"Bagaimana bisa kau menyusup seperti ini?"
Pemuda dengan topeng sebatas hidung itu tersenyum kecil, jubah antique bronze miliknya sudah tergeletak diatas tumpukan batu yang ada dibelakangnya.
"Aku sendiri ada di bawah misi dari Kurama–sama."jawab pemuda berkulit pale itu. Gaara membulatkan kedua matanya mendengar jawaban dari pemuda yang duduk di depannya, "Ku–Kurama?"
"Iya. Dia sudah menyelamatkan aku saat pertempuran klan tiga tahun lalu, jadi aku punya kewajiban untuk membantunya."
"Jangan bercanda, Sai. Kau melakukannya sama saja dengan mengumpankan dirimu sendiri ke dalam sarang singa."suara Gaara mulai meninggi, pemuda tanpa alis itu mengerutkan dahinya tak setuju.
"Banyak yang sudah bilang itu padaku, bahkan Mito–sama pun juga mengatakannya. Tapi aku tahu kalau hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membalas budi pada Kurama–sama bahkan jika itu akan mengorbakan nyawaku sekali pun."jawab Sai. Gaara hanya bisa menghela nafas melihat ketulusan niat Sai yang begitu jelas tergambar di iris gelap juga kata–kata yang digunakannya untuk menjawab setiap perkataan Gaara.
"Jadi, apa misimu sebenarnya? Hanya memata–matai atau lebih dari itu?"
Halfblood
Pair : Sasuke X Naruto
Rate : T
Disc. : Naruto © Masashi Kishimoto
Warns. : Boys Love. MxM.
"Bagaimana apa kau senang?"
Suara Kurama mengalun lembut merayap ke saraf pendengaran Naruto, pemuda dengan tiga garis di pipinya itu semakin menyamankan diri dalam kungkungan lengan–lengan kokoh Kurama yang memeluknya dari belakang.
"Tentu saja. Bagaimana denganmu, Kurama–kun?"tanya Naruto sebaliknya. Ia tak bisa menahan senyuman juga semburat merahmuda yang seenaknya hadir di masing–masing pucuk pipinya.
"Aku senang, karna akhirnya aku bisa membuatmu menjadi permaisuriku. Kita akan merawat anak kita bersama–sama, dalam kehangatan keluarga dan juga cinta."bisik Kurama. Ia memejamkan matanya saat penciumannya menangkap aroma jeruk yang manis dari rambut dan leher Naruto.
"Kurama–kun, apa kau lupa kalau aku ini laki–laki?"tanya Naruto sambil menggembungkan kedua pipinya. Belah bibirnya mengerucut lucu, dengan kedua alisnya yang berkerut tak suka.
"Tentu saja aku ingat kalau kau juga punya benda yang menggantung diantara pahamu. Tapi kau tahu kan, kau itu halfblood dan ada kemungkinan kau bisa mengandung karena darah shalott yang kau miliki."jawab Kurama, iris ruby–nya menangkap wajah sendu Naruto saat ia mencoba berbicara mengenai darah halfblood dalam dirinya.
"Shalott ya? Tapi yang aku tahu shalott itu punya wajah cantik dan darahnya pun bisa membangkitkan gairah kaum vampir, sedangkan aku itu tampan, Kurama–kun."
"Siapa bilang kau tak cantik? Kau itu hal yang terindah yang pernah kulihat. Dan soal membangkitkan gairah yang kau bicarakan,kau pikir sudah berapa lama aku menahan diriku, hem?"
Twilight Lavender
"Total ada duapuluh lima vampir baru yang masuk ke dalam divisimu. Divisimu akan mulai mulai bertugas malam ini."ucap Fugaku. Pria paruh baya itu berdiri gagah membelakangi Sasuke dengan jubah kebesarannya yang berkibar tertampar angin.
"Baiklah. Kalau begitu aku permisi."
Sasuke berjalan menuju pintu keluar, meninggalkan sosok Fugaku yang masih berdiri gagah dengan kedua mata menyapu sekeliling.
Ia berjalan menuruni puluhan anak tangga hingga akhirnya bisa mencapai lantai dasar, dan kemudian berjalan menuju tempat di mana anggota barunya berkumpul.
Sasuke berlari melewati lebatnya hutan, gelap tanpa penerangan, hanya cahaya bulan penuh yang menerangi jalannya namun diantara kegelapan terlihat sepasang mata dark grey miliknya yang berubah menjadi sepasang heterokrom dengan sebelah kiri sewarna lavender dengan beberapa tomoe yang mengelilingi, sedang sebelah kanan sewarna merah darah dengan tanda bintang enam sudut.
Twilight Lavender
"Ah, sial aku harus kembali,"ucap Sai. Pemuda itu segera mengenakan kembali jubahnya dan hendak berlari sebelum Gaara berhasil menghentikannya.
"Ada apa?"
"Uchiha Sasuke akan melewati tempat, dan aku harus segera kembali ke pleton. Kau juga Gaara, kau harus bersembunyi, catatan perang antar klan tiga tahun lalu sudah menyebutkan kalau kau tewas disana,"ucap Sai kembali sebelum menghilang di balik semak dan pohon–pohon tinggi.
Gaara yang sedikit paham mengenai topik pembicaraan Sai mulai mematikan api unggun yang dibuatnya dan segera berlari bersembunyi sejauh mungkin dari sosok Uchiha Sasuke.
Pemuda dengan kulit pale itu berlari dan terus berlari hingga ia menemukan sebuah gua dan memberinya tabir agar setidaknya mata terkutuk milik Sasuke tak bisa melihatnya.
Twilight Lavender
"Sebentar lagi nama Naruto akan benar–benar berubah menjadi Uzumaki."
Minato duduk disana, dengan sebuah lilin yang di letakkan di dalam tempatnya dan seorang pria rambut perak yang hanya menutup kedua matanya.
"Aku tak tahu kalau hari itu akhirnya akan datang juga, Kakashi katakan apa yang kau lihat dalam tiga minggu kedepan,"ujarnya memerintah. Ia meraih cangkir miliknya yang berisi teh hitam lalu menyesapnya dengan kedua matanya yang tertutup.
Pria bernama Kakashi itu tak menunjukkan satu jawaban apapun, ia hanya berdiam diri sampai tiba–tiba ia membuka matanya kaget, "Ada apa?"tanya Minato, ia mengerutkan dahi bingung melihat reaksi Kakashi saat ia memintanya untuk meramal apa yang akan terjadi tiga minggu kedepan.
"Kehancuran, tak akan ada pewaris Namikaze–Uzumaki, tak akan terjadi pernikahan tiga minggu kedepan, hanya ada obsesi dan paksaan."ucap Kakashi sambil memandang tak tentu arah. Pria yang punya tanda goresan di mata kirinya itu menatap Minato dengan kedua mata membuka lebar.
"Apa maksudmu?! Jangan bermain–main denganku, cepat katakan dengan jujur, jangan berbohong seperti itu!"pekik Minato. Ia memandang kakashi dengan kedua mata melotot dan geraman dari belah bibirnya.
"Itu lah yang akan terjadi, bila kau tak percaya dengan ucapanku kau boleh membunuhku."ucap Kakashi lirih. Pria itu kembali menutup matanya setelah berhasil menetralkan nafasnya.
"Bajingan kau!"
Minato melemparkan gelombang api kearah Kakashi hingga pria itu terbakar tak tersisa. Minato setelahnya menatap kedua telapak tangannya yang mulai terasa panas, kemudian berjalan keluar dari kediaman Kakashi.
"Cepat urusi dia, setelah itu kembali lah ke kastil."
Twilight Lavender
Houstel Ghu.
Sepanjang jalanan utama kota Joule Vity Center terlihat lengang pagi ini, mengingat matahari masih belum lepas dari peraduannya. Hanya beberapa kereta kuda dan pejalan kaki yang terlihat, dan Naruto adalah salah satu dari mereka. Pemuda itu memangku dagunya dengan pandangan ke arah luar. Kereta kuda miliknya berjalan cukup lambat menurutnya, entah benar atau memang hanya dirinya yang merasa seperti itu.
"Apa masih lama?"tanyanya.
"Satu tikungan lagi, tuan muda,"pemuda dengan rambut seperti nanas itu menyahut, tentu dengan helaan nafas sebelumnya merasa bosan dengan pertanyaan yang sudah entah keberapa tuan mudanya tanyakan padanya.
"Kau terus bilang seperti itu, tapi nyatanya itu lama sekali,"keluh Naruto. Ia melipat kedua lengannya dan mengerucutkan bibirnya lucu.
Hening kembali menyelimuti, hanya langkah tapal kuda yang terdengar juga bibir Naruto yang tak hentinya mengeluh.
"Silakan turun, tuan muda,"pemuda bernama Shikamaru itu membukakan pintu untuk Naruto kemudian memasangkan tas selempang di bahu pemuda itu.
Twilight Lavender
"Kudengar banyak vampir baru yang masuk divisimu ya, Sasuke?"
Pemuda yang dikenai tanya hanya mengatupkan belah bibirnya, tak menjawab sepatah kata pun dari pertanyaan yang di lontarkan temannya itu.
"Bisa tidak kau tutup mulutmu itu? Jangan sampai ada yang tahu mengenai hal itu bodoh,"gadis dengan rambut merah gelap menjawab sambil meneloyor kepala pemuda yang sebelumnya menanyai Sasuke, hingga membuat pemuda dengan rambut ungu itu merintih kesakitan.
"Eh, bukan kah itu anak semata wayang dari Chalice, ya? Kenapa ia baru terlihat hari ini?"
Sasuke tak mengindahkan ucapan temannya, pandangan dan perhatiannya sepenuhnya jatuh pada sosok pemuda yang sedang berjalan melewati lorong dengan kedua mata bulat jernih yang menatap sekeliling dan kaki–kaki mungil yang berjalan pelan. Indah sekali.
"Tunggu sebentar, kau bilang ia keturunan chalice?"tanya Sasuke. Ia mengerutkan alisnya bingung, "Tentu saja, memang dimana kau tinggal selama ini Sasuke, bukannya keluarga Uchiha seharusnya sudah mengetahui hal itu, kecuali kau hidup dalam cangkang,"jawab Suigetsu.
"Siapa namanya?"
"Uzumaki Naruto."
"Kenapa ia memakai marga yang sebenarnya bukan marga milik ayahnya, heh?"tanya Sasuke lagi. Entah kenapa topik pembicaraan mengenai pemuda itu menurut Sasuke menarik sekali.
"Banyak werewolf dan vampir gundul yang membicarakan ini, katanya ia akan menikah dengan Kurama, kau tahu kan vampir yang mau tunduk di bawah kaki chalice itu."jawab Suigetsu kembali, iris ungunya menatap malas ke arah Naruto yang masih berjalan pelan melewati lorong panjang sekolah.
Twilight Lavender
"Kenapa kau selalu ada disini saat jam pelajaran terakhir, apa kau selalu bolos, hem?"
Naruto terkesiap sebelum menyadari kalau ada orang yang sendari tadi memperhatikan dirinya dari atas pohon. "Kau?"ucapnya tak percaya.
Pemuda dengan iris dark grey yang menawan itu melompat turun dari pohon dan mengambil duduk di sampingnya. Rambut hitamnya tergerak pelan tertampar angin sore.
"Aku tanya sekali lagi, kenapa kau selalu duduk disini saat jam pelajaran terakhir berjalan, apa kau bolos, bodoh?"
"Aku punya alasan untuk itu dan namaku bukan bodoh, brengsek. Namaku Naruto,"ucap Naruto sambil menunjuk Sasuke tepat di hidung pemuda itu.
"Namaku bukan brengsek, namaku Sasuke kalau kau mau tahu."ujar Sasuke menimpali. Ia membuang wajah, berusaha menutupi semburat merah muda dipipinya kala melihat Naruto mengerucutkan bibirnya.
"Jadi, kenapa?"
"Apanya?"
"Tentu saja alasan kau selalu disini setiap jam terakhir, bodoh." Sasuke menggeram tertahan, ia sudah berusaha bersabar dengan tingkah bodoh pemuda manis didepannya.
"Aku selalu benci pelajaran sejarah, mereka selalu mengatakan hal negative mengenai diriku–maksudku mengenai mitologi–mitologi seperti vampir, manusia serigala dan lainnya. Lagipula kau juga selalu bolos, brengsek."jawabnya namun kemudian ia memukul lengan Sasuke. Kedua alisnya berkerut tak suka dengan pertanyaan Sasuke yang menurutnya seperti mengejek dirinya.
"Aku juga benci sejarah, sama seperti dirimu."
To be continue…
Author corner :: reviewnya menurun dan saya gak tahu kenapa, saya udah coba selalu apdet cepet dan yang review bisa diitung jari. Padahal sebelumnya tuh gak kaya gini. Meski saya agak tertekan dengan keadaan ini, saya udah mencoba buat tetep lanjutin cerita ini. Buat yang selalu review dari chap 1 ampe chap 5 saya berterimakasih jadi curhat gini XD.
