"Mungkin… Dengan ini semua akan berakhir…. Tidak akan ada yang membutuhkanku —apalagi merindukanku."

.

.

.

"Tou-san, kaa-san. Tidak apa-apa 'kan bila aku akan menyusul kalian… Tunggu aku. Aku akan menyusul kalian"

PRANG!

SRAT!

Tak lama setelah berlian itu pecah, cairan merah kental menyembur keluar. Pecahnya berlian itu seakan menandakan pecahnya jiwa gadis muda itu.

.


[5]

Shattered

dari Hikari Kengo
(id: 4602932)

Aoki Lapis


.

Dulu, kehidupannya berjalan dengan tenang dan damai. Dulu, dia mempunyai keluarga yang amat menyayanginya. Namun semua itu hanya masa lalu.

Ya. Masa lalu.

Dan masa lalu yang indah itu harus runtuh. Runtuh seiring dengan tumpukan dan bahan bangunan yang roboh menimpa mereka. Namun dia sangat beruntung karena dapat selamat dari peristiwa maut tersebut.

Lalu raungan tangis pun pecah setelah ia mengetahui kalau orang tuanya tidak selamat.

.


.

Tiga hari kemudian, gadis kecil berambut senada lapis lazuli tersebut berdiri di depan sebuah bangunan yang sudah kelihatan berumur itu. Ya, mulai hari ini tempat itulah yang akan ia sebut 'rumah' –sebuah panti asuhan yang mau menerima dan merawatnya.

"Nah, Aoki-chan. Ini adalah kamarmu sekarang," kata sang pemilik panti tersebut. Gadis berambut biru itupun melihat ke sekelilingnya. Sebuah kamar kecil namun muat untuk dua orang dengan satu ranjang bertingkat dua di sisi kirinya.

"Oh ya, kau tidak apa-apa 'kan di sini sendiri? Soalnya kita di sini belum ada anak perempuan lagi selain kau," lanjut sang pemilik sambil tersenyum ramah. Aoki pun langsung menggeleng –maklum, dia bukanlah tipe orang yang ingin merepotkan orang lain. Meskipun dia baru berumur 5 tahun, dia sudah bisa melakukan hal-hal dasar di rumahnya dulu.

"Tidak apa-apa, kok," jawab Aoki sambil tersenyum manis. Harus dia akui kalau itu bukan senyuman termanisnya, karena ia masih dirundung perasaan sedih. Tapi ia harus menatap masa depan yang lebih baik kelak. Ya, dia tahu kalau kedua orang tuanya mengawasi dari atas sana.

.


.

Sudah sepuluh tahun semenjak kejadian tragis tersebut. Aoki tumbuh sebagai gadis yang manis —walaupun tubuhnya jauh lebih mungil dibanding gadis seusianya. Walau begitu, dia kurang bisa berbaur dengan teman sebayanya. Gadis itu lebih senang sendiri.

Jauh di lubuk hatinya, dia masih tidak bisa melupakan kejadian naas yang menimpa keluarganya.

Dia masih takut merasa kehilangan.

Dengan sebab itu pula dia jarang terlihat panti asuhan yang merawatnya sepuluh tahun terakhir —paling hanya untuk istirahat dari kesehariannya. Takut kalau panti asuhan itu lenyap dalam sekejap —seperti kedua orangtuanya.

Suatu hari, saat matahari telah berganti menjadi bulan, takdir membawanya ke sebuah kenyataan pahit.

Dia tidak sengaja melihat pembunuhan sadis di dalam salah satu gudang rongsokan di depan jalan sepi yang biasa ia lewati saat pulang.

Darah mengucur dari kening orang itu. Dan sang pembunuh masih mengarahkan pistol ke arah sang korban, lalu….

PSYU! PSYU! PSYU!

Aoki tidak tahu apakah itu suara pistol atau bukan, yang jelas orang yang memegang pistol tadi menembaki lagi mayat korban yang sudah meregang nyawa tersebut. Gadis itu tidak dapat berpikir jernih lagi dan langsung merogoh telepon genggamnya, hendak menelepon polisi. Tapi ia terhenti ketika merasakan dinginnya besi menempel di bagian belakang kepalanya.

"T-tolong, aku hanya kebetulan lewat! Jangan tembak aku!" Kata Aoki memohon, kini ia menyesal telah mengambil telepon genggam tersebut. Orang bertopeng dan berjas rapi yang menodongkan pistolnya ke kepala Aoki itupun membalikkan badan Aoki dengan kasar lalu mengarahkan moncong senjatanya tepat ke depan kepalanya. Orang itu pun bersiap menarik pelatuk itu, Aoki menutup mata –pasrah akan nasib. Dan….

KLIK! KLIK KLIK!

"Macet?! Sialan!" teriak orang itu sambil memukul bagian atas pistolnya. Aoki refleks langsung berlari menerobos orang tersebut, tapi orang itu lebih cepat dan memukulkan bagian belakang pistolnya ke leher Aoki —mengirimnya ke alam bawah sadarnya.

WOOF WOOF!

"Cih, patroli?! Ayo kabur!" teriak orang bertopeng itu kepada rekannya dan langsung kabur meninggalkan tempat tersebut.

.


.

Satu hari setelah kejadian itu, semua kembali seperti biasa bagi Aoki. Tapi ada sesuatu yang kerap mengganggunya.

Suara-suara itu… Teriakan yang sepertinya berasal dari neraka itu sendiri…. Seperti berusaha memecah-belah batin Aoki. Terkadang dia meratapi sendiri suara-suara itu —bahkan ia mulai tak jarang tiba-tiba menangis di depan umum. Batinnya serasa tercabik-cabik. Ia takut. Ada apa ini? Apa yang terjadi? Apa yang kutangisi? Dia kerap berpikir seperti itu saat menangis sendiri. Lalu dia mulai kerap mendapatkan mimpi buruk tentang apa yang sudah ia alami selama ini.

Sampai akhirnya, ia terbangun di tengah malam. Nafasnya berderu kencang. Dia tidak pernah menyangka akan bermimpi tentang iblis yang datang dan menariknya ke neraka. Dia sudah cukup dengan semua ini! Batinnya terlalu lelah untuk menghadapi semua ini!

Dia mengambil sebuah silet dari dalam laci mejanya, dan perlahan membuka bungkus silet tersebut.

"Mungkin … dengan ini semua akan berakhir … tidak akan ada yang membutuhkanku —apalagi merindukanku."

.

.

.

.

.


.

"Tou-san, kaa-san. Tidak apa-apa 'kan bila aku akan menyusul kalian… Tunggu aku. Aku akan menyusul kalian"

PRANG!

SRAT!

Tak lama setelah berlian di kepalanya itu pecah, cairan merah kental menyembur keluar. Pecahnya berlian itu seakan menandakan pecahnya jiwa gadis muda itu. Di antara pecahan berlian tersebut, terlihat sebuah chip kecil. Tidak ada yang tahu apa isi dan fungsi chip tersebut.

.

-Fin-


A/N :

Yoo, Kengo kembali setelah sekian lama hiatus! Yah, mungkin ini nggak apik-apik amat, tapi semoga kalian menikmatinya!

Constructive critics are welcome! (Especially I'm just begin writing again)