My Lovely Dragon
Main Cast:: KrisTao/TaoRis (Wu Yi Fan – Huang Zi Tao)
Rated:: T
Genre:: Romance, Fluff, Hurt/Comfort (maybe)
Warning:: BOYS LOVE, SHOU-AI, Schoollife!AU, OOC, typo bertebaran, tidak sesuai EYD.
…
DON'T LIKE DON'T READ!
…
^^ HAPPY READING ^^
.
.
Pagar pembatas berbentuk jaring tersebut bergerak dan berdecit kecil ketika pemuda pirang menyandarkan punggung lebarnya disana. Duduk beralaskan keramik putih, kaki kanannya di selonjorkan sedangkan satunya lagi di tekuk. Dialah Wu Yi Fan atau Kris biasanya disapa. Kris mengedarkan pandangannya ke setiap sudut, atap gedung tua itu terlihat baik, sepertinya para pekerja sering menghabiskan waktu senggang disini hingga mereka merawatnya dengan baik. Sayup-sayup ia mendengar suara alat-alat berat yang digunakan para pekerja yang tengah bekarja menyelesaikan konstruksi jalan dibawah sana, lalu disusul suara teriakan tanda saling bekerja sama. Matanya menerawang keatas, mengikuti gerakan awan yang terarak mengikuti angin kearah barat. Begitu patuh awan-awan tersebut mengikuti angin.
Ada yang besar dan ada yang kecil, menggumpal menjadi bentuk-bentuk yang sulit ditebak, sangat indah. Langit biru sebagai backgroundnya, semakin mempercantik sang awan. Sebuah mahakarya yang sangat indah, perpaduan antara putih dan biru. Dua dunia yang berbeda tetapi ketika disatukan akan menciptakan warna baru, warna yang lebih cantik. Nampak pula burung-burung kecil dari timur berbaris rapi, mereka terbang mengikuti arah angin dibawah kawalan langit biru dan awan putih. Mereka tengah mencari tempat tinggal baru.
Senyum yang teramat sangat tipis mengembang di paras tampan itu setelah burung-burung kecil tadi berlalu. Terhibur melihat pemandangan tersebut. Helaian rambutnya yang terlihat mulai memanjang bergerak menampar parasnya dengan lembut tatkala angin sepoi-sepoi menyapu wajahnya. Tidak ada niat untuk memperbaiki rambutnya yang berantakan. Menarik sebatang rokok dari bungkusannya dan menyelipkannya diantara belah bibirnya, ia menarik pematik rokoknya lalu menghisap rokok tersebut dengan tenang. Hembusan pertama yang menguar dari bibirnya memberi sensasi tenang dalam dirinya.
Tak berapa lama setelah ia menghembuskan asap rokok dari mulutnya, Kris memejamkan kedua matanya. Angin sepoi-sepoi menyapu punggungnya, memberi sensasi dingin dibagian itu, menyenangkan. Sekiranya, bebannya sedikit berkurang karena sapuan sang bayu. Sepertinya ia akan berada cukup lama di tempat ini, menghilangkan segala perasaan menyebalkan yang ia rasakan akhir-akhir ini walaupun cuaca cukup dingin mengingat ini masih pertengahan musim semi dan terlebih ia berada dibagian paling atas bangunan tersebut.
"Yo!" Seseorang menyapanya dari pintu masuk. Matanya terbuka tapi tidak menoleh kearah sumber suara yang menyapanya berasal. Ia mengenal pemilik suara itu.
Decit pintu terdengar, menandakan bahwa sosok yang menyapanya telah menutup pintu kemudian disusul dengan bunyi sepatu yang bersentuhan dengan lantai. Sosok tersebut berjalan menuju kearahnya kemudian berdiri di hadapannya. Pemuda itu memakai kaus hitam tanpa gambar dan bawahannya celana montir dan sepatu boots sebatas pergelangan kaki berwarna coklat. Menyodorkan sebuah kaleng minuman padanya. Iris brownnya menatap sekilas pada sosok berkulit tan itu lalu tangannya meraih minuman kaleng beralkohol rendah tersebut tanpa mengucapkan terima kasih. Pemuda tan itu memakluminya, ucapan terima kasih dari sang naga tidak menjadi persoalan untuknya. Kris meletakan minuman tersebut di sampingnya, belum berniat untuk membukanya.
Pemuda tan itu mengambil posisi disamping Kris lalu membuka minuman kaleng yang dibawanya dan meneguknya perlahan.
"Sebuah keajaiban kau datang lagi ketempat kerjaku…" Kai, pemuda berkulit tan berujar dalam nada ketidakpercayaan. Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya, enam lewat lima belas menit. "… sepagi ini." Sambungnya disusul tawa ringan yang terkesan mengejek.
"Kau ingin membantuku lagi?"
"Tidak!"
"Hah? Lalu untuk apa kau kemari? Ah, Kau merindukanku, huh?" goda Kai membawa wajahnya di depan Kris lalu memainkan keningnya plus dengan senyum aneh di wajahnya. Kris menelponnya lima belas menit yang lalu, memerintahnya datang secepat mungkin ketempat kerjanya. Beruntung sekali ia tinggal di apartemen yang dekat dengan tempat kerjanya, jadi tidak perlu membuang waktu enam menit untuk sampai.
Kris balas menatap Kai dengan ekpresi datar, sangat datar hingga berhasil membuat pemuda tan itu merasa sedikit canggung. Perlahan Kai mengubah senyum anehnya menjadi tawa yang dipaksakan. Kepulan asap rokok yang dihembuskan oleh Kris tepat di depan wajahnya menjadi bonus setelah ia menarik wajahnya dari hadapan pemuda pirang itu.
Kai mundur dan terbatuk-batuk sambil memegang dadanya, berpura-pura sesak nafas. Berakting. Ia menyandarkan punggungnya disamping Kris. Menarik nafas dan menghembuskannya layaknya seseorang yang sedang sesak nafas, ia melakukannya begitu dan seterusnya seperti seseorang yang hampir mati.
"Kau bisa membunuhku dengan asap rokokmu, Kris," rajuk Kai memasang wajah seolah menahan sakit yang sangat teramat.
Kris menoleh kesamping kanannya, menatap Kai lekat-lekat. "Aku akan percaya jika kau bersedia melompat dari sini," nada serius itu tergambar jelas dalam ucapan Kris, berhasil membuat pemuda berkulit tan disampingnya menghentikan acara-sesak-nafasnya. Kai balik menatap kawan lamanya itu, tidak ada guratan canda di raut wajah dan matanya, semuanya begitu serius, dingin… dan menakutkan. Cukup membuat perasaannya sedikit takut.
Sebuah desahan kecil dari bibirnya memudarkan sedikit ketakutannya. Pemuda tan itu mengambil minumannya lalu meneguknya. Kris masih belum bisa diajak bercanda. Candaan sekecil tadi dianggapnya terlalu serius. Ia berpikir kalau Kris sudah bisa diajak bercanda mengingat cerita Chanyeol yang mengatakan jika Kris sudah mulai terbuka dan banyak tersenyum beberapa hari terakhir. Tapi nyatannya sang naga masih tetap sama seperti dulu. Dingin dan datar. Kai berdehem pelan lalu merubah posisi duduknya senyaman mungkin.
Selanjutnya tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua. Kris diam dan Kai pun ikut terdiam. Keduanya menyelam pikiran masing-masing. Kris kembali memejamkan matanya, membiarkan rokok yang dihisapnya semakin memendek. Sedangkan Kai mengambil minuman kalengnya dan meneguknya, kali ini sampai habis.
"Kau punya masalah?" Kai membuka suara.
Kris bergeming. Ia membuka matanya namun tidak membalas pertanyaan Kai. Ia hanya diam sembari mematikan rokok yang mulai memendek di lantai, lalu jemarinya mulai memainkan pematik silver berukiran naga miliknya. Kai mengangkat sebelah bahunya lalu kembali meneguk minuman kalengnya.
"Soal ayahmu?" Tanya Kai dengan nada serius, menebak. Dan ia menganggap bahwa tebakannya benar.
Berikutnya, Kris berhenti memainkan pematik rokoknya, belum menjawab. Ia meraih minuman kaleng yang yang dibawa Kai dan membukanya kemudian meneguknya perlahan. Kemudian meletakan kaleng tersebut kembali dan menatap lurus kedepan.
"Aku bertemu dengannya setelah enam tahun, dirumah mewahnya. Meminta pelayan pribadinya menemuiku dan memintaku bertemu dengan pria tua itu. Aku bertemu dengannya. Dia duduk dikursi roda di dampingi seorang perawat dan sebuah botol infuse. Ia terlihat menyedihkan. Sebelumnya aku berpikir jika pria tua itu ingin meminta uang dariku untuk istri tercintanya, tapi ternyata pikiranku salah. Ia malah bercerita tentang istrinya yang lari meninggalkannya bersama pria lain. Dan selanjutnya, meminta maaf atas semua yang dia lakukan padaku dan ibuku sebelum mati. Ironis," Kris tertawa, mengejek.
"Lalu… Kau memaafkan ayahmu?" tanya Kai ragu.
"Tidak! Tidak secepat itu aku memaafkan pria tua yang sudah menyakiti ibuku. Rasa sakit ibuku masih belum seberapa seperti yang dirasakan pria tua itu, terlalu jauh jika kau sandingkan. Aku ingin dia merasakan hal yang sama seperti ibuku alami," Kris mengadahkan kepalanya keatas, menatap kosong hamparan langit biru dan awan putih. Memutar kembali kejadian demi kejadian menyakitkan yang ibunya terima dulu ketika ia masih kecil. Bagimana ibunya menderita, membutuhkan suaminya disaat ia kesakitan karena penyakitnya. Bagaimana sakitnya ia ketika melihat ibunya menangis setiap malam. Bagaimana melihat ibunya dibentak. Bagaimana melihat ayahnya meninggalkan ibunya dan pergi bersama wanita lain. Dan bagaimana melihat ibunya masih tetap mencintai pria itu bahkan sebelum dewa kematian menjemputnya. Kris membenci pria itu. Ia membencinya, teramat.
Kai memperhatikan Kris, ia memang tidak mengenal baik Kris ketika mereka duduk di bangku sekolah dasar mengingat pemuda naga itu sangat menutup diri dan membatasi dirinya dengan siapapun yang berada disekelilingnya. Juga, wajahnya tidak pernah menunjukan ekspresi apapun, baik senang, sedih maunpun bahagia. Ekspresinya hanya satu…datar. Auranya juga berbeda dari kebanyakan anak semasanya dulu. Menyeramkan. Makanya tidak ada satupun yang mau berteman dengannya. Semua menjauhi Kris termasuk dirinya hingga mereka lulus. Namun ia menyadari sesuatu, dibalik tatapan dingin milik Kris ada guratan kesedihan yang besar disana.
Namun semuanya berubah menjadi semakin menyeramkan setelah Kris kembali dari Kanada setahun kemudian. Pemuda itu masuk ke sekolahnya, rambutnya berubah warna menjadi pirang hingga membuat ketua osis dan ketua kedisiplinan menyerah atas dirinya setiap kali mereka berhadapan dengannya. Bukan hanya itu, seluruh guru dibuatnya pusing dan sakit kepala karena sikapnya yang sering berkelahi, membolos dan membully siapapun yang tidak disukainya. Bahkan sering ada aduan dari murid perempuan kalau Kris suka melihat pakaian dalam mereka. Ia sering mengangkat rok murid perempuan dan melihat warna apa atau aksen apa yang mereka pakai ataupun memotretnya dan menyebarkan keesokan harinya. Setiap hari nama Kris tidak akan pernah absen diucapkan oleh satu sekolah. Memberi memori mengerikan pada setiap murid maupun guru, ia dijuluki troublemaker dan beast.
Dan mimpi mengerikan semakin menjadi ketika Kris masuk sekolah menengah pertama. Tidak bisa dihitung berapa jumlah kasus yang ia sebabkan di sekolah. Berkelahi dengan pelajar lain bahkan dengan senior, merokok di jam sekolah, dan seperti sebelumnya membolos. Bahkan Kris harus mengulang sekali di kelas satu karena terlalu banyak membolos.
Dan seiringnya waktu, ia dan Kris bertemu di Club Wolf milik Chanyeol. Chanyeol memperkenalkan Kris padanya, akhirnya mereka berteman dekat. Setiap hari ia, Chanyeol dan Kris menghabiskan waktu senggang di Club Wolf. Bermula dari situlah ia mengetahui kehidupan Kris yang ironis. Kesehatan ibunya, pengkhianatan ayahnya hingga Kris berlaku mengerikan setelah ibunya meninggal. Kehidupan orang kaya tidak seenak yang ia bayangkan, begitulah pikir Kai kala itu.
Kai tersenyum memaklumi. Ia tidak bisa berkata banyak karena tidak pernah merasakan hal serupa, tapi ia tidak beraharap untuk merasakannya. Keluarganya yang sekarang sudah sempurna, menurutnya.
"Kau dendam pada ayahmu?" tanya Kai serius. Ia ingin mengetahui perasaan Kris terhadap ayahnya.
Kris menghela nafas. Kemudian memainkan pematik silver miliknya. Suasanya tegang yang beberapa menit lalu mengitari keduanya menghilang tergantikan dengan suasanya santai. Membuat Kai sedikit bernafas lega, berada dibawah tekanan aura mencekam milik Kris membuat kinerja jantungnya kurang baik.
Kris berpikir sejenak, menimang jawaban yang tepat untuk pertanyaan Kai. Kemudian ia menjawab, jawaban yang sangat ambigu, jawaban tersebut membuat Kai tersenyum puas.
"Aku sempat berpikir jika dia bukan ayahku, semuanya tidak akan berakhir seperti ini. Tapi setelah memikirkannya, aku sadar didalam tubuhku mengalir darahnya. Menyebalkan tapi aku tidak bisa merubah takdirku menjadi anaknya," dan jawaban itu cukup meyakinkan Kai bahwa Kris tidak menyimpan dendam untuk ayahnya.
"Baguslah," ujar Kai bernafas lega.
Kris mengangkat sebelah alisnya, tidak mengerti. "Apanya yang 'baguslah'?
"Bukan apa-apa," jawab Kai kemudian berdiri dan meregangkan tubuhnya. Ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya, sudah saatnya ia bekerja. "Aku harus kembali bekerja. Kau juga harus pergi ke sekolah. Cepatlah berbaikan dengannya," lanjutnya sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan Kris seorang diri. Sebuah senyum mengembang di paras tampan sang pemuda tan.
Setelah punggung Kai benar-benar menghilang dari penglihatannya, Kris kembali menatap awan untuk terakhir kalinya. Karena setelah itu ia meninggalkan tempat tersebut dengan sebuah senyum yang sulit diartikan di wajahnya.
MY LOVELY DRAGON
Dalam ruangan minimalis yang hanya bercahayakan lampu tidur itu, seorang pemuda bertubuh cukup semampai berbaring menghadap jendela kamarnya. Surai hitamnya yang mulai sedikit memanjang terurai diatas bantalnya. Huang Zi Tao, nama pemilik kamar minimalis itu. Punggung kecilnya tampak menyedihkan bila dilihat lebih lama. Ia menarik selimut hingga menutupi punggungnya hingga telinga.
'Aku harus pergi ke sekolah, tapi sudah telat. Nanti orang-orang akan mengkhawatirkanku. Tapi aku takut tidak bisa bertemu Kris ge,' batin Tao berdebat dengan pikiran dan hatinya. Hingga nada dering dari ponselnya mengalihkan perhatiannya. Ia berbalik dan mengambil ponsel dari dalam tasnya yang berada tak jauh dari jangkauannya. Tao melihat ID sang penelfon, nomor baru. Tao mengubah posisinya menjadi duduk lalu menerima telfon itu.
"Tao, kau baik-baik saja?" tanya si penelfon setelah Tao menyentuh icon hijau di layar ponselnya.
"Kim Seongsangnim!?" panggil Tao tidak percaya. Suaranya meninggi namun terdengar lucu.
Mrs. Kim tertawa kecil. "Sepertinya kamu sehat,"
"Bagaimana secret diarynya?" Tao bertanya dengan nada pelan. Ia tidak begitu semangat menanyakan hal ini, mengingat kejadian semalam. Dan secret diary yang dimaksud adalah belajar bersama menyongsong ujian pertengahan semester nanti sebelum musim panas tiba. Entah apa tujuannya, Mrs. Kim selalu menamainya secret diary kerap kali ia berikan tugas kepada Kris dan Tao. Tao pernah bertanya alasannya namun Mrs. Kim menjawabnya rahasia sesuai namanya. Namun, ekspresi Kris semalam membuatnya sadar jika ia terlalu banyak membebani Kris. Ia sudah menyusahkan Kris, takut jika kedepannya ia akan semakin menyusahkan pemuda bermarga Wu itu.
"Kamu sendiri absen, selain kamu apa ada yang bisa membawa Kris ke sekolah?" goda Mrs. Kim dengan nada jenaka. Dan hal itu berhasil membuat putra tunggal Huang itu merona merah.
"Tapi mungkin Kris gege tidak suka membuat secret diary bersamaku," ungkap Tao tidak percaya diri. Dan setelah ucapan Tao, Mrs. Kim pun tertawa keras. Tao terpaksa menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Seongsang–"
"Mana mungkin tidak suka? Si binatang buas itu tidak mungkin menolak! Apa kamu tidak sadar, kamu sudah mengubah Kris…" Tao terpaku mendengar kata Mrs. Kim. Matanya membulat tidak percaya. Dan di dalam kamarnya ia mencoba mencermati kata-kata Mrs. Kim.
MY LOVELY DRAGON
Asap mengepul ke udara, bau sedap menguar dari dalam panci tembaga diatas kompor. Siapapun yang masuk ke dalam dapur ataupun sekedar melewatinya pasti akan mencium bau sedap tersebut. Nampak Mrs. Huang sedang mengaduk sup di dalam panci itu. Namun ada sesuatu yang berbeda darinya. Wajah cantiknya tidak memancarkan kebahagiaan, hanya sendu yang tergambar di paras cantik itu.
Lalu bunyi pintu depan berdecit kuat, barulah Mrs. Kim sadar dari alam bawah sadarnya. Ia segera berlari ke depan. Hanya mendapati pintu yang terbuka lebar.
"TAO!" teriak Mrs. Kim menyadari sepatu putranya menghilang dari rak sepatu. Ia berdiri di depan pintu sembari menatap kosong.
MY LOVELY DRAGON
Entah sudah berapa jauh Tao berlari dari halte bus yang membawanya. Ia mulai lelah. Sesekali terbatuk-batuk dan nafasnya mulai tidak teratur, sering terputus-putus dan membuat dadanya sesak. Beberapa pejalan kaki melempar tatapan khawatir dan adapula yang terkejut. Ia ingin berhenti tetapi hati dan kakinya menolaknya. Ia harus bertemu Kris, secepatnya. Perkataan Mrs. Kim beberapa menit lalu terus terngiang di pikirannya.
"… Dia tadi datang ke sekolah tapi karena kamu tidak datang, dia pulang. Kalau tidak suka secret diary, dia pasti akan menolaknya. Karena dia tidak menolaknya, kamu sudah tahu jawabannya, kan? Dia berada di distrik gangnam jika kamu ingin bertemu dengannya,"
Deru nafasnya memburu, membuat kepulan asap menyeruak dari mulutnya, menandakan suhu sangat dingin. 'Kenapa aku berlari? Padahal Kris ge selalu melontarkan ucapan dingin dan ekspresi garang dan dingin padaku…' Tao membatin. Punggungnya yang kapan saja bisa rapuh itu terlihat tegap, seperti ada kekuatan disana. Langkah kakinya tidak mau berhenti sebelum tiba disana, menemui pemuda itu. Walau mereka nampak lemah dan terlihat bergetar namun sebuah harapan dan cinta menguatkannya. Tinggal sedikit lagi.
Tao melihat punggung itu. Ternyata benar ia bekerja disana. Pada hari itu setelah pulang dari rumah sakit dan melewati jalanan ini, memang benar yang ia lihat itu tidak bukan ialah Kris. Dia berdiri disana, menggunakan kaus hitam dan celana panjang. Ia baru saja meletakan dua sak semen, tampak kotor seperti waktu itu tetapi masih terlihat mempesona. Ia menggerakan kakinya semakin cepat.
'Tapi kebenaran dibalik semua itu, ada kata-kata tersembunyi.'
Langkah Tao semakin mendekati pemuda itu berada. Ia melihat seseorang memanggil Kris dan menunjuk kearahnya. Pemuda berkulit tan itu memberitahukan keberadaannya pada Kris. Kris menoleh.
Tao berhenti..
'Aku ingin tahu perasaan Kris ge yang sesungguhnya!' Ia berdiri di depan Kris. Mereka bertemu. Iris hitam dan iris coklat bertemu, saling memandang. Tao memegang baju depannya, gugup. Kris menatap Tao dengan ekspresi terkejut.
"Aku…" Tao mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. "…ingin bicara dengan Kris gege," tegas Tao diantara deru nafasnya.
Beberapa pekerja di sekitar mereka bersiul dan menggoda. Keberanian Tao beberapa menit lalu hancur setelahnya. Wajahnya merah merona saat Kai dan beberapa pekerja lainnya berbisik-bisik.
"Itu pacar Kris,"
"Apa dia terlalu manis untuk Kris?"
"Tidakkah Kris dan pacarnya terlihat jauh berbeda?"
"Seperti sang naga yang siap memangsa sang panda,"
Dan beberapa dari mereka bersiul menggoda kedua pasangan itu. Tao menjadi salah tingkah dan ahirnya menyembunyikan rona merah wajahnya dengan menunduk, sedangkan Kris mengirim deathglare kepada Kai dan pekerja lainnya hingga mereka bubar dan melanjutkan pekerjaan yang tertuda.
Demi kenyamanan dan keamanan Tao, Kris membawa Tao masuk keruangan penyimpanan barang-barang para pekerja. Ruangan itu tersambung dengan jalan menuju atap gedung, menggunakan tangga darurat.
Tao memperhatikan kiri dan kanan, atas dan bawah dari ruangan itu. Ruangannya cukup gelap, mengingat ruangan tersebut minim cahaya. Dan banyak sekali barang-barang milik para pekerja. Dibelakangnya ada Kris yang sedang mengambil jaketnya yang tergantung dan memakainya, tidak menyadari jika Tao menghilang.
"Mau bicara apa?" Sang lawan bicara tidak merespon pertanyaan Kris. Dan Kris baru menyadari setelah memakai jaketnya. Tao tidak bersamanya.
Selanjutnya yang ia dengar ialah derap langkah kaki menaiki tangga. Kris berbalik dan menemukan Tao sedang menjejaki tiap anak tangga.
"Hei, kau mau naik keatas?" tanya Kris tidak percaya. "Kamu tidak cukup kuat! Kalau pingsan nanti, aku tidak akan mengantarmu pulang," Tao tidak menjawab. Ia terus menaiki anak tangga, walaupun ia sudah kelelahan dan nafasnya putus-putus.
"Aku mau…" jeda. Tao menarik nafas dalam sebelum melanjutkan, "…Aku mau naik keatas sendiri!" Kemudian lanjut menaiki anakan tangga. Kris berada paling bawah, berdiri dengan ekspresi kehilangan kata-kata. Tao baru melewati lima tangga dan nafasnya mulai memburu seperti itu. Bagaimana ia melewati anak tangga sebanyak ini?
"Terserah kamu!" marah Kris lalu berbalik hendak meninggalkan Tao. Lalu sesuatu menahannya hingga ia berdiri dalam diam di posisi itu.
"Menyebalkan!" kata terakhir sebelum ia berlalu.
MY LOVELY DRAGON
BRAK!
Tao membuka pintu penghubungnya dengan atap gedung. Mulutnya menyerukan, "Wuah~" sesaat setelah tiba disana. Ia melihat pemandangan kota dari atas yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan seumur hidup. Sangat indah. Tidak berlangsung lama pemuda panda itu merasa takjub melihat pemandangan kota, karena selanjutnya ia terbatuk-batuk dan sesak nafas.
"TAO!" Pemuda pirang itu datang, memanggil namanya dengan wajah khawatir dan nafas memburu. Tao berbalik. Matanya membulat melihat Kris berdiri diambang pintu. Ia mengira Kris meninggalkannya.
Ia senang Kris mengikutinya.
Mengumpulkan keberaniannya, Tao berteriak, "Aku mencintai Kris gege!" dengan tegas dan jelas.
Kris berdiri didepannya, terpaku dan terkejut. Otaknya mencerna kembali pernyataan cinta sang panda di depannya. Mereka saling berpandangan. Angin sepoi-sepoi bertiup memainkan helai demi helai rambut mereka dan syal milik Tao.
"Mung… Mungkin pengakuanku hanya menyusahkanmu. Tapi, aku… aku tidak bisa menahan perasaan ini lebih lama lagi," Tao meramas kuat jaket bagian dadanya. Perasaan yang tak terbendung berapa besar rasa itu pada sosok di depannya. Ia ingin menangis sekaligus bahagia karena bisa mengungkapkan perasaan yang sudah tertahankan itu. Lalu ia memutuskan untuk tersenyum bahagia. "Aku ingin tahu perasaan Kris gege, jadi…" ucapannya terputus. Sebuah lengan kekar menariknya dan membawanya kedalam sebuah pelukan.
"Sudah kubilang, jangan tunjukan wajah seperti itu lagi!" Perintah itu bersamaan dengan kedua lengannya yang melingkar di pinggang dan punggung Tao. Mengurungnya dalam kungkungan sang naga.
Mata Tao membulat ketika tubuhnya terkunci diantara lengan Kris. Ia terkejut hingga tidak mampu bergerak.
"Aku sudah membiarkanmu lari, kenapa masih kembali? Pasti aku hanya bisa menyakitimu!" gumam Kris. Pelukan Kris semakin erat. Tangan kirinya memeluk pinggang Tao sedangkan tangan kananya bergerak di belakang kepala Tao, membawanya menempel di dadanya.
'Menyakitiku?' tanya Tao dalam hati, ia tidak mengerti.
Padahal Kris sama sekali tidak menyakitinya. Dari suara yang gemetar itu dan tangannya yang hangat memeluknya, terasa kelembutan hati yang tulus disana.
Tao tersenyum. Krisnya sama sekali tidak menyakiti dirinya. Justru menyayangi dan melindunginya. Tidak mampu berucap, hanya kedua tangannya yang bergerak dan balas memeluk Kris, meremas jaket yang dipakai pemuda itu. Meremasnya kuat dan sangat kuat, meluapkan perasaan cinta dan kebahagiaan yang ia rasakan.
Dan Kris merasakannya, merasakan genggaman kuat di baju belakangnya. Tangan Tao mencengkram kuat bajunya, membalas memeluknya. Ia tersenyum tipis dan membawa Tao semakin merapat pada tubuhnya.
Angin musim semi menjelang senja, naga lembut tak bercakar memeluk sang panda dengan erat.
.
.:Be Continue:.
.
Side Story:
Ketika Tao pertama kali melihat Kris bekerja hingga bagaimana ia menemui Kris di chapter 6
Bintang-bintang tersebar di langit malam, bulan menggantung indah bagaikan bola cahaya. Mobil sedan berwarna hitam baru saja keluar dari rumah sakit. Melaju sedang membawa tuan muda dan nyonya di dalamnya. Jalanan distrik gangnam sedikit macet dikarenakan sedang ada konstruksi jalan. Nampak para pekerja jalan sedang bekerja di sisi kanan.
"Kalau lelah, jangan memaksakan diri. Akhir-akhir ini kamu pergi ke sekolah dengan wajah riang. Wajahmu juga cerah, Mama jadi tidak cemas. Ternyata…"
"Aku mengerti, Ma," potong Tao. Ia menekuk lututnya dengan wajah sedih. Ia masih menyusahkan ibunya. Membuatnya mengingat wajah dan perkataan Kris. "Kau hanya menyusahkanku!" Kata-kata itu menjadi pukulan telak untuknya, bagai dihantam sesuatu yang keras. Ia memang hanya menyusahkan orang-orang disekitarnya. Karena badannya sakit-sakitan makanya ia hanya bisa menyusahkan.
"Nyonya di depan sana ada konstruksi jalan. Tidak keberetan tetap lewat sini?" Suara Taecyeon membuat Tao mengangkat wajahnya, ingin melihat para pekerja yang sedang berkerja.
"Iya lewat sini saja!" balas Mrs. Huang sembari memperbaiki selimut hangat disekitar bahu Tao.
Tao memandang keluar jendela, mengamati setiap gerak-gerik diluar sana. Hingga siluet sosok yang dikenalnya ditangkap perglihatannya. Sosok itu memakai baju putih tanpa lengan dan celana hitam seperti yang sering dipakai montir. Cuaca cukup dingin tetapi sepertinya tidak berpengaruh untuk lelaki itu. Karena ia sedang memikul dua sak semen dengan kondisi baik-baik saja. Dia Wu Yi Fan.
Mata Tao membulat. Ini pertama kalinya ia melihat Kris melakukan pekerjaan seperti itu. Kris meletakan dua sak semen itu ke tanah lalu menyeka keringatnya dengan punggung tangannya. Kemudian ia tersenyum–lebih menyerupai seringai–ketika temannya melempar sebotol air mineral padanya. Tao ingin menemui Kris. Ia membuka pintu mobil hendak keluar namun sayangnya, ibunya segera memegang lenganya, mencegat dirinya untuk keluar. Jalanan yang macet menjadi alasannya. Ibunya khawatir bagaimana jika ada motor yang lewat dan menabrak Tao ketika ia tiba-tiba keluar. Lalu sedang ada perbakan jalan. Untuk saat ini, keadaanya tidak memungkinkan Tao untuk keluar. Tao menurut dan hanya bisa melihat Kris dari balik kaca mobilnya.
'Apa aku salah liat? Mungkin iya, karena terlalu memikirkannya. Dia menganggapku menyusahkannya. Aku tidak pernah dibentak seperti itu.'
…
Side story END
…
Author Note:: 1) Maaf jika terlalu lama menunggu. 2) Jika terjadi kesalahan di dalam penulisan saya meminta maaf. 3) Maaf jika ceritanya terlalu membingungkan.
Antisipasi:: Jika nanti ada yang bertanya-tanya mengapa Kris berkerja di tempat kerja Kai sedangkan dia punya banyak uang? Jawabannya akan ada di chapter-chapter berikutnya.
.
BIG THANKS TO::
Fallforhaehyuk, diahuang91, MademoselleBabys, Al-phabet Di, Christal Alice, Ahjumma Kece, rannie wu, Kirei Thelittlethieves, devimalik, anodecano, junghyema, andhini taoris, ajib4ff, AnjarW, Kiyomi Fujoshi, peachpetals, Xyln, Brigitta Bukan Brigittiw, oraurus, cute voodoo, CY Destiny, dhiraad, Guest 1, Guest 2, Tara Fujitatsu, Ye0ja, awlia, Andhini010196, zee Konstantin, Squishysoo, Yuyuchan EXO, arvita kim, mifta chintiasalsabilla, baby tao lovers, arr, kimchiSeungyub, Guest 3, ShadowCrush, AvyanaD, ulfardiya, Haru3173, LVenge, UtariLA, sukha1312, Zillian Huang, uknow69.
