.
Fragment Memories
.
.
.
Disclaimer: This fanfic is mine and EXO's belong to The God
.
Genre: Romence, Hurt-Comfort, and Drama
.
Warning: GS, OOC, typos, etc.
.
Rated: T+ +
.
Pair: Chanbaek, Kaisoo, slight! Chansoo
.
.
.
"The One Goodbye"
.
.
.
Jongdae membuka bekal makanan pemberian dari Minseok. Seulas senyum bahagia menghiasi wajahnya ketika sekotak bibimbap hangat bertabur bulgogi dan eggroll tersaji di hadapannya. Lidahnya menggoyang seketika. Perutnya bergemericik. Dengan rakus dilahapnya makanan itu.
"Ya! Kau seperti orang yang tak pernah makan!"
Jongdae memutar bola matanya malas. Suara Baekhyun selalu terdengar sangat menyebalkan dan mengganggu. Belum lagi ketika ia berteriak. Kau tak akan segan untuk segera mencekik lehernya.
"Wae?" Jongdae membalas acuh. Masih tampak asyik dengan makanannya. "Kalau kau mau, beli saja sendiri. Salahmu juga sih tak memiliki namjachingu. Kalau punya kau pasti akan lebih diperhatikan."
"Issh... sombong sekali kau kepala kotak." Baekhyun mencebik sebal.
"Apa yang kubilang itu memang benar. Daripada kau terus-terusan seperti itu. Makan sendiri, pulang-pergi sendiri. Ya! Itu sangat membosankan! Ayolah Byun Baekhyun..."
Baekhyun mengerucutkan bibir. "Aku belum bertemu dengan jodohku."
"Pabbo-ya! Kalau kau hanya menunggu, kapan dia datang? Segeralah mencari bodoh. Jangan sampai kau jadi perawan tua seperti Boah noona itu."
Baekhyun mendelik. Tangannya mengayunkan papan kayu ke arah Jongdae. "Ya! Apa yang kau bicarakan?!"
Jongdae baru saja berpikir akan kabur kalau gerakan Baekhyun tidak segera terhenti oleh suara gedoran dari atas meja. Jongdae menoleh dan mendapati Park Eunhyuk—semua perawat tahu beliau adalah eomma dari Park Chanyeol yang baru saja sadar dari koma itu. Kini tengah menatap mereka dengan raut wajah cemas sekaligus kebingungan.
"Ada apa Nyonya?" tanya Baekhyun penasaran.
Seluruh wajah Eunhyuk sudah memerah bercampur dengan lelehan air mata. "Hiks... Chanyeollie menghilang... hiks... jaebaaal..."
Baekhyun melotot. Jongdae nyaris tersedak bibimbap-nya sendiri. "MWO?!"
Keduanya kini berlarian menuju kamar Chanyeol. Benar saja. Kamar itu kosong tanpa penghuni. Eunhyuk mengikuti mereka dengan lemas. Langkahnya terhuyung. Jongdae yang melihatnya tampak panik.
"Nyonya... nyonya... kau tak apa?" tanya Jongdae cemas. "Baek, cepat panggil perawat lain untuk mencari keberadaan Chanyeol. Aku akan mengurus nyonya ini. Sepertinya dia akan pingsan."
"N-ne.." jawab Baekhyun sambil berlalu pergi.
.
-O-
.
Jongin masuk ke dalam kamar Kyungsoo dan mendapati yeoja itu tengah tertidur dengan damainya. Melihat itu Jongin tak tega untuk membangunkannya. Sebagai gantinya dia hanya mengecek keadaan Kyungsoo dari luar.
"Dia sudah tertidur semenjak meminum pilnya tadi," kata Suho yang tiba-tiba muncul mengagetkan Jongin.
"Apa yang terjadi Suho-ssi?"
Suho menarik nafas panjang. "Seperti biasa, kepalanya terasa sakit. Entah apa yang sedang dipikirkannya."
Jongin menuliskan sesuatu di atas block note kecilnya. "Jadi kepalanya masih sering sakit? Hem... kusarankan agar Kyungsoo tidak mengingat apapun dulu tentang masa lalunya. Atau apapun yang berhubungan dengan otaknya. Tolong jauhkan dulu masa lalu Kyungsoo selama keadaan Kyungsoo belum cukup baik untuk mengingat semuanya."
"Ah ne, aku sudah mengingatkannya. Tapi aku sendiri tidak tahu apa yang ada di pikirannya."
Jongin mengetukkan penanya di atas meja. "Sepertinya kejadian tadi membuatnya cukup shock. Itu sangat tiba-tiba. Keadaan otaknya tidak siap untuk menerima beban seperti itu."
"Mianhae Jongin-ssi, aku sangat lalai." Suho mendesah kecewa.
"Aniya." Jongin memaksakan seulas senyum. "Lain kali kau hanya perlu mengalihkan perhatiannya dari hal-hal yang berbau masa lalu. Jangan biarkan Kyungsoo sendirian dengan pikirannya. Apalagi sampai melamun. Aku takut dia malah akan mengingat-ingat terus dan akhirnya berdampak buruk pada otaknya."
Suho mengangguk. "Ne, gomawo Jongin-ssi. Mian merepotkanmu."
Jongin menggeleng. "Gwaenchana" Pandangannya tertuju pada Kyungsoo yang masih terlelap. Wajahnya terlihat begitu indah ketika tertidur. Seperti malaikat. Sama seperti Suho. Pipinya bulat dan bibirnya kissable. Bulu matanya lentik dan menawan.
Jongin tersenyum tipis. "Anyeong hijumuseyo..."gumamnya pelan.
.
-O-
.
Baekhyun sudah berputar ke seluruh penjuru rumah sakit. Bahkan ia sudah mengabari seluruh perawat yang bertebaran di berbagai bangsal untuk membantu mencari Chanyeol. Atau paling tidak memberi kabar jika mereka melihat Chanyeol. Zitao dan Minseok yang kebetulan berada di jam yang sama kini juga tengah sibuk membantu. Tapi sayangnya Chanyeol tetap tidak ditemukan.
Baekhyun menghempaskan tubuhnya pada salah satu kursi panjang. Nafasnya tampak memburu. Bahunya naik turun. Keringat membanjiri permukaan wajah cantiknya. Ia menggigiti bibirnya cemas. Kepalanya melongok kesana kemari dan menemukan Zitao tengah berlarian ke arahnya.
"Hosh... hosh... Baek jie... aku lelah sekaliiih... hosh..." Zitao melemparkan diri di samping Baekhyun. Kepalanya disenderkan pada tembok.
"Aku jugaah..." Baekhyun menarik kasar tisu dari dalam sakunya.
"Jie, kita sudah berlari kesana kemari. Tapi Chanyeol itu tetap tidak ada. Sebenarnya dia kemana, eoh?! Menyusahkan sekali!" gerutu Zitao sambil menyerobot tisu dari tangan Baekhyun.
"Molla." Baekhyun tampak putus asa.
"Dengan kondisi lemah seperti itu, dia tidak mungkin pergi jauh. Seharusnya dia masih ada di lingkungan rumah sakit. Kecuali..." Zitao memasang wajah sok serius membuat Baekhyun menunggu dengan sabar. "Kecuali dia bisa teleportasi seperti di music video MAMA. Hahaha..." tawanya merebak.
Baekhyun mendengus. Zitao berusaha membuat lelucon di saat yang sangat tidak tepat.
"Kau terlalu berkhayal Huang Zitao," dengus Baekhyun kesal. Zitao menutup mulut rapat-rapat melihat aura mencekam dari wajah yeoja yang lebih tua satu tahun darinya itu.
Baekhyun masih sibuk dengan tisunya sebelum akhirnya otaknya mencerna kalimat Zitao. Sebenarnya perkataan Zitao ada benarnya. Seharusnya Chanyeol masih ada disini. Tapi dimana?
Baekhyun berusaha memutar otak. Tempat yang belum disentuhnya adalah...
Tiba-tiba kelopak mata Baekhyun terbuka. Sebelum Zitao sempat mengejarnya, Baekhyun sudah berlari pergi. Dengan cepat ia melangkahkan kakinya menuju tangga yang terhubung dengan atap rumah sakit.
Kalau dugaan Baekhyun benar, harusnya Chanyeol disini. Dan ternyata dugaannya memang benar. Namja itu tengah terduduk di salah satu pagar tembok. Pandangannya menerawang ke batas cakrawala. Matahari hampir terbenam di atas sana. Dan ia terus menatapnya, seakan menanti matahari menghilang.
Baekhyun berlari mendekat. Nafasnya memburu. "Chanyeol-ssi! Hosh... hosh... semua orang sedang mencarimu. Ayo kembali!"
Chanyeol menoleh sebentar. "Wae?" katanya sambil kembali menegakkan kepala ke depan.
"Mwo?" Baekhyun mengerjap bingung.
"Kenapa kau harus bersusah payah mencariku?" tanya Chanyeol.
Baekhyun tertawa. "Ya! Apa yang kau bicarakan?! Tentu saja saat ini semua orang tengah sibuk mencarimu. Kau harusnya bilang dulu kalau ingin pergi. Tidak baik kabur seperti itu. Kasihan eomma-mu. Dia sampai pingsan."
Chanyeol tampak acuh. "Tadinya aku berpikir untuk bunuh diri saja. Tapi karena teringat eomma, aku mengurungkannya."
Mata Baekhyun membulat. Ia menatap tak percaya namja di hadapannya. "Kenapa pikiranmu sempit sekali? Kau bodoh atau apa?" gumamnya kecil tanpa niatan mengejek sama sekali.
Chanyeol menatap Baekhyun dingin. "Kalau aku bodoh kenapa? Apa pedulimu?! Pernikahanku hancur dan Kyungsoo melupakanku! Tak ada gunanya aku hidup!"
Baekhyun masih tecengang. Matanya mengerjap heran. Sebenarnya dia sangat pandai dalam hal adu mulut. Tapi rasanya untuk masalah ini dia tidak pantas mencampurinya.
"Akh—" Chanyeol meringis tiba-tiba sambil memegangi kakinya.
Baekhyun tersadar dan segera memegang lengan Chanyeol. "Chanyeol-ssi, kau tidak apa-apa? Bagian mana yang sakit? Biar aku ambilkan obat."
"Kau bisa menyembuhkan lukaku?" tanya Chanyeol mencemoh.
"Tentu saja." Baekhyun tampak cemas. "Bagian mana yang sakit? Kakimu terasa nyeri lagi? A-atau kepalamu pusing?"
"Ani. Disini." Chanyeol menyentuh dadanya dan menepuk-nepuknya. "Rasanya sakit sekali. Bisakah kau menyembuhkannya?"
Baekhyun terdiam mengigit bibirnya.
Chanyeol mendengus. "Sudah kuduga. Kau tak bisa. Jangan bersikap seolah kau adalah pahlawan. Asal kau tahu, selamanya obat pemberianmu tak akan pernah menyembuhkan lukaku. Hanya Kyungsoo yang bisa menjadi obat penyembuh lukaku."
"Arraso." Baekhyun menjawab lirih. Kemudian seulas senyum tipisnya terbentuk. "Hem... bagaimana kalau aku bisa menyembuhkannya?"
Chanyeol kembali mencemoh.
"Ani. Aku bercanda." Baekhyun memaksakan tawa. "Baiklah ayo kita kembali."
Chanyeol mengalihkan pandangannya dengan gusar. Matahari mulai terbenam. Langit berwarna jingga keemasan mulai bercampur dengan merah muda keunguan. Membentuk suatu perpaduan yang ganjil namun tampak sempurna. Indah dan memukau.
"Sebentar... Setelah matahari terbenam ini saja."
Baekhyun mengangguk dan mendudukkan diri di samping Chanyeol. Mereka melihat sunset itu bersama. Sangat indah. Langit perlahan menggelap. Berhiaskan bintang-bintang bertaburan.
"Kau percaya takdir?"
Baekhyun menoleh. Alisnya terangkat. "Tentu saja. Apapun bentuknya, bukankah takdir yang digambarkan untuk seseorang selalu yang terbaik?"
Chanyeol menghela nafas. "Molla. Sepertinya aku mulai membenci takdir."
"Apa yang kau bicarakan eoh?" canda Baekhyun. Ia melirik jamnya sekilas. "Chanyeol-ssi. Kajja kita kembali. Ini sudah malam, nanti kau sakit."
Chanyeol menurut dan berpegangan pada Baekhyun. Seluruh tubuhnya masih terasa kaku hingga dia kesulitan berjalan. Langkahnya tertatih. Jalan menuruni tangga membuatnya merintih kesakitan.
"Hati-hati." Baekhyun masih setia membantu menopang tubuh Chanyeol dengan kedua tangan mungilnya. "Kakimu sakit? Ah, aku tak bisa menggendongmu. Kemarikan tanganmu."
Tanpa penolakan seperti biasa Chanyeol mengangkat tangannya. Baekhyun membawa tangan Chanyeol melingkari lehernya. Pelan-pelan ditopangnya tubuh Chanyeol yang tinggi besar itu menuruni tangga. Kemudian mereka berjalan menuju kamar Chanyeol.
"Chanyeollie... hiks..." Eunhyuk berlarian dan langsung menerjang Chanyeol. Di belakangnya Luhan tampak cemas. "Darimana saja kau eoh? Membuat orang khawatir saja!" gerutu yeoja berdarah China itu.
"Mianhae..." gumam Chanyeol lirih.
Eunhyuk tak menjawab dan kembali memeluk tubuh putranya. Lalu menuntunnya masuk ke dalam kamar. Baekhyun dan Luhan mengikuti dari belakang.
Chanyeol merebahkan dirinya di atas ranjang. Baekhyun merapikan selimut Chanyeol yang terjatuh di lantai. Dengan tenang dikibaskannya selimut itu sebentar. Kemudian dipakaikannya selimut itu menutupi tubuh Chanyeol.
"Selamat tidur, Chanyeol-ssi."
Chanyeol terdiam. Matanya melirik Baekhyun sebentar. Seulas senyum menghiasi wajah manis yeoja itu.
Meski ragu, Chanyeol akhirnya membuka mulut. "Gomawo..."
.
-O-
.
Kyungsoo termenung sendirian di atas kursi rodanya sambil memandangi sekelompok bunga bermekaran di taman. Tangannya bergerak berusaha menggapai bunga itu. Sekuntum bunga matahari berhasil dipetiknya. Dihirupnya sebentar wewangian yang menguar dari kelopak bunga tersebut. Harum sekali.
Tangan Kyungsoo bergerak kecil memainkan bunga itu. Mata bulatnya berputar mengikuti arah gerak bunga. Sebentar-sebentar ditiupnya bunga itu hingga kelopaknya beterbangan. Lama-kelamaan ia jengah. Kyungsoo merogoh baju piyamanya dan mengeluarkan ponsel. Matanya berubah sendu menatap layar ponsel.
Hari ini tepat dua minggu setelah kejadian tragis itu—Kyungsoo tidak tahu. Saat ini yang Kyungsoo ketahui adalah fakta bahwa ia harus meninggalkan rumah sakit ini. Kyungsoo menghembuskan nafas panjang. Rasanya ia masih ingin berada disini. Tempat ini menyenangkan—baginya. Disini ia bisa bertemu perawat-perawat yang ramah. Si kepala kardus Kim Jongdae. Si bakpao Minseok. Si mata panda Huang Zitao. Dan si manis ber-eyeliner tebal Byun Baekhyun. Dan yang paling penting ia bisa bertemu Kim Jongin. Dokter muda yang tanpa Kyungsoo sadari tengah mencuri hatinya secara perlahan.
Kyungsoo masih merenung dengan bunga mataharinya ketika sebuah tepukan keras mendarat di pundaknya dengan mulus. Hingga yeoja itu memekik dan membulatkan matanya panik.
"Uisaaa..." rengeknya ketika melihat namja berkulit tan yang kini mendudukkan diri di kursi depannya. Seulas senyum menghiasi wajah tampannya. "Kau terkejut?"
Kyungsoo mengerucutkan bibir. "Apa yang ada di otakmu?" sindirnya.
"Mianhae..." tawa Jongin merebak. Tangannya menyodorkan sebotol susu hangat yang baru saja dibelinya di kantin. "Minumlah, itu baik untuk kesehatanmu."
Kyungsoo memandangi botol susu di hadapannya tanpa minat. "Kenapa makanan yang sehat selalu tidak enak?"
Tawa Jongin melebar. "Itu minuman."
"Apapun itu! Tetap saja tidak enak!"
Tanpa banyak bicara Jongin merebut botol susu di tangan Kyungsoo dan membuka tutupnya. Lalu disodorkannya botol susu itu pada Kyungsoo. "Jangan banyak protes. Minum saja."
Kyungsoo mempoutkan bibir sebelum akhirnya jemaari mungil itu meraihnya dan meneguk susu itu cepat. "Gomawo uisaaa..."
"Ne, cheonma."
Kyungsoo memandangi botol susu di hadapannya dengan sendu. "Uisa, apa kita akan bertemu lagi?"
Jongin tertawa. "Apa yang kau bicarakan? Tentu saja kita akan tetap bertemu!"
"Tapi kita tidak akan bertemu setiap hari uisa," ratap Kyungsoo sedih.
"Wae?" Jongin mulai menggoda. "Kau takut merindukanku?"
Kyungsoo menunduk. Rona merah menjalar di pipi putihnya. Diremasnya kuat-kuat botol susu yang digenggamnya itu. "Eum... Ani..." jawabnya lirih.
"Lalu kenapa? Kau ingin bertemu aku setiap hari?"
Kyungsoo menggelengkan kepala cepat. "Kau terlalu percaya diri!" rajuknya manja.
Jongin kembali tertawa. Kali ini lebih kencang. "Tenang saja. Kau bisa menelponku bagaimana? Atau kita bisa chatting setiap malam. Kalau kau mau datang saja kemari."
Mata bulat Kyungsoo mengerjap lucu. "Geurayo?"
Jongin mengangguk. "Kau mau aku berjanji?"
Kyungsoo diam berpikir. Kemudian jari kelingkingnya teracung ke atas. "Baiklah. Kau mau berjanji?"
"Geurom." Jongin tersenyum dan mengalungkan jarinya di jari Kyungsoo. Mempererat ikatan tangan mereka dengan kuat dan juga menyatukan ibu jari mereka.
.
-O-
.
Jongdae berjalan masuk dengan membawa sebuah baskom berisi air hangat di tangan kanannya. Sementara tangan kirinya tengah menenteng berbagai peralatan mandi. Sabun, sikat gigi, dan beberapa pembersih healthy life. Di lehernya tergantung sebuah handuk kecil. Dengan susah payah diletakkannya baskom itu di atas nakas dan mulai menuangkan sabunnya.
"Saatnya mandi Chanyeol-ssi."
Chanyeol segera menoleh mendengar suara berisik memenuhi kamarnya. Majalah yang tadi tengah dibacanya segera digeletakkan di samping. Alis matanya terangkat melihat siapa yang datang. Kepalanya segera menelisik ke segala arah seakan mencari. Tapi apa yang dicarinya tidak ditemukan.
"Byun ganhosa, odie?"
Jongdae memasang senyum jahil. "Wae? Kau mulai menyukainya?"
Chanyeol menatap Jongdae malas. "Jangan sembarangan bicara kau kotak kardus. Siapa yang suka pada yeoja seperti dia?"
"Geurayo?" Jongdae menggoda Chanyeol. "Kulihat kalian semakin akrab saja belakangan ini. Kau bahkan menjadi pasien spesialnya. Sebelum ini tak ada pasien yang sampai di utamakan sepertimu olehnya."
Chanyeol merasakan pipinya memanas. "Ani. Apa yang kau katakan?"
Jongdae terkikik. "Tenang saja. Dia belum punya namjachingu. Kalau kau suka katakan saja sebelum dia bertemu yang lain." Jongdae segera stop bicara ketika melihat perubahan raut wajah Chanyeol. Ia merutuki mulut sialnya. "Ah mian, kau sangat mencintai Kyungsoo ya? Aku lupa."
Chanyeol tak bergeming. Mengingat Kyungsoo membuat hatinya terasa sangat sakit. Sampai kapanpun ia akan selalu mencintai yeoja itu. Dan ia akan terus menunggu sampai yeoja itu mengingatnya lagi. Agar mereka bisa segera melangsungkan pernikahan mereka yang pernah pupus. Dua tahun. Lima tahun. Bahkan sepuluh tahun tak masalah bagi Chanyeol. Asal Kyungsoo kembali padanya. Ia akan terus menunggu.
Jongdae mendecak sebal ketika namja tinggi di depannya tak kunjung melepas bajunya. "Sudahlah... kajja kita mandi sebelum energiku habis karena menceramahimu pasien raksasa. Cepat lepas baju atasanmu."
Chanyeol menggeleng. Tak bergerak sama sekali.
Jongdae menghela nafas. "Wae? Jangan membuat pekerjaanku semakin sulit Park Chanyeol."
Jongdae segera melepas paksa baju atasan Chanyeol. Tepat saat itu pintu terbuka. Baekhyun muncul dengan beberapa map menumpuk di tangannya..
"Aigoo... Darimana saja kau?! Lihat, pasien tercintamu ini sangat menyebalkan!" desis Jongdae sebal.
"Mian, aku harus membantu Minseok eonie untuk membereskan beberapa berkas pasien yang hari ini akan pulang." Baekhyun menjawab sambil membongkar laci meja di samping Chanyeol. Tangannya merogoh sebuah map coklat dari dalam sana dan menumpuknya menjadi satu dengan yang tadi dibawanya.
Jongdae memekik senang. Ia segera merebut map-map itu ke dalam dekapannya. "Ya! Kurasa kita harus bertukar posisi! Kau disini dan aku membantu Seokie." Jongdae melempar handuk di lehernya ke arah Baekhyun sebelum ia berlarian dengan senang keluar dari kamar. "Ppai~"
Baekhyun menatap Jongdae sewot. Seenaknya saja namja itu. Ia menghembuskan nafas panjang kemudian dan menoleh pada Chanyeol. "Baiklah, kajja kita mandi..."
Dengan telaten Baekhyun menggantikan tugas Jongdae. Ia membersihkan tangan dan punggung Chanyeol. Sesekali dibilasnya dengan air hangat tubuh itu. Setelah rapi Baekhyun segera membongkar laci meja Chanyeol dan menemukan dua piyama dari dalam sana.
"Kau ingin pakai baju warna biru atau hijau?" tanya Baekhyun tersenyum.
"Terserah kau saja," jawab Chanyeol.
Baekhyun meraih piyama biru bergaris-garis dan mulai memakaikannya ke tubuh Chanyeol satu persatu. "Eum... hari ini kau akan pulang ya?" gumamnya lirih.
"Ne" Chanyeol terdiam sejenak. "Maukah kau mengantarku jalan-jalan sebentar?"
Baekhyun tersenyum. "Tentu saja Chanyeol-ah."
Sudah hampir satu minggu mereka dekat dan itu membuat Baekhyun tak sungkan memanggil Chanyeol dengan lebih akrab. Baginya Chanyeol bukan orang yang menyebalkan dan berhati dingin. Kalau kau sudah mengenalnya ternyata dia adalah orang yang berkepribadian hangat. Dia hanya sedang mengalami shock berat dan butuh orang yang menghiburnya. Begitu pikir Baekhyun. Itu membuatnya selalu memperhatikan pasien itu dibanding pasien lainnya.
Baekhyun keluar mengambil sebuah kursi roda dan masuk kembali selama sepersekian detik kemudian. Ia tersenyum ketika menepuk-nepuk kursi itu. "Duduklah..."
Chanyeol sudah mulai lancar berjalan seperti biasa. Tanpa bantuan Baekhyun pun ia sudah mampu bangkit sendiri. Namun kadang ketika badannya limbung, Baekhyun segera menolongnya dan membimbingnya.
Mereka berputar-putar mengelilingi rumah sakit. Baekhyun menghentikan laju kursi roda di seberang taman. Ia terdiam menatap rerumputan luas di hadapannya.
"Kau tidak ingin melihat pemandangan sebentar?" gumam Baekhyun sambil sesekali meraba bunga-bunga melati yang bermekaran di sekeliling taman itu.
Chanyeol melongokkan kepala sebentar. Kelopak matanya tertegun melihat sesuatu tak jauh dari pandangannya. Seorang yeoja yang sangat dirindukannya. Kini tersenyum ke arah namja lain. Meski Chanyeol tahu namja itu seorang dokter, Chanyeol tetap merasa sebagian hatinya kembali hancur. Sama seperti hatinya satu minggu yang lalu.
"Maksudmu pemandangan itu?"
Baekhyun terkesiap mengikuti arah pandangan Chanyeol. "Mianhae, aku tak tahu kalau ada mereka." Segera ia menarik mundur kursi roda Chanyeol. Tapi tangan kanan Chanyeol menahan lengannya. "Gwaenchana..." ungkap Chanyeol kemudian.
Baekhyun terdiam merasa bersalah. Chanyeol larut dalam dunianya tentang Kyungsoo. Bahkan hatinya berkali-kali lipat lebih menyakitkan.
.
-O-
.
Suho berjalan menyusuri lorong rumah sakit sambil membawa map coklat di tangannya. Ia membuka kamar Kyungsoo dan masuk dengan seulas senyum yang terus mengembang di wajah angelic-nya.
Yixing tampak tengah mengemasi barang-barang Kyungsoo ke dalam sebuah koper mini. Sementara Kyungsoo sendiri tengah terdiam merenung di atas kursi rodanya. Baju piyamanya sudah terganti dengan sweeter hangat dan celana panjang casual. Pandangan mata yeoja itu nampak kosong bercampur aduk dengan pikirannya.
Senyuman Suho meluntur. Dihampirinya adik tercintanya itu. Kemudian ia berjongkok di hadapan sang adik.
"Wae?" tanya Suho dengan tatapan sendu.
Manik mata Kyungsoo bergerak dan berhenti tepat di bawahnya. Menatap mata Suho dalam-dalam. "Ani oppa."
"Kau tidak senang kita pulang?"
Kyungsoo menggeleng.
"Lalu, wae?"
Kyungsoo terdiam beberapa saat. Jemari lentiknya bergerak-gerak gelisah. "Bisakah suatu hari kita bermain kesini lagi?"
"Geurom." Suho tersenyum manis. "Kita pasti akan bermain kesini lagi."
Kyungsoo membalas senyuman Suho. Tepat saat itu Jongin masuk ke dalam kamar Kyungsoo. Di wajahnya juga terlukis seulas senyum.
"Kau harus bersikap baik selama di rumah ne?" Jongin mengusak pelan rambut Kyungsoo.
Kyungsoo mengerucutkan bibir sembari mengangguk. Kemudian kepalanya mendongak. "Kita tetap berteman uisa?"
"Apa yang kau bicarakan eoh? Tentu saja. Datanglah kemari kalau ada waktu."
Dan Kyungsoo tersenyum mendengarnya.
Kursi roda yang diduduki Kyungsoo itu pelan-pelan didorong Jongin. Yixing mengikuti mereka sambil menenteng tas kecilnya sementara Suho sibuk menarik koper kecil yang menampuk beberapa piyama Kyungsoo selama menginap di rumah sakit.
Tak lama mereka telah sampai di halaman depan rumah sakit. Sebuah mobil silver BMW terparkir rapi di sana. Siwon berlarian turun menghampiri putrinya dan mengecup sekilas kening putrinya yang masih terduduk di atas kursi roda itu.
"Kajja kita pulang Kyung."
Dengan hati-hati Siwon memapah Kyungsoo memasuki mobil. Suho berlarian ke bagasi dan memasukkan beberapa tas yang dibawanya. Yixing turut membantu Kyungsoo. Sementara Jongin hanya bisa menatap kepergiannya sendu.
Kaca mobil diturunkan. Yeoja bermata bulat itu melongokkan kepala. Ia tersenyum tipis menatap Jongin. Tangannya terulur keluar. Sebuah kalung berhiaskan krystal biru menggantung disana. Jongin terdiam menatap kalung itu.
"Buka tanganmu uisa..." titaj Kyungsoo.
Jongin menurut dan membuka lebar telapak tangannya. Kalung itu diletakkan disana.
"Itu milikku untukmu. Kau harus menyimpannya uisa. Itu tanda persahabatan kita. Sekali lagi gomawo atas kebaikanmu."
Jongin tersenyum tipis dan mengangguk. Kyungsoo melambaikan tangannya. Mobil itu mulai berjalan perlahan. Semakin cepat hingga Jongin hanya bisa membalas lambaian tangan Kyungsoo dari kejauhan.
Goodbye love...
Senyuman Jongin memudar ketika membaca ukiran di kalung itu. Rasanya dinding di hatinya remuk perlahan.
.
-O-
.
"Akhirnya kau akan pulang."
Chanyeol menoleh dan menatap yeoja berwajah manis yang kini tengah membereskan beberapa barangnya. "Wae?" tanya namja itu lirih.
Secepat kilat Baekhyun mendongak dan tersenyum. "Kau pasti akan senang bertemu dengan keluargamu lagi. Benar kan?"
Chanyeol mengedikkan bahu acuh. Ia sibuk memainkan ponselnya. "Apa kau tahu bagaimana kondisi Kyungsoo sekarang?" tanyanya alih-alih mengganti topik.
Baekhyun mengangguk. "Dia sudah pulang tadi siang. Kau tahu? Kyungsoo semakin sehat. Kau harus segera menemuinya."
"Tak ada gunanya. Dia bahkan tak mengenalku," gumam Chanyeol sedih.
Baekhyun menghembuskan nafas pelan. "Bagaimana dia akan mengingatmu lagi jika kau bahkan tidak berusaha membangkitkan memorinya?"
Chanyeol terdiam berusaha mencerna kalimat Baekhyun. Apa salahnya ia berusaha? Apa salahnya membangun kembali apa yang dulu telah ada? Apa salahnya... Apa salahnya...
Suara deritan pintu membuyarkan lamunan Chanyeol. Luhan masuk sambil menenteng sebuah map coklat di tangan.
"Chanyeollie saatnya kita pulang..."
Chanyeol mendongak ke arah Luhan sembari menganggukkan wajah. Kursi roda yang didudukinya kini mulai mmelaju pelan-pelan. Chanyeol dan Luhan ditemani Baekhyun kini tengah menyusuri lorong rumah sakit yang terang itu.
"Gamsahamnida Byun ganhosa atas semua bantuanmu. Aku sangat berhutang budi padamu."
Baekhyun tersenyum kecil ke arah Luhan. "Aniya. Sudah jadi tugasku untuk merawat para pasien."
"Tapi kau melakukannya dengan sangat baik."
"Ah, gomawo Luhan-ssi."
Mobil berwarna hitam yang ada di kejauhan mulai berjalan mendekat. Baekhyun membantu Chanyeol masuk ke dalam. Baru setelahnya Luhan memposisikan diri.
"Sampai bertemu lagi, Chanyeol-ah."
"Apakah menurutmu kita akan bertemu lagi?" Chanyeol membalas kalimat perpisahan Baekhyun dengan pertanyaan yang sulit terjawab. Dan hanya takdir yang mengetahui jawabannya.
Baekhyun memasang senyum kecil. "Eum... Kuharap kita bertemu lagi."
Luhan melambaikan tangan. "Jaga dirimu dengan baik Byun ganhosa."
"Ne" dan mobil itu melaju meninggalkan Baekhyun yang menghela nafas panjang sebelum kembali menjalani rutinitasnya sebagai seorang perawat.
.
.
To Be Continued...
.
.
Rens Note:
Anyeooong ^^ Sudah lama lama nggak menyapa warga ffn *bow...
Duuuh... Reyn minta maaf banget ya udah lama menghilang dari kalian wkwk.. *nggak ada yang nanya #Reyn nangis... wkwk :p
Berhubung ada hari libur, jadi Reyn usahakan update.:D semoga reader masih pada inget sama ff ini ya, hehehe... ^^
Maaf juga ya reyn baru bisa update ff ini :') soalnya ff lain ada yang belum dilanjut hehehe.. tapi tenang aja Reyn akan berusaha lanjutin :D Buat yang nunggu kelanjutan YOUR CHILD,, THE WEDDING FORECASE,, GREATEST FAMILY dan ff Reyn yang lain. Wajib kasih semangat Reyn ya hehehe... caranya gampang tinggal kasih review :) *kedip2... bikin Reyn semangat yaa dengan comment kalian wkwk. biar bisa cepet lanjut...Reyn sekarang lagi persiapan uts juga soalnya, jadi susah bagi waktu...doakan Reyn ya hehe :D *banyak maunya reyn wkwk :P.
Kalian juga semangat yaa yang lagi uts :D
Makasiih semua *kecup satu satu:)
.
.
.
# SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA SEMUANYAAA :D
# # Makan yang banyak ya teman-teman :D
# # # Sekian dan terima kasih. Jangan lupa tinggalkan review untuk kasi semangat Reyn untuk lanjut :)))
.
.
.
BIG THANKS TO:
[Lulugalulugalulu], [Little Pororo], [indahrahma], [Hyemiiiiii2205], [kimhyera96], [nur991fah], [mrblackJ], [devrina], [dobi dobi369], [fera950224],[noname], [raul sungsoo12], [septhaca], [jouleyang], [parkodot], [exindira], [ChanBaekLuv], [ryu],[Natsuko Kazumi], [zoldyk], [exoforever12], [uffiejung], [luhan], [ryanryu], [yixingcom], [fansyie],[Desta Soo]
.
Maaf belum bisa bales satu- ya chingu, di part ini *bow... Tapi semoga part ini melegakan kalian semua :D Tetap tinggalkan review yaaa :))
.
.
.
REVIEW
