok semua rencana harus berhasil, kali ini tidak boleh ada kegagalan.' pikirnya dalam hati.

.

.

.

TRULULULULUT!

Bunyi keras dari handphone berwarna hitam mengagetkan sosok berkulit gelap hingga dia terlonjak, nyaris jatuh dari atas ranjang. Tangan Aomine Daiki bergetar saat mengambil telepon yang tergeletak di atas meja, berdoa pada semua Dewa agar bukan bos cebol bermata belang yang menelepon. Karena sungguh dia baru saja dua menit istirahat dari usaha menghafal dialog, dan berniat refreshing dengan cuci mata sejenak, memandang majalah indah bersampulkan gadis cantik dengan bikini super mini selebar 3 sentimeter saja, surga buah dada besar yang melimpah ruah. Aomine mulai curiga jika si bos punya kesaktian ghoib dan diberkahi mata batin, karena menelepon tepat saat dia lengah, tapi ternyata perkiraanya salah total.

"CIH SIAL! BIKIN KAGET SAJA! BUAT APA SIH DIA MENELEPON!?" Bibir Aomine mengeluarkan umpatan saat nama yang tertera di layar telepon adalah 'Bebek Kuning Idiot', dengan segera tombol merah ditekan.

Namun telepon kembali berdering tanpa henti, sebenarnya bisa saja Aomine mematikan atau mencabut baterai teleponnya. Namun entah apa yang terjadi, dia malah memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut.

"AOOMINEEE-CHIII! JAHAAT-SSUU! KENAPA DARI TADI PANGGILANKU DIREJECT!?" Suara melengking terdengar begitu tombol hijau ditekan.

"APA MAUMU BAKAAAAAAKISE!" Teriaknya tidak kalah keras tepat di depan speaker, namun sang penelepon tampaknya tidak terpengaruh.

"Ayo kita berlatih bersama-ssuu! Adegan ini sangat sulit, kita tidak bisa melakukannya dengan latihan sendiri-sendiri, harus dilakukan dengan praktek langsung-ssu!"

Aomine terdiam, sejenak berpikir pro-kontra dari latihan bersama sang model kuning berisik. Memang adegan dan dialog yang diberikan sangat sulit, Aomine tidak mau jika sampai besok kulitnya yang eksotis dicolek oleh pucuk gunting runcing merah keramat. "Baiklah, ayo sekarang kita bertemu di lapangan basket dekat perumahan."

"Okeee-ssuu! Aku segera bersiap kesana!" Jawaban riang terdengar sebelum sambungan telepon ditutup.

"Haaaah ... sungguh merepootkaaan!" Gerutu si kulit gelap sambil melempar handphonenya ke atas ranjang. Aomine sebenarnya sangat malas melakukan semua itu, apalagi saat ini dia masih kesal pada Kise yang membuatnya mendapat hukuman dari guru, meski dia sudah membalas dengan melempar cacing, namun rasanya masih belum puas.

Tetapi jika mengingat apa yang sudah Akashi Seijuuro umumkan saat mereka berkumpul tadi sore, sungguh hukuman bagi yang gagal membuatnya merinding. Bergegaslah pemuda itu memakai jaketnya dan berlari kencang keluar rumah.

.

.

Kembali ke moment rapat GoM yang dilaksanakan di ruang ketua OSIS yang mewah dan serba merah. Akashi ternyata berencana untuk melakukan sebuah sandiwara besar, dimana dia akan menciptakan sebuah klinik palsu dengan Midorima Shintarou berperan sebagai dokter gadungan. Sementara Kise dan Aomine diberi peran sebagai pasangan kekasih yang juga berniat untuk melakukan aborsi di klinik tersebut dan berakhir dengan bencana besar yaitu kematian. Tadinya peran Aomine hendak diserahkan kepada Kagami yang wajahnya terlihat lebih 'tulus', namun pemilik alis belah itu masih berada di RS, maka Aomine yang harus berperan sebagai sang pelaku penggandaan manusia.

Diharapkan jika Kuroko menyaksikan sandiwara tersebut, hatinya akan tersentuh juga takut untuk terus melanjutkan niat aborsi, dan akan mempertahankan buah hati mereka dengan penuh kerelaan. Sungguh sebenarnya rencana itu terdengar gila dan tidak masuk akal, namun Akashi terlihat sangat serius dan penuh persiapan.

Karena rupanya dia telah menyewa sebuah bangunan untuk dijadikan lokasi klinik palsu, juga sudah menyewa make-up artist dan menyediakan wardrobe juga peralatan yang dibutuhkan. Keberhasilan rencana kini terletak di tangan anggota GoM lainnya, dengan akting mereka, sungguh beban berat yang sangat berbahaya.

.

.

Aomine Daiki sampai di lapangan basket lebih dulu dan mendapati lima orang pemuda tengah asyik bermain Basket. Rasa kesal dan malas yang semula terasa langsung menghilang begitu saja, matanya berbinar saat berteriak. "HEY! Aku ikut main! Kalian kurang satu orang untuk 3-on-3 kan!?"

Kise Ryouta datang sekitar dua puluh menit kemudian dengan nafas terengah, karena berlari kencang dari rumah. Salahkan kakak perempuannya yang sudah menghambat rencana, dengan menyuruhnya membeli pembalut di Supermarket terdekat, sungguh Kise merasa sangat malu namun tidak kuasa untuk menolak. Menjadi bungsu dan satu-satunya anak lelaki dalam keluarga kadang membuatnya sengsara, karena kedua kakak perempuannya sering mengerjai dan menyuruhnya ini-itu, mungkin perlakuan itulah yang membuat seorang Kise menjadi maso dan hobi merengek tidak jelas.

Mata emasnya terbelalak melihat pemandangan di lapangan basket, Aomine Daiki sudah melepas jaket dan hanya mengenakan kaus hitam tanpa lengan, berlari bebas men-drible bola oranye kesana-kemari dengan kecepatan penuh, menghindari pemain lain yang berusaha menghalanginya mencetak angka. Gerakanya terlihat kacau tanpa pola, namun justru di situlah letak keunggulan dan daya tarik permainan basket Aomine, dan keringat yang membasahi tubuh atletis, juga senyum lebar penuh tawa membuat pemuda berkulit gelap itu terlihat sangat mempesona di bawah cahaya jingga lampu lapangan.

Kise Ryouta tanpa sadar menelan ludah kedalam kerongkongan, buru-buru dia menggelengkan kepala lalu kemudian berteriak keras, "AOMINEEE-CCHII!"

Bola oranye masuk tepat ke tengah ring, si Hitam yang semula asyik bersorak bersama timnya langsung menoleh, ketika mendengar suara khas dari pinggir lapangan, "Hehehehe ... kau baru datang Kise!? Ayo ikut main sini!" ucapnya lantang sambil melambai-lambaikan tangan.

Sang model cemberut dan berkacak pinggang. "Kau ini bagaimana sih! Kita janjian ketemu bukan untuk bermain basket kan! Dasar Baka!"

Mulut sang Ace ternganga, menepuk jidatnya sendiri cukup keras. "Ukh ... kau benar, sial ... padahal sedang seru-serunya!" Buru-buru dia berpamitan pada para pemain lain sambil berlari menghampiri si Kuning yang cemberut.

PRIWIIIT! PRIKITIWW!

Tiba-tiba para pemuda itu menyorakinya keras "Chieee! Yang mau kencaan! Selamat bersenang-senang ya!"

Aomine menunjukkan jari tengahnya sambil mengumpat. "BERISIK KALIAN! KAMI BUKAN MAU KENCAN !"

Wajah Kise sontak memerah, bibir maju beberapa senti. Entah kenapa jantungnya terasa berdebar keras, ingin sekali dia protes namun kehilangan kata-kata. Jadilah sang model hanya mampu berdiri terdiam dengan wajah masam.

Aomine menyambar jaket yang semula dia tinggalkan di pinggir lapangan, kemudian mulai berjalan sambil memasukan tangan kedalam saku celana, "Ayo kita cari tempat lain yang lebih tenang, kita pakai naskah milikmu ya. Aku lupa membawa punyaku." ucapnya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.

Sepasang mata emas terbelalak lebar, langkahnya terhenti. "Astagaa! Aku melupakannya di meja ruang tamu!"

"DASAR BAKA! Kau ini bagaimana sih!? kalau begini bagaimana kita bisa berlatih !?"

"AHOMINE-CCHII Juga tidak bawa naskahnya dan tadi malah asyik main Basket-ssuu! Kenapa sekarang jadi aku yang disalahkan!?" Teriak si kuning, "Kalau aku pulang untuk mengambilnya, bisa-bisa Rika-Nee akan menyuruhku lagi-ssuu ..." imbuhnya penuh rasa kesal.

Aomine terdiam, memengang dagu sambil memejamkan mata, tampak sedang berusaha keras memikirkan suatu rencana, karena sebenarnya dia juga malas bolak-balik ke rumah. "AHA! Aku tahu caranya!"

Senyum lebar terpampang, dengan percaya diri dia menceritakan idenya, "Kise, kita gunakan kemampuan copycat mu! Cukup tonton saja film yang temanya cocok dengan naskah kita! Kurasa akan lebih bagus dan natural ketimbang mengikuti sekenario buatan Akashi yang bahasanya terlalu susah itu!" sebuah pemikiran briliant yang muncul karena kemampuan membaca kanji yang minim.

"UWAAAH! Kau hebat Aomine-cchii! Ayo kita segera ke tempat rental vidio!"

.

Beruntung lokasi kompleks pertokoan berada tidak begitu jauh dari lapangan basket tadi, dua pemuda berbeda warna itu-pun langsung masuk ke dalam toko rental yang ternyata buka 24 jam. "Kise, kau cari di sebelah sana ya! Aku akan mencari di sini!"

"Oke-ssuu!" Teriak si Kuning penuh semangat sebelum berlari ke jajaran rak panjang di sebelah kanan. Beberapa waktu berlalu, sang model berhasil memilih beberapa judul dan meletakkannya di atas counter pembayaran. Matanya memandang sekeliling toko, mencari keberadaan sang patner namun nihil. "Tunggu sebentar ya, aku harus mencari temanku yang juga mau meminjam vidio ..." ucapnya pada sang penjaga toko.

Mencari hampir ke semua lorong, namun sosok berkulit gelap belum ditemukan. Hingga sang model sampai pada suatu sudut, dimana terdapat sebuah pintu tertutup tirai dengan tulisan 18+ berukuran besar, terpampang di bagian depan. Perlahan dia membuka tirai dan melongokkan kepala kedalam. Benar saja, sosok berkulit gelap sedang asyik berjongkok memilah-milah DVD 'dewasa' dengan senyum aneh terpampang di muka.

"AHOMINE-CCHII! MESUM!" Si Kuning berteriak mengagetkan sang Ace, hingga dia menjatuhkan beberapa DVD tersebut ke tanah dengan suara gemelotak keras.

"EH COPOT! COPOT!"

"Sialan kau KISE!" Umpat Aomine kesal, namun dengan cepat dia segera merapihkan DVD yang berserakan, kembali ke raknya masing-masing.

"Kau bilang mau mencari film yang bisa dijadikan referensi! Kenapa malah mencari DVD mesum seperti itu-ssuu!?"

"Cih, ini juga aku sedang mencarinya bodoh! Kau tidak tahu ya! Kalau dalam beberapa blue film ada yang ceritanya bagus!" Ucap si hitam membela diri.

Kise mengerenyitkan alisnya, menatap dengan penuh curiga. "Aku tak percaya-ssuu, pasti kau bohong! Aomine-cchii memang tidak becus melakukan apapun selain bermain Basket!"

"APA KAU BILANG!?" Si Hitam naik pitam, seperti biasa dia langsung menarik kerah baju Kise, hendak memberinya sebuah bogem mentah.

Kise tidak gentar dan balas menatapnya tajam. "Memang benar kan!? Buktinya kau belum mendapat satu-pun judul film! Sedangkan punyaku sudah menumpuk di sana!"

Aomine mengeram kesal, dia melepas cengkeraman tangannya dan menunjukan sebuah wadah DVD tepat ke muka si Rambut Kuning. "LIHAT INI! Aku sudah menemukan film yang sangat tepat!"

Kembali mata lentik sang model terbelalak saat membaca tulisan judul dalam wadah tersebut. "BERANAK DALAM KUBUR !? Fi-film apa itu? Aku belum pernah mendengarnya-ssuu?"

"Cih, dasar kau kampungan! Ini adalah film terlaris dari negara jauh di Asia Tenggara sana! Pemainnya juga sangat terkenal, namanya Suz#na!" Aomine terlihat bangga menjelaskannya.

Kise Ryouta cuma bisa ternganga, sedikit banyak percaya pada penjelasan penuh semangat dari sang Ace. Kemudian dia mengambil wadah DVD tersebut dan mengamati sampul yang ada dengan alis mengerenyit, "Ta-tapi ini sepertinya horor-ssu! Apa cocok dengan peran yang ada di naskah?" ucapnya ragu.

"Hah! Tetsu itu seperti hantu dan Akashi jelas seorang raja setan! Tentu saja film horor ini yang paling cocok baka!" Jelas Aomine penuh percaya diri, "Ayo cepat kita bayar sewanya lalu kita tonton di rumahku!" imbuhnya lagi.

Kise masih meragukan film pilihan Aomine, tapi dia tetap mengikutinya ke depan counter pembayaran, berharap DVD pilihannya sendiri bisa lebih banyak berguna.

Malam itu keduanya habiskan bersama dengan marathon menonton film. Mereka saling berpelukan ketakutan saat film horor diputar, bahkan Aomine tidak berani membuka mata sepanjang penayangan. Kemudian menangis hingga sesengukan saat film pilihan Kise tentang 'anak tiri yang tertukar' berlangsung.

Entah bagaimana misi mereka akan berjalan, karena sepertinya gunting Akashi sudah menemukan calon mangsanya.

~Bersambung~

Terimakasih untuk yang sudah me-Review pada chapter-chapter sebelumnya, maafkan saya kalau belum bisa membalas satu-persatu, yang jelas semuanya sungguh berarti untuk saya.

Bagi yang menanyakan kelanjutan Fanfic saya yang lain, mohon bersabar ya karena masih dalam pengetikan hehehe... saat ini memang saya sedang fokus di fandom KnB sekaligus berusaha menajamkan kemampuan menulis agar lebih baik lagi dan bisa memberi cerita yang lebih menarik.

Jadi mohon kesap, pesan, saran atauu kritikya yaa ... Terimakasih banyak.

Salam AkaKuro selalu

AuRi