Naruto © Masashi Kishimoto
Suara gemericik air memang sarat akan ketenangan. Tapi bukan suara air yang berjatuhan itu yang membuat Naruto sedari tadi terdiam. Sebenarnya, dulu, dulu sekali atau tepatnya sebelum dia bertemu orang di sampingnya ini, dia adalah tipikal orang yang berisik.
Berisik seperti suara air ini, dan tidak bisa diam seperti alirannya.
Sasuke sendiri orang yang menyukai ketenangan. Namun ketenangan seperti ini termasuk yang dia benci. Bukan salahnya Naruto terdiam sejak pertama mereka tiba di tempat ini.
Bahkan Naruto tidak bicara sama sekali selama 20 menit yang mereka lewati di mobil, dan sepuluh menit sejak mereka tiba di sini.
Suara gemericik air itu semakin terasa mengganggu bagi Sasuke. Suaranya seperti mengejek.
Mengejeknya yang tidak bisa membuka pembicaraan, tidak seperti si air yang bebas berjatuhan menimbulkan suara berisik dari ketinggian sana dan mengalir sesuka hatinya, menjengkelkan.
Tapi, sekalipun Naruto terdiam, Sasuke tahu dia sempat takjub saat tiba di air terjun yang pernah diceritakan Orochimaru ini. Begitupun dengan dirinya sendiri, siapa sangka di tengah hutan yang tidak cukup lebat ini ada sebuah air terjun tersembunyi, seolah tidak pernah terjamah.
Belum lagi di luar hutan ini, tepat di mana Sasuke memarkir mobilnya. Ada hamparan luas bunga liar yang berwarna-warni. Dia yakin melihat Naruto tersenyum saat itu. Tidak sadar dia juga tersenyum mebayangkannya.
"Begitu lebih baik."
"Hn?"
"Aku bilang begitu lebih baik."
"Apanya?"
Sasuke jadi terlihat seperti orang bodoh sekarang.
"Lupakan."
30 detik berlalu sebelum Sasuke menyeringai, "Senyumku, eh? Jadi kau memperhatikanku."
"Aku hanya tidak sengaja menoleh."
"OH?"
"Ya."
Hening lagi.
"Kenapa?"
"Apanya?"
"Kenapa kau mau menikahiku?"
"Apa kau masih butuh alasan?" Sasuke memutar bola matanya bosan.
"Tentu. Aku tidak mau ini semua hanya karena ayahmu dan reputasimu saja."
"Bukan."
Sasuke berpikir keras, apa alasannya mau jauh-jauh datang kemari dan menemui Naruto? Terlebih lagi apa alasannya mau menikahi Naruto? Alisnya bertaut, takut-takut dia salah bicara dan akhirnya si pirang tolol ini akan berlari menjauhinya lagi.
"Kau tahu Sasuke, aku ini laki-laki."
"Aku tidak tahu kau sebodoh itu."
"Gah! Bukan begitu! Jangan potong ucapanku, brengsek."
"Hn."
Mata birunya menatap ke bawah, ke arah sandal khas rumah yang dipakainya. Si brengsek ini bahkan tidak mengijinkannya memakai sepatu tadi. Berpikir sejenak, merasa ragu mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan.
"Aku—"
"Hm?"
"Takut."
"..."
"Aku takut pada apa yang akan terjadi padaku nanti. Apa—apakah aku sanggup melahirkannya atau tidak. Apakah aku sanggup membesarkannya, apakah aku bisa membahagiakannya, ap—apa yang harus kujawab saat dia bertanya siapa ayahnya?"
Naruto tersedak ludahnya saat akan mengutarakan pertanyan terakhir. Pertanyaan yang sukses menohok hati Sasuke.
Tapi, dia tetap diam. Tidak ada pelukan ataupun usapan yang mampu menenangkan pemuda di sampingnya. Dia hanya terdiam. Tubuhnya seolah kaku.
Pada dasarnya dia bukanlah seorang homoseksual atau apapun orang menyebutnya. Dia sendiri tidak sadar ketika dia mengusap pipi kenyal Naruto saat pertemuan terakhir mereka. Mungkin karena noda hitam di wajahnya?
Tidak, tidak. Tidak ada noda apapun disana. Harus dia akui tangannya bergerak sendiri saat itu. Dan sekarang kemana perginya ketidaksadarannya waktu itu.
Harusnya sekaranglah saat yang tepat, dimana dia akan memeluk Naruto dan mengucapkan kata-kata penenang yang bekerja dengan baik pada tiap wanita.
Tapi, Naruto bukan wanita. Naruto bahkan tidak menangis saat ini. Jadi untuk apa dia memeluknya.
"Kau tahu aku bisa diandalkan, Dobe."
Akhirnya! Demi tomat yang segar! Sauke berhasil bersuara sekarang, dan Naruto terkekeh di sebelahnya.
Dan 20 menit berikutnya berlalu dengan satu dua pertanyaan tentang perjalanan Sasuke ke Oto dan pertanyaan-pertanyaan kecil mengenai keluarga masing-masing.
Well, mereka belum mengenal satu sama lain dengan begitu baik.
Dan, menit berikutnya, dan berikutnya berlalu membuka awal yang indah di hari yang indah.
Saat Sasuke tersenyum kecil sebelum menghilang di balik pintu mobil mewahnya, dia tahu wanita-wanita di balik jendela Horizon terkikik pelan. Hal biasa, menurutnya.
Lambaian tangan kecoklatan itu mengiringi deru pelan mesin mobilnya.
Kurenai tersenyum penuh arti ketika menyambut Naruto di meja makan. "Hari yang indah. Ne, Naruto-kun?"
Naruto bersemu. Hanya sedikit, sebelum dia tertawa pelan.
"Yeah, dia tampan." Jawabnya asal.
"Sangat, onii-chan. Sangat tampan!"
Senyuman tak lepas dari wajah Naruto saat mendengar penuturan jujur Sasame yang tiba-tiba muncul dengan setelan gaun tidur merah mudanya—yang terlalu cepat diganti sepertinya.
"Dia akan langsung kembali ke Konoha?"
"Sepertinya. Dia punya rapat penting katanya."
"Super sibuk. Pasti melelahkan. Bukannya butuh sepuluh jam untuk bisa sampai di Konoha?"
"Um.. Yeah." Jawab Naruto kikuk. Pertanyaan Sasame tadi malah semakin membuatnya gugup.
Hell. Kenapa dia harus gugup? Sasuke bahkan tidak ada di sini. Sekalipun dia ada, Naruto tidak punya alasan untuk gugup bukan?
Ceh! Naruto menertawai dirinya sendiri, dalam hati tentunya.
"Aku rasa dia pria yang baik."
Naruto terdiam mendengar suara lembut Chiyo.
Dia menoleh dari piring kosong di hadapannya ke arah Chiyo yang menarik salah satu kursi di sisi kanan meja makan itu.
"Betul! Dia bahkan rela jauh-jauh hanya untuk meihat Naruto-nii."
"Hahaha" Chiyo tertawa pelan mendengar perkataan si bungsu di keluarga mereka.
Moegi tersenyum sebelum menarik kursi di samping Naruto. "Ne, niichan, apa kau akan menikah dengan Sasuke-san?"
Naruto menggaruk pelipisnya. Sebelum menuang nasi ke dalam piringnya. Bingung harus menjawab apa. Jika dia menjawab 'iya' dia sendiri bahkan belum yakin dengan Sasuke. Tapi jika dia harus menjawab 'tidak' ada sesuatu yang aneh. Seolah dia tidak mau mengucapkan kata 'tidak'.
Lucu. Sangat lucu.
"Lihat saja nanti, Moegi-chan. Plihan Naruto-kun pasti yang terbaik. Sekarang lebih baik kau juga memilih makanan yang akan kau habiskan."
Ah, Kurenai memang penyelamat. Naruto bernapas lega sebelum menikmati suapan pertamanya malam itu.
Siang itu Naruto sedang berdiri bersama beberapa orang di luar stasiun kereta Oto. Butuh empat jam perjalanan dengan bus dari Horizon untuk sampai di tempat ini.
Sasuke menghubunginya kemarin malam, sekaligus mengajaknya untuk makan malam bersama. Lebih tepatnya Mikoto, ibu Sasuke yang tidak sabar melihat Naruto dan kandungannya yang sudah berusia hampir 16 minggu.
Berarti, dia sudah hampir sebulan lamanya tinggal bersama keluarga barunya di Horizon. Awalnya dia sendiri agak ragu untuk menginjakkan kakinya di Konoha. Takut dia akan bertemu dengan teman kampusnya.
Jujur saja, dia masih bingung apa yang harus dikatakan pada teman-temannya saat mereka bertemu lagi. Mungkin setelah makan malam di rumah Sasuke, dia akan mengunjungi rumahnya dan tentu bertemu Gaara walau hanya sebentar. Dia ingin bertanya sedikit tentang keadaan kampusnya.
Gaara memang agak sibuk akhir-akhir ini. Hanya ada sekali bicara dalam seminggu dengannya. Ini hari Sabtu, harusnya dia ada di rumah.
Jika memang terpaksa Naruto mungkin akan menginap di rumahnya dan kembali ke Oto esok harinya.
Ya, semoga.
Naruto melirik jam berwarna hitam yang melingkar di tangan kirinya—
12:20 AM
Sebentar lagi Sasuke mungkin akan sampai. Sebenarnya dia ingin berangkat sendiri ke Konoha. Karena untuk sampai di sana, dia hanya butuh menempuh enam jam perjalanan lagi dengan kereta di stasiun ini.
Tapi dasar si Sasuke keras kepala, dia memilih untuk menjemput Naruto di stasiun ini sendiri. Setidaknya Naruto bersyukur karena dia tidak lagi menjemputnya langsung ke Horizon. Akan sangat melelahkan baginya.
Naruto terkekeh, sejak kapan dia mulai khawatir pada orang brengsek itu.
"Kau seperti orang gila."
Naruto mendecih sebelum mendahului Sasuke menyeberangi jalan, menuju mobilnya.
"Terima kasih." Ucap Sasuke saat dia baru memasuki mobilnya. Naruto sudah duduk manis di sampingnya.
"What for?" Ujarnya sok English.
"Menerima undangan ibuku."
"Tentu, lagipula—aku juga rindu pada orang tuaku."
"Oh, baguslah. Kau sudah mulai rindu. Jadi kau bisa pulang secepatnya."
"Tidak secepat itu."
"Lalu sampai kapan?"
Deru mesin mobil Sasuke memecah jalanan yang cukup lengang itu.
"Sampai aku melahirkan, mungkin?"
"Tidak—" Potong Sasuke cepat. "Hanya sampai aku bisa meyakinkanmu." Lanjutnya
"RALAT. Hanya sampai kau bisa yakin pada dirimu sendiri. Yakin pada pilihanmu untuk menikahiku." Potong Naruto tak mau kalah.
"Aku sudah yakin." Jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari arus lengang di hadapan mereka.
Ini bukan lelucon, sekali lagi Sasuke yakin dia bukan penyuka sesama jenis seperti yang menjadi tren sekarang. Tapi entah mengapa dia seolah mantap untuk menjalani masa depannya dengan Naruto.
"Benarkah? Aku terharu." Naruto mengejek.
"Hn."
Naruto sendiri merasa seperti orang bodoh saat Mikoto dengan mudahnya merebut telepon dari Sasuke dan mengajak—memohon dengan sangat—agar dia mau datang ke kediaman Uchiha. Tentu saja dia tidak enak menolak. Karena Fugaku juga ada di sana saat itu.
Meski dia tidak bicara, Naruto mendengar Mikoto bertanya pendapat Fugaku tentang makan malam bersama itu. Cukup dengan "Hn." Andalan Uchiha, Naruto tidak bisa menolak lagi.
Ini pasti karena hormon, makanya dia jadi lemah begini. Atau mungkin saja ini adalah keinginan anaknya. Yeah, mungkin. Terus saja mencari zona amanmu sendiri, Naruto.
Orang hamil memang merepotkan.
"Kenapa kau tidak bilang akan kemari?" Kushina membersihkan aliran haru di hidungnya dengan tissue.
"Yeah, hanya ingin memberikan kejutan sedikit untuk ibu dan ayah."
Mereka tiba di Konoha 15 menit melewati pukul enam sore. Terjadi perubahan rencana, mereka yang awalnya akan langsung menuju mansion Uchiha malah berubah haluan ke arah kediaman Namikaze.
Sasuke mendengus saat mendengar Naruto hampir merengek meminta diantar ke rumahnya lebih dulu. Kemana perginya sosok 'aku ini laki-laki' Naruto?
Sepertinya dia betul-betul berhasil merubah Naruto menjadi wanita.
"Kau berhasil. Kami sangat terkejut." Minato tersenyum pada anaknya yang seolah tidak mau lepas dari ibunya.
Sejak mereka tiba, yang Naruto lakukan cuma menempel pada Kushina.
Pun ada Gaara yang sudah di sana sejak 15 menit lalu. Memandang risih ke arah Naruto versi sedikit manja di hadapannya.
"Oh iya Sasuke, kau sudah memberitahu Mikoto-san?" Lanjut Minato.
"Sudah. Dia akan menunggu."
Entah kemana perginya dendam Minato pada Sasuke. Toh bekas lukanya sudah hilang. Sepertinya mereka berdua sudah melupakan kejadian hampir tiga minggu lalu itu.
"Gaara, bagaimana keadaan kampus?" Naruto bertanya pada Gaara yang merasa tak dianggap itu.
"Sibuk menjelang tahun ajaran baru dan ujian semester tentunya."
"Ah, pantas saja kau melupakanku."
Gaara meringis, Naruto terlihat mengerikan dengan wajah sok sedih yang menjijikkan itu.
Tak ada respon, dia bertanya lagi, "Lalu, bagaimana dengan teman-teman?"
"Aku bilang kau ada urusan pribadi dan mungkin akan kembali tahun depan."
"Hanya itu?" Jelas sekali kalau Naruto tidak cukup puas.
"Tentu saja tidak. Mereka awalnya memaksa ingin tahu kau kemana, tapi aku tidak mengataka apa-apa."
"Mengenai izin, jangan khawatir, ibu sudah bicara pada Ibiki-sensei untuk cutimu." Kushina memotong, mencoba sedikit menghibur Naruto.
"Jadi kau bisa melanjutkan kuliahmu tahun depan." Imbuh Minato, tidak mau kalah menyemangati anak sematawayangnya.
"Arigatou, ibu, ayah, dan untukmu, Gaara." Naruto tersenyum lega. Setidaknya masalah pendidikannya sudah diatur dengan baik oleh keluarganya.
Tentu saja Naruto masih berpikiran seperti anak seumurannya—ingin melanjutkan pendidikan.
"Ehem!" Sasuke berdehem pelan. "Jadi bagaimana kalau kita pergi sekarang, sudah jam tujuh lewat. Kalian tentu diundang juga, Minato-san, Kushina-san, dan Gaara."
"Eh? Benarkah? Baguslah kalau begitu, kita bisa memperbaiki semuanya dari sekarang." Kushina tersenyum lebar.
Minato mengangguk sebelum beranjak dari sofa empuknya, diikuti Kushina. "Baiklah, kalau begitu sebentar, kami akan ganti baju dulu."
"Ini jadi seperti pertemuan keluarga, Sasuke." Kata Naruto saat orang tuanya sudah menapaki tangga.
"Hn. Memang."
"Maksudku bukan pertemuan biasa, tapi seperti pertemuan keluarga sebelum menikah, kau tahu."
"Memang itu harapanku."
Naruto geram. "Siapa bilang aku mau menikah denganmu, Baka?!"
"Naruto, jangan suka marah-marah! Tidak baik untuk bayimu." Kushina berujar dari lantai atas.
"Lagipula tidak ada salahnya kalau kita berkunjung, sekaligus untuk memperbaiki hubungan kita dan keluarga Uchiha." Suara Kushina semakin mengecil tertelan pintu kamarnya di lantai dua kediaman Namikaze ini.
Sasuke yang mendengarnya menyeringai.
"Kau dengar itu. Dobe?"
"TEME! SASUKE!"
Gaara tersenyum kecil. Merasa lega sedikit demi sedikit masalah yang dialami Naruto mulai menemukan titik terangnya.
Langkah pertama Naruto di mansion Uchiha tiba-tiba membawa ingatan saat pertama kali dia di sini. Ada perasaan sedih menyusupi hatinya. Sasuke di sampingnya menepuk pelan bahunya.
Pintu besar dengan ukiran rumit di hadapan mereka terbuka, menampakkan Fugaku Uchiha dan Mikoto Uchiha yang menyambut tamunya secara langsung. Hal yang jarang sebenarnya.
Bibir Naruto tersenyum kaku pada kedua Uchiha di hadapannya. Mikoto yang pertama maju, memeluknya dan bertanya bagaimana kabarnya.
Merasa terpanggil, Minato maju selangkah mengulurkan tangan pada Fugaku dan tersenyum tipis saat dia mendapatkan balasan yang hangat.
"Terima kasih sudah mau berkunjung." Fugaku kemudian bersuara dan mempersilahkan tamunya.
"Justru kami yang berterima kasih sudah diundang kemari." Balas Minato.
Sasuke dan Gaara hanya terdiam, mereka berjalan di belakang Mikoto dan Kushina yang tidak hentinya berceloteh tentang kehamilan pada Naruto.
Baik Mikoto maupun Kushina bertukar pendapat layaknya tak ada masalah sebelumnya di antara dua keluarga ini.
Saat mereka akan berbelok ke arah ruang makan, pandangan Naruto tertumbuk pada sofa, vas raksasa, tangga dan pintu kerja Fugaku. Semua itu mengingatkannya pada saat pertama.
Dimana dia duduk di sofa coklat sambil bersembunyi dibalik vas bunga raksasa itu. Bersembunyi dari Sasuke yang menapaki tangga di sampingnya.
Dimana Fugaku membanting pintu ruang kerjanya dan semua pertengkaran itu pun dimulai.
Naruto menggeleng pelan, dulu ya dulu. Sekarang dia harus menghadapi kenyataan yang setidaknya jauh lebih baik.
Sebelum mereka mulai menyantap makanan lezat di hadapan mereka, Minato membuka suara.
"Aku juga ingin meinta maaf atas kejadian kemarin, tidak sopan menuduh bahkan memukul anak kalian."
"Kami juga meminta maaf, lebih baik kita lupakan saja masalah kemarin. Toh kita sudah di sini sekarang."
"Ya, tentu." Minato tersenyum tipis sama halnya dengan Fugaku.
"Lebih baik kita bicarakan saja masalah pernikahan mereka, iya kan, Naruto-kun?"
Uhuk!
Naruto menegak air sebanyak yang ia bisa. "Eh?! Kenapa, nak? Pelan-pelan saja." Kushina mengelus pelan punggung Naruto.
"Gomen, apa aku salah bicara, Naruto-kun? Jangan bilang Sasuke bahkan belum melamarmu secara romantis." Mikoto mendelik ke arah Sasuke yang tampak tenang menikmati makanannya.
Baik Minato maupun Fugaku memilih diam kalau sudah menyangkut masalah cinta. Toh sudah ada istri mereka masing-masing.
"Sudah, ibu. Dia menerimanya." Jawab Sasuke seenaknya.
Andai saat ini hanya ada mereka berdua di sana, pasti sudah dipastikan satu atau dua pukulan mendarat di wajah mulus Sasuke.
"Kapan aku menerimanya?"
"Kau mau aku mengulangnya?"
"Berapa kalipun kau ulang tak akan kuterima."
"Ehem!" Fugaku berdehem meminta perhatian. Kalau sudah begini, dia sebagai tuan rumah harus turun tangan.
Di samping Kushina, ada Minato yang melirik tajam anaknya. Seolah berkata dimana-tata-krama-mu-Namikaze.
"Maaf." Naruto tertunduk sesaat. Sasuke cuek seperti biasa.
"Tak apa, lebih baik selesaikan makan kalian. Masalah pernikahan itu adalah hak kalian. Kami hanya mendukung sepenuhnya keputusan kalian. Bukan begitu, Minato?"
"Tentu saja. Toh kalian sudah cukup dewasa."
Sasuke dan Naruto kemudian terdiam seperti Gaara yang dari tadi dengan khidmat menikmati makanannya.
Saat ini Naruto sedang asik memandangi dirinya pada cermin di kamarnya. Perutnya sudah mulai terlihat buncit, sedikit.
Kurenai masuk sambil menggendong bayi mungil berambut hitam bersamanya. Tepat sehari setelah Naruto kembali dari Konoha, Kurenai berhasil melahirkan anak pertamanya dengan selamat.
Sudah hampir dua minggu sejak pertemuan keluarga mereka, dan Naruto meminta waktu sedikit lagi pada orang tuanya, setidaknya sampai Kurenai melahirkan anaknya. Naruto ingin melihat bagaimana wanita yang selalu mendukungnya mendapatkan salah satu kebahagiaan hidupnya.
Sekalipun semua sudah lebih baik sekarang, tapi Naruto merasa agak berat meninggalkan Horizon. Setidaknya di sini dia bisa belajar banyak hal. Namun, dia juga merasa kasihan pada ibunya dan ibu Sasuke yang tidak hentinya menghubungi dirinya.
Juga Sasuke yang tiap dua kali seminggu akan hadir di teras Horizon dan menghabiskan satu atau dua jam di sana sebelum kembali lagi ke Konoha. Dia tahu Sasuke sangat sibuk dan dia tidak mau merepotkannya.
Karena berapa kalipun Naruto melarangnya, Sasuke tak akan peduli dan akan terus mengunjunginya sampai dia betul-betul mau kembali ke Konoha, dan yeah, menikah dengan Sasuke.
Naruto jadi merasa tidak ada lagi gunanya dia tinggal di Horizon selain membebani keluarganya, dan merepotkan penghuni Horizon. Toh Sasuke sudah tahu dia dimana, bahkan Mikoto tahu nomor telepon Horizon.
Dia merasa bosan mendengar celotehan ibunya dan ibu Sasuke yang bergantian menghubunginya.
Tadi pagi, dia bahkan sudah ditanyai hal yang sama selama tiga kali minggu ini oleh ibunya dan Sasuke.
'Kapan kau akan pulang, Kurenai sudah melahirkan bukan?'
Dan Naruto terpaksa menjauhkan telepon dari telinganya saat ibunya bersorak tadi pagi. Well, dia sudah berjanji akan kembali, dan itu adalah hari ini.
Naruto berbalik menghadap Kurenai, setelah melirik sekilas pada sebuah koper yang dibawanya saat kabur kemarin.
"Aku senang kau akhirnya bisa memutuskan, Naruto."
"Ini semua berkat dukungan kalian, dari kalian semua aku belajar banyak hal. Aku belajar bahwa bukan cuma aku yang mengalami hal ini di dunia. Bahkan ada Moegi yang sangat muda dibanding denganku." Naruto tersenyum penuh terima kasih.
"Ah, sepertinya jemputanmu sudah tiba."
Mengangguk, Naruto kemudian mengangkat barangnya dan menuruni tangga diikuti Kurenai di belakangnya.
Di bawah sana sudah ada penghuni Horizon dan orang tuanya yang menunggu. Dia bisa melihat raut sedih di wajah Sasame dan Moegi.
Saat tiba di hadapan mereka, Naruto merentangkan tangannya lebar-lebar dan disambut oleh kedua gadis muda itu.
"Berjanjilah untuk berkunjung saat kau punya waktu, Naruto-nii."
"Pasti. Jaga diri kalian, dan terima kasih untuk semuanya." Naruto tersenyum sambil membelai rambut Moegi.
Ah, perpisahan memang sangat menyebalkan.
Dan satu momen penghuni Horizon tersenyum dengan Naruto di tengah mereka diabadikan dalam pigura baru.
Harus Naruto akui Sasuke sangat tampan sekarang. Pasalnya ini pertama kali Naruto melihatnya tanpa setelan kemeja formal dan dasi, melainkan dengan jeans, kaos berkerah dan sneaker merah maroon.
Salahkan Sasuke yang selalu datang menemuinya di tengah jadwal kerja.
Mereka hanya berdua saja di kediaman Namikaze ini, baru satu jam yang lalu orang tua Naruto mengunjungi acara pernikahan anak rekannya.
Benci dengan suasan kaku, akhirnya Naruto menawarkan minuman pada Sasuke. Sekedar alibi agar bisa menjauh darinya.
Hanya satu menit setelahnya Naruto muncul dari dapur.
Agak tergesa menghampiri telepon yang berdering sejak tadi. Sedikit kesal karena Sasuke yang notabene ada di sana malah mengabaikan telepon itu, sedangkan dirinya yang tadi di dapur—menyiapkan minuman untuk tamu tak diundang—harus mengangkat telepon sial itu.
"Moshi-moshi."
"Hei bocah, pick me up now."
Naruto melongo. Suara ini—
"Kyuu-nii kah?!"
"Kekeke. Right. Jemput aku di bandara sekarang."
"Kenapa kau tidak mengabariku?! Tunggu aku disana!"
Sasuke mengernyit heran melihat Naruto kebingungan mencari sesuatu.
"Kau kenapa, Usuratonkachi."
Seolah mendapat ide cemerlang, Naruto menoleh pada Sasuke dengan senyum mautnya.
"Apa?" Tanya Sasuke risih.
"Antar aku ke bandara, tolong lah Sasuke. Sepupuku, Kyuu-nii baru kembali dari Amerika dan sialnya dia tidak memberitahuku. Aku lupa menyimpan kunci mobil dimana, jadi—"
Tanpa berkata apa-apa Sasuke bangkit. Naruto bersorak sebelum mengikuti Sasuke.
Saat tiba di bandara Naruto sama sekali tidak mempedulikan Sasuke, malah dia sibuk mencari ke sana kemari di tengah-tengah lautan manusia.
Tidak pernah Sasuke lihat Naruto seperti itu. Panik dan bahagia di saat yang bersamaan.
Sebegitu pentingkah Kyuubi itu? Sasuke mendengus.
Ketika seorang pria berambut jingga menghampiri Naruto, Sasuke menahan napas. Bukan karena tampannya pria itu, melainkan bagaimana Naruto memeluknya seolah dia akan mati jika dia melepas pria itu.
Kyuubi kah?
Sadar atau tidak, rahang Sasuke mengeras.
Kyuubi terlihat begitu possesif hanya lewat pelukan. Dan mata biru itu, tidak pernah Sasuke melihat mata biru Naruto memancarkan kebahagiaan sampai sebegitunya.
Bahkan dia seolah lupa dengan kalimat 'aku ini laki-laki' miliknya di hadapan pria itu. Lihatlah sendiri, dua orang pria berpelukan sangat mesra di sebuah bandara.
Bahkan Sasuke bisa melihat mata Naruto sedikit berair sekarang, dan pelukan pria tinggi itu di pinggang Naruto semakin mengerat seolah membalas remasan Naruto pada jaket kulit di punggung Kyuubi.
Itu kah sepupu?
Tangan Sasuke terkepal erat.
To be continued..
3113 words! Terpanjang dalam sejarah Separate Beds LOL
Sebagai pelampiasan setelah MID dan salah satu presentasi paling menyeramkan telah saya lewati, dann saya sudah berjanji akan langsung update setelah saya menuntaskan presentasi itu. Huahahah jadilah tepat pukul 1 dini hari chapter 6 ini selesaaiiii XD
Terima kasih untuk yg mendoakan MID sy :")
Mengenai kemunculan Kyuubi, saya awalnya berpikir keras harus pake chara yg mana, soalny sy masih rada ragu kalo harus bikin Kyuubi itu jd human LOL gomen. Tp setelah dipikir2 gak ada salahnya mencoba.
So, minna, semoga kalian puas.
Arigatou! ^^
June 1st, 2013 – Kitsune Haru Hachi
