Luhan duduk mematung sementara beberapa orang sibuk mengoleskan sesuatu pada wajahnya. Ia tak bisa bergerak banyak, bahkan tak bisa menolak orang-orang yang berusaha membuatnya tampak cantik di hari pernikahannya sejak satu jam yang lalu.

Ya, memang, secepat itu Sehun sudah berhasil membuat Luhan harus menikahinya.

Luhan tak punya pilihan lain, ingat.

Bahkan ibu Sehun sudah mempersiapkan ini di tengah keadaan sakit. Anehnya lagi, kondisi wanita paruh baya itu berangsur membaik selama mempersiapkan pernikahan anaknya. Dan itu sedikit membuat Luhan lega, setidaknya ada satu hal positif dari pernikahannya dengan Sehun meskipun itu bukan tentang diri sendiri.

Ibu Sehun senang, itu sudah cukup.

Pintu diketuk pelan, membuat Luhan menoleh dengan cepat, mengabaikan bayangan dirinya sendiri di dalam cermin, Luhan melihat sosok pria paruh baya yang sudah lama ia rindukan. Pria itu tersenyum, garis wajahnya masih sama persis saat terakhir kali Luhan lihat.

"Dad," bisiknya, ia berdiri dengan cepat, menghambur dalam pelukan ayahnya yang terkekeh ringan.

"Kau baik-baik saja, Luhan?"

"Aku merindukanmu, Dad,"

Pria itu tertawa renyah, menepuk-nepukkan tangannya dengan lembut ke punggung Luhan. "Harusnya kau menemuiku. Mengapa sulit sekali bertemu anakku sendiri?"

Luhan tertawa canggung. "Aku hanya tak ingin menganggu. Dad baik-baik saja?" gadis itu melepaskan pelukannya dan memandangi wajah ayahnya.

"Anak gadisku akan segera menikah, bagaimana aku bisa tidak baik-baik saja? Aku sempurna. Dan kau tampak luar biasa cantik, sayang,"

"Terima kasih untuk itu," Luhan tersipu. "Maaf aku tidak memberitahu ini jauh-jauh hari. Aku hanya ingin membuat sedikit kejutan," ia meringis, mencoba membuat wajah menipunya tidak terlalu tampak.

Ayahnya tersenyum lagi. "Bukan masalah, sayang. Kudengar dari Sehun ibumu tidak datang,"

Luhan mendesah ringan, menganggukkan kepala beberapa kali. "Mom harus masuk rumah sakit karena patah tulang dan aku menyesal tidak mengunjunginya," balas Luhan.

"Mulai sekarang kau harus sering-sering mengunjungi kami. Meskipun aku dan ibumu memiliki keluarga baru, kau tetap anak kami,"

Dan perkataan ayahnya barusan membuat hati Luhan menjerit, ia tersenyum. "Terima kasih, Dad,"

Suara pintu diketuk pelan dan membuat kedua orang itu menoleh dengan cepat. Sehun berdiri disana, tersenyum manis dan itu membuat Luhan mendadak kesal. "Sehun," sapa ayahnya.

Sehun membungkukkan badan sedikit. "Tuan Xi, maaf aku tidak bisa menemui secara langsung kemarin saat di bandara,"

"Ya Tuhan, kau bisa memanggilku ayah saja Sehun. Bukan masalah, lagipula aku tau kau sibuk,"

Sehun melirik Luhan sekilas dengan senyum yang selalu ia tunjukkan saat bermain drama opera sabun di depan ibunya. "Aku ingin pernikahan sederhana, tapi ibuku membuat semuanya menjadi rumit," balas Sehun, nyengir.

Jika dilihat, kedua orang ini tampak sangat dekat sekarang.

"Ya, aku tau bagaimana sifat wanita," pria paruh baya itu melirik Luhan dengan senyum jenaka.

"Dad," anak gadisnya mengingatkan.

"Kalian perlu bicara, kan? Aku harus berbicara dengan ibumu, Sehun," ucap ayah Luhan.

"Tentu, tentu," balas pria jangkung itu.

Sementara Luhan nyaris mengerang saat ayahnya memeluk Sehun dan dirinya bergantian sebelum keluar ruangan.

"Apa aku belum selesai?" tanya Luhan pada beberapa orang penata rias yang ada disana.

"Sudah. Hanya perlu sedikit penyempurnaan sebelum kau masuk altar," jelas salah satu wanita yang sejak tadi membenahi rambutnya.

"Terima kasih. Aku harus bicara dengan Sehun sebentar," ucapnya dengan sopan. Dan orang-orang itu keluar dari ruangan, menyisahkan dua orang yang sebenarnya tidak saling sapa sejak seminggu terakhir.

"Kau bilang perlu bicara," suara Sehun terdengar dingin, mengalir seperti air. Ia menarik kursi untuk duduk dan membiarkan Luhan masih berdiri dengan gaun pengantin sudah melekat cantik di tubuhnya, sementara pria itu memandanginya, seolah menilai penampilan Luhan. "Kau mewarnai rambutmu menjadi abu-abu gelap?"

"Mulai sekarang hidupku juga akan kelabu,"

Sehun diam sementara gadis itu masih saja acuh.

"Gaunmu tidak nyaman?"

"Bagaimana aku bisa tidak merasa nyaman dengan gaun yang dibeli seharga mobil import mewah,"

"Lalu apa masalahnya?"

"Kau belum menyetujui poin terakhir perjanjian kita,"

"Aku tak bisa memutuskan kapan akan menceraikanmu, kubilang akan kulakukan saat keadaan membaik dan ibuku sudah mau dirawat,"

"Aku akan terjebak bersamamu selamanya kalau begitu, Oh Sehun,"

Sehun menghela napas kuat-kuat, sedikit mengusap wajahnya dengan kasar. "Dengar, beri aku waktu untuk memikirkan saat yang tepat. Aku harus memikirkan alasan logis untuk membuat hubungan ini berakhir dan menceraikanmu, kau mengerti?"

Luhan diam.

Ia hanya berjalan mendekat, menarik kursi untuk duduk di samping Sehun, kemudian menundukkan kepala menatap ujung gaun putih panjangnya.

"Kau tau, aku pernah bermimpi akan menikah dengan pria yang kucintai suatu saat nanti,"

"Kau pernah bilang padaku tidak percaya bualan tentang cinta," pria itu mendenguskan sebuah ejekan kasar.

Luhan tersenyum kecut. "Ah, kau masih mengingatnya?"

"Aku tak bisa melupakan hal terburuk dalam hidupku," balas Sehun acuh, berusaha terlihat tak peduli dengan apa yang gadis itu lakukan.

"Aku sudah ribuan kali meminta maaf untuk hal itu,"

"Tak perlu membahasnya,"

Luhan tertawa canggung. "Satu yang pasti, kurang dari dua jam lagi aku akan menjadi istri sahmu, Oh Sehun," ia memutar tubuh untuk melihat Sehun. "Berpura-pura atau tidak, kita akan hidup bersama mulai sekarang. Apa kau siap membuka semua rahasia yang kau sembunyikan?"

"Aku tak memiliki rahasia apapun,"

"Benarkah?" balas Luhan, desahan lembut kembali keluar dari bibirnya. "Semua orang punya rahasia,"

"Apa maksudmu?"

"Aku hanya akan bertanya satu hal padamu, Oh Sehun,"

"Ya?"

Luhan menoleh kearah pria itu lagi, menatap Sehun tepat di mata. "Apa tak ada perasaan cinta yang tersisa untukku, Sehun?"

Dan pria itu diam.

Mata mereka bertemu, untuk kali pertama dalam waktu yang sangat lama, keraguan bisa Luhan lihat dari sorot mata elang pria itu.

.

.

Luhan menghembuskan napas berat beberapa kali sebelum memsuki pintu besar bercat putih gereja dimana ia dan Sehun akan diberkati untuk menjadi pasangan suami istri sore ini. Ia mengapit tangan ayahnya, sementara buket bunga sudah Luhan genggam kuat-kuat.

Meskipun pernikahan ini hanya pura-pura, tetap saja, menjadipusat perhatian masih membuatnya gugup tanpa alasan yang jelas.

Pintu dibuka, Luhan bisa mendengar alunan merdu wedding march mengalun indah. Ayahnya melangkahkan kaki dan Luhan mengikuti dengan kaku. Menerima tatapan mata dari semua orang di penjuru ruangan nyatanya membuat jantungnyaberdebar tak karuan.

Ini bodoh, sungguh.

"Jangan menunduk, sayang," ayahnya mengingatkan dan dengan cepat ia mengangkat kepala. Luhan menunduk karena malu dan juga takut bertindak bodoh, terjungkal misalnya.

Saat ia melihat dengan jelas, sosok pria mengerikan itu berdiri disana. Tepat di atas altar, di depan seorang pendeta tua yang tersenyum kearahnya. Tubuh menakjubkan Sehun terbalut tuksedo hitam yang seolah kontras dengan kulit wajahnya yang pucat.

Bibir pria itu terangkat membentuk sebuah senyuman manis –dan berani bertaruh nyawa, itu senyum palsu penuh omong kosong. Senyum itu, entah mengapa, Luhan sangat membencinya.

Sehun menerima tangan Luhan dari ayah gadis itu, kemudian sedikit membungkukkan badan memberi hormat dan tersenyum lagi. Sorot mata Sehun menatapnya dengan pandangan penuh cinta, penuh kasih sayang, seolah Luhan adalah wanita yang paling Sehun cintai.

Pembual.

Dan Luhan memaksakan seulas senyum manis.

Pendeta tua dihadapan mereka mulai meramalkan kalimat-kalimat yang tak bisa Luhan pahami dengan jelas. Menanyakan sesuatu tentang hal yang mungkin ingin mereka sampaikan, kemudian ia melirik Sehun menggeleng ringan, dan Luhan mengikuti.

Aku tak pernah tau bagaimana upacara pernikahan disini.

Kalau bisa Luhan ingin berteriak, melepas stiletto tingginya dan melarikan diri dari gereja. Entah pergi kemana, jelasnya, Luhan hanya tak ingin menjadi istri Sehun sekarang. Bahkan imajinasinya meliar, membayangkan bagaimana kalau tiba-tiba saja ada seseorang yang menyelamatkannya dari pernikahan ini.

Tapi sadar itu tidak masuk akal, Luhan kembali menghembuskan napas berat.

"Aku bersedia," suara Sehun yang terdengar lantang membuyarkan lamunan Luhan.

Gadis itu mengerjap, menatap pendeta tua yang menanyakan hal yang sama padanya. "Aku bersedia,"

Tidak, aku sama sekali tidak bersedia menjadi istri bajingan ini.

Pendeta tua itu mempersilahkan Sehun untuk menciumnya, dan Luhan sedikit tersenyum kikuk karena itu. Sungguh, demi apapun, ia tak ingin bersentuhan dengan Sehun. Apapun yang melekat pada pria itu sudah membuatnya muak.

Sehun menatapnya dengan senyuman lembut, kemudian mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka nyaris bertemu, dan berbisik. "Selamat datang di duniaku, Oh Luhan,"

Luhan terkesiap, tapi Sehun sudah menciumnya dengan lembut. Gadis itu terpaksa memejamkan mata saat tepuk tangan terdengar riuh di seluruh ruangan. Dalam hati ia sudah mengutuk pria yang menciumnya dengan lembut untuk kali pertama ini dengan ribuan umpatan.

Oh Sehun, brengsek.

.

.

Pesta melelahkan itu akhirnya berakhir juga. Setelah sibuk seharian menyalami dan menyapa orang-orang yang hampir semuanya tak Luhan kenal, gadis itu berhasil melarikan diri dari gedung. Ia berhasil membohongi ibu Sehun dengan mengatakan kelelahan dan membiarkan sopir pribadi pria itu mengantarnya pulang.

Sementara Sehun harus mengantarkan ayah Luhan ke bandara malam ini juga.

Luhan terlalu lelah untuk ikut mengantar ayahnya, lagipula tadi ia sudah mengucapkan salam perpisahan dan berjanji akan mengunjungi pria yang menjadi ayah kandungnya itu. Meskipun ia tak tau kapan melakukannya, tapi Luhan berjanji akan melakukan itu.

Ponselnya berdering tepat saat ia baru saja membuka pintu rumah yang kosong. Nama Kris tertera di layar.

"Kris, senang kau menelepon,"

"Semua baik-baik saja?" tanya pria itu langsung.

"Ya, tentu," balas Luhan, menyentakkan sepatunya sembarangan arah dan berjalan menuju dapur. "Kenapa kau tak datang?"

Kris tertawa. "Aku sedang di Shanghai ada pekerjaan mendadak,"

"Membeli beberapa restoran lagi?"

Kris hanya tertawa renyah mendengar jawaban gadis itu. "Chanyeol dan Jongin datang, kan?"

"Ya, mereka ada. Kyungsoo cantik sekali dan istri Chanyeol luar biasa menakjubkan,"

Kris mendengus. "Cukup sudah bergosipnya, aku tak ingin menganggu malam pengantinmu,"

"Hah, omong kosong," balas Luhan.

Kris tertawa lagi. "Apa yang akan kau lakukan sekarang? Bagaimanapun, kau sudah menjadi Nyonya Oh,"

"Ugh, terdengar menggelikan. Rencana jangka panjang belum kupikirkan,"

"Apa yang kau lakukan malam ini?"

"Entahlah," Luhan membuka lemari es dengan kakinya. "Mungkin mabuk sampai pagi?"

"Oh ayolah, Luhan. Jangan melakukan hal bodoh di malam pertama," balas Kris.

Luhan tertawa ringan, mengambil beberapa wiski dari lemari es. "Aku sudah bukan gadis lagi sejak lama, malam pertama tak ada bedanya, Kris,"

"Gila," sahut Kris dari seberang sana. "Bersenang-senanglah, aku akan menemuimu setelah pulang,"

"Kuharap Sehun mengijinkanku pergi," ucap Luhan dan mematikan sambungan telepon sepihak.

Ia mendesah ringan, melemparkan ponselnya ke sembarang arah dan duduk bersila di lantai ruang tamu. Luhan perlu menangkan diri dan tak ada yang lebih baik dari wiski dingin. Masih dengan pikiran melayang-layang, tanpa sadar, ia sedikit mengangkat kaus putihnya ke atas. Ia meraba perutnya sendiri dengan inisial nama Sehun tertera disana.

Ya, tato yang Sehun paksa buat untuknya beberapa minggu lalu membentuk tulisan nama pria brengsek itu.

Dan Luhan bersumpah akan menghapusnya suatu saat nanti.

Luhan mendesah ringan, membiarkan rasa pahit wiskinya turun perlahan membasahi kerongkongan. Ia suka sensasi itu, rasanya melegakan. Seperti seolah berusaha melarikan diri dari pikirannya sendiri, itu sungguh menyenangkan.

Sementara ia membiarkan efek alcohol mengambil alih, Luhan berusaha memikirkan semua ini.

Sekarang, hidupnya tak akan lagi sama. Ia sudah bukan wanita lajang lagi mulai detik ini dan seterusnya. Selama Sehun belum menceraikannya, pria itu masih menjadi wali hukumnya yang sah. Dan ini sedikit membuatnya khawatir.

Ia tau, Sehun bisa melakukan apa saja padanya, termasuk membatasinya untuk keluar. Tak ada bedanya dengan masa lalu saat pria brengsek itu masih mengurungnya, hanya saja, sekarang Sehun bisa melakukan itu dengan leluasa. Tentu saja, Luhan sudah menjadi istrinya sekarang.

Istri sah, bukan pelacur yang Sehun sewa dengan asal.

Bukan perkara mudah menjadi istri seorang Oh Sehun. Jika dulu ia hanya akan memainkan drama roman picisan di depan ibu Sehun, mulai sekarang, Luhan akan memainkan peran menjadi istri Sehun yang luar biasa bahagia dihadapan semua orang. Dan itu cukup membuatnya gugup, bukan tanpa alasan yang jelas.

Kembali, Luhan membiarkan wiski menguasai pikirannya hingga nyaris melayang.

ia tak bisa memaksa Sehun untuk memastikan kapan perceraian itu terjadi, meskipun Luhan mengharap itu secepatnya.

Menjadi istri Sehun bukan hal yang menyenangkan untuknya.

.

.

Luhan bisa mendengar suara suara Sehun memanggil namanya, tapi ia terlalu malas untuk sekedar membuka mata dan melihat pria itu. Ia masih tersungkur di atas meja dengan denyutan luar biasa di kepala.

"Luhan," panggil pria itu dengan suara mengerikan, keras seoerti bentakan.

Tapi Luhan terlalu pusing untuk peduli.

Luhan memaksakan diri untuk buka mata, dengan kepala sakit luar biasa, ia melihat gambaran wajah Sehun yang buram, samar, berputar-putar dengan dimensi aneh menyakitkan. Luhan mengerang saat pria itu menarik tubuhnya perlahan, berusaha menjaga matanya agar tetap terbuka, Luhan mengerjap beberapa kali.

"Sehun," bisiknya lemah. Kepala gadis itu terkulai lemas, nyaris membentur ujung meja sebelum Sehun menangkapnya dengan cepat.

"Demi Tuhan, berapa banyak yang kau minum," gerutunya sementara Luhan tertawa tidak jelas. Dengan satu gerakan cepat, pria itu mengangkat Luhan ke atas. Membiarkannya mengoceh tentang hal tidak penting. Luhan sudah nyaris tidak sadar saat Sehun membaringkannya di atas ranjang.

"Brengsek keparat, Oh Sehun," gumam Luhan dengan mata terpejam erat. Ia berusaha membuka mata, mengendalikan kantuk untuk melihat Sehun yang masih berada di atas tubuhnya. "Kau bajingan gila. Demi apapun, aku membencimu,"

Sehun menghela napas, membiarkan Luhan menggumam tidak jelas sementara ia melepas celana jeans gadis itu. Sehun hanya berusaha membuat Luhan tidur dengan nyaman dengan mengganti celananya, itu saja.

"Oh, kau akan meniduriku sekarang?" tanya Luhan dengan satu tawa ringan. "Mengikatku di ranjang dan menyetubuhiku hingga pagi lagi, Tuan Oh Sehun yang terhormat,"

"Diam," desis pria itu, meloloskan celana jeans Luhan dan menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh istrinya.

Ya, istrinya.

Luhan tertawa renyah jemarinya terulur untuk menarik tubuh Sehun mendekat. "Harusnya kau meniduriku hingga mati sekarang, Sehun," Luhan menarik tubuh pria itu hingga bibirnya nyaris bersentuhan dengan bibir Sehun. "Aku benar-benar ingin mati daripada harus hidup menjadi istrimu,"

"Diam dan tidur,"

"Kenapa? Kau tak menginginkanku? Aku istrimu sekarang. Kau bisa melakukan apa saja,"

Sehun mendengus, berusaha menarik diri tapi Luhan dengan kasar menempelkan bibirnya pada bibir Sehun. Pria itu mengerjap, berusaha tidak mencengkeram wajah gadis yang menciumnya dengan kasar. Luhan menggerakkan bibirnya dengan panas di sepanjang bibir Sehun yang penuh, menciumnya dengan gairah dan paksaan.

Kemudian tertawa lucu saat melepaskan bibir Sehun. "Kau akan selalu menjadi pria brengsek, Sehun,"

Sehun tak menghiraukan gadis itu, ia mendorongnya menjauh. "Tidurlah, kita bicara lagi saat kau sudah sadar,"

"Kau yang seharusnya sadar," balas Luhan, senyum mengembang di bibirnya. "Sampai matipun, aku tak akan pernah mencintaimu, Oh Sehun,"

Entah mengapa, saat Luhan mengatakannya, kesabaran Sehun terbakar habis.

Kasar, ia menyentak tubuh gadis itu dan merobek kausnya dengan satu gerakan cepat. Ia bisa membuat Luhan telanjang hanya dalam beberapa detik. Bibir pria itu mencium Luhan dengan kasar, cepat, penuh gairah, membuat gadis itu tercekat kehabisan napas.

Wiski sudah membuat kepalanya pening dan ciuman Sehun hanya memperburuk.

Sehun melepaskan ciuman itu saat Luhan kehabisan udara. Ia mendesah keras saat bibir Sehun menghisapi lehernya kuat-kuat. Lidah basah pria itu perlahan turun menyusuri jalan setapak menuju puncak dadanya, kemudian tenggelam disana.

Luhan memekik. "Oh, keparat," pria itu tidak peduli, ia tetap saja menggerakkan bibir dan lidahnya ke sepanjang tubuh telanjang Luhan. "Ya, aku tau pria brengsek sepertimu pasti akan melakukannya," ia mendesah keras.

Sehun menarik tubuhnya sedikit untuk melepaskan celana, kemudian merangkak di atas tubuh Luhan. Ciuman kasar Sehun memaksa Luhan harus membuka mata kantuknya dan menatap pria itu dengan malas.

"Biasanya aku tidak tidur dengan wanita mabuk, tapi kau benar-benar harus diajari sopan santun,"

Luhan tertawa. "Apa yang kau tau tentang sopan –ah, brengsek," Luhan menjerit saat Sehun dengan kasar menyentak tubuhnya masuk, bahkan sebelum Luhan siap. Kembali, rasanya sakit yang sudah tidak asing, bisa Luhan rasakan.

Sehun menggerakkan tubuhnya dengan kasar di dalam tubuh gadis itu. Sementara Luhan terombang-ambing dalam kesadaran yang mulai tipis. Kepalanya pening, sesuatu di pusat tubuhnya terasa sakit dan nikmat disaat bersamaan. Sensasi ini tak bisa Luhan kendalikan lagi.

Luhan tak tau apa yang terjadi pada tubuhnya.

Ia tak bisa membalas ciuman Sehun, tak bisa mencengkeram pria brengsek itu lagi. Satu yang pasti, ia meneriakkan nama Sehun saat pelepasan gairahnya datang. Masih membiarkan pria itu menghentak-hentak tubuhnya dengan kasar, Luhan sudah tidak bisa merasakan apapun lagi pada tubuhnya.

Rasanya melayang.

Dan ini hal yang menyenangkan.

.

.

Luhan mengerang keras saat kepala berdenyut nyeri, ia berusaha membuka mata ketika sinar matahari membuatnya silau. "Sial," umpatnya keras, kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan memejamkan mata, sebelah tangan meremas rambutnya sendiri.

"Cepat bangun dan bersiaplah,"

Suara pria yang sudah sangat ia kenal itu membuat Luhan tersadar, ia membuka mata dengan paksa dan mengerang lagi saat kepalanya berdenyut nyeri. Luhan mencoba bangkit, baru sadar bahwa tubuhnya telanjang dan lengket. Bahkan saat ia menggerakkan kaki, ada rasa ngilu menyakitkan di selangkangannya.

Brengsek.

"Apa yang kau lakukan semalam, bajingan?"

"Jaga mulutmu," hardik Sehun, pria itu berjalan mendekat sambil masih mengancingkan kemeja putih polosnya. Ia menatap mata gadis itu lekat-lekat dengan tatapan penuh penghakiman, terlalu mengintimidasi.

Luhan menarik tubuh telanjangnya mundur, menghindari Sehun yang mendekatkan wajah kearahnya. "Mengapa kau meniduriku, brengsek?"

Dengan satu tamparan kuat dari pria itu, Luhan mengerang. Merasakan kepalanya berdenyut nyeri lagi, gadis itu memejamkan mata.

"Jangan menentangku, Luhan. Sekarang bangun dan bersiaplah,"

"Apa yang akan kau lakukan? Memamerkanku pada semua orang?"

"Kau istriku sekarang. Apapun yang terjadi jangan bertingkah bodoh,"

Luhan mendengus kasar, sedikit tertawa mengejek dan itu hanya membuat Sehun mengerutkan dahi bingung. "Lucu sekali, aku mulai bosan mendengar kalimat itu," gadis itu tertawa lagi. "Menjadi istri seorang Oh Sehun yang menakjubkan,"

Sehun mendesah ringan, jemarinya menyentuh dagu Luhan, membuat gadis itu menatapnya. "Perjanjiannya, kau ingat?"

"Aku bukan pelacurmu lagi, Oh Sehun. Kau tak bisa memperlakukanku dengan buruk mulai sekarang," dengan berani, Luhan menyentak tangan Sehun dari wajahnya. Kening pria itu berkerut dalam.

"Apa maksudmu? Kau pikir aku menikahimu sungguhan?"

Luhan tertawa, terdengar mengejek. "Aku bahkan tak pernah berharap menikah sunguhan denganmu," gadis itu terkekeh ringan, dan geraman buas dapat Luhan dengar dari kerongkongan pria itu. "Dengar, sekarang aku bukan budak seksmu lagi, jangan pernah berani menyentuhku mulai sekarang,"

"Apa yang kau bicarakan, kau belum sadar?"

"Kau yang belum sadar, brengsek," balas gadis itu, sedikit mendorong Sehun menjauhi tubuhnya. "Aku bukan lagi gadis yang merangkak meminta bantuan padamu sekarang. Kau tau, kita membuat perjanjiannya, ini simbiosis mutualisme. Aku membantumu berpura-pura menjadi istri Tuan Oh Sehun yang terhormat, dan kau membayar hutangku. Ini kerja sama,"

Sehun tertawa renyah, suaranya terdengar seperti ejekan. "Kerja sama, kau bilang?" pria itu tertawa lagi. "Kau tak punya apapun untuk mengancamku, Luhan,"

"Ya, aku punya," balas gadis itu dengan berani. "Kau masih ingat Kris Wu?"

"Aku berharap bisa melupakannya,"

"Pria itu bisa meminjamkan uang tanpa jaminan. Dia siap membantuku dan aku bisa pergi kapan saja," Luhan berhenti sebentar untuk melihat kerutan di kening Sehun. "Perlakukan aku dengan baik mulai sekarang, Oh Sehun," gadis itu tersenyum miring, terlihat mengejek. "Atau aku akan meninggalkanmu,"

Sehun tidak menjawab, tapi Luhan sudah meninggalkanya pergi ke kamar mandi.

.

.

TBC

.

.

Hallo ini fast update kan yaaa~

Silahkan kritik saran dan komentar di kolom review ya.

Oh ya, untuk April ini ada project khusus dari beberapa Author HunHan yang update setiap hari Sabtu bulan April. Dari minggu pertama hingga minggu kelima. Jangan sampai lewatkan cerita FF mereka yaa~

Ini jadwalnya.

Minggu I : apriltaste, sehoooney

Minggu II : ramyoon, beibiexol

Minggu III : babyaeryhhs, Arthur kim, hunhanslay, baekbeelu

Minggu IV : hyugaL HHS, summerlight92

Minggu V : lolipopsehun, xiugarbaby

Don't forget ya~

Itu aja dulu.

Lebih kurangnya mohon maaf.

Jangan lupa review ya semuanyaaa~

With love,

lolipopsehun

Today update with my sis pinkupengu.